Jam Gadang: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29321012; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Jam_Gadang,_Bukittinggi,_2016-02-12_01.jpg|thumb|right|280px|Jam Gadang, Bukittinggi, 2016-02-12 01]] | |||
Jam Gadang menjadi lokasi peristiwa penting pada masa sekitar [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|kemerdekaan Indonesia]], seperti pengibaran bendera merah putih (1945), [[Demonstrasi Nasi Bungkus]] (1950), dan pembunuhan 187 penduduk setempat oleh [[Tentara Nasional Indonesia|militer Indonesia]] atas tuduhan terlibat [[Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia]] (1959). | '''Jam Gadang''' adalah [[menara jam]] setinggi 27 meter yang menjadi [[markah tanah|penanda]] atau ikon [[Kota Bukittinggi]], [[Sumatera Barat]], [[Indonesia]]. Namanya merupakan sebutan [[bahasa Minangkabau]] yang berarti "jam besar". Menurut penelusuran penulis Rahmat Irfan Denas, pembangunannya dimulai pada 27 Mei 1926 dan diresmikan pada 25 Juli 1927.<ref>Rahmat Irfan Denas. [https://suluah.com/peresmian-jam-gadang-25-juli-1927/ Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927]. ''Suluah.com''. 2022-10-22.</ref><ref>Rahmat Irfan Denas. [https://www.hariansinggalang.co.id/berita/243200/jam-gadang-bukan-hadiah-ratu-belanda-bagian-2 Jam Gadang Bukan Hadiah Ratu Belanda (Bagian 2)]. ''Harian Singgalang''. 2026-06-06.</ref> | ||
Jam Gadang menjadi lokasi peristiwa penting pada masa sekitar [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|kemerdekaan Indonesia]], seperti pengibaran bendera merah putih (1945), [[Demonstrasi Nasi Bungkus]] (1950), dan pembunuhan 187 penduduk setempat oleh [[Tentara Nasional Indonesia|militer Indonesia]] atas tuduhan terlibat [[Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia]] (1959).<ref>Syamdani. [https://books.google.co.id/books?id=R9u37gzZMlUC&pg=PA88&dq=PRRI+%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiK6Kn9k9HsAhXGWisKHcEnDeAQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=PRRI%20%22jam%20Gadang%22&f=false PRRI, pemberontakan atau bukan?]. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.</ref><ref>Abraham Ilyas. [https://books.google.co.id/books?id=zKxiDwAAQBAJ&pg=PA17&dq=PRRI+%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiK6Kn9k9HsAhXGWisKHcEnDeAQ6AEwAXoECAQQAg#v=onepage&q=PRRI%20%22jam%20Gadang%22&f=false Syair Kisah Perjuangan Anak Nagari 1958-1961: Kalah di Ujung Bedil Menang dengan Silat]. Lembaga Kekerabatan Datuk Soda. ISBN 978-602-71254-1-4.</ref> | |||
Saat ini, Jam Gadang menjelma menjadi [[objek wisata]] dengan perluasan taman di sekitarnya. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada [[hari libur]]. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sini. | Saat ini, Jam Gadang menjelma menjadi [[objek wisata]] dengan perluasan taman di sekitarnya. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada [[hari libur]]. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sini. | ||
== Struktur == | == Struktur == | ||
Ukuran dasar bangunan Jam Gadang yaitu 6,5 x 6,5 meter, ditambah dengan ukuran dasar tangga selebar 4 meter, sehingga ukuran dasar bangunan keseluruhan 6,5 x 10,5 meter. Bagian dalam menara jam terdiri dari lima tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. | Ukuran dasar bangunan Jam Gadang yaitu 6,5 x 6,5 meter, ditambah dengan ukuran dasar tangga selebar 4 meter, sehingga ukuran dasar bangunan keseluruhan 6,5 x 10,5 meter.<ref>Edinal Agung. ''Kajian Bentuk Jam Gadang di Bukittinggi''. Universitas Sumatera Utara. 24 Februari 2017.</ref> Bagian dalam menara jam terdiri dari lima tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. | ||
Terdapat empat jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut digerakkan secara mekanik oleh mesin yang didatangkan langsung dari [[Rotterdam]], [[Belanda]] melalui [[pelabuhan Teluk Bayur]]. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu [[Vortmann Recklinghausen]]. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan [[Recklinghausen (distrik)|Recklinghausen]] adalah nama kota di [[Jerman]] yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892. | Terdapat empat jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut digerakkan secara mekanik oleh mesin yang didatangkan langsung dari [[Rotterdam]], [[Belanda]] melalui [[pelabuhan Teluk Bayur]]. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu [[Vortmann Recklinghausen]]. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan [[Recklinghausen (distrik)|Recklinghausen]] adalah nama kota di [[Jerman]] yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892. | ||
== Sejarah == | == Sejarah == | ||
Jam Gadang dibangun pada 1925–1927 atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, ''controleur'' atau sekretaris kota [[Fort de Kock]] (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan [[Hindia Belanda]]. Seorang arsitek asal [[Koto Gadang, IV Koto, Agam|Koto Gadang]], [[Yazid Rajo Mangkuto]] bertindak sebagai penanggung jawab pembangunan, sementara pelaksana pembangunan ditangani oleh Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh. | Jam Gadang dibangun pada 1925–1927<ref>[https://books.google.co.id/books?id=by05AQAAIAAJ&q=%22ROOKMAKER%22+%22controleur+%22&dq=%22ROOKMAKER%22+%22controleur+%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwii6ZSn8cnrAhXGc30KHe7cAGIQ6AEwA3oECAcQAg Bukittinggi 1968-1971].</ref> atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, ''controleur'' atau sekretaris kota [[Fort de Kock]] (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan [[Hindia Belanda]].<ref>[https://books.google.co.id/books?id=_IkXAQAAIAAJ&q=%22RookMaker%22+-jam+gadang&dq=%22RookMaker%22+-jam+gadang&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjNw-bto6jnAhUD8XMBHQjsCzAQ6AEIPzAC MededeelIngen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië - Dutch East Indies. Dienst der volksgezondheid - Google Books]</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=VJFuAAAAMAAJ&q=kotogadang+%22yazid%22&dq=kotogadang+%22yazid%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjOvsii98nrAhWWSH0KHXgWCfcQ6AEwAXoECAAQAg Ensiklopedi Minangkabau]. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. 2005. ISBN 978-979-3797-23-6.</ref> Seorang arsitek asal [[Koto Gadang, IV Koto, Agam|Koto Gadang]], [[Yazid Rajo Mangkuto]] bertindak sebagai penanggung jawab pembangunan,<ref>[https://suluah.com/jam-gadang-hadiah-ratu-wilhelmina-dan-peran-arsitek-asal-koto-gadang/ Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang]. ''Suluah.com''. 2021-05-28.</ref> sementara pelaksana pembangunan ditangani oleh Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=VJFuAAAAMAAJ&q=kotogadang+%22yazid%22&dq=kotogadang+%22yazid%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjOvsii98nrAhWWSH0KHXgWCfcQ6AEwAXoECAAQAg Ensiklopedi Minangkabau]. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. 2005. ISBN 978-979-3797-23-6.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=zT_kAAAAMAAJ&dq=kotogadang+%22yazid%22&focus=searchwithinvolume&q=1932+ Femina: gaya hidup masa kini]. P.T. Gaya Favorit Press. 1992.</ref> | ||
Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh putra pertama Rookmaker yang pada saat itu masih berusia enam tahun. Pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 15.000 Gulden di luar biaya upah pekerja sebesar 6.000 Gulden. Biaya itu bersumber dari ''Pasar Fonds'', badan pengelola dan pengumpul pajak atas pasar-pasar di Bukittinggi. | Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh putra pertama Rookmaker yang pada saat itu masih berusia enam tahun. Pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 15.000 Gulden di luar biaya upah pekerja sebesar 6.000 Gulden.<ref>H.Julius Dt. Malaka Nan Putiah (1947). ''Sejarah Nagari Kurai V Jorong serta Pemerintahannya: Pasar dan Kota Bukittinggi''. Bukittinggi: Tsamaratoel Ichwan. hlm. 51.</ref> Biaya itu bersumber dari ''Pasar Fonds'', badan pengelola dan pengumpul pajak atas pasar-pasar di Bukittinggi. | ||
Jam Gadang sedang dalam tahap kontruksi ketika terjadinya [[Gempa bumi Padang Panjang 1926|gempa bumi Padang Panjang]] pada Juni 1926. Gempa mengakibatkan bangunan menara miring 30 derajat sehingga diperbaiki seperti keadaan semula. Pada awal Februari 1927, Gubernur Jenderal Hindia Belanda [[Andries Cornelies Dirk de Graeff]] meninjau pembangunan Jam Gadang dalam kunjungannya ke Fort de Kock. | Jam Gadang sedang dalam tahap kontruksi ketika terjadinya [[Gempa bumi Padang Panjang 1926|gempa bumi Padang Panjang]] pada Juni 1926. Gempa mengakibatkan bangunan menara miring 30 derajat sehingga diperbaiki seperti keadaan semula.<ref>[https://books.google.com/books?id=edYTAQAAMAAJ&newbks=0&printsec=frontcover&dq=%22*+Tatkala+gempa+besar+1926+jam+ini%22&q=%22*+Tatkala+gempa+besar+1926+jam+ini%22&hl=en Tempo]. Badan Usaha Jaya Press Jajasan Jaya Raya. 1979.</ref> Pada awal Februari 1927, Gubernur Jenderal Hindia Belanda [[Andries Cornelies Dirk de Graeff]] meninjau pembangunan Jam Gadang dalam kunjungannya ke Fort de Kock. | ||
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Bentuk ini sebagai sindiran agar orang Kurai, Banuhampu, sampai Sungai Puar bangun pagi apabila ayam sudah berkokok. | Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Bentuk ini sebagai sindiran agar orang Kurai, Banuhampu, sampai Sungai Puar bangun pagi apabila ayam sudah berkokok.<ref>[http://repositori.kemdikbud.go.id/13419/1/Sejarah%20sosial%20di%20daerah%20sumatra%20barat.PDF Sejarah sosial daerah Sumatera Barat]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek-Proyek [i.e. Proyek Inventarisasi] dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983.</ref> | ||
Jam Gadang telah mengalami beberapa perubahan desain sejak pertama kali dibangun. Pada masa kolonial Belanda, atap menara ini berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya. Selama pendudukan Jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda khas arsitektur Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atapnya kembali direnovasi menjadi bentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau yang bertahan hingga kini. | Jam Gadang telah mengalami beberapa perubahan desain sejak pertama kali dibangun. Pada masa kolonial Belanda, atap menara ini berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya. Selama pendudukan Jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda khas arsitektur Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atapnya kembali direnovasi menjadi bentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau yang bertahan hingga kini. | ||
Selain sebagai penunjuk waktu, Jam Gadang pernah difungsikan sebagai pos pengamatan, terutama dalam situasi darurat seperti kebakaran yang melanda Pasar Ateh. Dari ketinggian menara, petugas dapat mengawasi situasi sekitar dan membantu mengarahkan upaya pemadaman. | Selain sebagai penunjuk waktu, Jam Gadang pernah difungsikan sebagai pos pengamatan, terutama dalam situasi darurat seperti kebakaran yang melanda Pasar Ateh. Dari ketinggian menara, petugas dapat mengawasi situasi sekitar dan membantu mengarahkan upaya pemadaman.<ref>[https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/jam-gadang-monumen-kebanggaan-kota-bukittinggi/?utm_source=chatgpt.com Jam Gadang, Monumen Kebanggaan Kota Bukittinggi]. ''Indonesia Kaya''.</ref> | ||
== Kronik == | == Kronik == | ||
Ketika berita proklamasi [[kemerdekaan Indonesia]] diumumkan di Bukittinggi, [[Bendera Indonesia|bendera merah putih]] untuk pertama kalinya dikibarkan di puncak Jam Gadang, setelah melalui pertentangan dengan pucuk pimpinan tentara Jepang.<ref>Indonesia Departemen Penerangan. [https://books.google.co.id/books?id=5XLiAAAAMAAJ&q=%22Djam+Gadang,+jang+mana+lalu+untuk%22&dq=%22Djam+Gadang,+jang+mana+lalu+untuk%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiRnbvK6cnrAhWzgUsFHYmCDX8Q6AEwAHoECAAQAQ Lukisan revolusi, 1945-1950: dari negara kesatuan ke negara kesatuan]. Kementerian Penerangan. 1954.</ref><ref>Osman Raliby. [https://books.google.co.id/books?id=IHwLAQAAIAAJ&q=%22Djepang+untuk+Sumatera+jang+bermarkas+besar+*%22&dq=%22Djepang+untuk+Sumatera+jang+bermarkas+besar+*%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiv7_nA6snrAhVaaCsKHcQBCV4Q6AEwAHoECAAQAg Documenta historica: sedjarah dokumenter dari pertumbuhan dan perdjuangan negara Republik Indonesia]. Bulan-Bintang. 1953.</ref><ref>Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. [https://books.google.co.id/books?id=r5_BFUym4K8C&q=%22jam+Gedang%22&dq=%22jam+Gedang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiB06rS68nrAhVbbysKHeyoCbAQ6AEwCHoECAkQAg Sejarah daerah Sumatera Barat]. Proyek. 1977.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=6f_iPYsFm8gC&q=%22jam+Gadang%22&dq=%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiCp8S17cnrAhVHWX0KHTxeDrY4FBDoATAEegQIBhAC Sejarah daerah ...: Sumatera Barat]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. 1978.</ref><ref>Colin Wild. [https://books.google.co.id/books?id=z2EeAAAAMAAJ&q=%22jam+Gadang%22&dq=%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwj9qJLN7cnrAhVBWysKHWtwAjc4HhDoATAAegQIABAC Gelora api revolusi: sebuah antologi sejarah]. Diterbitkan atas kerja sama BBC Seksi Indonesia dan Penerbit PT Gramedia. 1986.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=yG0iAAAAMAAJ&q=%22jam+Gadang%22&dq=%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiay9Po7cnrAhWObn0KHafZBK44PBDoATAJegQIBxAC Lintasan perjalanan Kepolisian RI sejak proklamasi-1950]. Gadhessa Pura Mas. 1985.</ref> Pemuda yang memimpin massa untuk menaikkan pertama kali Sang Saka Merah Putih di puncak Jam Gadang bernama [[Mara Karma]].<ref>Mulyadi Mintaraga. [https://books.google.co.id/books?id=5luKITSTi0gC&q=%22Tokoh+Pemimpin+Pemuda+Republik+Indonesia+(+PRI+)+tahun+1925+%22&dq=%22Tokoh+Pemimpin+Pemuda+Republik+Indonesia+(+PRI+)+tahun+1925+%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi98Ofi7snrAhWRWisKHZNZBVYQ6AEwAHoECAAQAg Api perjuangan kemerdekaan di kota Padang]. Songo Abadi Inti. 1986.</ref> | |||
Pada masa [[Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia]] (1958–1961), terjadi pertempuran antara [[Tentara Nasional Indonesia|Tentara Indonesia]] (ketika itu bernama Angkatan Perang Republik Indonesia atau APRI) dengan pasukan PRRI. Pada 1959, tepat di bawah Jam Gadang, APRI membunuh sekitar 187 orang dengan cara ditembak. Hanya 17 orang dari jumlah tersebut yang merupakan tentara PRRI, sedangkan selebihnya merupakan rakyat sipil.<ref>Syamdani. [https://books.google.co.id/books?id=R9u37gzZMlUC&pg=PA88&dq=PRRI+%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiK6Kn9k9HsAhXGWisKHcEnDeAQ6AEwAHoECAIQAg#v=onepage&q=PRRI%20%22jam%20Gadang%22&f=false PRRI, pemberontakan atau bukan?]. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.</ref> Para mayat tersebut lalu dijejerkan di halaman Jam Gadang.<ref>Abraham Ilyas. [https://books.google.co.id/books?id=zKxiDwAAQBAJ&pg=PA17&dq=PRRI+%22jam+Gadang%22&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiK6Kn9k9HsAhXGWisKHcEnDeAQ6AEwAXoECAQQAg#v=onepage&q=PRRI%20%22jam%20Gadang%22&f=false Syair Kisah Perjuangan Anak Nagari 1958-1961: Kalah di Ujung Bedil Menang dengan Silat]. Lembaga Kekerabatan Datuk Soda. ISBN 978-602-71254-1-4.</ref><ref>Syamdani. [https://books.google.co.id/books?id=R9u37gzZMlUC&printsec=copyright&hl=id#v=onepage&q&f=false PRRI, pemberontakan atau bukan?]. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.</ref> | |||
Setelah [[Operasi 17 Agustus|operasi penumpasan PRRI]], APRI membangun [[Tugu Pembebasan]] di sekitar Jam Gadang untuk memperingati kemenangan mereka. Relief di tugu melukiskan ''[[ninik mamak]]'' sedang "bersujud di bawah telapak kaki tentara yang berdiri dengan angkuhnya". Tugu tersebut dihancurkan pada masa pemerintahan [[Daftar Gubernur Sumatera Barat|Gubernur Sumatera Barat]] [[Harun Al-Rasjid Zain|Harun Zain]].<ref>Marthias Dusky Pandoe. [https://books.google.co.id/books?id=ta05V3dVGlAC&pg=PA94&lpg=PA94&dq=%22relief+%22+%22PRRI%22+bukittinggi&source=bl&ots=INsk163Bp9&sig=ACfU3U0sH1iU0MOpFwvuE8gQ-prxDXuokA&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjehZ3K2PjzAhVKAXIKHab2Ae0Q6AF6BAgjEAM#v=onepage&q=%22relief%20%22%20%22PRRI%22%20bukittinggi&f=false Jernih melihat cermat mencatat: antologi karya jurnalistik wartawan senior Kompas]. Penerbit Buku Kompas. 2010. ISBN 978-979-709-487-4.</ref><ref>''Taman Wirasakti Gambarkan Keangkuhan Tentara Pusat''. ''Harian Singgalang''. 29 Januari 2000.</ref> | |||
Setelah [[Operasi 17 Agustus|operasi penumpasan PRRI]], APRI membangun [[Tugu Pembebasan]] di sekitar Jam Gadang untuk memperingati kemenangan mereka. Relief di tugu melukiskan ''[[ninik mamak]]'' sedang "bersujud di bawah telapak kaki tentara yang berdiri dengan angkuhnya". Tugu tersebut dihancurkan pada masa pemerintahan [[Daftar Gubernur Sumatera Barat|Gubernur Sumatera Barat]] [[Harun Al-Rasjid Zain|Harun Zain]]. | |||
== Kondisi saat ini == | == Kondisi saat ini == | ||
Jam Gadang sempat ditutup dengan dibalut kain ''[[marawa]]'' pada malam pergantian tahun 2008 ke 2009 oleh Wali Kota Bukittinggi [[Djufri]]. Alasan penutupan untuk mengurangi kerumunan pengunjung di pelataran Jam Gadang yang berpotensi menimbulkan tindak kriminal dan korban jiwa. | Jam Gadang sempat ditutup dengan dibalut kain ''[[marawa]]'' pada malam pergantian tahun 2008 ke 2009 oleh Wali Kota Bukittinggi [[Djufri]]. Alasan penutupan untuk mengurangi kerumunan pengunjung di pelataran Jam Gadang yang berpotensi menimbulkan tindak kriminal dan korban jiwa.<ref>Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). [https://books.google.com/books?id=uachAgAAQBAJ&newbks=0&printsec=frontcover&pg=PA10&dq=%22jam+gadang%22+ditutup+%222010%22+before:2012-02-02&hl=id Tabloid Reformata Edisi 122, January 2010]. Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). 2010-01-01.</ref> | ||
Jam Gadang dilaporkan mengalami kerusakan dan miring di beberapa lantai pasca-[[Gempa bumi Sumatra Maret 2007|gempa bumi Sumatera Barat 2007]]. Kerusakan meliputi struktur utama, retakan di simpul atau tumpuan bangunan pada tiga tingkat pertama serta retakan horizontal di sekeliling dinding bangunan pada ketinggian sekitar 1,5 meter dari tingkat pertama. Selain itu, bandul jam patah sehingga jam tidak diaktifkan sementara waktu. Pada 2010, upaya penguatan bangunan dilakukan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan menyuntikkan cairan kimia khusus. Biayanya bersumber dari Kedutaan Besar Belanda di [[Jakarta]] sekitar 600 juta rupiah. Rehabilitasi bangunan selesai dikerjakan bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi yang ke-262 pada 22 Desember 2010. | Jam Gadang dilaporkan mengalami kerusakan dan miring di beberapa lantai pasca-[[Gempa bumi Sumatra Maret 2007|gempa bumi Sumatera Barat 2007]]. Kerusakan meliputi struktur utama, retakan di simpul atau tumpuan bangunan pada tiga tingkat pertama serta retakan horizontal di sekeliling dinding bangunan pada ketinggian sekitar 1,5 meter dari tingkat pertama.<ref>[https://regional.kompas.com/read/2010/03/10/20374180/~Regional~Sumatera Wah... Bangunan Jam Gadang Miring]. ''Kompas.com''. 2010-03-10.</ref> Selain itu, bandul jam patah sehingga jam tidak diaktifkan sementara waktu.<ref>[https://news.detik.com/berita/d-750664/digoyang-gempa-jam-gadang-masih-tegak Digoyang Gempa, Jam Gadang Masih Tegak]. ''detikcom''.</ref> Pada 2010, upaya penguatan bangunan dilakukan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan menyuntikkan cairan kimia khusus. Biayanya bersumber dari Kedutaan Besar Belanda di [[Jakarta]] sekitar 600 juta rupiah.<ref>[https://republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/12/23/153975-jam-gadang-selesai-diperbaiki Jam Gadang Selesai Diperbaiki]. ''Republika Online''. 2010-12-23.</ref> Rehabilitasi bangunan selesai dikerjakan bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi yang ke-262 pada 22 Desember 2010.<ref>http://www.republika.co.id [http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/12/23/153975-jam-gadang-selesai-diperbaiki Renovasi Jam Gadang].</ref> | ||
Pada Juli 2018, kawasan Jam Gadang direvitalisasi oleh pemerintah. Pengerjaannya memakan biaya Rp18 miliar dan rampung pada Februari 2019. | Pada Juli 2018, kawasan Jam Gadang direvitalisasi oleh pemerintah. Pengerjaannya memakan biaya Rp18 miliar dan rampung pada Februari 2019.<ref>[http://www.valora.co.id/berita/12158/taman-jam-gadang-diresmikan-17-februari-telan-dana-rp18-miliar.html Taman Jam Gadang Diresmikan 17 Februari, Telan Dana Rp18 Miliar VALORA NEWS SUMBAR].</ref> | ||
Jelang pergantian tahun 2021, Jam Gadang kembali ditutup dengan kain putih untuk mencegah kerumunan warga di tengah [[Pandemi Covid-19 di Sumatera Barat|pandemi Covid-19]] yang masih berlangsung. | Jelang pergantian tahun 2021, Jam Gadang kembali ditutup dengan kain putih untuk mencegah kerumunan warga di tengah [[Pandemi Covid-19 di Sumatera Barat|pandemi Covid-19]] yang masih berlangsung.<ref>[https://padangkita.com/jam-gadang-ditutup-kain-putih-pemko-bukittinggi-tegaskan-tak-ada-perayaan-tahun-baru/ Jam Gadang Ditutup Kain Putih, Pemko Bukittinggi Tegaskan Tak Ada Perayaan Tahun Baru]. ''Padangkita.com''. 2020-12-31.</ref> | ||
== Galeri == | == Galeri == | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* Rahmat Irfan Denas. [https://suluah.com/cerita-saksi-hidup-soal-pembangunan-lubang-jepang-di-bukittinggi/ "Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi"]. ''Suluah.com''. | * Rahmat Irfan Denas. [https://suluah.com/cerita-saksi-hidup-soal-pembangunan-lubang-jepang-di-bukittinggi/ "Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi"]. ''Suluah.com''. | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jam+Gadang&oldid=29321012 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29321012 (2026-06-06T09:01:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.38
Jam Gadang adalah menara jam setinggi 27 meter yang menjadi penanda atau ikon Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Namanya merupakan sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar". Menurut penelusuran penulis Rahmat Irfan Denas, pembangunannya dimulai pada 27 Mei 1926 dan diresmikan pada 25 Juli 1927.[1][2]
Jam Gadang menjadi lokasi peristiwa penting pada masa sekitar kemerdekaan Indonesia, seperti pengibaran bendera merah putih (1945), Demonstrasi Nasi Bungkus (1950), dan pembunuhan 187 penduduk setempat oleh militer Indonesia atas tuduhan terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (1959).[3][4]
Saat ini, Jam Gadang menjelma menjadi objek wisata dengan perluasan taman di sekitarnya. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sini.
Struktur
Ukuran dasar bangunan Jam Gadang yaitu 6,5 x 6,5 meter, ditambah dengan ukuran dasar tangga selebar 4 meter, sehingga ukuran dasar bangunan keseluruhan 6,5 x 10,5 meter.[5] Bagian dalam menara jam terdiri dari lima tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul.
Terdapat empat jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut digerakkan secara mekanik oleh mesin yang didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Recklinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Sejarah
Jam Gadang dibangun pada 1925–1927[6] atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, controleur atau sekretaris kota Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.[7][8] Seorang arsitek asal Koto Gadang, Yazid Rajo Mangkuto bertindak sebagai penanggung jawab pembangunan,[9] sementara pelaksana pembangunan ditangani oleh Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh.[10][11]
Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh putra pertama Rookmaker yang pada saat itu masih berusia enam tahun. Pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 15.000 Gulden di luar biaya upah pekerja sebesar 6.000 Gulden.[12] Biaya itu bersumber dari Pasar Fonds, badan pengelola dan pengumpul pajak atas pasar-pasar di Bukittinggi.
Jam Gadang sedang dalam tahap kontruksi ketika terjadinya gempa bumi Padang Panjang pada Juni 1926. Gempa mengakibatkan bangunan menara miring 30 derajat sehingga diperbaiki seperti keadaan semula.[13] Pada awal Februari 1927, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Andries Cornelies Dirk de Graeff meninjau pembangunan Jam Gadang dalam kunjungannya ke Fort de Kock.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Bentuk ini sebagai sindiran agar orang Kurai, Banuhampu, sampai Sungai Puar bangun pagi apabila ayam sudah berkokok.[14]
Jam Gadang telah mengalami beberapa perubahan desain sejak pertama kali dibangun. Pada masa kolonial Belanda, atap menara ini berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya. Selama pendudukan Jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda khas arsitektur Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atapnya kembali direnovasi menjadi bentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau yang bertahan hingga kini.
Selain sebagai penunjuk waktu, Jam Gadang pernah difungsikan sebagai pos pengamatan, terutama dalam situasi darurat seperti kebakaran yang melanda Pasar Ateh. Dari ketinggian menara, petugas dapat mengawasi situasi sekitar dan membantu mengarahkan upaya pemadaman.[15]
Kronik
Ketika berita proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan di Bukittinggi, bendera merah putih untuk pertama kalinya dikibarkan di puncak Jam Gadang, setelah melalui pertentangan dengan pucuk pimpinan tentara Jepang.[16][17][18][19][20][21] Pemuda yang memimpin massa untuk menaikkan pertama kali Sang Saka Merah Putih di puncak Jam Gadang bernama Mara Karma.[22]
Pada masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (1958–1961), terjadi pertempuran antara Tentara Indonesia (ketika itu bernama Angkatan Perang Republik Indonesia atau APRI) dengan pasukan PRRI. Pada 1959, tepat di bawah Jam Gadang, APRI membunuh sekitar 187 orang dengan cara ditembak. Hanya 17 orang dari jumlah tersebut yang merupakan tentara PRRI, sedangkan selebihnya merupakan rakyat sipil.[23] Para mayat tersebut lalu dijejerkan di halaman Jam Gadang.[24][25]
Setelah operasi penumpasan PRRI, APRI membangun Tugu Pembebasan di sekitar Jam Gadang untuk memperingati kemenangan mereka. Relief di tugu melukiskan ninik mamak sedang "bersujud di bawah telapak kaki tentara yang berdiri dengan angkuhnya". Tugu tersebut dihancurkan pada masa pemerintahan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain.[26][27]
Kondisi saat ini
Jam Gadang sempat ditutup dengan dibalut kain marawa pada malam pergantian tahun 2008 ke 2009 oleh Wali Kota Bukittinggi Djufri. Alasan penutupan untuk mengurangi kerumunan pengunjung di pelataran Jam Gadang yang berpotensi menimbulkan tindak kriminal dan korban jiwa.[28]
Jam Gadang dilaporkan mengalami kerusakan dan miring di beberapa lantai pasca-gempa bumi Sumatera Barat 2007. Kerusakan meliputi struktur utama, retakan di simpul atau tumpuan bangunan pada tiga tingkat pertama serta retakan horizontal di sekeliling dinding bangunan pada ketinggian sekitar 1,5 meter dari tingkat pertama.[29] Selain itu, bandul jam patah sehingga jam tidak diaktifkan sementara waktu.[30] Pada 2010, upaya penguatan bangunan dilakukan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan menyuntikkan cairan kimia khusus. Biayanya bersumber dari Kedutaan Besar Belanda di Jakarta sekitar 600 juta rupiah.[31] Rehabilitasi bangunan selesai dikerjakan bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi yang ke-262 pada 22 Desember 2010.[32]
Pada Juli 2018, kawasan Jam Gadang direvitalisasi oleh pemerintah. Pengerjaannya memakan biaya Rp18 miliar dan rampung pada Februari 2019.[33]
Jelang pergantian tahun 2021, Jam Gadang kembali ditutup dengan kain putih untuk mencegah kerumunan warga di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.[34]
Galeri
Pranala luar
- Rahmat Irfan Denas. "Cerita Saksi Hidup Soal Pembangunan Lubang Jepang di Bukittinggi". Suluah.com.
Referensi
- ↑ Rahmat Irfan Denas. Peresmian Jam Gadang, 25 Juli 1927. Suluah.com. 2022-10-22.
- ↑ Rahmat Irfan Denas. Jam Gadang Bukan Hadiah Ratu Belanda (Bagian 2). Harian Singgalang. 2026-06-06.
- ↑ Syamdani. PRRI, pemberontakan atau bukan?. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.
- ↑ Abraham Ilyas. Syair Kisah Perjuangan Anak Nagari 1958-1961: Kalah di Ujung Bedil Menang dengan Silat. Lembaga Kekerabatan Datuk Soda. ISBN 978-602-71254-1-4.
- ↑ Edinal Agung. Kajian Bentuk Jam Gadang di Bukittinggi. Universitas Sumatera Utara. 24 Februari 2017.
- ↑ Bukittinggi 1968-1971.
- ↑ MededeelIngen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië - Dutch East Indies. Dienst der volksgezondheid - Google Books
- ↑ Ensiklopedi Minangkabau. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. 2005. ISBN 978-979-3797-23-6.
- ↑ Jam Gadang: Hadiah Ratu Wilhelmina dan Peran Arsitek asal Koto Gadang. Suluah.com. 2021-05-28.
- ↑ Ensiklopedi Minangkabau. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. 2005. ISBN 978-979-3797-23-6.
- ↑ Femina: gaya hidup masa kini. P.T. Gaya Favorit Press. 1992.
- ↑ H.Julius Dt. Malaka Nan Putiah (1947). Sejarah Nagari Kurai V Jorong serta Pemerintahannya: Pasar dan Kota Bukittinggi. Bukittinggi: Tsamaratoel Ichwan. hlm. 51.
- ↑ Tempo. Badan Usaha Jaya Press Jajasan Jaya Raya. 1979.
- ↑ Sejarah sosial daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek-Proyek [i.e. Proyek Inventarisasi] dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983.
- ↑ Jam Gadang, Monumen Kebanggaan Kota Bukittinggi. Indonesia Kaya.
- ↑ Indonesia Departemen Penerangan. Lukisan revolusi, 1945-1950: dari negara kesatuan ke negara kesatuan. Kementerian Penerangan. 1954.
- ↑ Osman Raliby. Documenta historica: sedjarah dokumenter dari pertumbuhan dan perdjuangan negara Republik Indonesia. Bulan-Bintang. 1953.
- ↑ Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sejarah daerah Sumatera Barat. Proyek. 1977.
- ↑ Sejarah daerah ...: Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. 1978.
- ↑ Colin Wild. Gelora api revolusi: sebuah antologi sejarah. Diterbitkan atas kerja sama BBC Seksi Indonesia dan Penerbit PT Gramedia. 1986.
- ↑ Lintasan perjalanan Kepolisian RI sejak proklamasi-1950. Gadhessa Pura Mas. 1985.
- ↑ Mulyadi Mintaraga. Api perjuangan kemerdekaan di kota Padang. Songo Abadi Inti. 1986.
- ↑ Syamdani. PRRI, pemberontakan atau bukan?. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.
- ↑ Abraham Ilyas. Syair Kisah Perjuangan Anak Nagari 1958-1961: Kalah di Ujung Bedil Menang dengan Silat. Lembaga Kekerabatan Datuk Soda. ISBN 978-602-71254-1-4.
- ↑ Syamdani. PRRI, pemberontakan atau bukan?. Media Pressindo. 2009. ISBN 978-979-788-032-3.
- ↑ Marthias Dusky Pandoe. Jernih melihat cermat mencatat: antologi karya jurnalistik wartawan senior Kompas. Penerbit Buku Kompas. 2010. ISBN 978-979-709-487-4.
- ↑ Taman Wirasakti Gambarkan Keangkuhan Tentara Pusat. Harian Singgalang. 29 Januari 2000.
- ↑ Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). Tabloid Reformata Edisi 122, January 2010. Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). 2010-01-01.
- ↑ Wah... Bangunan Jam Gadang Miring. Kompas.com. 2010-03-10.
- ↑ Digoyang Gempa, Jam Gadang Masih Tegak. detikcom.
- ↑ Jam Gadang Selesai Diperbaiki. Republika Online. 2010-12-23.
- ↑ http://www.republika.co.id Renovasi Jam Gadang.
- ↑ Taman Jam Gadang Diresmikan 17 Februari, Telan Dana Rp18 Miliar VALORA NEWS SUMBAR.
- ↑ Jam Gadang Ditutup Kain Putih, Pemko Bukittinggi Tegaskan Tak Ada Perayaan Tahun Baru. Padangkita.com. 2020-12-31.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29321012 (2026-06-06T09:01:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.