Lompat ke isi

Pemerintahan algoritmik: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28369951; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Pemerintahan algoritmik''' (juga dikenal sebagai '''regulasi algoritmik''', '''tata kelola algoritmik''', '''tata kelola algokratik''', '''tatanan hukum algoritmik''' atau '''algokrasi''') adalah bentuk alternatif dari pemerintahan atau tatanan sosial, dengan memanfaatkan [[algoritme]] komputer, terutama [[kecerdasan buatan]] dan [[blockchain]], yang diterapkan pada peraturan, penegakan hukum, dan umumnya diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari seperti [[transportasi]] atau pendaftaran tanah. Istilah 'pemerintahan dengan algoritma' muncul dalam literatur akademis sebagai alternatif dari gagasan 'tata kelola algoritmik' pada tahun 2013. Istilah yang terkait, regulasi algoritmik didefinisikan sebagai pengaturan standar, pemantauan dan [[modifikasi perilaku]] melalui algoritma komputasi, otomatisasi peradilan juga berada dalam ruang lingkup regulasi algoritmik.
[[File:AlgorithmicGovernance.svg|thumb|right|280px|Pemerintahan algoritmik]]


Pemerintah algoritmik menimbulkan tantangan baru yang tidak muncul dalam literatur [[pemerintahan elektronik]] dan praktik administrasi publik. Beberapa sumber menyamakannya dengan siberokrasi, bentuk pemerintahan hipotetis yang mengatur penggunaan informasi secara efektif, dengan pemerintahan algoritmik. Namun algoritma sebenarnya bukan satu-satunya cara memproses informasi. [[Nello Cristianini]] dan Teresa Scantamburlo berpendapat bahwa kombinasi dari masyarakat manusia dan algoritma regulasi tertentu (seperti penilaian berbasis reputasi) akan mampu membentuk sebuah [[mesin sosial]].
'''Pemerintahan algoritmik''' (juga dikenal sebagai '''regulasi algoritmik''', '''tata kelola algoritmik''', '''tata kelola algokratik''', '''tatanan hukum algoritmik''' atau '''algokrasi''') adalah bentuk alternatif dari pemerintahan atau tatanan sosial, dengan memanfaatkan [[algoritme]] komputer, terutama [[kecerdasan buatan]] dan [[blockchain]], yang diterapkan pada peraturan, penegakan hukum, dan umumnya diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari seperti [[transportasi]] atau pendaftaran tanah.<ref>Karen Yeung. ''Algorithmic regulation: A critical interrogation''. ''Regulation & Governance''. December 2018. Vol. 12 (4). hlm. 505–523. doi:10.1111/rego.12158.</ref><ref>Eden Medina. [http://wosc.co/wp-content/uploads/2016/03/Medina-Rethinking-Algorithmic-Regulation.pdf Rethinking algorithmic regulation]. ''Kybernetes''. 2015. Vol. 44.6/7 (6/7). hlm. 1005–1019. doi:10.1108/K-02-2015-0052.</ref><ref>Zeynep Engin. ''Algorithmic Government: Automating Public Services and Supporting Civil Servants in using Data Science Technologies''. ''The Computer Journal''. March 2019. Vol. 62 (3). hlm. 448–460. doi:10.1093/comjnl/bxy082.</ref><ref>Christian Katzenbach. [https://policyreview.info/concepts/algorithmic-governance Algorithmic governance]. ''Internet Policy Review''. 29 November 2019. Vol. 8 (4). doi:10.14763/2019.4.1424.</ref><ref>Stanford Law School. [https://law.stanford.edu/publications/government-by-algorithm-a-review-and-an-agenda/ Government by Algorithm: A Review and an Agenda]. ''Stanford Law School''.</ref><ref>Rubén Rodríguez Abril. [http://www.derecom.com/secciones/articulos-de-fondo/item/398-an-approach-to-the-algorithmic-legal-order-and-to-its-civil-trade-and-financial-projection DERECOM. Derecho de la Comunicación. - An approach to the algorithmic legal order and to its civil, trade and financial projection]. ''www.derecom.com''.</ref><ref>[https://ieet.org/index.php/IEET2/more/danaher20140107 Rule by Algorithm? Big Data and the Threat of Algocracy]. ''ieet.org''.</ref><ref>Kevin Werbach. ''The Siren Song: Algorithmic Governance By Blockchain''. Social Science Research Network. 24 September 2018..</ref> Istilah 'pemerintahan dengan algoritma' muncul dalam literatur akademis sebagai alternatif dari gagasan 'tata kelola algoritmik' pada tahun 2013.<ref>Ben Williamson. [https://www.academia.edu/4477644 Decoding identity: Reprogramming pedagogic identities through algorithmic governance]. ''British Educational Research Association Conference''.</ref> Istilah yang terkait, regulasi algoritmik didefinisikan sebagai pengaturan standar, pemantauan dan [[modifikasi perilaku]] melalui algoritma komputasi, otomatisasi peradilan juga berada dalam ruang lingkup regulasi algoritmik.<ref>Mireille Hildebrandt. ''Algorithmic regulation and the rule of law''. ''Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences''. 6 August 2018. Vol. 376 (2128). hlm. 20170355. doi:10.1098/rsta.2017.0355.</ref>
 
Pemerintah algoritmik menimbulkan tantangan baru yang tidak muncul dalam literatur [[pemerintahan elektronik]] dan praktik administrasi publik.<ref>Michael Veale. ''Administration by Algorithm? Public Management Meets Public Sector Machine Learning''. Social Science Research Network. 2019.</ref> Beberapa sumber menyamakannya dengan siberokrasi, bentuk pemerintahan hipotetis yang mengatur penggunaan informasi secara efektif,<ref>David Ronfeldt. [http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/papers/2008/P7745.pdf Cyberocracy, Cyberspace, and Cyberology:Political Effects of the Information Revolution]. RAND Corporation. 1991.</ref><ref>David Ronfeldt. [http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/reprints/2007/RAND_RP222.pdf Cyberocracy is Coming]. RAND Corporation. 1992.</ref><ref>David Ronfeldt. ''The Prospects for Cyberocracy (Revisited)''. Social Science Research Network. 1 December 2008..</ref> dengan pemerintahan algoritmik. Namun algoritma sebenarnya bukan satu-satunya cara memproses informasi.<ref>[https://kathmandupost.com/columns/2019/07/04/transparency-in-governance-through-cyberocracy Opinion Transparency in governance, through cyberocracy]. ''kathmandupost.com''.</ref><ref>Alex Hudson. [https://metro.co.uk/2019/08/28/far-more-than-surveillance-is-already-in-place-and-cyberocracy-could-change-how-government-is-run-10637802/ 'Far more than surveillance' is happening and could change how government is run]. ''Metro''. 28 August 2019.</ref> [[Nello Cristianini]] dan Teresa Scantamburlo berpendapat bahwa kombinasi dari masyarakat manusia dan algoritma regulasi tertentu (seperti penilaian berbasis reputasi) akan mampu membentuk sebuah [[mesin sosial]].<ref>Nello Cristianini. ''On social machines for algorithmic regulation''. ''AI & Society''. 8 October 2019. Vol. 35 (3). hlm. 645–662. doi:10.1007/s00146-019-00917-8.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Pada tahun 1962, Direktur Institut Masalah Transmisi Informasi dari [[Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di Moskow]] (kemudian dikenal sebagai [[Institut Kharkevich]]), Alexander Kharkevich, menerbitkan sebuah artikel di jurnal ''Communist'' mengenai jaringan komputer untuk pemrosesan informasi dan pengendalian ekonomi. Secara khusus, ia mengusulkan pembentukan jaringan yang menyerupai internet modern untuk memenuhi kebutuhan tata kelola algoritmik (Proyek OGAS). Gagasan ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan analis CIA. Salah satunya, Arthur M. Schlesinger Jr., memperingatkan bahwa ''"pada tahun 1970, Uni Soviet mungkin memiliki teknologi produksi yang benar-benar baru, yang melibatkan keseluruhan perusahaan atau kompleks industri, yang dikelola oleh sistem kendali umpan balik tertutup dengan komputer yang mampu belajar sendiri."''
Pada tahun 1962, Direktur Institut Masalah Transmisi Informasi dari [[Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di Moskow]] (kemudian dikenal sebagai [[Institut Kharkevich]]),<ref>[https://www.mathnet.ru/php/organisation.phtml?orgid=5026&option_lang=eng Organisations: Institute for Information Transmission Problems of the Russian Academy of Sciences (Kharkevich Institute): Institute for Information Transmission Problems of the Russian Academy of Sciences (Kharkevich Institute), Moscow, Russia]. ''www.mathnet.ru''.</ref> Alexander Kharkevich, menerbitkan sebuah artikel di jurnal ''Communist'' mengenai jaringan komputer untuk pemrosesan informasi dan pengendalian ekonomi.<ref>[https://csef.ru/en/politica-i-geopolitica/223/mashiny-kommunizma-pochemu-v-sssr-tak-i-ne-sozdali-svoj-internet-6983 sumber]. ''csef.ru''.</ref> Secara khusus, ia mengusulkan pembentukan jaringan yang menyerupai internet modern untuk memenuhi kebutuhan tata kelola algoritmik (Proyek OGAS). Gagasan ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan analis CIA.<ref>[https://web.archive.org/web/20210922175839/https://nautil.us/issue/23/Dominoes/how-the-computer-got-its-revenge-on-the-soviet-union The Tangled History of Soviet Computer Science]. ''web.archive.org''. 2021-09-22.</ref> Salah satunya, Arthur M. Schlesinger Jr., memperingatkan bahwa ''"pada tahun 1970, Uni Soviet mungkin memiliki teknologi produksi yang benar-benar baru, yang melibatkan keseluruhan perusahaan atau kompleks industri, yang dikelola oleh sistem kendali umpan balik tertutup dengan komputer yang mampu belajar sendiri."''<ref>[https://web.archive.org/web/20210922175839/https://nautil.us/issue/23/Dominoes/how-the-computer-got-its-revenge-on-the-soviet-union The Tangled History of Soviet Computer Science]. ''web.archive.org''. 2021-09-22.</ref>
 
Antara tahun 1971 dan 1973, pemerintah [[Chili]] melaksanakan Proyek Cybersyn pada masa kepresidenan [[Salvador Allende]]. Proyek ini bertujuan membangun sistem pendukung keputusan terdistribusi untuk meningkatkan pengelolaan ekonomi nasional. Beberapa elemen dari proyek ini digunakan pada tahun 1972 untuk berhasil mengatasi kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh aksi mogok empat puluh ribu sopir truk yang didukung oleh CIA.
 
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, [[Herbert Simon|Herbert A. Simon]] turut mempopulerkan sistem pakar sebagai alat untuk merasionalisasi dan mengevaluasi perilaku administratif. Otomatisasi proses berbasis aturan telah menjadi ambisi lembaga perpajakan selama beberapa dekade, dengan hasil yang bervariasi. Karya awal dari periode ini termasuk proyek TAXMAN yang berpengaruh dari Thorne McCarty di [[Amerika Serikat]], dan proyek LEGOL dari [[Ronald Stamper]] di [[Inggris]]. Pada tahun 1993, ilmuwan komputer [[Paul Cockshott]] dari [[Universitas Glasgow]] dan ekonom [[Allin Cottrell]] dari [[Universitas Wake Forest]] menerbitkan buku ''Towards a New Socialism'', di mana mereka mengklaim bahwa mereka menunjukkan kemungkinan ekonomi terencana secara demokratis yang dibangun dengan teknologi komputer modern. Hakim [[Michael Kirby]] menerbitkan sebuah makalah pada tahun 1998, di mana ia menyatakan optimisme bahwa teknologi komputer yang tersedia saat itu seperti sistem pakar hukum dapat berkembang menjadi sistem komputer yang akan memberikan pengaruh besar terhadap praktik pengadilan.


Sejak tahun 2000-an, algoritmik telah dirancang dan digunakan untuk secara otomatis menganalisis rekaman video pengawasan. Dalam bukunya ''Virtual Migration'' yang terbit pada tahun 2006, A. Aneesh mengembangkan konsep ''algocracy'' yaitu ketika teknologi informasi membatasi partisipasi manusia dalam pengambilan keputusan publik. Aneesh membedakan sistem algokratis dari sistem birokratis (regulasi berbasis hukum dan rasional) serta dari sistem berbasis pasar (regulasi berbasis harga).
Antara tahun 1971 dan 1973, pemerintah [[Chili]] melaksanakan Proyek Cybersyn pada masa kepresidenan [[Salvador Allende]]. Proyek ini bertujuan membangun sistem pendukung keputusan terdistribusi untuk meningkatkan pengelolaan ekonomi nasional. Beberapa elemen dari proyek ini digunakan pada tahun 1972 untuk berhasil mengatasi kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh aksi mogok empat puluh ribu sopir truk yang didukung oleh CIA.<ref>Eden Medina. [https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/k-02-2015-0052/full/html Rethinking algorithmic regulation]. ''Kybernetes''. 2015-01-01. Vol. 44 (6/7). hlm. 1005–1019. doi:10.1108/K-02-2015-0052.</ref>


Pada tahun 2017, [[Kementerian Kehakiman Ukraina]] menjalankan lelang [[pemerintahan eksperimental]] dengan menggunakan [[Teknologi blockchain|teknologi ''blockchain'']] untuk memastikan transparansi dan menghambat korupsi dalam transaksi pemerintahan. "Pemerintahan oleh Algoritma?" menjadi tema utama yang diangkat dalam konferensi ''Data for Policy 2017'' yang diselenggarakan pada 6–7 September 2017 di [[London]].
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, [[Herbert Simon|Herbert A. Simon]] turut mempopulerkan sistem pakar sebagai alat untuk merasionalisasi dan mengevaluasi perilaku administratif. Otomatisasi proses berbasis aturan telah menjadi ambisi lembaga perpajakan selama beberapa dekade, dengan hasil yang bervariasi.<ref>[https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/9780203208038 Information technology in government: Britain and America]. Routledge. 1999. ISBN 978-0-203-20803-8.</ref> Karya awal dari periode ini termasuk proyek TAXMAN yang berpengaruh dari Thorne McCarty di [[Amerika Serikat]], dan proyek LEGOL dari [[Ronald Stamper]] di [[Inggris]]. Pada tahun 1993, ilmuwan komputer [[Paul Cockshott]] dari [[Universitas Glasgow]] dan ekonom [[Allin Cottrell]] dari [[Universitas Wake Forest]] menerbitkan buku ''Towards a New Socialism'', di mana mereka mengklaim bahwa mereka menunjukkan kemungkinan ekonomi terencana secara demokratis yang dibangun dengan teknologi komputer modern.<ref>William Paul Cockshott. [https://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/978-0851245454 Towards a new socialism]. Spokesman. 1993. ISBN 978-0-85124-545-4.</ref> Hakim [[Michael Kirby]] menerbitkan sebuah makalah pada tahun 1998, di mana ia menyatakan optimisme bahwa teknologi komputer yang tersedia saat itu seperti sistem pakar hukum dapat berkembang menjadi sistem komputer yang akan memberikan pengaruh besar terhadap praktik pengadilan.<ref>Christopher Tay. [https://heinonline.org/HOL/LandingPage?handle=hein.journals/jlinfos9&div=19&id=&page= Contracts, Technology and Electronic Commerce: The Evolution Continues]. ''Journal of Law and Information Science''. 1998. Vol. 9. hlm. 177.</ref>


== Referensi ==
Sejak tahun 2000-an, algoritmik telah dirancang dan digunakan untuk secara otomatis menganalisis rekaman video pengawasan.<ref>Angela A. Sodemann. [https://ieeexplore.ieee.org/document/6392472/ A Review of Anomaly Detection in Automated Surveillance]. ''IEEE Transactions on Systems, Man, and Cybernetics, Part C (Applications and Reviews)''. 2012-11. Vol. 42 (6). hlm. 1257–1272. doi:10.1109/TSMCC.2012.2215319.</ref> Dalam bukunya ''Virtual Migration'' yang terbit pada tahun 2006, A. Aneesh mengembangkan konsep ''algocracy'' yaitu ketika teknologi informasi membatasi partisipasi manusia dalam pengambilan keputusan publik.<ref>Christopher Kelty. [https://anthrosource.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1555-2934.2009.01035.x Global “Body Shopping”: An Indian Labor System in the Information Technology Industry by Biao Xiang Virtual Migration: The Programming of Globalization by A. Aneesh]. ''PoLAR: Political and Legal Anthropology Review''. 2009. Vol. 32 (1). hlm. 156–160. doi:10.1111/j.1555-2934.2009.01035.x.</ref><ref>John Danaher. [https://philarchive.org/rec/DANTTO-13 The Threat of Algocracy: Reality, Resistance and Accommodation]. ''Philosophy and Technology''. 2016. Vol. 29 (3). hlm. 245–268. doi:10.1007/s13347-015-0211-1.</ref> Aneesh membedakan sistem algokratis dari sistem birokratis (regulasi berbasis hukum dan rasional) serta dari sistem berbasis pasar (regulasi berbasis harga).


Pada tahun 2017, [[Kementerian Kehakiman Ukraina]] menjalankan lelang [[pemerintahan eksperimental]] dengan menggunakan [[Teknologi blockchain|teknologi ''blockchain'']] untuk memastikan transparansi dan menghambat korupsi dalam transaksi pemerintahan. "Pemerintahan oleh Algoritma?" menjadi tema utama yang diangkat dalam konferensi ''Data for Policy 2017'' yang diselenggarakan pada 6–7 September 2017 di [[London]].<ref>[https://dataforpolicy.org/data-for-policy-2017-call-for-contributions/ Data for Policy 2017 Call - Data for Policy]. 2023-09-04.</ref>


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
Baris 26: Baris 25:
* [https://eticasfoundation.org/oasi/register/ The OASI Register], algorithms with social impact
* [https://eticasfoundation.org/oasi/register/ The OASI Register], algorithms with social impact
* [https://www.imdb.com/title/tt11279794/?ref_=nm_flmg_dr_1 ''iHuman''] (Documentary, 2019) by [[Tonje Hessen Schei]]
* [https://www.imdb.com/title/tt11279794/?ref_=nm_flmg_dr_1 ''iHuman''] (Documentary, 2019) by [[Tonje Hessen Schei]]
* [https://motivatingspeech.com/how-blockchain-can-transform-india-jaspreet-bindra/ How Blockchain can transform India: Jaspreet Bindra]
* [https://motivatingspeech.com/how-blockchain-can-transform-india-jaspreet-bindra/ How Blockchain can transform India: Jaspreet Bindra]  
* [https://www.youtube.com/watch?v=Sr2ga3BBMTc Can An AI Design Our Tax Policy?]
* [https://www.youtube.com/watch?v=Sr2ga3BBMTc Can An AI Design Our Tax Policy?]


== Daftar pustaka ==
== Daftar pustaka ==
* ''[[Code: Version 2.0]]'' ([[Basic Books]], 2006)
* ''[[Code: Version 2.0]]'' ([[Basic Books]], 2006)  
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerintahan+algoritmik&oldid=28369951 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28369951 (2025-11-07T06:55:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerintahan+algoritmik&oldid=28369951 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28369951 (2025-11-07T06:55:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 04.19

Berkas:AlgorithmicGovernance.svg
Pemerintahan algoritmik

Pemerintahan algoritmik (juga dikenal sebagai regulasi algoritmik, tata kelola algoritmik, tata kelola algokratik, tatanan hukum algoritmik atau algokrasi) adalah bentuk alternatif dari pemerintahan atau tatanan sosial, dengan memanfaatkan algoritme komputer, terutama kecerdasan buatan dan blockchain, yang diterapkan pada peraturan, penegakan hukum, dan umumnya diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari seperti transportasi atau pendaftaran tanah.[1][2][3][4][5][6][7][8] Istilah 'pemerintahan dengan algoritma' muncul dalam literatur akademis sebagai alternatif dari gagasan 'tata kelola algoritmik' pada tahun 2013.[9] Istilah yang terkait, regulasi algoritmik didefinisikan sebagai pengaturan standar, pemantauan dan modifikasi perilaku melalui algoritma komputasi, otomatisasi peradilan juga berada dalam ruang lingkup regulasi algoritmik.[10]

Pemerintah algoritmik menimbulkan tantangan baru yang tidak muncul dalam literatur pemerintahan elektronik dan praktik administrasi publik.[11] Beberapa sumber menyamakannya dengan siberokrasi, bentuk pemerintahan hipotetis yang mengatur penggunaan informasi secara efektif,[12][13][14] dengan pemerintahan algoritmik. Namun algoritma sebenarnya bukan satu-satunya cara memproses informasi.[15][16] Nello Cristianini dan Teresa Scantamburlo berpendapat bahwa kombinasi dari masyarakat manusia dan algoritma regulasi tertentu (seperti penilaian berbasis reputasi) akan mampu membentuk sebuah mesin sosial.[17]

Sejarah

Pada tahun 1962, Direktur Institut Masalah Transmisi Informasi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di Moskow (kemudian dikenal sebagai Institut Kharkevich),[18] Alexander Kharkevich, menerbitkan sebuah artikel di jurnal Communist mengenai jaringan komputer untuk pemrosesan informasi dan pengendalian ekonomi.[19] Secara khusus, ia mengusulkan pembentukan jaringan yang menyerupai internet modern untuk memenuhi kebutuhan tata kelola algoritmik (Proyek OGAS). Gagasan ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan analis CIA.[20] Salah satunya, Arthur M. Schlesinger Jr., memperingatkan bahwa "pada tahun 1970, Uni Soviet mungkin memiliki teknologi produksi yang benar-benar baru, yang melibatkan keseluruhan perusahaan atau kompleks industri, yang dikelola oleh sistem kendali umpan balik tertutup dengan komputer yang mampu belajar sendiri."[21]

Antara tahun 1971 dan 1973, pemerintah Chili melaksanakan Proyek Cybersyn pada masa kepresidenan Salvador Allende. Proyek ini bertujuan membangun sistem pendukung keputusan terdistribusi untuk meningkatkan pengelolaan ekonomi nasional. Beberapa elemen dari proyek ini digunakan pada tahun 1972 untuk berhasil mengatasi kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh aksi mogok empat puluh ribu sopir truk yang didukung oleh CIA.[22]

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, Herbert A. Simon turut mempopulerkan sistem pakar sebagai alat untuk merasionalisasi dan mengevaluasi perilaku administratif. Otomatisasi proses berbasis aturan telah menjadi ambisi lembaga perpajakan selama beberapa dekade, dengan hasil yang bervariasi.[23] Karya awal dari periode ini termasuk proyek TAXMAN yang berpengaruh dari Thorne McCarty di Amerika Serikat, dan proyek LEGOL dari Ronald Stamper di Inggris. Pada tahun 1993, ilmuwan komputer Paul Cockshott dari Universitas Glasgow dan ekonom Allin Cottrell dari Universitas Wake Forest menerbitkan buku Towards a New Socialism, di mana mereka mengklaim bahwa mereka menunjukkan kemungkinan ekonomi terencana secara demokratis yang dibangun dengan teknologi komputer modern.[24] Hakim Michael Kirby menerbitkan sebuah makalah pada tahun 1998, di mana ia menyatakan optimisme bahwa teknologi komputer yang tersedia saat itu seperti sistem pakar hukum dapat berkembang menjadi sistem komputer yang akan memberikan pengaruh besar terhadap praktik pengadilan.[25]

Sejak tahun 2000-an, algoritmik telah dirancang dan digunakan untuk secara otomatis menganalisis rekaman video pengawasan.[26] Dalam bukunya Virtual Migration yang terbit pada tahun 2006, A. Aneesh mengembangkan konsep algocracy yaitu ketika teknologi informasi membatasi partisipasi manusia dalam pengambilan keputusan publik.[27][28] Aneesh membedakan sistem algokratis dari sistem birokratis (regulasi berbasis hukum dan rasional) serta dari sistem berbasis pasar (regulasi berbasis harga).

Pada tahun 2017, Kementerian Kehakiman Ukraina menjalankan lelang pemerintahan eksperimental dengan menggunakan teknologi blockchain untuk memastikan transparansi dan menghambat korupsi dalam transaksi pemerintahan. "Pemerintahan oleh Algoritma?" menjadi tema utama yang diangkat dalam konferensi Data for Policy 2017 yang diselenggarakan pada 6–7 September 2017 di London.[29]

Pranala luar

Daftar pustaka

Referensi

  1. Karen Yeung. Algorithmic regulation: A critical interrogation. Regulation & Governance. December 2018. Vol. 12 (4). hlm. 505–523. doi:10.1111/rego.12158.
  2. Eden Medina. Rethinking algorithmic regulation. Kybernetes. 2015. Vol. 44.6/7 (6/7). hlm. 1005–1019. doi:10.1108/K-02-2015-0052.
  3. Zeynep Engin. Algorithmic Government: Automating Public Services and Supporting Civil Servants in using Data Science Technologies. The Computer Journal. March 2019. Vol. 62 (3). hlm. 448–460. doi:10.1093/comjnl/bxy082.
  4. Christian Katzenbach. Algorithmic governance. Internet Policy Review. 29 November 2019. Vol. 8 (4). doi:10.14763/2019.4.1424.
  5. Stanford Law School. Government by Algorithm: A Review and an Agenda. Stanford Law School.
  6. Rubén Rodríguez Abril. DERECOM. Derecho de la Comunicación. - An approach to the algorithmic legal order and to its civil, trade and financial projection. www.derecom.com.
  7. Rule by Algorithm? Big Data and the Threat of Algocracy. ieet.org.
  8. Kevin Werbach. The Siren Song: Algorithmic Governance By Blockchain. Social Science Research Network. 24 September 2018..
  9. Ben Williamson. Decoding identity: Reprogramming pedagogic identities through algorithmic governance. British Educational Research Association Conference.
  10. Mireille Hildebrandt. Algorithmic regulation and the rule of law. Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 6 August 2018. Vol. 376 (2128). hlm. 20170355. doi:10.1098/rsta.2017.0355.
  11. Michael Veale. Administration by Algorithm? Public Management Meets Public Sector Machine Learning. Social Science Research Network. 2019.
  12. David Ronfeldt. Cyberocracy, Cyberspace, and Cyberology:Political Effects of the Information Revolution. RAND Corporation. 1991.
  13. David Ronfeldt. Cyberocracy is Coming. RAND Corporation. 1992.
  14. David Ronfeldt. The Prospects for Cyberocracy (Revisited). Social Science Research Network. 1 December 2008..
  15. Opinion Transparency in governance, through cyberocracy. kathmandupost.com.
  16. Alex Hudson. 'Far more than surveillance' is happening and could change how government is run. Metro. 28 August 2019.
  17. Nello Cristianini. On social machines for algorithmic regulation. AI & Society. 8 October 2019. Vol. 35 (3). hlm. 645–662. doi:10.1007/s00146-019-00917-8.
  18. Organisations: Institute for Information Transmission Problems of the Russian Academy of Sciences (Kharkevich Institute): Institute for Information Transmission Problems of the Russian Academy of Sciences (Kharkevich Institute), Moscow, Russia. www.mathnet.ru.
  19. sumber. csef.ru.
  20. The Tangled History of Soviet Computer Science. web.archive.org. 2021-09-22.
  21. The Tangled History of Soviet Computer Science. web.archive.org. 2021-09-22.
  22. Eden Medina. Rethinking algorithmic regulation. Kybernetes. 2015-01-01. Vol. 44 (6/7). hlm. 1005–1019. doi:10.1108/K-02-2015-0052.
  23. Information technology in government: Britain and America. Routledge. 1999. ISBN 978-0-203-20803-8.
  24. William Paul Cockshott. Towards a new socialism. Spokesman. 1993. ISBN 978-0-85124-545-4.
  25. Christopher Tay. Contracts, Technology and Electronic Commerce: The Evolution Continues. Journal of Law and Information Science. 1998. Vol. 9. hlm. 177.
  26. Angela A. Sodemann. A Review of Anomaly Detection in Automated Surveillance. IEEE Transactions on Systems, Man, and Cybernetics, Part C (Applications and Reviews). 2012-11. Vol. 42 (6). hlm. 1257–1272. doi:10.1109/TSMCC.2012.2215319.
  27. Christopher Kelty. Global “Body Shopping”: An Indian Labor System in the Information Technology Industry by Biao Xiang Virtual Migration: The Programming of Globalization by A. Aneesh. PoLAR: Political and Legal Anthropology Review. 2009. Vol. 32 (1). hlm. 156–160. doi:10.1111/j.1555-2934.2009.01035.x.
  28. John Danaher. The Threat of Algocracy: Reality, Resistance and Accommodation. Philosophy and Technology. 2016. Vol. 29 (3). hlm. 245–268. doi:10.1007/s13347-015-0211-1.
  29. Data for Policy 2017 Call - Data for Policy. 2023-09-04.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28369951 (2025-11-07T06:55:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.