Lompat ke isi

Songket: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29343177; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''''' atau '''sungkit''' adalah jenis [[tenun]] tradisional Indonesia yang berasal dari [[Sumatra]]. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan menggunakan benang [[emas]] dan [[perak]]. Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang. Bahan kain yang umum digunakan dalam pembuatan Songket yakni meliputi sutra, katun, dan katun sutra.
[[File:Bamboofabric.png|thumb|right|280px|Bamboofabric]]


Songket kerap dikaitkan dengan [[Sriwijaya|Kemaharajaan Sriwijaya]] sebagai asal mula tradisi songket berasal, beberapa jenis Songket yang populer pun tak lepas dari lokasi-lokasi yang pernah berada dibawah kekuasaan [[Sriwijaya]], salah satu lokasi dominan yang juga diyakini sebagai ibukota Kemaharajaan Sriwijaya di masa lampau yakni [[Palembang]], yang terletak di [[Sumatera Selatan]]. Selain Palembang, beberapa daerah di Sumatra juga menjadi lokasi penghasil Songket terbaik dalam kelasnya, yakni meliputi daerah-daerah di Minangkabau atau [[Sumatera Barat]] seperti Pandai Sikek, [[Silungkang]], [[Koto Gadang]], dan [[Padang]]. Di luar [[Sumatra]], kain songket juga dihasilkan oleh daerah-daerah seperti [[Bali]], [[Lombok]], [[Sambas]], [[Sumba]], [[Makassar]], [[Sulawesi]], dan daerah-daerah lain di [[Indonesia]].
'''''' atau '''sungkit'''<ref>Untuk kronologi kemunculan kata ''songket'' atau ''sungkit'', lihat [https://mcp.anu.edu.au/Q/texts.html Malay Concordance Project]. .</ref> adalah jenis [[tenun]] tradisional Indonesia yang berasal dari [[Sumatra]].<ref>Retno Purwanti. ''Sejarah Songket Berdasarkan Data Arkeologi''. ''Revista de Arqueología Siddhayatra''. 2016. Vol. 21 (2). doi:10.24832/siddhayatra.v21i2.22.</ref><ref>Teuku Iskandar. ''De Hikajat Atjéh''. Martinus Nijhoff. 1958.</ref><ref>Susan Rodgers. [https://books.google.com/books?id=pgu6c4qZMkYC&q=srivijaya&pg=PA47 Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity]. Iris and B. Gerald Cantor Art Gallery, College of the Holy Cross. 2007. ISBN 978-9067183123.</ref><ref>W.L. de Sturler. ''Proeve eener beschrijving van het gebiied van Palembang''. J.Oomrens. 1843.</ref><ref>W.R. van Hoëvell. ''Sjair Bidasari, een oorspronkelijk Maleische gedicht. Verhande-lingen van het Bataviaasch Genootschap''. 1843. Vol. 19 (2). hlm. 1-421.</ref><ref>C.L. Blume. ''De Indische Bij, Tijdschrift Ter Bevordering van de Kennis der Nederlandsche Volkplantingen en Derzelver Belangen''. 1848.</ref><ref>C.F.G. Praetorius. ''Eenige Bijzonderheden Omtrent Palembang''. 1843.</ref><ref>J.I. van Sevenhoven. ''Beschrijving van de Hoofdplaats van Palembang''. Tratados de la Sociedad de Batavia. 1823. Vol. 9. hlm. 41-126.</ref><ref>Eliya Pebriyeni. [https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/download/13585/11452 Perkembangan Fungsi Seni Kerajinan Tenun Songket Silungkang]. ''Gorga Jurnal Seni Rupa''. 2019. Vol. 8 (1). hlm. 214–221. doi:10.24114/gr.v8i1.13585.</ref> Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan menggunakan benang [[emas]] dan [[perak]]. Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang. Bahan kain yang umum digunakan dalam pembuatan Songket yakni meliputi sutra, katun, dan katun sutra.


Karena faktor sejarah kekuasaan [[Sriwijaya|Kemaharajaan Sriwijaya]], perdagangan, dan perkawinan campuran, Songket pun juga menjadi populer di [[Asia Tenggara Maritim|Kawasan Maritim Asia Tenggara]] khususnya di negara-negara sekitar [[Indonesia]] seperti [[Brunei]], [[Malaysia]], dan [[Singapura]].
Songket kerap dikaitkan dengan [[Sriwijaya|Kemaharajaan Sriwijaya]] sebagai asal mula tradisi songket berasal,<ref>Susan Rodgers. [https://books.google.com/books?id=pgu6c4qZMkYC&q=srivijaya&pg=PA47 Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity]. Cantor Art Callery. 2007. ISBN 978-9067183123.</ref> beberapa jenis Songket yang populer pun tak lepas dari lokasi-lokasi yang pernah berada dibawah kekuasaan [[Sriwijaya]], salah satu lokasi dominan yang juga diyakini sebagai ibukota Kemaharajaan Sriwijaya di masa lampau yakni [[Palembang]], yang terletak di [[Sumatera Selatan]]. Selain Palembang, beberapa daerah di Sumatra juga menjadi lokasi penghasil Songket terbaik dalam kelasnya, yakni meliputi daerah-daerah di Minangkabau atau [[Sumatera Barat]] seperti Pandai Sikek, [[Silungkang]], [[Koto Gadang]], dan [[Padang]]. Di luar [[Sumatra]], kain songket juga dihasilkan oleh daerah-daerah seperti [[Bali]], [[Lombok]], [[Sambas]], [[Sumba]], [[Makassar]], [[Sulawesi]], dan daerah-daerah lain di [[Indonesia]].<ref>Wirawan, Nanda. [http://worldcat.org/oclc/948427777 Menapak jejak songket Minangkabau]. 1982.</ref>


Pada 2021, Songket telah diakui sebagai milik Malaysia oleh Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Tradisi Songket diakui sebagai [[Warisan Budaya Takbenda Indonesia|Warisan Budaya Takbenda]] oleh [[Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia|Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan]]. Tradisi Songket tersebut meliputi tradisi Songket asal [[Palembang]] dan [[Sambas]] pada 2013; Songket Pandai Sikek pada 2014; tradisi Songket asal Beratan, [[Bali]] pada 2018; dan tradisi Songket [[Silungkang]] pada 2019.
Karena faktor sejarah kekuasaan [[Sriwijaya|Kemaharajaan Sriwijaya]], perdagangan, dan perkawinan campuran, Songket pun juga menjadi populer di [[Asia Tenggara Maritim|Kawasan Maritim Asia Tenggara]] khususnya di negara-negara sekitar [[Indonesia]] seperti [[Brunei]], [[Malaysia]], dan [[Singapura]].<ref>Susan Rodgers. [https://books.google.com/books?id=pgu6c4qZMkYC&q=srivijaya&pg=PA47&redir_esc=y#v=snippet&q=intermarriage&f=false Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity]. Cantor Art Callery. 2007. ISBN 978-9067183123.</ref>
 
Pada 2021, Songket telah diakui sebagai milik Malaysia oleh Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Tradisi Songket diakui sebagai [[Warisan Budaya Takbenda Indonesia|Warisan Budaya Takbenda]] oleh [[Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia|Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan]].<ref>[https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?penetapan&&list&tab=1&vieww=per10&limitto&keywords=songket# Warisan Budaya Takbenda, Penetapan]. ''Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia''.</ref> Tradisi Songket tersebut meliputi tradisi Songket asal [[Palembang]] dan [[Sambas]] pada 2013; Songket Pandai Sikek pada 2014; tradisi Songket asal Beratan, [[Bali]] pada 2018; dan tradisi Songket [[Silungkang]] pada 2019.


== Istilah ==
== Istilah ==
Secara etimologi, istilah "songket" berasal dari [[Lakuran (linguistik)|lakuran kata]] dalam [[bahasa Melayu Palembang]] yakni  +  yang artinya "songsong" dan "sulam" secara berturutan, hal ini berkaitan atau merujuk pada metode pembuatan tenunan Songket itu sendiri; yakni dengan mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.
Secara etimologi, istilah "songket" berasal dari [[Lakuran (linguistik)|lakuran kata]] dalam [[bahasa Melayu Palembang]] yakni  +  yang artinya "songsong" dan "sulam" secara berturutan, hal ini berkaitan atau merujuk pada metode pembuatan tenunan Songket itu sendiri; yakni dengan mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.<ref>Mainur. [https://media.neliti.com/media/publications/325756-motif-bungo-pacik-pada-tenunan-songket-p-b652f430.pdf Motif ''Bungo Pacik'' Pada Tenunan Songket Palembang]. ''Sitakara Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya''. 2018.</ref><ref>National Geographic Traveller Indonesia, Vol 1, No 6, 2009, Jakarta, Indonesia, page 63</ref>


Istilah  kemudian diserap sebagai "sungkit" dalam [[bahasa Melayu Riau]] dan [[bahasa Indonesia]], yang berarti "mengaitkan", "menyungit" atau "mencungkil". Namun, bukti tertulis paling awal yang dapat dipastikan mengenai pakaian ini dalam naskah berbahasa Melayu selalu menyebutnya sebagai '''sungkit''' bukan songket, misalnya dalam [[Hikayat (Aceh)|Hikayat Aceh]] tahun 1620-an dan [[Hikayat Banjar]] tahun 1660-an.
Istilah  kemudian diserap sebagai "sungkit" dalam [[bahasa Melayu Riau]] dan [[bahasa Indonesia]], yang berarti "mengaitkan", "menyungit" atau "mencungkil".<ref>[https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/menyungkit Sungkit]. ''kbbi.kemendikdasmen.go.id''. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</ref><ref>[https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/menyangkut Sangkut]. ''kbbi.kemendikdasmen.go.id''. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</ref> Namun, bukti tertulis paling awal yang dapat dipastikan mengenai pakaian ini dalam naskah berbahasa Melayu selalu menyebutnya sebagai '''sungkit''' bukan songket, misalnya dalam [[Hikayat (Aceh)|Hikayat Aceh]] tahun 1620-an dan [[Hikayat Banjar]] tahun 1660-an.<ref>Untuk kronologi kemunculan kata ''songket'' atau ''sungkit'', lihat [https://mcp.anu.edu.au/Q/texts.html Malay Concordance Project]. .</ref>


Selain itu, dalam teori lain, kata ''songket'' juga mungkin berasal dari istilah ''songka'', yang merupakan songkok khas [[Palembang]] yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai.
Selain itu, dalam teori lain, kata ''songket'' juga mungkin berasal dari istilah ''songka'', yang merupakan songkok khas [[Palembang]] yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai.<ref>[http://books.google.com.my/books?id=pgu6c4qZMkYC&pg=PA47&dq=songket&hl=en&sa=X&ei=HcUTT6nJCsHMrQeD49zzAQ&ved=0CEMQ6AEwBA#v=onepage&q=songket&f=false Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity''], Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Proses penenunan songket secara sejarah dikaitkan dengan kawasan permukiman dan budaya [[Suku Palembang|Palembang]] maupun [[Minangkabau]] yang berasal dari pulau [[Sumatra]].<ref>[http://books.google.com.my/books?id=pgu6c4qZMkYC&pg=PA47&dq=songket&hl=en&sa=X&ei=HcUTT6nJCsHMrQeD49zzAQ&ved=0CEMQ6AEwBA#v=onepage&q=songket&f=false Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity''], Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield</ref> Menurut Hikayat Palembang, asal mula kain songket bermula dari kemaharajaan [[Sriwijaya]]. Bahan utama pembuatan songket seperti [[sutra]] biasanya diproduksi oleh petani ulat sutra [[Sumatra|lokal]], tetapi untuk menghasilkan kualitas songket yang lebih bagus masyarakat lokal juga mengekspor bahan sutra dari [[Tiongkok]], sedangkan untuk benang emas biasanya diproduksi oleh para masyarakat lokal dengan mengolah emas yang dihasilkan dari beberapa daerah di pulau Sumatra (pada masa lampau, [[Sumatra]] dikenali juga sebagai ''Swarnadwipa'', berasal dari gabungan kata dalam  (''svarna''; emas) dan  (''dvipa''; pulau), yang artinya "pulau emas"). Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai, pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper.


Proses penenunan songket secara sejarah dikaitkan dengan kawasan permukiman dan budaya [[Suku Palembang|Palembang]] maupun [[Minangkabau]] yang berasal dari pulau [[Sumatra]]. Menurut Hikayat Palembang, asal mula kain songket bermula dari kemaharajaan [[Sriwijaya]]. Bahan utama pembuatan songket seperti [[sutra]] biasanya diproduksi oleh petani ulat sutra [[Sumatra|lokal]], tetapi untuk menghasilkan kualitas songket yang lebih bagus masyarakat lokal juga mengekspor bahan sutra dari [[Tiongkok]], sedangkan untuk benang emas biasanya diproduksi oleh para masyarakat lokal dengan mengolah emas yang dihasilkan dari beberapa daerah di pulau Sumatra (pada masa lampau, [[Sumatra]] dikenali juga sebagai ''Swarnadwipa'', berasal dari gabungan kata dalam  (''svarna''; emas) dan  (''dvipa''; pulau), yang artinya "pulau emas"). Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai, pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper.
Sebagai akibat dari pengaruh kekuasaan [[Sriwijaya|kemaharajaan Sriwijaya]], kain songket menyebar dari [[Palembang]] ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Sriwijaya, yakni sebagian besar wilayah di Sumatra (terutama di [[Sumatera Barat]], [[Sumatera Selatan]], dan [[Lampung]]), [[Kepulauan Riau]], [[Kalimantan]] (terutama di [[Sambas]]), [[Semenanjung Malaya]] (juga bernama lain: Semenanjung Kra), [[Thailand]], [[Kamboja]], dan juga meliputi sebagian [[Jawa]]. Menurut tradisi [[Kelantan]], teknik tenun seperti ini diperkenalkan dari [[Chaiya]] (di Thailand) yang merupakan sebuah daerah yang pernah menjadi salah satu cabang daerah pusat dibawah kekuasaan [[Sriwijaya|kemaharajaan Sriwijaya]], yang mana kemudian teknik ini berkembang ke selatan di [[Pattani]] hingga mencapai ke [[Kelantan]] dan [[Terengganu]] sekitar abad ke-16. Akan tetapi menurut penenun [[Terengganu]], justru para pedagang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]], [[Suku Palembang|Palembang]], dan India yang berlayar dari [[Palembang]] lah yang memperkenalkan teknik menenun ini pertama kali sejak zaman kejayaan [[Sriwijaya]].<ref>[http://books.google.com.my/books?id=pgu6c4qZMkYC&pg=PA47&dq=songket&hl=en&sa=X&ei=HcUTT6nJCsHMrQeD49zzAQ&ved=0CEMQ6AEwBA#v=onepage&q=songket&f=false Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity''], Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield</ref>


Sebagai akibat dari pengaruh kekuasaan [[Sriwijaya|kemaharajaan Sriwijaya]], kain songket menyebar dari [[Palembang]] ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Sriwijaya, yakni sebagian besar wilayah di Sumatra (terutama di [[Sumatera Barat]], [[Sumatera Selatan]], dan [[Lampung]]), [[Kepulauan Riau]], [[Kalimantan]] (terutama di [[Sambas]]), [[Semenanjung Malaya]] (juga bernama lain: Semenanjung Kra), [[Thailand]], [[Kamboja]], dan juga meliputi sebagian [[Jawa]]. Menurut tradisi [[Kelantan]], teknik tenun seperti ini diperkenalkan dari [[Chaiya]] (di Thailand) yang merupakan sebuah daerah yang pernah menjadi salah satu cabang daerah pusat dibawah kekuasaan [[Sriwijaya|kemaharajaan Sriwijaya]], yang mana kemudian teknik ini berkembang ke selatan di [[Pattani]] hingga mencapai ke [[Kelantan]] dan [[Terengganu]] sekitar abad ke-16. Akan tetapi menurut penenun [[Terengganu]], justru para pedagang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]], [[Suku Palembang|Palembang]], dan India yang berlayar dari [[Palembang]] lah yang memperkenalkan teknik menenun ini pertama kali sejak zaman kejayaan [[Sriwijaya]].
Menurut tradisi Indonesia sendiri, kain songket nan keemasan juga kerap dikaitkan dengan kegemilangan [[Sriwijaya]],<ref>[http://beta.antaranews.com/berita/1279268106/the-ancient-sriwijaya-heritage-tampilkan-kemilau-songket-dan-adat-perkawinan-sumsel "The Ancient Sriwijaya Heritage" ("Warisan Purba Sriwijaya") Tampilkan Kemilau Songket dan Adat Perkawinan Sumatera Selatan].</ref><ref>Sriwijaya Post. [http://palembang.tribunnews.com/2011/12/21/motif-abstrak-songket-palembang Motif Abstrak Songket palembang]. ''Tribunnews.com''. Sriwijaya Post.</ref> yang merupakan [[kemaharajaan]] niaga maritim nan makmur lagi kaya yang bersemi pada abad ke-7 hingga ke-14 di [[Sumatra]]. Dan hingga masa kini, tradisi songket tetap lestari terjaga dengan baik di [[Palembang]], dan daerah ini juga akhirnya dikenali sebagai pusat kerajinan songket paling mahsyur di Indonesia. Songket adalah kain mewah yang aslinya memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas, kemudian ditenun tangan menjadi kain yang cantik dan bernilai ekonomis tinggi. Secara sejarah, tambang emas di Sumatra terletak di [[Sumatera Selatan]] dan di pedalaman dataran tinggi [[Minangkabau]]. Penemuan benang emas di reruntuhan situs [[Sriwijaya]] di Sumatra, bersama dengan batu [[mirah delima]] yang belum diasah, serta potongan lempeng emas, mengindikasikan bahwa penenun lokal telah menggunakan benang emas seawal tahun 600-an hingga 700-an Masehi di Sumatra.<ref>[http://books.google.com.my/books?id=pgu6c4qZMkYC&pg=PA47&dq=songket&hl=en&sa=X&ei=HcUTT6nJCsHMrQeD49zzAQ&ved=0CEMQ6AEwBA#v=onepage&q=songket&f=false Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity''], Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield</ref> Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi kualitasnya, yang berjuluk "Ratu Segala Kain". Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya memerlukan waktu sekitar 3 hari. Mulanya kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak atau ikat kepala. Kemudian barulah kaum perempuan etnis Palembang dan [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] mulai memakai songket [[sarung]] dengan [[baju kurung]].


Menurut tradisi Indonesia sendiri, kain songket nan keemasan juga kerap dikaitkan dengan kegemilangan [[Sriwijaya]], yang merupakan [[kemaharajaan]] niaga maritim nan makmur lagi kaya yang bersemi pada abad ke-7 hingga ke-14 di [[Sumatra]]. Dan hingga masa kini, tradisi songket tetap lestari terjaga dengan baik di [[Palembang]], dan daerah ini juga akhirnya dikenali sebagai pusat kerajinan songket paling mahsyur di Indonesia. Songket adalah kain mewah yang aslinya memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas, kemudian ditenun tangan menjadi kain yang cantik dan bernilai ekonomis tinggi. Secara sejarah, tambang emas di Sumatra terletak di [[Sumatera Selatan]] dan di pedalaman dataran tinggi [[Minangkabau]]. Penemuan benang emas di reruntuhan situs [[Sriwijaya]] di Sumatra, bersama dengan batu [[mirah delima]] yang belum diasah, serta potongan lempeng emas, mengindikasikan bahwa penenun lokal telah menggunakan benang emas seawal tahun 600-an hingga 700-an Masehi di Sumatra. Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi kualitasnya, yang berjuluk "Ratu Segala Kain". Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya memerlukan waktu sekitar 3 hari. Mulanya kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak atau ikat kepala. Kemudian barulah kaum perempuan etnis Palembang dan [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] mulai memakai songket [[sarung]] dengan [[baju kurung]].
Selain dari pengaruh kemaharajaan Srijiwaya yang kuat di [[Semenanjung Malaya]] (juga dikenali sebagai Semenanjung Kra), kemungkinan tenun songket mencapai daerah tersebut melalui perkawinan atau persekutuan antar bangsawan Palembang dan [[Suku Minangkabau|Minangkabau]], karena songket yang berharga (seperti Songket Palembang dan Songket Minangkabau) kerap kali dijadikan maskawin atau hantaran dalam suatu perkawinan. Pusat kerajinan songket terletak di pusat kerajaan Sriwijaya yakni Palembang (di [[Sumatera Selatan]]) yang secara politik penting karena bahan pembuatannya yang mahal karena benang emas sejatinya memang terbuat dari lembaran emas murni asli hasil dari [[Sumatra]].<ref>Megumi Uchino. [https://archive.org/details/indonesia-and-the-malay-world_2005-07_33_96/page/205 Socio-cultural history of Palembang Songket]. ''Indonesia and the Malay World''. Routledge. 2005. Vol. 33 (96). hlm. 205–223. doi:10.1080/13639810500283985.</ref> Songket sebagai busana diraja juga disebutkan dalam naskah Abdullah bin Abdul Kadir pada tahun  1849.<ref>[http://books.google.com/books?id=VihYSsllnjQC&pg=PA338&dq=berkain+songket+dan+berbaju+sikap+dan&lr=&as_brr=3&cd=2#v=onepage&q=berkain%20songket%20dan%20berbaju%20sikap%20dan&f=false Hikayat Abdullah By Hamzah Hamdani]</ref>
 
Selain dari pengaruh kemaharajaan Srijiwaya yang kuat di [[Semenanjung Malaya]] (juga dikenali sebagai Semenanjung Kra), kemungkinan tenun songket mencapai daerah tersebut melalui perkawinan atau persekutuan antar bangsawan Palembang dan [[Suku Minangkabau|Minangkabau]], karena songket yang berharga (seperti Songket Palembang dan Songket Minangkabau) kerap kali dijadikan maskawin atau hantaran dalam suatu perkawinan. Pusat kerajinan songket terletak di pusat kerajaan Sriwijaya yakni Palembang (di [[Sumatera Selatan]]) yang secara politik penting karena bahan pembuatannya yang mahal karena benang emas sejatinya memang terbuat dari lembaran emas murni asli hasil dari [[Sumatra]]. Songket sebagai busana diraja juga disebutkan dalam naskah Abdullah bin Abdul Kadir pada tahun  1849.


== Motif ==
== Motif ==
 
Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan ini. Misalnya motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.<ref>[http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1589 Tenun Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat - Indonesia)].</ref> Beberapa pemerintah daerah telah mematenkan motif songket tradisional mereka. Dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi [[Sriwijaya Football Club]]. Selain motif Berante Berakam, beberapa motif lain yang belum terdaftar yakni motif Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain.<ref>Sriwijaya Post. [http://palembang.tribunnews.com/2011/12/21/motif-abstrak-songket-palembang Motif Abstrak Songket palembang]. ''Tribunnews.com''. Sriwijaya Post.</ref>
Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan ini. Misalnya motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau. Beberapa pemerintah daerah telah mematenkan motif songket tradisional mereka. Dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi [[Sriwijaya Football Club]]. Selain motif Berante Berakam, beberapa motif lain yang belum terdaftar yakni motif Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain.


== Songket kini ==
== Songket kini ==
Ditinjau dari bahan, cara pembuatan, dan harganya; songket semula adalah kain mewah para bangsawan yang menujukkan kemuliaan derajat dan martabat pemakainya. Akan tetapi kini songket tidak hanya dimaksudkan untuk golongan masyarakat kaya dan berada semata, karena harganya yang bervariasi; dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat mahal. Kini dengan digunakannya benang emas sintetis maka songket pun tidak lagi luar biasa mahal seperti dahulu kala yang menggunakan emas asli. Meskipun demikian, songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun dan harganya cukup mahal.
Ditinjau dari bahan, cara pembuatan, dan harganya; songket semula adalah kain mewah para bangsawan yang menujukkan kemuliaan derajat dan martabat pemakainya. Akan tetapi kini songket tidak hanya dimaksudkan untuk golongan masyarakat kaya dan berada semata, karena harganya yang bervariasi; dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat mahal. Kini dengan digunakannya benang emas sintetis maka songket pun tidak lagi luar biasa mahal seperti dahulu kala yang menggunakan emas asli. Meskipun demikian, songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun dan harganya cukup mahal.


Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali. Kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Pada masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan [[kebaya]] atau [[baju kurung]].
Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali. Kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Pada masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan [[kebaya]] atau [[baju kurung]].


Meskipun berasal dari kerajinan tradisional, industri songket merupakan [[Kerajinan tangan|kerajinan]] yang terus hidup dan dinamis. Para perajin songket terutama di Palembang kini berusaha menciptakan motif-motif baru yang lebih modern dan pilihan warna-warna yang lebih lembut. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari masyarakat. Sebagai benda seni, songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan. Penerapan kain songket secara modern amat beraneka ragam, mulai dari tas wanita, [[songkok]], bahkan kantung [[ponsel]].
Meskipun berasal dari kerajinan tradisional, industri songket merupakan [[Kerajinan tangan|kerajinan]] yang terus hidup dan dinamis. Para perajin songket terutama di Palembang kini berusaha menciptakan motif-motif baru yang lebih modern dan pilihan warna-warna yang lebih lembut. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari masyarakat.<ref>Sriwijaya Post. [http://palembang.tribunnews.com/2011/12/21/motif-abstrak-songket-palembang Motif Abstrak Songket palembang]. ''Tribunnews.com''. Sriwijaya Post.</ref> Sebagai benda seni, songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan. Penerapan kain songket secara modern amat beraneka ragam, mulai dari tas wanita, [[songkok]], bahkan kantung [[ponsel]].


== Pembuatan songket ==
== Pembuatan songket ==
songket merupakan jenis kain tenun  tradisional yang di tenun menggunnakan benang emas bernama panta (alat tenun yang terbuat dari kayu, tempat benang yang akan di tenun biasaberukuran 2 x 1,5 meter) berikut cara sederhana pembuatan songket :
songket merupakan jenis kain tenun  tradisional yang di tenun menggunnakan benang emas bernama panta (alat tenun yang terbuat dari kayu, tempat benang yang akan di tenun biasaberukuran 2 x 1,5 meter) berikut cara sederhana pembuatan songket :


* menyiapkan benang
* menyiapkan benang  
* menangi benang
* menangi benang
* menyiapkan benang emas
* menyiapkan benang emas  
* menyambung benang
* menyambung benang  
* menggukung benang
* menggukung benang  
* pempurnaan / penyulapan tenayan.
* pempurnaan / penyulapan tenayan.


== Pusat kerajinan songket ==
== Pusat kerajinan songket ==
 
Pusat kerajinan tangan tenun songket di Indonesia dapat ditemukan di [[Sumatra]], [[Kalimantan]], [[Bali]], [[Sulawesi]], [[Lombok]] dan [[Sumbawa]]. Di Pulau Sumatra pusat kerajinan songket yang termahsyur dan unggul adalah [[Songket Minangkabau]] di daerah [[Pandai Sikek, Sepuluh Koto, Tanah Datar|Pandai Sikek]] dan [[Silungkang, Sawahlunto|Silungkang]], [[Sumatera Barat]],<ref>[http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1589 Tenun Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat - Indonesia)].</ref> serta Songket Palembang di [[Songket Palembang|Palembang]], [[Sumatera Selatan]]. Di Bali, desa perajin tenun songket dapat ditemukan di kabupaten [[Klungkung]], khususnya di desa Sidemen dan Gelgel. Sementara di Lombok, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, juga terkenal akan kerajinan songketnya.<ref>National Geographic Traveller Indonesia, Vol 1, No 6, 2009, Jakarta, Indonesia, page 62</ref> Di luar Indonesia, kawasan perajin songket didapati di Malaysia; antara lain di pesisir timur [[Semenanjung Malaya]]<ref>[http://books.google.com.my/books?id=5Te9LWyzQvYC&pg=PA137&dq=songket+terengganu&cd=3#v=onepage&q=songket%20terengganu&f=false The Malay handloom weavers: a study of the rise and decline of traditional ... By Maznah Mohamad]</ref> khususnya industri rumahan di pinggiran [[Kota Bahru]], [[Kelantan]] dan [[Terengganu]]; serta di Brunei.<ref>Megumi Uchino. [https://archive.org/details/indonesia-and-the-malay-world_2005-07_33_96/page/205 Socio-cultural history of Palembang Songket]. ''Indonesia and the Malay World''. Routledge. 2005. Vol. 33 (96). hlm. 205–223. doi:10.1080/13639810500283985.</ref>
Pusat kerajinan tangan tenun songket di Indonesia dapat ditemukan di [[Sumatra]], [[Kalimantan]], [[Bali]], [[Sulawesi]], [[Lombok]] dan [[Sumbawa]]. Di Pulau Sumatra pusat kerajinan songket yang termahsyur dan unggul adalah [[Songket Minangkabau]] di daerah [[Pandai Sikek, Sepuluh Koto, Tanah Datar|Pandai Sikek]] dan [[Silungkang, Sawahlunto|Silungkang]], [[Sumatera Barat]], serta Songket Palembang di [[Songket Palembang|Palembang]], [[Sumatera Selatan]]. Di Bali, desa perajin tenun songket dapat ditemukan di kabupaten [[Klungkung]], khususnya di desa Sidemen dan Gelgel. Sementara di Lombok, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, juga terkenal akan kerajinan songketnya. Di luar Indonesia, kawasan perajin songket didapati di Malaysia; antara lain di pesisir timur [[Semenanjung Malaya]] khususnya industri rumahan di pinggiran [[Kota Bahru]], [[Kelantan]] dan [[Terengganu]]; serta di Brunei.
 
== Catatan kaki ==
 


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
*  [https://www.youtube.com/watch?v=5Qni1z7bky0&ab_channel=UNESCO Songket] - UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity - 2021
*  [https://www.youtube.com/watch?v=5Qni1z7bky0&ab_channel=UNESCO Songket] - UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity - 2021


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Songket&oldid=29343177 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29343177 (2026-06-14T00:20:33Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Songket&oldid=29343177 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29343177 (2026-06-14T00:20:33Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 22.57

Bamboofabric

' atau sungkit'[1] adalah jenis tenun tradisional Indonesia yang berasal dari Sumatra.[2][3][4][5][6][7][8][9][10] Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan menggunakan benang emas dan perak. Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang. Bahan kain yang umum digunakan dalam pembuatan Songket yakni meliputi sutra, katun, dan katun sutra.

Songket kerap dikaitkan dengan Kemaharajaan Sriwijaya sebagai asal mula tradisi songket berasal,[11] beberapa jenis Songket yang populer pun tak lepas dari lokasi-lokasi yang pernah berada dibawah kekuasaan Sriwijaya, salah satu lokasi dominan yang juga diyakini sebagai ibukota Kemaharajaan Sriwijaya di masa lampau yakni Palembang, yang terletak di Sumatera Selatan. Selain Palembang, beberapa daerah di Sumatra juga menjadi lokasi penghasil Songket terbaik dalam kelasnya, yakni meliputi daerah-daerah di Minangkabau atau Sumatera Barat seperti Pandai Sikek, Silungkang, Koto Gadang, dan Padang. Di luar Sumatra, kain songket juga dihasilkan oleh daerah-daerah seperti Bali, Lombok, Sambas, Sumba, Makassar, Sulawesi, dan daerah-daerah lain di Indonesia.[12]

Karena faktor sejarah kekuasaan Kemaharajaan Sriwijaya, perdagangan, dan perkawinan campuran, Songket pun juga menjadi populer di Kawasan Maritim Asia Tenggara khususnya di negara-negara sekitar Indonesia seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura.[13]

Pada 2021, Songket telah diakui sebagai milik Malaysia oleh Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Tradisi Songket diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.[14] Tradisi Songket tersebut meliputi tradisi Songket asal Palembang dan Sambas pada 2013; Songket Pandai Sikek pada 2014; tradisi Songket asal Beratan, Bali pada 2018; dan tradisi Songket Silungkang pada 2019.

Istilah

Secara etimologi, istilah "songket" berasal dari lakuran kata dalam bahasa Melayu Palembang yakni + yang artinya "songsong" dan "sulam" secara berturutan, hal ini berkaitan atau merujuk pada metode pembuatan tenunan Songket itu sendiri; yakni dengan mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.[15][16]

Istilah kemudian diserap sebagai "sungkit" dalam bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia, yang berarti "mengaitkan", "menyungit" atau "mencungkil".[17][18] Namun, bukti tertulis paling awal yang dapat dipastikan mengenai pakaian ini dalam naskah berbahasa Melayu selalu menyebutnya sebagai sungkit bukan songket, misalnya dalam Hikayat Aceh tahun 1620-an dan Hikayat Banjar tahun 1660-an.[19]

Selain itu, dalam teori lain, kata songket juga mungkin berasal dari istilah songka, yang merupakan songkok khas Palembang yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai.[20]

Sejarah

Proses penenunan songket secara sejarah dikaitkan dengan kawasan permukiman dan budaya Palembang maupun Minangkabau yang berasal dari pulau Sumatra.[21] Menurut Hikayat Palembang, asal mula kain songket bermula dari kemaharajaan Sriwijaya. Bahan utama pembuatan songket seperti sutra biasanya diproduksi oleh petani ulat sutra lokal, tetapi untuk menghasilkan kualitas songket yang lebih bagus masyarakat lokal juga mengekspor bahan sutra dari Tiongkok, sedangkan untuk benang emas biasanya diproduksi oleh para masyarakat lokal dengan mengolah emas yang dihasilkan dari beberapa daerah di pulau Sumatra (pada masa lampau, Sumatra dikenali juga sebagai Swarnadwipa, berasal dari gabungan kata dalam (svarna; emas) dan (dvipa; pulau), yang artinya "pulau emas"). Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai, pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper.

Sebagai akibat dari pengaruh kekuasaan kemaharajaan Sriwijaya, kain songket menyebar dari Palembang ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Sriwijaya, yakni sebagian besar wilayah di Sumatra (terutama di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung), Kepulauan Riau, Kalimantan (terutama di Sambas), Semenanjung Malaya (juga bernama lain: Semenanjung Kra), Thailand, Kamboja, dan juga meliputi sebagian Jawa. Menurut tradisi Kelantan, teknik tenun seperti ini diperkenalkan dari Chaiya (di Thailand) yang merupakan sebuah daerah yang pernah menjadi salah satu cabang daerah pusat dibawah kekuasaan kemaharajaan Sriwijaya, yang mana kemudian teknik ini berkembang ke selatan di Pattani hingga mencapai ke Kelantan dan Terengganu sekitar abad ke-16. Akan tetapi menurut penenun Terengganu, justru para pedagang Minangkabau, Palembang, dan India yang berlayar dari Palembang lah yang memperkenalkan teknik menenun ini pertama kali sejak zaman kejayaan Sriwijaya.[22]

Menurut tradisi Indonesia sendiri, kain songket nan keemasan juga kerap dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya,[23][24] yang merupakan kemaharajaan niaga maritim nan makmur lagi kaya yang bersemi pada abad ke-7 hingga ke-14 di Sumatra. Dan hingga masa kini, tradisi songket tetap lestari terjaga dengan baik di Palembang, dan daerah ini juga akhirnya dikenali sebagai pusat kerajinan songket paling mahsyur di Indonesia. Songket adalah kain mewah yang aslinya memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas, kemudian ditenun tangan menjadi kain yang cantik dan bernilai ekonomis tinggi. Secara sejarah, tambang emas di Sumatra terletak di Sumatera Selatan dan di pedalaman dataran tinggi Minangkabau. Penemuan benang emas di reruntuhan situs Sriwijaya di Sumatra, bersama dengan batu mirah delima yang belum diasah, serta potongan lempeng emas, mengindikasikan bahwa penenun lokal telah menggunakan benang emas seawal tahun 600-an hingga 700-an Masehi di Sumatra.[25] Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi kualitasnya, yang berjuluk "Ratu Segala Kain". Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya memerlukan waktu sekitar 3 hari. Mulanya kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak atau ikat kepala. Kemudian barulah kaum perempuan etnis Palembang dan Minangkabau mulai memakai songket sarung dengan baju kurung.

Selain dari pengaruh kemaharajaan Srijiwaya yang kuat di Semenanjung Malaya (juga dikenali sebagai Semenanjung Kra), kemungkinan tenun songket mencapai daerah tersebut melalui perkawinan atau persekutuan antar bangsawan Palembang dan Minangkabau, karena songket yang berharga (seperti Songket Palembang dan Songket Minangkabau) kerap kali dijadikan maskawin atau hantaran dalam suatu perkawinan. Pusat kerajinan songket terletak di pusat kerajaan Sriwijaya yakni Palembang (di Sumatera Selatan) yang secara politik penting karena bahan pembuatannya yang mahal karena benang emas sejatinya memang terbuat dari lembaran emas murni asli hasil dari Sumatra.[26] Songket sebagai busana diraja juga disebutkan dalam naskah Abdullah bin Abdul Kadir pada tahun 1849.[27]

Motif

Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan ini. Misalnya motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.[28] Beberapa pemerintah daerah telah mematenkan motif songket tradisional mereka. Dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi Sriwijaya Football Club. Selain motif Berante Berakam, beberapa motif lain yang belum terdaftar yakni motif Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain.[29]

Songket kini

Ditinjau dari bahan, cara pembuatan, dan harganya; songket semula adalah kain mewah para bangsawan yang menujukkan kemuliaan derajat dan martabat pemakainya. Akan tetapi kini songket tidak hanya dimaksudkan untuk golongan masyarakat kaya dan berada semata, karena harganya yang bervariasi; dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat mahal. Kini dengan digunakannya benang emas sintetis maka songket pun tidak lagi luar biasa mahal seperti dahulu kala yang menggunakan emas asli. Meskipun demikian, songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun dan harganya cukup mahal.

Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali. Kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Pada masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan kebaya atau baju kurung.

Meskipun berasal dari kerajinan tradisional, industri songket merupakan kerajinan yang terus hidup dan dinamis. Para perajin songket terutama di Palembang kini berusaha menciptakan motif-motif baru yang lebih modern dan pilihan warna-warna yang lebih lembut. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari masyarakat.[30] Sebagai benda seni, songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan. Penerapan kain songket secara modern amat beraneka ragam, mulai dari tas wanita, songkok, bahkan kantung ponsel.

Pembuatan songket

songket merupakan jenis kain tenun tradisional yang di tenun menggunnakan benang emas bernama panta (alat tenun yang terbuat dari kayu, tempat benang yang akan di tenun biasaberukuran 2 x 1,5 meter) berikut cara sederhana pembuatan songket :

  • menyiapkan benang
  • menangi benang
  • menyiapkan benang emas
  • menyambung benang
  • menggukung benang
  • pempurnaan / penyulapan tenayan.

Pusat kerajinan songket

Pusat kerajinan tangan tenun songket di Indonesia dapat ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok dan Sumbawa. Di Pulau Sumatra pusat kerajinan songket yang termahsyur dan unggul adalah Songket Minangkabau di daerah Pandai Sikek dan Silungkang, Sumatera Barat,[31] serta Songket Palembang di Palembang, Sumatera Selatan. Di Bali, desa perajin tenun songket dapat ditemukan di kabupaten Klungkung, khususnya di desa Sidemen dan Gelgel. Sementara di Lombok, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, juga terkenal akan kerajinan songketnya.[32] Di luar Indonesia, kawasan perajin songket didapati di Malaysia; antara lain di pesisir timur Semenanjung Malaya[33] khususnya industri rumahan di pinggiran Kota Bahru, Kelantan dan Terengganu; serta di Brunei.[34]

Pranala luar

  • Songket - UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity - 2021

Referensi

  1. Untuk kronologi kemunculan kata songket atau sungkit, lihat Malay Concordance Project. .
  2. Retno Purwanti. Sejarah Songket Berdasarkan Data Arkeologi. Revista de Arqueología Siddhayatra. 2016. Vol. 21 (2). doi:10.24832/siddhayatra.v21i2.22.
  3. Teuku Iskandar. De Hikajat Atjéh. Martinus Nijhoff. 1958.
  4. Susan Rodgers. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity. Iris and B. Gerald Cantor Art Gallery, College of the Holy Cross. 2007. ISBN 978-9067183123.
  5. W.L. de Sturler. Proeve eener beschrijving van het gebiied van Palembang. J.Oomrens. 1843.
  6. W.R. van Hoëvell. Sjair Bidasari, een oorspronkelijk Maleische gedicht. Verhande-lingen van het Bataviaasch Genootschap. 1843. Vol. 19 (2). hlm. 1-421.
  7. C.L. Blume. De Indische Bij, Tijdschrift Ter Bevordering van de Kennis der Nederlandsche Volkplantingen en Derzelver Belangen. 1848.
  8. C.F.G. Praetorius. Eenige Bijzonderheden Omtrent Palembang. 1843.
  9. J.I. van Sevenhoven. Beschrijving van de Hoofdplaats van Palembang. Tratados de la Sociedad de Batavia. 1823. Vol. 9. hlm. 41-126.
  10. Eliya Pebriyeni. Perkembangan Fungsi Seni Kerajinan Tenun Songket Silungkang. Gorga Jurnal Seni Rupa. 2019. Vol. 8 (1). hlm. 214–221. doi:10.24114/gr.v8i1.13585.
  11. Susan Rodgers. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity. Cantor Art Callery. 2007. ISBN 978-9067183123.
  12. Wirawan, Nanda. Menapak jejak songket Minangkabau. 1982.
  13. Susan Rodgers. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity. Cantor Art Callery. 2007. ISBN 978-9067183123.
  14. Warisan Budaya Takbenda, Penetapan. Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia.
  15. Mainur. Motif Bungo Pacik Pada Tenunan Songket Palembang. Sitakara Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya. 2018.
  16. National Geographic Traveller Indonesia, Vol 1, No 6, 2009, Jakarta, Indonesia, page 63
  17. Sungkit. kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  18. Sangkut. kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  19. Untuk kronologi kemunculan kata songket atau sungkit, lihat Malay Concordance Project. .
  20. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity, Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield
  21. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity, Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield
  22. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity, Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield
  23. "The Ancient Sriwijaya Heritage" ("Warisan Purba Sriwijaya") Tampilkan Kemilau Songket dan Adat Perkawinan Sumatera Selatan.
  24. Sriwijaya Post. Motif Abstrak Songket palembang. Tribunnews.com. Sriwijaya Post.
  25. Gold Cloths of Sumatra: Indonesia’s Songkets from Ceremony to Commodity, Cantor Art Gallery, Worcester, Massachusetts, 2007, by Susan Rodgers, Anne Summerfield, John Summerfield
  26. Megumi Uchino. Socio-cultural history of Palembang Songket. Indonesia and the Malay World. Routledge. 2005. Vol. 33 (96). hlm. 205–223. doi:10.1080/13639810500283985.
  27. Hikayat Abdullah By Hamzah Hamdani
  28. Tenun Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat - Indonesia).
  29. Sriwijaya Post. Motif Abstrak Songket palembang. Tribunnews.com. Sriwijaya Post.
  30. Sriwijaya Post. Motif Abstrak Songket palembang. Tribunnews.com. Sriwijaya Post.
  31. Tenun Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat - Indonesia).
  32. National Geographic Traveller Indonesia, Vol 1, No 6, 2009, Jakarta, Indonesia, page 62
  33. The Malay handloom weavers: a study of the rise and decline of traditional ... By Maznah Mohamad
  34. Megumi Uchino. Socio-cultural history of Palembang Songket. Indonesia and the Malay World. Routledge. 2005. Vol. 33 (96). hlm. 205–223. doi:10.1080/13639810500283985.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29343177 (2026-06-14T00:20:33Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.