Lompat ke isi

Muhammad Jalaluddin Syah III: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29488784; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III''' atau '''Mas Madina Moehammad Djalaloeddin''' (bin Datu Raja Muda Daeng Maskuncir bin Sultan [[Amaroe'llah]]) adalah [[Sultan Sumbawa]] ke-16 (1883-1931).
'''Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III''' atau '''Mas Madina Moehammad Djalaloeddin''' (bin Datu Raja Muda Daeng Maskuncir bin Sultan [[Amaroe'llah]]) adalah [[Sultan Sumbawa]] ke-16 (1883-1931).<ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Overeenkomsten_met_inlandsche_vorsten_in/LtW89DTKeVkC?hl=id&gbpv=1&dq=Mohammad-Djalaloeddin&pg=PA17&printsec=frontcover Overeenkomsten met inlandsche vorsten in den Oost-Indischen Archipel]. Landsdrukkerij. 1857. Vol. 31. hlm. 17.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/De_Indische_gids/6usGAAAAYAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Mohammad-Djalaloeddin&pg=PA1417&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1891]. Ter Lands-Drukkerij. 1891. hlm. 1417.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Regeerings_almanak_voor_Nederlandsch_Ind/2D1BAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Mohammad-Djalaloeddin&pg=PA277&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1898]. Ter Lands-Drukkerij. 1898. hlm. 440.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Regeerings_almanak_voor_Nederlandsch_Ind/OC1BAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Mohammad-Djalaloeddin&dq=Mohammad-Djalaloeddin&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1910]. Ter Lands-Drukkerij. 1910. hlm. 319.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Regeerings_Almanak_voor_Nederlandsch_Ind/VO0zAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Mohammad-Djalaloeddin&dq=Mohammad-Djalaloeddin&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1914]. Ter Lands-Drukkerij. 1914. hlm. 265.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Regeerings_almanak_voor_Nederlandsch_Ind/cz1BAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Mohammad-Djalaloeddin&pg=PA270&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1917]. Ter Lands-Drukkerij. 1917. hlm. 270.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Regeeringsalmanak_voor_Nederlandsch_Indi/VjUNAQAAIAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Mohammad-Djalaloeddin&pg=PA867&printsec=frontcover Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1931]. Ter Lands-Drukkerij. 1931. hlm. 867.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/5 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/5 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>Lalu Mantja. [https://books.google.co.id/books?id=G7ceAAAAMAAJ&q=muhammad+jalauddin+III&dq=muhammad+jalauddin+III&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjc5OnWgrzjAhX0heYKHWK4BCMQ6AEINzAC Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah]. Rinta. 1984. hlm. 154.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=v7QeAAAAMAAJ&q=muhammad+jalauddin+III&dq=muhammad+jalauddin+III&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjc5OnWgrzjAhX0heYKHWK4BCMQ6AEIPDAD Sejarah daerah Nusa Tenggara Barat]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. hlm. 146.</ref><ref>C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier. [https://www.google.co.id/books/edition/De_Indische_gids/HGA3AQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Soembawa-Mas-Madina-Moehammad-Djalaloeddin&pg=PA1417&printsec=frontcover De Indische gids]. J. H. de Bussy. 1891. Vol. 13. hlm. 1417.</ref>
Datu Raja Muda Daeng Maskuncir atau Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa yang telah dikukuhkan untuk mengganti sang ayah Sultan Amrullah akhirnya batal.
Datu Raja Muda Daeng Maskuncir atau Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa yang telah dikukuhkan untuk mengganti sang ayah Sultan Amrullah akhirnya batal.
Peritiwa kebakaran hebat Istana Gunung Setia menjadi penyebab terjadinya depresi mental dimana beliau lebih memilih kehidupan spiritual daripada menjadi seorang [[sultan]]. Sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk tetap dipertahankan guna dimahkotai sebagai sultan sumbawa. Sehingga pada saat Sultan Amrullah mangkat pada tanggal [[20 Agustus]] [[1883]], hasil mufakat pangantong limaolas (Majelis 15 orang) memutuskan untuk memilih putra tertua dari Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yakni Mas Madina Daeng Raja Dewa untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa. Mas Madina Daeng Raja Dewa saat dinobatkan bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Akta yang dibuat menunjukkan beliau disumpah pada tanggal [[18 Oktober]] [[1885]] (9 [[Muharam]] 1303 [[Hijriyah]]).
Peritiwa kebakaran hebat Istana Gunung Setia menjadi penyebab terjadinya depresi mental dimana beliau lebih memilih kehidupan spiritual daripada menjadi seorang [[sultan]]. Sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk tetap dipertahankan guna dimahkotai sebagai sultan sumbawa. Sehingga pada saat Sultan Amrullah mangkat pada tanggal [[20 Agustus]] [[1883]], hasil mufakat pangantong limaolas (Majelis 15 orang) memutuskan untuk memilih putra tertua dari Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yakni Mas Madina Daeng Raja Dewa untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa. Mas Madina Daeng Raja Dewa saat dinobatkan bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Akta yang dibuat menunjukkan beliau disumpah pada tanggal [[18 Oktober]] [[1885]] (9 [[Muharam]] 1303 [[Hijriyah]]).
Pada masa Pemerintahan Beliau, didirikan Istana Dalam Loka yang hingga kini masih dapat kita saksikan hingga dewasa ini dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa.
Pada masa Pemerintahan Beliau, didirikan Istana Dalam Loka yang hingga kini masih dapat kita saksikan hingga dewasa ini dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa.
Penataan bidang pemerintahan mendapat perhatian khusus dari Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Beberapa kali sistem pemerintahan mengalami perubahan. Pada Tahun 1920 terjadi perubahan besar dalam sistem perintahan Kesultanan Sumbawa dimana penghapusan district menjadi onderdistrct dan kemudian beralih nama menjadi Kademungan. Dengan perubahan struktur ini maka Kedatuan dalam Kamutar Telu, [[Kedatuan Seran|Seran]], Taliwang dan Jereweh dihapus pula dan berubah status menjadi Kademungan.
Penataan bidang pemerintahan mendapat perhatian khusus dari Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Beberapa kali sistem pemerintahan mengalami perubahan. Pada Tahun 1920 terjadi perubahan besar dalam sistem perintahan Kesultanan Sumbawa dimana penghapusan district menjadi onderdistrct dan kemudian beralih nama menjadi Kademungan. Dengan perubahan struktur ini maka Kedatuan dalam Kamutar Telu, [[Kedatuan Seran|Seran]], Taliwang dan Jereweh dihapus pula dan berubah status menjadi Kademungan.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III inilah meletus beberapa peperangan melawan Belanda antara lain Perang Sapugara yang dipimpin oleh La Unru Sinrang Dea Mas Manurung (1906 – 1908) dan Perang Baham dipimpin oleh Baham ( 1906 dan 1921 )
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III inilah meletus beberapa peperangan melawan Belanda antara lain Perang Sapugara yang dipimpin oleh La Unru Sinrang Dea Mas Manurung (1906 – 1908) dan Perang Baham dipimpin oleh Baham ( 1906 dan 1921 )<ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/34 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/35 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>Ben Cahoon. [http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html#Sumbawa Indonesian Traditional States II]. WORLD STATESMEN.org.</ref><ref>[https://sejarah-nusantara.anri.go.id/media/userdefined/pdf/rulersinasiav7.pdf Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters]. ''Arsip Nasional Republik Indonesia''.</ref><ref>[https://www.sumbawakab.go.id/sejarah-kesultanan-sumbawa.html Sejarah Kesultanan Sumbawa]. ''Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa''.</ref><ref>[https://kabarntb.com/sambangi-taliwang-raja-gowa-tallo-sebut-silsilah-taliwang-gowa-tallo-punya-hubungan-erat/ Sambangi Taliwang, Raja Gowa Tallo Sebut Silsilah Taliwang-Gowa Tallo Punya Hubungan Erat]. ''kabarntb.com''.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=6yR_CgAAQBAJ&pg=PA54&lpg=PA54&dq=muhammad+kaharuddin+i+datu+taliwang&source=bl&ots=8spQWfkvJL&sig=ACfU3U336Lm1CWpvCMqD4NZWrMYQUrP9lQ&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjdyabVjPXiAhUHd6wKHSeXD5E4ChDoATABegQICRAB#v=onepage&q=muhammad%20kaharuddin%20i%20datu%20taliwang&f=false Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 54.</ref><ref>Annabel Teh Gallop. [https://books.google.co.id/books?id=vEtmAAAAMAAJ&q=muhammad+kaharuddin+i&dq=muhammad+kaharuddin+i&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwi_jrG_lfXiAhURGKwKHfV1AxUQ6AEITzAI Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia]. University of London. 2002. Vol. 3. hlm. 542.</ref><ref>Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. [https://books.google.co.id/books?id=2QJwAAAAMAAJ&q=muhammad+kaharuddin+i&dq=muhammad+kaharuddin+i&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwi_jrG_lfXiAhURGKwKHfV1AxUQ6AEISzAH Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 126.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=hyFwAAAAMAAJ&q=muhammad+kaharuddin+i&dq=muhammad+kaharuddin+i&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjdrfCGkffiAhUBOK0KHWSwCRI4ChDoAQgrMAE Berita penelitian arkeologi, Masalah 11-14]. Proyek Pelita Pengembangan Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1977. hlm. 10.</ref>


Kontrak politik dengan Hindia Belanda tanggal [[5 April]] [[1886]] pada masa [[Daftar Penguasa Hindia Belanda|Gubernur Jenderal]] [[Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele]].
Kontrak politik dengan Hindia Belanda tanggal [[5 April]] [[1886]] pada masa [[Daftar Penguasa Hindia Belanda|Gubernur Jenderal]] [[Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele]].<ref>[https://books.google.co.id/books?id=flU9AQAAMAAJ&pg=PA291&dq=Soembawa-Moehamad-Djalaloeddin-5+April+1886&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiPn-jV_5rrAhU473MBHUQ5DkoQ6AEwA3oECAQQAg#v=onepage&q=Soembawa-Moehamad-Djalaloeddin-5%20April%201886&f=false Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1905]. Ter Lands-Drukkerij. 1905. hlm. 291.</ref><ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Volksalmanak_Melajoe/Dk1BAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Moehamad+Djalaloedin&dq=Moehamad+Djalaloedin&printsec=frontcover Volksalmanak Melajoe]. 1921. Vol. 13. hlm. 35.</ref>


Pada [[14 Mei]] [[1905]], di Sumbawa diadakan perjanjian antara Bestuurder dari Sumbawa, Mohammad Djalaloedin III, dan Controler Oscar Maurits Goedhard yang mewakili [[Daftar Penguasa Hindia Belanda|Gubernur Jenderal]] [[Joannes Benedictus van Heutsz]].
Pada [[14 Mei]] [[1905]], di Sumbawa diadakan perjanjian antara Bestuurder dari Sumbawa, Mohammad Djalaloedin III, dan Controler Oscar Maurits Goedhard yang mewakili [[Daftar Penguasa Hindia Belanda|Gubernur Jenderal]] [[Joannes Benedictus van Heutsz]].<ref>I Ketut Ardhana. [https://www.google.co.id/books/edition/Penataan_Nusa_Tenggara_pada_masa_kolonia/E89wAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Moehamad+Djalaloedin&dq=Moehamad+Djalaloedin&printsec=frontcover Penataan Nusa Tenggara pada masa kolonial, 1915-1950]. 2005. hlm. 110.</ref>


== Keluarga ==
== Keluarga ==
Baris 27: Baris 27:
# ♂ L.M. Resyad Dea Bawa
# ♂ L.M. Resyad Dea Bawa
# ♂ Lalu Cela
# ♂ Lalu Cela
# ♀ Lala Masuki
# ♀ Lala Masuki  
5. Lala Sri Majena, melahirkan anak:
5. Lala Sri Majena, melahirkan anak:
# Daeng Tamemang Datu Balasari
# Daeng Tamemang Datu Balasari
Baris 38: Baris 38:


== Silsilah kekerabatan dengan Raja Bicara (Mangkubumi) [[Kesultanan Bima|Bima]] ==
== Silsilah kekerabatan dengan Raja Bicara (Mangkubumi) [[Kesultanan Bima|Bima]] ==
 
Tahun pemerintahan Sultan Bima.<ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/34 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/35 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>Henri Chambert-Loir, Wisamarta, Lukman (Khatib.). [https://www.google.co.id/books/edition/Kerajaan_Bima_dalam_sastra_dan_sejarah/6Q71wFB4YxQC?hl=id&gbpv=1&dq=Bilmana+Tureli+Nggampo+Ruma+Bicara&pg=PA118&printsec=frontcover Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah]. (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. Juli 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5</ref><ref>Susanto Zuhdi, Triana Wulandari. [https://books.google.co.id/books?id=stmECgAAQBAJ&pg=PA44&dq=sultan+jamaluddin+bima&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj06qWKhfbaAhXIXLwKHaIzDjwQ6AEIKDAA#v=onepage&q=sultan%20jamaluddin%20bima&f=false Kerajaan Tradisional di Indonesia : BIMA]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1 Januari 1997. hlm. 55.</ref><ref>Anthony Marinus Hendrik Johan Stokvis. [https://www.google.co.id/books/edition/Manuel_d_histoire_de_g%C3%A9n%C3%A9alogie_et_de/qHNoAAAAcAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Kamala+Syah+Bumi+Partiga&pg=RA2-PA390&printsec=frontcover Manuel d'histoire, de généalogie et de chronologie de tous les états du globe, depuis les temps les plus reculés jusqu'à nos jours]. Brill. 1888. Vol. 1. hlm. 390.</ref>
Tahun pemerintahan Sultan Bima.


https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Sumbawy#Su%C5%82tani_Bimy
https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Sumbawy#Su%C5%82tani_Bimy


http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bima
http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bima  


Mula-mula di [[pulau Lombok]] dikenal [[legenda]] ''Datu Telu Besanakan'' yang merefleksikan kekerabatan 3 kerajaan, keturunan dari ''[[Mpu Nala|Deneq Mas Pangeran Luih]]'' yaitu Betare Mas Indra Sakti (di Gelgel, Bali), Mas Kerta Jala (di Gowa) dan Mas Tunggul Nala (di Lombok).
Mula-mula di [[pulau Lombok]] dikenal [[legenda]] ''Datu Telu Besanakan'' yang merefleksikan kekerabatan 3 kerajaan, keturunan dari ''[[Mpu Nala|Deneq Mas Pangeran Luih]]'' yaitu Betare Mas Indra Sakti (di Gelgel, Bali), Mas Kerta Jala (di Gowa) dan Mas Tunggul Nala (di Lombok).<ref>Ahmad Ubb. [https://books.google.co.id/books?id=SUdODwAAQBAJ&pg=PA192&dq=Mas-Pamayan-Pemban-Mas-Aji-Komala&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjRk8O9xrPoAhXO4HMBHaFZC1cQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Mas-Pamayan-Pemban-Mas-Aji-Komala&f=false Senjata Pusaka Bugis]. Gramedia Pustaka Utama. 22 Agu 2013. hlm. 192. ISBN 9792277293. ISBN 9789792277296</ref>


[[Hikayat Sang Bima]] memperluas konsep ini bahwa bukan hanya 3 kerajaan tapi ada 5 kerajaan saling berkerabat sesuai [[Pandawa]] lima.
[[Hikayat Sang Bima]] memperluas konsep ini bahwa bukan hanya 3 kerajaan tapi ada 5 kerajaan saling berkerabat sesuai [[Pandawa]] lima.
Menurut [[Hikayat Sang Bima]], [[Pandu|'''Maharaja Pandu Dewata''']] leluhur dari wangsa yang menurunkan 5 kerajaan di Nusantara yaitu wangsa yang menurunkan [[Kesultanan Banjar|raja-raja Banjar]] ([[Sadewa|Sang Dewa]]), wangsa yang menurunkan raja-[[raja]] [[Kesultanan Bima|Bima]] ([[Bima|Sang Bima]]), raja-raja [[Kerajaan Bali|Bali]] ([[Nakula|Sang Kuala]]), raja-raja [[Kesultanan Dompu|Dompu]] ([[Prabu Dharmawangsa|Darmawangsa]]), raja-raja [[Kesultanan Gowa|Gowa]] ([[Arjuna|Sang Rajuna]]) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari [[Pandudewanata|Maharaja Pandu Dewata]].
Menurut [[Hikayat Sang Bima]], [[Pandu|'''Maharaja Pandu Dewata''']] leluhur dari wangsa yang menurunkan 5 kerajaan di Nusantara yaitu wangsa yang menurunkan [[Kesultanan Banjar|raja-raja Banjar]] ([[Sadewa|Sang Dewa]]), wangsa yang menurunkan raja-[[raja]] [[Kesultanan Bima|Bima]] ([[Bima|Sang Bima]]), raja-raja [[Kerajaan Bali|Bali]] ([[Nakula|Sang Kuala]]), raja-raja [[Kesultanan Dompu|Dompu]] ([[Prabu Dharmawangsa|Darmawangsa]]), raja-raja [[Kesultanan Gowa|Gowa]] ([[Arjuna|Sang Rajuna]]) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari [[Pandudewanata|Maharaja Pandu Dewata]].<ref>Henri. [http://books.google.co.id/books?id=6Q71wFB4YxQC&lpg=PA121&dq=pulau%20Banjar&pg=PA121#v=onepage&q=pulau%20Banjar&f=false Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah]. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5</ref><ref>H. Abdullah Tajib. ''Sejarah Bima Dana Mbojo''. Harapan Masa PGRI. 1995.</ref>


Piagam Kedatuan Gangga (Lombok Utara) memuat silsilah yang mirip, dimana raja Ambiyah menempatkan anak-anaknya yaitu Deneq Mas Sang Katong di bumi Banjar, Deneq Mas Raja di bumi Bugis, Deneq Mas Sangkabun di bumi Banten (Jawa), Deneq Mas Bun di bumi Bali, Deneq Mas Patra di bumi Sumbawa (Mbojo), Deneq Mas Sadewa di bumi Sasak (Selaparang) dan Deneq Bini Masni (Ratu Ambiyah) memerintah sepulau Lombok menggantikan ayahnya.
Piagam Kedatuan Gangga (Lombok Utara) memuat silsilah yang mirip, dimana raja Ambiyah menempatkan anak-anaknya yaitu Deneq Mas Sang Katong di bumi Banjar, Deneq Mas Raja di bumi Bugis, Deneq Mas Sangkabun di bumi Banten (Jawa), Deneq Mas Bun di bumi Bali, Deneq Mas Patra di bumi Sumbawa (Mbojo), Deneq Mas Sadewa di bumi Sasak (Selaparang) dan Deneq Bini Masni (Ratu Ambiyah) memerintah sepulau Lombok menggantikan ayahnya.


[[Templat:Family tree]]
[[Templat:Family tree]]


}}
}}


}}
}}


== Kekerabatan dengan Kesultanan Banjar ==
== Kekerabatan dengan Kesultanan Banjar ==
Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah ''Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin'' dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari [[Kesultanan Banjar]] yang bernama [[Raden Subangsa]] bergelar [[Pangeran Taliwang]] yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias [[Amas Mattaram]] yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa [[Mas Bantan]]) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.
Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah ''Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin'' dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari [[Kesultanan Banjar]] yang bernama [[Raden Subangsa]] bergelar [[Pangeran Taliwang]] yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias [[Amas Mattaram]] yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa [[Mas Bantan]]) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.<ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/34 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/35 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. ''Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography''. Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 1968.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. ''Hikayat Banjar''. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1990. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X</ref><ref>Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia). [https://books.google.co.id/books?id=GxdxAAAAMAAJ&q=mas+bantan+kerajaan+sumbawa&dq=mas+bantan+kerajaan+sumbawa&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj3loHPtqjeAhXMeisKHdDJDPgQ6AEIPzAF Hikayat Banjar dan Kotaringin]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. 1993. hlm. 139.</ref><ref>Anton A. Cense. [https://books.google.co.id/books?id=ctwBAAAAMAAJ&q=soebangsa+taliwang&dq=soebangsa+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjIocbM7NnZAhWMi5QKHTH7CAgQ6AEIJzAA De kroniek van Bandjarmasin]. C.A. Mees. 1928. hlm. 54.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. [https://books.google.co.id/books?id=VxATAQAAIAAJ&q=pangeran+taliwang&dq=pangeran+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjypuWx7dnZAhXIlpQKHSzoA3wQ6AEIMjAC Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography]. Martinus Nijhoff. 1968.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. [https://books.google.co.id/books?id=dUM8AAAAIAAJ&q=pangeran+taliwang&dq=pangeran+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiil9r4__TiAhVCRKwKHYAtB5MQ6AEIOjADC Bibliotheca Indonesica]. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1968. Vol. 1.</ref><ref>Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. [https://books.google.co.id/books?id=EQMNAQAAMAAJ&q=kasuma+mandura&dq=kasuma+mandura&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGqOu_rLjiAhUQQ6wKHcJmB1IQ6AEINTAC Inti sari karya klasik]. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Vol. 1. ISBN 9836295062. ISBN 9789836295064</ref><ref>Ali Majod. [https://books.google.co.id/books?id=fuFRAQAAMAAJ&q=kasuma+mandura&dq=kasuma+mandura&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGqOu_rLjiAhUQQ6wKHcJmB1IQ6AEIMDAB Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja]. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=ZxkmAQAAIAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiP_JHSqfziAhWFVc0KHTu7DpoQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=8uNRAQAAMAAJ&q=raden+saradipa&dq=raden+saradipa&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjR2MKJvrjiAhUFLa0KHVVwAjgQ6AEIKDAA Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat]. Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981.</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=JGZfAAAAcAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjhq93VnP_iAhXWWc0KHRlzAlcQ6AEINjAC#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 51. hlm. 199.</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=JGZfAAAAcAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjhq93VnP_iAhXWWc0KHRlzAlcQ6AEINjAC#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Becht. 1861. Vol. 51. hlm. 199.</ref><ref>Wolter Robert Hoëvel. [https://books.google.co.id/books?id=PJMKAAAAYAAJ&pg=PA199&dq=Snlthan+Soerian+Sjah,+of+Soeria+Angsa,+(de+genoemde+Samoedra);+1500%E2%80%941540.&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj4qNGrpOvhAhVRMawKHVtXCvcQ6AEIKjAA#v=onepage&q=Snlthan%20Soerian%20Sjah%2C%20of%20Soeria%20Angsa%2C%20(de%20genoemde%20Samoedra)%3B%201500%E2%80%941540.&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.</ref>
 


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Pangeran Taliwang]]
* [[Pangeran Taliwang]]
* [[Muhammad Jalaluddin II]]
* [[Muhammad Jalaluddin II]]
== Rujukan ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
* https://rukusama.blogspot.com/2016/09/hikayat-sang-bima.html?m=1  
* https://rukusama.blogspot.com/2016/09/hikayat-sang-bima.html?m=1
* https://docs.google.com/document/d/1UNfFvEMRH85RkynYkZdeaNotA6TssRse/edit?pli=1
* https://docs.google.com/document/d/1UNfFvEMRH85RkynYkZdeaNotA6TssRse/edit?pli=1
* https://www.geni.com/people/I-Mappasempa-Daeng-Mamaro-Opu-Mangnguluang-Karaeng-Bontolangkasa/6000000054557739880
* https://www.geni.com/people/I-Mappasempa-Daeng-Mamaro-Opu-Mangnguluang-Karaeng-Bontolangkasa/6000000054557739880
* http://onesearch.id/Record/IOS3765.SULSE000000000089230
* http://onesearch.id/Record/IOS3765.SULSE000000000089230  
* http://id.rodovid.org/wk/Orang:305086 Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (Gusti Mesir Abdurrahman)
* http://id.rodovid.org/wk/Orang:305086 Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (Gusti Mesir Abdurrahman)
* http://laporancuaca.blogspot.co.id/2015/09/bangsa-dari-awan.html
* http://laporancuaca.blogspot.co.id/2015/09/bangsa-dari-awan.html
Baris 83: Baris 74:
*  versi lain
*  versi lain


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muhammad+Jalaluddin+Syah+III&oldid=29488784 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29488784 (2026-07-23T12:28:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muhammad+Jalaluddin+Syah+III&oldid=29488784 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29488784 (2026-07-23T12:28:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 15.00

Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III atau Mas Madina Moehammad Djalaloeddin (bin Datu Raja Muda Daeng Maskuncir bin Sultan Amaroe'llah) adalah Sultan Sumbawa ke-16 (1883-1931).[1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12] Datu Raja Muda Daeng Maskuncir atau Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa yang telah dikukuhkan untuk mengganti sang ayah Sultan Amrullah akhirnya batal. Peritiwa kebakaran hebat Istana Gunung Setia menjadi penyebab terjadinya depresi mental dimana beliau lebih memilih kehidupan spiritual daripada menjadi seorang sultan. Sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk tetap dipertahankan guna dimahkotai sebagai sultan sumbawa. Sehingga pada saat Sultan Amrullah mangkat pada tanggal 20 Agustus 1883, hasil mufakat pangantong limaolas (Majelis 15 orang) memutuskan untuk memilih putra tertua dari Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yakni Mas Madina Daeng Raja Dewa untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa. Mas Madina Daeng Raja Dewa saat dinobatkan bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Akta yang dibuat menunjukkan beliau disumpah pada tanggal 18 Oktober 1885 (9 Muharam 1303 Hijriyah). Pada masa Pemerintahan Beliau, didirikan Istana Dalam Loka yang hingga kini masih dapat kita saksikan hingga dewasa ini dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa. Penataan bidang pemerintahan mendapat perhatian khusus dari Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Beberapa kali sistem pemerintahan mengalami perubahan. Pada Tahun 1920 terjadi perubahan besar dalam sistem perintahan Kesultanan Sumbawa dimana penghapusan district menjadi onderdistrct dan kemudian beralih nama menjadi Kademungan. Dengan perubahan struktur ini maka Kedatuan dalam Kamutar Telu, Seran, Taliwang dan Jereweh dihapus pula dan berubah status menjadi Kademungan. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III inilah meletus beberapa peperangan melawan Belanda antara lain Perang Sapugara yang dipimpin oleh La Unru Sinrang Dea Mas Manurung (1906 – 1908) dan Perang Baham dipimpin oleh Baham ( 1906 dan 1921 )[13][14][15][16][17][18][19][20][21][22]

Kontrak politik dengan Hindia Belanda tanggal 5 April 1886 pada masa Gubernur Jenderal Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele.[23][24]

Pada 14 Mei 1905, di Sumbawa diadakan perjanjian antara Bestuurder dari Sumbawa, Mohammad Djalaloedin III, dan Controler Oscar Maurits Goedhard yang mewakili Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz.[25]

Keluarga

Sultan Muhammad Djalaluddin III memerintah 1883-1931. Beliau memiliki Istri:
1. Siti Aminah Daeng Tenripada melahirkan anak:

  1. ♂ Daeng Marowa (Putra Mahkota). Beliau wafat saat masih kecil.

2. Daeng Ico Dai, Melahirkan anak:

  1. ♀ Daeng Baoe Datu Masugi
  2. ♀ Daeng Uyan Datu Intan Burung

3. Siti Maryam Daeng Risompa Datu Rotimu (saudara dari Daeng Ico Dai istri ke-2), melahirkan anak:

  1. ♂ Datu Raja Muda Daeng Rilangi (Putra Mahkota). Beliau wafat sebelum sang ayah wafat. Putra Mahkota diganti oleh adik beliau Daeng Manurung, Daeng Manurung yang sedang di Yogyakarta kala itu dipanggil pulang untuk menjadi Putra Mahkota). Daeng Rilangi sendiri menikah dengan Lala Danra melahirkan Lalu Prabuanom Dea Radan Ambu.
  2. ♀ Daeng Uyan (Perempuan)
  3. ♂ Daeng Manurung (Putra Mahkota), dan dinobatkan menjadi Sultan Muhammad Kaharuddin III pada tahun 1931.
  4. ♀ Daeng Taniasanga (Perempuan)
  5. ♂ Daeng Marowa Datu Medan

4. Amatollah Dea Manurung, melahirkan anak:

  1. ♀ Lala Maskencana
  2. ♂ L.M. Resyad Dea Bawa
  3. ♂ Lalu Cela
  4. ♀ Lala Masuki

5. Lala Sri Majena, melahirkan anak:

  1. Daeng Tamemang Datu Balasari
  2. Daeng Matasa
  3. Daeng Ompa Ibo

6. Syarifah Dea Masmirah, melahirkan anak:

  1. ♂ Lalu Manaungi Kohe
  2. ♀ Lala Pancaitana

7. Lala Sagiri Datu Loka (Tidak meniliki anak), saudara dari Lala Sri Majena - isteri ke-5.

Silsilah kekerabatan dengan Raja Bicara (Mangkubumi) Bima

Tahun pemerintahan Sultan Bima.[26][27][28][29][30]

https://pl.wikipedia.org/wiki/W%C5%82adcy_Sumbawy#Su%C5%82tani_Bimy

http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bima

Mula-mula di pulau Lombok dikenal legenda Datu Telu Besanakan yang merefleksikan kekerabatan 3 kerajaan, keturunan dari Deneq Mas Pangeran Luih yaitu Betare Mas Indra Sakti (di Gelgel, Bali), Mas Kerta Jala (di Gowa) dan Mas Tunggul Nala (di Lombok).[31]

Hikayat Sang Bima memperluas konsep ini bahwa bukan hanya 3 kerajaan tapi ada 5 kerajaan saling berkerabat sesuai Pandawa lima. Menurut Hikayat Sang Bima, Maharaja Pandu Dewata leluhur dari wangsa yang menurunkan 5 kerajaan di Nusantara yaitu wangsa yang menurunkan raja-raja Banjar (Sang Dewa), wangsa yang menurunkan raja-raja Bima (Sang Bima), raja-raja Bali (Sang Kuala), raja-raja Dompu (Darmawangsa), raja-raja Gowa (Sang Rajuna) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari Maharaja Pandu Dewata.[32][33]

Piagam Kedatuan Gangga (Lombok Utara) memuat silsilah yang mirip, dimana raja Ambiyah menempatkan anak-anaknya yaitu Deneq Mas Sang Katong di bumi Banjar, Deneq Mas Raja di bumi Bugis, Deneq Mas Sangkabun di bumi Banten (Jawa), Deneq Mas Bun di bumi Bali, Deneq Mas Patra di bumi Sumbawa (Mbojo), Deneq Mas Sadewa di bumi Sasak (Selaparang) dan Deneq Bini Masni (Ratu Ambiyah) memerintah sepulau Lombok menggantikan ayahnya.

Templat:Family tree

}}

}}

Kekerabatan dengan Kesultanan Banjar

Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari Kesultanan Banjar yang bernama Raden Subangsa bergelar Pangeran Taliwang yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias Amas Mattaram yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa Mas Bantan) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.[34][35][36][37][38][39][40][41][42][43][44][45][46][47][48][49]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Overeenkomsten met inlandsche vorsten in den Oost-Indischen Archipel. Landsdrukkerij. 1857. Vol. 31. hlm. 17.
  2. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1891. Ter Lands-Drukkerij. 1891. hlm. 1417.
  3. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1898. Ter Lands-Drukkerij. 1898. hlm. 440.
  4. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1910. Ter Lands-Drukkerij. 1910. hlm. 319.
  5. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1914. Ter Lands-Drukkerij. 1914. hlm. 265.
  6. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1917. Ter Lands-Drukkerij. 1917. hlm. 270.
  7. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1931. Ter Lands-Drukkerij. 1931. hlm. 867.
  8. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa. Universitas Teknologi Sumbawa.
  9. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa. Universitas Teknologi Sumbawa.
  10. Lalu Mantja. Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Rinta. 1984. hlm. 154.
  11. Sejarah daerah Nusa Tenggara Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. hlm. 146.
  12. C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier. De Indische gids. J. H. de Bussy. 1891. Vol. 13. hlm. 1417.
  13. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  14. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  15. Ben Cahoon. Indonesian Traditional States II. WORLD STATESMEN.org.
  16. Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters. Arsip Nasional Republik Indonesia.
  17. Sejarah Kesultanan Sumbawa. Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
  18. Sambangi Taliwang, Raja Gowa Tallo Sebut Silsilah Taliwang-Gowa Tallo Punya Hubungan Erat. kabarntb.com.
  19. Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 54.
  20. Annabel Teh Gallop. Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia. University of London. 2002. Vol. 3. hlm. 542.
  21. Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 126.
  22. Berita penelitian arkeologi, Masalah 11-14. Proyek Pelita Pengembangan Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1977. hlm. 10.
  23. Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie voor 1905. Ter Lands-Drukkerij. 1905. hlm. 291.
  24. Volksalmanak Melajoe. 1921. Vol. 13. hlm. 35.
  25. I Ketut Ardhana. Penataan Nusa Tenggara pada masa kolonial, 1915-1950. 2005. hlm. 110.
  26. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  27. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  28. Henri Chambert-Loir, Wisamarta, Lukman (Khatib.). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. Juli 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5
  29. Susanto Zuhdi, Triana Wulandari. Kerajaan Tradisional di Indonesia : BIMA. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1 Januari 1997. hlm. 55.
  30. Anthony Marinus Hendrik Johan Stokvis. Manuel d'histoire, de généalogie et de chronologie de tous les états du globe, depuis les temps les plus reculés jusqu'à nos jours. Brill. 1888. Vol. 1. hlm. 390.
  31. Ahmad Ubb. Senjata Pusaka Bugis. Gramedia Pustaka Utama. 22 Agu 2013. hlm. 192. ISBN 9792277293. ISBN 9789792277296
  32. Henri. Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hlm. 121. ISBN 9799100119. ISBN 978-979-9100-11-5
  33. H. Abdullah Tajib. Sejarah Bima Dana Mbojo. Harapan Masa PGRI. 1995.
  34. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
  35. Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
  36. https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar
  37. Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography. Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 1968.
  38. Johannes Jacobus Ras. Hikayat Banjar. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1990. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  39. Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia). Hikayat Banjar dan Kotaringin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. 1993. hlm. 139.
  40. Anton A. Cense. De kroniek van Bandjarmasin. C.A. Mees. 1928. hlm. 54.
  41. Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Martinus Nijhoff. 1968.
  42. Johannes Jacobus Ras. Bibliotheca Indonesica. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1968. Vol. 1.
  43. Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. Inti sari karya klasik. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Vol. 1. ISBN 9836295062. ISBN 9789836295064
  44. Ali Majod. Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145
  45. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.
  46. Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat. Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981.
  47. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
  48. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Becht. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
  49. Wolter Robert Hoëvel. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29488784 (2026-07-23T12:28:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.