Proses Pidgeon: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27035359; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Proses Pidgeon''' adalah metode praktis untuk peleburan [[magnesium]]. Metode yang paling umum melibatkan [[bahan mentah]], [[dolomit]] dimasukkan ke dalam tangki reduksi yang dipanaskan secara eksternal dan kemudian direduksi secara termal menjadi [[logam]] magnesium menggunakan [[Ferosilikon|ferrosilikon]] 75% sebagai zat pereduksi dalam ruang hampa. Secara keseluruhan proses peleburan magnesium melalui proses Pidgeon melibatkan [[kalsinasi]] dolomit, penggilingan dan pelet, serta reduksi termal vakum. Selain proses Pidgeon, elektrolisis magnesium klorida untuk produksi magnesium komersial juga digunakan, yang pada suatu waktu menyumbang 75% produksi magnesium dunia. | [[File:Magnesium_crystals.jpg|thumb|right|280px|Magnesium crystals]] | ||
'''Proses Pidgeon''' adalah metode praktis untuk peleburan [[magnesium]]. Metode yang paling umum melibatkan [[bahan mentah]], [[dolomit]] dimasukkan ke dalam tangki reduksi yang dipanaskan secara eksternal dan kemudian direduksi secara termal menjadi [[logam]] magnesium menggunakan [[Ferosilikon|ferrosilikon]] 75% sebagai zat pereduksi dalam ruang hampa. Secara keseluruhan proses peleburan magnesium melalui proses Pidgeon melibatkan [[kalsinasi]] dolomit, penggilingan dan pelet, serta reduksi termal vakum. Selain proses Pidgeon, elektrolisis magnesium klorida untuk produksi magnesium komersial juga digunakan, yang pada suatu waktu menyumbang 75% produksi magnesium dunia.<ref>Lan’er Wu. ''Magnesium Smelting via the Pidgeon Process''. ''Comprehensive Utilization of Magnesium Slag by Pidgeon Process''. Springer Singapore. 2021. hlm. 45–68. doi:10.1007/978-981-16-2171-0_2. ISBN 978-981-16-2173-4.</ref><ref>Lan'er Wu. [https://www.worldcat.org/oclc/1249509843 Comprehensive utilization of magnesium slag by pidgeon process]. 2021. ISBN 978-981-16-2171-0.</ref> | |||
Meskipun proses Pidgeon mempunyai banyak keuntungan, ada juga beberapa kerugian lingkungan dari proses tersebut. Karena peningkatan permintaan magnesium dalam beberapa tahun terakhir, produksi melalui pengurangan bijih telah mengeluarkan karbon dioksida dan materi partikulat dalam jumlah besar. Karena sifat magnesium yang ringan serta kepadatan energinya yang tinggi, terdapat dugaan bahwa konsumsi global logam serbaguna ini meningkat secara drastis bahkan lebih besar dari sebelumnya. Terdapat dampak terhadap lingkungan karena untuk membuat material yang ringan, dibutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan material yang diganti, biasanya besi atau baja. Sebagai perkiraan, sekitar 10,4 kg batubara dibakar dan 37 kg karbon dioksida dilepaskan, untuk setiap 1 kg magnesium yang diperoleh. Di Tiongkok, produksi magnesium menggunakan proses Pidgeon memiliki dampak pemanasan global 60% lebih tinggi dibandingkan aluminium, logam pesaing yang juga diproduksi di negara tersebut. Pada akhirnya, diperlukan lebih banyak informasi dan penelitian untuk melakukan perubahan penghematan energi baru guna mengurangi dampak lingkungan dari produksi magnesium dalam skala global. | Meskipun proses Pidgeon mempunyai banyak keuntungan, ada juga beberapa kerugian lingkungan dari proses tersebut. Karena peningkatan permintaan magnesium dalam beberapa tahun terakhir, produksi melalui pengurangan bijih telah mengeluarkan karbon dioksida dan materi partikulat dalam jumlah besar. Karena sifat magnesium yang ringan serta kepadatan energinya yang tinggi, terdapat dugaan bahwa konsumsi global logam serbaguna ini meningkat secara drastis bahkan lebih besar dari sebelumnya. Terdapat dampak terhadap lingkungan karena untuk membuat material yang ringan, dibutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan material yang diganti, biasanya besi atau baja. Sebagai perkiraan, sekitar 10,4 kg batubara dibakar dan 37 kg karbon dioksida dilepaskan, untuk setiap 1 kg magnesium yang diperoleh. Di Tiongkok, produksi magnesium menggunakan proses Pidgeon memiliki dampak pemanasan global 60% lebih tinggi dibandingkan aluminium, logam pesaing yang juga diproduksi di negara tersebut. Pada akhirnya, diperlukan lebih banyak informasi dan penelitian untuk melakukan perubahan penghematan energi baru guna mengurangi dampak lingkungan dari produksi magnesium dalam skala global. | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Proses+Pidgeon&oldid=27035359 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27035359 (2025-03-15T10:04:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 09.02

Proses Pidgeon adalah metode praktis untuk peleburan magnesium. Metode yang paling umum melibatkan bahan mentah, dolomit dimasukkan ke dalam tangki reduksi yang dipanaskan secara eksternal dan kemudian direduksi secara termal menjadi logam magnesium menggunakan ferrosilikon 75% sebagai zat pereduksi dalam ruang hampa. Secara keseluruhan proses peleburan magnesium melalui proses Pidgeon melibatkan kalsinasi dolomit, penggilingan dan pelet, serta reduksi termal vakum. Selain proses Pidgeon, elektrolisis magnesium klorida untuk produksi magnesium komersial juga digunakan, yang pada suatu waktu menyumbang 75% produksi magnesium dunia.[1][2]
Meskipun proses Pidgeon mempunyai banyak keuntungan, ada juga beberapa kerugian lingkungan dari proses tersebut. Karena peningkatan permintaan magnesium dalam beberapa tahun terakhir, produksi melalui pengurangan bijih telah mengeluarkan karbon dioksida dan materi partikulat dalam jumlah besar. Karena sifat magnesium yang ringan serta kepadatan energinya yang tinggi, terdapat dugaan bahwa konsumsi global logam serbaguna ini meningkat secara drastis bahkan lebih besar dari sebelumnya. Terdapat dampak terhadap lingkungan karena untuk membuat material yang ringan, dibutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan material yang diganti, biasanya besi atau baja. Sebagai perkiraan, sekitar 10,4 kg batubara dibakar dan 37 kg karbon dioksida dilepaskan, untuk setiap 1 kg magnesium yang diperoleh. Di Tiongkok, produksi magnesium menggunakan proses Pidgeon memiliki dampak pemanasan global 60% lebih tinggi dibandingkan aluminium, logam pesaing yang juga diproduksi di negara tersebut. Pada akhirnya, diperlukan lebih banyak informasi dan penelitian untuk melakukan perubahan penghematan energi baru guna mengurangi dampak lingkungan dari produksi magnesium dalam skala global.
Lihat pula
Referensi
- ↑ Lan’er Wu. Magnesium Smelting via the Pidgeon Process. Comprehensive Utilization of Magnesium Slag by Pidgeon Process. Springer Singapore. 2021. hlm. 45–68. doi:10.1007/978-981-16-2171-0_2. ISBN 978-981-16-2173-4.
- ↑ Lan'er Wu. Comprehensive utilization of magnesium slag by pidgeon process. 2021. ISBN 978-981-16-2171-0.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27035359 (2025-03-15T10:04:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.