Perompakan di Selat Malaka: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 24592734; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''[[Perompakan]] di [[Selat Malaka]]''' merupakan sebuah sejarah panjang yang tak terselesaikan bagi para pemilik kapal dan pelaut yang melintasi Selat Malaka, jalur laut sepanjang 900 KM di Asia Tenggara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, patroli laut oleh [[Indonesia]], [[Malaysia]] dan [[Singapura]] berhasil mengurangi perompakan, menurut [[Kantor Maritim Internasional]] (IMB). | [[File:Strait_of_malacca.jpg|thumb|right|280px|Strait of malacca]] | ||
'''[[Perompakan]] di [[Selat Malaka]]''' merupakan sebuah sejarah panjang yang tak terselesaikan bagi para pemilik kapal dan pelaut yang melintasi Selat Malaka, jalur laut sepanjang 900 KM di Asia Tenggara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, patroli laut oleh [[Indonesia]], [[Malaysia]] dan [[Singapura]] berhasil mengurangi perompakan, menurut [[Kantor Maritim Internasional]] (IMB).<ref>"Watchdog hails improved security in Malacca Strait; Increased patrols and other measures have cut number of pirate attacks", ''The Straits Times'', January 23, 2007.</ref> | |||
Lokasi geografis Selat Malaka menjadikannya rapuh terhadap praktik perompakan. Selat Malaka sejak lama merupakan sebuah jalur penting yang menghubungkan [[Tiongkok]] dan [[India]], dan sering kali digunakan untuk tujuan perdagangan. Di era modern, Selat ini merupakan jalur antara [[Eropa]], [[Terusan Suez]], dan negara-negara penghasil minyak di [[Teluk Persia]]; serta pelabuhan-pelabuhan [[Asia Timur]] yang sibuk. Terdapat ribuan pulau kecil di selat sempit ini, selain itu selat ini juga menjadi muara banyak sungai. Dua hal ini menjadikan Selat Malaka tempat yang ideal bagi para perompak untuk bersembunyi dan menghindari penangkapan. | Lokasi geografis Selat Malaka menjadikannya rapuh terhadap praktik perompakan. Selat Malaka sejak lama merupakan sebuah jalur penting yang menghubungkan [[Tiongkok]] dan [[India]], dan sering kali digunakan untuk tujuan perdagangan. Di era modern, Selat ini merupakan jalur antara [[Eropa]], [[Terusan Suez]], dan negara-negara penghasil minyak di [[Teluk Persia]]; serta pelabuhan-pelabuhan [[Asia Timur]] yang sibuk. Terdapat ribuan pulau kecil di selat sempit ini, selain itu selat ini juga menjadi muara banyak sungai. Dua hal ini menjadikan Selat Malaka tempat yang ideal bagi para perompak untuk bersembunyi dan menghindari penangkapan. | ||
== Sejarah == | == Sejarah == | ||
Menurut sejarah, menjadi perompak di Selat Malaka tidak hanya menguntungkan jika dilihat dari segi material, tetapi aksi perompakan juga merupakan alat politik yang penting. Para penguasa mengandalkan para perompak untuk mempertahankan kekuasaan. Salah satu contoh terjadi pada abad XIV di bawah pemerintahan seorang pangeran [[Palembang]], [[Parameswara]]. Berkat bantuan segerombolan perompak yang terdiri dari suku [[Orang Laut]] yang setia kepadanya, Parameswara berhasil melarikan diri dari kejaran utusan [[Majapahit|kerajaan Majapahit]] dan akhirnya dia mendirikan [[Kesultanan Malaka]]. | Menurut sejarah, menjadi perompak di Selat Malaka tidak hanya menguntungkan jika dilihat dari segi material, tetapi aksi perompakan juga merupakan alat politik yang penting. Para penguasa mengandalkan para perompak untuk mempertahankan kekuasaan. Salah satu contoh terjadi pada abad XIV di bawah pemerintahan seorang pangeran [[Palembang]], [[Parameswara]]. Berkat bantuan segerombolan perompak yang terdiri dari suku [[Orang Laut]] yang setia kepadanya, Parameswara berhasil melarikan diri dari kejaran utusan [[Majapahit|kerajaan Majapahit]] dan akhirnya dia mendirikan [[Kesultanan Malaka]]. | ||
== Catatan == | == Catatan == | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/FJ19Ae01.html Southeast Asia's modern-day pirates] | * [http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/FJ19Ae01.html Southeast Asia's modern-day pirates] | ||
* [http://www.economist.com/research/articlesBySubject/displaystory.cfm?subjectid=7933596&story_id=11079332 2004 vs. 2007 global piracy summary, ''The Economist''], published 23 Apr 2008, accessed 2008-04-28. | * [http://www.economist.com/research/articlesBySubject/displaystory.cfm?subjectid=7933596&story_id=11079332 2004 vs. 2007 global piracy summary, ''The Economist''], published 23 Apr 2008, accessed 2008-04-28. | ||
* [http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/GD09Ae02.html Pirates mock Malacca Strait security] | * [http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/GD09Ae02.html Pirates mock Malacca Strait security] | ||
* [http://www.koreanhistoryproject.org/Ket/C09/E0901.htm "Tribute and Trade"], KoreanHistoryProject.org | * [http://www.koreanhistoryproject.org/Ket/C09/E0901.htm "Tribute and Trade"], KoreanHistoryProject.org | ||
* [http://bookshop.iseas.edu.sg/FMPro?-db=iw_Publication&-lay=Web%20Form&-format=items.htm&-error=Noresult.htm&-max=25&-token=KeySearch&keyword=%22piracy%22&TitleSearch=%22piracy%22&iw_chapter_article::chapter_article_title=%22piracy%22&-lop=OR&-SortField=published_month_year&-SortOrder=descend&-Find ISEAS publications regarding piracy] | * [http://bookshop.iseas.edu.sg/FMPro?-db=iw_Publication&-lay=Web%20Form&-format=items.htm&-error=Noresult.htm&-max=25&-token=KeySearch&keyword=%22piracy%22&TitleSearch=%22piracy%22&iw_chapter_article::chapter_article_title=%22piracy%22&-lop=OR&-SortField=published_month_year&-SortOrder=descend&-Find ISEAS publications regarding piracy] | ||
* [http://magma.nationalgeographic.com/ngm/2007-10/malacca-strait-pirates/pirates-text.html National Geographic article on modern pirates in Malacca Straits] | * [http://magma.nationalgeographic.com/ngm/2007-10/malacca-strait-pirates/pirates-text.html National Geographic article on modern pirates in Malacca Straits] | ||
* [http://www.recaap.org/index_home.html ReCAAP: Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery] | * [http://www.recaap.org/index_home.html ReCAAP: Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perompakan+di+Selat+Malaka&oldid=24592734 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 24592734 (2023-10-19T17:27:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 30 Agustus 2026 04.10

Perompakan di Selat Malaka merupakan sebuah sejarah panjang yang tak terselesaikan bagi para pemilik kapal dan pelaut yang melintasi Selat Malaka, jalur laut sepanjang 900 KM di Asia Tenggara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, patroli laut oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura berhasil mengurangi perompakan, menurut Kantor Maritim Internasional (IMB).[1]
Lokasi geografis Selat Malaka menjadikannya rapuh terhadap praktik perompakan. Selat Malaka sejak lama merupakan sebuah jalur penting yang menghubungkan Tiongkok dan India, dan sering kali digunakan untuk tujuan perdagangan. Di era modern, Selat ini merupakan jalur antara Eropa, Terusan Suez, dan negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia; serta pelabuhan-pelabuhan Asia Timur yang sibuk. Terdapat ribuan pulau kecil di selat sempit ini, selain itu selat ini juga menjadi muara banyak sungai. Dua hal ini menjadikan Selat Malaka tempat yang ideal bagi para perompak untuk bersembunyi dan menghindari penangkapan.
Sejarah
Menurut sejarah, menjadi perompak di Selat Malaka tidak hanya menguntungkan jika dilihat dari segi material, tetapi aksi perompakan juga merupakan alat politik yang penting. Para penguasa mengandalkan para perompak untuk mempertahankan kekuasaan. Salah satu contoh terjadi pada abad XIV di bawah pemerintahan seorang pangeran Palembang, Parameswara. Berkat bantuan segerombolan perompak yang terdiri dari suku Orang Laut yang setia kepadanya, Parameswara berhasil melarikan diri dari kejaran utusan kerajaan Majapahit dan akhirnya dia mendirikan Kesultanan Malaka.
Catatan
Pranala luar
- Southeast Asia's modern-day pirates
- 2004 vs. 2007 global piracy summary, The Economist, published 23 Apr 2008, accessed 2008-04-28.
- Pirates mock Malacca Strait security
- "Tribute and Trade", KoreanHistoryProject.org
- ISEAS publications regarding piracy
- National Geographic article on modern pirates in Malacca Straits
- ReCAAP: Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery
Referensi
- ↑ "Watchdog hails improved security in Malacca Strait; Increased patrols and other measures have cut number of pirate attacks", The Straits Times, January 23, 2007.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 24592734 (2023-10-19T17:27:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.