Sinar matahari: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28078520; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Weg_zum_Weißen_Hirsch.jpg|thumb|right|280px|Weg zum Weißen Hirsch]] | |||
'''Sinar matahari''' atau '''radiasi matahari''' adalah [[sinar]] yang berasal dari [[Matahari]]. Produk yang dihasilkan oleh sinar matahari adalah beberpa jenis [[Ultraungu|sinar ultraungu]]. [[Tumbuhan]] menggunakan sinar matahari untuk mengadakan [[fotosintesis]] dan membuat [[makanan]] bagi dirinya sendiri. Sinar matahari bisa berakibat baik maupun buruk kepada [[kesehatan]] manusia. Sinar matahari membantu [[tubuh manusia]] untuk memproduksi [[vitamin D]]. Namun, sinar matahari juga dapat menyebabkan degradasi [[stirofoam]] dan memicu [[kanker]] pada tubuh manusia. Sinar matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai [[energi surya]] untuk menghasilkan [[energi listrik]]. | '''Sinar matahari''' atau '''radiasi matahari''' adalah [[sinar]] yang berasal dari [[Matahari]]. Produk yang dihasilkan oleh sinar matahari adalah beberpa jenis [[Ultraungu|sinar ultraungu]]. [[Tumbuhan]] menggunakan sinar matahari untuk mengadakan [[fotosintesis]] dan membuat [[makanan]] bagi dirinya sendiri. Sinar matahari bisa berakibat baik maupun buruk kepada [[kesehatan]] manusia. Sinar matahari membantu [[tubuh manusia]] untuk memproduksi [[vitamin D]]. Namun, sinar matahari juga dapat menyebabkan degradasi [[stirofoam]] dan memicu [[kanker]] pada tubuh manusia. Sinar matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai [[energi surya]] untuk menghasilkan [[energi listrik]]. | ||
== Produksi == | == Produksi == | ||
Sinar matahari dengan [[intensitas cahaya]] yang tinggi terjadi di kawasan [[khatulistiwa]] yang masuk bagian dari kawasan tropis. Paparannya dalam bentuk sinar ultraungu. Bentuk sinar ultraungu yang dihasilkan oleh sinar matahari terbagi 3, yaitu sinar ultraungu A, sinar ultraungu B, dan sinar ultraungu C. | Sinar matahari dengan [[intensitas cahaya]] yang tinggi terjadi di kawasan [[khatulistiwa]] yang masuk bagian dari kawasan tropis. Paparannya dalam bentuk sinar ultraungu.<ref>Edlia Fadilah Mumtazah et al. [https://e-journal.unair.ac.id/JFK/article/view/21807/11958 Pengetahuan Mengenai Sunscreen dan Bahaya Paparan Sinar Matahari Serta Perilaku Mahasiswa Teknik Sipil Terhadap Penggunaan Sunscreen]. ''Jurnal Farmasi Komunitas''. 2020. Vol. 7 (2). hlm. 64.</ref> Bentuk sinar ultraungu yang dihasilkan oleh sinar matahari terbagi 3, yaitu sinar ultraungu A, sinar ultraungu B, dan sinar ultraungu C.<ref>Abdiana, R., dan Anggraini, D. I. [http://repository.lppm.unila.ac.id/8421/1/1741-2448-1-PB.pdf Rambut Jagung (Zea mays L.) sebagai Alternatif Tabir Surya]. ''Majority''. November 2017. Vol. 7 (1). hlm. 31.</ref> | ||
== Manfaat == | == Manfaat == | ||
=== Mendukung proses fotosintesis === | === Mendukung proses fotosintesis === | ||
Sinar matahari merupakan salah satu kebutuhan dalam proses [[fotosintesis]] bersama dengan air dan [[karbon dioksida]]. Tanaman memerlukan sinar matahari agar tumbuh [[hijau]]. Keberadaan [[air]] tanpa sinar matahari akan mampu membuat tumbuhan tumbuh tinggi dengan cepat, tetapi akan terlihat [[kuning]] dan [[dehidrasi|kekurangan air]]. Daun tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari akan terasa basah saat disentuh. | Sinar matahari merupakan salah satu kebutuhan dalam proses [[fotosintesis]] bersama dengan air dan [[karbon dioksida]].<ref>LingkarKata. [https://www.google.co.id/books/edition/Buku_Pintar_Tumbuhan/_920DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&printsec=frontcover Buku Pintar Tumbuhan]. PT Elex Media Komputindo. 2019. hlm. 4. ISBN 978-623-00-0134-5.</ref> Tanaman memerlukan sinar matahari agar tumbuh [[hijau]]. Keberadaan [[air]] tanpa sinar matahari akan mampu membuat tumbuhan tumbuh tinggi dengan cepat, tetapi akan terlihat [[kuning]] dan [[dehidrasi|kekurangan air]]. Daun tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari akan terasa basah saat disentuh. | ||
=== Konversi energi listrik === | === Konversi energi listrik === | ||
Sinar matahari mengandung [[foton]] yang dapat diubah menjadi [[energi listrik]]. Caranya dengan menyerap foton ke dalam hamparan [[semikonduktor]] yang merupakan rancangan umum bagi [[sel surya]]. | Sinar matahari mengandung [[foton]] yang dapat diubah menjadi [[energi listrik]]. Caranya dengan menyerap foton ke dalam hamparan [[semikonduktor]] yang merupakan rancangan umum bagi [[sel surya]].<ref>Sucipta, M., Ahmad, F., dan Astawa, K. [http://eprints.ulm.ac.id/624/1/KE-44.pdf Analisis Performa Modul Solar Cell Dengan Penambahan Reflector Cermin Datar]. ''Prosiding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV''. Oktober 2015. hlm. 1. ISBN 978-602-73732-0-4.</ref> | ||
=== Sumber vitamin D === | === Sumber vitamin D === | ||
Sinar matahari yang terpapar pada tubuh di pagi hari memberikan manfaat dalam penyediaan [[vitamin D]] bagi kesehatan tulang. Pada pagi hari, sinar matahari yang terpapar ke kulit akan diubah menjadi vitamin D oleh kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit. | Sinar matahari yang terpapar pada tubuh di pagi hari memberikan manfaat dalam penyediaan [[vitamin D]] bagi kesehatan tulang. Pada pagi hari, sinar matahari yang terpapar ke kulit akan diubah menjadi vitamin D oleh kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit.<ref>Fitria, C. N., dan Prabowo, A. [https://ejournal.stikespku.ac.id/index.php/mpp/article/view/128/112 Efektivfitas Paparan Ultra Violet Sinar Matahari Terhadap Kepadatan Massa Tulang dan Kadar Kolesterol pada Lansia]. ''Profesi''. September 2016. Vol. 14 (1). hlm. 2.</ref> | ||
== Dampak == | == Dampak == | ||
=== Degradasi stirofoam === | === Degradasi stirofoam === | ||
[[Stirofoam]] umumnya digunakan sebagai bahan pembuat kemasan makanan dan minuman. Di dalam stirofoam pada dasarnya terkandung [[polimer]] yang mudah terdegradasi. Sinar matahari mampu mendegradasi polimer pada stirofoam menjadi monopolimer yang disebut [[stirena]]. Reaksi antara stirena dengan oksiden menghasilkan stirena oksida yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Stirena oksida diketahui sebagai pemicu sel [[kanker]] di dalam tubuh manusia. | [[Stirofoam]] umumnya digunakan sebagai bahan pembuat kemasan makanan dan minuman. Di dalam stirofoam pada dasarnya terkandung [[polimer]] yang mudah terdegradasi. Sinar matahari mampu mendegradasi polimer pada stirofoam menjadi monopolimer yang disebut [[stirena]]. Reaksi antara stirena dengan oksiden menghasilkan stirena oksida yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Stirena oksida diketahui sebagai pemicu sel [[kanker]] di dalam tubuh manusia.<ref>Sumari, dkk. [https://www.researchgate.net/publication/338173531_Efek_Radiasi_Sinar_Matahari_dan_Sinar_Ultra_Violet_pada_Plastik_Styrofoam_Kemasan_Makanan_dan_Minuman Efek Radiasi Sinar Matahari dan Sinar Ultra Violet pada Plastik Styrofoam Kemasan Makanan dan Minuman]. ''Journal Cis-Trans''. 2019. Vol. 3 (1). hlm. 24.</ref> | ||
=== Memicu kanker === | === Memicu kanker === | ||
Sinar ultraungu B yang dihasilkan oleh sinar matahari memberikan bantuan bagi [[kulit]] dalam produksi vitamin D3. Vitamin D3 ini bermanfaat bagi penguatan kekebalan tubuh. Namun, terdapat efek samping pada kulit yang terpapar sinar ultraungu B dalam jangka waktu yang lama. Beberapa di antaranya adalah [[kanker kulit]] dan pigmentasi eritema. | Sinar ultraungu B yang dihasilkan oleh sinar matahari memberikan bantuan bagi [[kulit]] dalam produksi vitamin D3. Vitamin D3 ini bermanfaat bagi penguatan kekebalan tubuh.<ref>Ristanto, S., Huda, C., dan Kurniawan, A. F. [https://jurnal.uns.ac.id/ijap/article/view/52753/33183 Pengukuran Indeks Ultraviolet Matahari dan Atenuasinya oleh Beberapa Bahan untuk Rekomendasi Waktu Aman Berjemur]. ''Indonesian Journal of Applied Physics''. 2021. Vol. 11 (2). hlm. 249.</ref> Namun, terdapat efek samping pada kulit yang terpapar sinar ultraungu B dalam jangka waktu yang lama. Beberapa di antaranya adalah [[kanker kulit]] dan pigmentasi eritema.<ref>Muliani. [https://jurnal.poltekkes-kemenkes-bengkulu.ac.id/index.php/jmk/article/download/622/310 Waktu Berjemur Terbaik Guna Meningkatkan Vitamin D dalam Pencegahan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)]. ''JMK: Jurnal Media Kesehatan''. Juni 2021. Vol. 14 (1). hlm. 67.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sinar+matahari&oldid=28078520 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28078520 (2025-10-17T18:27:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 04.04

Sinar matahari atau radiasi matahari adalah sinar yang berasal dari Matahari. Produk yang dihasilkan oleh sinar matahari adalah beberpa jenis sinar ultraungu. Tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk mengadakan fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri. Sinar matahari bisa berakibat baik maupun buruk kepada kesehatan manusia. Sinar matahari membantu tubuh manusia untuk memproduksi vitamin D. Namun, sinar matahari juga dapat menyebabkan degradasi stirofoam dan memicu kanker pada tubuh manusia. Sinar matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai energi surya untuk menghasilkan energi listrik.
Produksi
Sinar matahari dengan intensitas cahaya yang tinggi terjadi di kawasan khatulistiwa yang masuk bagian dari kawasan tropis. Paparannya dalam bentuk sinar ultraungu.[1] Bentuk sinar ultraungu yang dihasilkan oleh sinar matahari terbagi 3, yaitu sinar ultraungu A, sinar ultraungu B, dan sinar ultraungu C.[2]
Manfaat
Mendukung proses fotosintesis
Sinar matahari merupakan salah satu kebutuhan dalam proses fotosintesis bersama dengan air dan karbon dioksida.[3] Tanaman memerlukan sinar matahari agar tumbuh hijau. Keberadaan air tanpa sinar matahari akan mampu membuat tumbuhan tumbuh tinggi dengan cepat, tetapi akan terlihat kuning dan kekurangan air. Daun tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari akan terasa basah saat disentuh.
Konversi energi listrik
Sinar matahari mengandung foton yang dapat diubah menjadi energi listrik. Caranya dengan menyerap foton ke dalam hamparan semikonduktor yang merupakan rancangan umum bagi sel surya.[4]
Sumber vitamin D
Sinar matahari yang terpapar pada tubuh di pagi hari memberikan manfaat dalam penyediaan vitamin D bagi kesehatan tulang. Pada pagi hari, sinar matahari yang terpapar ke kulit akan diubah menjadi vitamin D oleh kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit.[5]
Dampak
Degradasi stirofoam
Stirofoam umumnya digunakan sebagai bahan pembuat kemasan makanan dan minuman. Di dalam stirofoam pada dasarnya terkandung polimer yang mudah terdegradasi. Sinar matahari mampu mendegradasi polimer pada stirofoam menjadi monopolimer yang disebut stirena. Reaksi antara stirena dengan oksiden menghasilkan stirena oksida yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Stirena oksida diketahui sebagai pemicu sel kanker di dalam tubuh manusia.[6]
Memicu kanker
Sinar ultraungu B yang dihasilkan oleh sinar matahari memberikan bantuan bagi kulit dalam produksi vitamin D3. Vitamin D3 ini bermanfaat bagi penguatan kekebalan tubuh.[7] Namun, terdapat efek samping pada kulit yang terpapar sinar ultraungu B dalam jangka waktu yang lama. Beberapa di antaranya adalah kanker kulit dan pigmentasi eritema.[8]
Referensi
- ↑ Edlia Fadilah Mumtazah et al. Pengetahuan Mengenai Sunscreen dan Bahaya Paparan Sinar Matahari Serta Perilaku Mahasiswa Teknik Sipil Terhadap Penggunaan Sunscreen. Jurnal Farmasi Komunitas. 2020. Vol. 7 (2). hlm. 64.
- ↑ Abdiana, R., dan Anggraini, D. I. Rambut Jagung (Zea mays L.) sebagai Alternatif Tabir Surya. Majority. November 2017. Vol. 7 (1). hlm. 31.
- ↑ LingkarKata. Buku Pintar Tumbuhan. PT Elex Media Komputindo. 2019. hlm. 4. ISBN 978-623-00-0134-5.
- ↑ Sucipta, M., Ahmad, F., dan Astawa, K. Analisis Performa Modul Solar Cell Dengan Penambahan Reflector Cermin Datar. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV. Oktober 2015. hlm. 1. ISBN 978-602-73732-0-4.
- ↑ Fitria, C. N., dan Prabowo, A. Efektivfitas Paparan Ultra Violet Sinar Matahari Terhadap Kepadatan Massa Tulang dan Kadar Kolesterol pada Lansia. Profesi. September 2016. Vol. 14 (1). hlm. 2.
- ↑ Sumari, dkk. Efek Radiasi Sinar Matahari dan Sinar Ultra Violet pada Plastik Styrofoam Kemasan Makanan dan Minuman. Journal Cis-Trans. 2019. Vol. 3 (1). hlm. 24.
- ↑ Ristanto, S., Huda, C., dan Kurniawan, A. F. Pengukuran Indeks Ultraviolet Matahari dan Atenuasinya oleh Beberapa Bahan untuk Rekomendasi Waktu Aman Berjemur. Indonesian Journal of Applied Physics. 2021. Vol. 11 (2). hlm. 249.
- ↑ Muliani. Waktu Berjemur Terbaik Guna Meningkatkan Vitamin D dalam Pencegahan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). JMK: Jurnal Media Kesehatan. Juni 2021. Vol. 14 (1). hlm. 67.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28078520 (2025-10-17T18:27:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.