Perantau: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27401190; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 4: | Baris 4: | ||
Cerpen-cerpen dalam '''' diterbitkan di sejumlah [[media massa]] terkemuka seperti ''[[Kompas]], [[Koran Tempo]], [[Media Indonesia]], [[Horison]]'', dan ''[[Padang Ekspress]]''. Perantau adalah kumpulan cerpen ke-empat Gus tf Sakai, setelah ''Istana Ketirisan'' (1996), ''Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta'' (1999), dan ''Laba-laba'' (2003). ''Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta'' memenangi Hadiah Sastra Lontar (2001) dan penghargaan sastra Pusat Bahasa (2002), diterjemahkan ke bahasa [[Inggris]] oleh [[Yayasan Lontar|The Lontar Foundation]] dengan judul ''The Barber'' (2002). Buku ini juga menerima SEA Write Award 2004. | Cerpen-cerpen dalam '''' diterbitkan di sejumlah [[media massa]] terkemuka seperti ''[[Kompas]], [[Koran Tempo]], [[Media Indonesia]], [[Horison]]'', dan ''[[Padang Ekspress]]''. Perantau adalah kumpulan cerpen ke-empat Gus tf Sakai, setelah ''Istana Ketirisan'' (1996), ''Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta'' (1999), dan ''Laba-laba'' (2003). ''Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta'' memenangi Hadiah Sastra Lontar (2001) dan penghargaan sastra Pusat Bahasa (2002), diterjemahkan ke bahasa [[Inggris]] oleh [[Yayasan Lontar|The Lontar Foundation]] dengan judul ''The Barber'' (2002). Buku ini juga menerima SEA Write Award 2004. | ||
'''' menceritakan, di sebuah kampung di Tanah Air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ''Perantau'', Gus tf Sakai justru dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau. Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen ''Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas'' mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Pada cerpen ''Belatung'' mengangkat kisah tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Sedangka cerpen ''Kami Lepas Anak Kami'' mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional. | '''' menceritakan, di sebuah kampung di Tanah Air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ''Perantau'', Gus tf Sakai justru dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau. Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen ''Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas'' mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Pada cerpen ''Belatung'' mengangkat kisah tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Sedangka cerpen ''Kami Lepas Anak Kami'' mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<ref>[http://www.kusalasastrakhatulistiwa.com/pemenang/ Kusala Sastra Khatulistiwa].</ref><ref>[http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau Good Reads: Perantau]</ref><ref>[http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-10/novel-fiksi-cerpen/perantau.html Bukupedia: Perantau].</ref><ref>[http://www.gramediapustakautama.com/penulis-detail/34512/Gus-tf-Sakai Gramedia Pustaka Utama: Perantau].</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perantau&oldid=27401190 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27401190 (2025-06-13T09:05:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perantau&oldid=27401190 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27401190 (2025-06-13T09:05:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 23.11
''''' adalah judul buku kumpulan cerita pendek karya Gus tf Sakai yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama 2007. Buku ini mengantarkan Gus tf Sakai Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori Prosa pada tahun 2007. Penghargaan serupa, tahun itu juga diberikan kepada Farida Susanty melalui karyanya, Dan Hujan Pun Berhenti, untuk kategori Penulis Muda Berbakat. ' mengisahkan dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.
Latar belakang
Cerpen-cerpen dalam ' diterbitkan di sejumlah media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen ke-empat Gus tf Sakai, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar (2001) dan penghargaan sastra Pusat Bahasa (2002), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Buku ini juga menerima SEA Write Award 2004.
' menceritakan, di sebuah kampung di Tanah Air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen Perantau, Gus tf Sakai justru dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau. Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Pada cerpen Belatung mengangkat kisah tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Sedangka cerpen Kami Lepas Anak Kami mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.[1][2][3][4]
Lihat pula
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27401190 (2025-06-13T09:05:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.