<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Feksofenadin</id>
	<title>Feksofenadin - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Feksofenadin"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Feksofenadin&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T06:23:58Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Feksofenadin&amp;diff=35590&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28968716; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Feksofenadin&amp;diff=35590&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-07T08:51:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28968716; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Feksofenadin&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah obat [[antihistamin]] yang digunakan dalam pengobatan gejala alergi, seperti [[rinitis alergi]] dan [[urtikaria]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara terapeutik, feksofenadin adalah penghambat H&amp;lt;sub&amp;gt;1&amp;lt;/sub&amp;gt; perifer selektif. Obat ini diklasifikasikan sebagai antihistamin generasi kedua karena kurang mampu melewati [[sawar darah otak]] dan menyebabkan sedasi, dibandingkan antihistamin generasi pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obat ini dipatenkan pada tahun 1979 dan mulai digunakan secara medis pada tahun 1996. Obat ini ada dalam [[Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia]]. Feksofenadin telah diproduksi dalam bentuk generik sejak 2011.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sejarah==&lt;br /&gt;
Agen antihistamin yang lebih tua, yakni terfenadin ditemukan di[[metabolisme]] menjadi asam karboksilat terkait, yakni feksofenadin. Feksofenadin ditemukan mempertahankan seluruh aktivitas biologis induknya, sekaligus memberikan lebih sedikit efek samping pada pasien, sehingga terfenadin digantikan di pasaran oleh [[metabolit]]nya. Feksofenadin awalnya disintesis pada tahun 1993 oleh perusahaan [[bioteknologi]] [[Sunovion|Sepracor]] yang berbasis di [[Massachusetts]], yang kemudian menjual hak pengembangannya kepada [[Hoechst]] Marion Roussel (sekarang bagian dari [[Sanofi]]-Aventis), dan kemudian disetujui oleh [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat]] (FDA) pada tahun 1996. Albany Molecular Research Inc. (AMRI) memegang hak paten atas zat antara dan produksi feksofenadin HCl, bersama dengan Roussel. Sejak saat itu, obat ini telah mencapai status obat &amp;#039;&amp;#039;blockbuster&amp;#039;&amp;#039; dengan penjualan global sebesar US$1,87 miliar pada tahun 2004 (dengan $1,49 miliar berasal dari Amerika Serikat). AMRI menerima pembayaran royalti dari Aventis yang memungkinkan pertumbuhan AMRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan Januari 2011, FDA menyetujui penjualan feksofenadin yang dijual bebas di Amerika Serikat, dan versi Sanofi Aventis tersedia pada bulan Maret 2011. Pada bulan Desember 2020, MHRA mengklasifikasi ulang feksofenadin dari resep hanya untuk memungkinkan penjualan umum di Britania Raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==kegunaan dalam Medis==&lt;br /&gt;
Feksofenadin digunakan untuk meredakan gejala fisik yang berhubungan dengan rinitis alergi musiman dan untuk pengobatan gatal-gatal, termasuk urtikaria kronis. Obat ini tidak menyembuhkan, melainkan mencegah bertambah parahnya rinitis alergi dan urtikaria idiopatik kronis, serta mengurangi keparahan gejala yang terkait dengan kondisi tersebut, meredakan bersin berulang, pilek, mata atau kulit gatal, dan kelelahan tubuh secara umum. Dalam ulasan tahun 2018, feksofenadin bersama dengan [[levosetirizin]], [[desloratadin]], dan [[setirizin]], disebut-sebut sebagai obat yang aman digunakan untuk individu dengan [[sindrom QT panjang]] bawaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Efikasi===&lt;br /&gt;
Untuk pengobatan rinitis alergi, feksofenadin sama efektifnya dengan setirizin, namun dikaitkan dengan rasa kantuk yang lebih sedikit dibandingkan setirizin. Feksofenadin juga terbukti menghambat &amp;#039;&amp;#039;wheal&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;flare&amp;#039;&amp;#039; yang disebabkan oleh [[histamin]] hingga tingkat yang jauh lebih besar dibandingkan [[loratadin]] atau [[desloratadin]], tetapi sedikit kurang efektif dibandingkan levosetirizin. Feksofenadin dengan dosis di atas 120&amp;amp;nbsp;mg sehari tampaknya tidak memberikan kemanjuran tambahan dalam pengobatan rinitis alergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Efek Samping==&lt;br /&gt;
Efek samping yang paling umum termasuk [[sakit kepala]], nyeri punggung dan otot, [[miosis]] atau pupil mengecil, mual, kantuk, dan kram menstruasi. [[Kegelisahan|Kecemasan]] dan [[insomnia]] juga jarang dilaporkan. Efek samping yang paling umum ditunjukkan selama [[uji klinis]] adalah batuk, [[infeksi saluran napas atas]], [[demam]], dan [[radang telinga tengah|otitis media]] untuk anak-anak berusia 6 hingga 11 tahun dan kelelahan untuk anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Overdosis==&lt;br /&gt;
Profil keamanan feksofenadin cukup baik, karena tidak ada efek kardiovaskular atau obat penenang yang terbukti terjadi bahkan ketika mengonsumsi 10 kali lipat dosis yang dianjurkan. Penelitian pada manusia berkisar dari dosis tunggal 800&amp;amp;nbsp;mg, hingga dosis dua kali sehari, 690&amp;amp;nbsp;mg selama sebulan, tanpa efek samping yang signifikan secara klinis, jika dibandingkan dengan [[plasebo]]. Tidak ada kematian yang terjadi dalam pengujian pada tikus, pada dosis 5000&amp;amp;nbsp;mg/kg berat badan, yang merupakan 110 kali lipat dosis maksimum yang direkomendasikan untuk manusia dewasa. Jika overdosis terjadi, tindakan suportif dianjurkan. Secara teoretis, overdosis dapat muncul sebagai pusing, mulut kering, dan/atau mengantuk, konsisten dengan efek samping yang berlebihan. [[Hemodialisis]] tampaknya bukan cara yang efektif untuk menghilangkan feksofenadin dari darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Farmakologi==&lt;br /&gt;
===Farmakodinamik===&lt;br /&gt;
Feksofenadin adalah antagonis reseptor H1 perifer selektif. Penyumbatan mencegah aktivasi reseptor H1 oleh histamin, mencegah terjadinya gejala yang berhubungan dengan alergi. Feksofenadin tidak mudah melewati sawar darah otak, sehingga kecil kemungkinannya menyebabkan kantuk dibandingkan dengan antihistamin lain yang mudah melewati sawar tersebut (yaitu, antihistamin generasi pertama seperti [[difenhidramin]]). Secara umum, efek feksofenadin membutuhkan waktu sekitar satu jam, meskipun hal ini mungkin dipengaruhi oleh pilihan bentuk sediaan dan keberadaan makanan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Feksofenadin juga tidak menunjukkan efek penghambatan reseptor [[antikolinergik]], antidopaminergik, alfa 1-adrenergik, atau beta-adrenergik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Farmakokinetik===&lt;br /&gt;
*[[Absorbsi obat|Penyerapan]]: Setelah pemberian oral, konsentrasi plasma maksimum tercapai setelah 2-3 jam. Feksofenadin tidak boleh dikonsumsi dengan makanan tinggi lemak, karena konsentrasi rata-rata feksofenadin dalam aliran darah terlihat berkurang dari 20 hingga 60% tergantung pada bentuk pengobatan (tablet, ODT, atau suspensi).&lt;br /&gt;
*Distribusi: Feksofenadin 60-70% terikat pada protein plasma, sebagian besar [[albumin]].&lt;br /&gt;
*[[Metabolisme obat|Metabolisme]]: Feksofenadin adalah substrat CYP3A4, namun hanya sekitar 5% yang dimetabolisme oleh hati, menunjukkan bahwa metabolisme hati relatif kecil dalam pembersihan dari tubuh.&lt;br /&gt;
*Eliminasi: Sebagian besar zat dieliminasi tidak berubah melalui feses (80%) dan urin (11-12%).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Interaksi==&lt;br /&gt;
Mengonsumsi [[eritromisin]] atau [[ketokonazol]] saat mengonsumsi feksofenadin memang meningkatkan kadar feksofenadin dalam plasma, namun peningkatan ini tidak memengaruhi interval QT. Alasan terjadinya efek ini kemungkinan besar disebabkan oleh efek yang berhubungan dengan transportasi, khususnya yang melibatkan p-glikoprotein (p-gp). Baik eritromisin dan ketokonazol adalah penghambat p-gp, protein pengangkut yang terlibat dalam mencegah penyerapan feksofenadin di usus. Ketika p-gp dihambat, feksofenadin mungkin diserap lebih baik oleh tubuh, meningkatkan konsentrasi plasma lebih dari yang diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Feksofenadin tidak boleh dikonsumsi dengan jus apel, jeruk, atau [[limau gedang]] karena dapat menurunkan penyerapan obat. Oleh karena itu, sebaiknya diminum dengan air. Jus limau gedang dapat secara signifikan mengurangi konsentrasi feksofenadin dalam plasma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Antasida]] yang mengandung [[aluminium]] atau [[magnesium]] tidak boleh dikonsumsi dalam waktu 15 menit setelah feksofenadin, karena dapat mengurangi penyerapannya hampir 50%. Hal ini diperkirakan bukan disebabkan oleh perubahan pH (pada kenyataannya, penyerapan sebenarnya dapat meningkat pada pH yang semakin basa), tetapi lebih disebabkan oleh pembentukan kompleks logam dengan gugus bermuatan/polar pada feksofenadin. Seperti yang dikemukakan oleh Shehnaza dkk (2014), berbagai lokasi molekul dianggap bertanggung jawab atas interaksi ini, termasuk nitrogen piperidin, gugus asam karboksilat (-COOH), dan kedua gugus hidroksil (-OH).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Feksofenadin&amp;amp;oldid=28968716 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28968716 (2026-02-16T15:27:22Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>