<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Gojek</id>
	<title>Gojek - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Gojek"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-15T16:39:30Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;diff=7330&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;diff=7330&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-08-24T17:57:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi&lt;/p&gt;
&lt;a href=&quot;https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;amp;diff=7330&amp;amp;oldid=6930&quot;&gt;Lihat perubahan&lt;/a&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;diff=6930&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29240974; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Gojek&amp;diff=6930&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-08-24T17:18:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29240974; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Gojek&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (ditulis bergaya sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;goȷek&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;; sebelumnya ditulis &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;GO-JEK&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) merupakan   [[Situs web]] [[teknologi]] asal [[Indonesia]] yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Perusahaan ini didirikan pada tahun [[2009]] di [[Jakarta]] oleh [[Nadiem Makarim]]. Saat ini, Gojek telah tersedia di 50 kota di Indonesia. Hingga bulan [[Juni 2016]], aplikasi Gojek sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali di [[Google Play]] pada sistem operasi [[Android (sistem operasi)|Android]], dan telah tersedia di [[App Store (iOS)|App Store]]. Gojek juga mempunyai layanan pembayaran digital yang bernama Gopay, pengantaran [[makanan]] dan [[minuman]]. Selain di Indonesia, layanan Gojek kini telah tersedia di [[Vietnam]] dan [[Singapura]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada [[17 Mei]] [[2021]], [[Tokopedia]] dan Gojek mengumumkan resmi merger dan membentuk [[GoTo Group|Grup GoTo]]. Nama [[GoTo Group|GoTo]] sendiri berasal dari singkatan Gojek dan Tokopedia dan juga berasal dari kata gotong-royong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gojek didirikan oleh [[Nadiem Makarim]], warga negara [[Indonesia]] lulusan [[Master of Business Administration]] dari Harvard Business School. Ide mendirikan Gojek muncul dari pengalaman pribadi Nadiem Makarim menggunakan [[transportasi]] ojek hampir setiap hari ke tempat kerjanya untuk menembus kemacetan di [[Jakarta]]. Saat itu, Nadiem masih bekerja sebagai Co-Founder dan Managing Director [[Zalora Indonesia|Zalora]] Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seseorang yang sering menggunakan transportasi ojek, Nadiem melihat ternyata sebagian besar waktu yang dihabiskan oleh pengemudi ojek hanyalah sekadar mangkal menunggu penumpang. Padahal, pengemudi ojek akan mendapatkan [[penghasilan]] lebih banyak bila terus mencari penumpang. Selain itu, ia melihat ketersediaan jenis transportasi ini tidak sebanyak transportasi lainnya sehingga sering kali cukup sulit untuk dicari. Ia menginginkan ojek yang bisa ada setiap saat dibutuhkan. Dari pengalamannya tersebut, Nadiem Makarim melihat adanya peluang untuk membuat sebuah layanan yang dapat menghubungkan penumpang dengan pengemudi ojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tanggal [[5 Oktober]] [[2010]], Gojek resmi berdiri dengan 20 orang pengemudi. Pada saat itu, Gojek masih mengandalkan call center untuk menghubungkan penumpang dengan pengemudi ojek dengan GoKilat. Pada pertengahan [[2014]], berkat popularitas [[Uber]] kala itu, Nadiem Makarim mulai mendapatkan tawaran [[investasi]]. Pada tanggal [[7 Januari]] [[2015]], Gojek akhirnya meluncurkan aplikasi berbasis [[Android (sistem operasi)|Android]] dan [[iOS]] untuk menggantikan sistem pemesanan menggunakan call center.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pendanaan ===&lt;br /&gt;
Gojek pertama kali mendapatkan kucuran dana dari [[NSI Ventures]] pada Juni 2015 dengan besaran dana yang tidak dipublikasikan. Pada Oktober 2015, Gojek kembali mendapatkan kucuran dana. Kali ini dari [[Sequoia Capital]] dan DST Global yang juga tidak disebutkan jumlahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Agustus 2016, Gojek secara resmi mengumumkan pendanaan senilai US$550 juta atau sekitar Rp7,2 triliun dari [[KKR]], Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets dan investor-investor sebelumnya. Dengan adanya pendanaan tersebut, Gojek resmi berstatus sebagai [[Unicron|unicorn]] pertama di Indonesia, yaitu startup dengan valuasi lebih dari US$1 miliar. Pada saat itu, valuasi Gojek telah mencapai US$1,3 miliar (sekitar Rp17 triliun).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada [[Januari]] 2018, [[Google]] melalui situs blog resminya mengumumkan bahwa mereka telah memberikan pendanaan untuk Gojek. Ini merupakan investasi pertama Google kepada startup di [[Asia]]. Kucuran dana tersebut merupakan bagian dari [[seri pendanaan]] yang diikuti oleh Tencent, JD, Temasek, dan Meituan-Dianping yang mencapai angka US$1,2 miliar (sekitar Rp16 triliun). Dalam pengumumannya, Google tidak merinci besaran jumlah investasinya kepada Gojek tetapi sebuah sumber dari [[Reuters]] menyebutkan totalnya sekitar 100 juta dollar AS (sekitar 1,3 triliun).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama setelah [[Google]], pada 12 Februari 2018 [[Astra International|Astra Internasional]] yang merupakan salah satu perusahaan [[otomotif]] nasional mengumumkan investasinya kepada Gojek senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp2 triliun. Suntikan dana tersebut merupakan investasi terbesar sepanjang sejarah Astra di sektor digital. Pada hari yang sama, [[Djarum|Djarum Group]] melalui PT Global Digital Niaga (GDN) yang merupakan anak usaha perusahaan modal ventura [[Global Digital Prima]] (GDP) milik Djarum, juga mengumumkan investasinya kepada Gojek. Dalam pengumuman tersebut. GDN tidak bersedia mengungkapkan berapa dana yang mereka investasikan ke Gojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Juni 2020, [[Facebook]] dan [[PayPal]] turut berpartisipasi memberikan pendanaan untuk Gojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Akuisisi dan investasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam upaya melakukan pengembangan aplikasinya, Gojek mengakuisisi beberapa [[perusahaan]] di [[India]] dan membuka kantor di [[Bengaluru]], sebuah daerah yang terkenal sebagai &amp;quot;[[Silicon Valley]]-nya India&amp;quot;. Hubungan Gojek dengan India bermula pada [[April]] 2015, saat Gojek menyewa [[C42 Engineering]], sebuah perusahaan rekayasa [[perangkat lunak]] selama dua bulan di [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta|Jakarta]] untuk membereskan [[kekutu]] (bug) dalam aplikasi mereka. Hubungan ini tercipta berkat [[Sequoia Capital]] yang merupakan salah satu investor Gojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Februari 2016, Gojek akhirnya mengakuisisi C42 Engineering beserta [[CodeIgnition]], perusahaan pengembangan [[aplikasi]] di [[New Delhi]] yang sebelumnya juga pernah bekerja untuk Gojek. Kedua perusahaan teknologi ini ditugaskan membantu meningkatkan sistem IT untuk menanggulangi jumlah pengguna yang makin banyak. Pada saat itu, pertumbuhan Gojek melaju dengan cepat. Jumlah pengunduh aplikasinya mencapai 11 juta dengan 200 ribu sopir Gojek. Pada tahun yang sama, tepatnya pada [[September]] 2016 Gojek mengakusisi Pianta, sebuah startup lokal di [[India]] yang menyediakan layanan kesehatan seperti terapi fisik, perawat, hingga pengumpulan sampel untuk pemeriksaan di [[laboratorium]]. Menutup tahun 2016, Gojek mengakuisisi startup keempatnya di India yaitu LeftShift, perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi [[Android (sistem operasi)|Android]], [[iOS]], dan situs internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gojek tidak ingin berhenti hanya sebagai [[perusahaan]] [[transportasi]] berbasis [[daring]], tetapi bertransformasi sebagai sebuah perusahaan [[financial technology]] (fintech) melalui GoPay. Pada akhir tahun 2016 Gojek mengakuisisi [[Ponselpay]], sebuah perusahaan keuangan milik [[MVComerce]] yang telah memiliki lisensi [[uang elektronik]] (e-money) dari [[Bank Indonesia]]. Gojek membutuhkan lisensi tersebut guna mengembangkan GoPay yang telah mereka kembangkan untuk menjadi [[Uang elektronik|e-money]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada [[15 Desember]] 2017, Gojek mengumumkan akuisisinya terhadap tiga perusahaan [[financial technology]] yaitu [[Kartuku]], [[Midtrans]], dan [[Mapan]] untuk mendukung ekspansi GoPay di luar ekosistem Gojek. [[Kartuku]] merupakan sebuah perusahaan Pemroses Pihak Ketiga atau [[Third Party Processor]] (TPP) dan Penyedia Layanan Pembayaran (PSP). Kartuku yang telah mengoperasikan lebih dari 150 ribu alat pembayaran di gerai [[luring]] (&amp;#039;&amp;#039;offline&amp;#039;&amp;#039;) dan telah bekerja sama dengan sembilan [[bank]] acquirer ini, akan difokuskan untuk pengembangan penggunaan GoPay secara luring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Midtrans]] adalah salah satu perusahaan penyedia jasa pemrosesan pembayaran secara [[daring]] yang telah menjalin kemitraan dengan [[bank]]-bank di [[Indonesia]], [[maskapai penerbangan]], retail [[e-commerce]], dan perusahaan-perusahaan [[fintech]]. Sementara Mapan adalah jaringan layanan [[keuangan]] berbasis [[komunitas]] yang memungkinkan penggunanya mencicil barang yang mereka ingin beli dalam katalog barang Arisan Mapan. Mapan yang telah tersedia di 100 kota tersebut difokuskan oleh Gojek untuk mengakselerasi [[inklusi keuangan]] bagi [[masyarakat]] yang belum tersentuh layanan perbankan ([[unbanked]]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada [[8 Agustus]] 2017, Gojek mengakuisisi LOKET, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang &amp;#039;&amp;#039;event management &amp;amp; ticketing&amp;#039;&amp;#039;. LOKET menghadirkan layanan pemesanan tiket secara daring, sampai menyediakan gelang RFID untuk pengunjung acara. Langkah ini diambil Gojek untuk mendorong perkembangan fitur penjualan tiket bioskop dan acara yang telah mereka miliki melalui GO-TIX.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2018, setelah sukses berekspansi ke [[Vietnam]] Gojek memperluas jaringan bisnisnya ke sektor [[periklanan]]. Kali ini, Gojek mengakuisisi [[Promogo]], sebuah layanan pemasangan [[iklan]] di kendaraan pada September 2018. Pada tahun 2018 pula tepatnya pada bulan Agustus, Gojek mengonfirmasi kehadiran [[Goventures]] yang merupakan unit permodalan dari Gojek. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh pesaing terdekatnya, [[Grab (aplikasi)|Grab]], yang telah memiliki [[Grab Ventures]]. Pasca mengumumkan kehadiran Goventures, Gojek memberi suntikan dana kepada [[Kumparan.com|Kumparan]], sebuah [[Perusahaan rintisan|startup]] [[media]] daring yang berdiri sejak tahun 2016 dengan nilai [[investasi]] yang tidak disebutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Januari]] [[2019]], Gojek mengakuisisi mayoritas saham Coins.ph, startup fintech asal [[Filipina]] senilai US$72 juta atau setara dengan Rp1 triliun. Coins.ph merupakan fintech berbasis blockchain yang memiliki layanan dompet digital. Mereka telah memiliki lebih dari 100 ribu merchant yang menerima pembayaran via Coins.ph. [[Juli]] 2019, Gojek dikabarkan telah menyuntikkan dana sebesar US$5 juta atau sekitar Rp70 miliar pada &amp;#039;&amp;#039;startup&amp;#039;&amp;#039; bernama Rebel Foods di India. Rebel Foods merupakan &amp;#039;&amp;#039;startup&amp;#039;&amp;#039; &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;cloud kitchen&amp;#039;&amp;#039;&amp;quot; yang menjalankan pengantaran makanan dari ribuan [[restoran]]. Pasca mendapatkan suntikan dana dari Gojek, Rebel Foods juga dikabarkan akan menyiapkan bisnisnya di Indonesia. Pada [[September]], Gojek menyalurkan dana sebesar US$3 juta atau sekitar Rp42 miliar pada perusahaan fintech [[Pluang]] yang sebelumnya bernama [[EmasDigi]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ekspansi ===&lt;br /&gt;
Pada [[24 Mei]] 2018, Gojek mengumumkan kepastiannya untuk berekspansi ke empat [[negara]] di [[Asia Tenggara]] yaitu [[Vietnam]], [[Thailand]], [[Singapura]], dan [[Filipina]]. Gojek mengaku menyiapkan dana sebesar USD500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun untuk memuluskan langkahnya tersebut. Sebulan kemudian tepatnya pada [[25 Juni]] 2018, Gojek memperkenalkan [[Go-Viet|GO-Viet]] di [[Vietnam]] dan [[GET]] di [[Thailand]] sebagai bagian dari ekspansinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain tidak menggunakan nama [[merek]]&amp;lt;nowiki/&amp;gt;nya seperti yang dilakukan [[Uber]] atau [[Grab (aplikasi)|Grab]], Gojek juga lebih memilih menggandeng tim lokal untuk menjalankan layanannya di luar negeri dan memberi kekuatan penuh untuk menetapkan kebijakan sesuai dengan karakteristik masing-masing negara. Namun, mereka tetap mendapatkan dukungan [[teknologi]], pengetahuan operasional, dan pendanaan dari Gojek. Sementara itu, kedua perusahaan tersebut berperan memberikan pengetahuan tentang kondisi pasar lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada [[12 September]] 2018, GoViet secara resmi diluncurkan di [[Vietnam]] setelah sebelumnya mulai beroperasi di [[Kota Ho Chi Minh]] sejak 1 Agustus 2018. Pemilihan Vietnam sebagai negara pertama dari rencana ekspansi Gojek bukannya tanpa alasan. Negara ini memiliki jumlah [[penduduk]] yang cukup besar yaitu sekitar 107 juta orang dengan penetrasi internetnya sekitar 54%. GoViet dipimpin oleh [[Duc Nguyen]] yang pernah bekerja pada [[Uber]] sebagai International Launcher untuk membantu melakukan [[riset pasar]], menjalin kemitraan, analitik pasokan, integrasi pembayaran, hubungan masyarakat, dan rekrutmen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sukses di Vietnam dan Thailand, Gojek mulai memasuki pangsa pasar Singapura. Secara resmi, Gojek memulai debutnya di [[Singapura]] pada [[29 November]] 2018 dalam versi beta di wilayah terbatas yang mencakup Central Business District, [[Jurong East]], Pungol, [[Ang Mo Kio]], dan [[Pulau Sentosa|Sentosa]]. Pada 10 Januari 2019, Gojek resmi beroperasi secara menyeluruh di wilayah Singapura. Di sana, Gojek tidak menjalankan layanan GoRide lantaran Pemerintah Singapura tidak mengizinkan penggunaan sepeda motor untuk [[transportasi]] umum. Hingga akhir tahun [[2019]], Singapura merupakan pasar terbesar kedua Gojek setelah [[Indonesia]] yang melayani lebih dari 30 juta perjalanan sejak memasuki [[negara]] tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kerja sama ===&lt;br /&gt;
Gojek mengumumkan kerja sama dengan perusahaan taksi [[Blue Bird]] pada [[Mei 2016]]. Melalui kerja sama tersebut, Gojek membuatkan aplikasi untuk pengemudi Blue Bird dan mulai [[Januari 2017]] pengemudi Blue Bird bisa menerima pemesanan dari layanan Gocar milik Gojek. Pada Maret 2017, kedua perusahaan tersebut meningkatkan kerja samanya dengan meluncurkan fitur GO-Blue Bird. Melalui fitur tersebut, pengguna bisa langsung memesan taksi Blue Bird di aplikasi Gojek, tidak akan mendapatkan mitra pengemudi lain seperti ketika melalui Gocar. Di Singapura, Gojek juga menjalin kerjasama dengan layanan taksi lokal bernama Trans-Cab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir [[Juli 2019]], Gojek mengumumkan kerja sama dengan [[Astra International|Astra]] untuk melakukan uji coba [[motor listrik]] sebagai kendaraan pengemudi Gojek. Langkah ini diklaim sebagai dukungan kedua [[perusahaan]] untuk gaya hidup ramah lingkungan. Sebelumnya, Gojek dan Astra juga mengumumkan kerja sama membentuk layanan GO-Fleet yang menyediakan kendaraan baru, layanan perawatan, hingga perbaikan di bengkel resmi Astra bagi mitra pengemudi Gocar. GO-Fleet yang berdiri di bawah naungan PT Solusi Mobilitas Bangsa ini juga melakukan monetisasi melalui [[iklan]] pada badan kendaraan Gocar. Mitra pengemudi nantinya akan mendapat insentif dari pemasangan iklan ini. Sementara kompetitor utama Gojek, yaitu [[Grab (aplikasi)|Grab]] sudah melakukan hal ini sejak beberapa tahun sebelumnya melalui kerja sama dengan [[Stickearn]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Perubahan identitas ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 22 Juli 2019, Gojek meluncurkan logo dan cara penulisan korporasi baru. Ikon barunya, yang dijuluki &amp;quot;Solv&amp;quot;, melambangkan transformasi Gojek dari menjadi layanan ojek daring menjadi aplikasi super yang menyediakan berbagai cara cerdas untuk menghilangkan kerepotan. Sedangkan brand Gojek yang semula ditulis &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;GO-JEK&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; diganti dengan &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;gojek&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; saja tanpa ada tanda penghubung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fokus layanan Gojek tak lagi pada kendaraan roda dua. Inilah yang mendorong perusahaan itu untuk mengganti logonya. Jika dulu mereka menggunakan logo pengendara motor dengan ikon sinyal di atas helmnya, kini Gojek menggunakan logo yang jauh lebih sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logo baru bernama Solv ini digambarkan dengan lingkaran tak sempurna dengan titik pada bagian tengah. Nama Solv sendiri diambil dari kata &amp;quot;Solve&amp;quot; yang artinya menyelesaikan. Gojek merasa, ini sesuai dengan misi mereka, yaitu menjadi &amp;quot;aplikasi super&amp;quot; yang bisa menyelesaikan berbagai masalah pelanggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Yayasan Anak Bangsa Bisa ===&lt;br /&gt;
Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) adalah organisasi non-profit yang didirikan oleh Gojek untuk membantu para mitra mereka yang terdampak oleh pandemi [[COVID-19]]. Pendanaan untuk yayasan yang mulai beroperasi pada bulan Maret 2020 ini berasal dari sebagian gaji tahunan tim manajemen senior Gojek dan anggaran kenaikan gaji seluruh karyawan Gojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Dampak ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[http://ldfebui.org/wp-content/uploads/2018/03/Lembar-Fakta-Ringkasan-Hasil-Survei-LD-FEB-UI.pdf Sebuah riset]  yang dilakukan oleh Lembaga Demografi [[Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia]] menyebut Gojek telah memberi kontribusi Rp8,2 triliun per tahun bagi perekonomian [[Indonesia]] melalui penghasilan mitra pengemudi. Gojek juga berkontribusi Rp1,7 triliun per tahun bagi perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra UMKM. Penelitian yang melibatkan 3.315 responden di 9 wilayah tersebut menunjukkan rata-rata penghasilan mitra pengemudi mencapai Rp3,31 juta lebih tinggi dari UMK 9 wilayah itu yang hanya Rp2,8 juta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Daerah layanan ==&lt;br /&gt;
Gojek telah tersedia di Indonesia, Singapura, [[Vietnam]], dan [[Thailand]] secara resmi pada tanggal 25 Juni 2018. Di sisi lain, Gojek kini telah tersedia di 167 kabupaten dan kota di [[Indonesia]], 2 kota di [[Vietnam]] dan 14 distrik di [[Bangkok]], [[Thailand]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kontroversi ==&lt;br /&gt;
Menjamurnya penggunaan jasa Gojek membuat adanya kecemburuan di antara tukang ojek pangkalan. Pada tanggal 9 Juni 2015 seseorang dalam [[akun]] [[Path (jejaring sosial)|Path]] menuliskan insiden bahwa pengemudi Gojek yang dipesannya diusir oleh tukang ojek pangkalan di [[Kuningan, Jakarta Selatan|Kuningan]], Jakarta Selatan yang tidak terima rezekinya dirampas. Dua kali dia memanggil sopir Gojek, dua kali pula pengemudi Gojek lari karena takut dipukuli tukang ojek pangkalan. Akhirnya dia naik ojek pangkalan dengan tarif jauh lebih mahal dibanding tarif sopir Gojek. Sekadar diketahui, [[tarif]] ojek Gojek lebih pasti karena ditentukan lewat aplikasi sehingga tidak perlu tawar-menawar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Legalitas ojek daring ==&lt;br /&gt;
Munculnya ojek [[Dalam jaringan dan luar jaringan|daring]] sebagai salah satu [[transportasi]] umum juga menuai pro dan kontra dari aspek [[hukum]]. Secara [[tradisional]], ojek memang sudah menjadi salah satu pilihan transportasi umum masyarakat di [[Indonesia]] meski keberadaannya tidak diakui secara hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ), kendaraan roda dua tidak termasuk sebagai sarana transportasi umum. Karena alasan itulah [[Kementerian Perhubungan Republik Indonesia|Kementerian Perhubungan]] yang pada saat itu dijabat [[Ignasius Jonan]] sempat melarang beroperasinya ojek daring pada 9 November 2015, meski larangan itu hanya berlaku selama kurang lebih 12 jam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 itu langsung mendapatkan protes keras dari pengguna ojek daring. Lebih dari 12 ribu orang menandatangi petisi daring untuk memprotes kebijakan Kemenhub tersebut. Presiden [[Joko Widodo]] yang mendengar kabar tersebut, memanggil Ignasius Jonan ke Istana. Setelah pemanggilan tersebut, keputusan melarang ojek daring pun dibatalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tanggapan ==&lt;br /&gt;
Menjamurnya penggunaan layanan Gojek di Jabodetabek membuat perusahaan layanan [[transportasi]] pemesanan [[taksi]] asal [[Singapura]], [[Grab (aplikasi)|Grab]], juga turut meluncurkan layanan pemesanan ojek yang bernama GrabBike. Layanan tersebut diluncurkan pada bulan [[Mei 2015]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gojek&amp;amp;oldid=29240974 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29240974 (2026-05-17T18:08:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>