Lompat ke isi

Uji difusi cakram: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29592316; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Uji difusi cakram''' (juga dikenal sebagai '''uji difusi agar''', '''uji Kirby–Bauer''', '''uji kerentanan antibiotik difusi cakram''', '''uji sensitivitas antibiotik difusi cakram''', dan '''uji KB''') adalah [[kultur mikrobiologi|uji mikrobiologi berbasis kultur]] yang digunakan dalam laboratorium [[diagnosis|diagnostik]] dan penemuan obat. Dalam laboratorium diagnostik, uji ini digunakan untuk menentukan kerentanan bakteri yang diisolasi dari [[infeksi]] pasien terhadap antibiotik yang disetujui secara klinis. Hal ini memungkinkan dokter untuk meresepkan pengobatan antibiotik yang paling tepat. Dalam laboratorium penemuan obat (terutama laboratorium [[bioprospeksi]]) uji ini digunakan untuk menyaring bahan biologis (misalnya ekstrak tumbuhan, kaldu fermentasi bakteri) dan kandidat obat untuk aktivitas antibakteri. Dalam bioprospeksi, pengujian dapat dilakukan dengan galur bakteri berpasangan untuk mencapai dereplikasi dan mengidentifikasi sementara mekanisme kerja antibakteri.
[[File:Agar_Diffusion_Method_1.jpg|thumb|right|280px|Agar Diffusion Method 1]]


Di laboratorium diagnostik, uji ini dilakukan dengan menginokulasi permukaan pelat agar dengan bakteri yang diisolasi dari infeksi pasien.  Cakram kertas yang mengandung [[antibiotik]] kemudian dioleskan ke agar dan pelat diinkubasi. Jika antibiotik [[bakteriostatik|menghentikan pertumbuhan bakteri]] atau [[bakterisida|membunuh bakteri]], akan ada area di sekitar cakram tempat bakteri belum cukup tumbuh untuk terlihat. Ini disebut "zona penghambatan". Kerentanan isolat bakteri terhadap setiap antibiotik kemudian dapat dikuantifikasi secara semi-kuantifikasi dengan membandingkan ukuran zona penghambatan ini dengan [[pangkalan data]] informasi tentang bakteri yang diketahui rentan terhadap antibiotik, cukup rentan, dan resisten. Dengan cara ini, dimungkinkan untuk mengidentifikasi antibiotik yang paling tepat untuk mengobati infeksi pasien. Meskipun uji difusi cakram tidak dapat digunakan untuk membedakan aktivitas [[bakteriostatik]] dan [[bakterisida]], uji ini lebih praktis daripada metode uji kerentanan lainnya seperti pengenceran kaldu.
'''Uji difusi cakram''' (juga dikenal sebagai '''uji difusi agar''', '''uji Kirby–Bauer''', '''uji kerentanan antibiotik difusi cakram''', '''uji sensitivitas antibiotik difusi cakram''', dan '''uji KB''') adalah [[kultur mikrobiologi|uji mikrobiologi berbasis kultur]] yang digunakan dalam laboratorium [[diagnosis|diagnostik]] dan penemuan obat. Dalam laboratorium diagnostik, uji ini digunakan untuk menentukan kerentanan bakteri yang diisolasi dari [[infeksi]] pasien terhadap antibiotik yang disetujui secara klinis. Hal ini memungkinkan dokter untuk meresepkan pengobatan antibiotik yang paling tepat.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref><ref>Brown DF, Kothari D. ''Comparison of antibiotic discs from different sources''. ''Journal of Clinical Pathology''. October 1975. Vol. 28 (10). hlm. 779–83. doi:10.1136/jcp.28.10.779.</ref><ref>''Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results''. ''Archives of Internal Medicine''. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.</ref><ref>[https://archive.org/details/sim_american-journal-of-clinical-pathology_1966-04_45_4/page/493 Antibiotic susceptibility testing by a standardized single disk method]. ''American Journal of Clinical Pathology''. April 1966. Vol. 45 (4). hlm. 493–496. doi:10.1093/ajcp/45.4_ts.493.</ref> Dalam laboratorium penemuan obat (terutama laboratorium [[bioprospeksi]]) uji ini digunakan untuk menyaring bahan biologis (misalnya ekstrak tumbuhan, kaldu fermentasi bakteri) dan kandidat obat untuk aktivitas antibakteri. Dalam bioprospeksi, pengujian dapat dilakukan dengan galur bakteri berpasangan untuk mencapai dereplikasi dan mengidentifikasi sementara mekanisme kerja antibakteri.<ref>[https://zenodo.org/record/3909383 Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls]. ''Pharmaceutical Research''. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.</ref><ref>''Screening strategies for discovery of antibacterial natural products''. ''Expert Review of Anti-infective Therapy''. August 2011. Vol. 9 (8). hlm. 589–613. doi:10.1586/eri.11.81.</ref>


Di laboratorium penemuan obat, uji difusi cakram dilakukan sedikit berbeda dibandingkan di laboratorium diagnostik. Dalam pengaturan ini, bukan galur bakteri yang harus dikarakterisasi, tetapi ekstrak uji (misalnya ekstrak tumbuhan atau mikroba). Oleh karena itu, pelat agar diinokulasi dengan galur bakteri dengan fenotipe yang diketahui (seringkali galur ATCC atau NCTC), dan cakram yang berisi ekstrak uji diaplikasikan ke permukaan (lihat di bawah). Ukuran zona hambatan tidak dapat digunakan sebagai ukuran semi-kuantitatif potensi antibakteri karena ekstrak yang berbeda mengandung molekul dengan karakteristik difusi yang berbeda (ukuran [[molekul]], [[hidrofilik|hidrofilisitas]], dll. yang berbeda). Ukuran zona hambatan dapat digunakan untuk tujuan dereplikasi. Ini dicapai dengan menguji setiap ekstrak terhadap galur bakteri yang berpasangan (misalnya galur yang rentan dan resisten terhadap [[streptomisin]] untuk mengidentifikasi ekstrak yang mengandung streptomisin). Galur berpasangan (misalnya tipe liar dan galur [[target biologis|target]] yang mengekspresikan secara berlebihan) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi mekanisme aksi [[antibiotik|antibakteri]].
Di laboratorium diagnostik, uji ini dilakukan dengan menginokulasi permukaan pelat agar dengan bakteri yang diisolasi dari infeksi pasien.  Cakram kertas yang mengandung [[antibiotik]] kemudian dioleskan ke agar dan pelat diinkubasi. Jika antibiotik [[bakteriostatik|menghentikan pertumbuhan bakteri]] atau [[bakterisida|membunuh bakteri]], akan ada area di sekitar cakram tempat bakteri belum cukup tumbuh untuk terlihat. Ini disebut "zona penghambatan". Kerentanan isolat bakteri terhadap setiap antibiotik kemudian dapat dikuantifikasi secara semi-kuantifikasi dengan membandingkan ukuran zona penghambatan ini dengan [[pangkalan data]] informasi tentang bakteri yang diketahui rentan terhadap antibiotik, cukup rentan, dan resisten. Dengan cara ini, dimungkinkan untuk mengidentifikasi antibiotik yang paling tepat untuk mengobati infeksi pasien.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref><ref>Brown DF, Kothari D. ''Comparison of antibiotic discs from different sources''. ''Journal of Clinical Pathology''. October 1975. Vol. 28 (10). hlm. 779–83. doi:10.1136/jcp.28.10.779.</ref> Meskipun uji difusi cakram tidak dapat digunakan untuk membedakan aktivitas [[bakteriostatik]] dan [[bakterisida]], uji ini lebih praktis daripada metode uji kerentanan lainnya seperti pengenceran kaldu.<ref>''Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results''. ''Archives of Internal Medicine''. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.</ref>
 
Di laboratorium penemuan obat, uji difusi cakram dilakukan sedikit berbeda dibandingkan di laboratorium diagnostik. Dalam pengaturan ini, bukan galur bakteri yang harus dikarakterisasi, tetapi ekstrak uji (misalnya ekstrak tumbuhan atau mikroba). Oleh karena itu, pelat agar diinokulasi dengan galur bakteri dengan fenotipe yang diketahui (seringkali galur ATCC atau NCTC), dan cakram yang berisi ekstrak uji diaplikasikan ke permukaan (lihat di bawah). Ukuran zona hambatan tidak dapat digunakan sebagai ukuran semi-kuantitatif potensi antibakteri karena ekstrak yang berbeda mengandung molekul dengan karakteristik difusi yang berbeda (ukuran [[molekul]], [[hidrofilik|hidrofilisitas]], dll. yang berbeda). Ukuran zona hambatan dapat digunakan untuk tujuan dereplikasi. Ini dicapai dengan menguji setiap ekstrak terhadap galur bakteri yang berpasangan (misalnya galur yang rentan dan resisten terhadap [[streptomisin]] untuk mengidentifikasi ekstrak yang mengandung streptomisin). Galur berpasangan (misalnya tipe liar dan galur [[target biologis|target]] yang mengekspresikan secara berlebihan) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi mekanisme aksi [[antibiotik|antibakteri]].<ref>[https://zenodo.org/record/3909383 Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls]. ''Pharmaceutical Research''. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.</ref><ref>''Screening strategies for discovery of antibacterial natural products''. ''Expert Review of Anti-infective Therapy''. August 2011. Vol. 9 (8). hlm. 589–613. doi:10.1586/eri.11.81.</ref>


==Sejarah==
==Sejarah==
Difusi agar pertama kali digunakan oleh [[Martinus Beijerinck]] pada tahun 1889 untuk mempelajari efek [[auksin]] pada pertumbuhan bakteri. Namun, metode ini telah dikembangkan, disempurnakan, dan distandarisasi oleh banyak ilmuwan dan organisasi ilmiah selama bertahun-tahun termasuk George F. Reddish, Norman Heatley, James G. Vincent, Alfred W. Bauer, William M.M. Kirby, John C. Sherris, Hans Martin Ericsson, [[Organisasi Kesehatan Dunia]], Institut Standar Klinis dan Laboratorium, Kelompok Referensi Swedia untuk Antibiotik, ''[[Deutsches Institut für Normung]]'', Masyarakat [[Britania Raya]] untuk Kemoterapi Antimikroba, dan lainnya.
Difusi agar pertama kali digunakan oleh [[Martinus Beijerinck]] pada tahun 1889 untuk mempelajari efek [[auksin]] pada pertumbuhan bakteri. Namun, metode ini telah dikembangkan, disempurnakan, dan distandarisasi oleh banyak ilmuwan dan organisasi ilmiah selama bertahun-tahun termasuk George F. Reddish, Norman Heatley, James G. Vincent,<ref>''History and development of antimicrobial susceptibility testing methodology''. ''Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. July 2001. Vol. 48 (Supplement 1). hlm. 1–4. doi:10.1093/jac/48.suppl_1.1.</ref> Alfred W. Bauer, William M.M. Kirby, John C. Sherris,<ref>''Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results''. ''Archives of Internal Medicine''. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.</ref><ref>[https://archive.org/details/sim_american-journal-of-clinical-pathology_1966-04_45_4/page/493 Antibiotic susceptibility testing by a standardized single disk method]. ''American Journal of Clinical Pathology''. April 1966. Vol. 45 (4). hlm. 493–496. doi:10.1093/ajcp/45.4_ts.493.</ref> Hans Martin Ericsson, [[Organisasi Kesehatan Dunia]], Institut Standar Klinis dan Laboratorium, Kelompok Referensi Swedia untuk Antibiotik, ''[[Deutsches Institut für Normung]]'', Masyarakat [[Britania Raya]] untuk Kemoterapi Antimikroba, dan lainnya.<ref>''History and development of antimicrobial susceptibility testing methodology''. ''Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. July 2001. Vol. 48 (Supplement 1). hlm. 1–4. doi:10.1093/jac/48.suppl_1.1.</ref>


==Prinsip==
==Prinsip==
Kultur bakteri murni disuspensikan dalam larutan garam, kekeruhannya distandarisasi, dan dioleskan secara merata pada pelat agar. Cakram kertas saring yang telah diresapi antibiotik atau [[ekstrak]] kemudian diletakkan pada permukaan agar. Konstituen cakram berdifusi dari kertas saring ke dalam agar. Konsentrasi konstituen ini akan paling tinggi di dekat cakram dan akan menurun seiring bertambahnya jarak dari cakram. Jika antibiotik atau ekstrak efektif melawan bakteri pada konsentrasi tertentu, tidak akan ada koloni yang tumbuh di tempat yang konsentrasinya dalam agar lebih besar atau sama dengan konsentrasi efektif. Ini adalah zona penghambatan. Secara umum, zona penghambatan yang lebih besar berkorelasi dengan [[konsentrasi hambat minimum]] (MIC) antibiotik atau ekstrak yang lebih rendah untuk galur bakteri tersebut. Pengecualian untuk hal ini adalah ketika molekul antibiotik atau ekstrak berukuran besar atau [[hidrofobik]] karena molekul-molekul ini berdifusi melalui agar secara perlahan.
Kultur bakteri murni disuspensikan dalam larutan garam, kekeruhannya distandarisasi, dan dioleskan secara merata pada pelat agar. Cakram kertas saring yang telah diresapi antibiotik atau [[ekstrak]] kemudian diletakkan pada permukaan agar. Konstituen cakram berdifusi dari kertas saring ke dalam agar. Konsentrasi konstituen ini akan paling tinggi di dekat cakram dan akan menurun seiring bertambahnya jarak dari cakram. Jika antibiotik atau ekstrak efektif melawan bakteri pada konsentrasi tertentu, tidak akan ada koloni yang tumbuh di tempat yang konsentrasinya dalam agar lebih besar atau sama dengan konsentrasi efektif. Ini adalah zona penghambatan. Secara umum, zona penghambatan yang lebih besar berkorelasi dengan [[konsentrasi hambat minimum]] (MIC) antibiotik atau ekstrak yang lebih rendah untuk galur bakteri tersebut.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref> Pengecualian untuk hal ini adalah ketika molekul antibiotik atau ekstrak berukuran besar atau [[hidrofobik]] karena molekul-molekul ini berdifusi melalui agar secara perlahan.<ref>[https://zenodo.org/record/3909383 Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls]. ''Pharmaceutical Research''. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.</ref>


==Metode standar==
==Metode standar==
===Cakram agar dan persiapan inokulum===
===Cakram agar dan persiapan inokulum===
Semua aspek prosedur Kirby–Bauer distandarisasi untuk memastikan hasil yang konsisten dan akurat. Oleh karena itu, laboratorium harus mematuhi standar ini. Media yang digunakan dalam uji Kirby–Bauer harus berupa agar Mueller–Hinton dengan kedalaman hanya 4 mm, dituangkan ke dalam [[cawan Petri]] berukuran 100 mm atau 150 mm. Tingkat [[pH]] agar harus antara 7,2 dan 7,4. Inokulum bakteri disiapkan dengan mengencerkan kultur kaldu agar sesuai dengan [[standar McFarland|standar kekeruhan McFarland]] 0,5; yang setara dengan sekitar 150 juta sel per mL.
Semua aspek prosedur Kirby–Bauer distandarisasi untuk memastikan hasil yang konsisten dan akurat. Oleh karena itu, laboratorium harus mematuhi standar ini. Media yang digunakan dalam uji Kirby–Bauer harus berupa agar Mueller–Hinton dengan kedalaman hanya 4 mm, dituangkan ke dalam [[cawan Petri]] berukuran 100 mm atau 150 mm. Tingkat [[pH]] agar harus antara 7,2 dan 7,4. Inokulum bakteri disiapkan dengan mengencerkan kultur kaldu agar sesuai dengan [[standar McFarland|standar kekeruhan McFarland]] 0,5; yang setara dengan sekitar 150 juta sel per mL.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref>
 


===Inokulasi dan Inkubasi===
===Inokulasi dan Inkubasi===
Menggunakan teknik [[aseptik]], [[kultur sel|kultur]] [[media tanam|kaldu]] organisme tertentu dikumpulkan dengan [[kapas pentol|kapas usap]] [[sterilisasi (mikrobiologi)|steril]]. Untuk bakteri [[Gram-negatif]], cairan berlebih dikeluarkan dari kapas usap dengan menekan atau memutarnya secara perlahan ke bagian dalam tabung. Kapas usap kemudian digoreskan pada cawan agar Mueller–Hinton untuk membentuk lapisan bakteri. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam, cawan agar digoreskan dengan kapas usap ke satu arah, diputar 120° dan digoreskan lagi, diputar 120° lagi dan digoreskan lagi. Menggunakan dispenser cakram antibiotik, cakram yang berisi antibiotik spesifik kemudian ditempelkan pada cawan. Ini harus dilakukan dalam waktu 15 menit setelah inokulasi. Pinset yang disterilkan dengan api digunakan untuk menekan setiap cakram secara perlahan ke agar dan memastikannya melekat. Cawan kemudian diinkubasi semalaman, biasanya pada suhu 35 °C.  Cawan harus [[inkubator|diinkubasi]] dalam waktu 15 menit setelah penggunaan cakram antibiotik.
Menggunakan teknik [[aseptik]], [[kultur sel|kultur]] [[media tanam|kaldu]] organisme tertentu dikumpulkan dengan [[kapas pentol|kapas usap]] [[sterilisasi (mikrobiologi)|steril]]. Untuk bakteri [[Gram-negatif]], cairan berlebih dikeluarkan dari kapas usap dengan menekan atau memutarnya secara perlahan ke bagian dalam tabung. Kapas usap kemudian digoreskan pada cawan agar Mueller–Hinton untuk membentuk lapisan bakteri. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam, cawan agar digoreskan dengan kapas usap ke satu arah, diputar 120° dan digoreskan lagi, diputar 120° lagi dan digoreskan lagi. Menggunakan dispenser cakram antibiotik, cakram yang berisi antibiotik spesifik kemudian ditempelkan pada cawan. Ini harus dilakukan dalam waktu 15 menit setelah inokulasi. Pinset yang disterilkan dengan api digunakan untuk menekan setiap cakram secara perlahan ke agar dan memastikannya melekat. Cawan kemudian diinkubasi semalaman, biasanya pada suhu 35 °C.  Cawan harus [[inkubator|diinkubasi]] dalam waktu 15 menit setelah penggunaan cakram antibiotik.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref>


===Modifikasi media uji===
===Modifikasi media uji===
Bakteri tertentu memerlukan penambahan larutan 5% darah kuda yang didefibrinasi secara mekanis dan β-[[nikotinamida adenina dinukleotida|NAD]] (MH-F agar). Tabel berikut menunjukkan kebutuhan media mikroorganisme yang umum diuji:
Bakteri tertentu memerlukan penambahan larutan 5% darah kuda yang didefibrinasi secara mekanis dan β-[[nikotinamida adenina dinukleotida|NAD]] (MH-F agar).<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref> Tabel berikut menunjukkan kebutuhan media mikroorganisme yang umum diuji:
 
{| class="wikitable"
|+Persyaratan media difusi cakram<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref>
!Agar MH standar
!Agar MH-F
|-
|
* ''Enterobacteriales''
* ''Pseudomonas'' spp.
* ''Stenotrophomonas maltophilia''
* ''Acinetobacter'' spp.
* ''Staphylococcus'' spp.
* ''Enterococcus'' spp.
* ''Aeromonas'' spp.
* ''Achromobacter xylosoxidans''
* ''Vibrio'' spp.
* ''Bacillus'' spp.
* ''Burkholderia pseudomallei''
|
* grup ''Streptococcus'' A, B, C, G
* ''Streptococcus pneumoniae''
* grup ''Streptococcus viridans''
* ''Haemophilus influenzae''
* ''Moraxella catarrhalis''
* ''Listeria monocytogenes''
* ''Pasteurella multocida''
* ''Campylobacter jejuni'' dan ''C. coli''
* ''Corynebacterium''
* ''Aerococcus sanguinicola'' dan ''A. urinae''
* ''Kingella kingae''
* ''Brucella melitensis''
|}


===Kontrol Kualitas===
===Kontrol Kualitas===
Untuk memastikan keakuratan hasil uji, metode [[pengendalian mutu|kontrol kualitas]] harus digunakan. Untuk memantau kinerja uji, galur bakteri khusus digunakan sebagai kontrol positif atau negatif. Ketika efikasi [[laktamase beta|β-laktamase]] diuji, galur khusus yang menunjukkan resistensi terhadap β-laktam digunakan. Selain itu, media spesifik digunakan untuk menguji antibiotik tertentu. Misalnya, ketika menguji kerentanan [[kotrimoksazol]], media dengan [[timina]] dan [[timidina]] berlebih direkomendasikan. Tabel berikut mencantumkan galur kontrol kualitas yang umum digunakan dalam metode difusi cakram:
Untuk memastikan keakuratan hasil uji, metode [[pengendalian mutu|kontrol kualitas]] harus digunakan. Untuk memantau kinerja uji, galur bakteri khusus digunakan sebagai kontrol positif atau negatif. Ketika efikasi [[laktamase beta|β-laktamase]] diuji, galur khusus yang menunjukkan resistensi terhadap β-laktam digunakan. Selain itu, media spesifik digunakan untuk menguji antibiotik tertentu. Misalnya, ketika menguji kerentanan [[kotrimoksazol]], media dengan [[timina]] dan [[timidina]] berlebih direkomendasikan.<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref> Tabel berikut mencantumkan galur kontrol kualitas yang umum digunakan dalam metode difusi cakram:
 
{| class="wikitable"
|+Galur kontrol kualitas (per Januari 2025))<ref>EUCAST. [https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/Disk_test_documents/2021_manuals/Manual_v_9.0_EUCAST_Disk_Test_2021.pdf Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method]. ''www.eucast.org''. EUCAST. January 2021.</ref>
! rowspan="2" |Bakteri
! colspan="6" |Galur
! rowspan="2" |Deskripsi
! rowspan="2" |Antibiotik yang diuji
|-
!'''ATCC'''
!'''NCTC'''<ref>[https://www.culturecollections.org.uk Culture Collections]. ''Culture Collections''.</ref>
!'''CIP'''<ref>[https://www.pasteur.fr/fr/bacteria-cip Bacteria (CIP)]. ''Institut Pasteur''. 2021-06-28.</ref>
!'''DSM'''<ref>[https://www.dsmz.de/ Leibniz Institute DSMZ: Welcome to the Leibniz Institute DSMZ]. ''www.dsmz.de''.</ref>
!'''CCUG'''<ref>[https://www.ccug.se/ Culture Collection University Of Gothenburg]. ''www.ccug.se''.</ref>
!'''CECT'''<ref>[https://www.uv.es/uvweb/spanish-type-culture-collection/en/spanish-type-culture-collection-1285872233521.html Spanish Type Culture Collection]. ''www.uv.es''.</ref>
|-
| rowspan="3" |''E. coli''
|25922<ref>[https://www.atcc.org/products/25922 Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 25922 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12241
|76,24
|1103
|17620
|434
|rentan (tipe liar)
|[[neomisin]], [[kolistin]], [[kanamisin]], [[sefaleksin]], [[gentamisin]], [[sefamandol]], [[sefalotin]], [[tetrasiklin]], [[sefaloglisin]], [[sefaloridin]], [[asam nalidiksat]], [[kloramfenikol]]<ref>[https://www.atcc.org/products/25922 Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 25922 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|-
|35218<ref>[https://www.atcc.org/products/35218 Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 35218 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|11954
|102181
|5923
|30600
|943
|menghasilkan β-laktamase TEM-1, yang resisten terhadap [[ampisilin]] (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
|
|-
| -
|13353<ref>[https://www.culturecollections.org.uk/nop/product/escherichia-coli-366 Escherichia coli]. ''www.culturecollections.org.uk''.</ref>
| -
| -
| -
| -
|menghasilkan CTX-M-15 dan OXA-1 (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
|[[sefotaksim]]<ref>[https://www.culturecollections.org.uk/nop/product/escherichia-coli-366 Escherichia coli]. ''www.culturecollections.org.uk''.</ref>
|-
| rowspan="2" |''Klebsiella pneumoniae''
|700603<ref>[https://www.atcc.org/products/700603 Klebsiella quasipneumoniae Brisse et al - 700603 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|13368
| -
| -
|45421
|7787
|menghasilkan SHV-18 (β-laktamase spektrum luas, digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
|
|-
|BAA-2814<ref>[https://www.atcc.org/products/baa-2814 Klebsiella pneumoniae (Schroeter) Trevisan - BAA-2814 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
| -
| -
| -
| -
| -
|menghasilkan KPC-3, SHV-11, TEM-1 (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
|kombinasi penghambat β-laktam/β-laktamase baru (misalnya [[meropenem/vaborbaktam]])<ref>[https://www.atcc.org/products/baa-2814 Klebsiella pneumoniae (Schroeter) Trevisan - BAA-2814 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|-
|''Pseudomonas aeruginosa''
|27853<ref>[https://www.atcc.org/products/27853 Pseudomonas aeruginosa (Schroeter) Migula - 27853 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12903
|76,110
|1117
|17619
|108
|rentan (tipe liar)
|
|-
| rowspan="2" |''Staphylococcus aureus''
|29213<ref>[https://www.atcc.org/products/29213 Staphylococcus aureus subsp. aureus Rosenbach - 29213 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12973
|103429
|2569
|15915
|794
|menghasilkan β-laktamase (lemah)
|
|-
| -
|12493<ref>[https://www.culturecollections.org.uk/nop/product/staphylococcus-aureus-159 Staphylococcus aureus]. ''www.culturecollections.org.uk''.</ref>
| -
| -
|67181
|
|[[Staphylococcus aureus resisten-metisilin|MRSA]] (plasmid mecA positif)
|[[metisilin]] dan antibiotik lain yang dipengaruhi oleh galur MRSA<ref>[https://www.culturecollections.org.uk/nop/product/staphylococcus-aureus-159 Staphylococcus aureus]. ''www.culturecollections.org.uk''.</ref>
|-
| rowspan="2" |''Enterococcus faecalis''
|29212<ref>[https://www.atcc.org/products/29212 Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 29212 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12697
|103214
|2570
|9997
|795
|rentan (tipe liar)
|
|-
|51299<ref>[https://www.atcc.org/products/51299 Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 51299 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|13379
|104676
|12956
|34289
| -
|HLAR (enzim pengubah [[aminoglikosida]]), resisten terhadap [[vankomisin]] (plasmid vanB positif)
|gentamisin, [[streptomisin]]<ref>[https://www.atcc.org/products/51299 Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 51299 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|-
|''Streptococcus pneumoniae''
|49619<ref>[https://www.atcc.org/products/49619 Streptococcus pneumoniae (Klein) Chester - 49619 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12977
|104340
|11967
|33638
| -
|resisten terhadap [[benzilpenisilin]]
|
|-
| rowspan="2" |''Haemophilus influenzae''
|49766<ref>[https://www.atcc.org/products/49766 Haemophilus influenzae (Lehmann and Neumann) Winslow et al. - 49766 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12975
|103570
|11970
|29539
| -
|rentan (tipe liar)
|
|-
|49247<ref>[https://www.atcc.org/products/49247 Haemophilus influenzae (Lehmann and Neumann) Winslow et al. - 49247 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|12699
|104604
|9999
|26214
| -
|penurunan kerentanan terhadap β-laktam (menunjukkan modifikasi [[protein pengikat penisilin]])
|
|-
|''Campylobacter jejuni''
|33560<ref>[https://www.atcc.org/products/33560 Campylobacter jejuni subsp. jejuni (Jones et al.) Steele and Owen - 33560 ATCC]. ''www.atcc.org''.</ref>
|11351
|70,2T
|4688
|11284
| -
|rentan (tipe liar), membutuhkan lingkungan mikroaerobik dan suhu inkubasi yang lebih tinggi (41±1°C)
|
|}


==Metode alternatif==
==Metode alternatif==
Beberapa variasi metode difusi cakram telah dikembangkan, termasuk metode cawan [[penisilin]] Oxford dan ''Etest'' yang digunakan di laboratorium diagnostik rumah sakit, serta metode difusi sumur, difusi silinder, dan bioautografi yang digunakan di laboratorium penemuan dan pengembangan obat.
Beberapa variasi metode difusi cakram telah dikembangkan, termasuk metode cawan [[penisilin]] Oxford dan ''Etest'' yang digunakan di laboratorium diagnostik rumah sakit,<ref>B Bonev. ''Principles of assessing bacterial susceptibility to antibiotics using the agar diffusion method''. ''Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. June 2008. Vol. 61 (6). hlm. 1295–301. doi:10.1093/jac/dkn090.</ref><ref>''Correlation between Etest and reference broth microdilution for antimicrobial susceptibility testing of ''Burkholderia pseudomallei''''. ''Microbial Drug Resistance''. April 2020. Vol. 26 (4). hlm. 311–318. doi:10.1089/mdr.2019.0260.</ref> serta metode difusi sumur, difusi silinder, dan bioautografi yang digunakan di laboratorium penemuan dan pengembangan obat.<ref>[https://zenodo.org/record/3909383 Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls]. ''Pharmaceutical Research''. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.</ref><ref>''Comparative assessment of antibacterial efficacy of commercially available different dental gels: An in-vitro study''. ''Reviews on Recent Clinical Trials''. November 2020. Vol. 16 (2). hlm. 206–211. doi:10.2174/1574887115666201104155458.</ref>


===Metode cawan penisilin Oxford===
===Metode cawan penisilin Oxford===
Cakram berisi konsentrasi antibiotik yang meningkat ditempatkan pada media bakteri yang telah disemai pada permukaan agar dan lempeng diinkubasi. Ukuran zona diukur dari tepi cakram hingga ujung zona bening. Interpretasi lebih rumit pada populasi kerentanan campuran. Ukuran zona di-plot sebagai dimensi linier atau kuadrat jarak sebagai fungsi logaritma natural konsentrasi antibiotik dalam cakram. MIC ditentukan dari titik nol intersep regresi linier yang sesuai dengan data. Titik intersep itu sendiri merupakan logaritma dari MIC. Kemiringan garis regresi berkaitan dengan koefisien difusi antibiotik tertentu dalam agar.
Cakram berisi konsentrasi antibiotik yang meningkat ditempatkan pada media bakteri yang telah disemai pada permukaan agar dan lempeng diinkubasi. Ukuran zona diukur dari tepi cakram hingga ujung zona bening. Interpretasi lebih rumit pada populasi kerentanan campuran. Ukuran zona di-plot sebagai dimensi linier atau kuadrat jarak sebagai fungsi logaritma natural konsentrasi antibiotik dalam cakram. MIC ditentukan dari titik nol intersep regresi linier yang sesuai dengan data.<ref>[http://www.agardiffusion.com/ Analysis of bacterial sensitivity to antibiotics by the agar diffusion method]. ''agardiffusion.com''.</ref> Titik intersep itu sendiri merupakan logaritma dari MIC. Kemiringan garis regresi berkaitan dengan koefisien difusi antibiotik tertentu dalam agar.<ref>B Bonev. ''Principles of assessing bacterial susceptibility to antibiotics using the agar diffusion method''. ''Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. June 2008. Vol. 61 (6). hlm. 1295–301. doi:10.1093/jac/dkn090.</ref>


===Uji Kerentanan Antibiotik Cepat EUCAST (RAST)===
===Uji Kerentanan Antibiotik Cepat EUCAST (RAST)===
Metode RAST berfungsi sebagai cara cepat untuk memastikan kerentanan antibiotik dan diciptakan sebagai modifikasi dari uji difusi cakram klasik. Metode ini memungkinkan untuk mempersingkat waktu inkubasi menjadi 16-20 jam. Skor uji dibaca setelah 4, 6, 8, dan 16-20 jam. Dibandingkan dengan metode standar, RAST tidak menghasilkan zona hambat yang jelas dalam rentang waktu sesingkat itu (semua bakteri kecuali ''S. pneumoniae'' memiliki peluang lebih tinggi dari 90% untuk dapat dibaca setelah 6 jam). Untuk galur kontrol kualitas, galur tersebut diencerkan 1:1.000.000 dan darah kuda atau domba yang telah didefibrinasi ditambahkan. Tabel titik henti RAST khusus harus digunakan saat menginterpretasikan hasil karena perbedaan kalibrasi metode.
Metode RAST berfungsi sebagai cara cepat untuk memastikan kerentanan antibiotik dan diciptakan sebagai modifikasi dari uji difusi cakram klasik. Metode ini memungkinkan untuk mempersingkat waktu inkubasi menjadi 16-20 jam. Skor uji dibaca setelah 4, 6, 8, dan 16-20 jam. Dibandingkan dengan metode standar, RAST tidak menghasilkan zona hambat yang jelas dalam rentang waktu sesingkat itu (semua bakteri kecuali ''S. pneumoniae'' memiliki peluang lebih tinggi dari 90% untuk dapat dibaca setelah 6 jam). Untuk galur kontrol kualitas, galur tersebut diencerkan 1:1.000.000 dan darah kuda atau domba yang telah didefibrinasi ditambahkan. Tabel titik henti RAST khusus harus digunakan saat menginterpretasikan hasil karena perbedaan kalibrasi metode.<ref>[https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/RAST/2024/EUCAST_RAST_methodology_v5.0_final.pdf Methodology - EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) directly from positive blood culture bottles. Version 5.0].</ref>


Galur kendali mutu yang tervalidasi meliputi: ''E. coli'' ATCC 25922, ''P. aeruginosa'' ATCC 27853, ''S. aureus'' ATCC 29213, ''E. faecalis'' ATCC 29212, ''S. pneumoniae'' ATCC 49619.
Galur kendali mutu yang tervalidasi meliputi: ''E. coli'' ATCC 25922, ''P. aeruginosa'' ATCC 27853, ''S. aureus'' ATCC 29213, ''E. faecalis'' ATCC 29212, ''S. pneumoniae'' ATCC 49619.<ref>[https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/RAST/2024/EUCAST_RAST_QC_v_7_final.pdf Quality control criteria for the implementation of the RAST method to be performed when implementing the method, when training new staff or following a change in blood culture system or any other substantial change in the system. Version 7.0]. 5 July 2024.</ref>


====Skrining mekanisme resistensi antibiotik dalam RAST====
====Skrining mekanisme resistensi antibiotik dalam RAST====
RAST memungkinkan penentuan cepat kemungkinan resistensi antibiotik dalam kultur yang diuji. RAST memungkinkan pemeriksaan ''E. coli'' dan ''K. pneumoniae'' penghasil ESBL dan/atau karbapenemase, masing-masing menggunakan sefotaksim/seftazidim (setelah 4 jam) dan [[meropenem]] (setelah 6 jam). Namun, hasil ini tidak kuantitatif dan hanya boleh digunakan untuk skrining dalam tes medis rutin. Dalam [[uji klinis]], metode RAST menghasilkan peningkatan signifikan dalam memprediksi efikasi terapi antibiotik.
RAST memungkinkan penentuan cepat kemungkinan resistensi antibiotik dalam kultur yang diuji. RAST memungkinkan pemeriksaan ''E. coli'' dan ''K. pneumoniae'' penghasil ESBL dan/atau karbapenemase, masing-masing menggunakan sefotaksim/seftazidim (setelah 4 jam) dan [[meropenem]] (setelah 6 jam). Namun, hasil ini tidak kuantitatif dan hanya boleh digunakan untuk skrining dalam tes medis rutin.<ref>[https://www.eucast.org/fileadmin/src/media/PDFs/EUCAST_files/RAST/2022/RAST_detection_of_resistance_mechanisms_v._2.0_final.pdf Screening for ESBL and carbapenemases in E. coli and K. pneumoniae for epidemiological purposes as part of the RAST procedure. EUCAST Guidelines for detection of resistance mechanisms and specific resistance of clinical and/or epidemiological importance using EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) directly from positive blood culture bottles. Version 2.0]. April 2022.</ref><ref>Emma Jonasson. [https://academic.oup.com/jac/article/78/12/2926/7326127 Evaluation of prolonged incubation time of 16–20 h with the EUCAST rapid antimicrobial susceptibility disc diffusion testing method]. ''Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. 2023-12-01. Vol. 78 (12). hlm. 2926–2932. doi:10.1093/jac/dkad332.</ref> Dalam [[uji klinis]], metode RAST menghasilkan peningkatan signifikan dalam memprediksi efikasi terapi antibiotik.<ref>Emilie Cardot Martin. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S266699192200183X Impact of EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) on management of Gram-negative bloodstream infection]. ''Infectious Diseases Now''. November 2022. Vol. 52 (8). hlm. 421–425. doi:10.1016/j.idnow.2022.09.002.</ref>


===Metode pra-difusi cakram===
===Metode pra-difusi cakram===
Cakram berisi antibiotik ditempatkan pada cawan agar Mueller-Hinton yang belum diinokulasi dan diinkubasi selama 2 jam. Kemudian, cakram tersebut dikeluarkan dan suspensi bakteri yang sebelumnya disiapkan menggunakan mikrodilusi kaldu diaplikasikan dan cakram lain dengan antibiotik yang berbeda ditempatkan tepat di tempat yang sama dengan cakram sebelumnya. Setelah inkubasi selama 16-20 jam, hasilnya dikorelasikan dengan nilai MIC antibiotik pertama. Contoh metode pra-difusi adalah pengujian efikasi seftazidim/avibaktam (cakram primer) secara ''[[in vitro]]'' dalam kaitannya dengan [[aztreonam]] (cakram sekunder).
Cakram berisi antibiotik ditempatkan pada cawan agar Mueller-Hinton yang belum diinokulasi dan diinkubasi selama 2 jam. Kemudian, cakram tersebut dikeluarkan dan suspensi bakteri yang sebelumnya disiapkan menggunakan mikrodilusi kaldu diaplikasikan dan cakram lain dengan antibiotik yang berbeda ditempatkan tepat di tempat yang sama dengan cakram sebelumnya. Setelah inkubasi selama 16-20 jam, hasilnya dikorelasikan dengan nilai MIC antibiotik pertama. Contoh metode pra-difusi adalah pengujian efikasi seftazidim/avibaktam (cakram primer) secara ''[[in vitro]]'' dalam kaitannya dengan [[aztreonam]] (cakram sekunder).<ref>Keila de Oliveira Lima. ''A simple disk pre-diffusion test to predict in vitro aztreonam/avibactam activity against NDM-producing Klebsiella pneumoniae complex''. ''Journal of Global Antimicrobial Resistance''. March 2022. Vol. 28. hlm. 49–52. doi:10.1016/j.jgar.2021.12.009.</ref>


===Pengujian obat antijamur===
===Pengujian obat antijamur===
Metode difusi cakram dapat digunakan untuk menguji kerentanan terhadap [[antijamur]].
Metode difusi cakram dapat digunakan untuk menguji kerentanan terhadap [[antijamur]].<ref>A. Ozkutuk. [http://www.tandfonline.com/doi/full/10.1179/joc.2008.20.1.87 Comparison of Disk Diffusion, E-Test and Broth Microdilution Test in Determination of Susceptibility of Aspergillus Species to Amphotericin B, Itraconazole and Voriconazole]. ''Journal of Chemotherapy''. February 2008. Vol. 20 (1). hlm. 87–92. doi:10.1179/joc.2008.20.1.87.</ref><ref>Göran Kronvall. ''Fluconazole and Voriconazole Multidisk Testing of Candida Species for Disk Test Calibration and MIC Estimation''. ''Journal of Clinical Microbiology''. April 2001. Vol. 39 (4). hlm. 1422–1428. doi:10.1128/JCM.39.4.1422-1428.2001.</ref>
 


===Bioautografi===
===Bioautografi===
Dibandingkan dengan metode berbasis cakram klasik, bioautografi menggunakan [[kromatografi lapis tipis]] untuk memisahkan komponen-komponen dari campuran yang diuji. Kemudian, pelat KLT dapat diletakkan di atas agar yang telah diinokulasi dan dibiarkan berdifusi ke dalamnya (bioautografi kontak) atau ditutup dengan kaldu yang mengandung mikroba (bioautografi langsung). Kemudian, sampel diinkubasi dan zona penghambatan diukur. Sebagai alternatif, pelat KLT dapat ditutup dengan agar cair dalam bioautografi lapisan agar.
Dibandingkan dengan metode berbasis cakram klasik, bioautografi menggunakan [[kromatografi lapis tipis]] untuk memisahkan komponen-komponen dari campuran yang diuji. Kemudian, pelat KLT dapat diletakkan di atas agar yang telah diinokulasi dan dibiarkan berdifusi ke dalamnya (bioautografi kontak) atau ditutup dengan kaldu yang mengandung mikroba (bioautografi langsung). Kemudian, sampel diinkubasi dan zona penghambatan diukur.<ref>Irena M. Choma. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0021967310017632 Bioautography detection in thin-layer chromatography]. ''Journal of Chromatography A''. May 2011. Vol. 1218 (19). hlm. 2684–2691. doi:10.1016/j.chroma.2010.12.069.</ref><ref>Meng Wang. ''An Evolving Technology That Integrates Classical Methods with Continuous Technological Developments: Thin-Layer Chromatography Bioautography''. ''Molecules''. 2021-07-31. Vol. 26 (15). hlm. 4647. doi:10.3390/molecules26154647.</ref><ref>Natalia Conde-Martínez. ''Use of a mixed culture strategy to isolate halophilic bacteria with antibacterial and cytotoxic activity from the Manaure solar saltern in Colombia''. ''BMC Microbiology''. December 2017. Vol. 17 (1). hlm. 230. doi:10.1186/s12866-017-1136-x.</ref> Sebagai alternatif, pelat KLT dapat ditutup dengan agar cair dalam bioautografi lapisan agar.<ref>Bettadapura Rameshgowda Nuthan. [https://academic.oup.com/chromsci/article/58/8/737/5882178 Application of Optimized and Validated Agar Overlay TLC–Bioautography Assay for Detecting the Antimicrobial Metabolites of Pharmaceutical Interest]. ''Journal of Chromatographic Science''. 2020-08-21. Vol. 58 (8). hlm. 737–746. doi:10.1093/chromsci/bmaa045.</ref>


Untuk memvisualisasikan zona penghambatan dalam bioautografi langsung, reagen yang mendeteksi aktivitas dehidrogenase digunakan (misalnya garam tetrazolium, yang diubah oleh dehidrogenase mikroba menjadi [[formazan]] kromogenik).
Untuk memvisualisasikan zona penghambatan dalam bioautografi langsung, reagen yang mendeteksi aktivitas dehidrogenase digunakan (misalnya garam tetrazolium, yang diubah oleh dehidrogenase mikroba menjadi [[formazan]] kromogenik).<ref>Irena M. Choma. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0021967310017632 Bioautography detection in thin-layer chromatography]. ''Journal of Chromatography A''. May 2011. Vol. 1218 (19). hlm. 2684–2691. doi:10.1016/j.chroma.2010.12.069.</ref>


==Gambar lainnya==
==Gambar lainnya==
== Catatan ==
== Catatan ==


== Referensi ==
<references />


==Referensi==
== Sumber dan atribusi ==
 


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uji+difusi+cakram&oldid=29592316 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29592316 (2026-08-17T13:22:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uji+difusi+cakram&oldid=29592316 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29592316 (2026-08-17T13:22:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 08.56

Agar Diffusion Method 1

Uji difusi cakram (juga dikenal sebagai uji difusi agar, uji Kirby–Bauer, uji kerentanan antibiotik difusi cakram, uji sensitivitas antibiotik difusi cakram, dan uji KB) adalah uji mikrobiologi berbasis kultur yang digunakan dalam laboratorium diagnostik dan penemuan obat. Dalam laboratorium diagnostik, uji ini digunakan untuk menentukan kerentanan bakteri yang diisolasi dari infeksi pasien terhadap antibiotik yang disetujui secara klinis. Hal ini memungkinkan dokter untuk meresepkan pengobatan antibiotik yang paling tepat.[1][2][3][4] Dalam laboratorium penemuan obat (terutama laboratorium bioprospeksi) uji ini digunakan untuk menyaring bahan biologis (misalnya ekstrak tumbuhan, kaldu fermentasi bakteri) dan kandidat obat untuk aktivitas antibakteri. Dalam bioprospeksi, pengujian dapat dilakukan dengan galur bakteri berpasangan untuk mencapai dereplikasi dan mengidentifikasi sementara mekanisme kerja antibakteri.[5][6]

Di laboratorium diagnostik, uji ini dilakukan dengan menginokulasi permukaan pelat agar dengan bakteri yang diisolasi dari infeksi pasien. Cakram kertas yang mengandung antibiotik kemudian dioleskan ke agar dan pelat diinkubasi. Jika antibiotik menghentikan pertumbuhan bakteri atau membunuh bakteri, akan ada area di sekitar cakram tempat bakteri belum cukup tumbuh untuk terlihat. Ini disebut "zona penghambatan". Kerentanan isolat bakteri terhadap setiap antibiotik kemudian dapat dikuantifikasi secara semi-kuantifikasi dengan membandingkan ukuran zona penghambatan ini dengan pangkalan data informasi tentang bakteri yang diketahui rentan terhadap antibiotik, cukup rentan, dan resisten. Dengan cara ini, dimungkinkan untuk mengidentifikasi antibiotik yang paling tepat untuk mengobati infeksi pasien.[7][8] Meskipun uji difusi cakram tidak dapat digunakan untuk membedakan aktivitas bakteriostatik dan bakterisida, uji ini lebih praktis daripada metode uji kerentanan lainnya seperti pengenceran kaldu.[9]

Di laboratorium penemuan obat, uji difusi cakram dilakukan sedikit berbeda dibandingkan di laboratorium diagnostik. Dalam pengaturan ini, bukan galur bakteri yang harus dikarakterisasi, tetapi ekstrak uji (misalnya ekstrak tumbuhan atau mikroba). Oleh karena itu, pelat agar diinokulasi dengan galur bakteri dengan fenotipe yang diketahui (seringkali galur ATCC atau NCTC), dan cakram yang berisi ekstrak uji diaplikasikan ke permukaan (lihat di bawah). Ukuran zona hambatan tidak dapat digunakan sebagai ukuran semi-kuantitatif potensi antibakteri karena ekstrak yang berbeda mengandung molekul dengan karakteristik difusi yang berbeda (ukuran molekul, hidrofilisitas, dll. yang berbeda). Ukuran zona hambatan dapat digunakan untuk tujuan dereplikasi. Ini dicapai dengan menguji setiap ekstrak terhadap galur bakteri yang berpasangan (misalnya galur yang rentan dan resisten terhadap streptomisin untuk mengidentifikasi ekstrak yang mengandung streptomisin). Galur berpasangan (misalnya tipe liar dan galur target yang mengekspresikan secara berlebihan) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi mekanisme aksi antibakteri.[10][11]

Sejarah

Difusi agar pertama kali digunakan oleh Martinus Beijerinck pada tahun 1889 untuk mempelajari efek auksin pada pertumbuhan bakteri. Namun, metode ini telah dikembangkan, disempurnakan, dan distandarisasi oleh banyak ilmuwan dan organisasi ilmiah selama bertahun-tahun termasuk George F. Reddish, Norman Heatley, James G. Vincent,[12] Alfred W. Bauer, William M.M. Kirby, John C. Sherris,[13][14] Hans Martin Ericsson, Organisasi Kesehatan Dunia, Institut Standar Klinis dan Laboratorium, Kelompok Referensi Swedia untuk Antibiotik, Deutsches Institut für Normung, Masyarakat Britania Raya untuk Kemoterapi Antimikroba, dan lainnya.[15]

Prinsip

Kultur bakteri murni disuspensikan dalam larutan garam, kekeruhannya distandarisasi, dan dioleskan secara merata pada pelat agar. Cakram kertas saring yang telah diresapi antibiotik atau ekstrak kemudian diletakkan pada permukaan agar. Konstituen cakram berdifusi dari kertas saring ke dalam agar. Konsentrasi konstituen ini akan paling tinggi di dekat cakram dan akan menurun seiring bertambahnya jarak dari cakram. Jika antibiotik atau ekstrak efektif melawan bakteri pada konsentrasi tertentu, tidak akan ada koloni yang tumbuh di tempat yang konsentrasinya dalam agar lebih besar atau sama dengan konsentrasi efektif. Ini adalah zona penghambatan. Secara umum, zona penghambatan yang lebih besar berkorelasi dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) antibiotik atau ekstrak yang lebih rendah untuk galur bakteri tersebut.[16] Pengecualian untuk hal ini adalah ketika molekul antibiotik atau ekstrak berukuran besar atau hidrofobik karena molekul-molekul ini berdifusi melalui agar secara perlahan.[17]

Metode standar

Cakram agar dan persiapan inokulum

Semua aspek prosedur Kirby–Bauer distandarisasi untuk memastikan hasil yang konsisten dan akurat. Oleh karena itu, laboratorium harus mematuhi standar ini. Media yang digunakan dalam uji Kirby–Bauer harus berupa agar Mueller–Hinton dengan kedalaman hanya 4 mm, dituangkan ke dalam cawan Petri berukuran 100 mm atau 150 mm. Tingkat pH agar harus antara 7,2 dan 7,4. Inokulum bakteri disiapkan dengan mengencerkan kultur kaldu agar sesuai dengan standar kekeruhan McFarland 0,5; yang setara dengan sekitar 150 juta sel per mL.[18]

Inokulasi dan Inkubasi

Menggunakan teknik aseptik, kultur kaldu organisme tertentu dikumpulkan dengan kapas usap steril. Untuk bakteri Gram-negatif, cairan berlebih dikeluarkan dari kapas usap dengan menekan atau memutarnya secara perlahan ke bagian dalam tabung. Kapas usap kemudian digoreskan pada cawan agar Mueller–Hinton untuk membentuk lapisan bakteri. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam, cawan agar digoreskan dengan kapas usap ke satu arah, diputar 120° dan digoreskan lagi, diputar 120° lagi dan digoreskan lagi. Menggunakan dispenser cakram antibiotik, cakram yang berisi antibiotik spesifik kemudian ditempelkan pada cawan. Ini harus dilakukan dalam waktu 15 menit setelah inokulasi. Pinset yang disterilkan dengan api digunakan untuk menekan setiap cakram secara perlahan ke agar dan memastikannya melekat. Cawan kemudian diinkubasi semalaman, biasanya pada suhu 35 °C. Cawan harus diinkubasi dalam waktu 15 menit setelah penggunaan cakram antibiotik.[19]

Modifikasi media uji

Bakteri tertentu memerlukan penambahan larutan 5% darah kuda yang didefibrinasi secara mekanis dan β-NAD (MH-F agar).[20] Tabel berikut menunjukkan kebutuhan media mikroorganisme yang umum diuji:

Persyaratan media difusi cakram[21]
Agar MH standar Agar MH-F
  • Enterobacteriales
  • Pseudomonas spp.
  • Stenotrophomonas maltophilia
  • Acinetobacter spp.
  • Staphylococcus spp.
  • Enterococcus spp.
  • Aeromonas spp.
  • Achromobacter xylosoxidans
  • Vibrio spp.
  • Bacillus spp.
  • Burkholderia pseudomallei
  • grup Streptococcus A, B, C, G
  • Streptococcus pneumoniae
  • grup Streptococcus viridans
  • Haemophilus influenzae
  • Moraxella catarrhalis
  • Listeria monocytogenes
  • Pasteurella multocida
  • Campylobacter jejuni dan C. coli
  • Corynebacterium
  • Aerococcus sanguinicola dan A. urinae
  • Kingella kingae
  • Brucella melitensis

Kontrol Kualitas

Untuk memastikan keakuratan hasil uji, metode kontrol kualitas harus digunakan. Untuk memantau kinerja uji, galur bakteri khusus digunakan sebagai kontrol positif atau negatif. Ketika efikasi β-laktamase diuji, galur khusus yang menunjukkan resistensi terhadap β-laktam digunakan. Selain itu, media spesifik digunakan untuk menguji antibiotik tertentu. Misalnya, ketika menguji kerentanan kotrimoksazol, media dengan timina dan timidina berlebih direkomendasikan.[22] Tabel berikut mencantumkan galur kontrol kualitas yang umum digunakan dalam metode difusi cakram:

Galur kontrol kualitas (per Januari 2025))[23]
Bakteri Galur Deskripsi Antibiotik yang diuji
ATCC NCTC[24] CIP[25] DSM[26] CCUG[27] CECT[28]
E. coli 25922[29] 12241 76,24 1103 17620 434 rentan (tipe liar) neomisin, kolistin, kanamisin, sefaleksin, gentamisin, sefamandol, sefalotin, tetrasiklin, sefaloglisin, sefaloridin, asam nalidiksat, kloramfenikol[30]
35218[31] 11954 102181 5923 30600 943 menghasilkan β-laktamase TEM-1, yang resisten terhadap ampisilin (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
- 13353[32] - - - - menghasilkan CTX-M-15 dan OXA-1 (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam) sefotaksim[33]
Klebsiella pneumoniae 700603[34] 13368 - - 45421 7787 menghasilkan SHV-18 (β-laktamase spektrum luas, digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam)
BAA-2814[35] - - - - - menghasilkan KPC-3, SHV-11, TEM-1 (digunakan untuk memeriksa komponen β-laktamase dari cakram kombinasi β-laktam) kombinasi penghambat β-laktam/β-laktamase baru (misalnya meropenem/vaborbaktam)[36]
Pseudomonas aeruginosa 27853[37] 12903 76,110 1117 17619 108 rentan (tipe liar)
Staphylococcus aureus 29213[38] 12973 103429 2569 15915 794 menghasilkan β-laktamase (lemah)
- 12493[39] - - 67181 MRSA (plasmid mecA positif) metisilin dan antibiotik lain yang dipengaruhi oleh galur MRSA[40]
Enterococcus faecalis 29212[41] 12697 103214 2570 9997 795 rentan (tipe liar)
51299[42] 13379 104676 12956 34289 - HLAR (enzim pengubah aminoglikosida), resisten terhadap vankomisin (plasmid vanB positif) gentamisin, streptomisin[43]
Streptococcus pneumoniae 49619[44] 12977 104340 11967 33638 - resisten terhadap benzilpenisilin
Haemophilus influenzae 49766[45] 12975 103570 11970 29539 - rentan (tipe liar)
49247[46] 12699 104604 9999 26214 - penurunan kerentanan terhadap β-laktam (menunjukkan modifikasi protein pengikat penisilin)
Campylobacter jejuni 33560[47] 11351 70,2T 4688 11284 - rentan (tipe liar), membutuhkan lingkungan mikroaerobik dan suhu inkubasi yang lebih tinggi (41±1°C)

Metode alternatif

Beberapa variasi metode difusi cakram telah dikembangkan, termasuk metode cawan penisilin Oxford dan Etest yang digunakan di laboratorium diagnostik rumah sakit,[48][49] serta metode difusi sumur, difusi silinder, dan bioautografi yang digunakan di laboratorium penemuan dan pengembangan obat.[50][51]

Metode cawan penisilin Oxford

Cakram berisi konsentrasi antibiotik yang meningkat ditempatkan pada media bakteri yang telah disemai pada permukaan agar dan lempeng diinkubasi. Ukuran zona diukur dari tepi cakram hingga ujung zona bening. Interpretasi lebih rumit pada populasi kerentanan campuran. Ukuran zona di-plot sebagai dimensi linier atau kuadrat jarak sebagai fungsi logaritma natural konsentrasi antibiotik dalam cakram. MIC ditentukan dari titik nol intersep regresi linier yang sesuai dengan data.[52] Titik intersep itu sendiri merupakan logaritma dari MIC. Kemiringan garis regresi berkaitan dengan koefisien difusi antibiotik tertentu dalam agar.[53]

Uji Kerentanan Antibiotik Cepat EUCAST (RAST)

Metode RAST berfungsi sebagai cara cepat untuk memastikan kerentanan antibiotik dan diciptakan sebagai modifikasi dari uji difusi cakram klasik. Metode ini memungkinkan untuk mempersingkat waktu inkubasi menjadi 16-20 jam. Skor uji dibaca setelah 4, 6, 8, dan 16-20 jam. Dibandingkan dengan metode standar, RAST tidak menghasilkan zona hambat yang jelas dalam rentang waktu sesingkat itu (semua bakteri kecuali S. pneumoniae memiliki peluang lebih tinggi dari 90% untuk dapat dibaca setelah 6 jam). Untuk galur kontrol kualitas, galur tersebut diencerkan 1:1.000.000 dan darah kuda atau domba yang telah didefibrinasi ditambahkan. Tabel titik henti RAST khusus harus digunakan saat menginterpretasikan hasil karena perbedaan kalibrasi metode.[54]

Galur kendali mutu yang tervalidasi meliputi: E. coli ATCC 25922, P. aeruginosa ATCC 27853, S. aureus ATCC 29213, E. faecalis ATCC 29212, S. pneumoniae ATCC 49619.[55]

Skrining mekanisme resistensi antibiotik dalam RAST

RAST memungkinkan penentuan cepat kemungkinan resistensi antibiotik dalam kultur yang diuji. RAST memungkinkan pemeriksaan E. coli dan K. pneumoniae penghasil ESBL dan/atau karbapenemase, masing-masing menggunakan sefotaksim/seftazidim (setelah 4 jam) dan meropenem (setelah 6 jam). Namun, hasil ini tidak kuantitatif dan hanya boleh digunakan untuk skrining dalam tes medis rutin.[56][57] Dalam uji klinis, metode RAST menghasilkan peningkatan signifikan dalam memprediksi efikasi terapi antibiotik.[58]

Metode pra-difusi cakram

Cakram berisi antibiotik ditempatkan pada cawan agar Mueller-Hinton yang belum diinokulasi dan diinkubasi selama 2 jam. Kemudian, cakram tersebut dikeluarkan dan suspensi bakteri yang sebelumnya disiapkan menggunakan mikrodilusi kaldu diaplikasikan dan cakram lain dengan antibiotik yang berbeda ditempatkan tepat di tempat yang sama dengan cakram sebelumnya. Setelah inkubasi selama 16-20 jam, hasilnya dikorelasikan dengan nilai MIC antibiotik pertama. Contoh metode pra-difusi adalah pengujian efikasi seftazidim/avibaktam (cakram primer) secara in vitro dalam kaitannya dengan aztreonam (cakram sekunder).[59]

Pengujian obat antijamur

Metode difusi cakram dapat digunakan untuk menguji kerentanan terhadap antijamur.[60][61]

Bioautografi

Dibandingkan dengan metode berbasis cakram klasik, bioautografi menggunakan kromatografi lapis tipis untuk memisahkan komponen-komponen dari campuran yang diuji. Kemudian, pelat KLT dapat diletakkan di atas agar yang telah diinokulasi dan dibiarkan berdifusi ke dalamnya (bioautografi kontak) atau ditutup dengan kaldu yang mengandung mikroba (bioautografi langsung). Kemudian, sampel diinkubasi dan zona penghambatan diukur.[62][63][64] Sebagai alternatif, pelat KLT dapat ditutup dengan agar cair dalam bioautografi lapisan agar.[65]

Untuk memvisualisasikan zona penghambatan dalam bioautografi langsung, reagen yang mendeteksi aktivitas dehidrogenase digunakan (misalnya garam tetrazolium, yang diubah oleh dehidrogenase mikroba menjadi formazan kromogenik).[66]

Gambar lainnya

Catatan

Referensi

  1. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  2. Brown DF, Kothari D. Comparison of antibiotic discs from different sources. Journal of Clinical Pathology. October 1975. Vol. 28 (10). hlm. 779–83. doi:10.1136/jcp.28.10.779.
  3. Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results. Archives of Internal Medicine. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.
  4. Antibiotic susceptibility testing by a standardized single disk method. American Journal of Clinical Pathology. April 1966. Vol. 45 (4). hlm. 493–496. doi:10.1093/ajcp/45.4_ts.493.
  5. Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls. Pharmaceutical Research. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.
  6. Screening strategies for discovery of antibacterial natural products. Expert Review of Anti-infective Therapy. August 2011. Vol. 9 (8). hlm. 589–613. doi:10.1586/eri.11.81.
  7. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  8. Brown DF, Kothari D. Comparison of antibiotic discs from different sources. Journal of Clinical Pathology. October 1975. Vol. 28 (10). hlm. 779–83. doi:10.1136/jcp.28.10.779.
  9. Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results. Archives of Internal Medicine. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.
  10. Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls. Pharmaceutical Research. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.
  11. Screening strategies for discovery of antibacterial natural products. Expert Review of Anti-infective Therapy. August 2011. Vol. 9 (8). hlm. 589–613. doi:10.1586/eri.11.81.
  12. History and development of antimicrobial susceptibility testing methodology. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. July 2001. Vol. 48 (Supplement 1). hlm. 1–4. doi:10.1093/jac/48.suppl_1.1.
  13. Single-disk antibiotic-sensitivity testing of staphylococci: An analysis of technique and results. Archives of Internal Medicine. August 1959. Vol. 104 (2). hlm. 208–216. doi:10.1001/archinte.1959.00270080034004.
  14. Antibiotic susceptibility testing by a standardized single disk method. American Journal of Clinical Pathology. April 1966. Vol. 45 (4). hlm. 493–496. doi:10.1093/ajcp/45.4_ts.493.
  15. History and development of antimicrobial susceptibility testing methodology. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. July 2001. Vol. 48 (Supplement 1). hlm. 1–4. doi:10.1093/jac/48.suppl_1.1.
  16. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  17. Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls. Pharmaceutical Research. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.
  18. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  19. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  20. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  21. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  22. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  23. EUCAST. Antimicrobial susceptibility testing: EUCAST disk diffusion method. www.eucast.org. EUCAST. January 2021.
  24. Culture Collections. Culture Collections.
  25. Bacteria (CIP). Institut Pasteur. 2021-06-28.
  26. Leibniz Institute DSMZ: Welcome to the Leibniz Institute DSMZ. www.dsmz.de.
  27. Culture Collection University Of Gothenburg. www.ccug.se.
  28. Spanish Type Culture Collection. www.uv.es.
  29. Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 25922 ATCC. www.atcc.org.
  30. Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 25922 ATCC. www.atcc.org.
  31. Escherichia coli (Migula) Castellani and Chalmers - 35218 ATCC. www.atcc.org.
  32. Escherichia coli. www.culturecollections.org.uk.
  33. Escherichia coli. www.culturecollections.org.uk.
  34. Klebsiella quasipneumoniae Brisse et al - 700603 ATCC. www.atcc.org.
  35. Klebsiella pneumoniae (Schroeter) Trevisan - BAA-2814 ATCC. www.atcc.org.
  36. Klebsiella pneumoniae (Schroeter) Trevisan - BAA-2814 ATCC. www.atcc.org.
  37. Pseudomonas aeruginosa (Schroeter) Migula - 27853 ATCC. www.atcc.org.
  38. Staphylococcus aureus subsp. aureus Rosenbach - 29213 ATCC. www.atcc.org.
  39. Staphylococcus aureus. www.culturecollections.org.uk.
  40. Staphylococcus aureus. www.culturecollections.org.uk.
  41. Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 29212 ATCC. www.atcc.org.
  42. Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 51299 ATCC. www.atcc.org.
  43. Enterococcus faecalis (Andrewes and Horder) Schleifer and Kilpper-Balz - 51299 ATCC. www.atcc.org.
  44. Streptococcus pneumoniae (Klein) Chester - 49619 ATCC. www.atcc.org.
  45. Haemophilus influenzae (Lehmann and Neumann) Winslow et al. - 49766 ATCC. www.atcc.org.
  46. Haemophilus influenzae (Lehmann and Neumann) Winslow et al. - 49247 ATCC. www.atcc.org.
  47. Campylobacter jejuni subsp. jejuni (Jones et al.) Steele and Owen - 33560 ATCC. www.atcc.org.
  48. B Bonev. Principles of assessing bacterial susceptibility to antibiotics using the agar diffusion method. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. June 2008. Vol. 61 (6). hlm. 1295–301. doi:10.1093/jac/dkn090.
  49. Correlation between Etest and reference broth microdilution for antimicrobial susceptibility testing of Burkholderia pseudomallei'. Microbial Drug Resistance. April 2020. Vol. 26 (4). hlm. 311–318. doi:10.1089/mdr.2019.0260.
  50. Bioprospecting for antibacterial drugs: a multidisciplinary perspective on natural product source material, bioassay selection and avoidable pitfalls. Pharmaceutical Research. June 2020. Vol. 37 (7). doi:10.1007/s11095-020-02849-1.
  51. Comparative assessment of antibacterial efficacy of commercially available different dental gels: An in-vitro study. Reviews on Recent Clinical Trials. November 2020. Vol. 16 (2). hlm. 206–211. doi:10.2174/1574887115666201104155458.
  52. Analysis of bacterial sensitivity to antibiotics by the agar diffusion method. agardiffusion.com.
  53. B Bonev. Principles of assessing bacterial susceptibility to antibiotics using the agar diffusion method. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. June 2008. Vol. 61 (6). hlm. 1295–301. doi:10.1093/jac/dkn090.
  54. Methodology - EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) directly from positive blood culture bottles. Version 5.0.
  55. Quality control criteria for the implementation of the RAST method to be performed when implementing the method, when training new staff or following a change in blood culture system or any other substantial change in the system. Version 7.0. 5 July 2024.
  56. Screening for ESBL and carbapenemases in E. coli and K. pneumoniae for epidemiological purposes as part of the RAST procedure. EUCAST Guidelines for detection of resistance mechanisms and specific resistance of clinical and/or epidemiological importance using EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) directly from positive blood culture bottles. Version 2.0. April 2022.
  57. Emma Jonasson. Evaluation of prolonged incubation time of 16–20 h with the EUCAST rapid antimicrobial susceptibility disc diffusion testing method. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. 2023-12-01. Vol. 78 (12). hlm. 2926–2932. doi:10.1093/jac/dkad332.
  58. Emilie Cardot Martin. Impact of EUCAST rapid antimicrobial susceptibility testing (RAST) on management of Gram-negative bloodstream infection. Infectious Diseases Now. November 2022. Vol. 52 (8). hlm. 421–425. doi:10.1016/j.idnow.2022.09.002.
  59. Keila de Oliveira Lima. A simple disk pre-diffusion test to predict in vitro aztreonam/avibactam activity against NDM-producing Klebsiella pneumoniae complex. Journal of Global Antimicrobial Resistance. March 2022. Vol. 28. hlm. 49–52. doi:10.1016/j.jgar.2021.12.009.
  60. A. Ozkutuk. Comparison of Disk Diffusion, E-Test and Broth Microdilution Test in Determination of Susceptibility of Aspergillus Species to Amphotericin B, Itraconazole and Voriconazole. Journal of Chemotherapy. February 2008. Vol. 20 (1). hlm. 87–92. doi:10.1179/joc.2008.20.1.87.
  61. Göran Kronvall. Fluconazole and Voriconazole Multidisk Testing of Candida Species for Disk Test Calibration and MIC Estimation. Journal of Clinical Microbiology. April 2001. Vol. 39 (4). hlm. 1422–1428. doi:10.1128/JCM.39.4.1422-1428.2001.
  62. Irena M. Choma. Bioautography detection in thin-layer chromatography. Journal of Chromatography A. May 2011. Vol. 1218 (19). hlm. 2684–2691. doi:10.1016/j.chroma.2010.12.069.
  63. Meng Wang. An Evolving Technology That Integrates Classical Methods with Continuous Technological Developments: Thin-Layer Chromatography Bioautography. Molecules. 2021-07-31. Vol. 26 (15). hlm. 4647. doi:10.3390/molecules26154647.
  64. Natalia Conde-Martínez. Use of a mixed culture strategy to isolate halophilic bacteria with antibacterial and cytotoxic activity from the Manaure solar saltern in Colombia. BMC Microbiology. December 2017. Vol. 17 (1). hlm. 230. doi:10.1186/s12866-017-1136-x.
  65. Bettadapura Rameshgowda Nuthan. Application of Optimized and Validated Agar Overlay TLC–Bioautography Assay for Detecting the Antimicrobial Metabolites of Pharmaceutical Interest. Journal of Chromatographic Science. 2020-08-21. Vol. 58 (8). hlm. 737–746. doi:10.1093/chromsci/bmaa045.
  66. Irena M. Choma. Bioautography detection in thin-layer chromatography. Journal of Chromatography A. May 2011. Vol. 1218 (19). hlm. 2684–2691. doi:10.1016/j.chroma.2010.12.069.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29592316 (2026-08-17T13:22:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.