Berteriak: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29357208; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Scream_and_shout.jpg|thumb|right|280px|Anak laki-laki yang marah menjerit]] | |||
'''Teriak''' adalah vokalisasi keras/keras di mana udara dilewatkan melalui [[pita suara]] dengan kekuatan lebih besar daripada yang digunakan dalam vokalisasi biasa atau jarak dekat. Ini dapat dilakukan oleh makhluk apa pun yang memiliki paru-paru, termasuk manusia. | '''Teriak''' adalah vokalisasi keras/keras di mana udara dilewatkan melalui [[pita suara]] dengan kekuatan lebih besar daripada yang digunakan dalam vokalisasi biasa atau jarak dekat. Ini dapat dilakukan oleh makhluk apa pun yang memiliki paru-paru, termasuk manusia. | ||
| Baris 4: | Baris 6: | ||
== Sebagai sebuah fenomena == | == Sebagai sebuah fenomena == | ||
=== Dalam psikologi === | === Dalam psikologi === | ||
Dalam psikologi, teriakan merupakan tema penting dalam teori Arthur Janov. Dalam bukunya ''The Primal Scream'', Janov mengklaim bahwa obat untuk [[neurosis]] adalah menghadapi pasien dengan rasa sakit yang ditekan akibat trauma yang dialami. Konfrontasi ini melahirkan jeritan. Janov percaya bahwa tidak perlu menyembuhkan pasien dari traumanya. Teriakan hanyalah salah satu bentuk ekspresi rasa sakit utama, yang berasal dari masa kanak-kanak seseorang, dan menghidupkan kembali rasa sakit ini dan ekspresinya. Ini akhirnya muncul melalui jeritan dan dapat menyembuhkan pasien dari neurosisnya. | Dalam psikologi, teriakan merupakan tema penting dalam teori Arthur Janov. Dalam bukunya ''The Primal Scream'', Janov mengklaim bahwa obat untuk [[neurosis]] adalah menghadapi pasien dengan rasa sakit yang ditekan akibat trauma yang dialami. Konfrontasi ini melahirkan jeritan. Janov percaya bahwa tidak perlu menyembuhkan pasien dari traumanya. Teriakan hanyalah salah satu bentuk ekspresi rasa sakit utama, yang berasal dari masa kanak-kanak seseorang, dan menghidupkan kembali rasa sakit ini dan ekspresinya. Ini akhirnya muncul melalui jeritan dan dapat menyembuhkan pasien dari neurosisnya. | ||
Janov menggambarkan jeritan primal sebagai sangat khas dan tidak salah lagi. Ini adalah “suara yang anehnya rendah, berderak dan tidak disengaja. […] Beberapa orang mengerang, mengerang dan meringkuk. […] Seseorang berteriak karena saat-saat lain ketika harus diam, diolok-olok, dihina atau dipukuli”. Janov juga mengatakan bahwa jeritan primal memiliki serangkaian reaksi; “para pasien yang bahkan tidak bisa mengatakan “piep” di rumah, tiba-tiba merasa kuat. Jeritan itu tampaknya menjadi pengalaman yang membebaskan”. Janov memperhatikan hal ini pada semua pasiennya. Wanita yang tampaknya memiliki suara bayi selama terapi berkembang dengan teriakan primal mereka menjadi suara yang sangat rendah. | Janov menggambarkan jeritan primal sebagai sangat khas dan tidak salah lagi. Ini adalah “suara yang anehnya rendah, berderak dan tidak disengaja. […] Beberapa orang mengerang, mengerang dan meringkuk. […] Seseorang berteriak karena saat-saat lain ketika harus diam, diolok-olok, dihina atau dipukuli”.<ref>Arthur Janov. [https://archive.org/details/primalscream0000arth The Primal Scream]. 1970. hlm. [https://archive.org/details/primalscream0000arth/page/n91 90].</ref> Janov juga mengatakan bahwa jeritan primal memiliki serangkaian reaksi; “para pasien yang bahkan tidak bisa mengatakan “piep” di rumah, tiba-tiba merasa kuat. Jeritan itu tampaknya menjadi pengalaman yang membebaskan”.<ref>Arthur Janov. [https://archive.org/details/primalscream0000arth The Primal Scream]. 1970.</ref> Janov memperhatikan hal ini pada semua pasiennya. Wanita yang tampaknya memiliki suara bayi selama terapi berkembang dengan teriakan primal mereka menjadi suara yang sangat rendah. | ||
=== Sebagai tumpuan kekuasaan === | === Sebagai tumpuan kekuasaan === | ||
Gregory Whitehead, pendiri ''Institute for Screamscape Studies'', percaya bahwa suara digunakan untuk memfokuskan kekuatan: “teriakan dulunya adalah senjata psikologis baik untuk Anda maupun melawan lawan Anda, itu meningkatkan kepercayaan diri orang yang menggunakannya. Menciptakan kekuatan dengan teriakan berarti mempengaruhi seseorang tanpa menyentuhnya”. Dalam hal ini teriakan adalah senjata pelindung, seperti yang juga sering digunakan oleh hewan, yang berteriak sebagai ekspresi kekuatan atau saat berkelahi dengan hewan lain. | Gregory Whitehead, pendiri ''Institute for Screamscape Studies'', percaya bahwa suara digunakan untuk memfokuskan kekuatan: “teriakan dulunya adalah senjata psikologis baik untuk Anda maupun melawan lawan Anda, itu meningkatkan kepercayaan diri orang yang menggunakannya. Menciptakan kekuatan dengan teriakan berarti mempengaruhi seseorang tanpa menyentuhnya”.<ref>Gregory Whitehead quote from the Radio Play "Pressures of the unspeakable" Sydney, 1992</ref> Dalam hal ini teriakan adalah senjata pelindung, seperti yang juga sering digunakan oleh hewan, yang berteriak sebagai ekspresi kekuatan atau saat berkelahi dengan hewan lain. | ||
=== Berteriak dalam kesenangan === | === Berteriak dalam kesenangan === | ||
Teriakan dan jeritan juga merupakan sarana untuk mengungkapkan kesenangan. Studi pada monyet telah menunjukkan bahwa ketika monyet betina berteriak saat berhubungan seks, itu membantu ejakulasi jantan. Perkiraan 86 persen dari waktu di mana monyet betina berteriak selama hubungan seksual, menghasilkan tingkat keberhasilan 59 persen, dibandingkan dengan 2 persen, tanpa teriakan betina. | Teriakan dan jeritan juga merupakan sarana untuk mengungkapkan kesenangan. Studi pada monyet telah menunjukkan bahwa ketika monyet betina berteriak saat berhubungan seks, itu membantu ejakulasi jantan. Perkiraan 86 persen dari waktu di mana monyet betina berteriak selama hubungan seksual, menghasilkan tingkat keberhasilan 59 persen, dibandingkan dengan 2 persen, tanpa teriakan betina.<ref>[http://www.livescience.com/7455-study-reveals-monkeys-shout-sex.html Study Reveals Why Monkeys Shout During Sex]. ''Livescience.com''. 18 December 2007.</ref> | ||
Gayle Brewer dari University of Central Lancashire dan Colin Hendrie dari University of Leeds melakukan penelitian serupa dengan wanita, menunjukkan bahwa wanita juga berteriak saat berhubungan intim sebagai dorongan bagi pasangannya untuk melakukan "pekerjaan yang lebih baik". | Gayle Brewer dari University of Central Lancashire dan Colin Hendrie dari University of Leeds melakukan penelitian serupa dengan wanita, menunjukkan bahwa wanita juga berteriak saat berhubungan intim sebagai dorongan bagi pasangannya untuk melakukan "pekerjaan yang lebih baik".<ref>Gayle Brewer. [http://clok.uclan.ac.uk/1171/1/1171_brewer_Vocalization_acceptedversion.pdf Evidence to Suggest that Copulatory Vocalizations in Women Are Not a Reflexive Consequence of Orgasm]. ''Arch Sex Behav''. 18 May 2010. Vol. 40 (3). hlm. 559–564. doi:10.1007/s10508-010-9632-1.</ref> | ||
=== Berteriak sebagai bahasa yang baru lahir === | === Berteriak sebagai bahasa yang baru lahir === | ||
Janov percaya bahwa untuk bayi, berteriak adalah satu-satunya bentuk komunikasi yang dapat mereka lakukan; itu adalah satu-satunya cara bayi dapat mengungkapkan kebutuhannya, bahwa mereka membutuhkan makanan, mereka kesakitan atau mereka hanya membutuhkan cinta. Janov menulis, “teriakan adalah bahasa – bahasa primitif, tapi bahasa manusia”. | Janov percaya bahwa untuk bayi, berteriak adalah satu-satunya bentuk komunikasi yang dapat mereka lakukan; itu adalah satu-satunya cara bayi dapat mengungkapkan kebutuhannya, bahwa mereka membutuhkan makanan, mereka kesakitan atau mereka hanya membutuhkan cinta. Janov menulis, “teriakan adalah bahasa – bahasa primitif, tapi bahasa manusia”.<ref>Arthur Janov. [https://archive.org/details/newprimalscreamp0000jano The New Primal Scream; Primal Therapy 20 Years on]. 1991. hlm. [https://archive.org/details/newprimalscreamp0000jano/page/n353 336].</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berteriak&oldid=29357208 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29357208 (2026-06-17T13:11:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 14.02

Teriak adalah vokalisasi keras/keras di mana udara dilewatkan melalui pita suara dengan kekuatan lebih besar daripada yang digunakan dalam vokalisasi biasa atau jarak dekat. Ini dapat dilakukan oleh makhluk apa pun yang memiliki paru-paru, termasuk manusia.
Teriakan sering kali merupakan tindakan naluriah atau refleks, dengan aspek emosional yang kuat, seperti ketakutan, kesakitan, gangguan, kejutan, keriangan, kegembiraan, kemarahan, dll.
Sebagai sebuah fenomena
Dalam psikologi
Dalam psikologi, teriakan merupakan tema penting dalam teori Arthur Janov. Dalam bukunya The Primal Scream, Janov mengklaim bahwa obat untuk neurosis adalah menghadapi pasien dengan rasa sakit yang ditekan akibat trauma yang dialami. Konfrontasi ini melahirkan jeritan. Janov percaya bahwa tidak perlu menyembuhkan pasien dari traumanya. Teriakan hanyalah salah satu bentuk ekspresi rasa sakit utama, yang berasal dari masa kanak-kanak seseorang, dan menghidupkan kembali rasa sakit ini dan ekspresinya. Ini akhirnya muncul melalui jeritan dan dapat menyembuhkan pasien dari neurosisnya.
Janov menggambarkan jeritan primal sebagai sangat khas dan tidak salah lagi. Ini adalah “suara yang anehnya rendah, berderak dan tidak disengaja. […] Beberapa orang mengerang, mengerang dan meringkuk. […] Seseorang berteriak karena saat-saat lain ketika harus diam, diolok-olok, dihina atau dipukuli”.[1] Janov juga mengatakan bahwa jeritan primal memiliki serangkaian reaksi; “para pasien yang bahkan tidak bisa mengatakan “piep” di rumah, tiba-tiba merasa kuat. Jeritan itu tampaknya menjadi pengalaman yang membebaskan”.[2] Janov memperhatikan hal ini pada semua pasiennya. Wanita yang tampaknya memiliki suara bayi selama terapi berkembang dengan teriakan primal mereka menjadi suara yang sangat rendah.
Sebagai tumpuan kekuasaan
Gregory Whitehead, pendiri Institute for Screamscape Studies, percaya bahwa suara digunakan untuk memfokuskan kekuatan: “teriakan dulunya adalah senjata psikologis baik untuk Anda maupun melawan lawan Anda, itu meningkatkan kepercayaan diri orang yang menggunakannya. Menciptakan kekuatan dengan teriakan berarti mempengaruhi seseorang tanpa menyentuhnya”.[3] Dalam hal ini teriakan adalah senjata pelindung, seperti yang juga sering digunakan oleh hewan, yang berteriak sebagai ekspresi kekuatan atau saat berkelahi dengan hewan lain.
Berteriak dalam kesenangan
Teriakan dan jeritan juga merupakan sarana untuk mengungkapkan kesenangan. Studi pada monyet telah menunjukkan bahwa ketika monyet betina berteriak saat berhubungan seks, itu membantu ejakulasi jantan. Perkiraan 86 persen dari waktu di mana monyet betina berteriak selama hubungan seksual, menghasilkan tingkat keberhasilan 59 persen, dibandingkan dengan 2 persen, tanpa teriakan betina.[4]
Gayle Brewer dari University of Central Lancashire dan Colin Hendrie dari University of Leeds melakukan penelitian serupa dengan wanita, menunjukkan bahwa wanita juga berteriak saat berhubungan intim sebagai dorongan bagi pasangannya untuk melakukan "pekerjaan yang lebih baik".[5]
Berteriak sebagai bahasa yang baru lahir
Janov percaya bahwa untuk bayi, berteriak adalah satu-satunya bentuk komunikasi yang dapat mereka lakukan; itu adalah satu-satunya cara bayi dapat mengungkapkan kebutuhannya, bahwa mereka membutuhkan makanan, mereka kesakitan atau mereka hanya membutuhkan cinta. Janov menulis, “teriakan adalah bahasa – bahasa primitif, tapi bahasa manusia”.[6]
Referensi
- ↑ Arthur Janov. The Primal Scream. 1970. hlm. 90.
- ↑ Arthur Janov. The Primal Scream. 1970.
- ↑ Gregory Whitehead quote from the Radio Play "Pressures of the unspeakable" Sydney, 1992
- ↑ Study Reveals Why Monkeys Shout During Sex. Livescience.com. 18 December 2007.
- ↑ Gayle Brewer. Evidence to Suggest that Copulatory Vocalizations in Women Are Not a Reflexive Consequence of Orgasm. Arch Sex Behav. 18 May 2010. Vol. 40 (3). hlm. 559–564. doi:10.1007/s10508-010-9632-1.
- ↑ Arthur Janov. The New Primal Scream; Primal Therapy 20 Years on. 1991. hlm. 336.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29357208 (2026-06-17T13:11:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.