Lompat ke isi

Asam absisat: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28587021; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Asam absisat''' adalah [[molekul]] [[terpenoid|seskuiterpenoid]] (memiliki 15 [[atom]] [[karbon]]) yang merupakan salah satu [[hormon tumbuhan]]. Selain dihasilkan secara alami oleh oleh tumbuhan, hormon ini juga dihasilkan oleh [[alga hijau]] dan [[fungi|cendawan]]. Hormon ini ditemukan pada tahun 1963 oleh [[Frederick Addicott]]. Addicott berhasil mengisolasi senyawa ''abscisin'' I dan II dari tumbuhan [[kapas]]. Senyawa abscisin II kelak disebut dengan asam absisat, disingkat ABA. Pada saat yang bersamaan, dua kelompok peneliti lain yang masing-masing dipimpin oleh [[Philip Wareing]] dan [[Van Steveninck]] juga melakukan penelitian terhadap hormon tersebut.
[[File:Abscisic_acid_Structural_Formula_V1.svg|thumb|right|280px|Abscisic acid Structural Formula V1]]
 
'''Asam absisat''' adalah [[molekul]] [[terpenoid|seskuiterpenoid]] (memiliki 15 [[atom]] [[karbon]]) yang merupakan salah satu [[hormon tumbuhan]].<ref>Salisbury FB, Ross CW. ''Plant Physiology''. Belmont. 1992.</ref> Selain dihasilkan secara alami oleh oleh tumbuhan, hormon ini juga dihasilkan oleh [[alga hijau]] dan [[fungi|cendawan]].<ref>Salisbury FB, Ross CW. ''Plant Physiology''. Belmont. 1992.</ref> Hormon ini ditemukan pada tahun 1963 oleh [[Frederick Addicott]]. Addicott berhasil mengisolasi senyawa ''abscisin'' I dan II dari tumbuhan [[kapas]].<ref>Salisbury FB, Ross CW. ''Plant Physiology''. Belmont. 1992.</ref> Senyawa abscisin II kelak disebut dengan asam absisat, disingkat ABA.<ref>Salisbury FB, Ross CW. ''Plant Physiology''. Belmont. 1992.</ref> Pada saat yang bersamaan, dua kelompok peneliti lain yang masing-masing dipimpin oleh [[Philip Wareing]] dan [[Van Steveninck]] juga melakukan penelitian terhadap hormon tersebut.<ref>Salisbury FB, Ross CW. ''Plant Physiology''. Belmont. 1992.</ref>


== Fungsi ==
== Fungsi ==
Asam absisat berperan penting pemulaian (inisiasi) [[dormansi]] [[biji]].<ref>Linda RB. ''Introductory Botany: Plants, People, and the Environment''. Brooks Cole. 2007.</ref> Dalam keadaan [[dorman]] atau "istirahat", tidak terjadi [[pertumbuhan]] dan aktivitas [[fisiologis]] berhenti sementara.<ref>Linda RB. ''Introductory Botany: Plants, People, and the Environment''. Brooks Cole. 2007.</ref> Proses dormansi biji ini penting untuk menjaga agar biji tidak berkecambah sebelum waktu yang tidak dikehendaki.<ref>Linda RB. ''Introductory Botany: Plants, People, and the Environment''. Brooks Cole. 2007.</ref> Hal ini terutama sangat dibutuhkan pada [[tumbuhan tahunan]] dan [[tumbuhan dwimusim]] yang bijinya memerlukan cadangan makanan di [[musim dingin]] ataupun [[musim panas]] panjang<ref>Linda RB. ''Introductory Botany: Plants, People, and the Environment''. Brooks Cole. 2007.</ref>


Tumbuhan menghasilkan ABA untuk [[maturasi]] biji dan menjaga biji agar berkecambah di musim yang diinginkan.<ref>Linda RB. ''Introductory Botany: Plants, People, and the Environment''. Brooks Cole. 2007.</ref>


Asam absisat berperan penting pemulaian (inisiasi) [[dormansi]] [[biji]]. Dalam keadaan [[dorman]] atau "istirahat", tidak terjadi [[pertumbuhan]] dan aktivitas [[fisiologis]] berhenti sementara. Proses dormansi biji ini penting untuk menjaga agar biji tidak berkecambah sebelum waktu yang tidak dikehendaki. Hal ini terutama sangat dibutuhkan pada [[tumbuhan tahunan]] dan [[tumbuhan dwimusim]] yang bijinya memerlukan cadangan makanan di [[musim dingin]] ataupun [[musim panas]] panjang
ABA juga sangat penting untuk menghadapi kondisi cekaman lingkungan, seperti [[kekeringan]]. Hormon ini merangsang penutupan [[stomata]] pada [[epidermis]] [[daun]] dengan menurunkan [[tekanan osmotik]] dalam sel dan menyebabkan [[turgor]] [[sel (biologi)|sel]].<ref>Campbell NA, Reece JB. ''Biology, 7th Edition''. Benjamin Cummings. 2004.</ref> Akibatnya, kehilangan cairan tanaman yang disebabkan oleh [[transpirasi]] melalui stomata dapat dicegah. ABA juga mencegah kehilangan air dari tubuh tumbuhan dengan membentuk lapisan [[epikutikula]] atau [[lapisan lilin]].<ref>Campbell NA, Reece JB. ''Biology, 7th Edition''. Benjamin Cummings. 2004.</ref> Selain itu, ABA juga dapat menstimulasi pengambilan air melalui [[akar]].<ref>Lerner HR. ''Plant Responses to Environmental Stresses: From Phytohormones to Genome Reorganization: From Phytohormones to Genome Reorganization''. CRC Press. 1999.</ref> Selain untuk menghadapi kekeringan, ABA juga berfungsi dalam menghadapi lingkungan dengan suhu rendah dan kadar garam atau [[salinitas]] yang tinggi.<ref>Arteca RN. ''Plant growth substances: principles and applications''. Springer. 1995.</ref> Peningkatan konsentrasi ABA pada [[daun]] dapat diinduksi oleh konsentrasi garam yang tinggi pada akar.<ref>Arteca RN. ''Plant growth substances: principles and applications''. Springer. 1995.</ref> Dalam menghadapi musim dingin, ABA akan menghentikan pertumbuhan primer dan sekunder<ref>Campbell NA, Reece JB. ''Biology, 7th Edition''. Benjamin Cummings. 2004.</ref> Hormon yang dihasilkan pada [[tunas]] terminal ini akan memperlambat pertumbuhan dan memicu perkembangan [[primordia daun]] menjadi sisik yang berfungsi melindungi tunas dorman selama [[musim dingin]].<ref>Campbell NA, Reece JB. ''Biology, 7th Edition''. Benjamin Cummings. 2004.</ref> ABA juga akan menghambat pembelahan sel [[kambium]] pembuluh.<ref>Campbell NA, Reece JB. ''Biology, 7th Edition''. Benjamin Cummings. 2004.</ref>
 
Tumbuhan menghasilkan ABA untuk [[maturasi]] biji dan menjaga biji agar berkecambah di musim yang diinginkan.
 
ABA juga sangat penting untuk menghadapi kondisi cekaman lingkungan, seperti [[kekeringan]]. Hormon ini merangsang penutupan [[stomata]] pada [[epidermis]] [[daun]] dengan menurunkan [[tekanan osmotik]] dalam sel dan menyebabkan [[turgor]] [[sel (biologi)|sel]]. Akibatnya, kehilangan cairan tanaman yang disebabkan oleh [[transpirasi]] melalui stomata dapat dicegah. ABA juga mencegah kehilangan air dari tubuh tumbuhan dengan membentuk lapisan [[epikutikula]] atau [[lapisan lilin]]. Selain itu, ABA juga dapat menstimulasi pengambilan air melalui [[akar]]. Selain untuk menghadapi kekeringan, ABA juga berfungsi dalam menghadapi lingkungan dengan suhu rendah dan kadar garam atau [[salinitas]] yang tinggi. Peningkatan konsentrasi ABA pada [[daun]] dapat diinduksi oleh konsentrasi garam yang tinggi pada akar. Dalam menghadapi musim dingin, ABA akan menghentikan pertumbuhan primer dan sekunder Hormon yang dihasilkan pada [[tunas]] terminal ini akan memperlambat pertumbuhan dan memicu perkembangan [[primordia daun]] menjadi sisik yang berfungsi melindungi tunas dorman selama [[musim dingin]]. ABA juga akan menghambat pembelahan sel [[kambium]] pembuluh.


== Biosintesis ==
== Biosintesis ==
Biosintesis ABA dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan [[karotenoid]], suatu [[pigmen tumbuhan|pigmen]] yang dihasilkan oleh [[kloroplas]]. Ada dua jalur [[metabolisme]] yang dapat ditempuh untuk menghasilkan ABA, yaitu jalur [[asam mevalonat]] (MVA) dan jalur [[metileritritol fosfat]] (MEP). Secara tidak langsung, ABA dihasilkan dari [[oksidasi]] senyawa ''[[violaxanthonin]]'' menjadi ''[[xanthonin]]'' yang akan dikonversi menjadi ABA. Sedangkan pada beberapa jenis cendawan patogenik, ABA dihasilkan secara langsung dari molekul [[isoprenoid]] C<sub>15</sub>, yaitu [[farnesil difosfat]].
Biosintesis ABA dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan [[karotenoid]], suatu [[pigmen tumbuhan|pigmen]] yang dihasilkan oleh [[kloroplas]].<ref>Peter J. Davies. ''Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!''. Springer. 2005.</ref> Ada dua jalur [[metabolisme]] yang dapat ditempuh untuk menghasilkan ABA, yaitu jalur [[asam mevalonat]] (MVA) dan jalur [[metileritritol fosfat]] (MEP).<ref>Peter J. Davies. ''Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!''. Springer. 2005.</ref> Secara tidak langsung, ABA dihasilkan dari [[oksidasi]] senyawa ''[[violaxanthonin]]'' menjadi ''[[xanthonin]]'' yang akan dikonversi menjadi ABA.<ref>Peter J. Davies. ''Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!''. Springer. 2005.</ref> Sedangkan pada beberapa jenis cendawan patogenik, ABA dihasilkan secara langsung dari molekul [[isoprenoid]] C<sub>15</sub>, yaitu [[farnesil difosfat]].<ref>Peter J. Davies. ''Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!''. Springer. 2005.</ref>


== Transportasi dalam tubuh tumbuhan ==
== Transportasi dalam tubuh tumbuhan ==
Pengangkutan hormon ABA dapat terjadi baik di [[xilem]] maupun [[floem]] dan arah pergerakannya bisa naik atau turun. Transportasi ABA dari [[floem]] menuju ke daun dapat dirangsang oleh [[salinitas]] (kegaraman tinggi). Pada tumbuhan tertentu, terdapat perbedaan transportasi ABA dalam siklus hidupnya. Daun muda memerlukan ABA dari xilem dan floem, sedangkan daun dewasa merupakan sumber dari ABA dan dapat ditranspor ke luar daun.
Pengangkutan hormon ABA dapat terjadi baik di [[xilem]] maupun [[floem]] dan arah pergerakannya bisa naik atau turun.<ref>W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. [http://jxb.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/48/9/1737 Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity]. ''* Journal of Experimental Botany''. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.</ref> Transportasi ABA dari [[floem]] menuju ke daun dapat dirangsang oleh [[salinitas]] (kegaraman tinggi).<ref>W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. [http://jxb.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/48/9/1737 Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity]. ''* Journal of Experimental Botany''. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.</ref> Pada tumbuhan tertentu, terdapat perbedaan transportasi ABA dalam siklus hidupnya.<ref>W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. [http://jxb.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/48/9/1737 Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity]. ''* Journal of Experimental Botany''. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.</ref> Daun muda memerlukan ABA dari xilem dan floem, sedangkan daun dewasa merupakan sumber dari ABA dan dapat ditranspor ke luar daun.<ref>W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. [http://jxb.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/48/9/1737 Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity]. ''* Journal of Experimental Botany''. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asam+absisat&oldid=28587021 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28587021 (2025-11-21T11:42:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asam+absisat&oldid=28587021 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28587021 (2025-11-21T11:42:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 08.59

Abscisic acid Structural Formula V1

Asam absisat adalah molekul seskuiterpenoid (memiliki 15 atom karbon) yang merupakan salah satu hormon tumbuhan.[1] Selain dihasilkan secara alami oleh oleh tumbuhan, hormon ini juga dihasilkan oleh alga hijau dan cendawan.[2] Hormon ini ditemukan pada tahun 1963 oleh Frederick Addicott. Addicott berhasil mengisolasi senyawa abscisin I dan II dari tumbuhan kapas.[3] Senyawa abscisin II kelak disebut dengan asam absisat, disingkat ABA.[4] Pada saat yang bersamaan, dua kelompok peneliti lain yang masing-masing dipimpin oleh Philip Wareing dan Van Steveninck juga melakukan penelitian terhadap hormon tersebut.[5]

Fungsi

Asam absisat berperan penting pemulaian (inisiasi) dormansi biji.[6] Dalam keadaan dorman atau "istirahat", tidak terjadi pertumbuhan dan aktivitas fisiologis berhenti sementara.[7] Proses dormansi biji ini penting untuk menjaga agar biji tidak berkecambah sebelum waktu yang tidak dikehendaki.[8] Hal ini terutama sangat dibutuhkan pada tumbuhan tahunan dan tumbuhan dwimusim yang bijinya memerlukan cadangan makanan di musim dingin ataupun musim panas panjang[9]

Tumbuhan menghasilkan ABA untuk maturasi biji dan menjaga biji agar berkecambah di musim yang diinginkan.[10]

ABA juga sangat penting untuk menghadapi kondisi cekaman lingkungan, seperti kekeringan. Hormon ini merangsang penutupan stomata pada epidermis daun dengan menurunkan tekanan osmotik dalam sel dan menyebabkan turgor sel.[11] Akibatnya, kehilangan cairan tanaman yang disebabkan oleh transpirasi melalui stomata dapat dicegah. ABA juga mencegah kehilangan air dari tubuh tumbuhan dengan membentuk lapisan epikutikula atau lapisan lilin.[12] Selain itu, ABA juga dapat menstimulasi pengambilan air melalui akar.[13] Selain untuk menghadapi kekeringan, ABA juga berfungsi dalam menghadapi lingkungan dengan suhu rendah dan kadar garam atau salinitas yang tinggi.[14] Peningkatan konsentrasi ABA pada daun dapat diinduksi oleh konsentrasi garam yang tinggi pada akar.[15] Dalam menghadapi musim dingin, ABA akan menghentikan pertumbuhan primer dan sekunder[16] Hormon yang dihasilkan pada tunas terminal ini akan memperlambat pertumbuhan dan memicu perkembangan primordia daun menjadi sisik yang berfungsi melindungi tunas dorman selama musim dingin.[17] ABA juga akan menghambat pembelahan sel kambium pembuluh.[18]

Biosintesis

Biosintesis ABA dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan karotenoid, suatu pigmen yang dihasilkan oleh kloroplas.[19] Ada dua jalur metabolisme yang dapat ditempuh untuk menghasilkan ABA, yaitu jalur asam mevalonat (MVA) dan jalur metileritritol fosfat (MEP).[20] Secara tidak langsung, ABA dihasilkan dari oksidasi senyawa violaxanthonin menjadi xanthonin yang akan dikonversi menjadi ABA.[21] Sedangkan pada beberapa jenis cendawan patogenik, ABA dihasilkan secara langsung dari molekul isoprenoid C15, yaitu farnesil difosfat.[22]

Transportasi dalam tubuh tumbuhan

Pengangkutan hormon ABA dapat terjadi baik di xilem maupun floem dan arah pergerakannya bisa naik atau turun.[23] Transportasi ABA dari floem menuju ke daun dapat dirangsang oleh salinitas (kegaraman tinggi).[24] Pada tumbuhan tertentu, terdapat perbedaan transportasi ABA dalam siklus hidupnya.[25] Daun muda memerlukan ABA dari xilem dan floem, sedangkan daun dewasa merupakan sumber dari ABA dan dapat ditranspor ke luar daun.[26]

Referensi

  1. Salisbury FB, Ross CW. Plant Physiology. Belmont. 1992.
  2. Salisbury FB, Ross CW. Plant Physiology. Belmont. 1992.
  3. Salisbury FB, Ross CW. Plant Physiology. Belmont. 1992.
  4. Salisbury FB, Ross CW. Plant Physiology. Belmont. 1992.
  5. Salisbury FB, Ross CW. Plant Physiology. Belmont. 1992.
  6. Linda RB. Introductory Botany: Plants, People, and the Environment. Brooks Cole. 2007.
  7. Linda RB. Introductory Botany: Plants, People, and the Environment. Brooks Cole. 2007.
  8. Linda RB. Introductory Botany: Plants, People, and the Environment. Brooks Cole. 2007.
  9. Linda RB. Introductory Botany: Plants, People, and the Environment. Brooks Cole. 2007.
  10. Linda RB. Introductory Botany: Plants, People, and the Environment. Brooks Cole. 2007.
  11. Campbell NA, Reece JB. Biology, 7th Edition. Benjamin Cummings. 2004.
  12. Campbell NA, Reece JB. Biology, 7th Edition. Benjamin Cummings. 2004.
  13. Lerner HR. Plant Responses to Environmental Stresses: From Phytohormones to Genome Reorganization: From Phytohormones to Genome Reorganization. CRC Press. 1999.
  14. Arteca RN. Plant growth substances: principles and applications. Springer. 1995.
  15. Arteca RN. Plant growth substances: principles and applications. Springer. 1995.
  16. Campbell NA, Reece JB. Biology, 7th Edition. Benjamin Cummings. 2004.
  17. Campbell NA, Reece JB. Biology, 7th Edition. Benjamin Cummings. 2004.
  18. Campbell NA, Reece JB. Biology, 7th Edition. Benjamin Cummings. 2004.
  19. Peter J. Davies. Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!. Springer. 2005.
  20. Peter J. Davies. Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!. Springer. 2005.
  21. Peter J. Davies. Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!. Springer. 2005.
  22. Peter J. Davies. Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action!. Springer. 2005.
  23. W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity. * Journal of Experimental Botany. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.
  24. W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity. * Journal of Experimental Botany. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.
  25. W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity. * Journal of Experimental Botany. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.
  26. W. Dieter Jaschke, Andreas D. Peuke1, John S. Pate, Wolfram Hartung. Transport, synthesis and catabolism of abscisic acid (ABA) in intact plants of castor bean (Ricinus communis L.) under phosphate deficiency and moderate salinity. * Journal of Experimental Botany. 1997. Vol. 48 (9). hlm. 1737-1747.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28587021 (2025-11-21T11:42:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.