<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Hati</id>
	<title>Hati - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Hati"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Hati&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T06:02:17Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Hati&amp;diff=35314&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29233721; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Hati&amp;diff=35314&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-07T08:18:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29233721; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Hati&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;lever&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;hepar&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (bentuk tidak baku: liver), adalah organ utama yang hanya ditemukan pada [[vertebrata]] yang melakukan banyak fungsi [[biologis]] detoksifikasi [[organisme]], dan [[sintesis protein]] serta biokimia yang diperlukan untuk pencernaan dan pertumbuhan Hati terletak dalam rongga [[perut]] sebelah kanan, tepatnya di bawah [[diafragma]]. Hati juga termasuk sebagai alat ekskresi karena membantu fungsi [[ginjal]] dengan memecah beberapa senyawa bersifat [[racun]] dan menghasilkan [[amonia]], [[urea]], dan [[asam urat]] dengan memanfaatkan [[nitrogen]] dari [[asam amino]]. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses [[detoksifikasi]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[:en:Lobes_of_liver|Lobus hati]] terbentuk dari [[sel parenkimal]] dan juga [[sel non-parenkimal]]. Sel parenkimal pada hati disebut [[hepatosit]], menempati sekitar 80% [[volume]] hati dan melakukan berbagai fungsi utama hati. Sebanyak 40% sel hati terdapat pada lobus sinusoidal. Hepatosit merupakan sel endodermal yang terstimulasi oleh [[jaringan]] mesenkimal secara terus-menerus pada saat [[embrio]] hingga berkembang menjadi sel parenkimal. Selama masa tersebut, terjadi peningkatan [[transkripsi]] [[mRNA]] [[albumin]] sebagai stimulan proliferasi dan diferensiasi sel endodermal menjadi hepatosit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lumen lobus terbentuk dari [[sel endotelial#Hati|SEC]] dan ditempati oleh tiga jenis sel lain, seperti [[sel Kupffer]], [[sel Ito]], [[limfosit]] intrahepatik seperti [[sel pit]]. Sel non-parenkimal menempati sekitar 6,5% volume hati dan memproduksi berbagai substansi yang mengendalikan banyak fungsi hepatosit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Filtrasi merupakan salah satu fungsi dari lumen-lobus sinusoidal yang memisahkan bagian permukaan hepatosit dari [[darah]], [[sel endotelial#Hati|SEC]] memiliki kapasitas [[endositosis]] yang sangat besar dengan berbagai [[ligan]] seperti [[glikoprotein]], [[kompleks imun]], [[transferin]] dan [[seruloplasmin]]. &amp;quot;SEC&amp;quot; juga berfungsi sebagai sel presenter [[antigen]] yang menyediakan [[kluster diferensiasi|ekspresi]] [[kompleks histokompatibilitas utama|MHC I]] dan MHC II bagi [[sel T]]. [[Sekresi]] yang terjadi meliputi berbagai [[sitokina]], [[eikosanoid]] seperti [[prostanoid]] dan [[leukotriena]], [[endotelin|endotelin-1]], [[nitrogen monoksida]] dan beberapa komponen ECM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Sel Ito]] berada pada jaringan perisinusoidal, merupakan sel dengan banyak [[vesikel]] [[lemak]] di dalam [[sitoplasma]] yang mengikat SEC sangat kuat hingga memberikan lapisan ganda pada lumen lobus sinusoidal. Saat hati berada pada kondisi normal, sel Ito menyimpan [[vitamin A]] guna mengendalikan kelenturan matriks ekstraselular yang dibentuk dengan SEC, yang juga merupakan kelenturan dari lumen sinusoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Sel Kupffer]] berada pada jaringan intrasinusoidal, merupakan [[makrofaga]] dengan kemampuan [[endositosis|endositik]] dan [[fagositosis|fagositik]] yang mencengangkan. Sel Kupffer sehari-hari berinteraksi dengan material yang berasal [[saluran pencernaan]] yang mengandung larutan bakterial, dan mencegah aktivasi efek toksin senyawa tersebut ke dalam hati. Paparan larutan bakterial yang tinggi, terutama paparan [[lipopolisakarida|LPS]], membuat sel Kupffer melakukan [[sekresi]] berbagai [[sitokina]] yang memicu proses [[peradangan]] dan dapat mengakibatkan cedera pada hati. Sekresi antara lain meliputi [[spesi oksigen reaktif]], [[eikosanoid]], [[nitrogen monoksida]], [[karbon monoksida]], [[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]], [[interleukin-10|IL-10]], sebagai respon dari [[sistem kekebalan turunan|sistem imun bawaan]] dalam fase [[infeksi]] primer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Sel pit]] merupakan [[limfosit]] dengan [[granula]] besar, seperti [[sel NK]] yang bermukim di hati. Sel pit dapat menginduksi kematian seketika pada [[sel tumor]] tanpa bergantung pada [[kluster diferensiasi|ekspresi]] [[antigen]] pada [[kompleks histokompatibilitas utama]]. Aktivitas sel pit dapat ditingkatkan dengan stimulasi [[interferon|interferon-γ]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, pada hati masih terdapat beberapa sel, di antaranya yaitu:&lt;br /&gt;
* [[sel T|sel T-γδ]]&lt;br /&gt;
* sel T-αβ&lt;br /&gt;
* [[sel NKT]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sel punca ==&lt;br /&gt;
Selain hepatosit dan sel non-parenkimal, pada hati masih terdapat jenis sel lain yaitu sel intra-hepatik yang sering disebut [[sel oval]], dan [[hepatosit duktular]]. Regenerasi hati setelah [[hepatektomi]] parsial, umumnya tidak melibatkan [[sel progenitor]] intra-hepatik dan [[sel punca]] ekstra-hepatik (hemopoietik), dan bergantung hanya kepada proliferasi hepatosit. Namun dalam kondisi saat proliferasi hepatosit terhambat atau tertunda, sel oval yang berada di area periportal akan mengalami proliferasi dan diferensiasi menjadi hepatosit dewasa. Sel oval merupakan bentuk diferensiasi dari sel progenitor yang berada pada area portal dan periportal, atau [[kanal Hering]], dan hanya ditemukan saat hati mengalami [[cedera]]. Proliferasi yang terjadi pada sel oval akan membentuk saluran ekskresi yang menghubungkan area [[parenkima]] tempat terjadinya kerusakan hati dengan [[saluran empedu]]. [[Epimorfin]], sebuah [[morfogen]] yang banyak ditemukan berperan pada banyak organ epitelial, tampaknya juga berperan pada pembentukan saluran empedu oleh sel punca hepatik. Setelah itu sel oval akan terdiferensiasi menjadi [[hepatosit duktular]]. Hepatosit duktular dianggap merupakan sel transisi yang terkait antara lain dengan:&lt;br /&gt;
* [[metaplasia]] duktular dari [[hepatosit parenkimal]] menjadi [[epitelium]] biliari intra-hepatik&lt;br /&gt;
* konversi metaplasia dari epitelium duktular menjadi hepatosit parenkimal&lt;br /&gt;
* diferensiasi dari [[sel punca]] dari silsilah hepatosit&lt;br /&gt;
tergantung pada jenis gangguan yang menyerang hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada model [[tikus]] dengan 70% hepatektomi, dan induksi regenerasi hepatik dengan [[asetilaminofluorena-2]], ditemukan bahwa [[sel punca]] yang berasal dari [[sumsum tulang belakang]] dapat terdiferensiasi menjadi [[hepatosit]], dengan mediasi [[hormon]] [[faktor stimulasi koloni granulosit|G-CSF]] sebagai [[kemokina]] dan [[mitogen]]. Regenerasi juga dapat dipicu dengan D-[[galaktosamina]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sel imunologis ==&lt;br /&gt;
Hati juga berperan dalam [[sistem kekebalan]] dengan banyaknya sel imunologis pada [[sistem retikuendotelial]] yang berfungsi sebagai [[tapis]] [[antigen]] yang terbawa ke hati melalui [[sistem portal hati]]. Perpindahan fase [[infeksi]] dari fase primer menjadi fase akut, ditandai oleh hati dengan menurunkan sekresi albumin dan menaikkan sekresi [[fibrinogen]]. Fasa akut yang berkepanjangan akan berakibat pada [[simtoma]] [[hipoalbuminemia]] dan [[hiperfibrinogenemia]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat hati cedera, [[sel darah putih]] akan distimulasi untuk bermigrasi menuju hati dan bersama dengan sel Kupffer men[[sekresi]] [[sitokina]] yang membuat modulasi perilaku sel Ito. [[Sel T pembantu|Sel T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;1]] memproduksi sitokina yang meningkatkan respon kekebalan seluler seperti [[interferon|IFN-gamma]], [[faktor nekrosis tumor|TNF]], dan IL-2. [[Sel T pembantu|Sel T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;2]] sebaliknnya akan memproduksi sitokina yang meningkatkan respon kekebalan humoral seperti [[interleukin-4|IL-4]], [[interleukin-5|IL-5]], [[interleukin-6|IL-6]], [[interleukin-13|IL-13]] dan meningkatkan respon [[fibrosis hati|fibrosis]]. Sitokina yang disekresi oleh sel T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;1 akan menghambat diferensiasi [[sel T]] menjadi sel T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;2, sebaliknya sitokina sekresi T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;2 akan menghambat proliferasi sel T&amp;lt;sub&amp;gt;H&amp;lt;/sub&amp;gt;1. Oleh sebab itu respon kekebalan sering dikatakan terpolarisasi ke respon kekebalan seluler atau humoral, tetapi belum pernah keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Fungsi hati ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai jenis tugas yang dijalankan oleh hati, dilakukan oleh hepatosit. Hingga saat ini belum ditemukan organ lain atau organ buatan atau peralatan yang mampu menggantikan semua fungsi hati. Beberapa fungsi hati dapat digantikan dengan proses [[dialisis hati]], tetapi teknologi ini masih terus dikembangkan untuk perawatan penderita [[gagal hati]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai [[kelenjar]], hati menghasilkan:&lt;br /&gt;
* [[empedu]] yang mencapai ½ liter setiap hari. Empedu merupakan cairan kehijauan dan terasa [[pahit]], berasal dari [[hemoglobin]] [[sel darah merah]] yang telah tua, yang kemudian disimpan di dalam kantong empedu atau diekskresi ke [[duodenum]]. Empedu mengandung [[kolesterol]], [[garam]] [[mineral]], garam empedu, pigmen [[bilirubin]], dan [[biliverdin]]. [[Sekresi]] empedu berguna untuk mencerna [[lemak]], mengaktifkan [[lipase]], membantu daya absorpsi lemak di usus, dan mengubah zat yang tidak larut dalam [[air]] menjadi zat yang larut dalam air. Apabila saluran [[empedu]] di hati tersumbat, empedu masuk ke peredaran darah sehingga kulit penderita menjadi kekuningan. Orang yang demikian dikatakan menderita penyakit kuning.&lt;br /&gt;
* sebagian besar [[asam amino]]&lt;br /&gt;
* [[faktor koagulasi]] [[fibrinogen|I]], [[protrombin|II]], [[proakselerin|V]], [[prokonvertin|VII]], [[protromboplastin beta|IX]], [[protrombinase|X]], [[faktor PTA|XI]]&lt;br /&gt;
* [[protein C]], [[protein S]] dan [[anti-trombin]]&lt;br /&gt;
* [[kalsidiol]]&lt;br /&gt;
* [[trigliserida]] melalui lintasan [[lipogenesis]]&lt;br /&gt;
* [[kolesterol]]&lt;br /&gt;
* &amp;#039;&amp;#039;insulin-like growth factor 1&amp;#039;&amp;#039; (IGF-1), sebuah [[protein]] polipeptida yang berperan penting dalam pertumbuhan tubuh dalam masa kanak-kanak dan tetap memiliki efek anabolik pada orang dewasa.&lt;br /&gt;
* [[enzim]] [[arginase]] yang mengubah [[arginina]] menjadi [[ornitina]] dan [[urea]]. Ornitina yang terbentuk dapat mengikat NH³ dan CO² yang bersifat racun.&lt;br /&gt;
* [[trombopoietin]], sebuah [[hormon]] [[glikoprotein]] yang mengendalikan produksi [[keping darah]] oleh [[sumsum tulang belakang]].&lt;br /&gt;
* Pada triwulan awal pertumbuhan [[janin]], hati merupakan organ utama sintesis [[sel darah merah]], hingga mencapai sekitar sumsum tulang belakang mampu mengambil alih tugas ini.&lt;br /&gt;
* [[albumin]], komponen [[osmolar]] utama pada [[plasma darah]].&lt;br /&gt;
* [[angiotensinogen]], sebuah [[hormon]] yang berperan untuk meningkatkan [[tekanan darah]] ketika diaktivasi oleh [[renin]], sebuah [[enzim]] yang disekresi oleh [[ginjal]] saat ditengarai kurangnya tekanan darah oleh &amp;#039;&amp;#039;juxtaglomerular apparatus&amp;#039;&amp;#039;.&lt;br /&gt;
* [[enzim]] [[aspartat transaminase|glutamat-oksaloasetat transferase]], [[alanina transaminase|glutamat-piruvat transferase]] dan [[laktat dehidrogenase]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain melakukan proses [[glikolisis]] dan [[siklus asam sitrat]] seperti sel pada umumnya, hati juga berperan dalam [[metabolisme karbohidrat]] yang lain:&lt;br /&gt;
* [[Glukoneogenesis]], [[sintesis]] [[glukosa]] dari beberapa [[substrat]] [[asam amino]], [[asam laktat]], [[asam lemak|asam lemak non ester]] dan [[gliserol]]. Pada [[manusia]] dan beberapa jenis [[mamalia]], proses ini tidak dapat mengkonversi gliserol menjadi glukosa. Lintasan dipercepat oleh [[hormon]] [[insulin]] seiring dengan [[hormon]] [[tri-iodotironina]] melalui pertambahan laju [[siklus Cori]].&lt;br /&gt;
* [[Glikogenolisis]], lintasan [[katabolisme]] [[glikogen]] menjadi [[glukosa]] untuk kemudian dilepaskan ke darah sebagai respon meningkatnya kebutuhan energi oleh tubuh. Hormon [[glukagon]] merupakan stimulator utama kedua lintasan glikogenolisis dan glukoneogenesis menghindarikan tubuh dari [[simtoma]] [[hipoglisemia]]. Pada model tikus, defisiensi glukagon akan menghambat kedua lintasan ini, tetapi meningkatkan [[toleransi glukosa]]. Lintasan ini, bersama dengan lintasan glukoneogenesis pada [[saluran pencernaan]] dikendalikan oleh [[kelenjar]] [[hipotalamus]].&lt;br /&gt;
* [[Glikogenesis]], lintasan [[anabolisme]] glikogen dari glukosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan pada lintasan katabolisme:&lt;br /&gt;
* degradasi [[sel darah merah]]. [[Hemoglobin]] yang terkandung di dalamnya dipecah menjadi [[besi|zat besi]], globin, dan [[heme]]. Zat besi dan globin didaur ulang, sedangkan heme dirombak menjadi [[metabolit]] untuk diekskresi bersama [[empedu]] sebagai [[bilirubin]] dan [[biliverdin]] yang berwarna [[hijau]] kebiruan. Di dalam [[usus]], zat empedu ini mengalami [[oksidasi]] menjadi [[urobilin]] sehingga warna [[feses]] dan [[urin]] kekuningan.&lt;br /&gt;
* degradasi [[insulin]] dan beberapa [[hormon]] lain.&lt;br /&gt;
* degradasi [[amonia]] menjadi [[urea]]&lt;br /&gt;
* degradasi zat toksin dengan lintasan [[detoksifikasi]], seperti [[metilasi]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati juga mencadangkan beberapa substansi, selain glikogen:&lt;br /&gt;
* [[vitamin A]] (cadangan 1–2 tahun)&lt;br /&gt;
* [[vitamin D]] (cadangan 1–4 bulan)&lt;br /&gt;
* [[vitamin B12]] (cadangan 1-3 tahun)&lt;br /&gt;
* [[besi|zat besi]]&lt;br /&gt;
* [[tembaga|zat tembaga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Regenerasi sel hati ==&lt;br /&gt;
Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi merupakan suatu proses yang sangat penting agar hati dapat pulih dari kerusakan yang ditimbulkan dari proses [[detoksifikasi]] dan imunologis. Regenerasi tercapai dengan interaksi yang sangat kompleks antara [[sel (biologi)|sel]] yang terdapat dalam hati, antara lain [[hepatosit]], [[sel Kupffer]], [[sel endotelial#Hati|sel endotelial sinusoidal]], [[sel Ito]] dan [[sel punca]]; dengan [[organ]] ekstra-hepatik, seperti [[kelenjar tiroid]], [[kelenjar adrenal]], [[pankreas]], [[duodenum]], [[hipotalamus]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hepatosit, adalah sel yang sangat unik. Potensi hepatosit untuk melakukan [[proliferasi]], muncul pada saat-saat terjadi kehilangan [[massa]] sel, yang disebut fase prima atau fase kompetensi replikatif yang umumnya dipicu oleh sel Kupffer melalui sekresi [[sitokina]] [[interleukin-6|IL-6]] dan [[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]]. Pada fase ini, hepatosit memasuki [[siklus sel]] dari fase G ke fase G.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TNF-α dapat memberikan efek proliferatif atau apoptotik, bergantung pada [[spesi oksigen reaktif]] dan [[glutathion]], minimal 4 [[faktor transkripsi]] diaktivasi sebelum hepatosit masuk ke dalam fase proliferasi, yaitu [[NF-κB]], [[STAT-3]], [[AP-1]] dan [[C/EBP-beta]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Proliferasi]] hepatosit diinduksi oleh stimulasi sitokina [[faktor pertumbuhan hepatosit|HGF]] dan [[hormon TGF|TGF-α]], dan [[hormon EGF|EGF]] dengan dua lintasan. HGF, TGF-α, dan EGF merupakan faktor pertumbuhan yang berasal dari [[substrat]] [[serina]] dan [[protein]] [[logam]] yang menginduksi [[sintesis]] [[DNA]]. Lintasan pertama adalah lintasan IL-6/STAT-3 yang berperan dalam [[siklus sel]] melalui [[siklin D1/p21]] dan perlindungan sel dengan peningkatan rasio [[Protein FLICE-i|FLIP]], Bcl-2, Bcl-xL, Ref1, dan MnSOD. Lintasan kedua adalah lintasan [[kinase fosfatidil inositol-3|PI3-K]]/[[PDK-1]]/[[kinase PB|Akt]] yang mengendalikan ukuran sel melalui [[molekul]] [[mTOR]], selain sebagai zat anti-[[apoptosis]] dan [[antioksidan]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Hormon]] [[tri-iodotironina]], selain menurunkan kadar [[kolesterol]] pada hati, juga memiliki kapasitas dalam proliferasi hepatosit sebagai mitogen yang berperan pada [[siklin D1]], mempercepat [[konsumsi]] [[oksigen|O&amp;lt;sub&amp;gt;2&amp;lt;/sub&amp;gt;]] oleh [[mitokondria]] dengan mengaktivasi [[transkripsi (genetik)|transkripsi]] pada [[gen]] [[pernafasen]] hingga meningkatkan produksi [[spesi oksigen reaktif]]. [[Sekresi]] [[spesi oksigen reaktif|ROS]] ke dalam [[sitoplasma]] hepatosit akan mengaktivasi [[faktor transkripsi]] [[NF-κB]]. Pada [[sel Kupffer]], [[spesi oksigen reaktif|ROS]] dalam sitoplasma, akan mengaktivasi sekresi [[sitokina]] [[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]], [[interleukin-6|IL-6]] dan [[interleukin-1|IL-1]] untuk disekresi. Ikatan yang terjadi antara ketiga sitokina ini dengan hepatosit akan menginduksi ekspresi pencerap enzim [[antioksidan]], seperti [[mangan superoksida dismutase]], [[i-nitrogen monoksida sintase]], [[protein anti-apoptosis]] Bcl-2, [[haptoglobin]] dan [[fibrinogen|fibrinogen-β]] yang diperlukan hepatosit dalam proliferasi. [[Stres oksidatif]] yang dapat ditimbulkan oleh ROS maupun kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sitokina, dapat dilenyapkan dengan asupan [[tosoferol]] (100&amp;amp;nbsp;mg/kg) atau senyawa penghambat [[gadolinium klorida]] (10&amp;amp;nbsp;mg/kg) seperti yang dimiliki oleh sel Kupffer, sebelum stimulasi hormon tri-iodotironina, sedangkan laju proliferasi hepatosit dikendalikan oleh kadar [[etanolamina]] sebagai [[faktor hepatotrofik humoral]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi telah diketahui semenjak zaman [[Yunani]] kuno dari cerita [[mitos]] tentang seorang [[titan]] yang bernama [[Prometheus (mitologi)|Prometheus]]. Kemampuan ini dapat sirna, hingga hepatosit tidak dapat masuk ke dalam siklus sel, walaupun kehilangan sebagian massanya, apabila terjadi [[fibrosis hati]]. Lintasan fibrosis yang tidak segera mendapat perawatan, lambat laun akan berkembang menjadi [[sirosis hati]] dan mengharuskan penderitanya untuk menjalani [[transplantasi hati]] atau [[hepatektomi]] demi kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regenerasi hati setelah hepatektomi parsial merupakan proses yang sangat rumit di bawah pengaruh perubahan [[hemodinamika]], [[modulasi]] [[sitokina]], hormon faktor pertumbuhan dan aktivasi [[faktor transkripsi]], yang mengarah pada proses [[mitosis]]. Hormon [[laktogen|PRL]] yang di[[sekresi]] oleh [[kelenjar]] [[hipofisis]] menginduksi respon hepatotrofik sebagai [[mitogen]] yang berperan dalam proses [[proliferasi]] dan [[diferensiasi]]. PRL memberi pengaruh kepada peningkatan aktivitas [[faktor transkripsi]] yang berperan dalam proliferasi sel, seperti [[AP-1]], [[c-Jun]] dan [[STAT-3]]; dan diferensiasi dan terpeliharanya metabolisme, seperti [[C/EBP-alfa]], HNF-1, HNF-4 dan HNF-3. c-Jun merupakan salah satu protein penyusun [[AP-1]]. Induksi [[NF-κB]] pada [[fase]] ini diperlukan untuk mencegah [[apoptosis]] dan memicu derap [[siklus sel]] yang wajar. Pada masa ini, peran [[retinil asetat]] menjadi sangat vital, karena fungsinya yang menambah [[massa]] [[DNA]] dan protein yang dikandungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penyakit pada hati ==&lt;br /&gt;
Hati merupakan organ yang menopang kelangsungan hidup hampir seluruh organ lain di dalam tubuh. Oleh karena lokasi yang sangat strategis dan fungsi multi-dimensional, hati menjadi sangat rentan terhadap datangnya berbagai [[penyakit]]. Hati akan merespons berbagai penyakit tersebut dengan meradang, yang disebut [[hepatitis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering kali hepatitis dimulai dengan reaksi [[radang]] patobiokimiawi yang disebut [[fibrosis hati]], dengan [[simtoma]] paraklinis berupa peningkatan rasio [[plasma darah|plasma]] [[laminin]], sebuah [[glikoprotein]] yang disekresi [[sel Ito]], [[asam hialuronat]] dan sejenis [[aminopeptida]] yaitu [[kolagen|prokolagen]] tipe III, dan [[antigen karsinoembrionik|CEA]]. Fibrosis hati dapat disebabkan oleh rendahnya rasio plasma [[faktor pertumbuhan hepatosit|HGF]], atau karena infeksi viral, seperti [[hepatitis B]], patogen yang disebabkan oleh [[infeksi]] akut sejenis [[virus DNA]] yang memiliki [[fokus infeksi]] berupa templat [[transkripsi]] yang disebut [[cccDNA]] yang ter[[metilasi]], atau [[hepatitis C]], patogen serupa hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi [[virus RNA]] dengan fokus infeksi berupa [[metilasi DNA]], terutama melalui mekanisme [[ekspresi gen]]etik [[gen|berkas]] [[GADD45B]], sehingga mengakibatkan [[siklus sel]] hepatosit menjadi tersendat-sendat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fibrosis hati memerlukan penangan sedini mungkin, seperti pada model [[tikus]], stimulasi proliferasi hepatosit akan meluruhkan fokus infeksi virus hepatitis B, sebelum berkembang menjadi [[sirosis hati]] atau [[kanker hati|karsinoma hepatoselular]]. Setelah terjadi kanker hati, [[senyawa organik|senyawa]] [[siklosporina]] yang memiliki potensi untuk memicu proliferasi hepatosit, justru akan mempercepat perkembangan [[sel kanker]], oleh karena sel kanker mengalami [[hiperplasia]] hepatik, yaitu proliferasi yang tidak disertai aktivasi [[faktor transkripsi]] genetik. Hal ini dapat diinduksi dengan stimulasi [[timbal nitrat]] (LN, 100 mikromol/kg), [[siproteron asetat]] (CPA, 60&amp;amp;nbsp;mg/kg), dan [[nafenopin]] (NAF, 200&amp;amp;nbsp;mg/kg).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hepatitis juga dapat dimulai dengan defisiensi [[mitokondria]] di dalam [[hepatosit]], yang disebut [[steatohepatitis]]. Disfungsi mitokondria akan berdampak pada [[homeostasis]] senyawa [[lipid]] dan peningkatan rasio [[spesi oksigen reaktif]] yang menginduksi [[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]]. Hal ini akan berlanjut pada pengendapan [[lemak]], [[stres oksidatif]] dan [[peroksidasi lipid]], serta membuat mitokondria menjadi rentan terhadap kematian oleh [[nekrosis]] akibat rendahnya rasio [[adenosina trifosfat|ATP]] dalam matrik mitokondria, atau oleh [[apoptosis]] melalui pembentukan [[apoptosom]] dan peningkatan [[permeabilitas]] membran mitokondria dengan mekanisme Fas/[[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]]. Permintaan [[energi]] yang tinggi pada kondisi ini menyebabkan mitokondria tidak dapat memulihkan cadangan [[adenosina trifosfat|ATP]] hingga dapat memicu [[sirosis hati]], sedangkan peroksidasi lipid akan menyebabkan kerusakan pada [[DNA]] mitokondria dan membran mitokondria sisi dalam yang disebut [[sardiolipin]], dengan peningkatan laju oksidasi-beta [[asam lemak]], akan terjadi akumulasi [[elektron]] pada &amp;#039;&amp;#039;respiratory chain&amp;#039;&amp;#039; kompleks I dan III yang menurunkan kadar [[antioksidan]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel hepatosit apoptotik akan dicerna oleh [[sel Ito]] menjadi [[fibrinogen]] dengan reaksi [[fibrogenesis]] setelah diaktivasi oleh produk dari peroksidasi lipid dan rasio [[leptin]] yang tinggi. Apoptosis kronis kemudian dikompensasi dengan peningkatan laju proliferasi hepatosit, disertai [[DNA]] yang rusak oleh disfungsi mitokondria, dan menyebabkan [[mutasi]] genetik dan kanker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada model [[tikus]], [[melatonin]] merupakan senyawa yang menurunkan [[fibrosis hati]], sedang pada model [[kelinci]], [[kurkumin]] merupakan [[senyawa organik]] yang menurunkan paraklinis steatohepatitis, sedang [[hormon]] [[serotonin]] dan kurangnya asupan [[metionina]] dan [[kolina]] memberikan efek sebaliknya dengan [[resistansi adiponektin]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disfungsi mitokondria juga ditemukan pada seluruh [[patogenesis]] hati, dari kasus radang hingga kanker dan transplantasi. Pada [[kolestasis]] kronik, [[asam ursodeoksikolat]] bersama dengan [[glutathion|GSH]] bersinergis sebagai [[antioksidan]] yang melindungi [[sardiolipin]] dan [[fosfatidil serina]] hingga mencegah terjadinya sirosis hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengaruh alkohol ===&lt;br /&gt;
Alkohol dikenal memiliki fungsi immunosupresif terhadap [[sistem kekebalan tubuh]], termasuk meredam ekspresi [[kluster diferensiasi]] [[CD4]]&amp;lt;sup&amp;gt;+&amp;lt;/sup&amp;gt; dan [[CD8]]&amp;lt;sup&amp;gt;+&amp;lt;/sup&amp;gt; yang diperlukan dalam pertahanan hati terhadap infeksi viral, terutama HCV. Alkohol juga meredam rasio [[kemokina]] [[interferon|IFN]] pada lintasan [[transduksi sinyal seluler]], selain meningkatkan risiko terjadinya fibrosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak [[lintasan metabolisme]] memberikan kontribusi terhadap alkohol untuk menginduksi [[stres oksidatif]]. Salah satu lintasan metabolisme yang sering diaktivasi oleh etanol adalah induksi enzim [[sitokrom P450 2E1]]. Enzim ini menimbulkan [[spesi oksigen reaktif]] seperti radikal anion superoksida dan [[hidrogen peroksida]], serta mengaktivasi subtrat toksik termasuk etanol menjadi produk yang lebih reaktif dan toksik. [[Sel dendritik]] tampaknya merupakan sel yang paling terpengaruh oleh kandungan [[etanol]] di dalam alkohol. Pada percobaan menggunakan model [[tikus]], etanol meningkatkan rasio [[plasma darah|plasma]] [[interleukin-1|IL-1β]], [[interleukin-6|IL-6]], [[interleukin-8|IL-8]], [[faktor nekrosis tumor-alfa|TNF-α]], [[aspartat transaminase|AST]], [[alanina transaminase|ALT]], [[etanol dehidrogenase|ADH]], [[gamma glutamil transpeptidase|γ-GT]], [[trigliserida|TG]], [[malondialdehid|MDA]] dan meredam rasio [[interleukin-10|IL-10]], [[glutathion|GSH]], [[faktor transkripsi]] [[NF-κB]] dan [[AP-1]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengaruh alkaloid ===&lt;br /&gt;
[[Kopi]], salah satu kompleks [[senyawa organik|senyawa]] [[alkaloid]] dari golongan [[purina]] [[xantina]] dengan [[asam klorogenat]] dan [[lignan]], pada studi epidemiologis, disimpulkan sebagai salah satu faktor penurun risiko terjadinya [[diabetes mellitus]] tipe 2, [[penyakit Parkinson]], [[sirosis hati]] dan [[karsinoma hepatoselular]], dan perbaikan [[toleransi glukosa]]. Konsumsi kopi secara kronis terbukti tidak menyebabkan [[tekanan darah tinggi]] namun secara akut mengakibatkan peningkatan [[tekanan darah]] sementara dalam selang waktu singkat, dan [[plasma darah|plasma]] [[homosisteina]] sehingga dapat menjadi ancaman bagi penderita gangguan kardiovaskular.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsumsi kopi secara teratur dapat menurunkan rasio enzim [[alanina transaminase|ALT]] serta aktivitas enzimatik pada lintasan metabolisme hati, yang sering disebabkan oleh infeksi viral, induksi obat-obatan, [[keracunan]], kondisi iskemik, [[steatosis]] (akibat alkohol, diabetes, obesitas), penyakit otoimun, dan [[sindrom resistansi insulin|resistansi insulin]], sindrom metabolisme, dan kelebihan zat besi. Selain ALT, kopi juga menurunkan enzim hati yang lain, yaitu [[gamma glutamil transpeptidase|gamma-GT]] dan [[alkalina fosfatase]]. dan memberikan efek antioksidan dan detoksifikasi fase II oleh karena senyawa [[diterpena]], [[kafestol]] dan [[kahweol]], sehingga mencegah terjadinya proses [[karsinogenesis]]. Proses tersebut disertai dengan gamma-GT sebagai indikator utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengaruh kegemukan, trigeliserida tinggi dan diabetes ===&lt;br /&gt;
[[Kegemukan]], [[trigliserida]] tinggi ([[hipertrigliseridemia]]) dan [[diabetes]] dapat menyebabkan pelemakan hati dan kalau dibiarkan akan menjadi [[sirosis hati]]. 10-15 orang dari 100 orang dengan pelemakan hati dapat menderita sirosis, sedangkan 30 orang dari 100 orang dengan peradangan hati kronis akibat virus (biasanya Hepatitis B) dapat menderita sirosis. Pelemakan hati dapat diperiksa di laboratorium klinik menggunakan tes bio kimia atau secara visual menggunakan USG.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Transplantasi hati ==&lt;br /&gt;
Teknologi transplantasi hati merupakan hasil yang dikembangkan dari penelitian pada beberapa bidang studi kedokteran. Pada tahun 1953, [[Billingham]], [[Brent]], dan [[Medawar]] menemukan bahwa toleransi kimerisme dapat diinduksi oleh [[infus]] [[sel hematolimfopoietik]] donor pada model [[tikus]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1958 studi &amp;#039;&amp;#039;canine&amp;#039;&amp;#039; mengembangkan suatu teori mengenai [[molekul]] hepatotrofik pada portal [[pembuluh balik]] pada hati dan menemukan [[hormon]] [[insulin]] sebagai faktor hepatotrofik utama dari beberapa faktor lain yang ada. Pada saat yang hampir bersamaan teori mengenai transplantasi multiviseral dan hati juga berkembang dari studi [[imunosupresi]] yang mempelajari algoritma empiris dari pengenalan pola dan respon terapis. Pada awal 1960, dibuktikan bahwa &amp;#039;&amp;#039;canine&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;allograft&amp;#039;&amp;#039; manusia memiliki toleransi kimersime yang dapat terinduksi otomatis dengan bantuan imunosupresi, hingga pada akhir 1962 disimpulkan dengan keliru, bahwa transplantasi melibatkan dua [[sistem kekebalan]] yang berbeda. Konsekuensi kesimpulan tersebut menjadi [[dogma]] bahwa [[tolerogenisitas]] hati, pada dasarnya, berbeda, tidak hanya dengan sumsum tulang belakang, tetapi dengan seluruh organ tubuh yang lain. Kekeliruan ini tidak terkoreksi dengan baik hingga tahun 1990.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transplantasi hati yang pertama dilakukan di [[Denver]] pada tahun 1963, keberhasilan pertama tercatat pada tahun 1967 dengan [[azatioprin]], [[prednison]] dan [[globulin]] anti-limfoid, oleh [[Thomas E. Starzl]] dari [[Amerika Serikat]], disusul oleh keberhasilan transplantasi sumsum tulang belakang manusia pada tahun 1968. Rentang waktu antara 1967 hingga 1979 mencatat 84 kali transplantasi hati pada anak dengan 30% daya tahan hidup hingga 2 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan studi imunosupresi kemudian memberikan perbaikan dan harapan hidup lebih panjang bagi pasien, antara lain dengan pergantian azatioprina dengan [[siklosporina]] pada tahun 1979, lalu tergantikan dengan [[takrolimus]] pada tahun 1989.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1992, dikembangkan teori [[Kimerisme#Mikrokimerisme|mikrokimerisme leukosit donor]] dengan cakupan donor dari silsilah berlainan, yang memberikan harapan hidup yang sangat panjang bagi penerima donor organ, setelah diketahui hubungan antara aspek imunologis dari transplantasi, [[infeksi]], toleransi oleh [[sumsum tulang belakang]], [[neoplasma]] dan kelainan otoimun, yang disebut sebagai [[mekanisme seminal]]. Respon kekebalan dan toleransi kekebalan antara organ donor dan tubuh ditemukan merupakan fungsi dari migrasi dan lokalisasi [[leukosit]]. Salah satu temuan adalah aktivasi [[sistem kekebalan turunan]] oleh [[sel NK]] dan [[interferon|interferon-γ]] segera setelah transplantasi selesai dilakukan. Pada model [[tikus]], sel hepatosit donor ditemukan bersifat sangat [[antigen]]ik sehingga memicu respon penolakan, yang dapat dilakukan secara mandiri atau bersama-sama antara [[sel T CD4]] dan [[sel T CD8]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu diperlukan [[terapi imunosupresif]] yang intensif sebelum transplantasi dilakukan, yang disebut &amp;quot;[[regimen]] preparatif&amp;quot; atau &amp;#039;&amp;#039;conditioning&amp;#039;&amp;#039; untuk mencegah penolakan organ donor oleh [[sistem kekebalan]] inang. Terapi imunosupresif tersebut ditujukan untuk menekan [[sel T]] dan [[sel NK]] inang guna memberikan ruang di dalam [[sumsum tulang belakang]] untuk transplantasi sel punca hematopoietik dari organ donor melalui [[terapi mielosupresif]], untuk keseimbangan repopulasi sel donor dengan sel hasil diferensiasi dari sel punca inang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewasa ini, transplantasi hati dilakukan hanya pada saat hati telah memasuki jenjang akhir suatu penyakit, atau telah terjadi disfungsi akut yang disebut &amp;#039;&amp;#039;fulminant hepatic failure&amp;#039;&amp;#039;. Kasus transplantasi hati pada manusia umumnya disebabkan oleh [[sirosis hati]] akibat dari [[hepatitis C]] kronis, ketergantungan alkohol, hepatitis otoimun dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik umum yang digunakan adalah [[transplantasi ortotopik]], yaitu penempatan organ donor pada posisi anatomik yang sama dengan posisi awal organ sebelumnya. Transplantasi hati berpotensi dapat diterapkan, hanya jika penerima organ donor tidak memiliki kondisi lain yang memberatkan, seperti [[kanker]] [[metastatis]] di luar organ hati, ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol. Beberapa ahli berpedoman pada [[kriteria Milan]] untuk seleksi pasien transplantasi hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Organ donor, disebut &amp;#039;&amp;#039;allograft&amp;#039;&amp;#039;, biasanya berasal dari manusia lain yang baru saja meninggal dunia akibat cedera otak traumatik (kadaverik). Teknik transplantasi lain menggunakan organ manusia yang masih hidup, operasi [[hepatektomi]] mengangkat 20% hati pada segmen Coinaud 2 dan 3 dari orang dewasa untuk didonorkan kepada seorang anak, pada tahun 1989.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*  [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1180834/table/T6 Exploring hepatic hormone actions using a compilation of gene expression profiles]  Ekspresi genetik yang diinduksi oleh [[hormon]] [[tri-iodotironina]] dan [[hormon pertumbuhan|GH]]&lt;br /&gt;
* [http://www.aasld.org American Association for the Study of Liver Diseases]  AASLD&lt;br /&gt;
* [http://www.liversociety.org American Liver Society]  ALS&lt;br /&gt;
* [http://mathis.heydtmann.de/WikiLiver WikiLiver: A Wiki dedicated to the liver]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hati&amp;amp;oldid=29233721 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29233721 (2026-05-16T02:56:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>