<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Badak_sumatra_barat</id>
	<title>Badak sumatra barat - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Badak_sumatra_barat"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Badak_sumatra_barat&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T12:38:19Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Badak_sumatra_barat&amp;diff=32512&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28978153; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Badak_sumatra_barat&amp;diff=32512&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-05T22:20:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28978153; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Badak Sumatra Barat&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (&amp;#039;&amp;#039;Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis&amp;#039;&amp;#039;) merupakan salah satu subspesies dari badak sumatra (&amp;#039;&amp;#039;Dicerorhinus sumatrensis&amp;#039;&amp;#039;) yang termasuk dalam famili [[Rhinocerotidae]]. Subspesies ini merupakan bagian dari kelompok badak Asia bercula dua dan dikenal sebagai megaherbivora penghuni hutan hujan tropis Sumatra. Keberadaannya memiliki peran ekologis penting dalam dinamika ekosistem hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Badak sumatra tergolong sebagai salah satu mamalia besar yang paling terancam punah. Spesies ini berfungsi sebagai spesies kunci (&amp;#039;&amp;#039;keystone species&amp;#039;&amp;#039;) yang berkontribusi terhadap struktur [[Vegetasi]] melalui aktivitas merumput dan pergerakan di lantai hutan. Peran tersebut menjadikan kelestariannya penting bagi keseimbangan ekosistem hutan tropis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara historis, badak sumatra pernah memiliki persebaran yang lebih luas di Asia Tenggara. Namun, dalam beberapa dekade terakhir populasinya mengalami penurunan yang signifikan akibat tekanan antropogenik. Saat ini, [[Populasi]] liar terutama bertahan di Pulau Sumatra dalam kelompok-kelompok kecil yang terfragmentasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Populasi yang terisolasi menyebabkan berkurangnya peluang pertemuan antarindividu untuk berkembang biak. Kondisi ini berpotensi menurunkan aliran [[gen]] dan meningkatkan risiko depresi inbreeding pada populasi kecil. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya konservasi badak sumatra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Status [[Konservasi]] badak sumatra saat ini dikategorikan sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kritis (Critically Endangered)&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;. Status ini menunjukkan bahwa spesies tersebut menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar. Oleh karena itu, badak sumatra menjadi prioritas dalam berbagai program konservasi di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup badak sumatra adalah perburuan ilegal untuk memperoleh culanya. Nilai ekonomi [[cula]] badak di perdagangan gelap satwa liar mendorong tekanan perburuan terhadap populasi yang sudah kecil. Aktivitas ini berkontribusi langsung terhadap penurunan jumlah individu di alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain perburuan, kehilangan habitat akibat deforestasi dan konversi lahan juga menjadi faktor penting. Ekspansi perkebunan, pertambangan, serta pembalakan liar telah menyebabkan degradasi hutan hujan [[tropis]]. Perubahan tutupan lahan ini mengurangi luas habitat yang sesuai bagi badak sumatra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Fragmentasi habitat|Fragmentasi]] habitat semakin memperburuk kondisi populasi. Terputusnya konektivitas lanskap menghambat pergerakan individu antarwilayah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan ketahanan populasi terhadap perubahan lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tekanan antropogenik juga diperparah oleh meningkatnya konflik satwa–manusia di sekitar kawasan hutan. Penyusutan habitat alami mendorong badak mendekati area aktivitas manusia. Interaksi tersebut meningkatkan risiko kematian [[satwa]] di lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya konservasi badak sumatra meliputi perlindungan habitat, penguatan patroli anti-perburuan, serta pengelolaan populasi melalui program penangkaran. Pendekatan berbasis lanskap dan kolaborasi multipihak dinilai penting untuk meningkatkan efektivitas konservasi. Meskipun demikian, keberlangsungan [[subspesies]] ini masih menghadapi tantangan besar di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*  [http://www.rhinos-irf.org/ International Rhino Fund dedicated to the conservation of rhinos]&lt;br /&gt;
*  [http://www.arkive.org/species/GES/mammals/Dicerorhinus_sumatrensis/more_moving_images.html Galeri video badak sumatra barat]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Badak+sumatra+barat&amp;amp;oldid=28978153 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28978153 (2026-02-20T14:13:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>