Lompat ke isi

Hard–easy effect: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28654745; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''''Hard-easy effect''''' adalah [[bias kognitif]] yang membuat orang tidak menyadari kesulitan sebenarnya (sulit atau mudah) dari tugas yang mereka coba. Dengan kata lain, individu ini melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam melakukan tugas-tugas sulit dan meremehkan dirinya untuk tugas yang mudah. Misalnya, ketika individu menunjukkan sifat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif mudah dan sebaliknya, sifat terlalu percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif sulit. Katherine A. Burson, Richard P. Larrick, dan Jack B. Soll dalam studi tahun 2005 menemukan bahwa, "Tugas yang sulit cenderung menghasilkan efek terlalu percaya diri, sementara tugas yang mudah menghasilkan efek kurang percaya diri."
'''''Hard-easy effect''''' adalah [[bias kognitif]] yang membuat orang tidak menyadari kesulitan sebenarnya (sulit atau mudah) dari tugas yang mereka coba. Dengan kata lain, individu ini melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam melakukan tugas-tugas sulit dan meremehkan dirinya untuk tugas yang mudah. Misalnya, ketika individu menunjukkan sifat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif mudah dan sebaliknya, sifat terlalu percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif sulit. Katherine A. Burson, Richard P. Larrick, dan Jack B. Soll dalam studi tahun 2005 menemukan bahwa, "Tugas yang sulit cenderung menghasilkan efek terlalu percaya diri, sementara tugas yang mudah menghasilkan efek kurang percaya diri."<ref>J. Sweller. [https://booksc.eu/book/47325004/1b768d A Test between the Selective Attention and Stimulus Generalization Interpretations of the Easy-to-hard Effect]. ''Quarterly Journal of Experimental Psychology''. 1972. Vol. 24 (3). hlm. 352–355. doi:10.1080/14640747208400290.</ref>


Bias ini berada di bawah lingkup "teori perbandingan sosial" yang dicetuskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Festinger berpendapat bahwa ketika individu bermaksud untuk menilai pemikiran dan kemampuan mereka, maka teori perbandingan sosial menerangkan cara penilaian tersebut dilakukan, yakni melalui proses membandingkan diri mereka dengan orang lain.
Bias ini berada di bawah lingkup "teori perbandingan sosial" yang dicetuskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Festinger berpendapat bahwa ketika individu bermaksud untuk menilai pemikiran dan kemampuan mereka, maka teori perbandingan sosial menerangkan cara penilaian tersebut dilakukan, yakni melalui proses membandingkan diri mereka dengan orang lain.<ref>Katherine Burson. [https://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/41218/1016.pdf?sequence=1 Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence]. ''Deep Blue''. Michigan Ross School of Business. 2017.</ref>


Pada tahun 1980, Ferrell dan McGoey menyebut bias ini sebagai "efek diskriminabilitas". Sementara, Griffin dan Tversky (1992) menyebutnya sebagai "efek kesulitan".
Pada tahun 1980, Ferrell dan McGoey menyebut bias ini sebagai "efek diskriminabilitas". Sementara, Griffin dan Tversky (1992) menyebutnya sebagai "efek kesulitan".<ref>Peter Juslin. [http://home.cerge-ei.cz/ortmann/TrentoCourse/Juslin_etal_Naive_Empiricism_Dogmatism_inConfidence_Research.pdf Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect]. ''Psychological Review''. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.</ref>


== Eksperimen ==
== Eksperimen ==
Dalam berbagai penelitian, peserta diminta untuk menjawab soal pengetahuan umum dan memperkirakan peluang mereka untuk menjawab dengan benar. Apabila peserta memiliki tingkat pengetahuan diri ''(self-knowledge)'' yang memadai, maka mereka akan memberi persen peluang yang tinggi untuk pertanyaan yang mereka jawab dengan benar dan begitupun sebaliknya. Namun, hal ini tidak umum terjadi. Kebanyakan orang akan terlalu percaya diri dan melebih-lebihkan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan sulit, tetapi terlihat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang dianggap mudah.
Dalam berbagai penelitian, peserta diminta untuk menjawab soal pengetahuan umum dan memperkirakan peluang mereka untuk menjawab dengan benar. Apabila peserta memiliki tingkat pengetahuan diri ''(self-knowledge)'' yang memadai, maka mereka akan memberi persen peluang yang tinggi untuk pertanyaan yang mereka jawab dengan benar dan begitupun sebaliknya. Namun, hal ini tidak umum terjadi. Kebanyakan orang akan terlalu percaya diri dan melebih-lebihkan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan sulit, tetapi terlihat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang dianggap mudah.<ref>Katherine Burson. [https://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/41218/1016.pdf?sequence=1 Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence]. ''Deep Blue''. Michigan Ross School of Business. 2017.</ref>


William M. Goldstein dan Robin M. Hogarth dalam penelitian tahun 1997, menguji sekelompok orang dengan beberapa soal pengetahuan umum, seperti, "Siapa yang terlahir lebih dahulu, [[Aristoteles]] atau [[Siddhartha Gautama|Buddha]]?" dan "Apakah [[ritsleting]] ditemukan sebelum atau sesudah tahun 1920?" Peserta dalam penelitian ini diminta untuk menuliskan jawaban yang mereka yakini benar dan persen keyakinan mereka terhadap jawaban tresebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta akan cenderung kurang percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan mudah oleh peneliti dan terlalu percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan sulit oleh peneliti.
William M. Goldstein dan Robin M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta akan cenderung kurang percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan mudah oleh peneliti dan terlalu percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan sulit oleh peneliti.<ref>William M. Goldstein. [https://books.google.com/books?id=9Jo5v25Yn3AC&pg=PA108 Research on Judgment and Decision Making: Currents, Connections, and Controversies]. Cambridge University Press. 1997. hlm. 108. ISBN 978-0-521-48334-6.</ref>


== Prevalensi ==
== Prevalensi ==
Sebuah riset pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa seluruh subjek penelitian menunjukkan ''hard-easy effect'' di banyak keadaan dan hal ini tidak dapat membedakan antara kegiatan menilai atau menghimpun dukungan model tertentu terkait elisitasi kepercayaan.
Sebuah riset pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa seluruh subjek penelitian menunjukkan ''hard-easy effect'' di banyak keadaan dan hal ini tidak dapat membedakan antara kegiatan menilai atau menghimpun dukungan model tertentu terkait elisitasi kepercayaan.<ref>Edgar C. Merkle. [https://www.researchgate.net/publication/23789125_The_disutility_of_the_hard-easy_effect_in_choice_confidence The disutility of the hard-easy effect in choice confidence]. ''Psychon Bull Rev''. 2009. Vol. 16 (1). hlm. 204–213. doi:10.3758/PBR.16.1.204.</ref>


''Hard-easy effect'' menunjukkan bahwa bias ini tak tergantung oleh perbedaan kepribadian. Para peneliti sepakat bahwa hal ini termasuk fenomena yang mengakar kuat dan menyebar ke banyak orang.
''Hard-easy effect'' menunjukkan bahwa bias ini tak tergantung oleh perbedaan kepribadian.<ref>Katherine Burson. [https://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/41218/1016.pdf?sequence=1 Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence]. ''Deep Blue''. Michigan Ross School of Business. 2017.</ref> Para peneliti sepakat bahwa hal ini termasuk fenomena yang mengakar kuat dan menyebar ke banyak orang.<ref>Peter Juslin. [http://home.cerge-ei.cz/ortmann/TrentoCourse/Juslin_etal_Naive_Empiricism_Dogmatism_inConfidence_Research.pdf Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect]. ''Psychological Review''. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.</ref>


Studi tahun 1999 menilai bahwa perbedaan data antara studi Baranski dan Petrusic (1994) di [[Kanada]] dengan Olsson dan Winman (1996) di [[Swedia]], bisa jadi merefleksikan perbedaan lintas negara terkait kepercayaan diri dalam diskriminasi sensorik.
Studi tahun 1999 menilai bahwa perbedaan data antara studi Baranski dan Petrusic (1994) di [[Kanada]] dengan Olsson dan Winman (1996) di [[Swedia]], bisa jadi merefleksikan perbedaan lintas negara terkait kepercayaan diri dalam diskriminasi sensorik.<ref>Joseph Baranski. [https://www.researchgate.net/publication/12729705 Realism of confidence in sensory discrimination]. ''Perception & Psychophysics''. 1999. Vol. 61 (7). hlm. 1369–1383. doi:10.3758/BF03206187.</ref>


== Penyebab ==
== Penyebab ==
Penjelasan lebih mendalam terkait efek ini menyangkut tentang mekanisme kognitif sistematis, bias eksperimen, kesalahan acak, dan [[artefak]] statistik.
Penjelasan lebih mendalam terkait efek ini menyangkut tentang mekanisme kognitif sistematis, bias eksperimen, kesalahan acak, dan [[artefak]] statistik.<ref>Edgar C. Merkle. [https://www.researchgate.net/publication/23789125_The_disutility_of_the_hard-easy_effect_in_choice_confidence The disutility of the hard-easy effect in choice confidence]. ''Psychon Bull Rev''. 2009. Vol. 16 (1). hlm. 204–213. doi:10.3758/PBR.16.1.204.</ref>


Sebuah studi tahun 1991 menyebut bahwa ''hard-easy effect'' merupakan akibat dari seleksi informal dari item [[almanak]]. Seleksi tersebut memungkinkan perubahan validitas isyarat yang digunakan oleh subjek dalam pemilihan jawaban item. Lebih lanjut, Baranski dan Petrusic (1994), Griffin dan Tversky (1992), dan Suantak dkk (1996) menjelaskan efek ini berdasarkan aspek psikologisnya.
Sebuah studi tahun 1991 menyebut bahwa ''hard-easy effect'' merupakan akibat dari seleksi informal dari item [[almanak]]. Seleksi tersebut memungkinkan perubahan validitas isyarat yang digunakan oleh subjek dalam pemilihan jawaban item.<ref>Peter Juslin. [https://booksc.eu/book/37048695/84d434 An explanation of the hard-easy effect in studies of realism of confidence in one's general knowledge]. ''European Journal of Cognitive Psychology''. 2007. Vol. 5 (1). hlm. 55–71. doi:10.1080/09541449308406514.</ref> Lebih lanjut, Baranski dan Petrusic (1994), Griffin dan Tversky (1992), dan Suantak dkk (1996) menjelaskan efek ini berdasarkan aspek psikologisnya.<ref>Peter Juslin. [http://home.cerge-ei.cz/ortmann/TrentoCourse/Juslin_etal_Naive_Empiricism_Dogmatism_inConfidence_Research.pdf Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect]. ''Psychological Review''. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.</ref>


== Keraguan ==
== Keraguan ==
Keraguan tentang eksistensi efek ini muncul atas penelitian yang dilakukan oleh Brenner dkk (1996), Justil dkk (1997), dan Keren (1991).
Keraguan tentang eksistensi efek ini muncul atas penelitian yang dilakukan oleh Brenner dkk (1996), Justil dkk (1997), dan Keren (1991).<ref>Peter Juslin. [http://home.cerge-ei.cz/ortmann/TrentoCourse/Juslin_etal_Naive_Empiricism_Dogmatism_inConfidence_Research.pdf Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect]. ''Psychological Review''. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.</ref>


Peter Juslin dalam penelitiannya tahun 1993 mengungkapkan bahwa, "(1) ketika objek yang akan dinilai diseleksi dari lingkungan asalnya, maka orang-orang terkalibrasi (tepat menentukan pilihan) dengan baik, (2) ketika item "sulit" dibuat melalui proses seleksi dengan materi yang kurang familiar (tak memengaruhi validitas isyarat), maka tak ada ''hard-easy effect'' yang dapat diamati dan orang-orang terkalibrasi dengan baik pada item yang mudah maupun sulit."
Peter Juslin dalam penelitiannya tahun 1993 mengungkapkan bahwa, "(1) ketika objek yang akan dinilai diseleksi dari lingkungan asalnya, maka orang-orang terkalibrasi (tepat menentukan pilihan) dengan baik, (2) ketika item "sulit" dibuat melalui proses seleksi dengan materi yang kurang familiar (tak memengaruhi validitas isyarat), maka tak ada ''hard-easy effect'' yang dapat diamati dan orang-orang terkalibrasi dengan baik pada item yang mudah maupun sulit."<ref>Peter Juslin. [https://booksc.eu/book/37048695/84d434 An explanation of the hard-easy effect in studies of realism of confidence in one's general knowledge]. ''European Journal of Cognitive Psychology''. 2007. Vol. 5 (1). hlm. 55–71. doi:10.1080/09541449308406514.</ref>
 
Juslin, Anders Winman, dan Henrik Olsson dari [[Universitas Uppsala]] di tahun 2000 menyatakan bahwa ''hard-easy effect'' sebelumnya telah dimaknai tanpa memperhatikan masalah metodologisnya. Melalui studi tersebut, mereka berpendapat bahwa dua masalah metodologis dapat dikendalikan bahkan ketika ''hard-easy effect'' hampir dihilangkan. Mereka beranggapan bahwa efek ini ditafsirkan dengan kurang memperhatikan dampak skala-akhir, ketergantungan linier, dan efek regresi dalam data. Mereka juga menyoroti bahwa 'bias terlalu percaya diri secara kognitif' hanya mengacu pada set data tertentu. Poin spesifik yang mereka tekankan adalah bahwa ''hard-easy effect'' hampir sepenuhnya dapat dihilangkan manakala terdapat kontrol pada dampak skala-akhir dan ketergantungan linier.
 
== Referensi ==


Juslin, Anders Winman, dan Henrik Olsson dari [[Universitas Uppsala]] di tahun 2000 menyatakan bahwa ''hard-easy effect'' sebelumnya telah dimaknai tanpa memperhatikan masalah metodologisnya. Melalui studi tersebut, mereka berpendapat bahwa dua masalah metodologis dapat dikendalikan bahkan ketika ''hard-easy effect'' hampir dihilangkan. Mereka beranggapan bahwa efek ini ditafsirkan dengan kurang memperhatikan dampak skala-akhir, ketergantungan linier, dan efek regresi dalam data. Mereka juga menyoroti bahwa 'bias terlalu percaya diri secara kognitif' hanya mengacu pada set data tertentu. Poin spesifik yang mereka tekankan adalah bahwa ''hard-easy effect'' hampir sepenuhnya dapat dihilangkan manakala terdapat kontrol pada dampak skala-akhir dan ketergantungan linier.<ref>Peter Juslin. [http://home.cerge-ei.cz/ortmann/TrentoCourse/Juslin_etal_Naive_Empiricism_Dogmatism_inConfidence_Research.pdf Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect]. ''Psychological Review''. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.</ref>


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
* Fajar & Gurman (2009). ''"An analysis of calibration; the hard-easy effect and the emotional disappointment of overconfident behavior: Some experimental evidences"'' [http://www.ucema.edu.ar/conferencias/download/2009/Paper_Fajfar_Gurman.pdf]  
* Fajar & Gurman (2009). ''"An analysis of calibration; the hard-easy effect and the emotional disappointment of overconfident behavior: Some experimental evidences"'' [http://www.ucema.edu.ar/conferencias/download/2009/Paper_Fajfar_Gurman.pdf]
* Moore & Healy (2007). ''"The Trouble with Overconfidence"'' [https://web.archive.org/web/20130212233139/http://www.cbdr.cmu.edu/papers/pdfs/cdr_576.pdf]
* Moore & Healy (2007). ''"The Trouble with Overconfidence"'' [https://web.archive.org/web/20130212233139/http://www.cbdr.cmu.edu/papers/pdfs/cdr_576.pdf]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hard%E2%80%93easy+effect&oldid=28654745 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28654745 (2025-12-03T01:32:44Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hard%E2%80%93easy+effect&oldid=28654745 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28654745 (2025-12-03T01:32:44Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 9 September 2026 09.08

Hard-easy effect adalah bias kognitif yang membuat orang tidak menyadari kesulitan sebenarnya (sulit atau mudah) dari tugas yang mereka coba. Dengan kata lain, individu ini melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam melakukan tugas-tugas sulit dan meremehkan dirinya untuk tugas yang mudah. Misalnya, ketika individu menunjukkan sifat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif mudah dan sebaliknya, sifat terlalu percaya diri saat menjawab pertanyaan yang relatif sulit. Katherine A. Burson, Richard P. Larrick, dan Jack B. Soll dalam studi tahun 2005 menemukan bahwa, "Tugas yang sulit cenderung menghasilkan efek terlalu percaya diri, sementara tugas yang mudah menghasilkan efek kurang percaya diri."[1]

Bias ini berada di bawah lingkup "teori perbandingan sosial" yang dicetuskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Festinger berpendapat bahwa ketika individu bermaksud untuk menilai pemikiran dan kemampuan mereka, maka teori perbandingan sosial menerangkan cara penilaian tersebut dilakukan, yakni melalui proses membandingkan diri mereka dengan orang lain.[2]

Pada tahun 1980, Ferrell dan McGoey menyebut bias ini sebagai "efek diskriminabilitas". Sementara, Griffin dan Tversky (1992) menyebutnya sebagai "efek kesulitan".[3]

Eksperimen

Dalam berbagai penelitian, peserta diminta untuk menjawab soal pengetahuan umum dan memperkirakan peluang mereka untuk menjawab dengan benar. Apabila peserta memiliki tingkat pengetahuan diri (self-knowledge) yang memadai, maka mereka akan memberi persen peluang yang tinggi untuk pertanyaan yang mereka jawab dengan benar dan begitupun sebaliknya. Namun, hal ini tidak umum terjadi. Kebanyakan orang akan terlalu percaya diri dan melebih-lebihkan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan sulit, tetapi terlihat kurang percaya diri saat menjawab pertanyaan yang dianggap mudah.[4]

William M. Goldstein dan Robin M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta akan cenderung kurang percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan mudah oleh peneliti dan terlalu percaya diri atas jawaban dari sebuah pertanyaan yang digolongkan sulit oleh peneliti.[5]

Prevalensi

Sebuah riset pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa seluruh subjek penelitian menunjukkan hard-easy effect di banyak keadaan dan hal ini tidak dapat membedakan antara kegiatan menilai atau menghimpun dukungan model tertentu terkait elisitasi kepercayaan.[6]

Hard-easy effect menunjukkan bahwa bias ini tak tergantung oleh perbedaan kepribadian.[7] Para peneliti sepakat bahwa hal ini termasuk fenomena yang mengakar kuat dan menyebar ke banyak orang.[8]

Studi tahun 1999 menilai bahwa perbedaan data antara studi Baranski dan Petrusic (1994) di Kanada dengan Olsson dan Winman (1996) di Swedia, bisa jadi merefleksikan perbedaan lintas negara terkait kepercayaan diri dalam diskriminasi sensorik.[9]

Penyebab

Penjelasan lebih mendalam terkait efek ini menyangkut tentang mekanisme kognitif sistematis, bias eksperimen, kesalahan acak, dan artefak statistik.[10]

Sebuah studi tahun 1991 menyebut bahwa hard-easy effect merupakan akibat dari seleksi informal dari item almanak. Seleksi tersebut memungkinkan perubahan validitas isyarat yang digunakan oleh subjek dalam pemilihan jawaban item.[11] Lebih lanjut, Baranski dan Petrusic (1994), Griffin dan Tversky (1992), dan Suantak dkk (1996) menjelaskan efek ini berdasarkan aspek psikologisnya.[12]

Keraguan

Keraguan tentang eksistensi efek ini muncul atas penelitian yang dilakukan oleh Brenner dkk (1996), Justil dkk (1997), dan Keren (1991).[13]

Peter Juslin dalam penelitiannya tahun 1993 mengungkapkan bahwa, "(1) ketika objek yang akan dinilai diseleksi dari lingkungan asalnya, maka orang-orang terkalibrasi (tepat menentukan pilihan) dengan baik, (2) ketika item "sulit" dibuat melalui proses seleksi dengan materi yang kurang familiar (tak memengaruhi validitas isyarat), maka tak ada hard-easy effect yang dapat diamati dan orang-orang terkalibrasi dengan baik pada item yang mudah maupun sulit."[14]

Juslin, Anders Winman, dan Henrik Olsson dari Universitas Uppsala di tahun 2000 menyatakan bahwa hard-easy effect sebelumnya telah dimaknai tanpa memperhatikan masalah metodologisnya. Melalui studi tersebut, mereka berpendapat bahwa dua masalah metodologis dapat dikendalikan bahkan ketika hard-easy effect hampir dihilangkan. Mereka beranggapan bahwa efek ini ditafsirkan dengan kurang memperhatikan dampak skala-akhir, ketergantungan linier, dan efek regresi dalam data. Mereka juga menyoroti bahwa 'bias terlalu percaya diri secara kognitif' hanya mengacu pada set data tertentu. Poin spesifik yang mereka tekankan adalah bahwa hard-easy effect hampir sepenuhnya dapat dihilangkan manakala terdapat kontrol pada dampak skala-akhir dan ketergantungan linier.[15]

Pranala luar

  • Fajar & Gurman (2009). "An analysis of calibration; the hard-easy effect and the emotional disappointment of overconfident behavior: Some experimental evidences" [1]
  • Moore & Healy (2007). "The Trouble with Overconfidence" [2]

Referensi

  1. J. Sweller. A Test between the Selective Attention and Stimulus Generalization Interpretations of the Easy-to-hard Effect. Quarterly Journal of Experimental Psychology. 1972. Vol. 24 (3). hlm. 352–355. doi:10.1080/14640747208400290.
  2. Katherine Burson. Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence. Deep Blue. Michigan Ross School of Business. 2017.
  3. Peter Juslin. Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect. Psychological Review. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.
  4. Katherine Burson. Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence. Deep Blue. Michigan Ross School of Business. 2017.
  5. William M. Goldstein. Research on Judgment and Decision Making: Currents, Connections, and Controversies. Cambridge University Press. 1997. hlm. 108. ISBN 978-0-521-48334-6.
  6. Edgar C. Merkle. The disutility of the hard-easy effect in choice confidence. Psychon Bull Rev. 2009. Vol. 16 (1). hlm. 204–213. doi:10.3758/PBR.16.1.204.
  7. Katherine Burson. Social Comparison and Confidence: When Thinking You're Better than Average Predicts Overconfidence. Deep Blue. Michigan Ross School of Business. 2017.
  8. Peter Juslin. Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect. Psychological Review. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.
  9. Joseph Baranski. Realism of confidence in sensory discrimination. Perception & Psychophysics. 1999. Vol. 61 (7). hlm. 1369–1383. doi:10.3758/BF03206187.
  10. Edgar C. Merkle. The disutility of the hard-easy effect in choice confidence. Psychon Bull Rev. 2009. Vol. 16 (1). hlm. 204–213. doi:10.3758/PBR.16.1.204.
  11. Peter Juslin. An explanation of the hard-easy effect in studies of realism of confidence in one's general knowledge. European Journal of Cognitive Psychology. 2007. Vol. 5 (1). hlm. 55–71. doi:10.1080/09541449308406514.
  12. Peter Juslin. Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect. Psychological Review. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.
  13. Peter Juslin. Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect. Psychological Review. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.
  14. Peter Juslin. An explanation of the hard-easy effect in studies of realism of confidence in one's general knowledge. European Journal of Cognitive Psychology. 2007. Vol. 5 (1). hlm. 55–71. doi:10.1080/09541449308406514.
  15. Peter Juslin. Naive Empiricism and Dogmatism in Confidence Research: A Critical Examination of the Hard-Easy Effect. Psychological Review. 2000. Vol. 107 (2). hlm. 384–396. doi:10.1037/0033-295X.107.2.384.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28654745 (2025-12-03T01:32:44Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.