Blaise Pascal: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28162062; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Blaise_pascal.jpg|thumb|right|280px|Blaise pascal]] | |||
'''Blaise Pascal''' () berasal dari [[Prancis]]. Minat utamanya ialah [[filsafat]] dan [[agama]], sedangkan hobinya yang lain adalah [[matematika]] dan [[geometri]] proyektif. Bersama dengan [[Pierre de Fermat]] menemukan teori tentang [[probabilitas]]. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang [[ilmu pengetahuan]] dan [[ilmu terapan]], di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung. | '''Blaise Pascal''' () berasal dari [[Prancis]]. Minat utamanya ialah [[filsafat]] dan [[agama]], sedangkan hobinya yang lain adalah [[matematika]] dan [[geometri]] proyektif. Bersama dengan [[Pierre de Fermat]] menemukan teori tentang [[probabilitas]]. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang [[ilmu pengetahuan]] dan [[ilmu terapan]], di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung. | ||
== Pemikiran == | == Pemikiran == | ||
=== ''Le Coeur'' === | === ''Le Coeur'' === | ||
''Le coeur a ses raison ne connait point'' (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh [[rasio]]) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal. Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan. Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal. Baginya "hati" (''Le coeur'') manusia adalah jauh lebih penting. | ''Le coeur a ses raison ne connait point'' (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh [[rasio]]) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Baginya "hati" (''Le coeur'') manusia adalah jauh lebih penting.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti [[emosi]]. | Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti [[emosi]].<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. | Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam. Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni [[pengetahuan]] tentang [[Allah]]. | Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni [[pengetahuan]] tentang [[Allah]].<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya. | Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan [[iman]] tidak terbatas. | Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan [[iman]] tidak terbatas.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah. | Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di [[sorga]] kelak. Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun. Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di [[dunia]] sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia. | Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di [[sorga]] kelak.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di [[dunia]] sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah. | Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah. | ||
| Baris 32: | Baris 24: | ||
== Karya-karya == | == Karya-karya == | ||
* ''The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah)''.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> | |||
* ''The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah)''. | Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap [[Antoine Arnauld]], seorang pemimpin gerakan [[Jansenisme]] yang diadili di [[Sorbonne]] oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum [[Yesuit]].<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> | ||
Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya. Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap [[Antoine Arnauld]], seorang pemimpin gerakan [[Jansenisme]] yang diadili di [[Sorbonne]] oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya. Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum [[Yesuit]]. | |||
| Baris 45: | Baris 31: | ||
* [[Hukum ilmiah#Hukum Pascal (1658)|Hukum Pascal]] | * [[Hukum ilmiah#Hukum Pascal (1658)|Hukum Pascal]] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Blaise+Pascal&oldid=28162062 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28162062 (2025-10-26T03:30:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.29

Blaise Pascal () berasal dari Prancis. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif. Bersama dengan Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan, di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung.
Pemikiran
Le Coeur
Le coeur a ses raison ne connait point (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal.[1] Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan.[2] Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal.[3] Baginya "hati" (Le coeur) manusia adalah jauh lebih penting.[4]
Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti emosi.[5] Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif.[6] Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.[7] Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni pengetahuan tentang Allah.[8]
Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya.[9] Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.[10]
Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah.[11]
Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di sorga kelak.[12] Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun.[13] Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.[14]
Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah.
Kesimpulannya, menurut Pascal, lebih baik percaya pada Allah ketimbang tidak percaya kepada-Nya.
Karya-karya
- The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah).[15]
Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya.[16] Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap Antoine Arnauld, seorang pemimpin gerakan Jansenisme yang diadili di Sorbonne oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya.[17] Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum Yesuit.[18]
Lihat pula
Referensi
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28162062 (2025-10-26T03:30:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.