<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Swamedikasi</id>
	<title>Swamedikasi - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Swamedikasi"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-15T16:25:15Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;diff=24941&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;diff=24941&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-08-29T04:01:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi&lt;/p&gt;
&lt;a href=&quot;https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;amp;diff=24941&amp;amp;oldid=24541&quot;&gt;Lihat perubahan&lt;/a&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;diff=24541&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29456901; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Swamedikasi&amp;diff=24541&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-08-29T03:20:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29456901; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Swamedikasi&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;swapengobatan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;penswaobatan&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;pengobatan mandiri&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah [[perilaku manusia]] dalam menggunakan bahan atau senyawa eksogen untuk mengelola pengobatan sendiri saat menangani penyakit fisik atau jiwa. Bahan yang paling luas digunakan dalam swamedikasi adalah [[obat bebas]] dan [[suplemen]]. Mereka digunakan dalam penanganan masalah kesehatan yang umum terjadi pada lingkungan rumah tangga. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh tanpa [[resep dokter]]. Di sejumlah negara, swalayan dan toko kelontong menyediakan obat bebas dan suplemen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam [[psikologi]], penggunaan obat-obatan [[psikotropika]] sebagai swamedikasi dibahas dalam kaitannya dengan penggunaan [[Penggunaan zat adiktif|obat rekreasi]], [[Etanol|alkohol]], [[Makanan rumahan|makanan penenang]], dan perilaku lain yang digunakan untuk meredam gejala [[masalah kejiwaan]], [[stres]], dan [[Kegelisahan|kecemasan]], termasuk [[gangguan jiwa]] atau [[trauma psikologis]]. Topik tersebut adalah masalah yang khusus dan merupakan masalah yang serius pada [[Kesehatan|kesehatan fisik]] dan [[Kesehatan jiwa|jiwa]] jika didorong oleh [[Perilaku ketergantungan|mekanisme ketergantungan]]. Penggunaan obat penelitian seperti Adderall, Ritalin, dan Concerta dalam swamedikasi oleh mahasiswa di Barat banyak dilaporkan dan dibahas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang, produk yang dipasarkan oleh produsen sebagai obat swamedikasi memiliki landasan yang meragukan. Terdapat temuan bahwa [[nikotin]] diklaim memiliki manfaat kesehatan [[Iklan tembakau|dalam pemasaran rokok]] sebagai obat swamedikasi. Klaim ini dianggap tidak benar oleh peneliti independen. Klaim kesehatan pihak ketiga yang tidak dapat diverifikasi dan diregulasi digunakan dalam pemasaran suplemen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Swamedikasi banyak dipandang sebagai cara agar mandiri dari [[sistem kesehatan]] yang ada. Terdapat anggapan bahwa hal ini adalah bentuk pemenuhan [[hak asasi manusia]], secara implisit merupakan, atau hampir serupa dengan hak penolakan atas penanganan kesehatan secara profesional oleh [[tenaga kesehatan]]. Swamedikasi dapat menyebabkan terjadinya perbuatan merugikan diri sendiri tanpa disengaja. Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan pedoman penggunaan obat bebas dan bebas terbatas untuk membantu swamedikasi masyarakat pada tahun 2007.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Definisi ==&lt;br /&gt;
Secara umum, swamedikasi berarti &amp;quot;penggunaan obat dalam menangani gangguan atau gejala berdasarkan diagnosis sendiri atau penggunaan berulang/terus-menerus obat resep dokter dalam menangani penyakit atau gejala yang muncul berulang atau kronis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Psikologi dan psikiatri ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hipotesis swamedikasi ===&lt;br /&gt;
Karena obat yang berbeda memberikan efek yang berbeda, obat digunakan dengan tujuan yang beragam. Menurut hipotesis swamedikasi (&amp;#039;&amp;#039;self-medication hypothesis&amp;#039;&amp;#039;, SMH), pilihan individu atas obat tertentu tidak bersifat kebetulan atau tidak disengaja, melainkan bergantung pada kondisi psikologi individu. [[Ketergantungan obat|Ketergantungan]], atau adiksi, sendiri dapat ditilik berdasarkan hipotesis bahwa ia berperan sebagai kompensasi untuk memodulasi efek dan menangani keadaan psikologi yang bermasalah, individu akan memilih obat yang paling cocok menata masalah psikiatri yang spesifik dan membantu stabilisasi emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SMH muncul pertama kali dalam artikel tulisan [[Edward Khantzian]], Mack dan Schatzberg, [[David F. Duncan]], dan tanggapan terhadap Khantzian oleh Duncan. Pada mulanya, SMH dibahas dalam lingkup penggunaan [[heroin]]. Setelah itu, artikel yang membahas penggunaan [[Kokaina|kokain]] juga memakai hipotesis ini. SMH selanjutnya juga digunakan dalam lingkup penyalahgunaan alkohol dan pada akhirnya semua ketergantungan obat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Khantzian, pengguna obat melakukan kompensasi terhadap fungsi ego yang tidak cukup. Mereka menggunakan obat sebagai &amp;quot;solven ego&amp;quot; yang berperan menghadapi bagian diri yang terputus dari kesadaran karena [[Mekanisme pertahanan ego|mekanisme pertahanan]]. Menurut Khantzian, individu yang mengalami ketergantungan obat secara umum mengalami masalah psikiatri  yang lebih besar daripada individu yang tidak mengalami ketergantungan. Munculnya ketergantungan obat sendiri berhubungan dengan kombinasi bertahap efek-efek obat dan kebutuhan individu atas terus berlanjutnya efek obat tersebut dalam aktivitas pembentuk struktur pertahanan ego. Pilihan obat individu yang mengalami adiksi bergantung pada interaksi antara sifat psikofarmakologi obat dan keadaan afektif yang dibutuhkan oleh individu untuk meringankan masalah psikiatri. Efek obat menggantikan mekanisme pertahanan ego yang rusak atau tidak ada. Maka dari itu, pilihan obat yang menjadi ketergantungan tidak bersifat acak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khantzian menggunakan pendekatan psikodinamik terhadap swamedikasi sementara Duncan menggunakan kerangka dengan fokus pada faktor perilaku. Duncan menerangkan tentang penguatan (&amp;#039;&amp;#039;reinforcement&amp;#039;&amp;#039;) positif (e.g. &amp;quot;perasaan tinggi&amp;quot;, penerimaan dari kelompok), penguatan negatif (e.g. reduksi afek negatif), dan penghindaran dari gejala putus obat. Ketiga hal tersebut ditemukan terlibat dalam kasus penyalahgunaan obat. Namun, hanya sebagian dari tiga hal tersebut tampak pada semua kasus penyalahgunaan obat untuk rekreasi. Teori awal pembentukan perilaku ketergantungan obat dengan pengaturan &amp;#039;&amp;#039;operant&amp;#039;&amp;#039; mendukung bahwa penguatan positif dan negatif harus ada dalam proses pembentukan ketergantungan. Berbeda dengan yang demikian, Duncan beranggapan bahwa ketergantungan obat tidak terus berjalan karena penguatan positif, melainkan penguatan negatif. Duncan menerapkan model kesehatan masyarakat untuk ketergantungan obat: agen (pilihan obat) menginfeksi inang (pengguna obat) melalui vektor (e.g. kelompok) sementara lingkungan mendukung proses penyakit melalui stresor dan kurangnya bantuan bagi inang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khantzian meninjau kembali SMH. Menurutnya, bukti baru mendukung bahwa gejala psikiatri, bukan &amp;#039;&amp;#039;personality style&amp;#039;&amp;#039;, adalah dasar gangguan penggunaan obat. Khantzian menyebutkan secara khusus bahwa dua aspek penting SMH yaitu (1) obat yang digunakan meringankan penderitaan psikologi dan (2) kecenderungan individu terhadap obat tertentu berdasar pada sifat psikofarmakologi. Individu memilih obat tertentu berdasarkan coba-coba. Interaksi efek utama obat, pergolakan psikologi dalam diri individu, dan sifat kepribadian kemudian menentukan obat yang menghasilkan efek yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan Khantzian, Duncan banyak meneliti tentang perbedaan antara penyalahgunaan obat untuk rekreasi dan penggunaan obat yang bermasalah. Data Epidemiologic Catchment Area Study menunjukkan bahwa hanya 20% pengguna obat pernah mengalami episode penyalahgunaan obat (Anthony &amp;amp; Helzer, 1991) sementara data National Comorbidity Study menunjukkan bahwa hanya 15% pengguna alkohol dan 15% pengguna obat ilegal mengalami ketergantungan. Determinan penting atas terjadinya penyalahgunaan obat pada pengguna obat adalah ada tidaknya penguatan negatif. Penguatan tersebut dialami oleh pengguna yang bermasalah tetapi tidak dialami oleh pengguna dengan tujuan rekreasi. Menurut Duncan, ketergantungan obat adalah perilaku menghindar yang mana individu menemukan obat yang menjadi pelarian diri sementara dari masalah. Dalam hal ini, penggunaan obat dikuatkan sebagai perilaku &amp;#039;&amp;#039;operant&amp;#039;&amp;#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Mekanisme spesifik ===&lt;br /&gt;
Sebagian penderita [[Gangguan jiwa|penyakit jiwa]] berusaha mengatasi penyakit mereka dengan menggunakan obat-obatan tertentu. [[Depresi (psikologi)|Depresi]] sering kali ditangani sendiri oleh penderitanya dengan [[alkohol]], [[tembakau]], [[ganja]], atau obatan-obatan lain yang berpengaruh pada pikiran. Tindakan ini dapat meringankan beberapa gejala seperti [[Anxietas|gangguan kecemasan]] dengan cepat tetapi tindakan ini juga dapat memicu dan/atau memperparah sejumlah gejala penyakit-penyakit mental yang diderita. Pada akhirnya, adiksi/[[Ketergantungan obat|ketergantungan]] mungkin timbul bersama efek samping akibat penggunaan jangka panjang bahan-bahan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak penderita [[gangguan stres pascatrauma]] (&amp;#039;&amp;#039;posttraumatic stress disorder&amp;#039;&amp;#039;, PTSD) dan individu tak terdiagnosis yang menderita trauma (kejiwaan) diketahui melakukan swamedikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ragam efek yang dihasilkan oleh beragam golongan obat, SMH memunculkan postulat bahwa daya tarik golongan obat tertentu berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Beberapa obat bahkan dapat ditolak secara kuat oleh individu yang mungkin mengalami efek obat yang memperburuk kekurangan afektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Depresan SSP ====&lt;br /&gt;
[[Etanol|Alkohol]] dan obat-obatan [[sedatif]]/[[obat tidur|hipnotik]], seperti [[Barbiturat|golongan barbiturat]] dan [[benzodiazepin]], adalah depresan [[sistem saraf pusat]] (SSP) yang menurunkan sifat menahan diri dengan [[anksiolitik]]. Depresan menimbulkan perasaan relaksasi dan sedasi, meringankan perasaan depresi dan cemas. Walaupun kurang efektif berperan sebagai antidepresan karena bekerja dengan durasi sebentar, onset kerja alkohol dan sedativa/hipnotika yang cepat melembutkan sistem pertahanan yang kaku dan, pada dosis rendah hingga sedang, meringankan afek depresi dan kecemasan. Karena alkohol menurunkan sifat menahan diri, terdapat hipotesis bahwa alkohol juga digunakan oleh mereka yang biasanya menahan perasaan. Alkohol dapat membuat mereka mengekspresikan perasaan seperti afeksi, agresi, dan rasa dekat dengan melemahkan emosi yang intens pada dosis tinggi atau mematikan. Banyak individu dengan [[gangguan kecemasan sosial]] menggunakan obat ini untuk mengatasi sifat menahan diri mereka yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Psikostimulan ====&lt;br /&gt;
[[Stimulan|Psikostimulan]], seperti [[Kokaina|kokain]], [[amfetamin]], [[metilfenidat]], [[Kafeina|kafein]], dan [[nikotin]], meningkatkan kemampuan mental dan fisik, antara lain dalam peningkatan energi dan ketajaman perhatian. Stimulan cenderung banyak digunakan oleh mereka yang mengidap [[Adhd|ADHD]], baik yang telah maupun belum didiagnosis resmi. Karena penderita ADHD yang tidak terdiagnosis berjumlah signifikan, mereka rentan mengonsumsi stimulan seperti [[Kafeina|kafein]], [[nikotin]], atau [[Pseudoefedrina|pseudoefedrin]] untuk mengatasi gejala. Ketidaksadaran bersangkutan dampak zat terlarang seperti kokain, metamfetamin, atau mefedron dapat menyebabkan swamedikasi obat-obat tersebut oleh individu yang mengalami gejala ADHD. Swamedikasi ini dapat secara efektif mencegah individu tersebut terdiagnosis ADHD dan mendapatkan terapi stimulan seperti metilfenidat dan amfetamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stimulan juga dapat bermanfaat bagi individu yang mengalami [[Depresi (psikologi)|depresi]], mengurangi [[anhedonia]] dan meningkatkan [[harga diri]]. Namun, pada beberapa kasus, depresi muncul sebagai [[Penyakit|kondisi penyerta]] dari gejala negatif [[Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas|ADHD tak terdiagnosis]] yang sudah ada sejak lama. Pada kondisi ini, penderita mengalami kerusakan [[fungsi eksekutif]] sehingga terjadi kekurangan [[motivasi]], [[Atensi|fokus]], dan kepuasan terhadap hidup. Maka dari itu, stimulan dapat bermanfaat dalam menangani [[Treatment-resistant depression|depresi yang resistan terhadap pengobatan]], terutama bagi individu dengan ADHD. SMH memunculkan hipotesis bahhwa individu yang hiperaktif dan [[hipomania]] menggunakan stimulan untuk mempertahankan &amp;#039;&amp;#039;restlessness&amp;#039;&amp;#039; dan [[euforia]] yang tinggi. Di sisi lain, stimulan bermanfaat bagi individu yang mengalami [[gangguan kecemasan sosial]] dengan membantu individu lepas dari sifat menahan diri. Sejumlah &amp;#039;&amp;#039;review&amp;#039;&amp;#039; menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan psikostimulan dalam swamedikasi terhadap kondisi yang tidak disadari, seperti [[Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas|ADHD]], depresi, atau kecemasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Opiat ====&lt;br /&gt;
[[Opiat]], seperti [[heroin]] dan [[morfin]], berfungsi sebagai [[analgesik]]. Obat pada golongan ini berikatan dengan [[reseptor opioid]] pada otak dan [[saluran pencernaan]]. Ikatan mengurangi persepsi dan reaksi terhadap [[nyeri]] sementara meningkatkan [[toleransi nyeri]]. Terdapat hipotesis bahwa opiat digunakan dalam swamedikasi terhadap [[agresi]] dan [[Rage (psikologi)|keadaan sangat marah]].Opiat merupakan obat yang efektif sebagai [[ansiolitik]], [[penstabil perasaan]], dan antidepresan tetapi individu cenderung melakukan swamedikasi terhadap kecemasan dan depresi menggunakan depresan dan stimulan. Namun demikian, analisis ini tidak bersifat mutlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian pada abad ke-21 tentang antidepresan baru yang memiliki target pada reseptor opioid menunjukkan bahwa disregulasi opioid endogen mungkin berperan dalam kondisi medis seperti [[gangguan kecemasan]], [[Gangguan depresi mayor|depresi klinis]], dan &amp;#039;&amp;#039;[[Gangguan kepribadian ambang|borderline personality disorder]]&amp;#039;&amp;#039; (BPD). BPD biasanya dapat dibedakan dengan adanya sensitivitas terhadap penolakan, isolasi, dan persepsi kegagalan, yang semuanya adalah bentuk [[rasa sakit psikologi]]. Studi menunjukkan bahwa sakit psikologi dan nyeri faal memiliki mekanisme dasar yang sama; menurut SMH, sebagian atau kebanyakan pengguna opioid untuk rekreasi berusaha menghilangkan sakit psikologi dengan obat opioid, sama seperti bagaimana obat opioid digunakan dalam menangani nyeri faal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ganja ====&lt;br /&gt;
[[Ganja]] adalah bahan yang memunculkan efek [[paradoks]]: ia secara bersamaan menghasilkan efek stimulasi, sedasi, dan psikedelik yang ringan serta efek [[ansiolitik]] atau [[ansiogenik]], bergantung pada individu dan [[Set and setting (psikedelik)|kondisi penggunaan]]. Efek depresan lebih jelas ditemukan pada pengguna yang tidak rutin, efek stimulan lebih umum ditemukan pada pengguna jangka panjang. Khantzian mencatat bahwa penelitian belum cukup menyelidiki mekanisme teoretis ganja sehingga SMH belum dapat membahas hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Efektivitas ===&lt;br /&gt;
Swamedikasi berlebihan dalam jangka waktu panjang dengan [[Benzodiazepin|obat-obatan benzodiazepin]] atau [[Etanol|alkohol]] (minuman keras) sering memperburuk gejala kecemasan atau depresi. Hal ini diyakini terjadi karena perubahan kimiawi otak akibat penggunaan bahan-bahan tersebut secara jangka panjang. Sekitar setengah dari mereka yang berusaha mendapatkan penanganan dari penyedia layanan kesehatan mental, untuk kondisi antara lain [[gangguan kecemasan]] seperti [[gangguan panik]] atau [[Gangguan kecemasan sosial|fobia sosial]], mengalami masalah berkaitan [[ketergantungan alkohol]] atau [[Ketergantungan benzodiazepin|benzodiazepin]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang kala kecemasan muncul terlebih dahulu daripada ketergantungan alkohol atau benzodiazepin tetapi ketergantungan tersebut menyebabkan gangguan kecemasan tak terselesaikan, sering kali berlanjut menjadi makin parah. Namun demikian, sebagian orang yang mengalami ketergantungan alkohol atau benzodiazepin memutuskan berhenti mengonsumsi alkohol atau obat-obatan benzodiazepin atau keduanya setelah diberitahu bahwa mereka dapat memilih antara terus-terusan memiliki kesehatan mental yang buruk atau berhenti dan memulihkan diri dari gejala. Ditemukan bahwa setiap individu memiliki tingkat sensitivitas terhadap alkohol atau obat sedativa/hipnotika yang berbeda-beda; apa yang dapat ditoleransi oleh seseorang sehingga tidak mengalami masalah kesehatan dapat menyebabkan seseorang yang lain menderita masalah yang parah, bahkan konsumsi minuman keras sekadarnya dapat menyebabkan kemunculan kembali gejala kecemasan dan gangguan tidur. Seseorang yang menderita efek toksik alkohol tidak akan sembuh dengan terapi atau pengobatan tertentu yang tidak menjadikan akar masalah gejala sebagai target.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketergantungan nikotin diketahui memperburuk masalah kesehatan jiwa. Pemutusan nikotin menurunkan mood, meningkatkan kecemasan dan stres, serta mengganggu tidur. Walaupun produk nikotin meringankan gejala [[putus nikotin]] secara sementara, ketergantungan membuat stres dan mood memburuk secara umum karena munculnya gejala putus nikotin di antara masa penggunaan. Mereka yang memiliki ketergantungan nikotin memerlukan nikotin untuk merasa normal secara sementara. Dalam [[Iklan tembakau|pemasaran nikotin]], terdapat klaim bahwa nikotin bersifat tidak begitu berbahaya dan mengobati bagi mereka yang memiliki penyakit jiwa dan nikotin berperan sebagai swamedikasi. Klaim ini mendapat kritik dari peneliti-peneliti independen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Swamedikasi obat-obatan ialah sangat umum beralih menjadi [[adiksi]] penuh dan penggunaan berulang obat-obatan adiktif didapati meningkatkan risiko adiksi bahan-bahan aktif lain karena perubahan saraf jangka panjang. Adiksi/[[penyalahgunaan obat]] manapun yang telah diuji [[Kolerasi|berkolerasi]] dengan penurunan terus menerus ekspresi GLT1 ([[Excitatory amino acid transporter 2|EAAT2]]) di &amp;#039;&amp;#039;[[nucleus accumbens]]&amp;#039;&amp;#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Swamedikasi&amp;amp;oldid=29456901 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29456901 (2026-07-14T08:19:33Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>