Anaximenes: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28988186; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Anaximenes''' adalah seorang [[filsuf]] yang berasal dari Kota [[Miletos]], sama seperti [[Thales]] dan [[Anaximandros]]. Anaximenes hidup sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih muda dari Anaximandros. Ia disebut dalam tradisi [[filsafat Barat]], bersama dengan Thales dan Anaximandros, sebagai anggota [[Mazhab Miletos]]. Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros. Sebagaimana kedua filsuf Miletos yang lain, ia berbicara tentang [[filsafat]] alam, yakni apa yang menjadi prinsip dasar (''arche'') segala sesuatu. | [[File:Anaximenes_Milesius_-_Illustrium_philosophorum_et_sapientum_effigies_ab_eorum_numistatibus_extractae.png|thumb|right|280px|Anaximenes Milesius - Illustrium philosophorum et sapientum effigies ab eorum numistatibus extractae]] | ||
'''Anaximenes''' adalah seorang [[filsuf]] yang berasal dari Kota [[Miletos]], sama seperti [[Thales]] dan [[Anaximandros]].<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Anaximenes hidup sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih muda dari Anaximandros.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref> Ia disebut dalam tradisi [[filsafat Barat]], bersama dengan Thales dan Anaximandros, sebagai anggota [[Mazhab Miletos]].<ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref><ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros.<ref>W.K.C. Guthrie. 1985. ''A History of Greek Philosophy Volume 1''. London: Cambridge University Press.</ref><ref>Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In ''The Cambridge Companion to Early Philosophy''. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.</ref> Sebagaimana kedua filsuf Miletos yang lain, ia berbicara tentang [[filsafat]] alam, yakni apa yang menjadi prinsip dasar (''arche'') segala sesuatu.<ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref> | |||
Anaximenes berkeyakinan bahwa yang menjadi asal mula [[dunia]] adalah [[udara]]. Sebab, udaralah yang meliputi seluruh alam dan udara pula yang menjadi dasar hidup bagi [[manusia]] yang amat diperlukan untuk bernafas. Baginya, [[jiwa]] adalah udara, [[api]] adalah udara yang encer, dan udara jika dipadatkan akan menjadi [[air]]; jika dipadatkan lagi menjadi [[tanah]] dan akhirnya menjadi [[batu]]. | Anaximenes berkeyakinan bahwa yang menjadi asal mula [[dunia]] adalah [[udara]]. Sebab, udaralah yang meliputi seluruh alam dan udara pula yang menjadi dasar hidup bagi [[manusia]] yang amat diperlukan untuk bernafas. Baginya, [[jiwa]] adalah udara, [[api]] adalah udara yang encer, dan udara jika dipadatkan akan menjadi [[air]]; jika dipadatkan lagi menjadi [[tanah]] dan akhirnya menjadi [[batu]]. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
Tentang riwayat hidupnya, tidak banyak yang diketahui. Anaximenes mulai terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM. Ia diketahui lebih muda dari [[Anaximandros]]. Ia menulis satu buku dan dari buku tersebut hanya satu [[fragmen]] yang masih tersimpan hingga kini. | Tentang riwayat hidupnya, tidak banyak yang diketahui.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Anaximenes mulai terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM.<ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> Ia diketahui lebih muda dari [[Anaximandros]].<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Ia menulis satu buku dan dari buku tersebut hanya satu [[fragmen]] yang masih tersimpan hingga kini.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> | ||
== Pemikiran == | == Pemikiran == | ||
=== Udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu === | === Udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu === | ||
Salah satu kesulitan untuk menerima [[filsafat]] Anaximandros tentang ''[[:en:Apeiron|to apeiron]]'' yang [[Metafisika|metafisik]] adalah bagaimana menjelaskan hubungan saling memengaruhi antara yang [[Metafisika|metafisik]] dengan yang [[fisik]].<ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref> Karena itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang bersifat fisik yakni udara.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref><ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> | |||
Tidak seperti air yang tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu.<ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref> Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu.<ref>Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. ''Petualangan Intelektual''. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.</ref> Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref><ref>W.K.C. Guthrie. 1985. ''A History of Greek Philosophy Volume 1''. London: Cambridge University Press.</ref> Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan prinsip "pemadatan dan pengenceran" (''condensation'' and ''rarefaction''.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref><ref>Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In ''The Cambridge Companion to Early Philosophy''. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.</ref> Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan kemudian batu.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka yang timbul adalah api.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.<ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> | |||
Tidak seperti air yang tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu. Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain. Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan prinsip "pemadatan dan pengenceran" (''condensation'' and ''rarefaction''. Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan kemudian batu. Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara. | |||
=== Tentang Alam Semesta === | === Tentang Alam Semesta === | ||
Pembentukan [[alam semesta]] menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya. Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah [[meja]]. [[Bumi]] dikatakan melayang di udara sebagaimana [[daun]] melayang di udara. Benda-benda langit seperti [[bulan]], [[bintang]], dan [[matahari]] juga melayang di udara dan mengelilingi bumi. Benda-benda langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang muncul karena pernapasan basah dari bumi. Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena jaraknya yang jauh dari bumi. Ketika [[bintang]], [[bulan]], dan [[matahari]] tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka bersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi. Kemudian [[awan]]-awan, [[hujan]], [[salju]], dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara. | Pembentukan [[alam semesta]] menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah [[meja]].<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> [[Bumi]] dikatakan melayang di udara sebagaimana [[daun]] melayang di udara.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In ''The Cambridge Companion to Early Philosophy''. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.</ref> Benda-benda langit seperti [[bulan]], [[bintang]], dan [[matahari]] juga melayang di udara dan mengelilingi bumi.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Benda-benda langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang muncul karena pernapasan basah dari bumi.<ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena jaraknya yang jauh dari bumi.<ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> Ketika [[bintang]], [[bulan]], dan [[matahari]] tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka bersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref><ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> Kemudian [[awan]]-awan, [[hujan]], [[salju]], dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara.<ref>P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In ''The Encyclopedia of Philosophy Volume 1''. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.</ref> | ||
=== Tentang Jiwa === | === Tentang Jiwa === | ||
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernapas untuk mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena hal itu berguna untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh. Di sini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh manusiawi dengan [[Alam semesta|jagat raya]] berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam [[Filsafat Yunani]]. Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran filsafatnya. | Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Buktinya, manusia perlu bernapas untuk mempertahankan hidupnya.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya.<ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> Karena hal itu berguna untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh.<ref>Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In ''The Blackwell Guide to Ancient Philosophy''. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.</ref> Di sini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh manusiawi dengan [[Alam semesta|jagat raya]] berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama, yakni udara.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam [[Filsafat Yunani]].<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran filsafatnya.<ref>K. Bertens. 1990. ''Sejarah Filsafat Yunani''. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 24: | Baris 25: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anaximenes&oldid=28988186 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28988186 (2026-02-24T05:57:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 23.05

Anaximenes adalah seorang filsuf yang berasal dari Kota Miletos, sama seperti Thales dan Anaximandros.[1] Anaximenes hidup sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih muda dari Anaximandros.[2][3] Ia disebut dalam tradisi filsafat Barat, bersama dengan Thales dan Anaximandros, sebagai anggota Mazhab Miletos.[4][5] Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros.[6][7] Sebagaimana kedua filsuf Miletos yang lain, ia berbicara tentang filsafat alam, yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche) segala sesuatu.[8]
Anaximenes berkeyakinan bahwa yang menjadi asal mula dunia adalah udara. Sebab, udaralah yang meliputi seluruh alam dan udara pula yang menjadi dasar hidup bagi manusia yang amat diperlukan untuk bernafas. Baginya, jiwa adalah udara, api adalah udara yang encer, dan udara jika dipadatkan akan menjadi air; jika dipadatkan lagi menjadi tanah dan akhirnya menjadi batu.
Riwayat Hidup
Tentang riwayat hidupnya, tidak banyak yang diketahui.[9] Anaximenes mulai terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM.[10] Ia diketahui lebih muda dari Anaximandros.[11] Ia menulis satu buku dan dari buku tersebut hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.[12]
Pemikiran
Udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Salah satu kesulitan untuk menerima filsafat Anaximandros tentang to apeiron yang metafisik adalah bagaimana menjelaskan hubungan saling memengaruhi antara yang metafisik dengan yang fisik.[13] Karena itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang bersifat fisik yakni udara.[14][15][16]
Tidak seperti air yang tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu.[17] Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu.[18] Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.[19][20][21] Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan prinsip "pemadatan dan pengenceran" (condensation and rarefaction.[22][23][24] Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan kemudian batu.[25][26] Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka yang timbul adalah api.[27][28] Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.[29]
Tentang Alam Semesta
Pembentukan alam semesta menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya.[30] Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah meja.[31][32] Bumi dikatakan melayang di udara sebagaimana daun melayang di udara.[33][34] Benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi.[35] Benda-benda langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang muncul karena pernapasan basah dari bumi.[36] Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena jaraknya yang jauh dari bumi.[37] Ketika bintang, bulan, dan matahari tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka bersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi.[38][39] Kemudian awan-awan, hujan, salju, dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara.[40]
Tentang Jiwa
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja.[41] Buktinya, manusia perlu bernapas untuk mempertahankan hidupnya.[42] Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya.[43] Karena hal itu berguna untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh.[44] Di sini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama, yakni udara.[45] Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam Filsafat Yunani.[46] Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran filsafatnya.[47]
Lihat pula
- Daftar Filsuf
- Bahasa Yunani Ionia
Referensi
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ W.K.C. Guthrie. 1985. A History of Greek Philosophy Volume 1. London: Cambridge University Press.
- ↑ Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In The Cambridge Companion to Early Philosophy. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 22-23.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ W.K.C. Guthrie. 1985. A History of Greek Philosophy Volume 1. London: Cambridge University Press.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In The Cambridge Companion to Early Philosophy. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Keimpe Algra. 1999. "The Beginning of Cosmology". In The Cambridge Companion to Early Philosophy. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge University Press. P. 45-65.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ P. Diamandopoulos. 1972. "Anaximenes". In The Encyclopedia of Philosophy Volume 1. Paul Edwards (Ed.). New York: Macmillan Publishing & The Free Press.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
- ↑ K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 31-33.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28988186 (2026-02-24T05:57:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.