Lompat ke isi

Paradoks toleransi: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29454238; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
[[File:The_Open_Society_and_Its_Enemies,_first_edition,_volume_one.jpg|thumb|right|280px|The Open Society and Its Enemies, first edition, volume one]]
'''Paradoks toleransi''' dipaparkan oleh [[Karl Popper]] pada tahun 1945. Menurut [[paradoks]] ini, apabila suatu masyarakat tidak membatasi sikap [[toleransi|tolerannya]], kemampuan toleransi mereka akan digerus atau dilenyapkan oleh kaum intoleran. Popper berkesimpulan bahwa untuk menjaga masyarakat yang toleran, masyarakat harus intoleran terhadap intoleransi.
'''Paradoks toleransi''' dipaparkan oleh [[Karl Popper]] pada tahun 1945. Menurut [[paradoks]] ini, apabila suatu masyarakat tidak membatasi sikap [[toleransi|tolerannya]], kemampuan toleransi mereka akan digerus atau dilenyapkan oleh kaum intoleran. Popper berkesimpulan bahwa untuk menjaga masyarakat yang toleran, masyarakat harus intoleran terhadap intoleransi.


== Pembahasan ==
== Pembahasan ==
Filsuf [[Karl Popper]] menjelaskan paradoks ini dalam buku ''[[The Open Society and Its Enemies]]'' Vol. 1 (1945; di catatan 4 Bab 7).
Filsuf [[Karl Popper]] menjelaskan paradoks ini dalam buku ''[[The Open Society and Its Enemies]]'' Vol. 1 (1945; di catatan 4 Bab 7).<ref>Popper, Karl, ''The Open Society and Its Enemies, volume 1, The Spell of Plato,'' 1945 (Routledge, United Kingdom); 978-0-691-15813-6 (1 volume 2013 Princeton ed.)</ref>
<blockquote>Hal yang tidak banyak diketahui adalah ''paradoks toleransi'': Toleransi tak terbatas akan memicu hilangnya toleransi. Apabila toleransi tak terbatas juga diberikan kepada kelompok intoleran, apabila kita tidak siap mempertahankan masyarakat toleran dari serbuan kelompok intoleran, maka kelompok toleran akan hancur bersama toleransi itu sendiri. — Dengan kalimat tersebut, saya tidak menyiratkan bahwa kita harus selalu membungkam ideologi yang intoleran; apabila kita masih bisa membalas dengan akal sehat dan mengawasi mereka lewat opini publik, pembungkaman pendapat justru tidak bijak. Namun, kita memiliki hak membungkam mereka bila perlu dan bahkan secara paksa; siapa tahu mereka tidak siap berdebat dengan kita menggunakan akal sehat, lalu membantah semua pendapat; siapa tahu mereka kemudian melarang para pengikutnya untuk mendengarkan akal sehat karena menyesatkan, lalu mengajarkan mereka untuk membalas dengan kepalan tangan atau senjata api. Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran.</blockquote>
<blockquote>Hal yang tidak banyak diketahui adalah ''paradoks toleransi'': Toleransi tak terbatas akan memicu hilangnya toleransi. Apabila toleransi tak terbatas juga diberikan kepada kelompok intoleran, apabila kita tidak siap mempertahankan masyarakat toleran dari serbuan kelompok intoleran, maka kelompok toleran akan hancur bersama toleransi itu sendiri. — Dengan kalimat tersebut, saya tidak menyiratkan bahwa kita harus selalu membungkam ideologi yang intoleran; apabila kita masih bisa membalas dengan akal sehat dan mengawasi mereka lewat opini publik, pembungkaman pendapat justru tidak bijak. Namun, kita memiliki hak membungkam mereka bila perlu dan bahkan secara paksa; siapa tahu mereka tidak siap berdebat dengan kita menggunakan akal sehat, lalu membantah semua pendapat; siapa tahu mereka kemudian melarang para pengikutnya untuk mendengarkan akal sehat karena menyesatkan, lalu mengajarkan mereka untuk membalas dengan kepalan tangan atau senjata api. Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran.</blockquote>
Ia menyimpulkan bahwa masyarakat wajib menolak toleran terhadap intoleransi: "Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran."
Ia menyimpulkan bahwa masyarakat wajib menolak toleran terhadap intoleransi: "Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran."


Pada tahun 1971, filsuf [[John Rawls]] menulis di ''[[A Theory of Justice]]'' bahwa masyarakat yang adil harus menoleransi kaum intoleran. Jika tidak, masyarakat itu sudah bersikap intoleran dan tidak adil. Namun, seperti Popper, Rawls juga menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak [[perlindungan diri sendiri]] yang masuk akal dan melampaui prinsip toleransi: "Meski kaum intoleran tidak berhak mengeluh atas intoleransi, kebebasan mereka harus dibatasi bila kaum toleran sangat yakin bahwa keamanan mereka dan keamanan kebebasan menghadapi ancaman."
Pada tahun 1971, filsuf [[John Rawls]] menulis di ''[[A Theory of Justice]]'' bahwa masyarakat yang adil harus menoleransi kaum intoleran. Jika tidak, masyarakat itu sudah bersikap intoleran dan tidak adil. Namun, seperti Popper, Rawls juga menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak [[perlindungan diri sendiri]] yang masuk akal dan melampaui prinsip toleransi: "Meski kaum intoleran tidak berhak mengeluh atas intoleransi, kebebasan mereka harus dibatasi bila kaum toleran sangat yakin bahwa keamanan mereka dan keamanan kebebasan menghadapi ancaman."<ref>John Rawls. [https://archive.org/details/theoryofjustice00rawl A Theory of Justice]. 1971. hlm. [https://archive.org/details/theoryofjustice00rawl/page/220 220]. ISBN 0-674-00078-1.</ref><ref>John Zijiang Ding. [http://www.cpp.edu/~jet/Documents/JET/Jet13/ding1-12.pdf Introduction: Pluralistic and Multicultural Reexaminations of Tolerance/Toleration]. ''Journal of East-West Thought''. December 2014. Vol. 4.</ref>


Dalam buku tahun 1997, [[Michael Walzer]] bertanya "Perlukah kita menoleransi orang-orang intoleran?" Ia menulis bahwa sebagian besar umat beragama minoritas yang menikmati toleransi justru bersikap intoleran, setidaknya dalam beberapa hal. Dalam pemerintahan yang toleran, orang-orang seperti itu bisa belajar menoleransi atau setidaknya bersikap "seolah-olah mereka tahu nilai [toleransi] ini".
Dalam buku tahun 1997, [[Michael Walzer]] bertanya "Perlukah kita menoleransi orang-orang intoleran?" Ia menulis bahwa sebagian besar umat beragama minoritas yang menikmati toleransi justru bersikap intoleran, setidaknya dalam beberapa hal. Dalam pemerintahan yang toleran, orang-orang seperti itu bisa belajar menoleransi atau setidaknya bersikap "seolah-olah mereka tahu nilai [toleransi] ini".<ref>Michael Walzer. [https://archive.org/details/ontoleration00walz_0 On Toleration]. Yale University Press. 1997. hlm. [https://archive.org/details/ontoleration00walz_0/page/80 80]-81. ISBN 0-300-07600-2.</ref>


[[Thomas Jefferson]] menjelaskan makna masyarakat toleran dalam pidato pelantikan pertamanya tentang pihak-pihak yang hendak mengganggu keutuhan negara. Ia mengatakan, "...biarkan mereka berdiri tanpa diganggu sebagai simbol keamanan, simbol yang menoleransi kekeliruan pendapat supaya bisa dilawan oleh akal sehat dengan bebas."
[[Thomas Jefferson]] menjelaskan makna masyarakat toleran dalam pidato pelantikan pertamanya tentang pihak-pihak yang hendak mengganggu keutuhan negara. Ia mengatakan, "...biarkan mereka berdiri tanpa diganggu sebagai simbol keamanan, simbol yang menoleransi kekeliruan pendapat supaya bisa dilawan oleh akal sehat dengan bebas."<ref>[http://press-pubs.uchicago.edu/founders/documents/v1ch4s33.html Thomas Jefferson, First Inaugural Address, Chapter 4, Document 33]. ''The Founders' Constitution''. The University of Chicago Press. 1801-03-04. Vol. 1.</ref>


=== Toleransi dan kebebasan berbicara ===
Paradoks toleransi berperan penting dalam pembahasan batas-batas kebebasan berbicara. Menurut Popper, paradoks terjadi apabila kelompok yang ingin melenyapkan kebebasan malah dibebaskan berbicara. Rosenfeld mengatakan, "tampaknya kontradiktif apabila kebebasan berbicara diberikan kepada kelompok ekstremis yang... bila berkuasa malah membungkam kebebasan berbicara orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka." Ia menunjukkan bahwa negara-negara demokratis di Eropa dan Amerika Serikat memiliki pendekatan yang berbeda soal toleransi [[ujaran kebencian]].


Pihak lainnya berpendapat bahwa ujaran intoleran yang hanya menyiratkan sikap keliyanan (eksklusif) perlu dihadapi dengan standar pembenaran yang berbeda, bukan dengan kekerasan atau pembungkaman sikap keliyanan secara langsung: “Tindak kekerasan yang didasarkan pada kepercayaan 'saya' membenarkan tindak kekerasan di mana saja yang didasarkan pada kepercayaan semua orang.”
Pihak lainnya berpendapat bahwa ujaran intoleran yang hanya menyiratkan sikap keliyanan (eksklusif) perlu dihadapi dengan standar pembenaran yang berbeda, bukan dengan kekerasan atau pembungkaman sikap keliyanan secara langsung: “Tindak kekerasan yang didasarkan pada kepercayaan 'saya' membenarkan tindak kekerasan di mana saja yang didasarkan pada kepercayaan semua orang.”<ref>[http://culturalanalysis.net/2017/12/11/ethical-dilemma-intolerance-intolerance/ Salinan arsip].</ref>


Kritik atas intoleransi berlebihan terhadap ujaran intoleran juga dibahas dalam etika diskursus yang dikembangkan [[Jürgen Habermas]] ("Cara-cara mencapai kesepakatan selalu tergantikan oleh pemaksaan.") dan [[Karl-Otto Apel]]
Kritik atas intoleransi berlebihan terhadap ujaran intoleran juga dibahas dalam etika diskursus yang dikembangkan [[Jürgen Habermas]] ("Cara-cara mencapai kesepakatan selalu tergantikan oleh pemaksaan.")<ref>Jürgen Habermas. ''Moral Consciousness and Communicative Action''. Polity Press. 1990. hlm. 106.</ref> dan [[Karl-Otto Apel]]<ref>Karl-Otto Apel. ''Selected Essays: Ethics and the Theory of Rationality''. Humanities Press International. 1996. hlm. 210-211.</ref>


=== Homofili dan intoleransi ===
=== Homofili dan intoleransi ===
Kaitan antara [[homofili]] (keinginan berinteraksi dengan orang-orang sepemahaman) dan [[tolerasi|intoleransi]] terlihat ketika seseorang yang toleran harus memilih antara membangun hubungan positif dengan sosok toleran dari kelompok lain atau membangun hubungan positif dengan sosok intoleran di dalam kelompoknya sendiri. Dalam kasus pertama, anggota kelompok sendiri yang intoleran tidak menyetujui hubungan dengan anggota kelompok lain sehingga menciptakan hubungan negatif dengan anggota kelompok lain yang juga toleran. Dalam kasus kedua, hubungan negatif dengan anggota kelompok lain didukung oleh anggota kelompok sendiri yang intoleran dan mengutamakan hubungan positif dengan anggota kelompok sendiri.
Kaitan antara [[homofili]] (keinginan berinteraksi dengan orang-orang sepemahaman) dan [[tolerasi|intoleransi]] terlihat ketika seseorang yang toleran harus memilih antara membangun hubungan positif dengan sosok toleran dari kelompok lain atau membangun hubungan positif dengan sosok intoleran di dalam kelompoknya sendiri. Dalam kasus pertama, anggota kelompok sendiri yang intoleran tidak menyetujui hubungan dengan anggota kelompok lain sehingga menciptakan hubungan negatif dengan anggota kelompok lain yang juga toleran. Dalam kasus kedua, hubungan negatif dengan anggota kelompok lain didukung oleh anggota kelompok sendiri yang intoleran dan mengutamakan hubungan positif dengan anggota kelompok sendiri.


Dilema ini dibahas oleh Aguiar dan Parravano dalam ''Tolerating the Intolerant: Homophily, Intolerance, and Segregation in Social Balanced Networks''. Mereka membuat model kelompok yang hubungan antarindividunya diatur oleh [[teori keseimbangan|teori keseimbangan Heider]] yang sudah dimodifikasi.
Dilema ini dibahas oleh Aguiar dan Parravano dalam ''Tolerating the Intolerant: Homophily, Intolerance, and Segregation in Social Balanced Networks''.<ref>Fernando Aguiar. ''Tolerating the Intolerant: Homophily, Intolerance, and Segregation in Social Balanced Networks''. ''Journal of Conflict Resolution''. 2013. doi:10.1177/0022002713498708.</ref> Mereka membuat model kelompok yang hubungan antarindividunya diatur oleh [[teori keseimbangan|teori keseimbangan Heider]] yang sudah dimodifikasi.<ref>Fritz Heider. ''Attitudes and Cognitive Organization''. ''Journal of Psychology''. 1946. Vol. 21. hlm. 107–12.</ref><ref>Fritz Heider. ''The Psychology of Interpersonal Relations''. Psychology Press. 1958. ISBN 9780898592825.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 28: Baris 28:
* [[Ingroup dan outgroup]]
* [[Ingroup dan outgroup]]
* ''[[A Critique of Pure Tolerance]]''
* ''[[A Critique of Pure Tolerance]]''
== Referensi ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
Baris 38: Baris 35:
* [http://www.michaeltotten.com/archives/2006/07/tolerating-the-intolerant.php Tolerating the Intolerant] , Michael Totten, July 9, 2006.
* [http://www.michaeltotten.com/archives/2006/07/tolerating-the-intolerant.php Tolerating the Intolerant] , Michael Totten, July 9, 2006.


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+toleransi&oldid=29454238 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29454238 (2026-07-13T18:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paradoks+toleransi&oldid=29454238 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29454238 (2026-07-13T18:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.31

The Open Society and Its Enemies, first edition, volume one

Paradoks toleransi dipaparkan oleh Karl Popper pada tahun 1945. Menurut paradoks ini, apabila suatu masyarakat tidak membatasi sikap tolerannya, kemampuan toleransi mereka akan digerus atau dilenyapkan oleh kaum intoleran. Popper berkesimpulan bahwa untuk menjaga masyarakat yang toleran, masyarakat harus intoleran terhadap intoleransi.

Pembahasan

Filsuf Karl Popper menjelaskan paradoks ini dalam buku The Open Society and Its Enemies Vol. 1 (1945; di catatan 4 Bab 7).[1]

Hal yang tidak banyak diketahui adalah paradoks toleransi: Toleransi tak terbatas akan memicu hilangnya toleransi. Apabila toleransi tak terbatas juga diberikan kepada kelompok intoleran, apabila kita tidak siap mempertahankan masyarakat toleran dari serbuan kelompok intoleran, maka kelompok toleran akan hancur bersama toleransi itu sendiri. — Dengan kalimat tersebut, saya tidak menyiratkan bahwa kita harus selalu membungkam ideologi yang intoleran; apabila kita masih bisa membalas dengan akal sehat dan mengawasi mereka lewat opini publik, pembungkaman pendapat justru tidak bijak. Namun, kita memiliki hak membungkam mereka bila perlu dan bahkan secara paksa; siapa tahu mereka tidak siap berdebat dengan kita menggunakan akal sehat, lalu membantah semua pendapat; siapa tahu mereka kemudian melarang para pengikutnya untuk mendengarkan akal sehat karena menyesatkan, lalu mengajarkan mereka untuk membalas dengan kepalan tangan atau senjata api. Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran.

Ia menyimpulkan bahwa masyarakat wajib menolak toleran terhadap intoleransi: "Karena itu, atas nama toleransi, kita berhak tidak menoleransi kaum intoleran."

Pada tahun 1971, filsuf John Rawls menulis di A Theory of Justice bahwa masyarakat yang adil harus menoleransi kaum intoleran. Jika tidak, masyarakat itu sudah bersikap intoleran dan tidak adil. Namun, seperti Popper, Rawls juga menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak perlindungan diri sendiri yang masuk akal dan melampaui prinsip toleransi: "Meski kaum intoleran tidak berhak mengeluh atas intoleransi, kebebasan mereka harus dibatasi bila kaum toleran sangat yakin bahwa keamanan mereka dan keamanan kebebasan menghadapi ancaman."[2][3]

Dalam buku tahun 1997, Michael Walzer bertanya "Perlukah kita menoleransi orang-orang intoleran?" Ia menulis bahwa sebagian besar umat beragama minoritas yang menikmati toleransi justru bersikap intoleran, setidaknya dalam beberapa hal. Dalam pemerintahan yang toleran, orang-orang seperti itu bisa belajar menoleransi atau setidaknya bersikap "seolah-olah mereka tahu nilai [toleransi] ini".[4]

Thomas Jefferson menjelaskan makna masyarakat toleran dalam pidato pelantikan pertamanya tentang pihak-pihak yang hendak mengganggu keutuhan negara. Ia mengatakan, "...biarkan mereka berdiri tanpa diganggu sebagai simbol keamanan, simbol yang menoleransi kekeliruan pendapat supaya bisa dilawan oleh akal sehat dengan bebas."[5]


Pihak lainnya berpendapat bahwa ujaran intoleran yang hanya menyiratkan sikap keliyanan (eksklusif) perlu dihadapi dengan standar pembenaran yang berbeda, bukan dengan kekerasan atau pembungkaman sikap keliyanan secara langsung: “Tindak kekerasan yang didasarkan pada kepercayaan 'saya' membenarkan tindak kekerasan di mana saja yang didasarkan pada kepercayaan semua orang.”[6]

Kritik atas intoleransi berlebihan terhadap ujaran intoleran juga dibahas dalam etika diskursus yang dikembangkan Jürgen Habermas ("Cara-cara mencapai kesepakatan selalu tergantikan oleh pemaksaan.")[7] dan Karl-Otto Apel[8]

Homofili dan intoleransi

Kaitan antara homofili (keinginan berinteraksi dengan orang-orang sepemahaman) dan intoleransi terlihat ketika seseorang yang toleran harus memilih antara membangun hubungan positif dengan sosok toleran dari kelompok lain atau membangun hubungan positif dengan sosok intoleran di dalam kelompoknya sendiri. Dalam kasus pertama, anggota kelompok sendiri yang intoleran tidak menyetujui hubungan dengan anggota kelompok lain sehingga menciptakan hubungan negatif dengan anggota kelompok lain yang juga toleran. Dalam kasus kedua, hubungan negatif dengan anggota kelompok lain didukung oleh anggota kelompok sendiri yang intoleran dan mengutamakan hubungan positif dengan anggota kelompok sendiri.

Dilema ini dibahas oleh Aguiar dan Parravano dalam Tolerating the Intolerant: Homophily, Intolerance, and Segregation in Social Balanced Networks.[9] Mereka membuat model kelompok yang hubungan antarindividunya diatur oleh teori keseimbangan Heider yang sudah dimodifikasi.[10][11]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Popper, Karl, The Open Society and Its Enemies, volume 1, The Spell of Plato, 1945 (Routledge, United Kingdom); 978-0-691-15813-6 (1 volume 2013 Princeton ed.)
  2. John Rawls. A Theory of Justice. 1971. hlm. 220. ISBN 0-674-00078-1.
  3. John Zijiang Ding. Introduction: Pluralistic and Multicultural Reexaminations of Tolerance/Toleration. Journal of East-West Thought. December 2014. Vol. 4.
  4. Michael Walzer. On Toleration. Yale University Press. 1997. hlm. 80-81. ISBN 0-300-07600-2.
  5. Thomas Jefferson, First Inaugural Address, Chapter 4, Document 33. The Founders' Constitution. The University of Chicago Press. 1801-03-04. Vol. 1.
  6. Salinan arsip.
  7. Jürgen Habermas. Moral Consciousness and Communicative Action. Polity Press. 1990. hlm. 106.
  8. Karl-Otto Apel. Selected Essays: Ethics and the Theory of Rationality. Humanities Press International. 1996. hlm. 210-211.
  9. Fernando Aguiar. Tolerating the Intolerant: Homophily, Intolerance, and Segregation in Social Balanced Networks. Journal of Conflict Resolution. 2013. doi:10.1177/0022002713498708.
  10. Fritz Heider. Attitudes and Cognitive Organization. Journal of Psychology. 1946. Vol. 21. hlm. 107–12.
  11. Fritz Heider. The Psychology of Interpersonal Relations. Psychology Press. 1958. ISBN 9780898592825.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29454238 (2026-07-13T18:31:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.