Cingam: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26741227; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Scyphip_hydrop_191103-2957_skd.jpg|thumb|right|280px|Scyphip hydrop 191103-2957 skd]] | |||
Nama-nama lain tumbuhan ini, di antaranya, pĕrĕpat lanang ([[Palembang|Plg.]]); ''dandulit'' ([[Kangean]]); ''duduk perempuan'' ([[bahasa Lampung|Lamp.]]); ''duduk rayap'' ([[bahasa Jawa|Jw.: Cilacap]]); ''duduk rambat'' ([[Karimunjawa]]). Sementara nama-namanya di negara lain adalah ''chengam'' ([[Malaysia|Mal.]]); ''che ngam, se ngam, se ham'' ([[Thailand|Thai]]); dan ''nilad'' ([[Filipina|Fil.]]). | '''Cingam'''<ref>KBBI Daring: [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/cingam ''cingam'']</ref><ref>(1987). ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. '''3'''. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda [https://www.biodiversitylibrary.org/item/48039#page/204/mode/1up -1927- '''IV''': 198.])</ref> atau '''duduk'''<ref>(1998). "''Scyphiphora'' Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). ''Plant Resources of South-East Asia'' [https://edepot.wur.nl/411254 '''5'''(3) Timber trees: Lesser-known timber]: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.</ref> (''Scyphiphora hydrophylacea'') adalah sejenis [[perdu]] ([[pohon]] kecil) penghuni hutan [[mangrove]], anggota [[familia|suku]] [[Rubiaceae]]. Tersebar luas mulai dari [[India]] di barat, Kepulauan [[Nusantara]], [[Filipina]] hingga [[Solomon]] dan [[Australia]] tropis, tumbuhan ini secara keseluruhan tergolong jarang, meskipun secara lokal dapat banyak dijumpai.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref> | ||
Nama-nama lain tumbuhan ini, di antaranya, pĕrĕpat lanang ([[Palembang|Plg.]]); ''dandulit'' ([[Kangean]]); ''duduk perempuan'' ([[bahasa Lampung|Lamp.]]);<ref>(1987). ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. '''3'''. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda [https://www.biodiversitylibrary.org/item/48039#page/204/mode/1up -1927- '''IV''': 198.])</ref> ''duduk rayap'' ([[bahasa Jawa|Jw.: Cilacap]]);<ref>(1902). "Bijdrage tot de kennis der boomsoorten op Java." ''Mededeelingen uit 's Lands Plantentuin no. LIX''. [https://www.biodiversitylibrary.org/item/196515#page/138/mode/1up Bl. '''8''':126]. Batavia: G. Kolff & co., 1902</ref> ''duduk rambat'' ([[Karimunjawa]]).<ref>. (2012). ''Jenis-jenis mangrove TN Karimunjawa''. Semarang: Balai Taman Nasional Karimunjawa. ISBN 978-979-17073-7-4</ref> Sementara nama-namanya di negara lain adalah ''chengam'' ([[Malaysia|Mal.]]); ''che ngam, se ngam, se ham'' ([[Thailand|Thai]]); dan ''nilad'' ([[Filipina|Fil.]]).<ref>(1998). "''Scyphiphora'' Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). ''Plant Resources of South-East Asia'' [https://edepot.wur.nl/411254 '''5'''(3) Timber trees: Lesser-known timber]: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.</ref> | |||
== Pengenalan == | == Pengenalan == | ||
[[Perdu]] kecil atau semak, yang tegak atau condong (maka dinamai ''duduk rayap'' atau ''duduk rambat''),<ref>. (2012). ''Jenis-jenis mangrove TN Karimunjawa''. Semarang: Balai Taman Nasional Karimunjawa. ISBN 978-979-17073-7-4</ref> tinggi hingga lk. 3 [[meter|m]], tidak menggugurkan daun. Pepagannya kasar berwarna cokelat, pucuk muda dengan resin, dan kadang-kadang terdapat [[akar tunjang]] pada individu yang besar. [[Daun]] berhadapan, bertangkai hingga 13 [[milimeter|mm]], dengan [[daun penumpu]] interpetiolar serupa seludang kecil yang berambut halus di tepinya dan berkelenjar di sebelah dalam. Helaian daun bundar telur terbalik, seperti [[jangat]], berkilap, lk 4-9 × 2-5 [[sentimeter|cm]], ujungnya membundar.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref> | |||
[[Bunga]] berwarna putih, hampir tak bertangkai, berkelamin ganda, berkumpul 3-7 kuntum pada malai payung tambahan yang bertangkai hingga 15 mm, muncul dari ketiak daun. Tabung kelopak gundul, kehijauan, panjang 3–5 mm, ujungnya berbentuk mangkuk bertaju-4 yang kecil-kecil dan samar. Tabung mahkota 2–4 mm, putih, kadang-kadang dengan semu kemerahan, dengan mulut berambut kasar; taju mahkota 4-5 buah, bentuk jorong lebar, 2-4 x 2-2,5 mm, ujungnya membundar, melengkung keluar tatkala mekar. Benang sari: 4-5. [[Buah]] bentuk gelendong, hijau kemudian cokelat, beralur dalam 6-8(-10) membelimbing memanjang, panjang 8 mm, bermahkota sisa kelopak; bagian luar buah berdaging, dalamnya bergabus. [[Biji]] 4 butir atau kurang, silindris, 1 x 2 mm.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref><ref>(2016). ''The botany of mangroves''. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6</ref> | |||
[[Bunga]] berwarna putih, hampir tak bertangkai, berkelamin ganda, berkumpul 3-7 kuntum pada malai payung tambahan yang bertangkai hingga 15 mm, muncul dari ketiak daun. Tabung kelopak gundul, kehijauan, panjang 3–5 mm, ujungnya berbentuk mangkuk bertaju-4 yang kecil-kecil dan samar. Tabung mahkota 2–4 mm, putih, kadang-kadang dengan semu kemerahan, dengan mulut berambut kasar; taju mahkota 4-5 buah, bentuk jorong lebar, 2-4 x 2-2,5 mm, ujungnya membundar, melengkung keluar tatkala mekar. Benang sari: 4-5. [[Buah]] bentuk gelendong, hijau kemudian cokelat, beralur dalam 6-8(-10) membelimbing memanjang, panjang 8 mm, bermahkota sisa kelopak; bagian luar buah berdaging, dalamnya bergabus. [[Biji]] 4 butir atau kurang, silindris, 1 x 2 mm. | |||
== Ekologi dan agihan == | == Ekologi dan agihan == | ||
Cingam tumbuh pada tanah-tanah lumpur, pasir dan berkarang pada tepi hutan mangrove ke arah daratan, atau di tepi aliran air yang dipengaruhi pasang-surut air laut. Tumbuhan ini tidak tahan terhadap penggenangan oleh air tawar dalam jangka lama dan biasanya menempati lokasi yang acap tergenang oleh pasang surut. Juga dilaporkan sering tumbuh pada tempat-tempat yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Jenis ini juga bukan merupakan jenis penyusun mangrove yang umum ditemui, dan mungkin tergolong jenis yang terancam kepunahan. | Cingam tumbuh pada tanah-tanah lumpur, pasir dan berkarang pada tepi hutan mangrove ke arah daratan, atau di tepi aliran air yang dipengaruhi pasang-surut air laut. Tumbuhan ini tidak tahan terhadap penggenangan oleh air tawar dalam jangka lama dan biasanya menempati lokasi yang acap tergenang oleh pasang surut. Juga dilaporkan sering tumbuh pada tempat-tempat yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref> Jenis ini juga bukan merupakan jenis penyusun mangrove yang umum ditemui, dan mungkin tergolong jenis yang terancam kepunahan.<ref>(2016). ''The botany of mangroves''. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6</ref> | ||
Bunga tercatat muncul di sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh [[serangga]]. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Cingam menghasilkan banyak buah; buah-buah yang jatuh mengapung di air dan terdampar dalam jumlah banyak di pantai. Meskipun demikian perkecambahan bijinya relatif rendah. Buah cingam teradaptasi dengan baik untuk penyebaran melalui air karena kulit buahnya yang berlapis [[gabus]] di bagian dalam, sehingga ringan dan mudah mengapung. | Bunga tercatat muncul di sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh [[serangga]]. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Cingam menghasilkan banyak buah; buah-buah yang jatuh mengapung di air dan terdampar dalam jumlah banyak di pantai. Meskipun demikian perkecambahan bijinya relatif rendah. Buah cingam teradaptasi dengan baik untuk penyebaran melalui air karena kulit buahnya yang berlapis [[gabus]] di bagian dalam, sehingga ringan dan mudah mengapung.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref> | ||
Cingam menyebar luas, mulai dari pantai-pantai anak benua [[India]] dan [[Srilangka]], ke timur tercatat di [[Thailand]], [[Kamboja]], [[Vietnam]], [[Hainan]], [[Malaysia]], [[Singapura]], [[Brunei]], seluruh [[Indonesia]], [[Filipina]], [[Papua Nugini]], terus ke timur hingga [[Kaledonia Baru]], ke selatan hingga [[Australia]] tropis, dan ke utara hingga [[Palau]] dan [[Kepulauan Solomon]]. | Cingam menyebar luas, mulai dari pantai-pantai anak benua [[India]] dan [[Srilangka]], ke timur tercatat di [[Thailand]], [[Kamboja]], [[Vietnam]], [[Hainan]], [[Malaysia]], [[Singapura]], [[Brunei]], seluruh [[Indonesia]], [[Filipina]], [[Papua Nugini]], terus ke timur hingga [[Kaledonia Baru]], ke selatan hingga [[Australia]] tropis, dan ke utara hingga [[Palau]] dan [[Kepulauan Solomon]].<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref><ref>. (1999). [https://www.mangrovesforthefuture.org/assets/Repository/Documents/Panduan-Mangrove-Reprint-3.pdf ''Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia'']. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.</ref><ref>(2016). ''The botany of mangroves''. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6</ref> | ||
== Kegunaan == | == Kegunaan == | ||
Cingam menghasilkan [[kayu]] yang kuat, berwarna cokelat tua dan berserat halus. Kayu ini tergolong kayu berat, dengan densitas 800–910 kg/m³ pada kadar air 15%. Keawetan kayu cingam tergolong sedang pada pemakaian yang terpapar cuaca atau bersentuhan dengan tanah; apabila terlindung, kayu ini tergolong awet. Cingam dapat menghasilkan kayu dengan garis tengah hingga 8–10 cm dan panjang mendekati 5 m. | Cingam menghasilkan [[kayu]] yang kuat, berwarna cokelat tua dan berserat halus.<ref>(1987). ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. '''3'''. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda [https://www.biodiversitylibrary.org/item/48039#page/204/mode/1up -1927- '''IV''': 198.])</ref> Kayu ini tergolong kayu berat, dengan densitas 800–910 kg/m³ pada kadar air 15%. Keawetan kayu cingam tergolong sedang pada pemakaian yang terpapar cuaca atau bersentuhan dengan tanah; apabila terlindung, kayu ini tergolong awet.<ref>(1998). "''Scyphiphora'' Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). ''Plant Resources of South-East Asia'' [https://edepot.wur.nl/411254 '''5'''(3) Timber trees: Lesser-known timber]: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.</ref> Cingam dapat menghasilkan kayu dengan garis tengah hingga 8–10 cm dan panjang mendekati 5 m.<ref>(1902). "Bijdrage tot de kennis der boomsoorten op Java." ''Mededeelingen uit 's Lands Plantentuin no. LIX''. [https://www.biodiversitylibrary.org/item/196515#page/138/mode/1up Bl. '''8''':126]. Batavia: G. Kolff & co., 1902</ref> | ||
Di wilayah [[Riau]], kayu cingam dimanfaatkan untuk membuat sendok nasi (centong); sementara air rebusan daunnya digunakan untuk mengobati sakit perut. Kayu cingam yang agak besar dimanfaatkan sebagai tiang-tiang pagar. Cingam juga menghasilkan [[tanin]] dan zat pewarna. | Di wilayah [[Riau]], kayu cingam dimanfaatkan untuk membuat sendok nasi (centong); sementara air rebusan daunnya digunakan untuk mengobati sakit perut.<ref>(1987). ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. '''3'''. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda [https://www.biodiversitylibrary.org/item/48039#page/204/mode/1up -1927- '''IV''': 198.])</ref> Kayu cingam yang agak besar dimanfaatkan sebagai tiang-tiang pagar. Cingam juga menghasilkan [[tanin]] dan zat pewarna.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref> | ||
== Catatan taksonomis == | == Catatan taksonomis == | ||
''Scyphiphora hydrophyllacea'' adalah satu-satunya anggota marga ''Scyphiphora'', anaksuku Ixoroideae. | ''Scyphiphora hydrophyllacea'' adalah satu-satunya anggota marga ''Scyphiphora'', anaksuku Ixoroideae.<ref>(2016). ''The botany of mangroves''. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6</ref> | ||
== Jenis yang mirip == | == Jenis yang mirip == | ||
Apabila sedang tidak berbunga, cingam sangat mirip tampilan dan perawakannya dengan teruntum (''[[Lumnitzera]]''), hanya saja teruntum memiliki duduk daun yang menyebar dalam spiral. | Apabila sedang tidak berbunga, cingam sangat mirip tampilan dan perawakannya dengan teruntum (''[[Lumnitzera]]''), hanya saja teruntum memiliki duduk daun yang menyebar dalam spiral.<ref>. (2007). [ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/010/ag132e/ag132e00.pdf ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8</ref> | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
| Baris 40: | Baris 37: | ||
* WoRMS: [http://www.marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=235104 ''Scyphiphora hydrophyllacea'' Gaertn.f.], diakses pada 17/I/2020 | * WoRMS: [http://www.marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=235104 ''Scyphiphora hydrophyllacea'' Gaertn.f.], diakses pada 17/I/2020 | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cingam&oldid=26741227 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26741227 (2025-01-05T04:50:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.03

Cingam[1][2] atau duduk[3] (Scyphiphora hydrophylacea) adalah sejenis perdu (pohon kecil) penghuni hutan mangrove, anggota suku Rubiaceae. Tersebar luas mulai dari India di barat, Kepulauan Nusantara, Filipina hingga Solomon dan Australia tropis, tumbuhan ini secara keseluruhan tergolong jarang, meskipun secara lokal dapat banyak dijumpai.[4][5]
Nama-nama lain tumbuhan ini, di antaranya, pĕrĕpat lanang (Plg.); dandulit (Kangean); duduk perempuan (Lamp.);[6] duduk rayap (Jw.: Cilacap);[7] duduk rambat (Karimunjawa).[8] Sementara nama-namanya di negara lain adalah chengam (Mal.); che ngam, se ngam, se ham (Thai); dan nilad (Fil.).[9]
Pengenalan
Perdu kecil atau semak, yang tegak atau condong (maka dinamai duduk rayap atau duduk rambat),[10] tinggi hingga lk. 3 m, tidak menggugurkan daun. Pepagannya kasar berwarna cokelat, pucuk muda dengan resin, dan kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun berhadapan, bertangkai hingga 13 mm, dengan daun penumpu interpetiolar serupa seludang kecil yang berambut halus di tepinya dan berkelenjar di sebelah dalam. Helaian daun bundar telur terbalik, seperti jangat, berkilap, lk 4-9 × 2-5 cm, ujungnya membundar.[11][12]
Bunga berwarna putih, hampir tak bertangkai, berkelamin ganda, berkumpul 3-7 kuntum pada malai payung tambahan yang bertangkai hingga 15 mm, muncul dari ketiak daun. Tabung kelopak gundul, kehijauan, panjang 3–5 mm, ujungnya berbentuk mangkuk bertaju-4 yang kecil-kecil dan samar. Tabung mahkota 2–4 mm, putih, kadang-kadang dengan semu kemerahan, dengan mulut berambut kasar; taju mahkota 4-5 buah, bentuk jorong lebar, 2-4 x 2-2,5 mm, ujungnya membundar, melengkung keluar tatkala mekar. Benang sari: 4-5. Buah bentuk gelendong, hijau kemudian cokelat, beralur dalam 6-8(-10) membelimbing memanjang, panjang 8 mm, bermahkota sisa kelopak; bagian luar buah berdaging, dalamnya bergabus. Biji 4 butir atau kurang, silindris, 1 x 2 mm.[13][14][15]
Ekologi dan agihan
Cingam tumbuh pada tanah-tanah lumpur, pasir dan berkarang pada tepi hutan mangrove ke arah daratan, atau di tepi aliran air yang dipengaruhi pasang-surut air laut. Tumbuhan ini tidak tahan terhadap penggenangan oleh air tawar dalam jangka lama dan biasanya menempati lokasi yang acap tergenang oleh pasang surut. Juga dilaporkan sering tumbuh pada tempat-tempat yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya.[16][17] Jenis ini juga bukan merupakan jenis penyusun mangrove yang umum ditemui, dan mungkin tergolong jenis yang terancam kepunahan.[18]
Bunga tercatat muncul di sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Cingam menghasilkan banyak buah; buah-buah yang jatuh mengapung di air dan terdampar dalam jumlah banyak di pantai. Meskipun demikian perkecambahan bijinya relatif rendah. Buah cingam teradaptasi dengan baik untuk penyebaran melalui air karena kulit buahnya yang berlapis gabus di bagian dalam, sehingga ringan dan mudah mengapung.[19][20]
Cingam menyebar luas, mulai dari pantai-pantai anak benua India dan Srilangka, ke timur tercatat di Thailand, Kamboja, Vietnam, Hainan, Malaysia, Singapura, Brunei, seluruh Indonesia, Filipina, Papua Nugini, terus ke timur hingga Kaledonia Baru, ke selatan hingga Australia tropis, dan ke utara hingga Palau dan Kepulauan Solomon.[21][22][23]
Kegunaan
Cingam menghasilkan kayu yang kuat, berwarna cokelat tua dan berserat halus.[24] Kayu ini tergolong kayu berat, dengan densitas 800–910 kg/m³ pada kadar air 15%. Keawetan kayu cingam tergolong sedang pada pemakaian yang terpapar cuaca atau bersentuhan dengan tanah; apabila terlindung, kayu ini tergolong awet.[25] Cingam dapat menghasilkan kayu dengan garis tengah hingga 8–10 cm dan panjang mendekati 5 m.[26]
Di wilayah Riau, kayu cingam dimanfaatkan untuk membuat sendok nasi (centong); sementara air rebusan daunnya digunakan untuk mengobati sakit perut.[27] Kayu cingam yang agak besar dimanfaatkan sebagai tiang-tiang pagar. Cingam juga menghasilkan tanin dan zat pewarna.[28]
Catatan taksonomis
Scyphiphora hydrophyllacea adalah satu-satunya anggota marga Scyphiphora, anaksuku Ixoroideae.[29]
Jenis yang mirip
Apabila sedang tidak berbunga, cingam sangat mirip tampilan dan perawakannya dengan teruntum (Lumnitzera), hanya saja teruntum memiliki duduk daun yang menyebar dalam spiral.[30]
Pranala luar
- Asian Plant: Scyphiphora hydrophyllacea Gaertn.f., diakses pada 17/I/2020
- Mangrove of Singapore: Chengam, Scyphiphora hydrophyllacea, diakses pada 17/I/2020
- Plants of the World: Scyphiphora hydrophylacea C.F.Gaertn., diakses pada 17/I/2020
- Wetlands Int'l - Indonesia Programme: Scyphiphora hydrophyllacea, diakses pada 17/I/2020
- Wild Singapore: Chengam, Scyphiphora hydrophyllacea, diakses pada 17/I/2020
- World Checklist of Rubiaceae: Scyphiphora, diakses pada 17/I/2020
- WoRMS: Scyphiphora hydrophyllacea Gaertn.f., diakses pada 17/I/2020
Referensi
- ↑ KBBI Daring: cingam
- ↑ (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1927- IV: 198.)
- ↑ (1998). "Scyphiphora Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). Plant Resources of South-East Asia 5(3) Timber trees: Lesser-known timber: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1927- IV: 198.)
- ↑ (1902). "Bijdrage tot de kennis der boomsoorten op Java." Mededeelingen uit 's Lands Plantentuin no. LIX. Bl. 8:126. Batavia: G. Kolff & co., 1902
- ↑ . (2012). Jenis-jenis mangrove TN Karimunjawa. Semarang: Balai Taman Nasional Karimunjawa. ISBN 978-979-17073-7-4
- ↑ (1998). "Scyphiphora Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). Plant Resources of South-East Asia 5(3) Timber trees: Lesser-known timber: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.
- ↑ . (2012). Jenis-jenis mangrove TN Karimunjawa. Semarang: Balai Taman Nasional Karimunjawa. ISBN 978-979-17073-7-4
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ (2016). The botany of mangroves. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ (2016). The botany of mangroves. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ . (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: PKA/Wetlands Int'l-IP.
- ↑ (2016). The botany of mangroves. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6
- ↑ (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1927- IV: 198.)
- ↑ (1998). "Scyphiphora Gaertn.f.". in MSM. Sosef, LT. Hong, & S. Prawirodirdjo (eds). Plant Resources of South-East Asia 5(3) Timber trees: Lesser-known timber: 517-9. Bogor: PROSEA Foundation.
- ↑ (1902). "Bijdrage tot de kennis der boomsoorten op Java." Mededeelingen uit 's Lands Plantentuin no. LIX. Bl. 8:126. Batavia: G. Kolff & co., 1902
- ↑ (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1927- IV: 198.)
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
- ↑ (2016). The botany of mangroves. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08067-6
- ↑ . (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO and Wetlands International. ISBN 974-7946-85-8
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26741227 (2025-01-05T04:50:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.