Lompat ke isi

Hari Toilet Sedunia: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 24023340; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Hari Toilet Sedunia''' (, disingkat "WTD") merupakan sebuah kampanye untuk memberikan motivasi dan menggerakkan penduduk dunia mengenai pentingnya sanitasi. Program yang pertama kali dibentuk oleh [[World Toilet Organization]] pada tahun 2001 ini ditujukan untuk membangkitkan kesadaran penduduk global mengenai isu sanitasi yang diadakan pada setiap tanggal 19 November. Sejak 2001, Hari Toilet Sedunia telah tumbuh dan diakui oleh partner dunia. Pada tahun 2013, [[PBB]] menandatangani penetapan Hari Toilet Sedunia menjadi hari internasional PBB dalam Resolusi PBB A/67/L.75 (''UN Resolution A/67/L.75'').
[[File:World_Toilet_Day_(WTD)_logo.jpg|thumb|right|280px|World Toilet Day (WTD) logo]]
 
'''Hari Toilet Sedunia''' (, disingkat "WTD") merupakan sebuah kampanye untuk memberikan motivasi dan menggerakkan penduduk dunia mengenai pentingnya sanitasi. Program yang pertama kali dibentuk oleh [[World Toilet Organization]] pada tahun 2001 ini ditujukan untuk membangkitkan kesadaran penduduk global mengenai isu sanitasi yang diadakan pada setiap tanggal 19 November. Sejak 2001, Hari Toilet Sedunia telah tumbuh dan diakui oleh partner dunia. Pada tahun 2013, [[PBB]] menandatangani penetapan Hari Toilet Sedunia menjadi hari internasional PBB dalam Resolusi PBB A/67/L.75 (''UN Resolution A/67/L.75'').<ref>[http://www.un.org/millenniumgoals/pdf/DSG%20sanitation%20two-pager%20FINAL.pdf Call to action on UN website]. ''un.org''. 19 Oktober 2014.</ref>


== Latar belakang ==
== Latar belakang ==
Pada tahun 2015, diperkirakan sebanyak 2,4 miliar (atau 1 dari 3 penduduk) kurang memiliki akses ke fasilitas sanitasi, dan kurang dari 1 miliar penduduk masih buang air besar di tempat terbuka.
Pada tahun 2015, diperkirakan sebanyak 2,4 miliar (atau 1 dari 3 penduduk) kurang memiliki akses ke fasilitas sanitasi, dan kurang dari 1 miliar penduduk masih buang air besar di tempat terbuka.<ref>[http://www.wssinfo.org/fileadmin/user_upload/resources/JMP-Update-report-2015_English.pdf Progress on Sanitation and Drinking Water: 2015 Update and MDG Assessment]. 2015.</ref>


Penyebaran penyakit, seperti [[diare]], [[schistosomiasis]], dan [[malagizi]] pada anak-anak yang terkait dengan suatu keadaan bernama enteropati lingkungan, merupakan akibat langsung dari buang air besar di tempat terbuka.
Penyebaran penyakit, seperti [[diare]], [[schistosomiasis]], dan [[malagizi]] pada anak-anak yang terkait dengan suatu keadaan bernama enteropati lingkungan, merupakan akibat langsung dari buang air besar di tempat terbuka.


Sebanyak 58% kasus diare disebabkan pula oleh air tidak sehat dan sanitasi yang buruk dan tingkah laku yang tidak higienis. Ini artinya, selama tahun 2013, lebih dari 340.000 anak-anak di bawah lima tahun meninggal akibat sanitasi dan air yang tidak higienis. Penyediaan fasilitas sanitasi telah menurunkan tingkat penyakit diare anak-anak hingga 7–17%, dan tingkat kematian menurun dari 5% hingga 20%. Terakhir, pemisahan kotoran manusia dari kontak langsung dengan manusia dan lingkungannya, berarti orang-orang telah terlindungi dari penyakit-penyakit tersebut. Penyediaan akses ke fasilitas toilet dasar menurunkan tingkat penyebaran penyakit hingga dua kali lipat.
Sebanyak 58% kasus diare disebabkan pula oleh air tidak sehat dan sanitasi yang buruk dan tingkah laku yang tidak higienis.<ref>Annette Prüss-Ustün. [http://dx.doi.org/10.1111/tmi.12329 Burden of disease from inadequate water, sanitation and hygiene in low- and middle-income settings: a retrospective analysis of data from 145 countries]. ''Trop Med Int Health''. Wiley-Blackwell. 2014. Vol. 19 (8). hlm. 894–905. doi:10.1111/tmi.12329.</ref> Ini artinya, selama tahun 2013, lebih dari 340.000 anak-anak di bawah lima tahun meninggal akibat sanitasi dan air yang tidak higienis.<ref>[http://www.unicef.org/media/files/Levels_and_Trends_in_Child_Mortality_2014.pdf Levels & Trends in Child Mortality: Report 2014]. 2014.</ref> Penyediaan fasilitas sanitasi telah menurunkan tingkat penyakit diare anak-anak hingga 7–17%, dan tingkat kematian menurun dari 5% hingga 20%. Terakhir, pemisahan kotoran manusia dari kontak langsung dengan manusia dan lingkungannya, berarti orang-orang telah terlindungi dari penyakit-penyakit tersebut. Penyediaan akses ke fasilitas toilet dasar menurunkan tingkat penyebaran penyakit hingga dua kali lipat.<ref>Nathalia Gjersoe. [https://www.theguardian.com/science/head-quarters/2014/nov/20/world-toilet-day-yuck World Toilet Day. Yuck!]. ''the Guardian''.</ref>
 
== Referensi ==
 


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 18: Baris 17:
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hari+Toilet+Sedunia&oldid=24023340 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24023340 (2023-08-16T06:35:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hari+Toilet+Sedunia&oldid=24023340 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24023340 (2023-08-16T06:35:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.06

World Toilet Day (WTD) logo

Hari Toilet Sedunia (, disingkat "WTD") merupakan sebuah kampanye untuk memberikan motivasi dan menggerakkan penduduk dunia mengenai pentingnya sanitasi. Program yang pertama kali dibentuk oleh World Toilet Organization pada tahun 2001 ini ditujukan untuk membangkitkan kesadaran penduduk global mengenai isu sanitasi yang diadakan pada setiap tanggal 19 November. Sejak 2001, Hari Toilet Sedunia telah tumbuh dan diakui oleh partner dunia. Pada tahun 2013, PBB menandatangani penetapan Hari Toilet Sedunia menjadi hari internasional PBB dalam Resolusi PBB A/67/L.75 (UN Resolution A/67/L.75).[1]

Latar belakang

Pada tahun 2015, diperkirakan sebanyak 2,4 miliar (atau 1 dari 3 penduduk) kurang memiliki akses ke fasilitas sanitasi, dan kurang dari 1 miliar penduduk masih buang air besar di tempat terbuka.[2]

Penyebaran penyakit, seperti diare, schistosomiasis, dan malagizi pada anak-anak yang terkait dengan suatu keadaan bernama enteropati lingkungan, merupakan akibat langsung dari buang air besar di tempat terbuka.

Sebanyak 58% kasus diare disebabkan pula oleh air tidak sehat dan sanitasi yang buruk dan tingkah laku yang tidak higienis.[3] Ini artinya, selama tahun 2013, lebih dari 340.000 anak-anak di bawah lima tahun meninggal akibat sanitasi dan air yang tidak higienis.[4] Penyediaan fasilitas sanitasi telah menurunkan tingkat penyakit diare anak-anak hingga 7–17%, dan tingkat kematian menurun dari 5% hingga 20%. Terakhir, pemisahan kotoran manusia dari kontak langsung dengan manusia dan lingkungannya, berarti orang-orang telah terlindungi dari penyakit-penyakit tersebut. Penyediaan akses ke fasilitas toilet dasar menurunkan tingkat penyebaran penyakit hingga dua kali lipat.[5]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 24023340 (2023-08-16T06:35:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.