Lompat ke isi

DDT: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29078101; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''DDT''' (singkatan dari '''diklorodifeniltrikloroetana''', Bahasa Inggris: ''dichlorodiphenyltrichloroethane'') adalah senyawa kimia [[organoklorida]] berbentuk [[kristalinitas|kristalin]] yang tidak berwarna, tidak memiliki rasa, dan hampir tidak berbau. Awalnya ia dikembangkan sebagai [[insektisida]] dan terkenal akan dampak lingkungannya. DDT pertama kali disintesis oleh ahli kimia Austria [[Othmar Zeidler]] di tahun 1874, dan kemampuan DDT sebagai insektisida ditemukan oleh ahli kimia Swiss [[Paul Hermann Müller]] di tahun 1939. DDT digunakan pada masa [[Perang Dunia II]] untuk membatasi penyebaran penyakit [[malaria]] dan [[Rickettsia]] yang disebarkan oleh serangga kepada tentara dan masyarakat umum. Müller dianugerahi [[Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran]] tahun 1948 atas jasanya tersebut.
[[File:P,p'-dichlorodiphenyltrichloroethane.svg|thumb|right|280px|P,p'-dichlorodiphenyltrichloroethane]]
 
'''DDT''' (singkatan dari '''diklorodifeniltrikloroetana''', Bahasa Inggris: ''dichlorodiphenyltrichloroethane'') adalah senyawa kimia [[organoklorida]] berbentuk [[kristalinitas|kristalin]] yang tidak berwarna, tidak memiliki rasa, dan hampir tidak berbau.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=DDT&oldid=29078101 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Awalnya ia dikembangkan sebagai [[insektisida]] dan terkenal akan dampak lingkungannya. DDT pertama kali disintesis oleh ahli kimia Austria [[Othmar Zeidler]] di tahun 1874, dan kemampuan DDT sebagai insektisida ditemukan oleh ahli kimia Swiss [[Paul Hermann Müller]] di tahun 1939. DDT digunakan pada masa [[Perang Dunia II]] untuk membatasi penyebaran penyakit [[malaria]] dan [[Rickettsia]] yang disebarkan oleh serangga kepada tentara dan masyarakat umum. Müller dianugerahi [[Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran]] tahun 1948 atas jasanya tersebut.<ref>[http://nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/1948/ NobelPrize.org: The Nobel Prize in Physiology of Medicine 1948], accessed July 26, 2007.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Ahli Kimia [[Swiss]] [[Paul Hermann Müller]] dalam [[1948]] mendapatkan penghargaan [[nobel]] atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga. Penggunaan DDT berkembang pesat setelah [[perang dunia kedua]], tetapi konsekuensi [[ekologi]]s belum begitu dirasakan. Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.
Ahli Kimia [[Swiss]] [[Paul Hermann Müller]] dalam [[1948]] mendapatkan penghargaan [[nobel]] atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga.<ref>Nobelprize.org. 1979. The nobel prize in physiology or medicine 1948 [terhubung berkala]. http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/1948/ [29 Mei 2014]</ref> Penggunaan DDT berkembang pesat setelah [[perang dunia kedua]], tetapi konsekuensi [[ekologi]]s belum begitu dirasakan.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref> Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref>


== Dampak ==
== Dampak ==
Dampak yang pertama kali dirasakan pada tahun [[1950]] adalah penurunan [[populasi]] burung [[pelikan]], [[elang tiram]], dan [[elang]], burung-burung tersebut merupakan puncak dari [[jaring-jaring makanan]]. Setelah diteliti, ternyata DDT dapat menurunkan jumlah [[kalsium]] pada cangkang telur. Ketika burung tersebut mengerami telur, telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan bobot inang. Sehingga pada tahun 1971, DDT dilarang dari Amerika Serikat.
Dampak yang pertama kali dirasakan pada tahun [[1950]] adalah penurunan [[populasi]] burung [[pelikan]], [[elang tiram]], dan [[elang]], burung-burung tersebut merupakan puncak dari [[jaring-jaring makanan]].<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref> Setelah diteliti, ternyata DDT dapat menurunkan jumlah [[kalsium]] pada cangkang telur.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref> Ketika burung tersebut mengerami telur, telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan bobot inang.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref> Sehingga pada tahun 1971, DDT dilarang dari Amerika Serikat.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref>


== Penggunaan saat ini ==
== Penggunaan saat ini ==
Hingga saat ini DDT masih digunakan untuk mengendalikan nyamuk yang menyebarkan [[malaria]] dan penyakit lainnya, tetapi jumlahnya sudah semakin berkurang dengan adanya alternatif seperti penggunaan kawat nyamuk.
Hingga saat ini DDT masih digunakan untuk mengendalikan nyamuk yang menyebarkan [[malaria]] dan penyakit lainnya, tetapi jumlahnya sudah semakin berkurang dengan adanya alternatif seperti penggunaan kawat nyamuk.<ref>Reece ''et al''. 2011. ''Campbell Biology''. Ed ke-9. New York: Springer.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=DDT&oldid=29078101 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29078101 (2026-03-28T02:16:25Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=DDT&oldid=29078101 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29078101 (2026-03-28T02:16:25Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.07

Berkas:P,p'-dichlorodiphenyltrichloroethane.svg
P,p'-dichlorodiphenyltrichloroethane

DDT (singkatan dari diklorodifeniltrikloroetana, Bahasa Inggris: dichlorodiphenyltrichloroethane) adalah senyawa kimia organoklorida berbentuk kristalin yang tidak berwarna, tidak memiliki rasa, dan hampir tidak berbau.[1] Awalnya ia dikembangkan sebagai insektisida dan terkenal akan dampak lingkungannya. DDT pertama kali disintesis oleh ahli kimia Austria Othmar Zeidler di tahun 1874, dan kemampuan DDT sebagai insektisida ditemukan oleh ahli kimia Swiss Paul Hermann Müller di tahun 1939. DDT digunakan pada masa Perang Dunia II untuk membatasi penyebaran penyakit malaria dan Rickettsia yang disebarkan oleh serangga kepada tentara dan masyarakat umum. Müller dianugerahi Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 1948 atas jasanya tersebut.[2]

Sejarah

Ahli Kimia Swiss Paul Hermann Müller dalam 1948 mendapatkan penghargaan nobel atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga.[3] Penggunaan DDT berkembang pesat setelah perang dunia kedua, tetapi konsekuensi ekologis belum begitu dirasakan.[4] Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.[5]

Dampak

Dampak yang pertama kali dirasakan pada tahun 1950 adalah penurunan populasi burung pelikan, elang tiram, dan elang, burung-burung tersebut merupakan puncak dari jaring-jaring makanan.[6] Setelah diteliti, ternyata DDT dapat menurunkan jumlah kalsium pada cangkang telur.[7] Ketika burung tersebut mengerami telur, telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan bobot inang.[8] Sehingga pada tahun 1971, DDT dilarang dari Amerika Serikat.[9]

Penggunaan saat ini

Hingga saat ini DDT masih digunakan untuk mengendalikan nyamuk yang menyebarkan malaria dan penyakit lainnya, tetapi jumlahnya sudah semakin berkurang dengan adanya alternatif seperti penggunaan kawat nyamuk.[10]

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. NobelPrize.org: The Nobel Prize in Physiology of Medicine 1948, accessed July 26, 2007.
  3. Nobelprize.org. 1979. The nobel prize in physiology or medicine 1948 [terhubung berkala]. http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/1948/ [29 Mei 2014]
  4. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  5. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  6. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  7. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  8. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  9. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.
  10. Reece et al. 2011. Campbell Biology. Ed ke-9. New York: Springer.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29078101 (2026-03-28T02:16:25Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.