Lompat ke isi

Psikosis AI: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28883951; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 2: Baris 2:


== Sejarah dan asal istilah ==
== Sejarah dan asal istilah ==
Istilah ''chatbot psychosis'' muncul ketika [[psikiater]] [[Denmark]], Søren Dinesen Østergaard menerbitkan sebuah [[Tajuk rencana|editorial]] yang muncul pada tahun 2023 yang mengusulkan bahwa penggunaan chatbot AI generatif mungkin bisa memicu delusi pada individu yang memiliki kerentanan terhadap psikosis. Sejak pertengahan tahun 2025, media populer mulai melaporkan kasus-kasus publik yang dikaitkan dengan fenomena ini, yang dalam pemberitaannya kerap disebut sebagai “AI psychosis” atau “Chatbot psychosis”.
Istilah ''chatbot psychosis'' muncul ketika [[psikiater]] [[Denmark]], Søren Dinesen Østergaard menerbitkan sebuah [[Tajuk rencana|editorial]] yang muncul pada tahun 2023 yang mengusulkan bahwa penggunaan chatbot AI generatif mungkin bisa memicu delusi pada individu yang memiliki kerentanan terhadap psikosis.<ref>Søren Dinesen Østergaard. [https://academic.oup.com/schizophreniabulletin/article/49/6/1418/7251361 Will Generative Artificial Intelligence Chatbots Generate Delusions in Individuals Prone to Psychosis?]. ''Schizophrenia Bulletin''. 2023-11-29. Vol. 49 (6). hlm. 1418–1419. doi:10.1093/schbul/sbad128.</ref> Sejak pertengahan tahun 2025, media populer mulai melaporkan kasus-kasus publik yang dikaitkan dengan fenomena ini, yang dalam pemberitaannya kerap disebut sebagai “AI psychosis” atau “Chatbot psychosis”.<ref>[https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Chatbot_psychosis&oldid=1315443223 Chatbot psychosis]. ''Wikipedia''. 2025-10-06.</ref>


Meskipun mendapat banyak perhatian dari [[publik]], para ahli psikiatri berhati-hati dalam menilai fenomena ini. banyak di antara mereka berpendapat bahwa ''psikosis AI'' bukanlah jenis gangguan baru, melainkan bentuk lanjutan dari gejala psikosis yang sudah ada sebelumnya, yang dapat dipicu atau diperburuk oleh interaksi dengan AI.
Meskipun mendapat banyak perhatian dari [[publik]], para ahli psikiatri berhati-hati dalam menilai fenomena ini. banyak di antara mereka berpendapat bahwa ''psikosis AI'' bukanlah jenis gangguan baru, melainkan bentuk lanjutan dari gejala psikosis yang sudah ada sebelumnya, yang dapat dipicu atau diperburuk oleh interaksi dengan AI.<ref>O. Rose Broderick. [https://www.statnews.com/2025/09/02/ai-psychosis-delusions-explained-folie-a-deux/ As reports of ‘AI psychosis’ spread, clinicians scramble to understand how chatbots can spark delusions]. ''STAT''. 2025-09-02.</ref>


== Karakteristik dan gejala ==
== Karakteristik dan gejala ==
Berdasarkan sejumlah laporan kasus dan pembahasan di [[media sosial]], fenomena ini umumnya menunjukkan beberapa ciri khas berikut (meskipun tidak semua [[penderita]]nya mengalami gejala yang sama):
Berdasarkan sejumlah laporan kasus dan pembahasan di [[media sosial]], fenomena ini umumnya menunjukkan beberapa ciri khas berikut (meskipun tidak semua [[penderita]]nya mengalami gejala yang sama):


* Delusi terkait AI: Keyakinan bahwa chatbot atau sistem AI memiliki perasaan atau sedang [[Komunikasi|berkomunikasi]] khusus dengannya.
* Delusi terkait AI: Keyakinan bahwa chatbot atau sistem AI memiliki perasaan atau sedang [[Komunikasi|berkomunikasi]] khusus dengannya.<ref>Pooja Toshniwal Paharia. [https://www.news-medical.net/health/AI-Psychosis-How-Artificial-Intelligence-May-Trigger-Delusions-and-Paranoia.aspx AI Psychosis: How Artificial Intelligence May Trigger Delusions and Paranoia]. ''News-Medical''. 2025-09-16.</ref>
* Paranoia atau [[pengawasan]]: Muncul keyakinan sedang diawasi atau dikontrol oleh [[Elektronika digital|sistem digital]].
* Paranoia atau [[pengawasan]]: Muncul keyakinan sedang diawasi atau dikontrol oleh [[Elektronika digital|sistem digital]].<ref>Allen Frances MD. [https://www.psychiatrictimes.com/view/preliminary-report-on-chatbot-iatrogenic-dangers Preliminary Report on Chatbot Iatrogenic Dangers Psychiatric Times]. ''www.psychiatrictimes.com''. 2025-10-12.</ref>
* Kesulitan membedakan [[Kenyataan|realitas]]: Kebingungan antara apa yang nyata dan apa yang dihasilkan AI.
* Kesulitan membedakan [[Kenyataan|realitas]]: Kebingungan antara apa yang nyata dan apa yang dihasilkan AI.  
* Keterikatan [[emosi]]onal terhadap AI: Menjadikan AI sebagai teman dekat, penasihat tak tergantikan, atau sosok yang “mengerti [[jiwa]]”.
* Keterikatan [[emosi]]onal terhadap AI: Menjadikan AI sebagai teman dekat, penasihat tak tergantikan, atau sosok yang “mengerti [[jiwa]]”.


Baris 19: Baris 19:
Karena belum ada [[konsensus ilmiah]], sebagian besar penjelasan bersifat spekulatif atau [[hipotesis]]:
Karena belum ada [[konsensus ilmiah]], sebagian besar penjelasan bersifat spekulatif atau [[hipotesis]]:


# '''Validasi delusional;''' Beberapa chatbot AI secara algorithm mungkin “mengiyakan” atau mengonfirmasi komentar pengguna tanpa menentangnya secara kritis. Fitur ini bisa memperkuat delusi yang sudah ada atau memicu keyakinan keliru.
# '''Validasi delusional;''' Beberapa chatbot AI secara algorithm mungkin “mengiyakan” atau mengonfirmasi komentar pengguna tanpa menentangnya secara kritis. Fitur ini bisa memperkuat delusi yang sudah ada atau memicu keyakinan keliru.<ref>Allen Frances MD. [https://www.psychiatrictimes.com/view/preliminary-report-on-chatbot-iatrogenic-dangers Preliminary Report on Chatbot Iatrogenic Dangers Psychiatric Times]. ''www.psychiatrictimes.com''. 2025-10-12.</ref>
# '''Desain interaksi yang bersifat [[Pembujukan|persuasi]] / engagement;''' Chatbot sering dirancang agar terus memancing dialog dengan pengguna melalui respons yang tampak mendukung atau [[empati]]k, meskipun tidak akurat secara faktual.
# '''Desain interaksi yang bersifat [[Pembujukan|persuasi]] / engagement;''' Chatbot sering dirancang agar terus memancing dialog dengan pengguna melalui respons yang tampak mendukung atau [[empati]]k, meskipun tidak akurat secara faktual.<ref>[https://hai.stanford.edu/news/exploring-the-dangers-of-ai-in-mental-health-care Exploring the Dangers of AI in Mental Health Care Stanford HAI]. ''hai.stanford.edu''.</ref>
# '''[[Disonansi|Dissonansi kognitif]] & [[ilusi]] kehadiran (presence illusion);''' Interaksi dengan AI yang sangat natural dapat membingungkan sebagian pengguna tentang batas antara mesin dan manusia, sehingga menyebabkan ilusi bahwa AI “mengerti” atau “merespons dengan kesadaran”.
# '''[[Disonansi|Dissonansi kognitif]] & [[ilusi]] kehadiran (presence illusion);''' Interaksi dengan AI yang sangat natural dapat membingungkan sebagian pengguna tentang batas antara mesin dan manusia, sehingga menyebabkan ilusi bahwa AI “mengerti” atau “merespons dengan kesadaran”.
# '''Kerentanan individu;''' Mereka yang memiliki predisposisi terhadap gangguan mental, psikosis ringan, atau kecenderungan delusi mungkin lebih rentan mengalami [[eksaserbasi]] gejala setelah [[Perangsangan|stimulasi]] AI.
# '''Kerentanan individu;''' Mereka yang memiliki predisposisi terhadap gangguan mental, psikosis ringan, atau kecenderungan delusi mungkin lebih rentan mengalami [[eksaserbasi]] gejala setelah [[Perangsangan|stimulasi]] AI.
Baris 42: Baris 42:


== Kritik dan keraguan ilmiah ==
== Kritik dan keraguan ilmiah ==
Sejumlah [[pakar]] menyampaikan keberatan terhadap penggunaan istilah dan [[konsep]] ''Psikosis AI.'' Banyak ahli menilai bahwa fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk baru dari psikosis yang sudah ada, yang dipicu oleh media digital seperti [[Bot obrolan|chatbot]], bukan sebagai gangguan baru yang berdiri sendiri. Beberapa psikiater juga menilai istilah ''AI psychosis'' berpotensi menyesatkan karena terlalu menitikberatkan pada delusi yang berkaitan dengan AI, tanpa mempertimbangkan gejala psikosis lain seperti gangguan pikir formal atau halusinasi.
Sejumlah [[pakar]] menyampaikan keberatan terhadap penggunaan istilah dan [[konsep]] ''Psikosis AI.'' Banyak ahli menilai bahwa fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk baru dari psikosis yang sudah ada, yang dipicu oleh media digital seperti [[Bot obrolan|chatbot]], bukan sebagai gangguan baru yang berdiri sendiri. Beberapa psikiater juga menilai istilah ''AI psychosis'' berpotensi menyesatkan karena terlalu menitikberatkan pada delusi yang berkaitan dengan AI, tanpa mempertimbangkan gejala psikosis lain seperti gangguan pikir formal atau halusinasi.<ref>O. Rose Broderick. [https://www.statnews.com/2025/09/02/ai-psychosis-delusions-explained-folie-a-deux/ As reports of ‘AI psychosis’ spread, clinicians scramble to understand how chatbots can spark delusions]. ''STAT''. 2025-09-02.</ref>


Selain itu, hingga kini belum tersedia data [[Penelitian kuantitatif|kuantitatif]] atau studi kontrol yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan munculnya gejala psikosis. Sejumlah peneliti juga mengingatkan bahwa sebagian laporan kasus mungkin dipengaruhi oleh efek [[plasebo]] atau penafsiran pascakejadian ''(post hoc interpretation)'', di mana individu sebenarnya sudah memiliki kecenderungan psikotik sebelum berinteraksi dengan AI, dan teknologi hanya bertindak sebagai pemicu tambahan. Karena itu, para ahli menekankan agar istilah ''Psikosis AI'' digunakan secara hati-hati, sebatas hipotesis yang masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.
Selain itu, hingga kini belum tersedia data [[Penelitian kuantitatif|kuantitatif]] atau studi kontrol yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan munculnya gejala psikosis. Sejumlah peneliti juga mengingatkan bahwa sebagian laporan kasus mungkin dipengaruhi oleh efek [[plasebo]] atau penafsiran pascakejadian ''(post hoc interpretation)'', di mana individu sebenarnya sudah memiliki kecenderungan psikotik sebelum berinteraksi dengan AI, dan teknologi hanya bertindak sebagai pemicu tambahan. Karena itu, para ahli menekankan agar istilah ''Psikosis AI'' digunakan secara hati-hati, sebatas hipotesis yang masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.<ref>Conor Feehly. [https://www.scientificamerican.com/article/how-ai-chatbots-may-be-fueling-psychotic-episodes/ How AI Echo Chambers May Be Fueling Psychotic Episodes]. ''Scientific American''.</ref>


== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
* [[:en:Hallucination (artificial intelligence)|AI Hallucination]]
* [[:en:Hallucination (artificial intelligence)|AI Hallucination]]
* [[:en:Folie à deux|Folie à deux]]
* [[:en:Folie à deux|Folie à deux]]


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psikosis+AI&oldid=28883951 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28883951 (2026-01-23T10:26:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psikosis+AI&oldid=28883951 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28883951 (2026-01-23T10:26:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 04.21

Psikosis AI (dalam bahasa Inggris sering dibuat AI psychosis atau chatbot psychosis) adalah sebutan informal untuk fenomena psikologis di mana seseorang memanfaatkan atau memperparah gejala psikosis seperti delusi, paranoia, atau daya cerap terganggu setelah berinteraksi secara intens dengan sistem kecerdasan buatan (AI), terutama chatbot generatif. Istilah ini belum diakui sebagai diagnosis klinis resmi dalam buku panduan gangguan mental (seperti DSM atau ICD), dan bukti empirisnya masih sangat terbatas.

Sejarah dan asal istilah

Istilah chatbot psychosis muncul ketika psikiater Denmark, Søren Dinesen Østergaard menerbitkan sebuah editorial yang muncul pada tahun 2023 yang mengusulkan bahwa penggunaan chatbot AI generatif mungkin bisa memicu delusi pada individu yang memiliki kerentanan terhadap psikosis.[1] Sejak pertengahan tahun 2025, media populer mulai melaporkan kasus-kasus publik yang dikaitkan dengan fenomena ini, yang dalam pemberitaannya kerap disebut sebagai “AI psychosis” atau “Chatbot psychosis”.[2]

Meskipun mendapat banyak perhatian dari publik, para ahli psikiatri berhati-hati dalam menilai fenomena ini. banyak di antara mereka berpendapat bahwa psikosis AI bukanlah jenis gangguan baru, melainkan bentuk lanjutan dari gejala psikosis yang sudah ada sebelumnya, yang dapat dipicu atau diperburuk oleh interaksi dengan AI.[3]

Karakteristik dan gejala

Berdasarkan sejumlah laporan kasus dan pembahasan di media sosial, fenomena ini umumnya menunjukkan beberapa ciri khas berikut (meskipun tidak semua penderitanya mengalami gejala yang sama):

  • Delusi terkait AI: Keyakinan bahwa chatbot atau sistem AI memiliki perasaan atau sedang berkomunikasi khusus dengannya.[4]
  • Paranoia atau pengawasan: Muncul keyakinan sedang diawasi atau dikontrol oleh sistem digital.[5]
  • Kesulitan membedakan realitas: Kebingungan antara apa yang nyata dan apa yang dihasilkan AI.
  • Keterikatan emosional terhadap AI: Menjadikan AI sebagai teman dekat, penasihat tak tergantikan, atau sosok yang “mengerti jiwa”.

Perlu ditekankan bahwa laporan ini umumnya bersifat anekdotal atau berdasarkan wawancara media, bukan hasil studi longitudinal berskala besar.

Mekanisme dan faktor risiko (hipotesis)

Karena belum ada konsensus ilmiah, sebagian besar penjelasan bersifat spekulatif atau hipotesis:

  1. Validasi delusional; Beberapa chatbot AI secara algorithm mungkin “mengiyakan” atau mengonfirmasi komentar pengguna tanpa menentangnya secara kritis. Fitur ini bisa memperkuat delusi yang sudah ada atau memicu keyakinan keliru.[6]
  2. Desain interaksi yang bersifat persuasi / engagement; Chatbot sering dirancang agar terus memancing dialog dengan pengguna melalui respons yang tampak mendukung atau empatik, meskipun tidak akurat secara faktual.[7]
  3. Dissonansi kognitif & ilusi kehadiran (presence illusion); Interaksi dengan AI yang sangat natural dapat membingungkan sebagian pengguna tentang batas antara mesin dan manusia, sehingga menyebabkan ilusi bahwa AI “mengerti” atau “merespons dengan kesadaran”.
  4. Kerentanan individu; Mereka yang memiliki predisposisi terhadap gangguan mental, psikosis ringan, atau kecenderungan delusi mungkin lebih rentan mengalami eksaserbasi gejala setelah stimulasi AI.

Karena belum ada penelitian eksperimental kuat, hubungan sebab-akibat tetap belum terbukti.

Studi kasus

Pada Maret 2023, seorang pria Belgia bunuh diri setelah mendiskusikan kekhawatirannya tentang perubahan iklim dengan chatbot Eliza di aplikasi Chai. Setelah menghiburnya selama enam minggu, Eliza menyarankan agar mereka "hidup bersama, sebagai satu pribadi, di surga".

Penyebab

Menurut Fuchs (2021), interaksi antara manusia dan AI seringkali menimbulkan ilusi bahwa pengguna dipahami atau diperhatikan, padahal hal tersebut hanyalah hasil dari proyeksi antropomorfik terhadap sistem yang sebenarnya tidak memiliki intensionalitas maupun emosi. ketika individu mulai membahas pertanyaan yang lebih pribadi dan emosional dengan AI, sistem tersebut dapat menimbulkan efek slippery slope yang memperkuat tema-tema tertentu hingga individu semakin terlepas dari realitas bersama (consensus reality).

Menurut hasil dua studi di Eropa dan Amerika Utara, remaja dengan gejala awal psikosis yang mencari bantuan tetap berisiko mengalami psikosis di kemudian hari (19% dan 35%) karena berbagai faktor sosial dan psikologis (Zhou et al., 2023; Müller et al., 2021).

Menurut Cao dan Liu (2022), anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif pandemi seperti kecemasan, depresi, dan gejala pascatrauma yang dapat meningkatkan risiko psikosis serta memengaruhi kualitas hidup jangka panjang.

Pencegahan dan solusi

Karena dapat berdampak fatal, beberapa pencegahan bisa dilakukan untuk mengurangi efek buruk kepada pengguna dan memperkecil jumlah korban yang akan datang. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah eduksi pengguna sejak awal. Memberikan pemahaman kepada pengguna sejak awal merupakan langkah penting agar pengguna tidak melewati batas dalam penggunaan chatbot. Lalu, pembatasan peran chatbot perlu dilakukan agar chatbot bisa digunakan hanya untuk dukungan ringan dan informasi umum, bukan sebagai pengganti tenaga profesional. Yang terakhir, pengawasan dan regulasi pemerintah juga diperlukan dalam tindakan pencegahan chatbot psychosis. Seperti yang sudah dilakukan pemerintah Illinois melalui undang-undang bernama Wellness and Oversight for Psychological Resources Act , mereka membuat undang-undang dimana mereka melarang chatbot berperan sebagai terapis.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa fenomena ini sudah memakan korban, maka dari itu kita juga membutuhkan solusi konkret yang dapat membantu korban. Langkah pertama adalah membantu individu secara bertahap mengurangi intensitas percakapan dengan chatbot, jangan biarkan mereka semakin tenggelam dalam dunia virtual dan bantu mereka membangun koneksi kembali dengan dunia realita. Dukungan sosial dari orang terdekat korban juga dapat menjadi pondasi penting agar mereka dapat merasa lebih diterima, tidak sendirian, dan lebih mudah kembali terhubung dengan dunia asli. Yang terakhir, dorong mereka untuk menemui tenaga kerja profesional kesehatan mental yang siap menyembuhkan mereka dengan cara penanganan yang tepat.

Kritik dan keraguan ilmiah

Sejumlah pakar menyampaikan keberatan terhadap penggunaan istilah dan konsep Psikosis AI. Banyak ahli menilai bahwa fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk baru dari psikosis yang sudah ada, yang dipicu oleh media digital seperti chatbot, bukan sebagai gangguan baru yang berdiri sendiri. Beberapa psikiater juga menilai istilah AI psychosis berpotensi menyesatkan karena terlalu menitikberatkan pada delusi yang berkaitan dengan AI, tanpa mempertimbangkan gejala psikosis lain seperti gangguan pikir formal atau halusinasi.[8]

Selain itu, hingga kini belum tersedia data kuantitatif atau studi kontrol yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan munculnya gejala psikosis. Sejumlah peneliti juga mengingatkan bahwa sebagian laporan kasus mungkin dipengaruhi oleh efek plasebo atau penafsiran pascakejadian (post hoc interpretation), di mana individu sebenarnya sudah memiliki kecenderungan psikotik sebelum berinteraksi dengan AI, dan teknologi hanya bertindak sebagai pemicu tambahan. Karena itu, para ahli menekankan agar istilah Psikosis AI digunakan secara hati-hati, sebatas hipotesis yang masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.[9]

Lihat juga

Referensi

  1. Søren Dinesen Østergaard. Will Generative Artificial Intelligence Chatbots Generate Delusions in Individuals Prone to Psychosis?. Schizophrenia Bulletin. 2023-11-29. Vol. 49 (6). hlm. 1418–1419. doi:10.1093/schbul/sbad128.
  2. Chatbot psychosis. Wikipedia. 2025-10-06.
  3. O. Rose Broderick. As reports of ‘AI psychosis’ spread, clinicians scramble to understand how chatbots can spark delusions. STAT. 2025-09-02.
  4. Pooja Toshniwal Paharia. AI Psychosis: How Artificial Intelligence May Trigger Delusions and Paranoia. News-Medical. 2025-09-16.
  5. Allen Frances MD. Preliminary Report on Chatbot Iatrogenic Dangers Psychiatric Times. www.psychiatrictimes.com. 2025-10-12.
  6. Allen Frances MD. Preliminary Report on Chatbot Iatrogenic Dangers Psychiatric Times. www.psychiatrictimes.com. 2025-10-12.
  7. Exploring the Dangers of AI in Mental Health Care Stanford HAI. hai.stanford.edu.
  8. O. Rose Broderick. As reports of ‘AI psychosis’ spread, clinicians scramble to understand how chatbots can spark delusions. STAT. 2025-09-02.
  9. Conor Feehly. How AI Echo Chambers May Be Fueling Psychotic Episodes. Scientific American.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28883951 (2026-01-23T10:26:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.