Lompat ke isi

Pengkodean perasaan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29456784; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Pengkodean perasaan''' ([[bahasa Inggris]]: '''') adalah teknik pengembangan perangkat lunak dengan bantuan [[Kecerdasan buatan|akal imitasi]] yang dipopulerkan oleh Andrej Karpathy pada bulan Februari 2025. Istilah tersebut dicantumkan di situs web [[Merriam-Webster]] bulan berikutnya sebagai istilah "slang & trendi". Kata ini dinobatkan sebagai [[Kata tahun ini|Kata Tahun Ini]] oleh [[Collins English Dictionary|Collins Dictionary]] untuk tahun 2025.
'''Pengkodean perasaan''' ([[bahasa Inggris]]: '''') adalah teknik pengembangan perangkat lunak dengan bantuan [[Kecerdasan buatan|akal imitasi]] yang dipopulerkan oleh Andrej Karpathy pada bulan Februari 2025.<ref>Benj Edwards. [https://arstechnica.com/ai/2025/03/is-vibe-coding-with-ai-gnarly-or-reckless-maybe-some-of-both/ Will the future of software development run on vibes?]. ''Ars Technica''. 5 March 2025.</ref><ref>[https://timesofindia.indiatimes.com/technology/tech-news/what-is-vibe-coding-former-tesla-ai-director-andrej-karpathy-defines-a-new-era-in-ai-driven-development/articleshow/118659724.cms What is 'vibe code'? Former Tesla AI director Andrej Karpathy defines a new era in AI-driven development]. ''The Times of India''. 2 March 2025.</ref><ref>Andrej Karpathy. ''There's a new kind of coding I call "vibe coding", where you fully give in to the vibes, embrace exponentials, and forget that the code even exists. It's possible because the LLMs (e.g. Cursor Composer w Sonnet) are getting too good. Also I just talk to Composer with SuperWhisper so I barely even touch the keyboard. I ask for the dumbest things like "decrease the padding on the sidebar by half" because I'm too lazy to find it. I "Accept All" always, I don't read the diffs anymore. When I get error messages I just copy paste them in with no comment, usually that fixes it. The code grows beyond my usual comprehension, I'd have to really read through it for a while. Sometimes the LLMs can't fix a bug so I just work around it or ask for random changes until it goes away. It's not too bad for throwaway weekend projects, but still quite amusing. I'm building a project or webapp, but it's not really coding - I just see stuff, say stuff, run stuff, and copy paste stuff, and it mostly works''.</ref> Istilah tersebut dicantumkan di situs web [[Merriam-Webster]] bulan berikutnya sebagai istilah "slang & trendi".<ref>[https://www.merriam-webster.com/slang/vibe-coding vibe coding]. ''Slang & Trending''. Merriam-Webster. 8 March 2025.</ref> Kata ini dinobatkan sebagai [[Kata tahun ini|Kata Tahun Ini]] oleh [[Collins English Dictionary|Collins Dictionary]] untuk tahun 2025.<ref>Jenny Garnsworthy. [https://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/collins-word-year-vibe-coding-meaning-b2859361.html Collins dictionary crowns AI buzz term Word of the Year]. ''The Independent''. 6 November 2025.</ref><ref>[https://www.bbc.com/news/articles/cpd2y053nleo 'Vibe coding' named word of the year by Collins Dictionary]. ''BBC News''. 6 November 2025.</ref>


Pengodean perasaan menggambarkan pendekatan berbasis [[bot obrolan]] untuk menciptakan perangkat lunak di mana pengembang menjabarkan proyek atau tugas ke [[model bahasa besar]] yang kemudian menghasilkan kode berdasarkan perintah tersebut. Pengembang tidak meninjau atau menyunting kode, tetapi hanya menggunakan kode dari hasil eksekusi akhir dan melakukan evaluasi serta perbaikan kode dilakukan oleh alat tersebut juga. Tidak seperti pengodean dengan bantuan [[Kecerdasan buatan|akal imitasi]] tradisional, pengembang manusia menghindari pemeriksaan kode, menerima penyelesaian yang disarankan tanpa peninjauan manusia, dan lebih fokus pada percobaan berulang daripada ketepatan atau struktur kode yang dihasilkan.
Pengodean perasaan menggambarkan pendekatan berbasis [[bot obrolan]] untuk menciptakan perangkat lunak di mana pengembang menjabarkan proyek atau tugas ke [[model bahasa besar]] yang kemudian menghasilkan kode berdasarkan perintah tersebut. Pengembang tidak meninjau atau menyunting kode, tetapi hanya menggunakan kode dari hasil eksekusi akhir dan melakukan evaluasi serta perbaikan kode dilakukan oleh alat tersebut juga. Tidak seperti pengodean dengan bantuan [[Kecerdasan buatan|akal imitasi]] tradisional, pengembang manusia menghindari pemeriksaan kode, menerima penyelesaian yang disarankan tanpa peninjauan manusia, dan lebih fokus pada percobaan berulang daripada ketepatan atau struktur kode yang dihasilkan.


Para pendukung pengodean perasaan mengatakan bahwa hal ini memungkinkan bahkan [[Pengembangan perangkat lunak|pemrogram amatir]] untuk menghasilkan perangkat lunak tanpa pelatihan dan keterampilan ekstensif yang dibutuhkan untuk [[rekayasa perangkat lunak]]. Namun, para pengkritik menunjukkan kurangnya pertanggungjawaban, pemeliharaan, dan peningkatan risiko munculnya [[Keamanan komputer|kerentanan keamanan]] dalam [[perangkat lunak]] yang dihasilkan.
Para pendukung pengodean perasaan mengatakan bahwa hal ini memungkinkan bahkan [[Pengembangan perangkat lunak|pemrogram amatir]] untuk menghasilkan perangkat lunak tanpa pelatihan dan keterampilan ekstensif yang dibutuhkan untuk [[rekayasa perangkat lunak]].<ref>Jose Antonio Lanz. [https://decrypt.co/311144/vibe-coding-using-ai-create-apps-games Vibe Coding: How Devs and Laymen Alike Are Using AI to Create Apps and Games]. ''Decrypt.co''. 23 March 2025.</ref><ref>Hasan Chowdhury. [https://www.businessinsider.com/vibe-coding-ai-silicon-valley-andrej-karpathy-2025-2 Silicon Valley's next act: bringing 'vibe coding' to the world]. ''Business Insider''. 13 February 2025.</ref> Namun, para pengkritik menunjukkan kurangnya pertanggungjawaban, pemeliharaan, dan peningkatan risiko munculnya [[Keamanan komputer|kerentanan keamanan]] dalam [[perangkat lunak]] yang dihasilkan.<ref>Benj Edwards. [https://arstechnica.com/ai/2025/03/is-vibe-coding-with-ai-gnarly-or-reckless-maybe-some-of-both/ Will the future of software development run on vibes?]. ''Ars Technica''. 5 March 2025.</ref><ref>Hasan Chowdhury. [https://www.businessinsider.com/vibe-coding-ai-silicon-valley-andrej-karpathy-2025-2 Silicon Valley's next act: bringing 'vibe coding' to the world]. ''Business Insider''. 13 February 2025.</ref>


== Konsep dan Mekanisme ==
== Konsep dan Mekanisme ==
Baris 19: Baris 19:


== Analisis Kritis ==
== Analisis Kritis ==
=== Utang Teknis dan Kualitas Kode ===
=== Utang Teknis dan Kualitas Kode ===
Kritik utama terhadap pengodean perasaan adalah akumulasi [[Utang teknis|utang teknis]] (''technical debt'') yang masif. Karena kode dibuat secara instan tanpa memikirkan struktur jangka panjang, analisis industri menunjukkan adanya penurunan drastis pada aktivitas [[Refaktor kode|refaktorisasi kode]] dan lonjakan kode duplikat hasil salin-tempel otonom oleh akal imitasi. Hal ini membuat perangkat lunak yang dibangun dengan metode ini sangat sulit untuk dipelihara (''unmaintainable'') begitu skalanya membesar.
Kritik utama terhadap pengodean perasaan adalah akumulasi [[Utang teknis|utang teknis]] (''technical debt'') yang masif. Karena kode dibuat secara instan tanpa memikirkan struktur jangka panjang, analisis industri menunjukkan adanya penurunan drastis pada aktivitas [[Refaktor kode|refaktorisasi kode]] dan lonjakan kode duplikat hasil salin-tempel otonom oleh akal imitasi. Hal ini membuat perangkat lunak yang dibangun dengan metode ini sangat sulit untuk dipelihara (''unmaintainable'') begitu skalanya membesar.
Baris 29: Baris 28:
Sebuah kajian ilmiah berjudul *"Vibe Coding Kills Open Source"* menjelaskan bahwa tren ini mengancam keberlangsungan [[perangkat lunak sumber terbuka]]. Pengodean perasaan memotong interaksi langsung antara pengguna dan pemelihara repositori (''maintainer''), sehingga proyek sumber terbuka kehilangan umpan balik berkualitas dan kontribusi balik berupa perbaikan kode dari manusia. Selain itu, akal imitasi cenderung hanya merekomendasikan pustaka kode (''library'') populer yang mendominasi data pelatihannya, mematikan inovasi dari proyek-proyek sumber terbuka baru yang lebih kecil.
Sebuah kajian ilmiah berjudul *"Vibe Coding Kills Open Source"* menjelaskan bahwa tren ini mengancam keberlangsungan [[perangkat lunak sumber terbuka]]. Pengodean perasaan memotong interaksi langsung antara pengguna dan pemelihara repositori (''maintainer''), sehingga proyek sumber terbuka kehilangan umpan balik berkualitas dan kontribusi balik berupa perbaikan kode dari manusia. Selain itu, akal imitasi cenderung hanya merekomendasikan pustaka kode (''library'') populer yang mendominasi data pelatihannya, mematikan inovasi dari proyek-proyek sumber terbuka baru yang lebih kecil.


== Rujukan ==
== Referensi ==
=== Catatan kaki ===
<references />
 
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengkodean+perasaan&oldid=29456784 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29456784 (2026-07-14T07:55:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengkodean+perasaan&oldid=29456784 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29456784 (2026-07-14T07:55:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 04.20

Pengkodean perasaan (bahasa Inggris: ') adalah teknik pengembangan perangkat lunak dengan bantuan akal imitasi yang dipopulerkan oleh Andrej Karpathy pada bulan Februari 2025.[1][2][3] Istilah tersebut dicantumkan di situs web Merriam-Webster bulan berikutnya sebagai istilah "slang & trendi".[4] Kata ini dinobatkan sebagai Kata Tahun Ini oleh Collins Dictionary untuk tahun 2025.[5][6]

Pengodean perasaan menggambarkan pendekatan berbasis bot obrolan untuk menciptakan perangkat lunak di mana pengembang menjabarkan proyek atau tugas ke model bahasa besar yang kemudian menghasilkan kode berdasarkan perintah tersebut. Pengembang tidak meninjau atau menyunting kode, tetapi hanya menggunakan kode dari hasil eksekusi akhir dan melakukan evaluasi serta perbaikan kode dilakukan oleh alat tersebut juga. Tidak seperti pengodean dengan bantuan akal imitasi tradisional, pengembang manusia menghindari pemeriksaan kode, menerima penyelesaian yang disarankan tanpa peninjauan manusia, dan lebih fokus pada percobaan berulang daripada ketepatan atau struktur kode yang dihasilkan.

Para pendukung pengodean perasaan mengatakan bahwa hal ini memungkinkan bahkan pemrogram amatir untuk menghasilkan perangkat lunak tanpa pelatihan dan keterampilan ekstensif yang dibutuhkan untuk rekayasa perangkat lunak.[7][8] Namun, para pengkritik menunjukkan kurangnya pertanggungjawaban, pemeliharaan, dan peningkatan risiko munculnya kerentanan keamanan dalam perangkat lunak yang dihasilkan.[9][10]

Konsep dan Mekanisme

Secara operasional, pengodean perasaan mengandalkan ekosistem alat pengembangan berbasis akal imitasi (seperti Cursor, GitHub Copilot, Lovable, atau Replit Agent) yang digerakkan oleh perintah bahasa alami. Pengembang bertindak seperti seorang manajer proyek atau sutradara: mereka mengamati keluaran program, memberikan umpan balik verbal atau tekstual, dan membiarkan model bahasa besar menulis, menempatkan, serta memperbaiki kutu secara otonom.

Perbedaan mendasar antara pengodean perasaan dengan pemrograman berbantuan akal imitasi konvensional terletak pada tingkat keterlibatan manusia terhadap detail teknis:

  • **Pemrograman Konvensional Berbantuan AI:** Manusia menulis struktur dasar, membaca baris kode yang disarankan akal imitasi, melakukan peninjauan kode (code review), dan memastikan kepatuhan arsitektur sebelum menggabungkannya ke dalam repositori.
  • **Pengodean Perasaan:** Manusia sepenuhnya mengabaikan berkas kode mentah, menyetujui semua perubahan secara massal (Accept All), dan menyerahkan proses penelusuran kesalahan (debugging) kembali kepada akal imitasi dengan cara menyalin-tempel pesan log kesalahan tanpa analisis mandiri.

Penerimaan Industri dan Eksperimen

Sejak diperkenalkan pada awal 2025, fenomena ini memicu gelombang adopsi sekaligus perdebatan di industri teknologi:

  • **Eksperimen Jurnalisme:** Kevin Roose dari The New York Times mencoba teknik ini untuk membangun aplikasi fungsional tanpa latar belakang pemrogram profesional. Ia menyebut hasilnya sebagai era "perangkat lunak untuk satu orang" (one-person software), meskipun ia mengakui sistem ini rentan menghasilkan fitur tak terduga seperti ulasan palsu otonom pada platform e-niaga yang ia buat.
  • **Adopsi Perusahaan Rintisan:** Inkubator modal ventura Y Combinator mencatat tren di mana sebagian perusahaan rintisan baru dalam kohort mereka mulai mengandalkan basis kode yang mayoritasnya (hingga 95%) dihasilkan secara generatif lewat instruksi bahasa alami.
  • **Respon Tokoh Teknologi:** Andrew Ng mengkritik istilah ini karena dianggap mendegradasi pekerjaan insinyur perangkat lunak menjadi sekadar "mengikuti suasana perasaan", padahal proses mengarahkan akal imitasi tetap membutuhkan ketelitian logika. Sebaliknya, tokoh seperti Linus Torvalds dilaporkan sempat memanfaatkan komponen visualisasi berbasis pengodean perasaan dalam proyek hobi skala kecilnya.

Analisis Kritis

Utang Teknis dan Kualitas Kode

Kritik utama terhadap pengodean perasaan adalah akumulasi utang teknis (technical debt) yang masif. Karena kode dibuat secara instan tanpa memikirkan struktur jangka panjang, analisis industri menunjukkan adanya penurunan drastis pada aktivitas refaktorisasi kode dan lonjakan kode duplikat hasil salin-tempel otonom oleh akal imitasi. Hal ini membuat perangkat lunak yang dibangun dengan metode ini sangat sulit untuk dipelihara (unmaintainable) begitu skalanya membesar.

Paradoks Produktivitas

Meskipun pengodean perasaan mempercepat pembuatan prototipe awal bagi pemrogram amatir, studi dari organisasi evaluasi model seperti METR menunjukkan bahwa bagi pengembang profesional yang menangani sistem kompleks, ketergantungan penuh pada akal imitasi dapat menurunkan kecepatan kerja efektif hingga 19%. Hal ini disebabkan oleh waktu yang terbuang ketika model mengalami halusinasi arsitektur atau terjebak dalam lingkaran kesalahan berulang (infinite debugging loop).

Ancaman Ekosistem Sumber Terbuka

Sebuah kajian ilmiah berjudul *"Vibe Coding Kills Open Source"* menjelaskan bahwa tren ini mengancam keberlangsungan perangkat lunak sumber terbuka. Pengodean perasaan memotong interaksi langsung antara pengguna dan pemelihara repositori (maintainer), sehingga proyek sumber terbuka kehilangan umpan balik berkualitas dan kontribusi balik berupa perbaikan kode dari manusia. Selain itu, akal imitasi cenderung hanya merekomendasikan pustaka kode (library) populer yang mendominasi data pelatihannya, mematikan inovasi dari proyek-proyek sumber terbuka baru yang lebih kecil.

Referensi

  1. Benj Edwards. Will the future of software development run on vibes?. Ars Technica. 5 March 2025.
  2. What is 'vibe code'? Former Tesla AI director Andrej Karpathy defines a new era in AI-driven development. The Times of India. 2 March 2025.
  3. Andrej Karpathy. There's a new kind of coding I call "vibe coding", where you fully give in to the vibes, embrace exponentials, and forget that the code even exists. It's possible because the LLMs (e.g. Cursor Composer w Sonnet) are getting too good. Also I just talk to Composer with SuperWhisper so I barely even touch the keyboard. I ask for the dumbest things like "decrease the padding on the sidebar by half" because I'm too lazy to find it. I "Accept All" always, I don't read the diffs anymore. When I get error messages I just copy paste them in with no comment, usually that fixes it. The code grows beyond my usual comprehension, I'd have to really read through it for a while. Sometimes the LLMs can't fix a bug so I just work around it or ask for random changes until it goes away. It's not too bad for throwaway weekend projects, but still quite amusing. I'm building a project or webapp, but it's not really coding - I just see stuff, say stuff, run stuff, and copy paste stuff, and it mostly works.
  4. vibe coding. Slang & Trending. Merriam-Webster. 8 March 2025.
  5. Jenny Garnsworthy. Collins dictionary crowns AI buzz term Word of the Year. The Independent. 6 November 2025.
  6. 'Vibe coding' named word of the year by Collins Dictionary. BBC News. 6 November 2025.
  7. Jose Antonio Lanz. Vibe Coding: How Devs and Laymen Alike Are Using AI to Create Apps and Games. Decrypt.co. 23 March 2025.
  8. Hasan Chowdhury. Silicon Valley's next act: bringing 'vibe coding' to the world. Business Insider. 13 February 2025.
  9. Benj Edwards. Will the future of software development run on vibes?. Ars Technica. 5 March 2025.
  10. Hasan Chowdhury. Silicon Valley's next act: bringing 'vibe coding' to the world. Business Insider. 13 February 2025.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29456784 (2026-07-14T07:55:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.