<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Epilepsi_pascatrauma</id>
	<title>Epilepsi pascatrauma - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Epilepsi_pascatrauma"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Epilepsi_pascatrauma&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T12:59:18Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Epilepsi_pascatrauma&amp;diff=35950&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28114085; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Epilepsi_pascatrauma&amp;diff=35950&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-07T13:46:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28114085; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Epilepsi pascatrauma&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (atau juga biasa disingkat &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;PTE&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; dari Bahasa Inggrisnya &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Post Traumatic Epilepsy&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) adalah salah satu bentuk [[epilepsi]] yang disebabkan oleh kerusakan [[otak]] karena adanya [[Cedera|trauma fisik]] pada bagian otak atau yang biasa disebut cedera otak traumatik (&amp;#039;&amp;#039;Traumatic Brain Injury&amp;#039;&amp;#039; atau TBI). Sekitar 5% dari epilepsi dan 20% dari epilepsi terstruktur termasuk ke dalam kategori PTE. PTE juga merupakan penyebab epilepsi onset baru paling umum di kalangan orang dewasa yang masih berusia muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Klasifikasi ==&lt;br /&gt;
Kejang yang muncul setelah terjadinya cedera otak dikenal sebagai kejang pascatrauma (&amp;#039;&amp;#039;post-traumatic seizures&amp;#039;&amp;#039; atau PTS). Namun tidak semua kasus PTS akan berlanjut pada PTE, karena PTE adalah kondisi kejang yang [[kronis]]. PTE berbeda dari kejang pascatrauma non-epilepsi berdasarkan waktu terjadinya kejang. PTE terjadi sekitar seminggu setelah seseorang mengalami trauma fisik. Kejang yang terjadi dalam jangka seminggu setelah seseorang mengalami trauma fisik merupakan akibat langsung dari luka, sementara PTE terjadi tanpa adanya sebab atau pemicu secara khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penyebab ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan beberapa pasien dengan cedera otak menderita PTE, namun ada pasien yang tidak. Namun, berbagai faktor diduga memengaruhi seperti tingkat keparahan dan tipe cedera, ada atau tidaknya kejang selama seminggu pertama, dan faktor genetik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Faktor genetik ===&lt;br /&gt;
Faktor genetik diduga memengaruhi terjadinya PTE. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa 47,7% pasien dengan cedera otak yang memiliki [[genotipe]] CT IL-1β rs1143634 dan 19,2% pasien dengan genotipe CT A1AR rs10920573 menderita PTE. Meski begitu, penelitian juga menemukan bahwa orang yang memiliki anggota keluarga penderita PTE tidak meningkatkan risiko dirinya terkena PTE, hal itu membuktikan bahwa faktor genetik bukanlah faktor pengaruh yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tingkat keparahan cedera ===&lt;br /&gt;
Semakin parah trauma fisik otak yang dialami seseorang akan semakin besar kemungkinan orang tersebut akan menderita PTE. Bukti-bukti menunjukkan bahwa orang dengan cedera otak yang tergolong ringan jarang menderita PTE, sementara banyak orang dengan cedera otak berat yang menderita PTE. Penelitian menunjukkan bahwa risiko 30-tahun untuk seorang pasien menderita PTE adalah 2,1% untuk penderita cedera ringan, 4,2% untuk penderita cedera sedang, dan 16,7% untuk cedera berat (dapat dilihat di diagram di bagian awal subbab).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tipe cedera ===&lt;br /&gt;
Tipe dari cedera otak yang dialami juga memengaruhi terjadinya PTE. Pasien yang menderita penekanan fraktur tengkorak, trauma kepala dalam, kejang awal (kejang yang terjadi dalam jangka waktu seminggu setelah trauma), dan luka intraserebral dan subdural karena adanya TBI, lebih besar kemungkinannya menderita PTE. Penelitian membuktikan bahwa 30% pasian penderita hal-hal tersebut juga menderita PTE. Lebih khusunya, sekitar 50% pasien penderita trauma kepala dalam juga menderita PTE.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kejang pascatrauma ===&lt;br /&gt;
Risiko orang terkena PTE meningkat jika orang tersebut pernah menderita PTS sebelumnya. Hal itu disebabkan kebanyakan faktor risiko pebyebab PTE dan PTS sama. Meski begitu, penelitian mengatakan bahwa meski tidak memandang kesamaan faktor-faktor risiko penyebab tersebut, PTS dapat meningkatkan risiko terkena PTE sebesar 25%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pengobatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obat antiepilepsi (AED) biasanya diberikan kepada pasien dengan gejala kejang. Namun, obat-obat tersebut hanya mengobati saat terjadi kejang dan tidak mengurangi frekuensi sang pasien menderita epilepsi ketika berhenti mengkonsumsi obat tersebut (hanya penyembuhan sesaat). AEDs seperti [[karbamazepin]] dan valproate adalah yang paling umum digunakan dalam pengobatan PTE; [[fenitoin]] terkadang juga digunakan namun dapat meningkatkan efek samping seperti pikiran yang terganggu. Obat-obat lain yang umum digunakan adalah clonazepam, [[fenobarbital]], primidon, gabapentin, dan ethosuximida. Untuk pasien yang sudah tidak bisa ditangani melalui obat-obatan dapat melakukan operasi untuk membuang bagian otak yang menyebabkan terjadi epilepsi. Namun operasi untuk penderita epilepsi tipe PTE biasanya lebih sulit dan biasanya tidak akan terlalu berpengaruh pada kondisi penderita (tidak membaik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Lihat juga ==&lt;br /&gt;
* [[Komplikasi cedera otak traumatik]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Epilepsi+pascatrauma&amp;amp;oldid=28114085 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28114085 (2025-10-19T07:28:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>