Batu Besar Karimun: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29316191; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Batu_Besar_Karimun_01.jpg|thumb|right|280px|Batu Besar Karimun 01]] | |||
'''Batu Besar Karimun''' merupakan batu mistis yang berada di [[Teluk Lengkup]], tepatnya di Desa [[Pongkar, Tebing, Karimun|Pongkar]], Kecamatan [[Tebing, Karimun|Tebing]], Kabupaten [[Kabupaten Karimun|Karimun]], Kepulauan [[Riau]]. sekitar 160 tahun yang lalu orang yang pertama kali menginjakkan kaki di daerah Batu Besar yaitu H.Ibrahim yang berasal dari keteurunan Sultan Abdul Hamid Khan dari India.<ref>Kompasiana.com. [https://www.kompasiana.com/feraandini7356/615b30686fcfba748e2c8e72/sejarah-batu-besar-di-tanjung-balai-karimun Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun]. ''KOMPASIANA''. 2021-10-04.</ref> | |||
Nama Karimun berasal dari Batu Besar yang merupakan nama diberikan oleh Sultan Abdul Hamid Khan. H.Ibrahim mengatakan bahwa Batu Besar merupakan tempat alam gaib, karena ada kejadian dimana ada sekelompok orang pergi ke Batu Besar dan salah satu dari mereka mengalami kesurupan bernama H. Reno yang berasal dari Lombok. Ketika kesurupan H. Reno menceritakan menggunakan Bahasa Melayu tentang sejarah masuknya islam di Karimun, padahal sebelumnya beliau tidak mengetahui bahasa melayu sama sekali.<ref>Kompasiana.com. [https://www.kompasiana.com/feraandini7356/615b30686fcfba748e2c8e72/sejarah-batu-besar-di-tanjung-balai-karimun Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun]. ''KOMPASIANA''. 2021-10-04.</ref> | |||
Disekitar Batu Besar terdapat Mushalla yang didirikan oleh Rahman Hamid. dimana bagunan mushalla tersebut berbeda dengan mushalla pada umumnya, yaitu dindingnya dilapisi dengan kain berwarna kuning, selain itu mushalla tersebut tidak memiliki daun pintu dan daun jendela. | Konon katanya daerah Batu Besar dijaga oleh makhluk gaib diantaranya Tok Putih, Tok Janggut, dan Tok Karim. Mereka yang menjaga di daerah sekitar Batu Besar tersebut. Beberapa orang menganggap bahwa Batu Besar tersebut merupakan tempat keramat untuk memuja dan meminta hajat. Di beberapa batang pohon terdapat kain kuning yang dililitkan untuk membayar nazar yang sudah terkabul. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di Tanjung Balai Karimun masih ada beberapa di antara mereka yang percaya animisme dan dinamisme yaitu dengan berdoa dan meminta di Batu Besar tersebut agar segala keinginannya segera terwujud. Di sekitaran Batu Besar terdapat Mushola yang dibangun oleh Rahman Hamid. Mushlla tersebut bukanlah seperti Mushola pada umumnya, dindingnya dilapisi dengan kain berwarna kuning, selain itu Mushola tersebut tidak memiliki daun pintu dan daun jendela.<ref>Fera Andini. [https://www.researchgate.net/publication/361936374_Sejarah_dan_Kemistisan_Batu_Besar_di_Tanjung_Balai_Karimun Sejarah dan Kemistisan Batu Besar di Tanjung Balai Karimun]. ''ResearchGate''. Januari, 2022.</ref> | ||
Disekitar Batu Besar terdapat Mushalla yang didirikan oleh Rahman Hamid. dimana bagunan mushalla tersebut berbeda dengan mushalla pada umumnya, yaitu dindingnya dilapisi dengan kain berwarna kuning, selain itu mushalla tersebut tidak memiliki daun pintu dan daun jendela.<ref>Kompasiana.com. [https://www.kompasiana.com/feraandini7356/615b30686fcfba748e2c8e72/sejarah-batu-besar-di-tanjung-balai-karimun Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun]. ''KOMPASIANA''. 2021-10-04.</ref> | |||
== Kepercayaan == | == Kepercayaan == | ||
Tanjung Balai Karimun terdapat beberapa kecamatan, diantaranya Kecamatan Belat, Baru, Durai, Karimun, Kundur, Kundur Barat, Kundur Utara, Maral, Meral Barat, Moro, Tebing, dan Unggar. Kecamatan Tebing yang merupakan tempat adanya Batu Besar ini merupakan salah satu kecamatan yang terdiri dari berbagai ragam suku diantaranya, Suku Melayu, Jawa, batak, dan Tionghoa. Sebagian Masyarakat disana beragama islam, namun masih ada beberapa diantara mereka yang masih percaya akan Animisme dan Dinamisme. Salah satunya ialah bentuk percaya terhadap batu besar yang dijadikan sebagai tempat berdoa atau meminta suatu keinginan. namun sayangnya, Batu Besar ini kurang diperhatikan atau dirawat sebagai suatu objek wisata atau objek sejarah. | Tanjung Balai Karimun terdapat beberapa kecamatan, diantaranya Kecamatan Belat, Baru, Durai, Karimun, Kundur, Kundur Barat, Kundur Utara, Maral, Meral Barat, Moro, Tebing, dan Unggar. Kecamatan Tebing yang merupakan tempat adanya Batu Besar ini merupakan salah satu kecamatan yang terdiri dari berbagai ragam suku diantaranya, Suku Melayu, Jawa, batak, dan Tionghoa. Sebagian Masyarakat disana beragama islam, namun masih ada beberapa diantara mereka yang masih percaya akan Animisme dan Dinamisme. Salah satunya ialah bentuk percaya terhadap batu besar yang dijadikan sebagai tempat berdoa atau meminta suatu keinginan. namun sayangnya, Batu Besar ini kurang diperhatikan atau dirawat sebagai suatu objek wisata atau objek sejarah.<ref>Fera Andini. [https://www.researchgate.net/publication/361936374_Sejarah_dan_Kemistisan_Batu_Besar_di_Tanjung_Balai_Karimun Sejarah dan Kemistisan Batu Besar di Tanjung Balai Karimun]. ''ResearchGate''. Januari, 2022.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Batu+Besar+Karimun&oldid=29316191 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29316191 (2026-06-06T00:37:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 04.02

Batu Besar Karimun merupakan batu mistis yang berada di Teluk Lengkup, tepatnya di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. sekitar 160 tahun yang lalu orang yang pertama kali menginjakkan kaki di daerah Batu Besar yaitu H.Ibrahim yang berasal dari keteurunan Sultan Abdul Hamid Khan dari India.[1]
Nama Karimun berasal dari Batu Besar yang merupakan nama diberikan oleh Sultan Abdul Hamid Khan. H.Ibrahim mengatakan bahwa Batu Besar merupakan tempat alam gaib, karena ada kejadian dimana ada sekelompok orang pergi ke Batu Besar dan salah satu dari mereka mengalami kesurupan bernama H. Reno yang berasal dari Lombok. Ketika kesurupan H. Reno menceritakan menggunakan Bahasa Melayu tentang sejarah masuknya islam di Karimun, padahal sebelumnya beliau tidak mengetahui bahasa melayu sama sekali.[2]
Konon katanya daerah Batu Besar dijaga oleh makhluk gaib diantaranya Tok Putih, Tok Janggut, dan Tok Karim. Mereka yang menjaga di daerah sekitar Batu Besar tersebut. Beberapa orang menganggap bahwa Batu Besar tersebut merupakan tempat keramat untuk memuja dan meminta hajat. Di beberapa batang pohon terdapat kain kuning yang dililitkan untuk membayar nazar yang sudah terkabul. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di Tanjung Balai Karimun masih ada beberapa di antara mereka yang percaya animisme dan dinamisme yaitu dengan berdoa dan meminta di Batu Besar tersebut agar segala keinginannya segera terwujud. Di sekitaran Batu Besar terdapat Mushola yang dibangun oleh Rahman Hamid. Mushlla tersebut bukanlah seperti Mushola pada umumnya, dindingnya dilapisi dengan kain berwarna kuning, selain itu Mushola tersebut tidak memiliki daun pintu dan daun jendela.[3]
Disekitar Batu Besar terdapat Mushalla yang didirikan oleh Rahman Hamid. dimana bagunan mushalla tersebut berbeda dengan mushalla pada umumnya, yaitu dindingnya dilapisi dengan kain berwarna kuning, selain itu mushalla tersebut tidak memiliki daun pintu dan daun jendela.[4]
Kepercayaan
Tanjung Balai Karimun terdapat beberapa kecamatan, diantaranya Kecamatan Belat, Baru, Durai, Karimun, Kundur, Kundur Barat, Kundur Utara, Maral, Meral Barat, Moro, Tebing, dan Unggar. Kecamatan Tebing yang merupakan tempat adanya Batu Besar ini merupakan salah satu kecamatan yang terdiri dari berbagai ragam suku diantaranya, Suku Melayu, Jawa, batak, dan Tionghoa. Sebagian Masyarakat disana beragama islam, namun masih ada beberapa diantara mereka yang masih percaya akan Animisme dan Dinamisme. Salah satunya ialah bentuk percaya terhadap batu besar yang dijadikan sebagai tempat berdoa atau meminta suatu keinginan. namun sayangnya, Batu Besar ini kurang diperhatikan atau dirawat sebagai suatu objek wisata atau objek sejarah.[5]
Referensi
- ↑ Kompasiana.com. Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun. KOMPASIANA. 2021-10-04.
- ↑ Kompasiana.com. Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun. KOMPASIANA. 2021-10-04.
- ↑ Fera Andini. Sejarah dan Kemistisan Batu Besar di Tanjung Balai Karimun. ResearchGate. Januari, 2022.
- ↑ Kompasiana.com. Sejarah Batu Besar di Tanjung Balai Karimun. KOMPASIANA. 2021-10-04.
- ↑ Fera Andini. Sejarah dan Kemistisan Batu Besar di Tanjung Balai Karimun. ResearchGate. Januari, 2022.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29316191 (2026-06-06T00:37:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.