<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Fisiologi_dirgantara</id>
	<title>Fisiologi dirgantara - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Fisiologi_dirgantara"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Fisiologi_dirgantara&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T17:02:29Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Fisiologi_dirgantara&amp;diff=31406&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28663179; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Fisiologi_dirgantara&amp;diff=31406&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-05T08:29:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28663179; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Aerofisiologi&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah ilmu tentang kesehatan tubuh ketika berada dalam penerbangan atau dalam misi penjelajahan ruang angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penjelasan Awal ==&lt;br /&gt;
Manusia berevolusi untuk hidup di darat dan semua organ tubuh dapat bekerja&lt;br /&gt;
dan berfungsi dengan baik dalam kondisi lingkungan darat yang mengelilinginya. Akan&lt;br /&gt;
tetapi manusia sejak zaman dahulu ingin terbang seperti burung dan akhirnya berhasil&lt;br /&gt;
terbang dengan balon pada abad ke-18.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak abad tersebut dunia penerbangan berkembang sangat pesat baik jarak tempuh,&lt;br /&gt;
kecepatan, ketinggian dan daya angkat maupun kegiatannya. Keberhasilan ini telah dapat&lt;br /&gt;
meningkatkan kesejahteraan umat manusia, namun bukannya tanpa risiko karena manusia&lt;br /&gt;
memang tidak terbiasa tinggal di ketinggian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi hal tersebut maka Ilmu Kesehatan harus mengembangkan diri&lt;br /&gt;
untuk mempelajari bahaya-bahaya penerbangan bagi tubuh manusia dan cara-cara pe-&lt;br /&gt;
nanggulangannya. Maka lahirlah Ilmu Kesehatan Penerbangan sebagai salah satu cabang&lt;br /&gt;
Ilmu Kesehatan, yang dilandasi oleh Fisiologi Penerbangan atau Aerofisiologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-faktor ketinggian yang memengaruhi faal tubuh manusia adalah menurun-&lt;br /&gt;
nya [[Tekanan atmosfer|tekanan udara]], tekanan parsiil [[oksigen]], suhu udara dan gaya berat dan lain-lain. Di&lt;br /&gt;
samping itu manouvre penerbangan dapat mengganggu faal tubuh seperti faal sistem&lt;br /&gt;
kardio-vaskuler, sistem pernapasan, penglihatan, keseimbangan, pendengaran dan lain-&lt;br /&gt;
lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu mempelajari aspek aerofisiologi dalam penerbangan adalah penting agar&lt;br /&gt;
kita dapat mencegah dan mengatasi pengaruh buruk penerbangan. Dengan demikian kita&lt;br /&gt;
dapat memanfaatkan udara bagi penerbangan dengan selamat, nyaman, aman dan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia diciptakan Tuhan untuk hidup di darat. Sebagai&lt;br /&gt;
makhluk daratan manusia telah terbiasa dan menyesuaikan diri&lt;br /&gt;
untuk hidup di lingkungan daratan atau pada&lt;br /&gt;
, atmosfer yang&lt;br /&gt;
paling rendah. Namun sejak zaman dahulu manusia ingin terbang&lt;br /&gt;
seperti burung, suatu hal di luar kebiasaannya. Setelah melalui&lt;br /&gt;
Makalah ini telah dibacakan pada: Seminar Kesehatan Penerbangan, Surakarta&lt;br /&gt;
30 Oktober 1993.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
perjuangan tanpa kenal lelah dan gigih akhirnyapada abad ke-18&lt;br /&gt;
manusia dapat terbang dengan balon, diikuti dengan keberha-&lt;br /&gt;
silan terbang dengan pesawat terbang. Bahkan sekarang manusia&lt;br /&gt;
telah berhasil mengarungi ruang angkasa luar.&lt;br /&gt;
Dewasa ini banyak orang-orang yang memilih profesinya&lt;br /&gt;
dalam penerbangan, yang berbeda dengan kebiasaan hidupnya di&lt;br /&gt;
darat. Hal ini tentu saja akan membawa konsekuensi atau risiko-&lt;br /&gt;
background image&lt;br /&gt;
risiko yang harus dihadapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun merekapun&lt;br /&gt;
menginginkan keamanan dalam menjalankan tugasnya ini, se-&lt;br /&gt;
hingga Ilmu Kesehatan harus membuka cabangnya untuk mem-&lt;br /&gt;
pelajari bahaya-bahaya penerbangan. Hal ini menyebabkan&lt;br /&gt;
lahirnya Ilmu Kesehatan Penerbangan, yang dilandasi oleh&lt;br /&gt;
Fisiologi Penerbangan atau Aerofisiologi.&lt;br /&gt;
Ilmu Kesehatan Penerbangan atau Aviation Medicine akhir-&lt;br /&gt;
akhir ini berkembang menjadi Ilnpu Kesehatan Penerbangan dan&lt;br /&gt;
Ruang Angkasa atau Aerospace Medicine, karena perkembang-&lt;br /&gt;
an teknologi penerbangan yang memungkinkan menerbangkan&lt;br /&gt;
orang ke ruang angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah Aerofisiologi ==&lt;br /&gt;
Pada abad ke 13 dua saudara Montgolfier berhasil membuat&lt;br /&gt;
balon yang dapat terbang dengan membawa muatan. Balon yang&lt;br /&gt;
pertama ini diterbangkan di Versaille, Prancis, tanggal 19 Sep-&lt;br /&gt;
tember 1963 dengan muatan ayam, bebek dan kambing dan dapat&lt;br /&gt;
mencapai ketinggian 1.500 kaki. Sebulan kemudian diadakan&lt;br /&gt;
penerbangan balon lagi yang membawa penumpang manusia,&lt;br /&gt;
yaitu Pilatre de Rozier, seorang apoteker, dan Marquis di Arlan-&lt;br /&gt;
des. Percobaan ini berhasil dengan selamat.&lt;br /&gt;
Pada tanggal 23 November 1784, seorang dokter Amerika&lt;br /&gt;
John Jeffries tertarik akan penerbangan dan ingin mengetahui&lt;br /&gt;
susunan dan sifat atmosfer bagian atas. Ia melakukan penerbang-&lt;br /&gt;
an dengan balon, dengan membawa termometer, hydrometer,&lt;br /&gt;
[[barometer]] dan elektrometer, sampai ketinggian 9.250 kaki. Da-&lt;br /&gt;
lam penerbangan ini ia mencatat adanya perubahan suhu di ke-&lt;br /&gt;
tinggian dari + 51&amp;amp;nbsp;°F menjadi 28,5&amp;amp;nbsp;°F,, sedangkan tekanan udara&lt;br /&gt;
menurun dari 30 inci Hg menjadi 21,25 inci Hg.&lt;br /&gt;
Pada tahun 1862, Claisher dan Coxwell terbang dengan&lt;br /&gt;
balon sampai setinggi 29.000 kaki dengan tujuan yang sama. Di&lt;br /&gt;
samping itu mereka melakukan observasi pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
untuk mengetahui perubahan-perubahan apa yang akan terjadi&lt;br /&gt;
pada ketinggian. Selama terbang, Clasher mengalami gejala-&lt;br /&gt;
gejala aneh pada tubuhnya, yaitu tajam penglihatan dan pen-&lt;br /&gt;
dengaran menurun, kedua belah anggota badan menjadi lumpuh&lt;br /&gt;
dan akhirnya jatuh pingsan. Coxwell juga mengalami kejadian&lt;br /&gt;
yang serupa, hanya sebelum pingsan berusaha menarik tali peng-&lt;br /&gt;
ikat katup balon guna menurunkan balonnya. Usaha ini hampir&lt;br /&gt;
gaga!, karena kedua tangannya tidak dapat digerakkan lagi, se-&lt;br /&gt;
hingga dia menarik tali tadi dengan menggigitnya. Dari peng-&lt;br /&gt;
alaman kedua orang ini dapat diambil kesimpulan bahwa terbang&lt;br /&gt;
tinggi dapat membahayakan jiwa manusia.&lt;br /&gt;
Paul Bert, seorang ahli ilmu faal Prancis, sangat tertarik&lt;br /&gt;
dengan kejadian tadi dan pada tahun 1874 mengadakan per-&lt;br /&gt;
cobaan dengan menggunakan kabin bertekanan rendah untuk&lt;br /&gt;
melihat perubahan apa yang dapat terjadi pada ketinggian atau&lt;br /&gt;
tempat yang tekanan udaranya kecil. Dari salah satu basil per-&lt;br /&gt;
cobaan-percobaannya didapatkan adanya hipoksia atau keku-&lt;br /&gt;
rangan oksigen pada ketinggian yang dapat diatasi dengan pem-&lt;br /&gt;
berian oksigen pada penerbangan. Hasil penelitian Paul Bert ini&lt;br /&gt;
dipraktikkan oleh Sivel dan Groce Spinelli, yang terbang sampai&lt;br /&gt;
18.000 kaki dengan menggunakan kantong oksigen tanpa meng-&lt;br /&gt;
alami gangguan.&lt;br /&gt;
Pada tahun 1875, Sivel dan Groce-Spinelli melakukan pe-&lt;br /&gt;
nerbangan lagi bersama Tissander, yang juga menggunakan kan-&lt;br /&gt;
tong oksigen dengan kadar 72%. Penerbangan mereka ini men-&lt;br /&gt;
capai ketinggian 28.000 kaki dan berakhir dengan kematian&lt;br /&gt;
Sivel dan Groce-Spinelli karena hipoksia sedang Tissander hanya&lt;br /&gt;
pingsan saja. Tissander membuat catatan yang sangat lengkap&lt;br /&gt;
tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam penerbangan&lt;br /&gt;
ini. Dari catatan ini dapat disimpulkan bahwa ada gejala euphoria&lt;br /&gt;
sebelum hipoksia dan oksigen tidak mencukupi untuk pener-&lt;br /&gt;
bangan tinggi.&lt;br /&gt;
Dengan munculnya pesawat terbang, bertambahlah kesu-&lt;br /&gt;
karan dan bahaya penerbangan yang dapat mengancam jiwa&lt;br /&gt;
penerbang. Pada waktu pesawat udara masih sederhana, yang&lt;br /&gt;
tinggi terbangnya belum besar dan kecepatannya masih rendah,&lt;br /&gt;
telah banyak kecelakaan-kecelakaan yang terjadi; sebagian besar&lt;br /&gt;
ternyata disebabkan oleh kurang mampunya tubuh penerbang&lt;br /&gt;
menghadapi perubahan-perubahan atau bahaya-bahaya yang&lt;br /&gt;
timbul pada penerbangan. Hal ini terbukti pada penelitian-pene-&lt;br /&gt;
litian yang dilakukan pada perang dunia pertama; kira-kira 90%&lt;br /&gt;
kecelakaan udara disebabkan karena penerbang tidak atau ku-&lt;br /&gt;
rang tahan uji terhadap bahaya penerbangan.&lt;br /&gt;
Sejak Perang Dunia ke I selesai Ilmu Kesehatan Penerbang-&lt;br /&gt;
an mendapat tempat yang layak dalam dunia kesehatan, sehingga&lt;br /&gt;
perkembangannya makin pesat. Sedang pada akhir-akhir ini&lt;br /&gt;
dengan kemajuan teknologi penerbangan, Ilmu, Kesehatan Pe-&lt;br /&gt;
nerbangan berkembang dan bahkan sekarang telah menjadi Ilmu&lt;br /&gt;
Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pengaruh Ketinggian Pada Faal Tubuh ==&lt;br /&gt;
Ada empat perubahan sifat atmosfer pada ketinggian yang&lt;br /&gt;
dapat merugikan faal tubuh khususnya dan kesehatan pada&lt;br /&gt;
umumnya, yaitu:&lt;br /&gt;
* Perubahan atau mengecilnya tekanan parsiil oksigen di&lt;br /&gt;
udara. Hal ini dapat mengganggu faal tubuh dan menyebabkan&lt;br /&gt;
hipoksia.&lt;br /&gt;
* Perubahan atau mengecilnya tekanan atmosfer. Hal ini&lt;br /&gt;
dapat menyebabkan sindrom dysbarism.&lt;br /&gt;
* Berubahnya suhu atmosfer.&lt;br /&gt;
* Meningkatnya radiasi, baik dari matahari (solar radiation)&lt;br /&gt;
maupun dari kosmos lain (cosmic radiation).&lt;br /&gt;
Dari keempat perubahan ini yang akan dibahas adalah&lt;br /&gt;
masalah hipoksia dan dysbarism. Masalah pengaruh perubahan&lt;br /&gt;
suhu hanya dibahas secara umum karena akan lebih banyak&lt;br /&gt;
dibahas pada masalah survival dan masalah bail out. Sedang&lt;br /&gt;
masalah radiasi tidak dibahas di sini, karena pengaruhnya pada&lt;br /&gt;
penerbangan biasa kurang berarti dan hanya penting dibicarakan&lt;br /&gt;
bila kita membahas masalah penerbangan ruang angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis Penyakit Yang Ditimbulkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hipoksia ===&lt;br /&gt;
Hipoksia adalah keadaan tubuh kekurangan oksigen untuk&lt;br /&gt;
menjamin keperluan hidupnya. Dengan menipisnya udara pada&lt;br /&gt;
ketinggian, maka tekanan parsiil oksigen dalam udara menurun&lt;br /&gt;
atau mengecil. Mengecilnya tekanan parsiil oksigen dalam udara&lt;br /&gt;
pernapasan akan berakibat terjadinya hipoksia.&lt;br /&gt;
Sifat-sifat hipoksia:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Tidak terasa datangnya, sehingga orang awam tidak tahu&lt;br /&gt;
bahwa bahaya hipoksia ini telah menyerangnya.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Tidak memberikan rasa sakit pada seseorang, bahkan sering&lt;br /&gt;
memberikan rasa gembira (euphoria) pada permulaan serangan-&lt;br /&gt;
nya, kemudian timbul gejala-gejala lain yang lebih berat sampai&lt;br /&gt;
pingsan dan bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;
Macam hipoksia&lt;br /&gt;
Menurut sebabnya hipoksia ini dibagi menjadi 4 macam,&lt;br /&gt;
yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Hypoxic-Hypoxia ====&lt;br /&gt;
yaitu hipoksia yang terjadi karena me-&lt;br /&gt;
nurunnya tekanan parsiil oksigen dalam paru-paru atau karena&lt;br /&gt;
terlalu tebalnya dinding paru-paru. Hypoxic-Hypoxia inilah yang&lt;br /&gt;
sering dijumpai pada penerbangan, karena seperti makin tinggi&lt;br /&gt;
terbang makin rendah tekanan barometernya sehingga tekanan&lt;br /&gt;
parsiil oksigennyapun akan makin kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Anaemic-Hypoxia ====&lt;br /&gt;
yaitu hipoksia yang disebabkan karena&lt;br /&gt;
berkurangnya hemoglobin dalam darah baik kanena jumlah da-&lt;br /&gt;
rahnya sendiri yang kurang (perdarahan) maupun karena kadar&lt;br /&gt;
Hb dalam darah menurun (anemia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Stagnant-Hypoxia ====&lt;br /&gt;
yaitu hipoksia yang terjadi karena adanya&lt;br /&gt;
bendungan [[sistem peredaran darah]] sehingga aliran darah tidak&lt;br /&gt;
lancar, maka jumlah oksigen yang diangkut dari paru-paru me-&lt;br /&gt;
nuju sel persatuan waktu menjadi kurang. Stagnant hipoksia ini&lt;br /&gt;
sering terjadi pada penderita penyakit jantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Histotoxic-Hypoxia ====&lt;br /&gt;
yaitu hipoksia yang terjadi karena ada-&lt;br /&gt;
nya bahan racun dalam tubuh sehingga mengganggu kelancaran&lt;br /&gt;
pemapasan dalam.&lt;br /&gt;
background image&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Gejala-gejala hipoksia ===&lt;br /&gt;
Gejala yang timbul pada hipoksia sangat individual, sedang&lt;br /&gt;
berat ringannya gejala tergantung pada lamanya berada di daerah&lt;br /&gt;
itu, cepatnya mencapai ketinggian tersebut, kondisi badan orang&lt;br /&gt;
yang menderitanya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
Gejala-gejala ini dapat dikelompokkan dalam dua golongan,&lt;br /&gt;
yaitu:&lt;br /&gt;
:* Gejala-gejala Objektif, meliputi:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Air hunger, yaitu rasa ingin menarik napas panjang terus-&lt;br /&gt;
menerus&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Frekuensi nadi dan pernapasan naik&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Gangguan pada cara berpikir dan berkonsentrasi&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Gangguan dalam melakukan gerakan koordinatif misalnya&lt;br /&gt;
memasukkan paku ke dalam lubang yang sempit&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Cyanosis, yaitu warna kulit, kuku dan bibir menjadi biru&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Lemas&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Kejang-kejang&lt;br /&gt;
h)&lt;br /&gt;
Pingsan dan sebagainya.&lt;br /&gt;
:* Gejala-gejala Subyektif, meliputi:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Malas&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Ngantuk&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Euphoria yaitu rasa gembira tanpa sebab dan kadang-ka-&lt;br /&gt;
dang timbul rasa sok jagoan. Rasa ini yang harus mendapat per-&lt;br /&gt;
hatian yang besar pada awak pesawat, karena euphoria ini banyak&lt;br /&gt;
membawa korban akibat tidak adanya keseimbangan lagi antara&lt;br /&gt;
kemampuan yang mulai mundur dan kemauan yang meningkat.&lt;br /&gt;
Pembagian hipoksia berdasarkan ketinggian&lt;br /&gt;
Gejala-gejala hipoksia yang timbul ditentukan oleh ke-&lt;br /&gt;
tinggian tempat orang tersebut berada. Ketinggian ini dapat&lt;br /&gt;
dibagi menjadi 4 golongan yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* The Indifferent Stage, yaitu ketinggian dari sea level sampai&lt;br /&gt;
ketinggian 10.000 kaki. Biasanya yang terganggu oleh hipoksia&lt;br /&gt;
di daerah ini hanya [[penglihatan malam]] dengan daya adaptasi&lt;br /&gt;
gelap terganggu. Pada umumnya gangguan ini sudah mulai nyata&lt;br /&gt;
pada ketinggian di atas 5.000 kaki; oleh karena itu pada latihan&lt;br /&gt;
terbang malam para awak pesawat diharuskan memakai oksigen&lt;br /&gt;
sejak di darat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Compensatory Stage, yaitu ketinggian dari 10.000 sampai&lt;br /&gt;
15.000 kaki.&lt;br /&gt;
Pada daerah ini sistem peredaran darah dan pernapasan telah&lt;br /&gt;
mengadakan perubahan dengan menaikkan frekuensi nadi dan&lt;br /&gt;
pernapasan, menaikkan [[tekanan darah]] sistolik dan cardiac out-&lt;br /&gt;
put untuk mengatasi hipoksia yang terjadi. Pada daerah ini sistem&lt;br /&gt;
saraf telah terganggu, oleh karena itu tiap awak pesawat yang&lt;br /&gt;
terbang di daerah ini harus menggunakan oksigen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Disturbance Stage, yaitu ketinggian dari 15.000 kaki sampai&lt;br /&gt;
20.000 kaki.&lt;br /&gt;
Pada daerah ini usaha tubuh untuk mengatasi hipoksia&lt;br /&gt;
sangat terbatas waktunya, jadi pada daerah ini orang tidak akan&lt;br /&gt;
dapat lama tanpa bantuan oksigen. Biasanya tanda-tanda serang-&lt;br /&gt;
an hipoksia ini tidak terasa hanya kadang-kadang saja timbul rasa&lt;br /&gt;
malas, ngantuk, euphoria dan sebagainya, sehingga tahu-tahu&lt;br /&gt;
orang tersebut menjadi pingsan.&lt;br /&gt;
Gejala-gejala objektif antara lain pandangan menjadi me-&lt;br /&gt;
nyempit (tunnel vision), kepandaian menurun, judgement ter-&lt;br /&gt;
ganggu. Oleh karena itu pada daerah ini merupakan keharusan&lt;br /&gt;
mutlak seluruh awak pesawat maupun penumpang untuk meng-&lt;br /&gt;
gunakan oksigen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Critical Stage, yaitu daerah dari ketinggian 20.000 kaki&lt;br /&gt;
sampai 23.000 kaki.&lt;br /&gt;
Pada daerah ini dalam waktu 3 ­ 5 menit saja orang sudah&lt;br /&gt;
tidak dapat menggunakan lagi pikiran dan judgement lain tanpa&lt;br /&gt;
bantuan oksigen.&lt;br /&gt;
Time of Useful Consciousness (TUC)&lt;br /&gt;
Adalah waktu yang masih dapat digunakan bila kita men-&lt;br /&gt;
derita serangan hipoksia pada tiap ketinggian; di luar waktu itu&lt;br /&gt;
kita akan kehilangan kesadaran. Waktu itu berbeda-beda pada&lt;br /&gt;
tiap ketinggian, makin tinggi waktu itu makin pendek. TUC ini&lt;br /&gt;
juga dipengaruhi oleh kondisi badan dan kerentanan seseorang&lt;br /&gt;
terhadap hipoksia. TUC ini perlu diperhatikan oleh para awak&lt;br /&gt;
pesawat agar mereka dapat mengetahui berapa waktu yang ter-&lt;br /&gt;
sedia baginya bila mendapat serangan hipoksia pada ketinggian&lt;br /&gt;
tersebut. Sebagai contoh: TUC pada ketinggian 22.000 kaki =10&lt;br /&gt;
menit, 25.000 kaki = 5 menit, 28.000 kaki = 2,5­3 menit, 30.000&lt;br /&gt;
kaki = 1,5 menit, 35.000 kaki = 0,5 ­ 1 menit, 40.000 kaki = 15&lt;br /&gt;
detik dan 65.000 kaki = 9 detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengobatan hipoksia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengobatan hipoksia yang paling baik adalah pemberian&lt;br /&gt;
oksigen secepat mungkin sebelum terlambat, karena bila terlam-&lt;br /&gt;
bat dapat mengakibatkan kelainan (cacat) sampai ke kematian.&lt;br /&gt;
Pada penerbangan bila terjadi hipoksia harus segera menggunakan&lt;br /&gt;
masker oksigen atau segera turun pada ketinggian yang aman&lt;br /&gt;
yaitu di bawah 10,000 kaki.&lt;br /&gt;
Pencegahan hipoksia&lt;br /&gt;
Pencegahan hipoksia dapat dilakukan dengan beberapa cara&lt;br /&gt;
mulai dari penggunaan oksigen yang sesuai dengan ketinggian&lt;br /&gt;
tempat kita berada, pernapasan dengan tekanan dan penggunaan&lt;br /&gt;
pressure suit, pengawasan yang baik terhadap persediaan oksi-&lt;br /&gt;
gen pada penerbangan, pengukuran pressurized cabin, meng-&lt;br /&gt;
ikuti ketentuan-ketentuan dalam penerbangan dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Cara lain untuk pencegahan yaitu latihan mengenal datangnya&lt;br /&gt;
bahaya hipoksia agar dapat selalu siap menghadapi bahaya&lt;br /&gt;
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dysbarism ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Adler yang dimaksud dengan dysbarism adalah&lt;br /&gt;
semua kelainan yang terjadi akibat berubahnya tekanan sekitar&lt;br /&gt;
tubuh, kecuali hipoksia. Banyak istilah yang telah digunakan&lt;br /&gt;
orang untuk memberi nama sindrom ini seperti penyakit dekom-&lt;br /&gt;
presi, aeroembolisme, aeroemphysema dan sebagainya. Namun,&lt;br /&gt;
istilah dysbarism lebih tepat karena istilah-istilah tidak men-&lt;br /&gt;
cakup keseluruhan pengertian atau seluruh kejadian.&lt;br /&gt;
Di samping hipoksia masalah dysbarism juga termasuk&lt;br /&gt;
masalah yang penting dalam ilmu faal penerbangan. Dysbarism&lt;br /&gt;
ini telah sejak abad ke XVII dibicarakan orang dan sampai se-&lt;br /&gt;
karangpun masih ramai didiskusikan karena etiologinya atau&lt;br /&gt;
patofisiologinya belum dapat dijelaskan secara sempuma. Ba-&lt;br /&gt;
nyak teori yang timbul tetapi selalu saja ada kelemahannya.&lt;br /&gt;
Pembagian dysbarism&lt;br /&gt;
background image&lt;br /&gt;
Dysbarism dibagi menjadi dua golongan, yaitu:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Sebagai akibat pengembangan gas-gas dalam rongga tubuh.&lt;br /&gt;
Golongan ini sering juga disebut: pengaruh mekanis pengem-&lt;br /&gt;
bangan gas-gas dalam rongga tubuh atau pengaruh mekanis&lt;br /&gt;
akibat perubahan tekanan sekitar tubuh.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Sebagai akibat penguapan gas-gas yang terlarut dalam tu-&lt;br /&gt;
buh. Kelompok ini kadang-kadang jul;a disebut penyakit dekom-&lt;br /&gt;
presi, sehingga kadang-kadang mengaburkan pengertian penya-&lt;br /&gt;
kit dekompresi yang digunakan orang untuk istilah pengganti&lt;br /&gt;
dysbarism.&lt;br /&gt;
Pengaruh Mekanis Gas-gas dalam Rongga Tubuh&lt;br /&gt;
Berubahnya tekanan udara di luar tubuh akan mengganggu&lt;br /&gt;
keseimbangan tekanan antara rongga tubuh yang mengandung&lt;br /&gt;
gas dengan udara di luar. Hal ini akan berakibat timbulnya rasa&lt;br /&gt;
sakit sampai terjadinya kerusakan organ-organ tertentu.&lt;br /&gt;
Rongga tubuh yang mengandung gas adalah:&lt;br /&gt;
1. Traktus Castro Intestinalis&lt;br /&gt;
Gas-gas terutama berkumpul dalam lambung dan usus besar.&lt;br /&gt;
Sumber gas-gas tersebut sebagian besar adalah dani udara yang&lt;br /&gt;
ikdt tertelan pada waktu makan dan sebagian kecil timbul dari&lt;br /&gt;
proses pencernaan, peragian atau pembusukan (dekomposisi&lt;br /&gt;
oleh bakteri). Gas-gas tersebut terdiri dani O&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
, CO&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
, metan, H&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
S&lt;br /&gt;
dan N&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
(bagian terbesar).&lt;br /&gt;
Apabila ketinggian dicapai dengan perlahan, maka perbe-&lt;br /&gt;
daan antara tekanan udara di luar dan di dalam tidak begitu besar&lt;br /&gt;
sehingga pressure equalisation yaitu mekanisme penyamanan&lt;br /&gt;
tekanan berjalan dengan lancar dengan jalan kentut atau melalui&lt;br /&gt;
mulut. Gejala-gejala yang dirasakan adalah ringan yaitu rasa&lt;br /&gt;
tidak enak (discomfort) pada perut. Sebaliknya apabila ketinggi-&lt;br /&gt;
an dicapai dengan cepat atau terdapat halangan dalam saluran&lt;br /&gt;
pencernaan maka pressure equalisation tidak berjalan dengan&lt;br /&gt;
lancan, sehingga gas-gas sukar keluar dan timbul rasa discomfort&lt;br /&gt;
yang lebih berat. Pada ketinggian di atas 25.000 kaki timbul rasa&lt;br /&gt;
sakit perut yang hebat; sakit perut ini secara reflektoris dapat&lt;br /&gt;
menyebabkan turunnya tekanan darah secara drastis, sehingga&lt;br /&gt;
jatuh pingsan.&lt;br /&gt;
Tindakan preventif agar tidak banyak terkumpul gas dalam&lt;br /&gt;
saluran pencernaan, meliputi:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Dilarang minum bir, air soda dan minuman lain yang me-&lt;br /&gt;
ngandung gas CO&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
sebelum terbang.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Makanan yang dilarang sebelum terbang adalah bawang&lt;br /&gt;
merah, bawang putih, kubis, kacang-kacangan, ketimun, se-&lt;br /&gt;
mangka dan chewing gum.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Tidak dibenarkan makan dengan tidak teratur, tergesa-gesa&lt;br /&gt;
dan sambil bekerja.&lt;br /&gt;
Tindakan regresif bila gejala sudah timbul, adalah:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Ketinggian segera dikurangi sampai gejala-gejala ini hilang.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Diusahakan untuk mengeluarkan udara dani mulut atau&lt;br /&gt;
kentut&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Banyak mengadakan gerakan.&lt;br /&gt;
:* Telinga&lt;br /&gt;
Bertambahnya ketinggian akan menyebabkan tekanan dalam&lt;br /&gt;
telinga tengah menjadi lebih besar dari tekanan di luar tubuh,&lt;br /&gt;
sehingga akan terjadi aliran udara dani telinga tengah ke luar&lt;br /&gt;
tubuh melalui tuba Eustachii. Bila bertambahnya ketinggian ter-&lt;br /&gt;
jadi dengan cepat, maka usaha mengadakan keseimbangan tidak&lt;br /&gt;
cukup waktu; hal ini akan menyebabkan rasa sakit pada telinga&lt;br /&gt;
tengah karena teregangnya selaput gendang, bahkan dapat me-&lt;br /&gt;
robekkan selaput gendang. Kelainan ini disebut aerotitis atau&lt;br /&gt;
barotitis. Kejadian serupa dapat terjadi juga pada waktu keting-&lt;br /&gt;
gian berkurang, bahkan lebih sering terjadi karena pada waktu&lt;br /&gt;
turun tekanan di telinga tengah menjadi lebih kecil dari tekanan&lt;br /&gt;
di luar sehingga udara akan mengalir masuk telinga tengah,&lt;br /&gt;
sedang muara tuba eustachii di tenggorokan biasanya sering&lt;br /&gt;
tertutup sehingga menyukarkan aliran udara.&lt;br /&gt;
Bila ada radang di tenggorokan lubang tuba Eustachii makin&lt;br /&gt;
sempit sehingga lebih menyulitkan aliran udana melalui tempat&lt;br /&gt;
itu; hal ini berarti kemungkinan terjadinya banotitis menjadi lebih&lt;br /&gt;
besar. Di samping itu pada waktu turun udara yang masuk ke&lt;br /&gt;
telinga tengah akan melalui daerah radang di tenggorokan, se-&lt;br /&gt;
hingga kemungkinan infeksi di telinga tengah sukar dihindarkan.&lt;br /&gt;
Tindakan preventif terhadap kelainan ini adalah:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Mengurangi kecepatan naik maupun kecepatan turun, agar&lt;br /&gt;
tidak terlalu besar selisih tekanan antana udana luan dengan&lt;br /&gt;
telinga tengah.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Menelan ludah pada waktu pesawat udana naik agar tuba&lt;br /&gt;
Eustachii terbuka dan mengadakan gerakan Valsava pada waktu&lt;br /&gt;
pesawat turun. Gerakan Valsava adalah menutup mulut dan&lt;br /&gt;
hidung kemudian meniup dengan kuat.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Melarang terbang para awak pesawat yang sedang sakit&lt;br /&gt;
saluran pernapasan bagian atas.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Penggunaan pesawat udana dengan pressurized cabin.&lt;br /&gt;
Tindakan represif pada kelainan ini adalah:&lt;br /&gt;
* Bila terjadinya pada waktu naik, dilakukan:&lt;br /&gt;
:*&lt;br /&gt;
Berhenti naik dan datar pada ketinggian tersebut sambil&lt;br /&gt;
menelan ludah berulang-ulang sampai hilang gejalanya.&lt;br /&gt;
:*&lt;br /&gt;
Bila dengan usaha tadi tidak berhasil, maka pesawat ditu-&lt;br /&gt;
runkan kembali dengan cepat sampai hilangnya rasa sakit tadi.&lt;br /&gt;
* Bila terjadi pada waktu turun, dilakukan:&lt;br /&gt;
:*&lt;br /&gt;
Berhenti turun dan datar sambil melakukan Valsava ber-&lt;br /&gt;
ulang sampai gejalanya hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Bila usaha di atas tidak berhasil, pesawat dinaikkan kembali&lt;br /&gt;
sampai rasa sakit hilang, kemudian datar lagi untuk sementara.&lt;br /&gt;
Bila rasa sakit sudah hilang sama sekali, maka pesawat diturun-&lt;br /&gt;
kan perlahan-lahan sekali sambil melakukan gerakan Valsava .&lt;br /&gt;
terus menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Post Flight Ear Block ===&lt;br /&gt;
Ada kejadian seperti barotitis tadi pada waktu selesai ter-&lt;br /&gt;
bang tinggi saat penerbangnya sedang tidur pada malam&lt;br /&gt;
harinya. Banotitis demikian disebut post flight ear block dan&lt;br /&gt;
terjadi kanena penerbang tersebut menggunakan oksigen terus&lt;br /&gt;
selamapenerbangan sampai ke bumi, sehingga udana yang masuk&lt;br /&gt;
ke telinga tengah kaya akan oksigen. Oksigen ini akan diserap&lt;br /&gt;
oleh selaput pelapis telinga tengah dan tuba Eustachii tertutup&lt;br /&gt;
sehingga tekanan udara luan menimbulkan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sinus Paranasalia ====&lt;br /&gt;
Muara sinus paranasalis ke rongga hidung pada umumnya&lt;br /&gt;
sempit. Sehingga bila kecepatan naik atau turun sangat besar,&lt;br /&gt;
maka untuk penyesuaian tekanan antara rongga sinus dan udara&lt;br /&gt;
background image&lt;br /&gt;
luar tidak cukup waktu, sehingga akan timbul rasa sakit di sinus&lt;br /&gt;
yang disebut aerosinusitis. Karena sifat sinus paranasalis yang&lt;br /&gt;
selalu terbuka, maka aerosinusitis ini dapat terjadi pada waktu&lt;br /&gt;
naik maupun turun dengan prosentase yang sama. Pada keadaan&lt;br /&gt;
radang saluran pernapasan bagian atas, kemungkinan terjadinya&lt;br /&gt;
aerosinusitis makin besar. Aerosinusitis ini lebih jarang bila&lt;br /&gt;
dibandingkandengan aerotitis, karena bentuk saluran penghubung&lt;br /&gt;
dengan udara luar.&lt;br /&gt;
===== Gigi =====&lt;br /&gt;
Pada gigi yang sehat dan normal tidak ada rongga dalam&lt;br /&gt;
gigi, tetapi pada gigi yang rusak kemungkinan terjadi kantong&lt;br /&gt;
udara dalam gigi besar sekali. Dengan mekanisme seperti pada&lt;br /&gt;
proses aerotitis dan aerosinusitis di atas, pada kantong udara di&lt;br /&gt;
gigi yang rusak ini dapat pula timbul rasa sakit. Rasa sakit ini&lt;br /&gt;
disebut aerodontalgia. Patofisiologi aerodontalgia ini masih&lt;br /&gt;
belum jelas.&lt;br /&gt;
Pengaruh Penguapan Gas yang Larut dalam Tubuh&lt;br /&gt;
Dengan berkurangnya tekanan atmosfer bila ketinggian&lt;br /&gt;
bertambah, gas-gas yang tadinya larut dalam sel dan jaringan&lt;br /&gt;
tubuh akan keluar sebagian dari larutannya dan timbul sebagai&lt;br /&gt;
gelembung-gelembung gas sampai tercapainya keseimbangan&lt;br /&gt;
baru. Mekanismenya adalah sesuai dengan Hukum Henry. Pada&lt;br /&gt;
kehidupan sehari-hari peristiwa ini dapat dilihat pada waktu kita&lt;br /&gt;
membuka tutup botol yang bersisi limun, air soda atau bir yaitu&lt;br /&gt;
timbul gelembung-gelembung gas.&lt;br /&gt;
Gelembung-gelembung gas yang timbul dalam tubuh&lt;br /&gt;
manusia bila tekanan atmosfer berkurang sebagian besar terdiri&lt;br /&gt;
dari gas N&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
* Gejala-gejala pada penerbang baru timbul pada ketinggian 25.000 kaki. Semakin cepat ketinggian bertambah,&lt;br /&gt;
semakin cepat pula timbul gejala. Pada ketinggian di bawah&lt;br /&gt;
25.000 kaki gas N&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
masih sempat dikeluarkan oleh tubuh melalui&lt;br /&gt;
paru-paru. Gas tersebut diangkut ke paru-paru oleh darah dari&lt;br /&gt;
scl-sel maupun jaringan tubuh. Timbulnya gelembung-gelem-&lt;br /&gt;
bung ini berhenti bila sudah terdapat keseimbangan antara te-&lt;br /&gt;
kanan udara di dalam dan tekanan udara di luar. Hal ini dapat di-&lt;br /&gt;
mengerti dengan mengingat Hukum Henry dan Hukum Graham.&lt;br /&gt;
Gelembung-gelembung ini memberikan gejala karena urat-urat&lt;br /&gt;
saraf di dekatnya tertekan olehnya, di samping itu tertekan pula&lt;br /&gt;
pembuluh-pembuluh darah kecil di sekitarnya.&lt;br /&gt;
Menurut sifat dan lokasinya, gejala-gejala ini terdiri atas:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Bends&lt;br /&gt;
Bends adalah rasa nyeri yang dalam dan terdapat di [[sendi]]&lt;br /&gt;
serta dirasakan terus-menerus, dan umumnya makin lama makin&lt;br /&gt;
bertambah berat. Akibatnya penerbang atau awak pesawat tak&lt;br /&gt;
dapat sama sekali bergerak karena nyerinya. Sendi yang terkena&lt;br /&gt;
umumnya adalah sendi yang besar seperti sendi bahu, sendi lutut,&lt;br /&gt;
di samping itu juga sendi yang lebih kecil seperti sendi tangan,&lt;br /&gt;
[[pergelangan tangan]] dan [[pergelangan kaki]], tetapi lebih jarang.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Chokes&lt;br /&gt;
Chokes adalah rasa sakit di bawah tulang dada yang disertai&lt;br /&gt;
dengan batuk kering yang terjadi pada penerbangan tinggi,&lt;br /&gt;
akibat penguapan gas nitrogen yang membentuk gelembung di&lt;br /&gt;
daerah paru-paru. Chokes lebih jarang terjadi bila dibandingkan&lt;br /&gt;
dengan bends, tetapi bahayanya jauh lebih besar, karena dapat&lt;br /&gt;
menganqam jiwa penerbang.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Gejala-gejala pada kulit&lt;br /&gt;
Gejala-gejala pada kulit adalah perasaan seperti ditusuk-&lt;br /&gt;
tusuk dengan jarum, gatal-gatal, rasa panas dan dingin, timbul&lt;br /&gt;
bercak kemerah-merahan dan gelembung-gelembung pada kulit.&lt;br /&gt;
Gejala-gejala ini tidak memberikan gangguan yang berat, tetapi&lt;br /&gt;
merupakan tanda bahaya atau tanda permulaan akan datangnya&lt;br /&gt;
bahaya dysbarism yang lebih berat.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Kelainan pada sistem saraf&lt;br /&gt;
Jarang sekali terjadi dan bila timbul mempunyai gambaran&lt;br /&gt;
dengan variasi yang besar yang kadang-kadang saja memberikan&lt;br /&gt;
komplikasi yang berat. Yang sering diketemukan adalah ke-&lt;br /&gt;
lainan penglihatan dan sakit kepala yang tidak jelas lokasinya.&lt;br /&gt;
Dapat pula timbul kelumpuhan sebagian (parsiil), kelainan peng-&lt;br /&gt;
inderaan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
PENGARUH PERCEPATAN DAN KECEPATAN PADA&lt;br /&gt;
PENERBANGAN TERHADAP TUBUH&lt;br /&gt;
Umum&lt;br /&gt;
Benda di udara apabila dilepaskan akan jatuh bebas karena&lt;br /&gt;
pengaruh gaya tank bumi. Demikian pula dengan tiap benda&lt;br /&gt;
yang berada dalam keadaan diam di permukaan bumi ini, akan&lt;br /&gt;
jatuh bebas ke arah pusat bumi apabila tidak ada tanah tempat&lt;br /&gt;
benda tersebut bersandar. Kekuatan yang bekerja pada massa&lt;br /&gt;
benda kita kenal sebagai berat benda. Berat flap benda dalam&lt;br /&gt;
keadaan diam dipengaruhi oleh gaya tarik bumi sebesar 1 g.&lt;br /&gt;
Percepatan atau akselerasi karena gaya tarik ini adalah sebesar&lt;br /&gt;
10 m/detik.&lt;br /&gt;
Apabila sebuah benda dari keadaan diam lalu bergerak,&lt;br /&gt;
maka karena adanya percepatan yang bekerja pada benda ter-&lt;br /&gt;
sebut, akan terjadi gaya lain pada benda tadi yang arahnya ber-&lt;br /&gt;
lawanan dengan arah percepatan penggeraknya. Hal ini di-&lt;br /&gt;
sebabkan karena kelembaman benda tersebut seperti hukum&lt;br /&gt;
inertia dari Newton. Misalnya kita di dalam mobil yang tidak&lt;br /&gt;
bergerak kemudian sekonyong-konyong mobil tersebut dilari-&lt;br /&gt;
kan dengan cepat, maka akan terasa badan kita terlempar ke&lt;br /&gt;
sandaran belakang. Sebaliknya bila kita berada pada mobil yang&lt;br /&gt;
bergerak cepat mendadak berhenti, maka badan kita akan ter-&lt;br /&gt;
lempar ke depan.&lt;br /&gt;
Macam Akselerasi&lt;br /&gt;
Dalam penerbangan dijumpai macam-macam akselerasi&lt;br /&gt;
yang terbagi atas:&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Akselerasi Liniair&lt;br /&gt;
Akselerasi liniair terjadi apabila ada perubahan kecepatan&lt;br /&gt;
sedang arah tetap, misalnya terdapat pada take off, catapult take&lt;br /&gt;
off, rocket take off, mengubah kecepatan dalam straight and level&lt;br /&gt;
flying, crash landing, ditching, shock waktu parasut membuka&lt;br /&gt;
atau pada saat landing.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Akselerasi Radiair (Sentripetal)&lt;br /&gt;
Akselerasi radiair terjadi apabila ada perubahan arah pada&lt;br /&gt;
gerak pesawat sedang kecepatan tetap, misalnya pada waktu&lt;br /&gt;
turun, loop dan dive.&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
Akselerasi Angulair&lt;br /&gt;
Akselerasi angulair apabila ada perubahan kecepatan dan&lt;br /&gt;
background image&lt;br /&gt;
arah pesawat sekaligus, misalnya pada roll dan spin.&lt;br /&gt;
Gaya&lt;br /&gt;
Akibat akselerasi timbul gaya yang sama besar akan tetapi&lt;br /&gt;
berlawanan arahnya (reactive force) yang dikenal sebagai gaya&lt;br /&gt;
G. Gaya G ini dinyatakan dengan satuan G. Besar tiap-tiap gaya&lt;br /&gt;
G yang bekerja pada awak pesawat diukur dengan gaya tarik&lt;br /&gt;
bumi.&lt;br /&gt;
Pengaruh gaya G pada tubuh dibagi berdasarkan arahnya&lt;br /&gt;
terhadap tubuh, karena toleransi tubuh terhadap gaya G ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Daftar Pustaka ==&lt;br /&gt;
* Dr. H. Sukotjo Danusastro, DSKP, MBA, Makalah &amp;#039;&amp;#039;Aspek Aerofisiologi dalam Penerbangan&amp;#039;&amp;#039;. Perkespra Pusat, Jakarta. Di http://pendidikansains.blogspot.com/2008/06/aspek-aerofisiologi-dalam-penerbangan.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fisiologi+dirgantara&amp;amp;oldid=28663179 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28663179 (2025-12-05T02:33:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>