<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Sistiserkosis</id>
	<title>Sistiserkosis - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Sistiserkosis"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Sistiserkosis&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T07:57:43Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Sistiserkosis&amp;diff=35987&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 25764733; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Sistiserkosis&amp;diff=35987&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-07T13:50:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 25764733; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sistiserkosis&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; () adalah [[penyakit]] berupa infeksi [[jaringan]] yang disebabkan oleh [[sistiserkus]] ([[larva]] cacing &amp;#039;&amp;#039;[[Taenia (cacing pita)|Taenia]]&amp;#039;&amp;#039;) akibat menelan telur cacing. Penderita sistiserkosis adalah [[inang]] perantara &amp;#039;&amp;#039;Taenia&amp;#039;&amp;#039;. Dalam tubuh, sistiserkus menginfeksi jaringan otot, kulit, mata, dan sistem saraf pusat. Jika terjadi pada jaringan saraf, infeksinya disebut [[neurosistiserkosis]]. Penyakit ini tergolong [[zoonosis]] karena dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penyebab ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;Taenia&amp;#039;&amp;#039; merupakan genus [[cacing pita]] yang [[Daur hidup organisme|daur hidupnya]] memungkinkannya berpindah-pindah dari satu [[inang]] ke inang lainnya. Penderita sistiserkosis adalah inang perantara &amp;#039;&amp;#039;Taenia&amp;#039;&amp;#039;, sementara inang definitifnya menderita [[taeniasis]]. Sistiserkosis terjadi saat inang menelan telur cacing atau proglotid gravid (segmen tubuh cacing yang telah matang dan dipenuhi telur) sehingga telur tersebut menetas dalam tubuh inang dan berubah menjadi larva yang disebut sistiserkus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, inang perantara &amp;#039;&amp;#039;Taenia&amp;#039;&amp;#039; adalah hewan. Pada babi, sistiserkosis disebabkan oleh &amp;#039;&amp;#039;[[Taenia solium|T. solium]]&amp;#039;&amp;#039; yang larvanya disebut &amp;#039;&amp;#039;Cysticercus cellulosae&amp;#039;&amp;#039;, sedangkan sistiserkosis sapi disebabkan oleh &amp;#039;&amp;#039;[[Taenia saginata|T. saginata]]&amp;#039;&amp;#039; yang larvanya disebut &amp;#039;&amp;#039;Cysticercus bovis&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;Cysticercus innermis&amp;#039;&amp;#039;. Meskipun demikian, manusia dapat menjadi inang perantara dan menderita sistiserkosis jika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing &amp;#039;&amp;#039;Taenia&amp;#039;&amp;#039;. Pada manusia, sistiserkosis disebabkan oleh &amp;#039;&amp;#039;T. solium&amp;#039;&amp;#039;, sedangkan &amp;#039;&amp;#039;T. saginata&amp;#039;&amp;#039; tidak mengakibatkan sistiserkosis; sementara itu, kemampuan &amp;#039;&amp;#039;[[Taenia asiatica|T. asiatica]]&amp;#039;&amp;#039; dalam menyebabkan sistiserkosis di Asia belum diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Persebaran ==&lt;br /&gt;
Sistiserkosis ada di seluruh dunia, tetapi kasusnya lebih banyak dilaporkan di [[kawasan perdesaan]] di negara-negara berkembang di Afrika, Asia, dan [[Amerika Latin]] dengan populasi babi yang tinggi dan penerapan [[higiene]] yang kurang. Di wilayah-wilayah [[Endemik (epidemiologi)|endemik]], populasi penduduk yang menunjukkan hasil seropositif mencapai 10 hingga 25%. Sebuah studi tahun 2012 menyatakan bahwa sistiserkosis mengakibatkan 1.200 kematian di seluruh dunia pada tahun 2010 dan lebih dari 700 jiwa pada tahun 1990. Penyakit ini merupakan salah satu [[penyakit tropis terabaikan]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Indonesia ===&lt;br /&gt;
Di [[Kabupaten Jayawijaya]] [[Papua]], [[Indonesia]] ditemukan 66,3% (106 orang dari 160 responden) positif menderita taeniasis solium/sistiserkosis selulosae dari [[babi]]. Sementara 28,3% orang adalah penderita sistiserkosis yang dapat dilihat dan diraba benjolannya di bawah [[kulit]]. Sebanyak 18,6% (30 orang) di antaranya adalah penderita sistiserkosis selulosae yang menunjukkan gejala [[epilepsi]]. Dari 257 [[pasien]] yang menderita luka bakar di Papua, sebanyak 82,8% menderita epilepsi akibat adanya sistiserkosis pada otak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebanyak 13,5% (10 dari 74 orang) pasien yang mengalami [[epilepsi]] di [[Bali]] didiagnosa menderita sistiserkosis di otak. Prevalensi taeniasis &amp;#039;&amp;#039;T. asiatica&amp;#039;&amp;#039; di [[Sumatera Utara]] berkisar 1,9 hingga 20,7%., dan kasus di provinsi ini umumnya disebabkan oleh konsumsi daging babi hutan setengah matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Gejala klinis ==&lt;br /&gt;
[[Masa inkubasi]] penyakit ini beragam. Penderita sistiserkosis bisa saja tidak mengalami gejala klinis selama bertahun-tahun. Gejala sistiserkosis bervariasi, tergantung jumlah dan lokasi sistiserkus, yang dapat hidup di jaringan [[otot lurik]], [[otot jantung]], paru-paru, hati, [[Hipodermis|subkutan]], mukosa mulut, dan sistem saraf pusat. Di beberapa wilayah endemis seperti di Asia, [[Nodul (medis)|nodul]] (benjolan padat) dapat berkembang di bawah kulit. Setelah beberapa bulan atau tahun, benjolan tersebut akan membengkak, menjadi lembek, mengalami radang, dan selanjutnya menghilang secara perlahan. Sementara itu, neurosistiserkosis menimbulkan gejala saraf, yang di negara-negara berkembang, merupakan salah satu penyebab utama [[epilepsi]]. Kejang dan sakit kepala merupakan gejala yang sering dialami orang dengan neurosistiserkosis, yang kemudian dapat berujung pada [[strok]] dan kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diagnosis ==&lt;br /&gt;
Sistiserkosis dapat didiagnosis dengan melakukan biopsi pada benjolan di kulit. Sementara itu, infeksi pada otak dilihat dengan melakukan pemindaian [[tomografi terkomputasi]] (CT) atau [[pencitraan resonansi magnetik]] (MRI). Temuan [[eosinofil]] di [[cairan serebrospinal]] merupakan salah satu indikator neurosistiserkosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pencegahan dan pengobatan ==&lt;br /&gt;
Infeksi dapat dicegah dengan menerapkan [[sanitasi]], seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan membersihkan sayur dan buah sebelum dikonsumsi. Sejumlah kasus sistiserkosis tidak perlu diobati. Pada neurosistiserkosis, pemberian [[praziquantel]] dan/atau [[albendazol]], serta terapi suportif dengan kortikosteroid dan obat antikejang dapat digunakan. Terkadang diperlukan pembedahan untuk mengangkat [[kista]] yang ditimbulkan sistiserkus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sistiserkosis&amp;amp;oldid=25764733 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 25764733 (2024-05-28T09:38:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>