Lompat ke isi

Rawa: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29422587; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Florida_freshwater_swamp_usgov_image.jpg|thumb|right|280px|Florida freshwater swamp usgov image]]
'''Rawa''' atau '''rawang''' () adalah lahan yang secara alami tergenang [[air]] akibat [[drainase|penyaliran]] yang terhambat, baik genangan itu terjadi secara berkala atau pun terus menerus selama waktu yang panjang dalam setahun.  Digolongkan pula ke dalam rawa, lahan-lahan yang selalu jenuh air karena muka air tanahnya yang dangkal.  Rawa berbeda dengan [[danau]] dan [[telaga]], karena biasanya airnya lebih dangkal serta pada umumnya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang mencuat di atas air.  Rawa yang ditumbuhi oleh tetumbuhan lunak (terna) dan [[rumput|rumput-rumputan]] dikenal sebagai [[paya]].
'''Rawa''' atau '''rawang''' () adalah lahan yang secara alami tergenang [[air]] akibat [[drainase|penyaliran]] yang terhambat, baik genangan itu terjadi secara berkala atau pun terus menerus selama waktu yang panjang dalam setahun.  Digolongkan pula ke dalam rawa, lahan-lahan yang selalu jenuh air karena muka air tanahnya yang dangkal.  Rawa berbeda dengan [[danau]] dan [[telaga]], karena biasanya airnya lebih dangkal serta pada umumnya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang mencuat di atas air.  Rawa yang ditumbuhi oleh tetumbuhan lunak (terna) dan [[rumput|rumput-rumputan]] dikenal sebagai [[paya]].


Rawa dapat digolongkan sebagai wilayah atau mintakat peralihan, karena baik unsur tanah maupun air berperan penting dalam pembentukan ekosistem ini. Rawa ditemukan di seluruh dunia, dan bervariasi ukurannya dari yang kecil hingga sangat luas.  Airnya pun bervariasi mulai dari [[air tawar]], [[air payau]], hingga [[air laut|air asin]].
Rawa dapat digolongkan sebagai wilayah atau mintakat peralihan, karena baik unsur tanah maupun air berperan penting dalam pembentukan ekosistem ini.<ref>National Geographic Society. [http://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/swamp/ swamp]. ''National Geographic Society''. 2011-01-21.</ref> Rawa ditemukan di seluruh dunia, dan bervariasi ukurannya dari yang kecil hingga sangat luas.  Airnya pun bervariasi mulai dari [[air tawar]], [[air payau]], hingga [[air laut|air asin]].
 


== Hidrologi ==
== Hidrologi ==
 
Rawa dicirikan oleh tanahnya yang jenuh air dan aliran airnya yang lambat.<ref>[https://www.epa.gov/wetlands/classification-and-types-wetlands#swamps Classification and Types of Wetlands]. ''EPA''. 9 April 2015.</ref> Air rawa berasal dari banyak sumber, semisal [[hujan]], [[air tanah]], atau juga pasang surut [[air laut]] dan [[air tawar]].<ref>Mitsch, W.J. & J.G. Gosselink (2015). ''Wetlands''. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons Inc.</ref> Proses-proses [[hidrologi]] yang terkait akan menentukan bagaimana energi dan unsur hara mengalir masuk dan keluar ekosistem rawa.  Ketika air mengalir lambat melalui rawa, zat hara, sedimen, dan [[polutan]] secara alami akan tersaring, tertahan di rawa.  Unsur kimia seperti [[fosfor]] dan [[nitrogen]] yang terbawa air, akan diserap dan dimanfaatkan oleh tetumbuhan air penghuni rawa, dan dengan demikian memurnikan airnya.  Sisa-sisa atau kelebihan bahan kimia yang ada akan terakumulasi di dasar rawa, terendapkan dan terperangkap dalam [[sedimen]].<ref>National Geographic Society. [http://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/swamp/ swamp]. ''National Geographic Society''. 2011-01-21.</ref> Lingkungan biogeokimiawi dari suatu rawa ditentukan oleh hidrologinya, yang berpengaruh terhadap aras dan ketersediaan sumber daya seperti [[oksigen]], unsur hara, [[pH]] air serta toksisitasnya, yang pada gilirannya akan memengaruhi keseluruhan ekosistem.<ref>Mitsch, W.J. & J.G. Gosselink (2015). ''Wetlands''. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons Inc.</ref>
Rawa dicirikan oleh tanahnya yang jenuh air dan aliran airnya yang lambat.  Air rawa berasal dari banyak sumber, semisal [[hujan]], [[air tanah]], atau juga pasang surut [[air laut]] dan [[air tawar]].  Proses-proses [[hidrologi]] yang terkait akan menentukan bagaimana energi dan unsur hara mengalir masuk dan keluar ekosistem rawa.  Ketika air mengalir lambat melalui rawa, zat hara, sedimen, dan [[polutan]] secara alami akan tersaring, tertahan di rawa.  Unsur kimia seperti [[fosfor]] dan [[nitrogen]] yang terbawa air, akan diserap dan dimanfaatkan oleh tetumbuhan air penghuni rawa, dan dengan demikian memurnikan airnya.  Sisa-sisa atau kelebihan bahan kimia yang ada akan terakumulasi di dasar rawa, terendapkan dan terperangkap dalam [[sedimen]].  Lingkungan biogeokimiawi dari suatu rawa ditentukan oleh hidrologinya, yang berpengaruh terhadap aras dan ketersediaan sumber daya seperti [[oksigen]], unsur hara, [[pH]] air serta toksisitasnya, yang pada gilirannya akan memengaruhi keseluruhan ekosistem.


== Penggolongan rawa ==
== Penggolongan rawa ==
Rawa-rawa terjadi karena tanah-tanah yang kerendahan, datar atau cekung, tergenangi oleh air hujan, luapan air sungai yang banjir, dan atau oleh pasang air laut.
Rawa-rawa terjadi karena tanah-tanah yang kerendahan, datar atau cekung, tergenangi oleh air hujan, luapan air sungai yang banjir, dan atau oleh pasang air laut.


Pada sisi yang lain, wilayah-wilayah [[daerah aliran sungai]] bagian bawah (''downstream'') dapat dibedakan atas tiga zona.  Yakni Zona 1, yang merupakan wilayah pasang surut air asin/payau;  Zona 2, yang merupakan wilayah pasang surut air tawar;  dan Zona 3, yakni wilayah yang tidak lagi terkena pengaruh pasang surut laut, atau disebut juga wilayah rawa lebak.  Terkait dengan hal itu maka dikenal adanya rawa pasang surut, rawa lebak, dan rawa lebak peralihan.
Pada sisi yang lain, wilayah-wilayah [[daerah aliran sungai]] bagian bawah (''downstream'') dapat dibedakan atas tiga zona.  Yakni Zona 1, yang merupakan wilayah pasang surut air asin/payau;  Zona 2, yang merupakan wilayah pasang surut air tawar;  dan Zona 3, yakni wilayah yang tidak lagi terkena pengaruh pasang surut laut, atau disebut juga wilayah rawa lebak.<ref>(2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) ''Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa'', hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.</ref> Terkait dengan hal itu maka dikenal adanya rawa pasang surut, rawa lebak, dan rawa lebak peralihan.


=== Rawa pasang surut ===
=== Rawa pasang surut ===
Rawa pasang surut adalah rawa-rawa yang genangannya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Rawa-rawa yang berada dekat atau relatif dekat dengan pantai (Zona 1) terkena pengaruh asinnya air laut, yang masuk ke darat pada waktu pasang naik mengikuti alur sungai dan anak sungai, sehingga terbentuk paya asin (''salt marsh''), atau paya dan rawa [[air payau|payau]] (''brackish marsh/swamp'').  Rawa [[mangrove]], begitu pula [[hutan payau]] dan paya-paya belakang pantai, terbentuk di zona ini.  Rawa-rawa dan paya di Zona 1 ini juga dikenal sebagai rawa pantai.<ref>(2012). "Teknologi pengelolaan rawa berkelanjutan: studi kasus kawasan ex PLG Kalimantan Tengah", ''J. Sumberdaya Lahan'', '''6'''(1):45-54 (Juli 2012).</ref>


Rawa pasang surut adalah rawa-rawa yang genangannya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Rawa-rawa yang berada dekat atau relatif dekat dengan pantai (Zona 1) terkena pengaruh asinnya air laut, yang masuk ke darat pada waktu pasang naik mengikuti alur sungai dan anak sungai, sehingga terbentuk paya asin (''salt marsh''), atau paya dan rawa [[air payau|payau]] (''brackish marsh/swamp'').  Rawa [[mangrove]], begitu pula [[hutan payau]] dan paya-paya belakang pantai, terbentuk di zona ini.  Rawa-rawa dan paya di Zona 1 ini juga dikenal sebagai rawa pantai.
Pada batas tertentu yang terletak lebih ke pedalaman pulau—terutama di pulau-pulau besar yang dataran rendahnya luas dan relatif datar di dekat laut—asinnya air laut sudah tidak lagi berpengaruh, tetapi dinamika pasang surut laut masih memengaruhi pasang surutnya air tawar di sungai, dan di rawa-rawa kanan kirinya.  Inilah yang dikenal sebagai rawa-rawa pasang surut Zona 2, yang airnya tidak lagi terasa payau.<ref>(2012). "Teknologi pengelolaan rawa berkelanjutan: studi kasus kawasan ex PLG Kalimantan Tengah", ''J. Sumberdaya Lahan'', '''6'''(1):45-54 (Juli 2012).</ref>
 
Pada batas tertentu yang terletak lebih ke pedalaman pulau—terutama di pulau-pulau besar yang dataran rendahnya luas dan relatif datar di dekat laut—asinnya air laut sudah tidak lagi berpengaruh, tetapi dinamika pasang surut laut masih memengaruhi pasang surutnya air tawar di sungai, dan di rawa-rawa kanan kirinya.  Inilah yang dikenal sebagai rawa-rawa pasang surut Zona 2, yang airnya tidak lagi terasa payau.


Sementara itu, ada pula yang membedakan lahan pasang surut ke dalam empat tipe berdasarkan pola genangannya.  Yakni:
Sementara itu, ada pula yang membedakan lahan pasang surut ke dalam empat tipe berdasarkan pola genangannya.  Yakni:<ref>WI IP (t.t.). ''Mengenal tipe lahan rawa gambut''. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.</ref>
# Tipe A, yakni lahan rawa yang tergenang pada waktu pasang besar dan pasang kecil;
# Tipe A, yakni lahan rawa yang tergenang pada waktu pasang besar dan pasang kecil;
# Tipe B, lahan rawa yang tergenang hanya pada waktu pasang besar;
# Tipe B, lahan rawa yang tergenang hanya pada waktu pasang besar;
Baris 26: Baris 25:


=== Rawa lebak ===
=== Rawa lebak ===
Rawa lebak terbentuk oleh air hujan atau luapan banjir air sungai, sehingga banyak didapati di kanan kiri aliran sungai di pedalaman.  Dengan demikian, rawa ini meluas di [[musim hujan]] dan berangsur-angsur menyusut, bahkan bisa jadi mengering, pada waktu [[kemarau]].  Akan tetapi rawa-rawa ini tidak mengalami pasang surut air harian.<ref>(2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) ''Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa'', hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.</ref><ref>WI IP (t.t.). ''Mengenal tipe lahan rawa gambut''. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.</ref>


Rawa lebak terbentuk oleh air hujan atau luapan banjir air sungai, sehingga banyak didapati di kanan kiri aliran sungai di pedalaman.  Dengan demikian, rawa ini meluas di [[musim hujan]] dan berangsur-angsur menyusut, bahkan bisa jadi mengering, pada waktu [[kemarau]]. Akan tetapi rawa-rawa ini tidak mengalami pasang surut air harian.
Formasi lahan tempat rawa lebak ini terbentuk bervariasi mulai dari dataran banjir (''floodplains'') pada sungai-sungai yang relatif muda, hingga ke dataran banjir ber[[meander]] (''meandering floodplains'') di kanan-kiri sungai-sungai besar yang lebih tua umur geologisnya;  termasuk ke dalamnya dataran bekas aliran sungai tua, dan wilayah [[danau tapal kuda|danau-danau tapal kuda]] (''oxbow lake'').<ref>(2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) ''Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa'', hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.</ref>


Formasi lahan tempat rawa lebak ini terbentuk bervariasi mulai dari dataran banjir (''floodplains'') pada sungai-sungai yang relatif muda, hingga ke dataran banjir ber[[meander]] (''meandering floodplains'') di kanan-kiri sungai-sungai besar yang lebih tua umur geologisnya;  termasuk ke dalamnya dataran bekas aliran sungai tua, dan wilayah [[danau tapal kuda|danau-danau tapal kuda]] (''oxbow lake'').
Rawa lebak selanjutnya dibedakan atas:<ref>WI IP (t.t.). ''Mengenal tipe lahan rawa gambut''. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.</ref>
 
Rawa lebak selanjutnya dibedakan atas:
# Rawa lebak dangkal atau rawa lebak pematang.  Yakni rawa yang memiliki kedalaman air kurang dari 50&nbsp;cm.  Rawa ini biasanya terletak di sepanjang tanggul sungai, dengan lama genangan air sekitar 3 bulan.
# Rawa lebak dangkal atau rawa lebak pematang.  Yakni rawa yang memiliki kedalaman air kurang dari 50&nbsp;cm.  Rawa ini biasanya terletak di sepanjang tanggul sungai, dengan lama genangan air sekitar 3 bulan.
# Rawa lebak tengahan.  Yaitu rawa dengan kedalaman air antara 50–100&nbsp;cm;  lama genangannya berkisar antara 3-6 bulan.
# Rawa lebak tengahan.  Yaitu rawa dengan kedalaman air antara 50–100&nbsp;cm;  lama genangannya berkisar antara 3-6 bulan.
# Rawa lebak dalam.  Yaitu rawa lebak yang dalamnya melebihi 100&nbsp;cm.  Rawa ini biasanya terletak agak jauh dari sungai ke sebelah pedalaman, dan genangan airnya bertahan lebih lama dari 6 bulan.
# Rawa lebak dalam.  Yaitu rawa lebak yang dalamnya melebihi 100&nbsp;cm.  Rawa ini biasanya terletak agak jauh dari sungai ke sebelah pedalaman, dan genangan airnya bertahan lebih lama dari 6 bulan.


== Perjanjian Ramsar ==
== Perjanjian Ramsar ==
[[Perjanjian Ramsar]] adalah perjanjian tentang tempat rawa-rawa yang dianggap penting secara internasional yang memiliki makna sebagai tempat tinggal [[burung]] air. Tujuan perjanjian itu adalah untuk pencegahan kerusakan rawa yang semakin menggerogoti nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata. Perjanjian Ramsar diratifikasi atas masyarakat dunia pada 1971 di Ramsar, Iran.
[[Perjanjian Ramsar]] adalah perjanjian tentang tempat rawa-rawa yang dianggap penting secara internasional yang memiliki makna sebagai tempat tinggal [[burung]] air. Tujuan perjanjian itu adalah untuk pencegahan kerusakan rawa yang semakin menggerogoti nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata.<ref>Mochamad Indrawan. [https://books.google.co.id/books?id=FYfkdv4VGQgC&pg=PA315&dq=konvensi+ramsar&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiAzOf_nvftAhWTcn0KHSViB7gQ6AEwAHoECAEQAg#v=onepage&q=konvensi%20ramsar&f=false Biologi Konservasi: Edisi Revisi]. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2012. hlm. 315. ISBN 9789794612880.</ref> Perjanjian Ramsar diratifikasi atas masyarakat dunia pada 1971 di Ramsar, Iran.<ref>Robert Siburian. [https://books.google.co.id/books?id=Ho5MDAAAQBAJ&pg=PA113&dq=konvensi+ramsar&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiAzOf_nvftAhWTcn0KHSViB7gQ6AEwA3oECAIQAg#v=onepage&q=konvensi%20ramsar&f=true Konservasi Mangrove dan Kesejahteraan Masyarakat]. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2016. hlm. 113. ISBN 9789794619933.</ref>


== Daftar Ramsar ==
== Daftar Ramsar ==
[[Negara]] yang akan menjadi anggota dalam perjanjian Ramsar itu harus mendaftarkan satu tempat rawa dalam wilayahnya ke dalam "daftar rawa-rawa yang penting secara internasional", yang biasanya disebut "daftar Ramsar". Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap perlindungan tempat rawa yang terdaftar, melainkan juga membangun dan melaksanakan proyek rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan rawa secara bijaksana. Salah satu situs Ramsar di Indonesia adalah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang terletak di Sulawesi Tenggara.
[[Negara]] yang akan menjadi anggota dalam perjanjian Ramsar itu harus mendaftarkan satu tempat rawa dalam wilayahnya ke dalam "daftar rawa-rawa yang penting secara internasional", yang biasanya disebut "daftar Ramsar". Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap perlindungan tempat rawa yang terdaftar, melainkan juga membangun dan melaksanakan proyek rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan rawa secara bijaksana. Salah satu situs Ramsar di Indonesia adalah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang terletak di Sulawesi Tenggara.<ref>Dwi Arinto Adi. [https://books.google.co.id/books?id=uYDsDwAAQBAJ&pg=PA21&dq=konvensi+ramsar&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiAzOf_nvftAhWTcn0KHSViB7gQ6AEwAXoECAUQAg#v=onepage&q=konvensi%20ramsar&f=true Prosiding Seminar Nasional Biologi—Jurusan Biologi FMIPA UHO 2019: Eksplorasi dan Pemanfaatan Biodiversitas dalam Menunjang Pembangunan Nasional Berkelanjutan]. Universitas Haluoleo Press. 2020. hlm. 20-21. ISBN 9786025835285.</ref>
 
==Referensi==
 


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
Baris 53: Baris 47:


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Lahan basah]]
* [[Lahan basah]]
* [[Paya]]
* [[Paya]]
Baris 60: Baris 53:
* [[Tumbuhan akuatik]]
* [[Tumbuhan akuatik]]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rawa&oldid=29422587 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29422587 (2026-07-05T15:21:21Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rawa&oldid=29422587 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29422587 (2026-07-05T15:21:21Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 17.57

Florida freshwater swamp usgov image

Rawa atau rawang () adalah lahan yang secara alami tergenang air akibat penyaliran yang terhambat, baik genangan itu terjadi secara berkala atau pun terus menerus selama waktu yang panjang dalam setahun. Digolongkan pula ke dalam rawa, lahan-lahan yang selalu jenuh air karena muka air tanahnya yang dangkal. Rawa berbeda dengan danau dan telaga, karena biasanya airnya lebih dangkal serta pada umumnya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang mencuat di atas air. Rawa yang ditumbuhi oleh tetumbuhan lunak (terna) dan rumput-rumputan dikenal sebagai paya.

Rawa dapat digolongkan sebagai wilayah atau mintakat peralihan, karena baik unsur tanah maupun air berperan penting dalam pembentukan ekosistem ini.[1] Rawa ditemukan di seluruh dunia, dan bervariasi ukurannya dari yang kecil hingga sangat luas. Airnya pun bervariasi mulai dari air tawar, air payau, hingga air asin.

Hidrologi

Rawa dicirikan oleh tanahnya yang jenuh air dan aliran airnya yang lambat.[2] Air rawa berasal dari banyak sumber, semisal hujan, air tanah, atau juga pasang surut air laut dan air tawar.[3] Proses-proses hidrologi yang terkait akan menentukan bagaimana energi dan unsur hara mengalir masuk dan keluar ekosistem rawa. Ketika air mengalir lambat melalui rawa, zat hara, sedimen, dan polutan secara alami akan tersaring, tertahan di rawa. Unsur kimia seperti fosfor dan nitrogen yang terbawa air, akan diserap dan dimanfaatkan oleh tetumbuhan air penghuni rawa, dan dengan demikian memurnikan airnya. Sisa-sisa atau kelebihan bahan kimia yang ada akan terakumulasi di dasar rawa, terendapkan dan terperangkap dalam sedimen.[4] Lingkungan biogeokimiawi dari suatu rawa ditentukan oleh hidrologinya, yang berpengaruh terhadap aras dan ketersediaan sumber daya seperti oksigen, unsur hara, pH air serta toksisitasnya, yang pada gilirannya akan memengaruhi keseluruhan ekosistem.[5]

Penggolongan rawa

Rawa-rawa terjadi karena tanah-tanah yang kerendahan, datar atau cekung, tergenangi oleh air hujan, luapan air sungai yang banjir, dan atau oleh pasang air laut.

Pada sisi yang lain, wilayah-wilayah daerah aliran sungai bagian bawah (downstream) dapat dibedakan atas tiga zona. Yakni Zona 1, yang merupakan wilayah pasang surut air asin/payau; Zona 2, yang merupakan wilayah pasang surut air tawar; dan Zona 3, yakni wilayah yang tidak lagi terkena pengaruh pasang surut laut, atau disebut juga wilayah rawa lebak.[6] Terkait dengan hal itu maka dikenal adanya rawa pasang surut, rawa lebak, dan rawa lebak peralihan.

Rawa pasang surut

Rawa pasang surut adalah rawa-rawa yang genangannya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Rawa-rawa yang berada dekat atau relatif dekat dengan pantai (Zona 1) terkena pengaruh asinnya air laut, yang masuk ke darat pada waktu pasang naik mengikuti alur sungai dan anak sungai, sehingga terbentuk paya asin (salt marsh), atau paya dan rawa payau (brackish marsh/swamp). Rawa mangrove, begitu pula hutan payau dan paya-paya belakang pantai, terbentuk di zona ini. Rawa-rawa dan paya di Zona 1 ini juga dikenal sebagai rawa pantai.[7]

Pada batas tertentu yang terletak lebih ke pedalaman pulau—terutama di pulau-pulau besar yang dataran rendahnya luas dan relatif datar di dekat laut—asinnya air laut sudah tidak lagi berpengaruh, tetapi dinamika pasang surut laut masih memengaruhi pasang surutnya air tawar di sungai, dan di rawa-rawa kanan kirinya. Inilah yang dikenal sebagai rawa-rawa pasang surut Zona 2, yang airnya tidak lagi terasa payau.[8]

Sementara itu, ada pula yang membedakan lahan pasang surut ke dalam empat tipe berdasarkan pola genangannya. Yakni:[9]

  1. Tipe A, yakni lahan rawa yang tergenang pada waktu pasang besar dan pasang kecil;
  2. Tipe B, lahan rawa yang tergenang hanya pada waktu pasang besar;
  3. Tipe C, lahan rawa yang tidak tergenang air pasang, tetapi kedalaman air tanahnya pada waktu pasang kurang dari 50 cm;
  4. Tipe D, tidak tergenang air pasang, dan pada waktu pasang kedalaman air tanahnya lebih dari 50 cm, tetapi pasang surutnya air masih terasa atau terlihat pada saluran tersier.

Rawa lebak

Rawa lebak terbentuk oleh air hujan atau luapan banjir air sungai, sehingga banyak didapati di kanan kiri aliran sungai di pedalaman. Dengan demikian, rawa ini meluas di musim hujan dan berangsur-angsur menyusut, bahkan bisa jadi mengering, pada waktu kemarau. Akan tetapi rawa-rawa ini tidak mengalami pasang surut air harian.[10][11]

Formasi lahan tempat rawa lebak ini terbentuk bervariasi mulai dari dataran banjir (floodplains) pada sungai-sungai yang relatif muda, hingga ke dataran banjir bermeander (meandering floodplains) di kanan-kiri sungai-sungai besar yang lebih tua umur geologisnya; termasuk ke dalamnya dataran bekas aliran sungai tua, dan wilayah danau-danau tapal kuda (oxbow lake).[12]

Rawa lebak selanjutnya dibedakan atas:[13]

  1. Rawa lebak dangkal atau rawa lebak pematang. Yakni rawa yang memiliki kedalaman air kurang dari 50 cm. Rawa ini biasanya terletak di sepanjang tanggul sungai, dengan lama genangan air sekitar 3 bulan.
  2. Rawa lebak tengahan. Yaitu rawa dengan kedalaman air antara 50–100 cm; lama genangannya berkisar antara 3-6 bulan.
  3. Rawa lebak dalam. Yaitu rawa lebak yang dalamnya melebihi 100 cm. Rawa ini biasanya terletak agak jauh dari sungai ke sebelah pedalaman, dan genangan airnya bertahan lebih lama dari 6 bulan.

Perjanjian Ramsar

Perjanjian Ramsar adalah perjanjian tentang tempat rawa-rawa yang dianggap penting secara internasional yang memiliki makna sebagai tempat tinggal burung air. Tujuan perjanjian itu adalah untuk pencegahan kerusakan rawa yang semakin menggerogoti nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata.[14] Perjanjian Ramsar diratifikasi atas masyarakat dunia pada 1971 di Ramsar, Iran.[15]

Daftar Ramsar

Negara yang akan menjadi anggota dalam perjanjian Ramsar itu harus mendaftarkan satu tempat rawa dalam wilayahnya ke dalam "daftar rawa-rawa yang penting secara internasional", yang biasanya disebut "daftar Ramsar". Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap perlindungan tempat rawa yang terdaftar, melainkan juga membangun dan melaksanakan proyek rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan rawa secara bijaksana. Salah satu situs Ramsar di Indonesia adalah Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang terletak di Sulawesi Tenggara.[16]

Pranala luar

Lihat pula

Referensi

  1. National Geographic Society. swamp. National Geographic Society. 2011-01-21.
  2. Classification and Types of Wetlands. EPA. 9 April 2015.
  3. Mitsch, W.J. & J.G. Gosselink (2015). Wetlands. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons Inc.
  4. National Geographic Society. swamp. National Geographic Society. 2011-01-21.
  5. Mitsch, W.J. & J.G. Gosselink (2015). Wetlands. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons Inc.
  6. (2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa, hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.
  7. (2012). "Teknologi pengelolaan rawa berkelanjutan: studi kasus kawasan ex PLG Kalimantan Tengah", J. Sumberdaya Lahan, 6(1):45-54 (Juli 2012).
  8. (2012). "Teknologi pengelolaan rawa berkelanjutan: studi kasus kawasan ex PLG Kalimantan Tengah", J. Sumberdaya Lahan, 6(1):45-54 (Juli 2012).
  9. WI IP (t.t.). Mengenal tipe lahan rawa gambut. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.
  10. (2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa, hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.
  11. WI IP (t.t.). Mengenal tipe lahan rawa gambut. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.
  12. (2006). "Klasifikasi dan penyebaran lahan rawa". dalam D.A. Suriadikarta dkk. (Eds.) Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa, hlm. 1-23. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian.
  13. WI IP (t.t.). Mengenal tipe lahan rawa gambut. Brosur Wetlands International-Indonesia Programme. Bogor.
  14. Mochamad Indrawan. Biologi Konservasi: Edisi Revisi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2012. hlm. 315. ISBN 9789794612880.
  15. Robert Siburian. Konservasi Mangrove dan Kesejahteraan Masyarakat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2016. hlm. 113. ISBN 9789794619933.
  16. Dwi Arinto Adi. Prosiding Seminar Nasional Biologi—Jurusan Biologi FMIPA UHO 2019: Eksplorasi dan Pemanfaatan Biodiversitas dalam Menunjang Pembangunan Nasional Berkelanjutan. Universitas Haluoleo Press. 2020. hlm. 20-21. ISBN 9786025835285.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29422587 (2026-07-05T15:21:21Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.