Lompat ke isi

Diastereomer: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28667890; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[stereokimia]], '''diastereomer''' (terkadang disebut pula '''diastereoisomer''') adalah suatu jenis [[stereoisomer]] yang bukan cerminan satu sama lain dan tidak identik. Dengan demikian, jenis isomer ini muncul ketika dua atau lebih stereoisomer dari suatu senyawa memiliki konfigurasi yang berbeda pada satu atau lebih (namun tidak pada seluruh) [[pusat kiral]] yang ekuivalen (saling berkaitan), dan tidak saling membentuk bayangan cermin.
[[File:D-threose.svg|thumb|right|280px|D-threose]]
 
{| align="right" class="wikitable"
|-
!colspan="2"|Diastereomer yang juga epimer
|-
|bgcolor="#FFFFFF"|
|bgcolor="#FFFFFF"|
|-
|bgcolor="#FFFFFF"|
|bgcolor="#FFFFFF"|
|-
| [[Treosa|D-treosa]]
| [[Eritrosa|D-eritrosa]]
|}
 
Dalam [[stereokimia]], '''diastereomer''' (terkadang disebut pula '''diastereoisomer''') adalah suatu jenis [[stereoisomer]]<ref>IUPAC "Gold Book" [http://goldbook.iupac.org/D01679.html ''diastereoisomerism'']</ref> yang bukan cerminan satu sama lain dan tidak identik. Dengan demikian, jenis isomer ini muncul ketika dua atau lebih stereoisomer dari suatu senyawa memiliki konfigurasi yang berbeda pada satu atau lebih (namun tidak pada seluruh) [[pusat kiral]] yang ekuivalen (saling berkaitan), dan tidak saling membentuk bayangan cermin.<ref>R.H. Garrett. ''Biochemistry 3rd ed''. Thomson. 2005. hlm. 205. ISBN 0-534-41020-0..</ref>
Ketika dua diastereoisomer berbeda hanya pada satu pusat kiral, keduanya disebut sebagai [[epimer]]. Setiap pusat kiral dapat membentuk dua konfigurasi berbeda, sehingga umumnya menambah jumlah stereoisomer secara bertambah dua kali lipat untuk setiap pusat kiral tambahan.
Ketika dua diastereoisomer berbeda hanya pada satu pusat kiral, keduanya disebut sebagai [[epimer]]. Setiap pusat kiral dapat membentuk dua konfigurasi berbeda, sehingga umumnya menambah jumlah stereoisomer secara bertambah dua kali lipat untuk setiap pusat kiral tambahan.


Diastereomer berbeda dari [[enansiomer]] karena enansiomer merupakan pasangan stereoisomer yang memiliki perbedaan konfigurasi pada seluruh pusat kiral, sehingga keduanya menjadi bayangan cermin satu sama lain.
Diastereomer berbeda dari [[enansiomer]] karena enansiomer merupakan pasangan stereoisomer yang memiliki perbedaan konfigurasi pada seluruh pusat kiral, sehingga keduanya menjadi bayangan cermin satu sama lain.<ref>IUPAC "Gold Book" [http://goldbook.iupac.org/E02069.html ''enantiomer'']</ref>
Enansiomer dari suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu stereosenter juga merupakan diastereomer terhadap stereoisomer lain dari senyawa tersebut yang bukan merupakan bayangan cerminnya (yakni selain enansiomer pasangannya). Diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda (tidak seperti kebanyakan sifat enansiomer) dan sering kali menunjukkan perbedaan dalam [[Reaktivitas (kimia)|reaktivitas kimia]].
Enansiomer dari suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu stereosenter juga merupakan diastereomer terhadap stereoisomer lain dari senyawa tersebut yang bukan merupakan bayangan cerminnya (yakni selain enansiomer pasangannya). Diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda (tidak seperti kebanyakan sifat enansiomer) dan sering kali menunjukkan perbedaan dalam [[Reaktivitas (kimia)|reaktivitas kimia]].


Diastereomer tidak hanya berbeda dalam sifat fisiknya, tetapi juga dalam reaktivitas kimianya — yakni cara suatu senyawa berinteraksi dengan senyawa lain. Sebagai contoh, [[glukosa]] dan [[galaktosa]] merupakan diastereomer. Meskipun keduanya memiliki massa molar yang sama, glukosa lebih stabil dibandingkan galaktosa. Perbedaan stabilitas ini menyebabkan galaktosa diserap sedikit lebih cepat daripada glukosa di dalam tubuh manusia.
Diastereomer tidak hanya berbeda dalam sifat fisiknya, tetapi juga dalam reaktivitas kimianya — yakni cara suatu senyawa berinteraksi dengan senyawa lain. Sebagai contoh, [[glukosa]] dan [[galaktosa]] merupakan diastereomer. Meskipun keduanya memiliki massa molar yang sama, glukosa lebih stabil dibandingkan galaktosa. Perbedaan stabilitas ini menyebabkan galaktosa diserap sedikit lebih cepat daripada glukosa di dalam tubuh manusia.<ref>Robert Alexander McCance. ''The comparative rates of absorption of sugars from the human intestine''. ''Biochemical Journal''. 1930. Vol. 24 (3). hlm. 795–804. doi:10.1042/bj0240795.</ref><ref>Hsi-Chun Chao. ''Differentiation and Quantification of Diastereomeric Pairs of Glycosphingolipids using Gas-phase Ion Chemistry''. ''Analytical Chemistry''. 2020-10-06. Vol. 92 (19). hlm. 13387–13395. doi:10.1021/acs.analchem.0c02755.</ref>


'''Diastereoselektivitas''' merupakan kecenderungan terbentuknya satu atau lebih diastereomer tertentu dibandingkan diastereomer lainnya dalam suatu [[reaksi organik]]. Secara umum, [[stereoselektifitas]] dipengaruhi oleh interaksi torsi dan sterik pada pusat kiral yang muncul akibat pendekatan [[elektrofil]] menuju pusat kiral selama reaksi berlangsung.
'''Diastereoselektivitas''' merupakan kecenderungan terbentuknya satu atau lebih diastereomer tertentu dibandingkan diastereomer lainnya dalam suatu [[reaksi organik]]. Secara umum, [[stereoselektifitas]] dipengaruhi oleh interaksi torsi dan sterik pada pusat kiral yang muncul akibat pendekatan [[elektrofil]] menuju pusat kiral selama reaksi berlangsung.<ref>Olga Lavinda. ''Origin of High Diastereoselectivity in Reactions of Seven-Membered-Ring Enolates''. ''Angewandte Chemie International Edition in English''. 2022-03-28. Vol. 61 (14). doi:10.1002/anie.202114183.</ref>


== Syn / anti ==
== Syn / anti ==
Ketika ikatan tunggal antara dua pusat stereogenik dapat berputar bebas, penanda cis/trans tidak lagi berlaku. Dua awalan yang diterima secara luas untuk membedakan diastereomer pada ikatan berorbital sp³ dalam molekul rantai terbuka adalah '''syn''' dan '''anti'''. Masamune mengusulkan deskriptor ini karena tetap dapat digunakan meskipun gugus-gugusnya tidak terikat pada atom karbon yang bersebelahan. Sistem ini juga bekerja tanpa bergantung pada aturan prioritas [[Aturan prioritas Cahn-Ingold-Prelog|CIP]]. Istilah syn menggambarkan gugus yang berada pada sisi yang sama, sedangkan anti menggambarkan gugus yang berada pada sisi berlawanan. Konsep ini hanya berlaku untuk proyeksi zigzag dan menjelaskan stereokimia relatif, bukan stereokimia absolut.
Ketika ikatan tunggal antara dua pusat stereogenik dapat berputar bebas, penanda cis/trans tidak lagi berlaku. Dua awalan yang diterima secara luas untuk membedakan diastereomer pada ikatan berorbital sp³ dalam molekul rantai terbuka adalah '''syn''' dan '''anti'''. Masamune mengusulkan deskriptor ini karena tetap dapat digunakan meskipun gugus-gugusnya tidak terikat pada atom karbon yang bersebelahan.<ref>Shunichi Masamune. ''Multiple Asymmetric Induction''. ''Pure and Applied Chemistry''. 1984. Vol. 56 (1). hlm. 1–30. doi:10.1351/pac198456010001.</ref> Sistem ini juga bekerja tanpa bergantung pada aturan prioritas [[Aturan prioritas Cahn-Ingold-Prelog|CIP]]. Istilah syn menggambarkan gugus yang berada pada sisi yang sama, sedangkan anti menggambarkan gugus yang berada pada sisi berlawanan. Konsep ini hanya berlaku untuk proyeksi zigzag dan menjelaskan stereokimia relatif, bukan stereokimia absolut.<ref>Barry M. Trost. ''The Direct Catalytic Asymmetric Aldol Reaction''. ''Chemical Society Reviews''. 2010. Vol. 39. hlm. 1600–1630. doi:10.1039/B923537J.</ref>


Semua isomer tersebut berada dalam kategori yang sama.
Semua isomer tersebut berada dalam kategori yang sama.<ref>David A. Evans. ''Enantioselective Aldol Condensations. 3. Erythro-Selective Condensations via Zirconium Enolates''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1981. Vol. 103. hlm. 2876–2878. doi:10.1021/ja00400a071.</ref>


== Eritro / treo ==
== Eritro / treo ==
Dua awalan lama yang masih sering digunakan untuk membedakan diastereomer adalah '''treo''' dan '''eritro'''. Pada [[sakarida]] yang digambar menggunakan [[proyeksi Fischer]], isomer eritro memiliki dua substituen identik berada pada sisi yang sama, sedangkan isomer treo menempatkannya pada sisi berlawanan. Ketika digambar sebagai rantai zigzag, isomer eritro menempatkan dua substituen identik pada sisi berlawanan bidang (anti). Penamaan ini berasal dari pasangan diastereomer [[aldosa]] empat karbon, yaitu [[eritrosa]] dan [[treosa]]. Penggunaan awalan ini tidak direkomendasikan secara umum karena sering sulit menentukan penerapannya untuk senyawa tertentu.
Dua awalan lama yang masih sering digunakan untuk membedakan diastereomer adalah '''treo''' dan '''eritro'''. Pada [[sakarida]] yang digambar menggunakan [[proyeksi Fischer]], isomer eritro memiliki dua substituen identik berada pada sisi yang sama, sedangkan isomer treo menempatkannya pada sisi berlawanan.<ref>''Modern Physical Organic Chemistry'' Eric V. Anslyn, Dennis A. Dougherty (2006)</ref> Ketika digambar sebagai rantai zigzag, isomer eritro menempatkan dua substituen identik pada sisi berlawanan bidang (anti). Penamaan ini berasal dari pasangan diastereomer [[aldosa]] empat karbon, yaitu [[eritrosa]] dan [[treosa]]. Penggunaan awalan ini tidak direkomendasikan secara umum karena sering sulit menentukan penerapannya untuk senyawa tertentu.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diastereomer&oldid=28667890 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Namun, awalan tersebut tetap bermanfaat untuk menggambarkan konfigurasi relatif pada senyawa yang memenuhi kriteria berikut: memiliki sedikitnya empat atom [[karbon]], tepat dua di antaranya merupakan pusat kiral, kedua pusat kiral tersebut bersebelahan, dan masing-masing pusat kiral memiliki dua [[substituen]] yang jelas dapat diklasifikasikan sebagai “lebih besar” (biasanya [[heteroatom]] seperti N, O, atau S) dan “lebih kecil” (biasanya H).
Namun, awalan tersebut tetap bermanfaat untuk menggambarkan konfigurasi relatif pada senyawa yang memenuhi kriteria berikut: memiliki sedikitnya empat atom [[karbon]], tepat dua di antaranya merupakan pusat kiral, kedua pusat kiral tersebut bersebelahan, dan masing-masing pusat kiral memiliki dua [[substituen]] yang jelas dapat diklasifikasikan sebagai “lebih besar” (biasanya [[heteroatom]] seperti N, O, atau S) dan “lebih kecil” (biasanya H).<ref>Ernest L. Eliel. ''Conformational and Stereochemical Principles''. ''Topics in Stereochemistry''. 1967. Vol. 1. hlm. 1–54. doi:10.1002/9780470147085.ch1.</ref>


[[Treitol]] dan [[eritritol]] merupakan alkohol gula empat karbon. Eritritol bersifat [[Kiralitas (kimia)|akiral]] (memiliki setidaknya satu konformasi dengan bidang atau pusat simetri), sedangkan treitol bersifat kiral. Sebuah [[mnemonik]] dalam bahasa Inggris yang sering digunakan adalah bahwa “treitol” dan “kiral” sama-sama dimulai dengan konsonan, sedangkan “eritritol” dan “akiral” sama-sama dimulai dengan huruf vokal.
[[Treitol]] dan [[eritritol]] merupakan alkohol gula empat karbon. Eritritol bersifat [[Kiralitas (kimia)|akiral]] (memiliki setidaknya satu konformasi dengan bidang atau pusat simetri), sedangkan treitol bersifat kiral. Sebuah [[mnemonik]] dalam bahasa Inggris yang sering digunakan adalah bahwa “treitol” dan “kiral” sama-sama dimulai dengan konsonan, sedangkan “eritritol” dan “akiral” sama-sama dimulai dengan huruf vokal.
Baris 23: Baris 39:
Contoh senyawa threo lainnya adalah [[treonina]], salah satu [[asam amino]] yang dikodekan oleh [[DNA]]. Diastereomer eritro-nya, yaitu [[alotreonina]], tidak dikodekan oleh DNA dan sangat jarang ditemukan di alam.
Contoh senyawa threo lainnya adalah [[treonina]], salah satu [[asam amino]] yang dikodekan oleh [[DNA]]. Diastereomer eritro-nya, yaitu [[alotreonina]], tidak dikodekan oleh DNA dan sangat jarang ditemukan di alam.


{| class="wikitable centered" style="text-align:center"<br />
|-
| &nbsp;<br />
|-
| L-Treonina (2''S'',3''R'') dan D-Treonina (2''R'',3''S'')<br />
|-
| &nbsp;<br />
|-
| L-Alotreonina (2''S'',3''S'') dan D-[[Alotreonina]] (2''R'',3''R'')
|-
|}


Dalam reaksi adisi pada [[alkena]], adisi syn pada alkena trans, atau adisi anti pada alkena cis, menghasilkan produk treo; sedangkan adisi syn pada alkena cis, atau adisi anti pada alkena trans, memberikan produk eritro.
Dalam reaksi adisi pada [[alkena]], adisi syn pada alkena trans, atau adisi anti pada alkena cis, menghasilkan produk treo; sedangkan adisi syn pada alkena cis, atau adisi anti pada alkena trans, memberikan produk eritro.<ref>Francis A. Carey. ''Control of Stereochemistry in Alkene Additions''. ''Advanced Organic Chemistry''. 2007. Vol. Part A.</ref>


== Aplikasi ==
== Aplikasi ==
Dua diastereomer, seperti telah dijelaskan sebelumnya, tidak memiliki sifat kimia yang identik. Prinsip ini dimanfaatkan dalam [[sintesis kiral]] untuk memisahkan campuran enansiomer. Konsep tersebut menjadi dasar dari teknik [[resolusi kiral]]. Setelah pasangan diastereomer terbentuk, pemisahan dapat dilakukan menggunakan [[kromatografi]] atau [[Rekristalisasi (kimia)|rekristalisasi]]. Contoh lain penerapan prinsip ini dapat ditemukan pada [[stereokimia ketonisasi enol dan enolat|stereokimia]] [[keton]]isasi [[enol]] dan [[enolat]].
Dua diastereomer, seperti telah dijelaskan sebelumnya, tidak memiliki sifat kimia yang identik. Prinsip ini dimanfaatkan dalam [[sintesis kiral]] untuk memisahkan campuran enansiomer. Konsep tersebut menjadi dasar dari teknik [[resolusi kiral]]. Setelah pasangan diastereomer terbentuk, pemisahan dapat dilakukan menggunakan [[kromatografi]] atau [[Rekristalisasi (kimia)|rekristalisasi]]. Contoh lain penerapan prinsip ini dapat ditemukan pada [[stereokimia ketonisasi enol dan enolat|stereokimia]] [[keton]]isasi [[enol]] dan [[enolat]].<ref>Jeffrey I. Seeman. ''Chiral Resolution''. ''Chemical Reviews''. 1983. Vol. 83 (2). hlm. 83–134. doi:10.1021/cr00054a001.</ref><ref>C. H. Heathcock. ''The Stereochemistry of Enolate Formation and Reactions''. ''Organic Reactions''. 1976. Vol. 23. hlm. 1–294.</ref><ref>Ernest L. Eliel. ''Applications of Diastereomer Formation in Chiral Resolution''. ''Journal of Organic Chemistry''. 1972. Vol. 37. hlm. 3608–3617. doi:10.1021/jo00794a002.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 33: Baris 60:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diastereomer&oldid=28667890 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28667890 (2025-12-06T06:59:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diastereomer&oldid=28667890 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28667890 (2025-12-06T06:59:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.04

D-threose
Diastereomer yang juga epimer
D-treosa D-eritrosa

Dalam stereokimia, diastereomer (terkadang disebut pula diastereoisomer) adalah suatu jenis stereoisomer[1] yang bukan cerminan satu sama lain dan tidak identik. Dengan demikian, jenis isomer ini muncul ketika dua atau lebih stereoisomer dari suatu senyawa memiliki konfigurasi yang berbeda pada satu atau lebih (namun tidak pada seluruh) pusat kiral yang ekuivalen (saling berkaitan), dan tidak saling membentuk bayangan cermin.[2] Ketika dua diastereoisomer berbeda hanya pada satu pusat kiral, keduanya disebut sebagai epimer. Setiap pusat kiral dapat membentuk dua konfigurasi berbeda, sehingga umumnya menambah jumlah stereoisomer secara bertambah dua kali lipat untuk setiap pusat kiral tambahan.

Diastereomer berbeda dari enansiomer karena enansiomer merupakan pasangan stereoisomer yang memiliki perbedaan konfigurasi pada seluruh pusat kiral, sehingga keduanya menjadi bayangan cermin satu sama lain.[3] Enansiomer dari suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu stereosenter juga merupakan diastereomer terhadap stereoisomer lain dari senyawa tersebut yang bukan merupakan bayangan cerminnya (yakni selain enansiomer pasangannya). Diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda (tidak seperti kebanyakan sifat enansiomer) dan sering kali menunjukkan perbedaan dalam reaktivitas kimia.

Diastereomer tidak hanya berbeda dalam sifat fisiknya, tetapi juga dalam reaktivitas kimianya — yakni cara suatu senyawa berinteraksi dengan senyawa lain. Sebagai contoh, glukosa dan galaktosa merupakan diastereomer. Meskipun keduanya memiliki massa molar yang sama, glukosa lebih stabil dibandingkan galaktosa. Perbedaan stabilitas ini menyebabkan galaktosa diserap sedikit lebih cepat daripada glukosa di dalam tubuh manusia.[4][5]

Diastereoselektivitas merupakan kecenderungan terbentuknya satu atau lebih diastereomer tertentu dibandingkan diastereomer lainnya dalam suatu reaksi organik. Secara umum, stereoselektifitas dipengaruhi oleh interaksi torsi dan sterik pada pusat kiral yang muncul akibat pendekatan elektrofil menuju pusat kiral selama reaksi berlangsung.[6]

Syn / anti

Ketika ikatan tunggal antara dua pusat stereogenik dapat berputar bebas, penanda cis/trans tidak lagi berlaku. Dua awalan yang diterima secara luas untuk membedakan diastereomer pada ikatan berorbital sp³ dalam molekul rantai terbuka adalah syn dan anti. Masamune mengusulkan deskriptor ini karena tetap dapat digunakan meskipun gugus-gugusnya tidak terikat pada atom karbon yang bersebelahan.[7] Sistem ini juga bekerja tanpa bergantung pada aturan prioritas CIP. Istilah syn menggambarkan gugus yang berada pada sisi yang sama, sedangkan anti menggambarkan gugus yang berada pada sisi berlawanan. Konsep ini hanya berlaku untuk proyeksi zigzag dan menjelaskan stereokimia relatif, bukan stereokimia absolut.[8]

Semua isomer tersebut berada dalam kategori yang sama.[9]

Eritro / treo

Dua awalan lama yang masih sering digunakan untuk membedakan diastereomer adalah treo dan eritro. Pada sakarida yang digambar menggunakan proyeksi Fischer, isomer eritro memiliki dua substituen identik berada pada sisi yang sama, sedangkan isomer treo menempatkannya pada sisi berlawanan.[10] Ketika digambar sebagai rantai zigzag, isomer eritro menempatkan dua substituen identik pada sisi berlawanan bidang (anti). Penamaan ini berasal dari pasangan diastereomer aldosa empat karbon, yaitu eritrosa dan treosa. Penggunaan awalan ini tidak direkomendasikan secara umum karena sering sulit menentukan penerapannya untuk senyawa tertentu.[11]

Namun, awalan tersebut tetap bermanfaat untuk menggambarkan konfigurasi relatif pada senyawa yang memenuhi kriteria berikut: memiliki sedikitnya empat atom karbon, tepat dua di antaranya merupakan pusat kiral, kedua pusat kiral tersebut bersebelahan, dan masing-masing pusat kiral memiliki dua substituen yang jelas dapat diklasifikasikan sebagai “lebih besar” (biasanya heteroatom seperti N, O, atau S) dan “lebih kecil” (biasanya H).[12]

Treitol dan eritritol merupakan alkohol gula empat karbon. Eritritol bersifat akiral (memiliki setidaknya satu konformasi dengan bidang atau pusat simetri), sedangkan treitol bersifat kiral. Sebuah mnemonik dalam bahasa Inggris yang sering digunakan adalah bahwa “treitol” dan “kiral” sama-sama dimulai dengan konsonan, sedangkan “eritritol” dan “akiral” sama-sama dimulai dengan huruf vokal.

Contoh senyawa threo lainnya adalah treonina, salah satu asam amino yang dikodekan oleh DNA. Diastereomer eritro-nya, yaitu alotreonina, tidak dikodekan oleh DNA dan sangat jarang ditemukan di alam.

 
L-Treonina (2S,3R) dan D-Treonina (2R,3S)
 
L-Alotreonina (2S,3S) dan D-Alotreonina (2R,3R)

Dalam reaksi adisi pada alkena, adisi syn pada alkena trans, atau adisi anti pada alkena cis, menghasilkan produk treo; sedangkan adisi syn pada alkena cis, atau adisi anti pada alkena trans, memberikan produk eritro.[13]

Aplikasi

Dua diastereomer, seperti telah dijelaskan sebelumnya, tidak memiliki sifat kimia yang identik. Prinsip ini dimanfaatkan dalam sintesis kiral untuk memisahkan campuran enansiomer. Konsep tersebut menjadi dasar dari teknik resolusi kiral. Setelah pasangan diastereomer terbentuk, pemisahan dapat dilakukan menggunakan kromatografi atau rekristalisasi. Contoh lain penerapan prinsip ini dapat ditemukan pada stereokimia ketonisasi enol dan enolat.[14][15][16]

Lihat pula

Referensi

  1. IUPAC "Gold Book" diastereoisomerism
  2. R.H. Garrett. Biochemistry 3rd ed. Thomson. 2005. hlm. 205. ISBN 0-534-41020-0..
  3. IUPAC "Gold Book" enantiomer
  4. Robert Alexander McCance. The comparative rates of absorption of sugars from the human intestine. Biochemical Journal. 1930. Vol. 24 (3). hlm. 795–804. doi:10.1042/bj0240795.
  5. Hsi-Chun Chao. Differentiation and Quantification of Diastereomeric Pairs of Glycosphingolipids using Gas-phase Ion Chemistry. Analytical Chemistry. 2020-10-06. Vol. 92 (19). hlm. 13387–13395. doi:10.1021/acs.analchem.0c02755.
  6. Olga Lavinda. Origin of High Diastereoselectivity in Reactions of Seven-Membered-Ring Enolates. Angewandte Chemie International Edition in English. 2022-03-28. Vol. 61 (14). doi:10.1002/anie.202114183.
  7. Shunichi Masamune. Multiple Asymmetric Induction. Pure and Applied Chemistry. 1984. Vol. 56 (1). hlm. 1–30. doi:10.1351/pac198456010001.
  8. Barry M. Trost. The Direct Catalytic Asymmetric Aldol Reaction. Chemical Society Reviews. 2010. Vol. 39. hlm. 1600–1630. doi:10.1039/B923537J.
  9. David A. Evans. Enantioselective Aldol Condensations. 3. Erythro-Selective Condensations via Zirconium Enolates. Journal of the American Chemical Society. 1981. Vol. 103. hlm. 2876–2878. doi:10.1021/ja00400a071.
  10. Modern Physical Organic Chemistry Eric V. Anslyn, Dennis A. Dougherty (2006)
  11. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  12. Ernest L. Eliel. Conformational and Stereochemical Principles. Topics in Stereochemistry. 1967. Vol. 1. hlm. 1–54. doi:10.1002/9780470147085.ch1.
  13. Francis A. Carey. Control of Stereochemistry in Alkene Additions. Advanced Organic Chemistry. 2007. Vol. Part A.
  14. Jeffrey I. Seeman. Chiral Resolution. Chemical Reviews. 1983. Vol. 83 (2). hlm. 83–134. doi:10.1021/cr00054a001.
  15. C. H. Heathcock. The Stereochemistry of Enolate Formation and Reactions. Organic Reactions. 1976. Vol. 23. hlm. 1–294.
  16. Ernest L. Eliel. Applications of Diastereomer Formation in Chiral Resolution. Journal of Organic Chemistry. 1972. Vol. 37. hlm. 3608–3617. doi:10.1021/jo00794a002.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28667890 (2025-12-06T06:59:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.