<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Chandra_Asri_Pacific</id>
	<title>Chandra Asri Pacific - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Chandra_Asri_Pacific"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Chandra_Asri_Pacific&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-15T23:52:21Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Chandra_Asri_Pacific&amp;diff=29713&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29248090; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Chandra_Asri_Pacific&amp;diff=29713&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-04T13:19:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29248090; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;PT Chandra Asri Pacific Tbk&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah sebuah [[perusahaan publik]] di [[Indonesia]] () yang bergerak dalam bisnis usaha pengolahan dan [[manufaktur]] [[petrokimia]], seperti [[etilena]], [[pygas]], [[polipropilena]], [[propilena]], dan lainnya. Berkantor pusat di Wisma Barito Pacific, Jl. Let. Jenderal S. Parman [[Jakarta Barat]] dan memiliki pabrik di [[Banten]] ([[Kota Cilegon|Cilegon]] dan [[Serang]]), perusahaan ini sempat mengganti namanya sejak awal berdiri. Saat ini, Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang mempunyai pendapatan terbanyak di [[Indonesia]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
===PT Chandra Asri===&lt;br /&gt;
Sejarah perusahaan ini dapat ditarik pada munculnya PT Chandra Asri (d/h PT Chandra Asri Petrochemical Centre, CAPC) yang didirikan pada 6 Maret 1989. Perusahaan ini merupakan inisiasi dari beberapa pengusaha, yaitu [[Prajogo Pangestu]], [[Bambang Trihatmodjo]], [[Peter F. Gontha]] dan [[Henry Pribadi]], yang ingin mendirikan proyek petrokimia di [[Cilegon, Cilegon|Cilegon]]. Chandra Asri didirikan dengan visi memperkuat Indonesia di industri petrokimia, dan terutama mengurangi impor produk-produk petrokimia sehingga mengurangi pengeluaran [[devisa]] nasional dan memudahkan industri dalam negeri. Merupakan salah satu proyek [[petrokimia]] terbesar pada era [[Orde Baru]], proyek Chandra Asri bernilai US$ 2 miliar dan mulai dikerjakan proyeknya pada 11 Maret 1991. Pemerintah, yang merasa proyek tersebut adalah proyek nasional, awalnya berusaha memberikan kredit US$ 550 juta dari [[Bank Bumi Daya]]. Akan tetapi, kemudian Tim Pengendalian Kredit Luar Negeri menolak usulan pinjaman tersebut, sehingga proyek Chandra Asri sempat terhenti pada 10 Oktober 1991.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proyek ini baru dimulai kembali ketika pemerintah pada April 1992 mengizinkan konversi Chandra Asri dari proyek PMDN menjadi [[penanaman modal asing|PMA]], dengan 4 pemegang saham lokal mendirikan Simene International Ltd (65% saham) dan Stallion International Ltd (10% saham), [[Hong Kong]] ditambah investasi dari Japan-Indonesia Petrochemical Corp. yang digawangi [[Marubeni]] (25%). Proyek Chandra Asri kemudian dibangun di atas lahan seluas 120 hektar yang dikerjakan oleh [[Toyo Engineering]]. Pembangunan yang selesai pertama kali adalah pabrik etilena pada tanggal 28 Januari 1995, dilanjutkan dengan pabrik LLDPE pada tanggal 18 April 1995 dan pabrik [[Polietilena berdensitas tinggi|HDPE]] pada tanggal 31 Juli 1995. Ketiga pabrik ini kemudian mulai dioperasikan pada 4 Mei-31 Juli 1995, dan diresmikan oleh [[Presiden Indonesia|Presiden]] [[Soeharto]]. Produksinya pada 1997 seperti 507.810 ton etilena dan 433.000 propilena, dengan kapasitas terpasangnya adalah 510.000 ton etilena, 300.000 ton polietilena, dan 245.000 ton propilena. Dalam perkembangannya, pada 1997 Chandra Asri berencana untuk memperluas industrinya dengan ingin membangun pabrik [[aromatik]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sebenarnya jalan dari perusahaan ini awalnya tidak terlalu mulus, dengan pada tahun 1995 hampir bangkrut. Akibatnya, pada Februari dan Maret 1996, pemerintah memberikan pajak impor [[propilena]] dan [[etilena]] sebesar 20% untuk menolong industri dalam negeri, termasuk Chandra Asri. Tidak lama kemudian, Chandra Asri justru terjerat kredit macet dan hutang US$ 1,3 miliar pasca [[krisis finansial Asia 1997|krisis ekonomi 1997-1998]] di [[BPPN]]. Sekitar US$ 700 juta juga terutang ke Marubeni dan sejumlah perusahaan Jepang. Akhirnya, pemerintah pun turun tangan pada 2000 dengan meminta Marubeni mengonversi hutangnya menjadi 20% kepemilikan untuk US$ 100 juta hutangnya, BPPN mengonversi US$ 413 juta hutang menjadi 31% saham di Chandra Asri, sisanya milik Prajogo. Struktur ini kemudian diubah kembali pada 18 April 2001, dengan Marubeni mendapat 24% kepemilikan dengan mengonversi US$ 147 juta dari hutangnya, sedangkan 75,73% sahamnya menjadi milik BPPN. Sisa hutang Marubeni direncanakan akan dibayar selama 15 tahun. Tidak lama kemudian, kesepakatan berubah lagi dengan 24% untuk Marubeni, 47% untuk Prajogo dan 29% milik BPPN pada Februari 2002.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepemilikan BPPN kemudian menghilang pada 2003 pasca dilepas ke investor asing, dan kemudian saham Marubeni dilepas ke [[Commerzbank]] di tahun 2005, yang lalu menjualnya ke [[Temasek Holdings]] pada Januari 2006. Pada 2007, selain dimiliki Temasek (30%), dalam struktur kepemilikan perusahaan ini juga terdapat Strategic Investment Holding (Malaysia) dengan kepemilikan 48,16%, Marigold Resource dengan kepemilikan 7,24% dan PT Inter Petrindo Inti Citra (perusahaan Prajogo) 14,6%. Kondisinya mulai membaik, dengan mampu memproduksi 520.000 ton etilena, 280.000 propilena, 210.000 ton &amp;#039;&amp;#039;pyrolysis gasoline&amp;#039;&amp;#039; dan 300.000 ton propilena/tahun pada 2007, ditambah berhasil menambah kapasitas produksinya. Prajogo kemudian tampil sebagai penguasa Chandra Asri kembali setelah membeli seluruh saham-saham (kecuali dari Temasek) pada 26 Oktober 2007 menggunakan PT Barito Pacific miliknya, menguasai sekitar 70% seharga US$ 1 miliar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===PT Tri Polyta Indonesia Tbk===&lt;br /&gt;
Selain PT Chandra Asri, juga ada PT Tri Polyta Indonesia. Didirikan pada [[2 November]] [[1984]] dan mulai beroperasi secara [[komersial]] pada tahun [[1993]], perusahaan ini bisa dibilang &amp;quot;satu paket&amp;quot; dengan proyek Chandra Asri, dan bertujuan memproses hasil olahan Chandra Asri (ditambah sedikit dari impor maupun lokal seperti [[Pertamina]] [[Balongan, Indramayu|Balongan]]) menjadi bahan plastik. Pabriknya yang sekompleks dengan Chandra Asri, mulai beroperasi sejak Mei 1992, memproduksi produk bermerek &amp;quot;Trilene&amp;quot; yang dijual baik di dalam negeri maupun ekspor. Tri Polyta didirikan juga untuk menyediakan polipropilena dengan harga yang lebih terjangkau seiring meningkatnya permintaan industri. Pada tahun 1993, tercatat perusahaan ini sudah memproduksi 215.000 ton [[resin]] polipropilena/tahun, dan pernah tercatat sebagai produsen terbesar dalam negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan PT Chandra Asri yang merupakan perusahaan tertutup, pada Juli 1994 Tri Polyta melepas sahamnya di [[Bursa Saham New York]] (NYSE) sebagai perusahaan Indonesia pertama, dan kemudian pada 14 Juni 1996 juga mencatatkan saham di [[Bursa Efek Jakarta]] (kode &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;TPIA&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;). Kedua pencatatan dihapus (&amp;#039;&amp;#039;delisting&amp;#039;&amp;#039;) pada 2000 dan 3 Februari 2003 akibat penurunan harga saham dan merugi pasca krisis. Pada tahun 1998, Tri Polyta dimiliki oleh beberapa pemegang saham yang berkaitan dengan Chandra Asri, seperti PT Bima Kimia Citra (milik [[Bimantara Citra]]) sebesar 31,22%, Prajogo 8,51%, Henry Pribadi 6,73%, [[Sudwikatmono]] 5,31%, [[Ibrahim Risjad]] 5,31% dan sisanya publik (29%) maupun pemegang saham lain. Prajogo kemudian membeli saham Bima Kimia dan Henry pada tahun 2001 dan 1998, dengan syarat Prajogo mampu melunasi hutang di perusahaan lain milik mereka, Chandra Asri sebesar US$ 870 juta dan Rp 1,2 triliun. Henry sempat mempermasalahkan penjualan itu pada 23 Maret 2006, dengan melaporkan Prajogo ke Polri. Kasus ini kemudian dihentikan pada 20 September 2006.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Layaknya Chandra Asri, Tri Polyta mengalami kondisi keuangan yang buruk pasca krisis 1997-1998, bahkan hampir di[[pailit]]kan. Sempat juga terjadi sengketa atas lahan perusahaan ini yang hampir berujung penutupan, penyitaan dan pelelangan asetnya. Pada 2003-2004, juga sempat terjadi gugatan Tri Polyta dengan para 97 [[kreditur]]nya, yang dicabut pada 7 Juni 2004. Akibat hal tersebut, dilakukan restrukturisasi yang mendilusi pemegang saham lama. Newport Global Investment Ltd tampil dengan kepemilikan 64,65%, Prajogo menjadi 16,42%, dan sisanya publik maupun pemegang saham lainnya. Pasca-restrukturisasi, pada 22 Mei 2008, Tri Polyta resmi tercatat kembali (&amp;#039;&amp;#039;relisting&amp;#039;&amp;#039;) di Bursa Efek Indonesia (pengganti Bursa Efek Jakarta) dengan harga Rp 2.200/saham atas seluruh sahamnya yang telah ditempatkan dan disetor penuh sejumlah 728.401.000 lembar. Tidak lama setelah Prajogo lewat Barito Pacific mengakuisisi Chandra Asri, pada 23 Juni 2008, ia membeli 76% saham (termasuk saham Newport) di PT Tri Polyta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Merger Tri Polyta dan Chandra Asri===&lt;br /&gt;
Menjelang akhir 2010, kedua perusahaan yang dimiliki oleh pemilik saham utama yang sama (Barito Pacific) memutuskan untuk [[merger]]. Merger ini direncanakan mampu membentuk perusahaan petrokimia terintegrasi dan terbesar tidak hanya di Indonesia, tetapi di [[Asia Tenggara]] dengan aset Rp 14,4 triliun. Dalam skema merger yang disetujui pada 27 Oktober 2010, Barito Pacific memegang kepemilikan 66,36%, Glazers &amp;amp; Putnam 22,87%, Marigold Resources Pte. Ltd 5,52%, Prajogo 1,04%, dan sisanya publik. Pada 30 Desember 2010, PT Tri Polyta Indonesia Tbk berganti nama menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, dan mulai 1 Januari 2011, PT Chandra Asri resmi melebur dalam perusahaan tersebut. Kini, Chandra Asri memiliki kantor pusat di [[Wisma]] Barito Pacific, [[Jakarta]] dengan [[pabrik]] berlokasi di Desa [[Gunungsugih, Ciwandan, Cilegon|Gunung Sugih]], Banten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perkembangan mutakhir==&lt;br /&gt;
Chandra Asri adalah [[perusahaan]] yang bergerak di bidang industri pengolahan ([[petrokimia]]) yang mengoperasikan satu-satunya Naphtha Cracker terintegrasi di [[Indonesia]] untuk menghasilkan Olefin (Ethylene, Propylene), Pygas dan Mixed C4 serta Polyolefin ([[Polyethylene]] dan [[Polypropylene]]). Chandra Asri adalah [[produsen]] tunggal Styrene Monomer (sejak 2007) di [[Indonesia]] dan mengoperasikan satu-satunya pabrik [[Butadiena|Butadiene]] (sejak [[2013]]) di [[Indonesia]] yang menggunakan Mixed X4 yang dihasilkan dari [[pabrik]] [[Olefin]]. Sejak tahun [[2018]], Chandra Asri menjadi [[produsen]] tunggal untuk produk Styrene Butadiene Rubber ([[karet sintetis]]) melalui [[perusahaan]] patungannya dengan Compagnie Financiere [[Michelin]] (produsen ban multinasional), PT Synthetic Rubber Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chandra Asri juga mengoperasikan 3 (tiga) &amp;#039;&amp;#039;jetty&amp;#039;&amp;#039; untuk melabuhkan bahan baku, dan juga memiliki on-site warehouse di [[Cilegon]] dan satelit warehouse di [[Kota Surabaya|Surabaya]] dan [[Solo]]. Fasilitas pendukung lain yang mereka miliki adalah generator turbin gas, generator turbin uap, [[boiler]], fasilitas [[pengolahan air]], sistem air pendingin, sistem [[pemadam kebakaran]], tangki penyimpanan bahan baku dan produk. Melalui fasilitas produksi terintegrasi yang berada di [[Cilegon]] dan [[Serang]], Chandra Asri menghasilkan bahan baku [[plastik]] dan produk [[petrokimia]] dasar yang digunakan untuk [[kemasan]], [[Pipa (disambiguasi)|pipa]], [[otomotif]], [[Elektronika|elektronik]], dan berbagai produk lainnya yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2018, CAP membangun [[pabrik]] MTBE dan Butene-1 [[pertama]] di [[Indonesia]] untuk mengurangi [[impor]] bahan [[kimia]]. Dalam upaya melakukan pengembangan [[bisnis]], Chandra Asri Petrochemical meresmikan pabrik [[Polyethylene]] yang baru pada [[2019]]. Selain itu, perusahaan ini berencana mengembangkan kompleks [[petrokimia]] kedua (Chandra Asri Petrochemical 2/CAP2) di [[Cilegon, Cilegon|Cilegon]] untuk meningkatkan kapasitas [[produksi]] dari 4 juta ton/tahun menjadi lebih dari 8 juta ton per tahun. Pembangunan ini untuk meringankan beban [[negara]] terhadap produk [[impor]] dan memenuhi kebutuhan dalam [[negeri]] yang terus meningkat. Kompleks terbaru CAP2 terintegrasi sepenuhnya dengan pabrik Chandra Asri yang telah ada di Cilegon dan akan terdiri dari Naphtha Cracker, [[Butadiena|Butadiene]], High Density Polyethylene (HDPE), [[Polypropylene]] (PP), Aromatic ([[Benzena|Benzene]], [[Toluena|Toluene]], dan Mixed Xylenes), serta Low Density Polyethylene (LDPE) – yang juga akan menjadi pabrik LDPE pertama di [[Indonesia]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Tahun]] [[2020]], Chandra Asri membangun pabrik Methyl Tert-butyl Ether dan Butene-1 pertama di [[Indonesia]]. Pada 7 Desember 2020, Chandra Asri Petrochemical telah merger dengan anak usahanya, PT Styrindo Mono Indonesia yang merupakan produsen &amp;#039;&amp;#039;styrene monomer&amp;#039;&amp;#039; tunggal di Indonesia. Lalu, pada [[Oktober 2021]], Chandra Asri melalui anak perusahaannya PT Chandra Asri Perkasa dan [[Aramco]] Trading Company (ATC) menandatangani [[nota kesepahaman]] atau &amp;#039;&amp;#039;[[Memorandum of Understanding|memorandum of understanding]]&amp;#039;&amp;#039; untuk melihat peluang potensial bagi ATC dalam memasok [[bahan baku]] untuk mendukung operasional khususnya CAP2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seiring upaya diversifikasi bisnis yang lebih luas ke industri kimia, seperti pendirian pabrik chlor alkali-etilena diklorida dan terjun ke industri pembangkitan listrik lewat akuisisi, RUPS perseroan pada 29 Desember 2023 memutuskan mengganti nama PT Chandra Asri Petrochemical menjadi PT Chandra Asri Pacific.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Operasional ==&lt;br /&gt;
===Manajemen===&lt;br /&gt;
* Presiden Komisaris/Komisaris Independen: [[Djoko Suyanto]]&lt;br /&gt;
* Wakil Presiden Komisaris/Komisaris Independen: Tan Ek Kia&lt;br /&gt;
* Komisaris/Komisaris Independen: Ho Hon Cheong&lt;br /&gt;
* Komisaris: Agus Salim Pangestu&lt;br /&gt;
* Komisaris: Tanawong Areeratchakul&lt;br /&gt;
* Komisaris: Lim Chong Thian&lt;br /&gt;
* Komisaris: Thammasak Sethaudom&lt;br /&gt;
* Komisaris: Sakchai Patiparnpreechavud&lt;br /&gt;
* Komisaris: Kulachet Dharachandra&lt;br /&gt;
* Komisaris: Wirat Uanarumit&lt;br /&gt;
* Komisaris: Santi Wasanasiri&lt;br /&gt;
* Komisaris Independen: Surong Bulakul&lt;br /&gt;
* Komisaris Independen: [[Erry Riyana Hardjapamekas]]&lt;br /&gt;
* Komisaris: Rudy Suparman&lt;br /&gt;
* Presiden Direktur: Erwin Ciputra&lt;br /&gt;
* Wakil Presiden Direktur Komersial: Baritono Prajogo Pangestu&lt;br /&gt;
* Wakil Presiden Direktur Operasi: Krit Bunnag&lt;br /&gt;
* Direktur Keuangan: Andre Khor&lt;br /&gt;
* Direktur Penjualan Polimer: Raymond Budhin&lt;br /&gt;
* Direktur Produksi: Somkoun Sriwattagaphong&lt;br /&gt;
* Direktur &amp;#039;&amp;#039;Supply Chain&amp;#039;&amp;#039;: Fransiskus Ruly Aryawan&lt;br /&gt;
* Direktur Sumber Daya Manusia dan &amp;#039;&amp;#039;Corporate Affairs&amp;#039;&amp;#039;: Suryandi&lt;br /&gt;
* Direktur CAP2: Pholavit Thiebpattama&lt;br /&gt;
* Direktur Perantara Monomer: Petch Niyomsen&lt;br /&gt;
* Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis: Nattapong Tumsaroj&lt;br /&gt;
* Direktur Proyek, Perawatan dan Teknik: Suwit Wiwattanawanich&lt;br /&gt;
* Direktur ESG dan Keberlanjutan: Phuping Taweesarp&lt;br /&gt;
* Direktur Produksi &amp;#039;&amp;#039;Downstream&amp;#039;&amp;#039;: Boedijono Hadipoespito&lt;br /&gt;
* Direktur Legal dan Eksternal: Edi Rivai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Investor ==&lt;br /&gt;
Pemegang [[saham]] utama Chandra Asri adalah [[Barito Pacific]] Group (milik konglomerat Prajogo Pangestu). Pada [[September 2011]], SCG Chemicals Co. Ltd., anak perusahaan dari [[Siam Cement Group]] resmi menjadi salah satu pemegang saham. Pada [[Juli]] [[2021]], Chandra Asri mengumumkan [[Thaioil]] sebagai [[investor]] untuk memperkuat permodalan pembangunan kompleks kedua [[petrokimia]] melalui &amp;#039;&amp;#039;[[rights issue]]&amp;#039;&amp;#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah &amp;#039;&amp;#039;rights issue&amp;#039;&amp;#039;, maka pemegang saham Chandra Asri menjadi PT Barito Pacific Tbk sebesar 34,54%, SCG Chemicals sebesar 30,57%, Thaioil sebesar 15%, Prajogo sebesar 7,78%, Marigold Resources sebesar 3,92% dan sisanya publik yaitu 8,19%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Anak usaha ==&lt;br /&gt;
* PT Redeco Petrolin Utama&lt;br /&gt;
* PT Chandra Asri Perkasa&lt;br /&gt;
* Chandra Asri Trading Company Pte. Ltd., [[Singapura]]&lt;br /&gt;
* PT Krakatau Chandra Energi (KCE)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Objek Vital Nasional ==&lt;br /&gt;
Chandra Asri Petrochemical merupakan salah satu industri termasuk ke dalam objek vital [[Bangsa|nasional]] sektor [[industri]] berdasarkan Surat Keputusan [[Menteri Perindustrian]] (SK Menperin) No 466/2014. Hal itu mengacu pada [[Keputusan Presiden (Indonesia)|Keputusan Presiden]] No 63/2004 tentang Obyek Vital Nasional, yang mengamanatkan Menteri atau Kepala Lembaga menurut bidangnya dapat menetapkan masing-masing binaannya sebagai Obyek Vital Nasional melalui Surat Keputusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Keberlanjutan ==&lt;br /&gt;
Chandra Asri mengimplementasikan aspek &amp;#039;&amp;#039;Planet&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;People&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;[[Profit]]&amp;#039;&amp;#039; untuk menuju pada keberlanjutan [[bisnis]] dan operasionalnya. Beberapa inisiatif dikembangkan Chandra Asri untuk memenuhi [[Tanggung jawab sosial perusahaan|tanggung jawab sosial]] dan lingkungan dan aspek-aspek &amp;#039;&amp;#039;Environment&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;Social&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;Governance&amp;#039;&amp;#039; (ESG).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chandra Asri Pacific menginisiasi sebuah gerakan berkelanjutan yang dikenal dengan nama &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;[[Sinergi Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia|Indonesia Asri]]&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;. Program ini lahir sebagai wadah edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan [[sampah plastik]] dan [[pelestarian lingkungan hidup]] secara [[kolektif]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan ini sempat menarik perhatian internasional saat dipresentasikan dalam &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;World Public Relations Forum&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (WPRF) 2024 di [[Bali]], di mana inisiatif tersebut dinilai sebagai salah satu contoh nyata komunikasi [[Perusahaan|korporat]] yang berorientasi pada dampak sosial. Program ini juga meraih penghargaan &amp;#039;&amp;#039;Indonesia PR of the Year 2025&amp;#039;&amp;#039; melalui kategori program [[komunikasi]] yang kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ekonomi Sirkular ==&lt;br /&gt;
Chandra Asri mengklaim menerapkan [[ekonomi sirkular]] dengan prinsip mengurangi [[sampah]] dan memaksimalkan [[sumber daya]] yang ada, termasuk dalam program [[ekonomi sirkular]] adalah [[Aspal]] [[Plastik]] dan IPST-ASARI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didampingi oleh [[Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia|Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat]] (PUPR), Chandra Asri membuat jalan dari [[sampah]] kantong plastik. Berdasarkan penelitian Kementerian PUPR, campuran sampah plastik dengan komposisi ideal, sebesar 5-6%, mampu meningkatkan nilai stabilitas aspal hingga 40% sehingga jalan aspal lebih tahan terhadap [[deformasi plastis]] dan tidak mudah retak. Program ini kemudian direplikasi dan diimplementasikan oleh [[Pemerintah]] [[Kota]] [[Cilegon, Cilegon|Cilegon]], [[Pemerintah]] [[Kota]] [[Kudus, Kudus|Kudus]], [[Pemerintah]] [[Kota]] [[Kota Semarang|Semarang]], [[perusahaan swasta]] [[Djarum]] dan [[Sinar Mas Land]]. Sedangkan [[Industri]] [[Pengelolaan sampah|Pengelolaan Sampah]] Terpadu-Atasi [[Sampah]], Kelola Mandiri (IPST ASARI) merupakan pengelolaan sampah terintegrasi dengan mendorong penguatan kapasitas [[masyarakat]] yang diinisiasi Chandra Asri. Operasional IPST ASARI ini untuk mengatasi timbunan sampah dengan mengumpulkan [[sampah]] [[plastik]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Lainnya===&lt;br /&gt;
* Chandra Asri juga menjaga kelestarian [[lingkungan]] dengan membangun &amp;#039;&amp;#039;Enclosed Ground Flare&amp;#039;&amp;#039; (EGF), yaitu pemrosesan pembakaran menggunakan metode [[Faring|&amp;#039;&amp;#039;flaring&amp;#039;&amp;#039;]] tertutup sehingga tidak menimbulkan [[radiasi]] [[panas]] dan [[radiasi]] [[udara]].&lt;br /&gt;
* Chandra Asri membangun [[panel surya]] untuk mengurangi [[emisi karbon]] sehingga [[ramah lingkungan]].&lt;br /&gt;
* Untuk mengurangi [[emisi karbon]] dan meningkatkan keramahan [[lingkungan]], Chandra Asri Petrochemical mengoperasikan 53 [[Forklif]]t [[Listrik]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
* [http://www.chandra-asri.com/ Situs resmi]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Chandra+Asri+Pacific&amp;amp;oldid=29248090 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29248090 (2026-05-19T10:19:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>