Lisis: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 18617017; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Lisis''' adalah peristiwa pecah atau rusaknya integritas membran sel dan menyebabkan keluarnya [[organel sel]]. | [[File:Rhoeo_Discolor_-_Plasmolysis.jpg|thumb|right|280px|Rhoeo Discolor - Plasmolysis]] | ||
'''Lisis''' adalah peristiwa pecah atau rusaknya integritas membran sel dan menyebabkan keluarnya [[organel sel]].<ref>Campbell NA, Reece JB. 2002. ''Biologi Jl. 1 Ed. 5''. Jakarta: Erlangga.</ref> | |||
== Mekanisme == | == Mekanisme == | ||
Salah satu penyebab sel lisis adalah ketidakseimbangan [[tekanan osmosis]] antara tekanan lingkungan dan tekanan dalam sel. Apabila terjadi peristiwa di mana kondisi lingkungan bersifat lebih [[hipotonis]] dibandingkan kondisi tekanan dalam sel, atau kondisi dalam sel lebih [[hipertonis]] daripada kondisi lingkungan, maka sel akan mengalami lisis. Hal ini diakibatkan peristiwa [[osmosis]] yaitu perpindahan air dari lingkungan hipotonis ke hipertonis. Akibatnya sel akan mengembang dan lama kelamaan pecah. | Salah satu penyebab sel lisis adalah ketidakseimbangan [[tekanan osmosis]] antara tekanan lingkungan dan tekanan dalam sel.<ref>Campbell NA, Reece JB. 2002. ''Biologi Jl. 1 Ed. 5''. Jakarta: Erlangga.</ref> Apabila terjadi peristiwa di mana kondisi lingkungan bersifat lebih [[hipotonis]] dibandingkan kondisi tekanan dalam sel, atau kondisi dalam sel lebih [[hipertonis]] daripada kondisi lingkungan, maka sel akan mengalami lisis.<ref>Campbell NA, Reece JB. 2002. ''Biologi Jl. 1 Ed. 5''. Jakarta: Erlangga.</ref> Hal ini diakibatkan peristiwa [[osmosis]] yaitu perpindahan air dari lingkungan hipotonis ke hipertonis.<ref>Campbell NA, Reece JB. 2002. ''Biologi Jl. 1 Ed. 5''. Jakarta: Erlangga.</ref> Akibatnya sel akan mengembang dan lama kelamaan pecah.<ref>Campbell NA, Reece JB. 2002. ''Biologi Jl. 1 Ed. 5''. Jakarta: Erlangga.</ref> | ||
== Aplikasi == | == Aplikasi == | ||
Dalam bidang [[teknologi DNA]], prinsip lisis sel merupakan tahap awal untuk melakukan proses [[isolasi DNA]]. Teknik untuk memecahkan sel dapat dibagi dalam metode [[fisik]] dan [[kimiawi]]. Pada umumnya metode kimiawi lebih banyak untuk mempersiapkan [[DNA]] untuk analisis lebih lanjut. Lisis sel dapat dilakukan secara kimiawi dengan melemahkan kekuatan [[membran sel]] menggunakan senyawa [[enzim]] dan [[deterjen]]. Enzim yang digunakan contohnya adalah [[lisozim]], sedangkan deterjen yang digunakan contohnya adalah [[sodium dodesil sulfat]]. Deterjen membantu lisis sel dengan menghilangkan molekul [[lipid]] pada membran sel. Contoh bahan kimia lainnya yang dapat digunakan adalah [[EDTA]] (''Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid'') dengan fungsi untuk mengikat ion [[magnesium]] yang menjaga struktur [[dinding sel]]. | Dalam bidang [[teknologi DNA]], prinsip lisis sel merupakan tahap awal untuk melakukan proses [[isolasi DNA]].<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Teknik untuk memecahkan sel dapat dibagi dalam metode [[fisik]] dan [[kimiawi]].<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Pada umumnya metode kimiawi lebih banyak untuk mempersiapkan [[DNA]] untuk analisis lebih lanjut.<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Lisis sel dapat dilakukan secara kimiawi dengan melemahkan kekuatan [[membran sel]] menggunakan senyawa [[enzim]] dan [[deterjen]].<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Enzim yang digunakan contohnya adalah [[lisozim]], sedangkan deterjen yang digunakan contohnya adalah [[sodium dodesil sulfat]].<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Deterjen membantu lisis sel dengan menghilangkan molekul [[lipid]] pada membran sel.<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> Contoh bahan kimia lainnya yang dapat digunakan adalah [[EDTA]] (''Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid'') dengan fungsi untuk mengikat ion [[magnesium]] yang menjaga struktur [[dinding sel]].<ref>Sudjadi. 2008. ''Bioteknologi Kesehatan''. Yogyakarta: Kanisius.</ref> | ||
= Referensi = | = Referensi = | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lisis&oldid=18617017 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 18617017 (2021-07-05T12:34:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 14.53

Lisis adalah peristiwa pecah atau rusaknya integritas membran sel dan menyebabkan keluarnya organel sel.[1]
Mekanisme
Salah satu penyebab sel lisis adalah ketidakseimbangan tekanan osmosis antara tekanan lingkungan dan tekanan dalam sel.[2] Apabila terjadi peristiwa di mana kondisi lingkungan bersifat lebih hipotonis dibandingkan kondisi tekanan dalam sel, atau kondisi dalam sel lebih hipertonis daripada kondisi lingkungan, maka sel akan mengalami lisis.[3] Hal ini diakibatkan peristiwa osmosis yaitu perpindahan air dari lingkungan hipotonis ke hipertonis.[4] Akibatnya sel akan mengembang dan lama kelamaan pecah.[5]
Aplikasi
Dalam bidang teknologi DNA, prinsip lisis sel merupakan tahap awal untuk melakukan proses isolasi DNA.[6] Teknik untuk memecahkan sel dapat dibagi dalam metode fisik dan kimiawi.[7] Pada umumnya metode kimiawi lebih banyak untuk mempersiapkan DNA untuk analisis lebih lanjut.[8] Lisis sel dapat dilakukan secara kimiawi dengan melemahkan kekuatan membran sel menggunakan senyawa enzim dan deterjen.[9] Enzim yang digunakan contohnya adalah lisozim, sedangkan deterjen yang digunakan contohnya adalah sodium dodesil sulfat.[10] Deterjen membantu lisis sel dengan menghilangkan molekul lipid pada membran sel.[11] Contoh bahan kimia lainnya yang dapat digunakan adalah EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid) dengan fungsi untuk mengikat ion magnesium yang menjaga struktur dinding sel.[12]
Referensi
Referensi
- ↑ Campbell NA, Reece JB. 2002. Biologi Jl. 1 Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
- ↑ Campbell NA, Reece JB. 2002. Biologi Jl. 1 Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
- ↑ Campbell NA, Reece JB. 2002. Biologi Jl. 1 Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
- ↑ Campbell NA, Reece JB. 2002. Biologi Jl. 1 Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
- ↑ Campbell NA, Reece JB. 2002. Biologi Jl. 1 Ed. 5. Jakarta: Erlangga.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
- ↑ Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 18617017 (2021-07-05T12:34:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.