Strategi berbasis konsep: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29584786; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Strategi berbasis konsep''' adalah proses untuk merumuskan [[strategi]] yang didasarkan pada penjelasan tentang bagaimana manusia bertanya yang disediakan oleh filsafat pragmatisme linguistik. Ini berpendapat bahwa berpikir dimulai dengan memilih (secara eksplisit atau implisit) serangkaian [[konsep]] (kerangka, pola, lensa, prinsip, dll.) yang diperoleh dari pengalaman masa lalu kita. Konsep-konsep ini digunakan untuk merefleksikan apa pun yang terjadi, atau dilakukan, di masa depan. | '''Strategi berbasis konsep''' adalah proses untuk merumuskan [[strategi]] yang didasarkan pada penjelasan tentang bagaimana manusia bertanya yang disediakan oleh filsafat pragmatisme linguistik. Ini berpendapat bahwa berpikir dimulai dengan memilih (secara eksplisit atau implisit) serangkaian [[konsep]] (kerangka, pola, lensa, prinsip, dll.) yang diperoleh dari pengalaman masa lalu kita. Konsep-konsep ini digunakan untuk merefleksikan apa pun yang terjadi, atau dilakukan, di masa depan.<ref>James, W. 1911/1996. Some Problems of Philosophy. University of Nebraska Press Nebraska.</ref> | ||
Oleh karena itu, strategi konsep-didorong dimulai dari menyepakati dan melaksanakan serangkaian konsep strategis ([[organizing principle]]s) yang "paling cocok" untuk suatu organisasi. Misalnya, sebuah rumah sakit mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Peduli, Kelas Dunia, Lokal, Berbasis Bukti, dan Berbasis Tim. Sebuah universitas mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Terkenal, Pemecah Masalah, Daring, Equis, dan Menawarkan Jalur. Sebuah perusahaan komersial mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Inovatif, Global, Memiliki Rantai Pasokan yang Terlihat, Gesit, dan Dominan dalam Pangsa Pasar. Konsep-konsep strategis ini membentuk ''pernyataan niat'' (atau tujuan) organisasi tersebut. | Oleh karena itu, strategi konsep-didorong dimulai dari menyepakati dan melaksanakan serangkaian konsep strategis ([[organizing principle]]s) yang "paling cocok" untuk suatu organisasi. Misalnya, sebuah rumah sakit mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Peduli, Kelas Dunia, Lokal, Berbasis Bukti, dan Berbasis Tim. Sebuah universitas mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Terkenal, Pemecah Masalah, Daring, Equis, dan Menawarkan Jalur. Sebuah perusahaan komersial mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Inovatif, Global, Memiliki Rantai Pasokan yang Terlihat, Gesit, dan Dominan dalam Pangsa Pasar. Konsep-konsep strategis ini membentuk ''pernyataan niat'' (atau tujuan) organisasi tersebut. | ||
| Baris 6: | Baris 6: | ||
Sebagian besar literatur [[manajemen strategis]] mengadaptasi seruan [[Peter Drucker]] agar perusahaan memulai proses manajemen strategis dengan menghasilkan pernyataan tujuan, misi, dan objektif. Ini telah berubah menjadi seruan untuk memulai dengan pernyataan visi, misi, dan objektif. Ada pendekatan alternatif yang berfokus pada pernyataan tujuan atau niat. Contoh Drucker untuk pernyataan ini bagi perusahaan komersial adalah menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah menciptakan pelanggan. Artinya, perusahaan akan menggunakan konsep 'penciptaan pelanggan' untuk mengoordinasikan dan mengatur [[kognisi]] atau pola pikir dari mereka yang bekerja untuk organisasi tersebut. Inilah alasan keberadaan perusahaan. Memiliki satu konsep kini dianggap tidak memadai. Modifikasi [[George Armitage Miller]] pada [[The Magical Number Seven, Plus or Minus Two]] dan [[dialektika]] menyarankan bahwa sejumlah konsep yang berada dalam ketegangan akan lebih disukai. | Sebagian besar literatur [[manajemen strategis]] mengadaptasi seruan [[Peter Drucker]] agar perusahaan memulai proses manajemen strategis dengan menghasilkan pernyataan tujuan, misi, dan objektif. Ini telah berubah menjadi seruan untuk memulai dengan pernyataan visi, misi, dan objektif. Ada pendekatan alternatif yang berfokus pada pernyataan tujuan atau niat. Contoh Drucker untuk pernyataan ini bagi perusahaan komersial adalah menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah menciptakan pelanggan. Artinya, perusahaan akan menggunakan konsep 'penciptaan pelanggan' untuk mengoordinasikan dan mengatur [[kognisi]] atau pola pikir dari mereka yang bekerja untuk organisasi tersebut. Inilah alasan keberadaan perusahaan. Memiliki satu konsep kini dianggap tidak memadai. Modifikasi [[George Armitage Miller]] pada [[The Magical Number Seven, Plus or Minus Two]] dan [[dialektika]] menyarankan bahwa sejumlah konsep yang berada dalam ketegangan akan lebih disukai. | ||
Oleh karena itu, pernyataan tujuan, pernyataan niat, atau pendekatan strategi konsep-didorong berfokus pada penetapan dan pelaksanaan serangkaian konsep strategis. Jika pendekatan partisipatif digunakan, konsep-konsep ini akan diperoleh melalui proses kolaborasi dengan [[pemangku kepentingan]]. Setelah disepakati, konsep-konsep strategis ini dapat digunakan untuk mengoordinasikan aktivitas dan bertindak sebagai serangkaian kriteria [[pengambilan keputusan]]. Kumpulan konsep yang membentuk Pernyataan Niat kemudian digunakan untuk memahami masa depan yang tidak dapat diprediksi secara terkoordinasi di seluruh organisasi. | Oleh karena itu, pernyataan tujuan, pernyataan niat, atau pendekatan strategi konsep-didorong berfokus pada penetapan dan pelaksanaan serangkaian konsep strategis. Jika pendekatan partisipatif digunakan, konsep-konsep ini akan diperoleh melalui proses kolaborasi dengan [[pemangku kepentingan]]. Setelah disepakati, konsep-konsep strategis ini dapat digunakan untuk mengoordinasikan aktivitas dan bertindak sebagai serangkaian kriteria [[pengambilan keputusan]]. Kumpulan konsep yang membentuk Pernyataan Niat kemudian digunakan untuk memahami masa depan yang tidak dapat diprediksi secara terkoordinasi di seluruh organisasi.<ref>Metcalfe M. A Pragmatic System of Decision Criteria Systems Research and Behavioral Science 2012</ref><ref>McKenna Allen, Metcalfe Mike. ''The linguistic turn in project conceptualization''. ''International Journal of Project Management''. 2013. Vol. 31 (8). hlm. 1154–1162. doi:10.1016/j.ijproman.2012.12.006.</ref> | ||
== Filosofi dasar == | == Filosofi dasar == | ||
[[Pragmatisme]] linguistik berpendapat bahwa konsepsi kita sebelumnya menginterpretasikan persepsi kita (masukan sensorik). Konsepsi ini direpresentasikan oleh konsep-konsep seperti berlari, tersenyum, keadilan, penalaran, dan kelincahan. Mereka adalah pola aktivitas yang dialami di masa lalu dan diingat. Mereka dapat dinamai oleh mereka yang memiliki bahasa sehingga dapat dibagikan. | [[Pragmatisme]] linguistik berpendapat bahwa konsepsi kita sebelumnya menginterpretasikan persepsi kita (masukan sensorik). Konsepsi ini direpresentasikan oleh konsep-konsep seperti berlari, tersenyum, keadilan, penalaran, dan kelincahan. Mereka adalah pola aktivitas yang dialami di masa lalu dan diingat. Mereka dapat dinamai oleh mereka yang memiliki bahasa sehingga dapat dibagikan.<ref>Rorty, R. 1982. Consequences of Pragmatism. University of Minnesota Press, Minneapolis.</ref><ref>Schon, D.A. 1963. Displacement of Concepts. Tavistock Publications, London.</ref><ref>Shields, P. 2005. Classical Pragmatism does not need an Upgrade. Administration & Society 37(4) 504-518</ref><ref>Brandom, R., B,. 2011. Perspectives On Pragmatism. Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts</ref><ref>Haack, S. 2006. Pragmatism: Old and New. Prometheus Books, New York.</ref><ref>Toulmin, S. 1972. Human Understanding: The Collective Use and Evolution of Concepts. Princeton University Press, Princeton New Jersey.</ref> | ||
Baggini menjelaskan konsep-konsep pragmatis dengan menggunakan contoh klasik tentang apakah bumi itu datar atau bulat. | Baggini menjelaskan konsep-konsep pragmatis dengan menggunakan contoh klasik tentang apakah bumi itu datar atau bulat.<ref>Baggini, J. 2005. Pragmatism History Of Ideas. BBC Radio 4, London.</ref> | ||
Contoh lain adalah bahwa kita dapat memikirkan perang di Irak secara berbeda dengan merenungkan konsep keamanan minyak, imperialisme, kapitalisme agresif, pembebasan, atau demokrasi. | |||
Contoh lain adalah bahwa kita dapat memikirkan perang di Irak secara berbeda dengan merenungkan konsep keamanan minyak, imperialisme, kapitalisme agresif, pembebasan, atau demokrasi. | Pendekatan konsep-didorong dalam perumusan strategi melibatkan penetapan dan penggunaan serangkaian konsep pragmatisme linguistik.<ref>Metcalfe M Pragmatic inquiry Journal of the Operational Research Society (2008) 59</ref> | ||
Pendekatan konsep-didorong dalam perumusan strategi melibatkan penetapan dan penggunaan serangkaian konsep pragmatisme linguistik. | |||
== Metode == | == Metode == | ||
| Baris 35: | Baris 34: | ||
Strategi konsep-didorong adalah nama yang diberikan untuk sejumlah pendekatan [[pemikiran strategis]] yang serupa. | Strategi konsep-didorong adalah nama yang diberikan untuk sejumlah pendekatan [[pemikiran strategis]] yang serupa. | ||
Secara umum, istilah 'konsep-didorong' digunakan untuk mendorong fokus pada 'konsep' yang digunakan. Lihat [[pembelajaran konsep]] atau Manajemen Konsep. | Secara umum, istilah 'konsep-didorong' digunakan untuk mendorong fokus pada 'konsep' yang digunakan.<ref>Mareschal, D., P. Quinn, S. Lea. 2010. The Making of Human Concepts. Oxford University Press, Oxford.</ref><ref>Shaw, M.L.G., B.R. Gaines. 1989. Comparing Conceptual Structures: Consensus, Conflict, Correspondence and Contrast. Knowledge Acquisition 1 341-363.</ref> Lihat [[pembelajaran konsep]] atau Manajemen Konsep.<ref>Management Concepts Wikibooks http://en.wikibooks.org/wiki/Management_Concepts_and_Applications/Management</ref> | ||
Beberapa organisasi membuat 'pernyataan niat' tanpa banyak memikirkan konsep yang terkandung di dalamnya. Namun, jika itu adalah daftar pendek konsep, tujuan tingkat tinggi, prinsip, prioritas, atau kerangka, maka strategi konsep-didorong menawarkan dasar filosofis untuk pernyataan-pernyataan ini. | Beberapa organisasi membuat 'pernyataan niat' tanpa banyak memikirkan konsep yang terkandung di dalamnya.<ref>Hamel, G., C.K. Prahalad. 2005. Strategic Intent. Harvard Business Review 83(7/8) 148-161.</ref><ref>Katada, T. 1994. Strategic Intent to Corporate Purpose: The Remaking of Komatsu. Harvard Business Review 72(6) 83-.</ref><ref>Saku M., Sillance J.A.A. ''Strategic Intent as a Rhetorical Device''. ''Scandinavian Journal of Management''. 2007. Vol. 23 (4). hlm. 406–423. doi:10.1016/j.scaman.2007.03.002.</ref> Namun, jika itu adalah daftar pendek konsep, tujuan tingkat tinggi, prinsip, prioritas, atau kerangka, maka strategi konsep-didorong menawarkan dasar filosofis untuk pernyataan-pernyataan ini. | ||
Beberapa organisasi membuat pernyataan 'prinsip strategis' yang lagi-lagi mirip dengan pernyataan niat, dan hal yang sama berlaku bahwa pendekatan konsep menawarkan dasar filosofis. Istilah 'prioritas strategis' atau 'nilai strategis' sering digunakan dengan cara yang sama seperti prinsip strategis. | Beberapa organisasi membuat pernyataan 'prinsip strategis'<ref>How to Turn a Great Strategic Principle into Great Results http://www.strategydriven.com/2011/06/27/how-to-turn-a-great-strategic-principle-into-great-results/</ref> yang lagi-lagi mirip dengan pernyataan niat, dan hal yang sama berlaku bahwa pendekatan konsep menawarkan dasar filosofis. Istilah 'prioritas strategis' atau 'nilai strategis' sering digunakan dengan cara yang sama seperti prinsip strategis. | ||
Literatur tentang 'tujuan perusahaan' juga mirip dengan niat strategis. Kadang-kadang, tujuan merujuk pada tindakan saat ini dan niat pada tindakan masa depan. Jika tujuan diekspresikan sebagai serangkaian konsep, maka pendekatan konsep memberikan beberapa dasar filosofis. | Literatur tentang 'tujuan perusahaan'<ref>Basu, S. 1999. Corporate Purpose: Why it Matters More than Strategy. Garland Publishing, Inc, New York & London.</ref><ref>Ellsworth, R., R. 2002. Leading with Purpose. Stanford University Press, California.</ref> juga mirip dengan niat strategis. Kadang-kadang, tujuan merujuk pada tindakan saat ini dan niat pada tindakan masa depan. Jika tujuan diekspresikan sebagai serangkaian konsep, maka pendekatan konsep memberikan beberapa dasar filosofis. | ||
Ada hubungan antara '[[berpikir sistemik]]' dan strategi konsep-didorong. Aliran berpikir sistemik Churchman/Ackoff tertarik untuk mengembangkan sistem konsep generik untuk berpikir tentang masalah. Alih-alih serangkaian konsep generik, pendekatan konsep-didorong menggunakan konsep apa pun yang menurut pemangku kepentingan paling baik untuk masa depan organisasi mereka. | Ada hubungan antara '[[berpikir sistemik]]'<ref>Ackoff R. [https://archive.org/details/sim_management-science_1971-07_17_11/page/661 Towards A System Of System Concepts]. ''Management Science''. 1971. Vol. 17 (11). hlm. 661–671. doi:10.1287/mnsc.17.11.661.</ref> dan strategi konsep-didorong. Aliran berpikir sistemik Churchman/Ackoff tertarik untuk mengembangkan sistem konsep generik untuk berpikir tentang masalah. Alih-alih serangkaian konsep generik, pendekatan konsep-didorong menggunakan konsep apa pun yang menurut pemangku kepentingan paling baik untuk masa depan organisasi mereka. | ||
Ada pendekatan perencanaan militer yang disebut 'konsep-pimpin'. Kepemimpinan yang mirip militer tampaknya telah mengubah konsep dari penggerak menjadi pemimpin. Tampaknya tidak ada banyak perbedaan lainnya. | Ada pendekatan perencanaan militer yang disebut 'konsep-pimpin'.<ref>The Role of OR and Analysis in Concept-led Long Range Planning http://www.dsto.defence.gov.au/publications/2535/DSTO-CR-0282.pdf</ref><ref>On the implementation of 'Concept-led and Participative' planning in the development of the Defence Logistics Transformation Plan http://catalogue.nla.gov.au/Record/4367990</ref><ref>The Headline Experiment a concept-led team effort http://adamdonovan.net/pdf/adam%20defence%20mag.pdf</ref> Kepemimpinan yang mirip militer tampaknya telah mengubah konsep dari penggerak menjadi pemimpin. Tampaknya tidak ada banyak perbedaan lainnya. | ||
Dalam lingkungan yang bergejolak, konsep dianggap 'lebih fleksibel daripada tujuan' (sasaran, target) karena mereka menyediakan alasan mengapa tindakan tertentu lebih disukai. Literatur tujuan dan niat suka membedakan dirinya dari literatur tujuan dengan mengatakan tujuan dan niat memberikan alasan untuk (mengapa berubah), pendorong perubahan. Tujuan adalah tempat Anda berakhir. Dalam situasi dinamis yang kompleks, mungkin ada banyak titik akhir yang dapat diterima, banyak di antaranya tidak dapat diantisipasi oleh perencana. Bisa dibilang satu-satunya tujuan adalah untuk bertahan hidup. Bagaimana dijelaskan dalam pernyataan niat. | Dalam lingkungan yang bergejolak, konsep dianggap 'lebih fleksibel daripada tujuan' (sasaran, target) karena mereka menyediakan alasan mengapa tindakan tertentu lebih disukai. Literatur tujuan dan niat suka membedakan dirinya dari literatur tujuan dengan mengatakan tujuan dan niat memberikan alasan untuk (mengapa berubah), pendorong perubahan. Tujuan adalah tempat Anda berakhir. Dalam situasi dinamis yang kompleks, mungkin ada banyak titik akhir yang dapat diterima, banyak di antaranya tidak dapat diantisipasi oleh perencana. Bisa dibilang satu-satunya tujuan adalah untuk bertahan hidup. Bagaimana dijelaskan dalam pernyataan niat. | ||
Mungkin anehnya, ada hubungan antara 'metafora', [[kritik metaforis]], atau [[metafora konseptual]] dan strategi konsep-didorong. Konsep [[pragmatisme|pragmatis]] bukanlah gambar tetapi sebagian besar konsep terkait dengan metafora. Misalnya, mengatakan bahwa sebuah organisasi seperti mesin, dengan roda gigi, atau seperti organisme adaptif, adalah menggunakan konsep mesin dan organisme untuk merefleksikan organisasi. Banyak dari apa yang telah ditulis tentang kegunaan metafora dalam perencanaan berlaku untuk konsep. | Mungkin anehnya, ada hubungan antara 'metafora', [[kritik metaforis]], atau [[metafora konseptual]] dan strategi konsep-didorong. Konsep [[pragmatisme|pragmatis]] bukanlah gambar tetapi sebagian besar konsep terkait dengan metafora. Misalnya, mengatakan bahwa sebuah organisasi seperti mesin, dengan roda gigi, atau seperti organisme adaptif, adalah menggunakan konsep mesin dan organisme untuk merefleksikan organisasi. Banyak dari apa yang telah ditulis tentang kegunaan metafora dalam perencanaan berlaku untuk konsep.<ref>Schon, D.A. 1963. Displacement of Concepts. Tavistock Publications, London.</ref> | ||
Istilah 'kerangka strategis' tidak umum mengingat literatur yang luas tentang [[analisis kerangka]] tetapi kerangka dan konsep pragmatis tampaknya sangat mirip. [[Amos Tversky]] mendefinisikan kerangka sebagai konsepsi hasil. | Istilah 'kerangka strategis' tidak umum mengingat literatur yang luas tentang [[analisis kerangka]] tetapi kerangka dan konsep pragmatis tampaknya sangat mirip. [[Amos Tversky]] mendefinisikan kerangka sebagai konsepsi hasil. | ||
Sistem konsep strategis yang tercantum dalam pernyataan niat, tujuan, prinsip, kerangka atau metafora konseptual adalah [[organizing principle]](s). | Sistem konsep strategis yang tercantum dalam pernyataan niat, tujuan, prinsip, kerangka atau metafora konseptual adalah [[organizing principle]](s).<ref>Vnuk-Balan, E. 2010. Concept Driven Strategy, American Academy of Management Conference, Toronto.</ref> | ||
Selain itu, seperti yang dijelaskan Karl Weick, [[sensemaking]] adalah proses mengonseptualisasikan masalah, strategi konsep-didorong mungkin dianggap sebagai cara pragmatis untuk membuat makna strategi. | Selain itu, seperti yang dijelaskan Karl Weick, [[sensemaking]] adalah proses mengonseptualisasikan masalah, strategi konsep-didorong mungkin dianggap sebagai cara pragmatis untuk membuat makna strategi. | ||
== Bacaan lebih lanjut == | == Bacaan lebih lanjut == | ||
| Baris 77: | Baris 73: | ||
* [[Masalah pelik]] | * [[Masalah pelik]] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Strategi+berbasis+konsep&oldid=29584786 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29584786 (2026-08-15T21:08:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Strategi+berbasis+konsep&oldid=29584786 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29584786 (2026-08-15T21:08:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 13.58
Strategi berbasis konsep adalah proses untuk merumuskan strategi yang didasarkan pada penjelasan tentang bagaimana manusia bertanya yang disediakan oleh filsafat pragmatisme linguistik. Ini berpendapat bahwa berpikir dimulai dengan memilih (secara eksplisit atau implisit) serangkaian konsep (kerangka, pola, lensa, prinsip, dll.) yang diperoleh dari pengalaman masa lalu kita. Konsep-konsep ini digunakan untuk merefleksikan apa pun yang terjadi, atau dilakukan, di masa depan.[1]
Oleh karena itu, strategi konsep-didorong dimulai dari menyepakati dan melaksanakan serangkaian konsep strategis (organizing principles) yang "paling cocok" untuk suatu organisasi. Misalnya, sebuah rumah sakit mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Peduli, Kelas Dunia, Lokal, Berbasis Bukti, dan Berbasis Tim. Sebuah universitas mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Terkenal, Pemecah Masalah, Daring, Equis, dan Menawarkan Jalur. Sebuah perusahaan komersial mungkin menetapkan strateginya dengan tujuan menjadi Inovatif, Global, Memiliki Rantai Pasokan yang Terlihat, Gesit, dan Dominan dalam Pangsa Pasar. Konsep-konsep strategis ini membentuk pernyataan niat (atau tujuan) organisasi tersebut.
Latar belakang
Sebagian besar literatur manajemen strategis mengadaptasi seruan Peter Drucker agar perusahaan memulai proses manajemen strategis dengan menghasilkan pernyataan tujuan, misi, dan objektif. Ini telah berubah menjadi seruan untuk memulai dengan pernyataan visi, misi, dan objektif. Ada pendekatan alternatif yang berfokus pada pernyataan tujuan atau niat. Contoh Drucker untuk pernyataan ini bagi perusahaan komersial adalah menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah menciptakan pelanggan. Artinya, perusahaan akan menggunakan konsep 'penciptaan pelanggan' untuk mengoordinasikan dan mengatur kognisi atau pola pikir dari mereka yang bekerja untuk organisasi tersebut. Inilah alasan keberadaan perusahaan. Memiliki satu konsep kini dianggap tidak memadai. Modifikasi George Armitage Miller pada The Magical Number Seven, Plus or Minus Two dan dialektika menyarankan bahwa sejumlah konsep yang berada dalam ketegangan akan lebih disukai.
Oleh karena itu, pernyataan tujuan, pernyataan niat, atau pendekatan strategi konsep-didorong berfokus pada penetapan dan pelaksanaan serangkaian konsep strategis. Jika pendekatan partisipatif digunakan, konsep-konsep ini akan diperoleh melalui proses kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Setelah disepakati, konsep-konsep strategis ini dapat digunakan untuk mengoordinasikan aktivitas dan bertindak sebagai serangkaian kriteria pengambilan keputusan. Kumpulan konsep yang membentuk Pernyataan Niat kemudian digunakan untuk memahami masa depan yang tidak dapat diprediksi secara terkoordinasi di seluruh organisasi.[2][3]
Filosofi dasar
Pragmatisme linguistik berpendapat bahwa konsepsi kita sebelumnya menginterpretasikan persepsi kita (masukan sensorik). Konsepsi ini direpresentasikan oleh konsep-konsep seperti berlari, tersenyum, keadilan, penalaran, dan kelincahan. Mereka adalah pola aktivitas yang dialami di masa lalu dan diingat. Mereka dapat dinamai oleh mereka yang memiliki bahasa sehingga dapat dibagikan.[4][5][6][7][8][9]
Baggini menjelaskan konsep-konsep pragmatis dengan menggunakan contoh klasik tentang apakah bumi itu datar atau bulat.[10]
Contoh lain adalah bahwa kita dapat memikirkan perang di Irak secara berbeda dengan merenungkan konsep keamanan minyak, imperialisme, kapitalisme agresif, pembebasan, atau demokrasi. Pendekatan konsep-didorong dalam perumusan strategi melibatkan penetapan dan penggunaan serangkaian konsep pragmatisme linguistik.[11]
Metode
Langkah-langkah untuk merumuskan strategi konsep-didorong partisipatif adalah sebagai berikut: 1. Pilih untuk siapa strategi ini dibuat secara tepat, dan apa sebenarnya masalah mereka. 2. Renungkan peristiwa penting di masa lalu yang telah berdampak pada organisasi (pengalaman masa lalu penting). 3. Identifikasi semua pemangku kepentingan termasuk pemasok, pesaing, staf, aliansi, pemerintah, pegiat lingkungan, pakar industri, dll. 4. Tanyakan kepada mereka apa kekhawatiran mereka untuk masa depan yang relevan dengan organisasi Anda. Gunakan pengalaman dan keahlian mereka yang terlibat dalam industri. 5. Gunakan jaringan ide untuk mengelompokkan pernyataan kekhawatiran pemangku kepentingan ini menjadi sekitar lima kelompok. 6. Namai kelompok-kelompok ini sebagai konsep strategis (prioritas, organizing principles). Misalnya, satu kelompok pernyataan mungkin tentang inovasi, dan kelompok lain tentang menjadi lebih internasional. 7. Renungkan kemungkinan konsekuensi paradoks dari penerapan konsep-konsep strategis ini. 8. Rancang 'Pernyataan Niat' satu halaman yang menyatakan bahwa organisasi bermaksud untuk menjadi lebih seperti lima atau lebih konsep strategis. 9. Rancang rencana tindakan implementasi untuk setiap konsep strategis. Ini harus mencakup tindakan perubahan organisasi dan proyek investasi, dengan tujuan dan tonggak. 10. Komunikasikan 'Pernyataan Niat' dan 'Rencana Tindakan' kepada pemangku kepentingan yang sesuai. 11. Dapatkan komentar staf senior, ukuran kinerja, kriteria seleksi, dan kriteria keputusan yang mencerminkan 'Pernyataan Niat'. 12. Dalam jangka panjang, renungkan konsep-konsep strategis dalam Pernyataan Niat.
Terminologi lain
Strategi konsep-didorong adalah nama yang diberikan untuk sejumlah pendekatan pemikiran strategis yang serupa.
Secara umum, istilah 'konsep-didorong' digunakan untuk mendorong fokus pada 'konsep' yang digunakan.[12][13] Lihat pembelajaran konsep atau Manajemen Konsep.[14]
Beberapa organisasi membuat 'pernyataan niat' tanpa banyak memikirkan konsep yang terkandung di dalamnya.[15][16][17] Namun, jika itu adalah daftar pendek konsep, tujuan tingkat tinggi, prinsip, prioritas, atau kerangka, maka strategi konsep-didorong menawarkan dasar filosofis untuk pernyataan-pernyataan ini.
Beberapa organisasi membuat pernyataan 'prinsip strategis'[18] yang lagi-lagi mirip dengan pernyataan niat, dan hal yang sama berlaku bahwa pendekatan konsep menawarkan dasar filosofis. Istilah 'prioritas strategis' atau 'nilai strategis' sering digunakan dengan cara yang sama seperti prinsip strategis.
Literatur tentang 'tujuan perusahaan'[19][20] juga mirip dengan niat strategis. Kadang-kadang, tujuan merujuk pada tindakan saat ini dan niat pada tindakan masa depan. Jika tujuan diekspresikan sebagai serangkaian konsep, maka pendekatan konsep memberikan beberapa dasar filosofis.
Ada hubungan antara 'berpikir sistemik'[21] dan strategi konsep-didorong. Aliran berpikir sistemik Churchman/Ackoff tertarik untuk mengembangkan sistem konsep generik untuk berpikir tentang masalah. Alih-alih serangkaian konsep generik, pendekatan konsep-didorong menggunakan konsep apa pun yang menurut pemangku kepentingan paling baik untuk masa depan organisasi mereka.
Ada pendekatan perencanaan militer yang disebut 'konsep-pimpin'.[22][23][24] Kepemimpinan yang mirip militer tampaknya telah mengubah konsep dari penggerak menjadi pemimpin. Tampaknya tidak ada banyak perbedaan lainnya.
Dalam lingkungan yang bergejolak, konsep dianggap 'lebih fleksibel daripada tujuan' (sasaran, target) karena mereka menyediakan alasan mengapa tindakan tertentu lebih disukai. Literatur tujuan dan niat suka membedakan dirinya dari literatur tujuan dengan mengatakan tujuan dan niat memberikan alasan untuk (mengapa berubah), pendorong perubahan. Tujuan adalah tempat Anda berakhir. Dalam situasi dinamis yang kompleks, mungkin ada banyak titik akhir yang dapat diterima, banyak di antaranya tidak dapat diantisipasi oleh perencana. Bisa dibilang satu-satunya tujuan adalah untuk bertahan hidup. Bagaimana dijelaskan dalam pernyataan niat.
Mungkin anehnya, ada hubungan antara 'metafora', kritik metaforis, atau metafora konseptual dan strategi konsep-didorong. Konsep pragmatis bukanlah gambar tetapi sebagian besar konsep terkait dengan metafora. Misalnya, mengatakan bahwa sebuah organisasi seperti mesin, dengan roda gigi, atau seperti organisme adaptif, adalah menggunakan konsep mesin dan organisme untuk merefleksikan organisasi. Banyak dari apa yang telah ditulis tentang kegunaan metafora dalam perencanaan berlaku untuk konsep.[25]
Istilah 'kerangka strategis' tidak umum mengingat literatur yang luas tentang analisis kerangka tetapi kerangka dan konsep pragmatis tampaknya sangat mirip. Amos Tversky mendefinisikan kerangka sebagai konsepsi hasil.
Sistem konsep strategis yang tercantum dalam pernyataan niat, tujuan, prinsip, kerangka atau metafora konseptual adalah organizing principle(s).[26]
Selain itu, seperti yang dijelaskan Karl Weick, sensemaking adalah proses mengonseptualisasikan masalah, strategi konsep-didorong mungkin dianggap sebagai cara pragmatis untuk membuat makna strategi.
Bacaan lebih lanjut
- Ackoff, R.L. 1970. A Concept of Corporate Planning. Wiley, New York.
- Carter, P.D. 2002. Building Purposeful Action: Action Methods and Action Research. Educational Action Research 10(2) 207-232.
- Gustavsen, B., B. Hofmaier, M. Ekman Philips, A. Wikman. 1996. A Concept-Driven Development and the Organization of the Process of Change. John Benjamins, Amsterdam.
- Margolis, E.L., Stephen. 2010. Concepts. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Stanford University, California. http://plato.stanford.edu/entries/concepts/.
Lihat pula
- Rasionalitas terbatas
- Pembingkaian (ilmu sosial)
- Logika institusional
- Perencanaan interaktif
- Surat niat
- Sensemaking
- Perencanaan strategis
- Masalah pelik
Referensi
- ↑ James, W. 1911/1996. Some Problems of Philosophy. University of Nebraska Press Nebraska.
- ↑ Metcalfe M. A Pragmatic System of Decision Criteria Systems Research and Behavioral Science 2012
- ↑ McKenna Allen, Metcalfe Mike. The linguistic turn in project conceptualization. International Journal of Project Management. 2013. Vol. 31 (8). hlm. 1154–1162. doi:10.1016/j.ijproman.2012.12.006.
- ↑ Rorty, R. 1982. Consequences of Pragmatism. University of Minnesota Press, Minneapolis.
- ↑ Schon, D.A. 1963. Displacement of Concepts. Tavistock Publications, London.
- ↑ Shields, P. 2005. Classical Pragmatism does not need an Upgrade. Administration & Society 37(4) 504-518
- ↑ Brandom, R., B,. 2011. Perspectives On Pragmatism. Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts
- ↑ Haack, S. 2006. Pragmatism: Old and New. Prometheus Books, New York.
- ↑ Toulmin, S. 1972. Human Understanding: The Collective Use and Evolution of Concepts. Princeton University Press, Princeton New Jersey.
- ↑ Baggini, J. 2005. Pragmatism History Of Ideas. BBC Radio 4, London.
- ↑ Metcalfe M Pragmatic inquiry Journal of the Operational Research Society (2008) 59
- ↑ Mareschal, D., P. Quinn, S. Lea. 2010. The Making of Human Concepts. Oxford University Press, Oxford.
- ↑ Shaw, M.L.G., B.R. Gaines. 1989. Comparing Conceptual Structures: Consensus, Conflict, Correspondence and Contrast. Knowledge Acquisition 1 341-363.
- ↑ Management Concepts Wikibooks http://en.wikibooks.org/wiki/Management_Concepts_and_Applications/Management
- ↑ Hamel, G., C.K. Prahalad. 2005. Strategic Intent. Harvard Business Review 83(7/8) 148-161.
- ↑ Katada, T. 1994. Strategic Intent to Corporate Purpose: The Remaking of Komatsu. Harvard Business Review 72(6) 83-.
- ↑ Saku M., Sillance J.A.A. Strategic Intent as a Rhetorical Device. Scandinavian Journal of Management. 2007. Vol. 23 (4). hlm. 406–423. doi:10.1016/j.scaman.2007.03.002.
- ↑ How to Turn a Great Strategic Principle into Great Results http://www.strategydriven.com/2011/06/27/how-to-turn-a-great-strategic-principle-into-great-results/
- ↑ Basu, S. 1999. Corporate Purpose: Why it Matters More than Strategy. Garland Publishing, Inc, New York & London.
- ↑ Ellsworth, R., R. 2002. Leading with Purpose. Stanford University Press, California.
- ↑ Ackoff R. Towards A System Of System Concepts. Management Science. 1971. Vol. 17 (11). hlm. 661–671. doi:10.1287/mnsc.17.11.661.
- ↑ The Role of OR and Analysis in Concept-led Long Range Planning http://www.dsto.defence.gov.au/publications/2535/DSTO-CR-0282.pdf
- ↑ On the implementation of 'Concept-led and Participative' planning in the development of the Defence Logistics Transformation Plan http://catalogue.nla.gov.au/Record/4367990
- ↑ The Headline Experiment a concept-led team effort http://adamdonovan.net/pdf/adam%20defence%20mag.pdf
- ↑ Schon, D.A. 1963. Displacement of Concepts. Tavistock Publications, London.
- ↑ Vnuk-Balan, E. 2010. Concept Driven Strategy, American Academy of Management Conference, Toronto.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29584786 (2026-08-15T21:08:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.