<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Jamu</id>
	<title>Jamu - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Jamu"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Jamu&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T06:01:53Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Jamu&amp;diff=29716&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29693378; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Jamu&amp;diff=29716&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-04T13:19:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29693378; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Jamu&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (; ; ; ) adalah suatu ragam pengobatan tradisional di pulau [[Jawa]] (dan juga termasuk [[Bali]] dan [[Madura]]), yang aslinya dan secara budaya berakar dari herbologi Jawa. Dalam sistem bahasa jawa termasuk dalam kategori ngoko (bahasa yang digunakan secara umum) dan dalam basa krama (bahasa jawa halus) disebut jampi. Yaitu Racikan berbagai bahan alam, atau yang lebih akrab disebut sebagai jamu, adalah pengobatan utama bagi masyarakat Jawa sejak berabad silam. Namun, sebelum dikenal sebagai jamu, berbagai manuskrip Jawa Kuna menyebutnya dengan istilah &amp;#039;&amp;#039;jampi&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;usada&amp;#039;&amp;#039;. Dua istilah tadi memiliki arti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa dan ajian-ajian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan &amp;#039;&amp;#039;usada&amp;#039;&amp;#039;, istilah &amp;#039;&amp;#039;jampi&amp;#039;&amp;#039; lebih kerap digunakan terutama di kalangan kraton Jawa sekitar abad XV-XVI M yang berbahasa &amp;#039;&amp;#039;krama inggil&amp;#039;&amp;#039; (krama halus). Sedangkan kata jamu mulai populer di kalangan masyarakat kebanyakan yang berbahasa Jawa &amp;#039;&amp;#039;madya&amp;#039;&amp;#039; lantaran diperkenalkan oleh para dukun atau tabib pengobatan tradisional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara tradisional, Jamu digunakan sebagai pengobatan dalam bentuk ekstrak atau sari ramuan yang dimanfaatkan untuk mengobati penyakit umum dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah penyakit. Berbagai macam rempah direbus dan dicampur untuk khasiat pengobatan, terutama dari bahan herbal yang terbuat dari sumber daya alam (baik nabati maupun hewani); seperti akar, kulit kayu, bunga, biji, daun dan buah, [[madu]], &amp;#039;&amp;#039;royal jelly&amp;#039;&amp;#039;, susu dan telur ayam kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun [[2018]], budaya kesehatan Jamu yang dipraktikkan di seluruh Indonesia secara resmi diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian integral dari Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang terdiri atas ramuan bahan tumbuhan, hewan, mineral, atau sediaan galenik yang digunakan secara turun-temurun dalam praktik pengobatan. Sebagai bagian dari [[Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris|Layanan Kesehatan Tradisional Empiris]], jamu digunakan berdasarkan pengalaman turun-temurun masyarakat dengan pembuktian yang bersifat empiris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun [[2023]], Jamu juga resmi diakui oleh [[Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa]] (UNESCO) sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia asli Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Nomenklatur==&lt;br /&gt;
‘&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;’ merupakan suatu [[Lakuran (linguistik)|kata lakuran]], yang secara [[etimologi]] berasal dari gabungan dua kata [[bahasa Jawa kuno]] yakni ‘&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;’ (, ) + ‘&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;’ (, ), yang mana kemudian secara kasar dapat diterjemahkan sebagai &amp;quot;ramuan Jawa&amp;quot; atau &amp;quot;formula Jawa&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori lain juga mengemukakan bahwa kata ‘’ sebenarnya didasarkan pada kata ‘&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;’ (, ), awalnya digunakan oleh  () sebagai salah satu sarana spiritual untuk praktik [[ilmu hitam]]. Istilah ‘&amp;#039;&amp;#039;jampi&amp;#039;&amp;#039;’ ini secara khusus dapat ditemukan pada banyak naskah Jawa kuno, seperti pada naskah [[Gatotkacasraya]] yang ditulis oleh Mpu Panuluh dari [[Kerajaan Kediri]] pada masa Raja [[Jayabaya]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh sebelum itu, masyarakat Jawa juga terdokumentasi telah meracik dan mengonsumsi jamu sejak sekitar tahun [[722]] Masehi. Pada situs Arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng [[Gunung Sindoro]] ([[Jawa Tengah]]) secara spesifik di temukan artefak berupa &amp;#039;&amp;#039;cobek&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;ulekan&amp;#039;&amp;#039;. Bukti lain seperti proses pembuatan jamu juga banyak ditemukan di beberapa candi, seperti di [[Candi Prambanan|Prambanan]], [[Candi Brambang|Brambang]], [[Candi Borobudur|Borobudur]], [[Candi Penataran|Panataran]], [[Candi Sukuh|Sukuh]], [[Candi Tegowangi|Tegowangi]] dan juga terdokumentasi dalam prasasti [[Prasasti Madhawapura|Madhawapura]] yang merupakan peninggalan kemaharajaan [[Majapahit]] yang menyebutkan mengenai profesi khusus peracik jamu yang dikenali sebagai &amp;#039;&amp;#039;Acaraki&amp;#039;&amp;#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penjualan jamu gendong ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu tradisional adalah jamu yang terbuat dari bahan-bahan alami. Seperti dari tumbuh-tumbuhan yang diracik menjadi serbuk jamu dan minuman jamu.Tujuannya sebagai khasiat kesehatan dan kehangatan tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, daerah asal jamu tradisional tidak diketahui. Akan tetapi, banyak peracik dan penjual jamu tradisional yang berasal dari desa Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Bahkan di desa Bulakrejo, [[Kabupaten Sukoharjo]], didirikan &amp;quot;Patung Jamu dan Petani&amp;quot; sebagai ikon Kabupaten Sukoharjo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjualan jenis dan jumlah jamu gendong sangat bervariasi untuk setiap penjaja. Hal tersebut bergantung pada kebiasaan yang mereka pelajari dari pengalaman tentang jamu apa yang diminati dan pesanan yang diminta oleh pelanggan. Oleh karena ini, setiap hari jumlah dan jenis jamu yang dijajakan tidak selalu sama. Setelah dilakukan pendataan, diperoleh informasi bahwa jenis jamu yang biasa dijual ada delapan, yaitu [[beras]] kencur, [[cabe]] puyang, kudu [[laos]], kunci suruh, uyup-uyup/gepyokan, [[kunir]] [[asam]], pahitan, dan [[sinom]]. Terkadang penjual jamu gendong juga menyediakan [[jamu bubuk]] atau [[pil]] dan [[kapsul]] hasil produksi industri jamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memberikan rasa manis, pembuat jamu menggunakan gula jawa, gula pasir, atau gula batu (bentuk kristal besar menyerupai bongkahan batu). Penggunaan gula asli ini merupakan keharusan bagi penjual jamu dengan alasan kesehatan. Jamu yang menggunakan pemanis buatan berarti menyalahi aturan dan menyimpang dari tujuan pembuatan jamu, yaitu untuk menyehatkan dan menjaga kesehatan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu bubuk kemasan atau bubuk yang digumpalkan diminum dengan cara diseduh air panas oleh penjual jamu gendong. Apabila pembeli meminta bahan jamu tambahan, penyeduhannya tidak dilakukan sembarangan. Jamu batuk tepat bila dicampur dengan jamu beras kencur. Jamu pegal linu lebih tepat dicampur dengan kudu laos, [[madu]], atau [[telur|kuning telur.]] Sedangkan jamu sinom atau kunir asam dicampur dengan [[jeruk nipis]] sebagai penyegar rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjual jamu gendong biasanya bertanya terlebih dahulu kepada calon pembeli tentang obat-obatan atau makanan tertentu sebelum meracik jamu. Hal ini untuk mencegah timbulnya reaksi yang mungkin timbul antara jamu dengan zat dalam obat atau makanan, seperti minuman bersoda atau obat [[doping]]. Jika hal ini dilanggar bisa mengakibatkan [[keracunan]] bahkan kematian bagi peminum jamu. Sebaiknya jika minum sudah obat tidak minum jamu, demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis jamu, khasiat, bahan baku, dan cara pengolahan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu itu punya beraneka varian dalam hal penggunaannya. Ada jamu yang dikunyah, diminum, ditempelkan ke dahi (&amp;#039;&amp;#039;pilis&amp;#039;&amp;#039;), dioleskan ke badan (&amp;#039;&amp;#039;parem&amp;#039;&amp;#039;), dioleskan ke perut (&amp;#039;&amp;#039;tapel&amp;#039;&amp;#039;), ditempelkan ke bagian yang sakit, direndam, hingga disemburkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu (&amp;#039;&amp;#039;herbal medicine&amp;#039;&amp;#039;) sebagai salah satu bentuk pengobatan tradisional, memegang peranan penting dalam pengobatan penduduk di negara berkembang. Diperkirakan sekitar 70-80% populasi di negara berkembang memiliki ketergantungan pada obat tradisional (Wijesekera, 1991; Mahady, 2001).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum jamu dianggap tidak beracun dan tidak menimbulkan efek samping. Khasiat jamu telah teruji oleh waktu, zaman dan sejarah, serta [[bukti empiris]] langsung pada manusia selama ratusan tahun (Winarmo, 1997).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu gendong adalah jamu hasil produksi rumahan (home industry). Yang cara pemasarannya adalah memasukan hasil olahan jamu yang telah dibuat ke dalam botol-botol yang kemudian disusun di dalam bakul. Untuk selanjutnya bakul tersebut akan digendong oleh si penjual. Hingga disebutlah namanya menjadi jamu gendong. Jamu ini dijual dengan cara berkeliling setiap hari. Jamu gendong pada umumnya digunakan untuk maksud menjaga [[kesehatan]]. Orang membeli jamu gendong sering kali karena kebiasaan mengonsumsi sebagai minuman kesehatan yang dikonsumsi sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu beras kencur ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu Beras Kencur adalah salah satu jenis jamu tradisional yang populer di Indonesia. Beras kencur adalah istilah yang merujuk pada campuran bahan-bahan alami, terutama beras dan kencur (sejenis umbi-umbian), yang digunakan sebagai bahan dasar dalam jamu ini. Jamu [[beras]] [[kencur]] berkhasiat dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh dan sebagai [[tonikom]] atau penyegar saat habis bekerja. Dengan membiasakan minum jamu beras kencur, tubuh akan terhindar dari pegal-pegal dan [[linu]] yang biasa timbul bila bekerja terlalu payah. Selain itu, beras kencur bisa meringankan [[batuk]] dan merupakan seduhan yang tepat untuk jamu batuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pembuatan jamu beras kencur, terdapat beberapa variasi bahan yang digunakan, namun terdapat dua bahan dasar pokok yang selalu dipakai, yaitu [[beras]] dan [[kencur]]. Kedua bahan ini sesuai dengan nama jamu, dan jamu ini selalu ada meskipun komposisinya tidak selalu sama di antara penjual jamu. Bahan-bahan lain yang biasa dicampurkan ke dalam racikan jamu beras kencur adalah biji [[kedawung]], [[jahe|rimpang jahe]], biji [[kapulogo]], buah [[asam]], kayu keningar, [[kunir]]. Sebagai pemanis digunakan [[gula merah]] dicampur gula putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya tidak jauh berbeda, mula-mula beras disangan (disangrai), selanjutnya ditumbuk sampai halus. Bahan-bahan lain sesuai dengan [[komposisi]] [[racikan]] ditumbuk menggunakan lumpang dan alu besi atau batu. Kedua bahan ini kemudian dicampur, dituangkan air mendidih untuk mengambil sarinya diperas dan disaring dengan saringan atau diperas melalui kain pembungkus bahan. Selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol atau termos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Cabe Puyang ===&lt;br /&gt;
Jamu cabe puyang dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu &amp;#039;pegal linu&amp;#039;. Artinya, untuk menghilangkan cikalen, pegal, dan linu-linu di tubuh, terutama pegal-pegal di [[pinggang]]. Namun, ada pula yang mengatakan untuk menghilangkan dan menghindarkan kesemutan, menghilangkan keluhan badan panas dingin atau [[demam]]. Seorang penjual mengatakan minuman ini baik diminum oleh ibu yang sedang hamil tua dan bayi yang lahir jika minum jamu cabe puyang secara teratur tiap hari bayi akan bersih dan bau tidak amis. Jamu cabe puyang banyak mengandung zat besi dan berkhasiat untuk menambah butiran darah merah bagi yang kurang darah atau [[anemia]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan dasar jamu cabe puyang adalah [[cabe jawa]] dan rimpang [[lempuyang]]. Tambahan bahan baku lain dalam jamu cabe puyang sangat bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya. Bahan lain yang ditambahkan antara lain adas, pulosari, [[rimpang]] [[kunir]], biji [[kedawung]], keningar dan [[asam kawak]]. Sebagai pemanis digunakan [[Gula aren|gula merah]] dicampur gula putih dan kadang kala mereka juga mencampurkan gula buatan serta dibubuhkan sedikit garam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya tidak jauh berbeda, yaitu pertama-tama air direbus sampai mendidih dan dibiarkan sehingga dingin, jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu besi atau batu. Seluruh bahan ini kemudian diperas melalui saringan ke dalam air matang yang sudah tersedia. Selanjutnya, ramuan yang diperoleh diaduk rata kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Kudu Laos ===&lt;br /&gt;
Menurut sebagian besar penjual jamu, khasiat jamu kudu laos adalah untuk menurunkan [[tekanan darah]]. Banyak juga wanita yang mengatakan untuk melancarkan [[peredaran darah]], menghangatkan badan, membuat perut terasa nyaman dan menambah nafsu makan. Ada pula yang mengatakan bermanfaat untuk melancarkan [[haid]] yang tidak teratur, dan menyegarkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan utama kudu laos, adalah Buah mengkudu, rimpang laos, Merica, asam kawak, cabe jamu, [[bawang putih]], kedawung, garam secukupnya, [[Gula aren|gula jawa]] bisa juga ditambah gula pasir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu yaitu pertama-tama air direbus sampai mendidih sejumlah sesuai kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan lumpang dan alu besi atau batu kemudian diperas dan disaring dimasukkan ke dalam air matang yang sudah dingin. Selanjutnya ditambahkan gula sampai diperoleh rasa manis sesuai selera. Ramuan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk dijajakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Kunyit (Kunir Asem) ===&lt;br /&gt;
Jamu [[Kunir asem]] dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu &amp;#039;adem-ademan atau seger-segeran&amp;#039; yang dapat diartikan sebagai jamu untuk menyegarkan tubuh atau dapat membuat tubuh menjadi dingin. Ada pula yang mengatakan bermanfaat untuk menghindarkan dari [[panas dalam]] atau [[sariawan]], serta membuat perut menjadi dingin. Seorang penjual jamu mengatakan bahwa jamu jenis ini tidak baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang [[hamil|hamil muda]] sehubungan dengan sifatnya yang memperlancar haid. Ada pula penjual jamu yang menganjurkan minum jamu kunir asam untuk melancarkan [[haid]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan bahan baku jamu kunir asam pada umumnya tidak jauh berbeda di antara pembuat. Perbedaan terlihat pada komposisi bahan penyusunnya. Jamu dibuat dengan bahan utama buah asam ditambah kunir/kunyit, tetapi beberapa pembuatnya ada yang mencampur dengan sinom (daun asam muda), [[Temu lawak|temulawak]], biji kedawung, dan air perasan buah jeruk nipis. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula putih dan sering kali mereka juga mencampurkan gula buatan, serta dibubuhkan sedikit garam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu direbus sampai mendidih dan jumlahnya sesuai kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan lumpang dan alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis (kunyit), dimasukkan ke dalam air mendidih dan direbus sampai mendidih beberapa saat. Selanjutnya, ditambahkan gula sampai diperoleh rasa manis sesuai selera (dicicipi). Rebusan yang diperoleh dibiarkan sampai agak dingin, kemudian disaring dengan saringan. Rebusan yang sudah disaring dibiarkan dalam panci dan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk dijajakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Sinom ===&lt;br /&gt;
Manfaat, bahan penyusun, serta cara pembuatan jamu sinom tidak banyak berbeda dengan jamu kunir asam. Perbedaan hanya terletak pada tambahan bahan sinom. Bahkan, beberapa penjual tidak menambahkan sinom, tetapi dengan cara mengencerkan jamu kunir asam dengan mengurangi jumlah bahan baku yang selanjutnya ditambahkan gula secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Pahitan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamu [[pahitan]] dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan. Penjual jamu memberikan jawaban yang bervariasi tentang manfaat jamu ini, tetapi utamanya adalah untuk [[gatal|gatal-gatal]] dan [[kencing manis]]. Penjual yang lain mengatakan manfaatnya untuk &amp;#039;cuci darah&amp;#039;, kurang nafsu makan, menghilangkan [[bau badan]], menurunkan [[kolesterol]], perut kembung/sebah, [[jerawat]], [[pegal]], mengatasi pegal di saat haid dan [[pusing]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Bahan baku ====&lt;br /&gt;
Bahan baku dasar dari jamu pahitan adalah sambiloto. Racikan pahitan sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri dari sambiloto, tetapi ada pula yang menambahkan bahan-bahan lain yang rasanya juga pahit seperti brotowali, widoro laut, doro putih, dan babakan pule. Ada pula yang mencampurkan bahan lain seperti adas dan atau empon-empon (bahan rimpang yang dipergunakan dalam bumbu masakan). Ramuan jamu pahitan sebaiknya dicampur dengan berbagai [[rempah-rempah]] dan empon-empon, jika ramuan tidak dicampur dengan berbagai [[rempah-rempah]] dan empon-empon ada indikasi kurang baik untuk kesehatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
Pembuatan jamu pahitan adalah dengan merebus semua bahan ke dalam air sampai air rebusan menjadi tersisa sekitar separuhnya. Cara ini dimaksudkan agar semua zat berkhasiat yang terkandung dalam bahan dapat larut ke dalam air rebusan. Sebagai hasil akhirnya, diperoleh rebusan dengan rasa sangat pahit. Khusus jamu pahitan, tidak diberikan gula atau bahan pemanis lain. Sebagai penawar rasa pahit, konsumen minum jamu gendong lain yang mempunyai rasa manis dan segar seperti sinom atau kunir asam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Kunci Suruh ===&lt;br /&gt;
Jamu kunci suruh dimanfaatkan oleh wanita, terutama ibu-ibu untuk mengobati keluhan keputihan (fluor albus). Sedangkan manfaat lain yaitu untuk merapatkan bagian intim wanita (vagina), menghilangkan bau badan, mengecilkan rahim dan perut, serta dikatakan dapat menguatkan gigi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan baku jamu ini sesuai dengan namanya, yaitu rimpang kunci dan daun sirih. Biasanya selalu ditambahkan buah asam yang masak. Beberapa penjual jamu menambahkan bahan-bahan lain yang biasa digunakan dalam ramuan jamu keputihan atau jamu sari rapat seperti buah delima, buah pinang, kunci pepet, dan majakan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahan lain yang ditambahkan, yaitu jambe, manis jangan, kayu legi, beluntas, dan kencur. Sebagai pemanis digunakan gula pasir, gula merah, dan dibubuhkan sedikit garam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Cara pengolahan ====&lt;br /&gt;
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu air direbus sampai mendidih sesuai dengan kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan lumpang dan alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis (kunyit), diperas, disaring, dan dimasukkan ke dalam air matang yang sudah didinginkan. Selanjutnya, ditambahkan gula sesuai kebutuhan, sampai diperoleh rasa manis sesuai selera dengan cara dicicipi. Ramuan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk dijajakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jamu Uyup-uyup/Gepyokan ===&lt;br /&gt;
Jamu uyup-uyup atau gepyokan adalah jamu yang digunakan untuk meningkatkan produksi [[air susu ibu]] pada ibu yang sedang menyusui. Hanya seorang penjual jamu yang mengatakan bahwa ada khasiat lain, yaitu untuk menghilangkan bau badan yang kurang sedap, baik pada ibu maupun anak dan &amp;#039;mendinginkan&amp;#039; perut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bahan baku dan cara pengolahan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
Bahan baku jamu uyup-uyup sangat bervariasi antar pembuat jamu, namun pada umumnya selalu menggunakan bahan empon-empon yang terdiri dari [[kencur]], [[jahe]], bangle, laos, kunir, daun katu, temulawak, puyang, dan temugiring. Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu semua bahan dicuci bersih tanpa dikupas, selanjutnya empon-empon dirajang (diiris tipis), ditambah bahan-bahan lain, ditumbuk kasar, lalu diperas serta disaring. Perasan dimasukkan ke dalam air matang yang sudah dingin. Selanjutnya ditambahkan gula sampai diperoleh rasa manis sesuai selera. Ramuan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk diperjual belikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Riset dan Pengembangan Jamu di Indonesia ==&lt;br /&gt;
[[Kementerian Kesehatan Republik Indonesia|Kementerian Kesehatan]] melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradional (Babe Litbang TOOT); yang merupakan satu pusat riset dan pengembangan di bawah Badan Litbangkes, menyediakan saintifikasi jamu dan riset produk olahan jamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sudah berkembang beberapa perusahaan yang mengolah dan menyajikan jamu dalam bentuk yang lebih praktis seperti ekstrak cair atau kapsul, sehingga lebih mudah dikonsumsi. Pemerintah melalui badan pengawasan obat dan makanan juga memberikan perhatian dengan menerapkan beberapa sertifikasi seperti cara pembuatan obat tradisional yang baik, cara produksi olahan pangan yang baik, sertifikasi halal dan beberapa sertifikasi lain untuk menjamin keamanan dan efektifitas jamu yang dihasilkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Tropical Biopharmaca Research Center (Trop-BRC)) di [[Institut Pertanian Bogor]] juga aktif dalam riset mengenai jamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54115/jurnsl%20gizi.pdf?sequence=1/ Efek Jamu Bersalin Galohgor Terhadap Involusi Uterus dan Gambaran Darah Tikus (Rattus sp.)]&lt;br /&gt;
*[https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Jamu/ Jamu]&lt;br /&gt;
*[https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2062/7-jamu-herbal-yang-wajib-kamu-tahu/ 7 Jamu Herbal yang Wajib Kamu Tahu]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jamu&amp;amp;oldid=29693378 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29693378 (2026-09-03T04:37:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>