Lompat ke isi

Vis viva: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27588604; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 2: Baris 2:


== Penggunaan istilah ==
== Penggunaan istilah ==
Istilah "Vis viva" pertama kali diperkenalkan oleh [[Gottfried Leibniz]] (1646–1716) pada tahun 1686. Arti dari ''vis viva'' adalah ''kekuatan yang ada''.
Istilah "Vis viva" pertama kali diperkenalkan oleh [[Gottfried Leibniz]] (1646–1716) pada tahun 1686. Arti dari ''vis viva'' adalah ''kekuatan yang ada''.<ref>Jack Challoner. ''Jendela IPTEK: Energi''. Balai Pustaka. 2000. hlm. 16. ISBN 979-666-113-6.</ref>


== Perumusan ==
== Perumusan ==
Perumusan ''vis viva'' dilatarbelakangi oleh pernyataan [[René Descartes]] mengenai pengertian kekekalan momentum. Descartes mengartikan momentum sebagai hasil perkalian antara massa dan kecepatan dalam besaran skalar sekaligus besaran vektor. Pandangan Descartes dikemukakannya pada tahun 1644 karena dugaan atas kemungkinan bahwa Allah menciptakan seluruh materi dengan sejumlah gerakan yang tetap sama yang sifatnya kekal. Dugaan ini kemudian ditanggapi oleh [[Royal Society]] di London. Royal Society menugaskan tiga ilmuwan untuk membuktikan pernyataan tersebut. Ketiga ilmuwan ini yakni [[Christiaan Huygens]], [[Christopher Wren]] dan [[John Wallis]]. Ketiganya kemudian menetapkan bahwa momentum merupakan besaran vektor yang diperoleh melalui perkalian antara massa dan kecepatan. Namun momentum kemudian direkomendasikan menjadi besaran skalar yaitu ''vis viva''.
Perumusan ''vis viva'' dilatarbelakangi oleh pernyataan [[René Descartes]] mengenai pengertian kekekalan momentum. Descartes mengartikan momentum sebagai hasil perkalian antara massa dan kecepatan dalam besaran skalar sekaligus besaran vektor. Pandangan Descartes dikemukakannya pada tahun 1644 karena dugaan atas kemungkinan bahwa Allah menciptakan seluruh materi dengan sejumlah gerakan yang tetap sama yang sifatnya kekal. Dugaan ini kemudian ditanggapi oleh [[Royal Society]] di London. Royal Society menugaskan tiga ilmuwan untuk membuktikan pernyataan tersebut. Ketiga ilmuwan ini yakni [[Christiaan Huygens]], [[Christopher Wren]] dan [[John Wallis]]. Ketiganya kemudian menetapkan bahwa momentum merupakan besaran vektor yang diperoleh melalui perkalian antara massa dan kecepatan. Namun momentum kemudian direkomendasikan menjadi besaran skalar yaitu ''vis viva''.<ref>Gerry van Klinken. [https://www.google.co.id/books/edition/Revolusi_fisika_dari_alam_gaib_ke_alam_n/tWbewRFQ6c8C?hl=id&gbpv=1&dq=vis+viva&pg=PA63&printsec=frontcover Revolusi Fisika: Dari Alam Gaib ke Alam Nyata]. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hlm. 63. ISBN 979-91-0020-8.</ref>


Istilah ''vis viva'' kemudian dikembangkan bersama oleh Leibniz dan [[Johann Bernoulli]] untuk menetapkan rumus energi kinetik dalam [[mekanika klasik]]. Dalam perumusannya, energi kinetik dinyatakan sebagai hasil perkalian antara massa kali percepatan kuadrat.
Istilah ''vis viva'' kemudian dikembangkan bersama oleh Leibniz dan [[Johann Bernoulli]] untuk menetapkan rumus energi kinetik dalam [[mekanika klasik]]. Dalam perumusannya, energi kinetik dinyatakan sebagai hasil perkalian antara massa kali percepatan kuadrat.<ref>Hamdi. [https://www.google.co.id/books/edition/Energi_Terbarukan/fLJADwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=vis+viva&pg=PA35&printsec=frontcover Energi Terbarukan]. Kencana. 2016. hlm. 35. ISBN 978-602-422-099-0.</ref>


== Pengembangan ==
== Pengembangan ==
Willem Gravesande mencoba membuktikan perumusan vis viva sebagai energi kinetik oleh Leibniz dan Bernoulli. Pembuktiannya melalui percobaan penjatuhan benda-benda ke blok [[tanah liat]] pada beragam ketinggian. Hasilnya ialah adanya perbandingan lurus antara kuadrat kecepatan dengan kedalaman blok tanah liat. Dari percobaan ini, [[Émilie du Châtelet]] membuat sebuah penjelasan yang kemudian merumuskan energi kinetik. Émilie menghasilkan rumusan energi kinetik sebagai perkalian seperdua dari nilai perkalian massa dengan kuadrat kecepatan.    
Willem Gravesande mencoba membuktikan perumusan vis viva sebagai energi kinetik oleh Leibniz dan Bernoulli. Pembuktiannya melalui percobaan penjatuhan benda-benda ke blok [[tanah liat]] pada beragam ketinggian. Hasilnya ialah adanya perbandingan lurus antara kuadrat kecepatan dengan kedalaman blok tanah liat. Dari percobaan ini, [[Émilie du Châtelet]] membuat sebuah penjelasan yang kemudian merumuskan energi kinetik. Émilie menghasilkan rumusan energi kinetik sebagai perkalian seperdua dari nilai perkalian massa dengan kuadrat kecepatan.<ref>Hamdi. [https://www.google.co.id/books/edition/Energi_Terbarukan/fLJADwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=vis+viva&pg=PA35&printsec=frontcover Energi Terbarukan]. Kencana. 2016. hlm. 35. ISBN 978-602-422-099-0.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Vis+viva&oldid=27588604 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27588604 (2025-07-23T09:23:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Vis+viva&oldid=27588604 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27588604 (2025-07-23T09:23:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 23.09

Vis viva adalah sebuah istilah yang diperkenalkan dan digunakan oleh Gottfried Leibniz untuk menjelaskan mengenai momentum. Dalam pengembangan perumusannya oleh Leibniz dan Johann Bernoulli, vis viva diartikan sebagai hasil perkalian antara massa kali percepatan kuadrat. Rumus vis viva kemudian dikembangkan oleh Émilie du Châtelet sehingga diperoleh rumus energi kinetik.

Penggunaan istilah

Istilah "Vis viva" pertama kali diperkenalkan oleh Gottfried Leibniz (1646–1716) pada tahun 1686. Arti dari vis viva adalah kekuatan yang ada.[1]

Perumusan

Perumusan vis viva dilatarbelakangi oleh pernyataan René Descartes mengenai pengertian kekekalan momentum. Descartes mengartikan momentum sebagai hasil perkalian antara massa dan kecepatan dalam besaran skalar sekaligus besaran vektor. Pandangan Descartes dikemukakannya pada tahun 1644 karena dugaan atas kemungkinan bahwa Allah menciptakan seluruh materi dengan sejumlah gerakan yang tetap sama yang sifatnya kekal. Dugaan ini kemudian ditanggapi oleh Royal Society di London. Royal Society menugaskan tiga ilmuwan untuk membuktikan pernyataan tersebut. Ketiga ilmuwan ini yakni Christiaan Huygens, Christopher Wren dan John Wallis. Ketiganya kemudian menetapkan bahwa momentum merupakan besaran vektor yang diperoleh melalui perkalian antara massa dan kecepatan. Namun momentum kemudian direkomendasikan menjadi besaran skalar yaitu vis viva.[2]

Istilah vis viva kemudian dikembangkan bersama oleh Leibniz dan Johann Bernoulli untuk menetapkan rumus energi kinetik dalam mekanika klasik. Dalam perumusannya, energi kinetik dinyatakan sebagai hasil perkalian antara massa kali percepatan kuadrat.[3]

Pengembangan

Willem Gravesande mencoba membuktikan perumusan vis viva sebagai energi kinetik oleh Leibniz dan Bernoulli. Pembuktiannya melalui percobaan penjatuhan benda-benda ke blok tanah liat pada beragam ketinggian. Hasilnya ialah adanya perbandingan lurus antara kuadrat kecepatan dengan kedalaman blok tanah liat. Dari percobaan ini, Émilie du Châtelet membuat sebuah penjelasan yang kemudian merumuskan energi kinetik. Émilie menghasilkan rumusan energi kinetik sebagai perkalian seperdua dari nilai perkalian massa dengan kuadrat kecepatan.[4]

Referensi

  1. Jack Challoner. Jendela IPTEK: Energi. Balai Pustaka. 2000. hlm. 16. ISBN 979-666-113-6.
  2. Gerry van Klinken. Revolusi Fisika: Dari Alam Gaib ke Alam Nyata. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hlm. 63. ISBN 979-91-0020-8.
  3. Hamdi. Energi Terbarukan. Kencana. 2016. hlm. 35. ISBN 978-602-422-099-0.
  4. Hamdi. Energi Terbarukan. Kencana. 2016. hlm. 35. ISBN 978-602-422-099-0.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27588604 (2025-07-23T09:23:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.