Lompat ke isi

Ilmu kedokteran nano: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28019100; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:MolecularImagingTherapy.jpg|thumb|right|280px|Ilustrasi bagaimana partikel nano "mengincar" sel kanker untuk kemudian digunakan sebagai visualisasi, terapi, dan penyembuhan kanker]]
'''Ilmu kedokteran nano''' (''nanomedicine'') adalah aplikasi [[medis]] dari [[teknologi nano]]. Istilah ''nanomedicine'' sendiri dapat berarti obat-obatan yang dibentuk dalam skala nano. Ilmu kedokteran nano mencakup aplikasi medis dari [[material nano]] hingga [[biosensor]] nano. Satu pertentangan terhadap ilmu kedokteran nano yaitu mengenai [[toksisitas]] dan [[dampak lingkungan]] dari material nano.
'''Ilmu kedokteran nano''' (''nanomedicine'') adalah aplikasi [[medis]] dari [[teknologi nano]]. Istilah ''nanomedicine'' sendiri dapat berarti obat-obatan yang dibentuk dalam skala nano. Ilmu kedokteran nano mencakup aplikasi medis dari [[material nano]] hingga [[biosensor]] nano. Satu pertentangan terhadap ilmu kedokteran nano yaitu mengenai [[toksisitas]] dan [[dampak lingkungan]] dari material nano.


== Aplikasi kedokteran dari material nano ==
== Aplikasi kedokteran dari material nano ==
Dua bentuk penggunaan material nano sebagai obat-obatan sudah diuji pada tikus percobaan, yaitu berupa selubung nano [[emas]] (''gold nanoshell'') yang digunakan untuk mendiagnosa dan mengobati [[kanker]], dan [[liposom]] sebagai pembantu (''adjuvant'') vaksin dan sarana untuk menghantarkan obat. [[Detoksifikasi]] juga aplikasi lain dari ''nanomedicine'' yang telah diuji di tikus percobaan. Material dan teknologi nano memungkinkan implan untuk dibuat berukuran sangat kecil dan mencegah [[Autoimunitas|penolakan oleh tubuh]].
Dua bentuk penggunaan material nano sebagai obat-obatan sudah diuji pada tikus percobaan, yaitu berupa selubung nano [[emas]] (''gold nanoshell'') yang digunakan untuk mendiagnosa dan mengobati [[kanker]], dan [[liposom]] sebagai pembantu (''adjuvant'') vaksin dan sarana untuk menghantarkan obat.<ref>[http://www.nanospectra.com/clinicians/spublications.html Nanospectra Biosciences inc. Publications].</ref><ref>Mozafari, M.R. (ed), 2006. Nanocarrier Technologies: Frontiers of Nanotherapy (Chapters 1 and 2) pages 10–11.</ref> [[Detoksifikasi]] juga aplikasi lain dari ''nanomedicine'' yang telah diuji di tikus percobaan.<ref>Bertrand N, Bouvet C, Moreau P and Leroux JC. (2010). [http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/nn101924a "Transmembrane pH-Gradient Liposomes To Treat Cardiovascular Drug Intoxication"]. ''ACS Nano'' '''4''' (12): 7552–7558.</ref> Material dan teknologi nano memungkinkan implan untuk dibuat berukuran sangat kecil dan mencegah [[Autoimunitas|penolakan oleh tubuh]].<ref>Boisseau, P.; Loubaton, B. (2011). "Nanomedicine, nanotechnology in medicine". ''Comptes Rendus Physique'' '''12''' (7): 620.</ref>


Fungsi penghantaran obat (''drug delivery'') menjadi lebih baik karena material nano saat ini mampu dimodifikasi secara detail sehingga mampu diatur untuk melepas obat ketika menyentuh benda tertentu, seperti sel kanker. Hal ini diperlukan agar konsumsi obat-obatan tidak menimbulkan [[efek samping]] berlebih.
Fungsi penghantaran obat (''drug delivery'') menjadi lebih baik karena material nano saat ini mampu dimodifikasi secara detail sehingga mampu diatur untuk melepas obat ketika menyentuh benda tertentu, seperti sel kanker. Hal ini diperlukan agar konsumsi obat-obatan tidak menimbulkan [[efek samping]] berlebih.<ref>LaVan DA, McGuire T, Langer R. (2003). [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?db=pubmed&uid=14520404&cmd=showdetailview "Small-scale systems for in vivo drug delivery"]. ''Nat Biotechnol''. '''21''' (10): 1184–1191.</ref><ref>Cavalcanti A, Shirinzadeh B, Freitas RA Jr, Hogg T. (2008). [http://www.iop.org/EJ/abstract/0957-4484/19/1/015103 "Nanorobot architecture for medical target identification"]. ''Nanotechnology'' '''19'''.</ref>


Kemampuan material nano untuk berinteraksi pada sel tertentu menjadikannya bermanfaat dalam banyak hal, termasuk visualisasi di bidang kedokteran. Zat pewarna (''dye'') yang terbuat dari senyawa tertentu dapat dibuat bereaksi dengan sel penyakit seperti sel kanker, yang kemudian menghasilkan perpendaran ([[fluoresensi]]) untuk memudahkan pendeteksian.
Kemampuan material nano untuk berinteraksi pada sel tertentu menjadikannya bermanfaat dalam banyak hal, termasuk visualisasi di bidang kedokteran. Zat pewarna (''dye'') yang terbuat dari senyawa tertentu dapat dibuat bereaksi dengan sel penyakit seperti sel kanker, yang kemudian menghasilkan perpendaran ([[fluoresensi]]) untuk memudahkan pendeteksian.<ref>Coffey, Rebecca (August 2012). "20 Things You Didn't Know About Nanotechnology". ''Discover'' '''31''' (6): 96.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 13: Baris 15:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ilmu+kedokteran+nano&oldid=28019100 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28019100 (2025-10-16T13:05:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ilmu+kedokteran+nano&oldid=28019100 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28019100 (2025-10-16T13:05:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.11

Ilustrasi bagaimana partikel nano "mengincar" sel kanker untuk kemudian digunakan sebagai visualisasi, terapi, dan penyembuhan kanker

Ilmu kedokteran nano (nanomedicine) adalah aplikasi medis dari teknologi nano. Istilah nanomedicine sendiri dapat berarti obat-obatan yang dibentuk dalam skala nano. Ilmu kedokteran nano mencakup aplikasi medis dari material nano hingga biosensor nano. Satu pertentangan terhadap ilmu kedokteran nano yaitu mengenai toksisitas dan dampak lingkungan dari material nano.

Aplikasi kedokteran dari material nano

Dua bentuk penggunaan material nano sebagai obat-obatan sudah diuji pada tikus percobaan, yaitu berupa selubung nano emas (gold nanoshell) yang digunakan untuk mendiagnosa dan mengobati kanker, dan liposom sebagai pembantu (adjuvant) vaksin dan sarana untuk menghantarkan obat.[1][2] Detoksifikasi juga aplikasi lain dari nanomedicine yang telah diuji di tikus percobaan.[3] Material dan teknologi nano memungkinkan implan untuk dibuat berukuran sangat kecil dan mencegah penolakan oleh tubuh.[4]

Fungsi penghantaran obat (drug delivery) menjadi lebih baik karena material nano saat ini mampu dimodifikasi secara detail sehingga mampu diatur untuk melepas obat ketika menyentuh benda tertentu, seperti sel kanker. Hal ini diperlukan agar konsumsi obat-obatan tidak menimbulkan efek samping berlebih.[5][6]

Kemampuan material nano untuk berinteraksi pada sel tertentu menjadikannya bermanfaat dalam banyak hal, termasuk visualisasi di bidang kedokteran. Zat pewarna (dye) yang terbuat dari senyawa tertentu dapat dibuat bereaksi dengan sel penyakit seperti sel kanker, yang kemudian menghasilkan perpendaran (fluoresensi) untuk memudahkan pendeteksian.[7]

Lihat pula

Referensi

  1. Nanospectra Biosciences inc. Publications.
  2. Mozafari, M.R. (ed), 2006. Nanocarrier Technologies: Frontiers of Nanotherapy (Chapters 1 and 2) pages 10–11.
  3. Bertrand N, Bouvet C, Moreau P and Leroux JC. (2010). "Transmembrane pH-Gradient Liposomes To Treat Cardiovascular Drug Intoxication". ACS Nano 4 (12): 7552–7558.
  4. Boisseau, P.; Loubaton, B. (2011). "Nanomedicine, nanotechnology in medicine". Comptes Rendus Physique 12 (7): 620.
  5. LaVan DA, McGuire T, Langer R. (2003). "Small-scale systems for in vivo drug delivery". Nat Biotechnol. 21 (10): 1184–1191.
  6. Cavalcanti A, Shirinzadeh B, Freitas RA Jr, Hogg T. (2008). "Nanorobot architecture for medical target identification". Nanotechnology 19.
  7. Coffey, Rebecca (August 2012). "20 Things You Didn't Know About Nanotechnology". Discover 31 (6): 96.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28019100 (2025-10-16T13:05:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.