Daerah aliran sungai: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28424569; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Modelare_3D_pentru_Bazinul_hidrografic_al_Raului_Lungsoara,_Talmacel.gif|thumb|right|280px|Modelare 3D pentru Bazinul hidrografic al Raului Lungsoara, Talmacel]] | |||
'''Daerah aliran sungai''' (disingkat '''DAS''') adalah suatu kawasan yang dibatasi oleh pembatas [[topografi]] (punggung bukit) di mana air yang berasal dari air hujan yang jatuh, terkumpul dalam kawasan tersebut. DAS menerima, menyimpan, dan mengalirkan [[air]] [[hujan]] yang jatuh di atasnya ke [[sungai]].<ref>UGM. [https://konservasidas.fkt.ugm.ac.id/2016/09/10/daerah-aliran-sungai/ Konservasi DAS]. 10 September 2016.</ref> | |||
Air daerah aliran sungai (DAS) adalah air yang mengalir pada suatu kawasan yang dibatasi oleh titik-titik tinggi di mana air tersebut berasal dari air hujan yang jatuh dan terkumpul dalam sistem tersebut.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | |||
Daerah aliran sungai juga diartikan sebagai sebuah unit [[hidrologi]] di mana [[Presipitasi (meteorologi)|presipitasi]] (hujan) menjadi input utamanya dan [[Debit (hidrologi)|debit]] (Q) merupakan outputnya.<ref>Ersin Seyhan. [https://scispace.com/papers/the-watershed-as-an-hydrologic-unit-1agg2ebefy The Watershed as An Hydrologic Unit]. Geografisch Instituut, Ultrecht. 1977.</ref> | |||
Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan terserap ke dalam tanah ([[infiltrasi]]), sedangkan air yang tidak terserap ke dalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan-cekungan permukaan tanah (''surface detention'') untuk kemudian mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah (''runoff''), untuk selanjutnya masuk ke sungai. Air infiltrasi akan tertahan di dalam tanah oleh [[gaya kapiler]] yang selanjutnya akan membentuk [[kelembaban]] tanah. Apabila tingkat kelembapan air tanah telah cukup jenuh maka air hujan yang baru masuk ke dalam tanah akan bergerak secara lateral (horizontal) untuk selanjutnya pada tempat tertentu akan keluar lagi ke permukaan tanah (''subsurface flow'') yang kemudian akan mengalir ke sungai. | Air pada DAS merupakan aliran air yang mengalami [[Siklus air|siklus hidrologi]] secara alamiah. Selama berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke [[Atmosfer Bumi|atmosfer]] kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang tidak pernah berhenti tersebut, air tersebut akan tertahan (sementara) di sungai, danau/waduk, dan dalam tanah sehingga akan dimanfaatkan oleh manusia atau makhluk hidup.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | ||
Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan terserap ke dalam tanah ([[infiltrasi]]), sedangkan air yang tidak terserap ke dalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan-cekungan permukaan tanah (''surface detention'') untuk kemudian mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah (''runoff''), untuk selanjutnya masuk ke sungai. Air infiltrasi akan tertahan di dalam tanah oleh [[gaya kapiler]] yang selanjutnya akan membentuk [[kelembaban]] tanah. Apabila tingkat kelembapan air tanah telah cukup jenuh maka air hujan yang baru masuk ke dalam tanah akan bergerak secara lateral (horizontal) untuk selanjutnya pada tempat tertentu akan keluar lagi ke permukaan tanah (''subsurface flow'') yang kemudian akan mengalir ke sungai.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | |||
== Pembagian zona == | == Pembagian zona == | ||
Sebagai suatu kesatuan ekosistem, DAS terbagi menjadi tiga sistem ekologi yaitu: daerah hulu; daerah tengah, dan daerah hilir. | Sebagai suatu kesatuan ekosistem, DAS terbagi menjadi tiga sistem ekologi yaitu: daerah hulu; daerah tengah, dan daerah hilir.<ref>Chay Asdak. [https://books.google.co.id/books?id=1c6pEAAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai]. Gadjah Mada University Press. 2004. ISBN 979-420-561-3.</ref> | ||
* '''Daerah hulu''' dicirikan oleh karekteristik berbukit dengan kemiringan lerengnya curam (lebih dari 15%) pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, jenis vegetasi berupa hutan. | * '''Daerah hulu''' dicirikan oleh karekteristik berbukit dengan kemiringan lerengnya curam (lebih dari 15%) pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, jenis vegetasi berupa hutan. | ||
| Baris 15: | Baris 17: | ||
* '''Daerah tengah''' merupakan daerah peralihan dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda tersebut di atas. | * '''Daerah tengah''' merupakan daerah peralihan dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda tersebut di atas. | ||
=== Pembagian zona DAS berdasarkan fungsi === | === Pembagian zona DAS berdasarkan fungsi<ref>[https://dlh.bulelengkab.go.id/Informasi/Detail/Artikel/Apa-Itu-Daerah-Aliran-Sungai-Das-28 APA ITU DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) Dinas Lingkungan Hidup]. ''dlh.bulelengkab.go.id''.</ref> === | ||
* '''Bagian hulu''' didasarkan pada fungsi [[Konservasi alam|konservasi]] yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak [[Degradasi lahan|terdegradasi]], yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan [[vegetasi]] lahan DAS, [[kualitas air]], kemampuan menyimpan air ([[Debit (hidrologi)|debit]]), dan [[Presipitasi (meteorologi)|curah hujan]]. | * '''Bagian hulu''' didasarkan pada fungsi [[Konservasi alam|konservasi]] yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak [[Degradasi lahan|terdegradasi]], yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan [[vegetasi]] lahan DAS, [[kualitas air]], kemampuan menyimpan air ([[Debit (hidrologi)|debit]]), dan [[Presipitasi (meteorologi)|curah hujan]]. | ||
* '''Bagian tengah''' didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana [[Irigasi|pengairan]] seperti pengelolaan sungai, [[waduk]], dan danau. | * '''Bagian tengah''' didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana [[Irigasi|pengairan]] seperti pengelolaan sungai, [[waduk]], dan danau. | ||
* '''Bagian hilir''' didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah. | * '''Bagian hilir''' didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah. | ||
Daerah hulu dan hilir secara biofisik memiliki keterkaitan, yaitu proses-proses yang terjadi di daerah hulu akan memberikan dampak terhadap daerah hilir. Erosi yang terjadi di daerah hulu selain mengakibatkan penurunan produktivitas pada wilayah yang tererosi, tetapi juga menyebabkan perubahan fluktuasi debit dan meningkatnya pengangkutan sedimen sehingga lebih lanjut dapat menyebabkan penurunan kapasitas tampung badan sungai dan meningkatkan risiko terjadinya banjir. Daerah hulu merupakan bagian yang penting karena memiliki fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Oleh sebab itu daerah hulu seringkali menjadi fokus perencanaan [[Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai|pengelolaan DAS]]. | Daerah hulu dan hilir secara biofisik memiliki keterkaitan, yaitu proses-proses yang terjadi di daerah hulu akan memberikan dampak terhadap daerah hilir. Erosi yang terjadi di daerah hulu selain mengakibatkan penurunan produktivitas pada wilayah yang tererosi, tetapi juga menyebabkan perubahan fluktuasi debit dan meningkatnya pengangkutan sedimen sehingga lebih lanjut dapat menyebabkan penurunan kapasitas tampung badan sungai dan meningkatkan risiko terjadinya banjir. Daerah hulu merupakan bagian yang penting karena memiliki fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Oleh sebab itu daerah hulu seringkali menjadi fokus perencanaan [[Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai|pengelolaan DAS]].<ref>Chay Asdak. [https://books.google.co.id/books?id=1c6pEAAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai]. Gadjah Mada University Press. 2004. ISBN 979-420-561-3.</ref> | ||
== Jenis == | == Jenis == | ||
| Baris 30: | Baris 31: | ||
== Bentuk == | == Bentuk == | ||
Bentuk DAS ada tiga jenis, yaitu: | Bentuk DAS ada tiga jenis, yaitu: | ||
* Bentuk Bulu Ayam: DAS bentuk bulu ayam memiliki debit banjir sekuensial dan berurutan. Memerlukan waktu yang lebih pendek untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang lebih curam daripada bentuk lainnya. | * Bentuk Bulu Ayam: DAS bentuk bulu ayam memiliki debit banjir sekuensial dan berurutan. Memerlukan waktu yang lebih pendek untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang lebih curam daripada bentuk lainnya.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | ||
* Bentuk Kipas: DAS berbentuk kipas memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai dan memiliki waktu yang lebih lama daripada bentuk bulu ayam untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang relatif landai daripada bulu ayam. | * Bentuk Kipas: DAS berbentuk kipas memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai dan memiliki waktu yang lebih lama daripada bentuk bulu ayam untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang relatif landai daripada bulu ayam.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | ||
* Bentuk parallel / Kombinasi: DAS bentuk kombinasi memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai di bagian hilir. Sedangkan di bagian hulu sekuensial dan berurutan. | * Bentuk parallel / Kombinasi: DAS bentuk kombinasi memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai di bagian hilir. Sedangkan di bagian hulu sekuensial dan berurutan.<ref>[http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/13717 MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE], Repository IPB.</ref> | ||
== Delineasi == | == Delineasi == | ||
| Baris 38: | Baris 39: | ||
== Metode perhitungan banyaknya hujan == | == Metode perhitungan banyaknya hujan == | ||
* '''Metode Isohyet''', yaitu garis dalam peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki jumlah curah hujan yang sama selama periode tertentu. Digunakan apabila [[luas]] [[tanah]] lebih dari 5000 [[km²]] | * '''Metode Isohyet''', yaitu garis dalam peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki jumlah curah hujan yang sama selama periode tertentu. Digunakan apabila [[luas]] [[tanah]] lebih dari 5000 [[km²]] | ||
* '''Metode Thiessen''', digunakan bila bentuk DAS memanjang dan sempit (luas 1000–5000 km²) | * '''Metode Thiessen''', digunakan bila bentuk DAS memanjang dan sempit (luas 1000–5000 km²) | ||
== Masalah == | == Masalah == | ||
* [[Banjir]] | * [[Banjir]] | ||
* Produktivitas tanah menurun | * Produktivitas tanah menurun | ||
| Baris 52: | Baris 51: | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai]] | * [[Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai]] | ||
* [[Daftar daerah aliran sungai di Indonesia]] | * [[Daftar daerah aliran sungai di Indonesia]] | ||
| Baris 64: | Baris 62: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daerah+aliran+sungai&oldid=28424569 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28424569 (2025-11-12T08:40:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 17.59

Daerah aliran sungai (disingkat DAS) adalah suatu kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) di mana air yang berasal dari air hujan yang jatuh, terkumpul dalam kawasan tersebut. DAS menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya ke sungai.[1]
Air daerah aliran sungai (DAS) adalah air yang mengalir pada suatu kawasan yang dibatasi oleh titik-titik tinggi di mana air tersebut berasal dari air hujan yang jatuh dan terkumpul dalam sistem tersebut.[2]
Daerah aliran sungai juga diartikan sebagai sebuah unit hidrologi di mana presipitasi (hujan) menjadi input utamanya dan debit (Q) merupakan outputnya.[3]
Air pada DAS merupakan aliran air yang mengalami siklus hidrologi secara alamiah. Selama berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke atmosfer kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang tidak pernah berhenti tersebut, air tersebut akan tertahan (sementara) di sungai, danau/waduk, dan dalam tanah sehingga akan dimanfaatkan oleh manusia atau makhluk hidup.[4]
Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan terserap ke dalam tanah (infiltrasi), sedangkan air yang tidak terserap ke dalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan-cekungan permukaan tanah (surface detention) untuk kemudian mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah (runoff), untuk selanjutnya masuk ke sungai. Air infiltrasi akan tertahan di dalam tanah oleh gaya kapiler yang selanjutnya akan membentuk kelembaban tanah. Apabila tingkat kelembapan air tanah telah cukup jenuh maka air hujan yang baru masuk ke dalam tanah akan bergerak secara lateral (horizontal) untuk selanjutnya pada tempat tertentu akan keluar lagi ke permukaan tanah (subsurface flow) yang kemudian akan mengalir ke sungai.[5]
Pembagian zona
Sebagai suatu kesatuan ekosistem, DAS terbagi menjadi tiga sistem ekologi yaitu: daerah hulu; daerah tengah, dan daerah hilir.[6]
- Daerah hulu dicirikan oleh karekteristik berbukit dengan kemiringan lerengnya curam (lebih dari 15%) pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, jenis vegetasi berupa hutan.
- Daerah hilir memiliki karakteristik pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, dan kemiringan lereng relatif rendah (kurang dari 8%).
- Daerah tengah merupakan daerah peralihan dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda tersebut di atas.
Pembagian zona DAS berdasarkan fungsi[7]
- Bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.
- Bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
- Bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.
Daerah hulu dan hilir secara biofisik memiliki keterkaitan, yaitu proses-proses yang terjadi di daerah hulu akan memberikan dampak terhadap daerah hilir. Erosi yang terjadi di daerah hulu selain mengakibatkan penurunan produktivitas pada wilayah yang tererosi, tetapi juga menyebabkan perubahan fluktuasi debit dan meningkatnya pengangkutan sedimen sehingga lebih lanjut dapat menyebabkan penurunan kapasitas tampung badan sungai dan meningkatkan risiko terjadinya banjir. Daerah hulu merupakan bagian yang penting karena memiliki fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Oleh sebab itu daerah hulu seringkali menjadi fokus perencanaan pengelolaan DAS.[8]
Jenis
DAS dibedakan menjadi dua, yakni:
- DAS gemuk: DAS jenis ini memiliki daya tampung yang besar, adapun sungai yang memiliki DAS seperti ini cenderung mengalami luapan air yang besar apabila terjadinya hujan di daerah hulu.
- DAS kurus: DAS jenis ini bentuknya sempit, sehingga daya tampungnya pun kecil. Manakala hujan turun di daerah hulu, tidak terjadi luapan air yang tidak terlalu hebat.
Bentuk
Bentuk DAS ada tiga jenis, yaitu:
- Bentuk Bulu Ayam: DAS bentuk bulu ayam memiliki debit banjir sekuensial dan berurutan. Memerlukan waktu yang lebih pendek untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang lebih curam daripada bentuk lainnya.[9]
- Bentuk Kipas: DAS berbentuk kipas memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai dan memiliki waktu yang lebih lama daripada bentuk bulu ayam untuk mencapai mainstream. Memiliki topografi yang relatif landai daripada bulu ayam.[10]
- Bentuk parallel / Kombinasi: DAS bentuk kombinasi memiliki debit banjir yang terakumulasi dari berbagai arah sungai di bagian hilir. Sedangkan di bagian hulu sekuensial dan berurutan.[11]
Delineasi
Delineasi daerah aliran sungai adalah proses pemetaan dan penentuan batas wilayah atau area yang mengalirkan air hujan atau sungai ke satu titik tertentu dalam suatu sungai atau sistem sungai. Batas DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain.
Metode perhitungan banyaknya hujan
- Metode Isohyet, yaitu garis dalam peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki jumlah curah hujan yang sama selama periode tertentu. Digunakan apabila luas tanah lebih dari 5000 km²
- Metode Thiessen, digunakan bila bentuk DAS memanjang dan sempit (luas 1000–5000 km²)
Masalah
- Banjir
- Produktivitas tanah menurun
- Pengendapan lumpur pada waduk
- Saluran irigasi
- Proyek tenaga air
- Penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat)
Lihat pula
- Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
- Daftar daerah aliran sungai di Indonesia
- Dataran banjir
- Daya rusak air
- Delta sungai
- Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
- Hidrologi pegunungan
- Manajemen sumber daya air
- Wilayah sungai
Referensi
- ↑ UGM. Konservasi DAS. 10 September 2016.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
- ↑ Ersin Seyhan. The Watershed as An Hydrologic Unit. Geografisch Instituut, Ultrecht. 1977.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
- ↑ Chay Asdak. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. 2004. ISBN 979-420-561-3.
- ↑ APA ITU DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) Dinas Lingkungan Hidup. dlh.bulelengkab.go.id.
- ↑ Chay Asdak. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. 2004. ISBN 979-420-561-3.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
- ↑ MODEL MATEMATIS PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CISADANE, Repository IPB.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28424569 (2025-11-12T08:40:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.