Lompat ke isi

Alam semesta teramati

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 26 Agustus 2026 23.03 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Observable Universe with Measurements 01

Alam semesta teramati () terdiri dari berbagai galaksi dan materi lainnya yang dapat diamati dari bumi pada saat ini karena cahaya dan signal lainnya dari objek ini telah mencapai bumi sejak awal mula Ekspansi kosmologis. Diasumsikan alam semesta adalah isotropik, jarak ke ujung-ujung alam semesta teramati kira-kira sama ke segala arah. Maka, alam semesta teramati adalah sebuah volume bola yang pusatnya di pengamat. Setiap lokasi di alam semesta memiliki alam semesta teramatinya masing-masing, yang mungkin atau mungkin juga tidak tumpang tindih dengan yang berpusat di bumi.

Kata teramati di sini tidak ada hubungannya dengan kemampuan teknologi modern untuk mendeteksi radiasi dari objek di dalam daerah ini, melainkan dengan kemungkinan cahaya atau radiasi lain dari objek mencapai pengamat. Pada praktiknya, kita hanya dapat melihat cahaya sejauh ketika foton terbelah ketika masa rekombinasi. Hal ini terjadi ketika partikel pertama kali dapat melepas foton yang kemudian tidak cepat terserap kembali oleh partikel lainnya. Sebelum itu, alam semesta terisi oleh plasma yang tidak tembus cahaya ke foton. Gelombang gravitasi yang terdeteksi menandakan bahwa saat ini ada kemungkinan untuk mendeteksi sinyal non-cahaya dari masa sebelum rekombinasi.

Estimasi terbaik usia alam semesta adalah tahun[1] tetapi karena adanya ekspansi ruang angkasa manusia mengamati objek yang awalnya sangat dekat namun saat ini menjadi sangat jauh, lebih dari jarak tetap 13,8 miliar tahun cahaya.[2] Diperkirakan diameter alam semesta teramati adalah sekitar 28.5 gigaparsecs (93 miliar tahun cahaya, ),[3] menjadikan ujung alam semesta teramati berjarak sekitar 46,5 miliar tahun cahaya.[4][5]

Ukuran

Jarak pindah bersama dari bumi ke ujung alam semesta teramati sekitar 14,26 gigaparsecs (46.5 miliar tahun cahaya atau ) ke segala arah. Maka alam semesta teramati berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 28.5 gigaparsecs[6] ().[7] Diasumsikan ruang angkasa rata, ukuran ini sama dengan volume pindah bersama (comoving volume) sekitar ( atau ).[8]

Angka diatas adalah jarak sekarang (dalam waktu kosmologis), bukan jarak pada saat cahaya muncul. Misalnya, radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik yang kita saat ini dipancarkan saat foton terbelah, diperkirakan setelah Ledakan Besar,[9][10] sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Radiasi ini dipancarkan oleh materi yang seiring waktu terkondensasi menjadi galaksi, dan galaksi-galaksi ini sekarang diperkirakan berjarak 46 miliar tahun cahaya dari kita saat ini.[11][12] Untuk memperkirakan jarak ke materi pada waktu cahaya dipancarkan, kita dapat mencatat bahwa menurut Metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker, digunakan untuk memodelkan alam semesta yang mengekspansi, jika pada saat ini kita menerima cahaya dengan redshift sebesar z, maka faktor skala pada waktu cahaya pertama kali dipancarkan dirumuskan dengan[13][14]

a(t)=11+z.

Hasil pengamatan 9 tahun WMAP digabungkan dengan pengukuran lainnya akan menghasilkan pergeseran merah pembelahan foton z = ,[15] yang menyimpulkan bahwa faktor skala pada waktu foton membelah adalah . Maka jika materi yang awalnya dipancarkan latar belakang gelombang kosmik foton memiliki jarak saat ini sebesar 46 miliar tahun cahaya, maka waktu pada foton terpancar, jaraknya kira-kira hanya 42 juta tahun cahaya.

Lihat pula

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Referensi

  1. Planck Collaboration. Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters (See Table 4 on page 31 of pfd). 2015.
  2. Tamara M. Davis. Expanding Confusion: common misconceptions of cosmological horizons and the superluminal expansion of the universe. Publications of the Astronomical Society of Australia. 2004. Vol. 21 (1). hlm. 97. doi:10.1071/AS03040.
  3. Itzhak Bars. Extra Dimensions in Space and Time. Springer. November 2009. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8.
  4. Frequently Asked Questions in Cosmology. Astro.ucla.edu. Retrieved on 2011-05-01.
  5. Charles Lineweaver. Misconceptions about the Big Bang. Scientific American. 2005.
  6. WolframAlpha.
  7. WolframAlpha.
  8. WolframAlpha.
  9. Seven-Year Wilson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) Observations: Sky Maps, Systematic Errors, and Basic Results. nasa.gov. (see p. 39 for a table of best estimates for various cosmological parameters)
  10. Brian Abbott. Microwave (WMAP) All-Sky Survey. Hayden Planetarium. May 30, 2007.
  11. Charles Lineweaver. Misconceptions about the Big Bang. Scientific American. 2005.
  12. J. Richard Gott III. A Map of the Universe. The Astrophysical Journal. 2005. Vol. 624 (2). hlm. 463–484. doi:10.1086/428890.
  13. Paul Davies. The new physics. Cambridge University Press. 28 August 1992. hlm. 187–. ISBN 978-0-521-43831-5.
  14. V. F. Mukhanov. Physical foundations of cosmology. Cambridge University Press. 2005. hlm. 58–. ISBN 978-0-521-56398-7.
  15. C. L. Bennett. Nine-year Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) Observations: Final Maps and Results. The Astrophysical Journal Supplement Series. 1 October 2013. Vol. 208 (2). hlm. 20. doi:10.1088/0067-0049/208/2/20.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28472727 (2025-11-14T03:29:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.