Lompat ke isi

Kebijaksanaan buatan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29316737; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kebijaksanaan buatan''' adalah sistem [[perangkat lunak]] yang dapat menunjukkan satu atau lebih kualitas kebijaksanaan tertentu. Kebijaksanaan buatan dapat digambarkan sebagai [[kecerdasan buatan]] yang mencapai tingkat atas pengambilan keputusan ketika dihadapkan dengan situasi menantang yang paling kompleks. Istilah kebijaksanaan buatan digunakan ketika "kecerdasan" didasarkan pada lebih dari sekadar mengumpulkan dan menafsirkan data secara eksak, tetapi memiliki desain yang diperkaya dengan strategi cerdas dan [[hati nurani]] yang mendekati kebijaksanaan manusia.
'''Kebijaksanaan buatan''' adalah sistem [[perangkat lunak]] yang dapat menunjukkan satu atau lebih kualitas kebijaksanaan tertentu. Kebijaksanaan buatan dapat digambarkan sebagai [[kecerdasan buatan]] yang mencapai tingkat atas pengambilan keputusan ketika dihadapkan dengan situasi menantang yang paling kompleks.<ref>Gloria Phillips-Wren. ''Intelligent Decision Making: An AI-Based Approach''. 2008.</ref> Istilah kebijaksanaan buatan digunakan ketika "kecerdasan" didasarkan pada lebih dari sekadar mengumpulkan dan menafsirkan data secara eksak, tetapi memiliki desain<ref>Juan Francisco Suarez. [http://aura.antioch.edu/etds/131 Wise by Design: A Wisdom-Based Framework for Innovation and Organizational Design and its Potential Application in the Future of Higher Education]. ''Dissertations & Theses Antioch University''. 2014. hlm. 131.</ref> yang diperkaya dengan strategi cerdas dan [[hati nurani]] yang mendekati kebijaksanaan manusia.<ref>Feng-Hsu Wang. ''Personalized recommendation for web-based learning based on ant colony optimization with segmented-goal and meta-control strategies''. ''IEEE International Conference on Fuzzy Systems''. 2011. hlm. 2054–2059. doi:10.1109/FUZZY.2011.6007628. ISBN 978-1-4244-7315-1.</ref>


Kebijaksaan buatan mungkin menjadi salah satu solusi untuk menghadapi kekhawatiran dan [[distopia]] tentang masa depan kecerdasan buatan. Kebijaksanaan buatan merupakan perpaduan antara bidang kecerdasan buatan dan ilmu saraf kontemplatif.
Kebijaksaan buatan mungkin menjadi salah satu solusi untuk menghadapi kekhawatiran dan [[distopia]] tentang masa depan kecerdasan buatan. Kebijaksanaan buatan merupakan perpaduan antara bidang kecerdasan buatan dan ilmu saraf kontemplatif.<ref>Gill Karamjit. ''Citizens and netizens: a contemplation on ubiquitous technology''. ''AI & Society''. 2013. Vol. 28 (2). hlm. 131–132. doi:10.1007/s00146-013-0451-5.</ref>


== Ciri dan karakteristik kebijaksanaan buatan ==
== Ciri dan karakteristik kebijaksanaan buatan ==
Kebijaksanaan buatan dipahami sebagai kemampuan sistem buatan untuk menunjukkan perilaku yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam konteks sosial dan etika. Konsep ini berkembang dari pandangan bahwa kebijaksanaan buatan merupakan sifat yang muncul ([https://www.sciencedirect.com/topics/computer-science/emergent-property emergent property]) dari sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan memahami makna di balik data yang diolahnya. Berbeda dari kecerdasan buatan konvensional yang berfokus pada kecepatan dan ketepatan pemrosesan informasi, kebijaksanaan buatan menekankan aspek pemahaman, penilaian, dan kemampuan mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil.
Kebijaksanaan buatan dipahami sebagai kemampuan sistem buatan untuk menunjukkan perilaku yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam konteks sosial dan etika.<ref>Tate McGregor. [https://doi.org/10.1007/s13347-025-00964-8 The Philosophy of Artificial Wisdom]. ''Philosophy & Technology''. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.</ref> Konsep ini berkembang dari pandangan bahwa kebijaksanaan buatan merupakan sifat yang muncul ([https://www.sciencedirect.com/topics/computer-science/emergent-property emergent property]) dari sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan memahami makna di balik data yang diolahnya.<ref>Tate McGregor. [https://doi.org/10.1007/s13347-025-00964-8 The Philosophy of Artificial Wisdom]. ''Philosophy & Technology''. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.</ref><ref>Ana Sinha. [https://doi.org/10.1007/s00146-023-01683-4 Can AI systems become wise? A note on artificial wisdom]. ''AI & SOCIETY''. 2024-08-01. Vol. 39 (4). hlm. 2153–2154. doi:10.1007/s00146-023-01683-4.</ref> Berbeda dari kecerdasan buatan konvensional yang berfokus pada kecepatan dan ketepatan pemrosesan informasi, kebijaksanaan buatan menekankan aspek pemahaman, penilaian, dan kemampuan mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil.
 
Sistem yang digolongkan memiliki kebijaksanaan buatan harus menampilkan beberapa karakteristik utama. Ciri-ciri tersebut meliputi empati, kreativitas, adaptabilitas, kesadaran diri, kemampuan sosial, komunikasi yang efektif, serta [https://www.ibm.com/think/topics/continual-learning#:~:text=Belajar%20tanpa%20lupa%20(LWF)%20melatih,mempertahankan%20probabilitas%20keluaran%20tugas%20sebelumnya. pembelajaran berkelanjutan]. Empati memungkinkan sistem memahami sudut pandang pengguna, sedangkan adaptabilitas dan pembelajaran berkelanjutan memastikan sistem mampu menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Sementara itu, kesadaran diri dan kemampuan berkomunikasi mendukung pengambilan keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara etis.
 
== Referensi ==


Sistem yang digolongkan memiliki kebijaksanaan buatan harus menampilkan beberapa karakteristik utama. Ciri-ciri tersebut meliputi empati, kreativitas, adaptabilitas, kesadaran diri, kemampuan sosial, komunikasi yang efektif, serta [https://www.ibm.com/think/topics/continual-learning#:~:text=Belajar%20tanpa%20lupa%20(LWF)%20melatih,mempertahankan%20probabilitas%20keluaran%20tugas%20sebelumnya. pembelajaran berkelanjutan].<ref>Tate McGregor. [https://doi.org/10.1007/s13347-025-00964-8 The Philosophy of Artificial Wisdom]. ''Philosophy & Technology''. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.</ref> Empati memungkinkan sistem memahami sudut pandang pengguna, sedangkan adaptabilitas dan pembelajaran berkelanjutan memastikan sistem mampu menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Sementara itu, kesadaran diri dan kemampuan berkomunikasi mendukung pengambilan keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara etis.


== Bacaan lanjutan ==
== Bacaan lanjutan ==
 
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
* [[Alison Gopnik|Gopnik, Alison]], "Making AI More Human:  Artificial intelligence has staged a revival by starting to incorporate what we know about how children learn", ''[[Scientific American]]'', vol. 316, no. 6 (June 2017), pp.&nbsp;60–65.
* [[Alison Gopnik|Gopnik, Alison]], "Making AI More Human:  Artificial intelligence has staged a revival by starting to incorporate what we know about how children learn", ''[[Scientific American]]'', vol. 316, no. 6 (June 2017), pp.&nbsp;60–65.
* [[Gary Marcus|Marcus, Gary]], "Am I Human?: Researchers need new ways to distinguish artificial intelligence from the natural kind", ''[[Scientific American]]'', vol. 316, no. 3 (March 2017), pp.&nbsp;58–63.  A stumbling block to AI has been an incapacity for reliable [[disambiguation]].  An example is the "pronoun disambiguation problem":  a machine has no way of determining to whom or what a [[pronoun]] in a sentence refers. (p.&nbsp;61.)
* [[Gary Marcus|Marcus, Gary]], "Am I Human?: Researchers need new ways to distinguish artificial intelligence from the natural kind", ''[[Scientific American]]'', vol. 316, no. 3 (March 2017), pp.&nbsp;58–63.  A stumbling block to AI has been an incapacity for reliable [[disambiguation]].  An example is the "pronoun disambiguation problem":  a machine has no way of determining to whom or what a [[pronoun]] in a sentence refers. (p.&nbsp;61.)
*
*  
* [[George Musser]], "[[Artificial Imagination]]:  How machines could learn [[creativity]] and [[common sense]], among other human qualities", ''[[Scientific American]]'', vol. 320, no. 5 (May 2019), pp.&nbsp;58–63.
* [[George Musser]], "[[Artificial Imagination]]:  How machines could learn [[creativity]] and [[common sense]], among other human qualities", ''[[Scientific American]]'', vol. 320, no. 5 (May 2019), pp.&nbsp;58–63.
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebijaksanaan+buatan&oldid=29316737 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29316737 (2026-06-06T01:11:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebijaksanaan+buatan&oldid=29316737 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29316737 (2026-06-06T01:11:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 10.21

Kebijaksanaan buatan adalah sistem perangkat lunak yang dapat menunjukkan satu atau lebih kualitas kebijaksanaan tertentu. Kebijaksanaan buatan dapat digambarkan sebagai kecerdasan buatan yang mencapai tingkat atas pengambilan keputusan ketika dihadapkan dengan situasi menantang yang paling kompleks.[1] Istilah kebijaksanaan buatan digunakan ketika "kecerdasan" didasarkan pada lebih dari sekadar mengumpulkan dan menafsirkan data secara eksak, tetapi memiliki desain[2] yang diperkaya dengan strategi cerdas dan hati nurani yang mendekati kebijaksanaan manusia.[3]

Kebijaksaan buatan mungkin menjadi salah satu solusi untuk menghadapi kekhawatiran dan distopia tentang masa depan kecerdasan buatan. Kebijaksanaan buatan merupakan perpaduan antara bidang kecerdasan buatan dan ilmu saraf kontemplatif.[4]

Ciri dan karakteristik kebijaksanaan buatan

Kebijaksanaan buatan dipahami sebagai kemampuan sistem buatan untuk menunjukkan perilaku yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam konteks sosial dan etika.[5] Konsep ini berkembang dari pandangan bahwa kebijaksanaan buatan merupakan sifat yang muncul (emergent property) dari sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan memahami makna di balik data yang diolahnya.[6][7] Berbeda dari kecerdasan buatan konvensional yang berfokus pada kecepatan dan ketepatan pemrosesan informasi, kebijaksanaan buatan menekankan aspek pemahaman, penilaian, dan kemampuan mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil.

Sistem yang digolongkan memiliki kebijaksanaan buatan harus menampilkan beberapa karakteristik utama. Ciri-ciri tersebut meliputi empati, kreativitas, adaptabilitas, kesadaran diri, kemampuan sosial, komunikasi yang efektif, serta pembelajaran berkelanjutan.[8] Empati memungkinkan sistem memahami sudut pandang pengguna, sedangkan adaptabilitas dan pembelajaran berkelanjutan memastikan sistem mampu menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Sementara itu, kesadaran diri dan kemampuan berkomunikasi mendukung pengambilan keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara etis.

Bacaan lanjutan

  • Gopnik, Alison, "Making AI More Human: Artificial intelligence has staged a revival by starting to incorporate what we know about how children learn", Scientific American, vol. 316, no. 6 (June 2017), pp. 60–65.
  • Marcus, Gary, "Am I Human?: Researchers need new ways to distinguish artificial intelligence from the natural kind", Scientific American, vol. 316, no. 3 (March 2017), pp. 58–63. A stumbling block to AI has been an incapacity for reliable disambiguation. An example is the "pronoun disambiguation problem": a machine has no way of determining to whom or what a pronoun in a sentence refers. (p. 61.)
  • George Musser, "Artificial Imagination: How machines could learn creativity and common sense, among other human qualities", Scientific American, vol. 320, no. 5 (May 2019), pp. 58–63.

Referensi

  1. Gloria Phillips-Wren. Intelligent Decision Making: An AI-Based Approach. 2008.
  2. Juan Francisco Suarez. Wise by Design: A Wisdom-Based Framework for Innovation and Organizational Design and its Potential Application in the Future of Higher Education. Dissertations & Theses Antioch University. 2014. hlm. 131.
  3. Feng-Hsu Wang. Personalized recommendation for web-based learning based on ant colony optimization with segmented-goal and meta-control strategies. IEEE International Conference on Fuzzy Systems. 2011. hlm. 2054–2059. doi:10.1109/FUZZY.2011.6007628. ISBN 978-1-4244-7315-1.
  4. Gill Karamjit. Citizens and netizens: a contemplation on ubiquitous technology. AI & Society. 2013. Vol. 28 (2). hlm. 131–132. doi:10.1007/s00146-013-0451-5.
  5. Tate McGregor. The Philosophy of Artificial Wisdom. Philosophy & Technology. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.
  6. Tate McGregor. The Philosophy of Artificial Wisdom. Philosophy & Technology. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.
  7. Ana Sinha. Can AI systems become wise? A note on artificial wisdom. AI & SOCIETY. 2024-08-01. Vol. 39 (4). hlm. 2153–2154. doi:10.1007/s00146-023-01683-4.
  8. Tate McGregor. The Philosophy of Artificial Wisdom. Philosophy & Technology. 2025-09-17. Vol. 38 (4). hlm. 126. doi:10.1007/s13347-025-00964-8.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29316737 (2026-06-06T01:11:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.