Lompat ke isi

Paku laut: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26105428; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Paku laut''' adalah sejenis [[paku-pakuan]] berukuran besar, yang biasa tumbuh di tanah di bawah naungan [[hutan bakau]] atau [[lahan basah]] lainnya. Paku atau pakis ini juga dikenal dengan banyak nama lain seperti paku larat, papah, '''piai''' ([[Bahasa Malaysia|Mal.]]: ''piai raya''), ''paku hata diuk'' ([[Bahasa Sunda|Sunda]]), ''warakas, krakas, kakakeok'' ([[Bahasa Jawa|Jawa]]), dan ''rewayang'' ([[Halmahera]]). Nama-namanya dalam [[bahasa Inggris]] di antaranya ''golden leather fern'', ''swamp fern'', dan ''mangrove fern''.
[[File:Acros_aure_080627_0095_smlu.jpg|thumb|right|280px|Acros aure 080627 0095 smlu]]
 
'''Paku laut''' adalah sejenis [[paku-pakuan]] berukuran besar, yang biasa tumbuh di tanah di bawah naungan [[hutan bakau]] atau [[lahan basah]] lainnya. Paku atau pakis ini juga dikenal dengan banyak nama lain seperti paku larat, papah, '''piai''' ([[Bahasa Malaysia|Mal.]]: ''piai raya''), ''paku hata diuk'' ([[Bahasa Sunda|Sunda]]), ''warakas, krakas, kakakeok'' ([[Bahasa Jawa|Jawa]]), dan ''rewayang'' ([[Halmahera]]).<ref>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 90.</ref> Nama-namanya dalam [[bahasa Inggris]] di antaranya ''golden leather fern'', ''swamp fern'', dan ''mangrove fern''.


== Pemerian botani ==
== Pemerian botani ==
Paku dalam rumpun yang besar, dapat mencapai tinggi 4 [[meter|m]], dan lebar rumpun yang kurang lebih sama. Batang pendek dan kekar, tegak, tertutupi oleh sisik-sisik besar kecoklatan.
Paku dalam rumpun yang besar, dapat mencapai tinggi 4 [[meter|m]], dan lebar rumpun yang kurang lebih sama. Batang pendek dan kekar, tegak, tertutupi oleh sisik-sisik besar kecoklatan.


Daun-daun majemuk menyirip, liat serupa kulit (jangat), panjangnya dapat mencapai 3 m, tetapi dengan tak lebih dari 30 pasang anak daun yang terletak tak beraturan dan, kadang-kadang, renggang. Beberapa pasang (5 pasang atau lebih) anak daun di ujung kerap fertil dan berwarna karat atau kecoklatan, dengan sisi bawah yang tertutupi oleh banyak [[sporangia]] yang besar-besar. Anak-anak daun yang steril (mandul) berada di bagian bawah, lebih panjang dan ''berujung tumpul atau membulat, serta dengan tonjolan ujung kecil yang pendek''.
Daun-daun majemuk menyirip, liat serupa kulit (jangat), panjangnya dapat mencapai 3 m, tetapi dengan tak lebih dari 30 pasang anak daun yang terletak tak beraturan dan, kadang-kadang, renggang. Beberapa pasang (5 pasang atau lebih) anak daun di ujung kerap fertil dan berwarna karat atau kecoklatan, dengan sisi bawah yang tertutupi oleh banyak [[sporangia]] yang besar-besar. Anak-anak daun yang steril (mandul) berada di bagian bawah, lebih panjang dan ''berujung tumpul atau membulat, serta dengan tonjolan ujung kecil yang pendek''.<ref>Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. [http://www.fao.org/docrep/010/ag132e/ag132e00.htm ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265</ref>


== Ekologi ==
== Ekologi ==
Tumbuh menahun, paku laut hidup di lingkungan [[hutan bakau]] (mangrove), [[rawa]] pantai, [[tambak]], serta di sepanjang [[sungai]], parit dan kanal dekat laut. Meski demikian, ''Acrostichum aureum'' tak seberapa tahan oleh penggenangan pasang air laut dan tak menyukai tanah-tanah dengan salinitas tinggi; tak sebagaimana kerabat dekatnya, ''A. speciosum''.<ref>Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. [http://www.fao.org/docrep/010/ag132e/ag132e00.htm ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265</ref>


Tumbuh menahun, paku laut hidup di lingkungan [[hutan bakau]] (mangrove), [[rawa]] pantai, [[tambak]], serta di sepanjang [[sungai]], parit dan kanal dekat laut. Meski demikian, ''Acrostichum aureum'' tak seberapa tahan oleh penggenangan pasang air laut dan tak menyukai tanah-tanah dengan salinitas tinggi; tak sebagaimana kerabat dekatnya, ''A. speciosum''.
Meskipun termasuk [[halofit]] (''halophyte'', tumbuhan yang toleran lahan masin), paku laut membutuhkan pasokan air tawar yang cukup agar dapat tumbuh optimal. Di tempat-tempat dengan frekuensi penggenangan pasang laut cukup tinggi (10–28 kali perbulan), pakis ini tumbuh kerdil atau bahkan sama sekali tak mau tumbuh. Terhadap penyinaran matahari, paku ini dapat menenggang (toleran) kondisi tumbuh di bawah naungan hingga ke tempat-tempat terbuka yang terik.<ref>Medina ''et. al.'' 1990 ''dalam'' [http://www.sms.si.edu/irlspec/Acrost_aureu.htm ''Acrostichum aureum'', Linnaeus 1758.] Artikel pada [http://www.sms.si.edu/ Smithsonian Marine Station at Fort Pierce], diakses 20/IX/2008.</ref> Bahkan, paku ini dapat menginvasi lahan-lahan bekas tebangan dan membentuk padang paku laut yang cukup luas.<ref>[https://www.greeners.co/flora-fauna/paku-laut-tanaman-pesisir-yang-tidak-suka-tergenangi-air/ Paku Laut, Tanaman Pesisir yang Tidak Suka Tergenangi Air]. ''Greeners.Co''. 2024-02-04.</ref>
 
Meskipun termasuk [[halofit]] (''halophyte'', tumbuhan yang toleran lahan masin), paku laut membutuhkan pasokan air tawar yang cukup agar dapat tumbuh optimal. Di tempat-tempat dengan frekuensi penggenangan pasang laut cukup tinggi (10–28 kali perbulan), pakis ini tumbuh kerdil atau bahkan sama sekali tak mau tumbuh. Terhadap penyinaran matahari, paku ini dapat menenggang (toleran) kondisi tumbuh di bawah naungan hingga ke tempat-tempat terbuka yang terik. Bahkan, paku ini dapat menginvasi lahan-lahan bekas tebangan dan membentuk padang paku laut yang cukup luas.


== Manfaat ==
== Manfaat ==
Daun-daun paku laut yang dikeringkan dipergunakan sebagai atap rumah. Pucuknya yang muda juga dimanfaatkan sebagai sayuran di beberapa daerah. Daun-daun yang tua dan juga akarnya digunakan sebagai bahan obat tradisional.
Daun-daun paku laut yang dikeringkan dipergunakan sebagai atap rumah. Pucuknya yang muda juga dimanfaatkan sebagai sayuran di beberapa daerah.<ref>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 90.</ref> Daun-daun yang tua dan juga akarnya digunakan sebagai bahan obat tradisional.<ref>Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. [http://www.fao.org/docrep/010/ag132e/ag132e00.htm ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265</ref>


== Penyebaran ==
== Penyebaran ==
Baris 19: Baris 20:


== Jenis yang serupa ==
== Jenis yang serupa ==
''Acrostichum speciosum'' memiliki perawakan yang mirip dengan ''A. aureum'', dengan sedikit perbedaan. Anak-anak daun yang steril pada ''A. speciosum'' memiliki ''ujung yang meruncing'', tak seperti ''A. aureum'' yang berujung tumpul atau membulat. (Lihat pula foto pada laman [http://mangrove.nus.edu.sg/guidebooks/text/1038.htm Piai raya], pada [http://mangrove.nus.edu.sg/ ''Guide of the Mangroves of Singapore'']).
''Acrostichum speciosum'' memiliki perawakan yang mirip dengan ''A. aureum'', dengan sedikit perbedaan. Anak-anak daun yang steril pada ''A. speciosum'' memiliki ''ujung yang meruncing'', tak seperti ''A. aureum'' yang berujung tumpul atau membulat.<ref>Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. [http://www.fao.org/docrep/010/ag132e/ag132e00.htm ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265</ref> (Lihat pula foto pada laman [http://mangrove.nus.edu.sg/guidebooks/text/1038.htm Piai raya], pada [http://mangrove.nus.edu.sg/ ''Guide of the Mangroves of Singapore'']).


''A. speciosum'' ditemukan pada habitat yang serupa dengan ''A. aureum'' di [[Nusantara]], tetapi umumnya lebih menyukai tempat-tempat yang kelindungan.
''A. speciosum'' ditemukan pada habitat yang serupa dengan ''A. aureum'' di [[Nusantara]], tetapi umumnya lebih menyukai tempat-tempat yang kelindungan.<ref>Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. [http://www.fao.org/docrep/010/ag132e/ag132e00.htm ''Mangrove Guidebook for Southeast Asia'']. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265</ref>
 
''Acrostichum danaefolium'' serupa pula bentuknya dengan ''A. aureum'', hanya saja anak daun yang fertil —dengan sporangia di sisi bawahnya— tidak terbatas pada pasangan anak-anak daun di ujung, melainkan juga hingga pasangan-pasangan dekat pangkal daun. ''A. danaefolium'' tidak ditemukan liar di Nusantara.
 
== Referensi ==


''Acrostichum danaefolium'' serupa pula bentuknya dengan ''A. aureum'', hanya saja anak daun yang fertil —dengan sporangia di sisi bawahnya— tidak terbatas pada pasangan anak-anak daun di ujung, melainkan juga hingga pasangan-pasangan dekat pangkal daun.<ref>Lloyd and Greg 1975 ''dalam'' [http://www.sms.si.edu/irlspec/Acrost_aureu.htm ''Acrostichum aureum'', Linnaeus 1758.] Artikel pada [http://www.sms.si.edu/ Smithsonian Marine Station at Fort Pierce], diakses 20/IX/2008.</ref> ''A. danaefolium'' tidak ditemukan liar di Nusantara.


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [http://mangrove.nus.edu.sg/guidebooks/text/1038.htm Piai raya], pada [http://mangrove.nus.edu.sg/ Guide of the Mangroves of Singapore]
* [http://mangrove.nus.edu.sg/guidebooks/text/1038.htm Piai raya], pada [http://mangrove.nus.edu.sg/ Guide of the Mangroves of Singapore]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paku+laut&oldid=26105428 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26105428 (2024-07-31T07:52:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paku+laut&oldid=26105428 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26105428 (2024-07-31T07:52:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.07

Acros aure 080627 0095 smlu

Paku laut adalah sejenis paku-pakuan berukuran besar, yang biasa tumbuh di tanah di bawah naungan hutan bakau atau lahan basah lainnya. Paku atau pakis ini juga dikenal dengan banyak nama lain seperti paku larat, papah, piai (Mal.: piai raya), paku hata diuk (Sunda), warakas, krakas, kakakeok (Jawa), dan rewayang (Halmahera).[1] Nama-namanya dalam bahasa Inggris di antaranya golden leather fern, swamp fern, dan mangrove fern.

Pemerian botani

Paku dalam rumpun yang besar, dapat mencapai tinggi 4 m, dan lebar rumpun yang kurang lebih sama. Batang pendek dan kekar, tegak, tertutupi oleh sisik-sisik besar kecoklatan.

Daun-daun majemuk menyirip, liat serupa kulit (jangat), panjangnya dapat mencapai 3 m, tetapi dengan tak lebih dari 30 pasang anak daun yang terletak tak beraturan dan, kadang-kadang, renggang. Beberapa pasang (5 pasang atau lebih) anak daun di ujung kerap fertil dan berwarna karat atau kecoklatan, dengan sisi bawah yang tertutupi oleh banyak sporangia yang besar-besar. Anak-anak daun yang steril (mandul) berada di bagian bawah, lebih panjang dan berujung tumpul atau membulat, serta dengan tonjolan ujung kecil yang pendek.[2]

Ekologi

Tumbuh menahun, paku laut hidup di lingkungan hutan bakau (mangrove), rawa pantai, tambak, serta di sepanjang sungai, parit dan kanal dekat laut. Meski demikian, Acrostichum aureum tak seberapa tahan oleh penggenangan pasang air laut dan tak menyukai tanah-tanah dengan salinitas tinggi; tak sebagaimana kerabat dekatnya, A. speciosum.[3]

Meskipun termasuk halofit (halophyte, tumbuhan yang toleran lahan masin), paku laut membutuhkan pasokan air tawar yang cukup agar dapat tumbuh optimal. Di tempat-tempat dengan frekuensi penggenangan pasang laut cukup tinggi (10–28 kali perbulan), pakis ini tumbuh kerdil atau bahkan sama sekali tak mau tumbuh. Terhadap penyinaran matahari, paku ini dapat menenggang (toleran) kondisi tumbuh di bawah naungan hingga ke tempat-tempat terbuka yang terik.[4] Bahkan, paku ini dapat menginvasi lahan-lahan bekas tebangan dan membentuk padang paku laut yang cukup luas.[5]

Manfaat

Daun-daun paku laut yang dikeringkan dipergunakan sebagai atap rumah. Pucuknya yang muda juga dimanfaatkan sebagai sayuran di beberapa daerah.[6] Daun-daun yang tua dan juga akarnya digunakan sebagai bahan obat tradisional.[7]

Penyebaran

Acrostichum aureum ditemukan menyebar di wilayah-wilayah tropis dan ugahari di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Jenis yang serupa

Acrostichum speciosum memiliki perawakan yang mirip dengan A. aureum, dengan sedikit perbedaan. Anak-anak daun yang steril pada A. speciosum memiliki ujung yang meruncing, tak seperti A. aureum yang berujung tumpul atau membulat.[8] (Lihat pula foto pada laman Piai raya, pada Guide of the Mangroves of Singapore).

A. speciosum ditemukan pada habitat yang serupa dengan A. aureum di Nusantara, tetapi umumnya lebih menyukai tempat-tempat yang kelindungan.[9]

Acrostichum danaefolium serupa pula bentuknya dengan A. aureum, hanya saja anak daun yang fertil —dengan sporangia di sisi bawahnya— tidak terbatas pada pasangan anak-anak daun di ujung, melainkan juga hingga pasangan-pasangan dekat pangkal daun.[10] A. danaefolium tidak ditemukan liar di Nusantara.

Pranala luar

Referensi

  1. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 90.
  2. Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. Mangrove Guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265
  3. Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. Mangrove Guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265
  4. Medina et. al. 1990 dalam Acrostichum aureum, Linnaeus 1758. Artikel pada Smithsonian Marine Station at Fort Pierce, diakses 20/IX/2008.
  5. Paku Laut, Tanaman Pesisir yang Tidak Suka Tergenangi Air. Greeners.Co. 2024-02-04.
  6. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 90.
  7. Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. Mangrove Guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265
  8. Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. Mangrove Guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265
  9. Giesen, W., S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten, 2006. Mangrove Guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/07. FAO and Wetlands International. p.265
  10. Lloyd and Greg 1975 dalam Acrostichum aureum, Linnaeus 1758. Artikel pada Smithsonian Marine Station at Fort Pierce, diakses 20/IX/2008.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26105428 (2024-07-31T07:52:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.