<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Teori_bencana_Toba</id>
	<title>Teori bencana Toba - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Teori_bencana_Toba"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Teori_bencana_Toba&amp;action=history"/>
	<updated>2026-09-16T07:41:42Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.46.0</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Teori_bencana_Toba&amp;diff=31706&amp;oldid=prev</id>
		<title>Maintenance script: Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29036776; atribusi sumber disertakan.</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.unissula.ac.id/index.php?title=Teori_bencana_Toba&amp;diff=31706&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2026-09-05T13:16:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29036776; atribusi sumber disertakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Letusan super (&amp;#039;&amp;#039;supereruption&amp;#039;&amp;#039;) Toba adalah [[jenis letusan gunung berapi|letusan]] [[Gunung Toba]], sebuah [[gunung berapi super]], yang terjadi antara 69.000 dan 74.000 tahun yang lalu di kawasan [[Danau Toba]], [[Sumatera Utara]], [[Indonesia]]. Letusan ini diakui sebagai salah satu [[daftar letusan gunung berapi terbesar|letusan gunung terdahsyat]] di [[Bumi]]. &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Hipotesis bencana Toba&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; berpendapat bahwa peristiwa alam ini mengakibatkan musim dingin vulkanik di seluruh dunia selama 6–10 tahun dan masa pendinginan selama 1.000 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Toba merupakan letusan super yang paling sering diteliti. pada tahun 1993, jurnalis sains Ann Gibbons memaparkan adanya hubungan antara letusan Toba dan penyusutan populasi manusia. Michael R. Rampino dari [[New York University]] dan Stephen Self dari [[University of Hawaii at Manoa]] mendukung ide tersebut. Tahun 1998, [[penyusutan penduduk|teori penyusutan]] dikembangkan lebih jauh oleh Stanley H. Ambrose dari [[University of Illinois at Urbana-Champaign]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Letusan super ==&lt;br /&gt;
&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Letusan Toba&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;peristiwa Toba&amp;#039;&amp;#039; terjadi di daerah yang saat ini merupakan [[Danau Toba]] sekitar  [[Sebelum Masehi]] (&amp;#039;&amp;#039;Before Christ&amp;#039;&amp;#039;; BC).  Letusan ini merupakan yang terakhir dan terbesar dari empat letusan Toba selama kala [[Kuarter]]. Letusan ini dikenal juga dengan sebutan &amp;#039;&amp;#039;Youngest Toba [[Tuff]]&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;YTT&amp;#039;&amp;#039;. Letusan ini memiliki [[Indeks Letusan Vulkanik]] sebesar 8 (&amp;quot;apokaliptik&amp;quot;) atau magnitudo ≥ M8; efek letusan terhadap kompleks [[kaldera]] seluas 100X30 km sangat besar. Perkiraan [[ekuivalen batuan padat]] (DRE) terhadap volume eruptif letusan ini berkisar antara  dan  – perkiraan DRE yang paling lazim adalah  (sekitar ) berwujud magma letusan dan  di antaranya mengendap dalam bentuk debu vulkanik. Massa letusannya 100 kali lebih besar daripada letusan gunung terbesar dalam sejarah modern, letusan [[Gunung Tambora]] di Indonesia tahun 1815 yang mengakibatkan &amp;quot;[[Tahun Tanpa Musim Panas]]&amp;quot; 1816 di belahan utara Bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Letusan Toba terjadi di [[Indonesia]] dan menghasilkan lapisan endapan debu setebal kira-kira 15 sentimeter di seluruh [[Asia Selatan]]. Debu vulkanik juga mengendap di [[Samudra Hindia]], [[Laut Arab]], dan [[Laut Cina Selatan]]. Inti laut dalam yang diambil dari Laut Cina Selatan telah membuktikan besarnya jangkauan letusan, sehingga perhitungan massa letusan sebesar  dianggap sebagai jumlah minimum atau bahkan terlalu kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Musim dingin vulkanik dan pendinginan ==&lt;br /&gt;
Letusan Toba tampaknya terjadi bersamaan dengan munculnya [[periode glasial terakhir]]. Michael L. Rampino dan Stephen Self berpendapat bahwa letusan tersebut mengakibatkan &amp;quot;pendinginan singkat yang dramatis atau &amp;#039;musim dingin vulkanik&amp;#039;&amp;quot; yang menurunkan suhu permukaan rata-rata dunia sebesar 3–5&amp;amp;nbsp;°C dan mempercepat transisi dari suhu panas ke dingin dalam siklus glasial terakhir. Bukti dari [[inti es]] [[Greenland]] menunjukkan adanya periode minim [[δ18O|&amp;#039;&amp;#039;δ&amp;#039;&amp;#039;&amp;lt;sup&amp;gt;18&amp;lt;/sup&amp;gt;O]] selama 1.000 tahun dan peningkatan endapan debu setelah letusan Toba. Letusan ini bisa jadi menghasilkan periode suhu dingin selama 1.000 tahun tersebut (stadial); dua abad di antaranya disebabkan oleh bertahannya muatan stratosfer Toba. Rampino dan Self yakin bahwa pendinginan global sudah berlangsung saat letusan terjadi, tetapi prosesnya lambat; YTT &amp;quot;mungkin memberi &amp;#039;tendangan&amp;#039; kuat sehingga sistem iklim beralih dari suhu panas ke dingin&amp;quot;. Walaupun Clive Oppenheimer menolak hipotesis bahwa letusan ini menyebabkan periode glasial terakhir, ia setuju bahwa letusan Toba menyebabkan iklim dingin selama satu milenium sebelum [[peristiwa Dansgaard-Oeschger]] abad ke-19.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Alan Robock, yang pernah menerbitkan sejumlah makalah tentang [[musim dingin nuklir]], letusan Toba tidak mendahului periode glasial terakhir. Namun dengan asumsi adanya emisi [[sulfur dioksida]] sebesar enam miliar ton, simulasi komputernya menunjukkan bahwa pendinginan global maksimum sebesar 15&amp;amp;nbsp;°C terjadi selama tiga tahun setelah letusan, dan pendinginan tersebut bertahan selama beberapa dasawarsa dan bersifat mematikan. Karena [[tingkat selang adiabatik]] jenuh untuk suhu di atas titik beku adalah 4,9&amp;amp;nbsp;°C/1.000 m, [[garis pohon]] dan [[garis salju]] pada waktu itu lebih rendah 3.000&amp;amp;nbsp;m (9.900&amp;amp;nbsp;ft). Iklim kembali pulih setelah beberapa dasawarsa, dan Robock tidak menemukan bukti bahwa periode dingin 1.000 tahun yang tercatat di inti es Greenland diakibatkan oleh letusan Toba. Berbeda dengan Robock, Oppenheimer percaya bahwa perkiraan penurunan suhu permukaan sebesar 3–5&amp;amp;nbsp;°C mungkin terlalu tinggi. Ia berpendapat bahwa suhu turun sebesar 1&amp;amp;nbsp;°C saja. Robock mengkritik Oppenheimer karena analisisnya didasarkan pada hubungan [[skor standar|&amp;#039;&amp;#039;T-forcing&amp;#039;&amp;#039;]] yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski ada berbagai macam perkiraan, para ilmuwan sepakat bahwa letusan super sebesar letusan Toba pasti menghasilkan lapisan debu yang sangat luas dan pelepasan gas beracun dalam jumlah besar ke atmosfer, sehingga memengaruhi iklim dan cuaca di seluruh dunia. Selain itu, data inti es Greenland memperlihatkan perubahan iklim yang mendadak pada masa letusan Toba, tetapi tidak ada konsensus bahwa letusan ini secara langsung menciptakan periode dingin 1.000 tahun yang tercatat di Greenland atau periode glasial terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para arkeolog yang menemukan lapisan debu vulkanik kaca mikroskopik di sedimen [[Danau Malawi]] pada tahun 2013, dan menghubungkan debu tersebut dengan letusan super Toba 74.000 tahun yang lalu, melihat tidak adanya perubahan jenis fosil yang dekat dengan lapisan debu yang terbentuk pasca [[musim dingin vulkanik]]. Bukti ini membuat arkeolog menyimpulkan bahwa letusan gunung berapi terbesar sepanjang sejarah umat manusia tidak mengubah iklim Afrika Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Teori penyusutan genetik ==&lt;br /&gt;
Letusan Toba telah dikaitkan dengan [[penyusutan genetik]] evolusi manusia sekitar 50.000 tahun yang lalu yang terjadi akibat berkurangnya jumlah manusia karena efek letusan terhadap iklim global.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut teori penyusutan genetik, antara 50.000 dan 100.000 tahun yang lalu, populasi manusia berkurang tajam menjadi 3.000–10.000 orang. Teori ini didukung oleh bukti genetik yang menunjukkan bahwa umat manusia masa kini adalah keturunan dari sedikit sekali manusia, antara 1.000 sampai 10.000 pasangan, sekitar 70.000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendukung teori penyusutan genetik berpendapat bahwa letusan Toba mengakibatkan bencana ekologi global, termasuk kehancuran tanaman diiringi kekeringan parah di sabuk hutan hujan tropis dan kawasan monsun. Contohnya, musim dingin vulkanik selama 10 tahun yang diakibatkan letusan telah melenyapkan sebagian besar sumber makanan manusia dan menyebabkan berkurangnya populasi manusia. Perubahan lingkungan seperti ini bisa jadi menghasilkan penyusutan populasi beberapa spesies, termasuk [[hominid]]; penyusutan ini mempercepat diferensiasi dari populasi manusia yang sedikit. Karena itu, perbedaan genetik di kalangan manusia modern merupakan cerminan perubahan yang terjadi pada 70.000 tahun terakhir, bukan diferensiasi bertahap selama jutaan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian lain memunculkan keraguan terhadap teori penyusutan genetik. Misalnya, [[peralatan batu]] kuno di India selatan ditemukan di atas dan di bawah lapisan debu tebal dari letusan Toba dan bentuknya serupa, artinya awan debu dari letusan tersebut tidak memusnahkan populasi di daerah ini. Bukti arkeologi lain dari India selatan dan utara juga menunjukkan sedikitnya bukti dampak letusan terhadap penduduk setempat, sehingga para peneliti berkesimpulan bahwa &amp;quot;banyak makhluk hidup yang selamat dari letusan super ini, bertentangan dengan penelitian lain yang menunjukkan kepunahan hewan dan penyusutan genetik dalam jumlah besar&amp;quot;. Akan tetapi, bukti dari analisis serbuk sari memperlihatkan adanya deforestasi panjang di Asia Selatan. Sejumlah peneliti berpendapat bahwa letusan Toba mungkin memaksa manusia menggunakan strategi adaptasi yang baru, sehingga mereka dapat menggantikan manusia [[Neanderthal]] dan &amp;quot;spesies manusia kuno lainnya&amp;quot;. Pendapat tersebut tidak sejalan dengan bukti keberadaan Neanderthal di Eropa dan &amp;#039;&amp;#039;[[Homo floresiensis]]&amp;#039;&amp;#039; di Asia Tenggara yang masing-masing selamat dari letusan ini selama 50.000 dan 60.000 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekurangan lain dalam teori penyusutan pasca-Toba adalah sulitnya memperkirakan dampak iklim global dan regional letusan ini dan sedikitnya bukti pasti letusan ini sebelum penyusutan. Selain itu, analisis genetik [[urutan Alu]] di seluruh [[genom manusia]] memperlihatkan bahwa ukuran populasi manusia yang efektif kurang dari 26.000 orang pada 1,2 juta tahun yang lalu. Penjelasan yang memungkinkan untuk rendahnya jumlah leluhur manusia meliputi penyusutan populasi yang terjadi berulang-ulang atau peristiwa penggantian periodik dari subspesies &amp;#039;&amp;#039;[[Homo]]&amp;#039;&amp;#039; lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyusutan genetik manusia ===&lt;br /&gt;
Teori bencana Toba berpendapat bahwa [[penyusutan populasi|penyusutan populasi manusia]] terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu. Jumlah manusia berkurang menjadi kurang lebih 15.000 orang ketika Toba meletus dan mengakibatkan perubahan [[lingkungan alami|lingkungan]] besar, termasuk [[musim dingin vulkanik]]. Teori ini didasarkan pada bukti geologi perubahan iklim mendadak pada waktu itu dan penggabungan beberapa gen (termasuk DNA mitokondria, kromosom Y, dan sejumlah gen inti) serta variasi genetik yang relatif rendah pada manusia modern. Misalnya, menurut sebuah hipotesis, [[DNA mitokondria]] manusia (diwariskan dari garis ibu/maternal) dan DNA [[kromosom-Y]] (diwariskan dari garis bapak/paternal) masing-masing [[penggabungan (genetika)|bergabung]] sekitar 140.000 dan 60.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa [[matrilinealitas|leluhur perempuan]] semua manusia modern berasal dari satu perempuan ([[Eva mitokondria]]) sekitar 140.000 tahun yang lalu, dan [[patrilinealitas|leluhur laki-lakinya]] berasal dari satu laki-laki ([[Adam kromosom-Y]]) sekitar 60.000 sampai 90.000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, gabungan seperti itu dapat diperkirakan secara genetik dan tidak benar-benar menentukan penyusutan populasi karena DNA mitokondria dan DNA kromosom Y hanya merupakan sebagian kecil dari [[genom]] manusia. Keduanya bersifat tidak biasa (atipikal) sehingga diwariskan secara eksklusif melalui ibu atau bapak. Kebanyakan gen diwariskan secara acak dari bapak atau ibu, jadi tidak bisa dilacak sampai ke leluhur matrilineal atau patrilineal. Gen-gen lain memiliki jumlah gabungan sejak 2 juta sampai 60.000 tahun yang lalu, sehingga memunculkan keraguan terhadap peristiwa penyusutan manusia dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan lain yang memungkinkan mengenai sedikitnya variasi genetik manusia modern adalah model transplantasi atau &amp;quot;penyusutan panjang&amp;quot;, bukan perubahan lingkungan akibat bencana. Ini konsisten dengan pendapat bahwa populasi manusia di Afrika sub-Sahara berkurang hingga 2.000 orang selama 100.000 tahun, kemudian bertambah pada [[Paleolitikum Atas|Zaman Batu Terakhir]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu hambatan studi lokus tunggal adalah besarnya keacakan proses penentuan (&amp;#039;&amp;#039;fixation process&amp;#039;&amp;#039;), dan studi yang mempertimbangkan keacakan ini memperkirakan populasi manusia yang efektif sekitar 11.000–12.000 orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyusutan genetik mamalia lain ===&lt;br /&gt;
Sejumlah bukti menunjukkan adanya penyusutan genetik pada hewan lain pasca letusan Toba. [[Simpanse]] Afrika Timur, [[orangutan]] Kalimantan, [[monyet rhesus|monyet]] India tengah, [[cheetah]], [[harimau]], dan pemisahan kelompok gen inti [[gorila]] daratan rendah timur dan barat berhasil mengembalikan populasinya dari jumlah yang sangat sedikit sekitar 70.000–55.000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Migrasi pasca Toba ==&lt;br /&gt;
Persebaran geografis populasi manusia saat letusan terjadi tidak diketahui secara pasti. Manusia yang selamat mungkin tinggal di [[Afrika]] dan bermigrasi ke wilayah lain di dunia. Analisis [[DNA mitokondria]] memperkirakan bahwa [[Leluhur Afrika manusia modern terkini#Eksodus dari Afrika|migrasi besar dari Afrika]] terjadi 60.000–70.000 tahun yang lalu. Jumlah tersebut konsisten dengan perkiraan waktu letusan Toba sekitar 69.000–77.000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, temuan arkeologi terbaru menunjukkan bahwa populasi manusia di [[Jwalapuram]], [[India Selatan]], mungkin selamat dari efek letusan. Selain itu, dipaparkan pula bahwa populasi hominid terdekat, seperti &amp;#039;&amp;#039;[[Homo floresiensis]]&amp;#039;&amp;#039; di [[Flores]], selamat karena mereka tinggal di daerah yang [[atas angin dan bawah angin|membelakangi angin]] dari Toba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Lihat pula ==&lt;br /&gt;
* [[:Kategori:DAS Asahan Toba|Daerah aliran sungai AsahanToba]]&lt;br /&gt;
* [[Garis Wallace]]&lt;br /&gt;
* [[Leluhur Afrika manusia modern terkini]]&lt;br /&gt;
* [[Leluhur makhluk terkini]]&lt;br /&gt;
* [[Garis waktu letusan gunung berapi besar di dunia]]&lt;br /&gt;
* [[Migrasi manusia awal]]&lt;br /&gt;
* [[Peristiwa kepunahan Kuarter]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kutipan dan catatan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala luar ==&lt;br /&gt;
* [http://www.jqjacobs.net/anthro/paleo/bottleneck.html Population Bottlenecks and Volcanic Winter]&lt;br /&gt;
* [http://www.andaman.org/BOOK/originals/Weber-Toba/textr.htm Toba Volcano, by George Weber]&lt;br /&gt;
* [http://www.economist.com/surveys/displaystory.cfm?story_id=5299220&amp;amp;no_na_tran=1 &amp;quot;The proper study of mankind&amp;quot;] – Article in &amp;#039;&amp;#039;The Economist&amp;#039;&amp;#039;&lt;br /&gt;
* [http://www.anthro.illinois.edu/people/ambrose Homepage of Professor Stanley H. Ambrose]&lt;br /&gt;
* [http://www.sciencedaily.com/releases/1998/09/980908074159.htm 1998 article based on news release regarding Ambrose&amp;#039;s paper]&lt;br /&gt;
* [http://www.bradshawfoundation.com/stanley_ambrose.php Mount Toba: Late Pleistocene human population bottlenecks, volcanic winter, and differentiation of modern humans] by Professor Stanley H. Ambrose, Department of Anthropology, University Of Illinois, Urbana, USA; Extract from &amp;quot;Journal of Human Evolution&amp;quot; [1998] 34, 623–651&lt;br /&gt;
* [http://www.bradshawfoundation.com/journey/ Journey of Mankind] by The Bradshaw Foundation – includes discussion on Toba eruption, DNA and human migrations&lt;br /&gt;
* [http://www.sciencedaily.com/releases/2005/03/050310103042.htm Geography Predicts Human Genetic Diversity] ScienceDaily (Mar. 17, 2005) – By analyzing the relationship between the geographic location of current human populations in relation to East Africa and the genetic variability within these populations, researchers have found new evidence for an African origin of modern humans.&lt;br /&gt;
* [http://www.sciencedaily.com/releases/2007/02/070215134529.htm Out Of Africa – Bacteria, As Well: Homo Sapiens And H. Pylori Jointly Spread Across The Globe] ScienceDaily (Feb. 16, 2007) – When man made his way out of Africa some 60,000 years ago to populate the world, he was not alone: He was accompanied by the bacterium [[Helicobacter pylori]]...; illus. migration map.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber dan atribusi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teori+bencana+Toba&amp;amp;oldid=29036776 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29036776 (2026-03-14T15:43:45Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Maintenance script</name></author>
	</entry>
</feed>