Lompat ke isi

Sistem bilangan Hindu-Arab: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
[[File:Numeral_Systems_of_the_World.svg|thumb|right|280px|Numeral Systems of the World]]
[[File:Numeral_Systems_of_the_World.svg|thumb|right|280px|Numeral Systems of the World]]


'''Sistem bilangan Hindu-Arab''' atau '''sistem bilangan Indo-Arab''' (atau dikenal juga sebagai '''sistem bilangan Arab''' atau '''sistem bilangan Hindu''')<ref>William Darrach Halsey, Emanuel Friedman. [https://books.google.com/books?id=uIgxAQAAIAAJ&q=%22empire+was+expanding+and+contact+was+made+with+India%22 Collier's Encyclopedia, with bibliography and index]. 1983.</ref> adalah sebuah sistem angka desimal posisional, dan merupakan sistem yang paling umum digunakan sebagai representasi simbolik angka di dunia.
[https://books.google.com/books?id=uIgxAQAAIAAJ&q=%22empire+was+expanding+and+contact+was+made+with+India%22 Collier's Encyclopedia, with bibliography and index]. 1983.</ref> adalah sebuah sistem angka desimal posisional, dan merupakan sistem yang paling umum digunakan sebagai representasi simbolik angka di dunia.


Sistem ini ditemukan oleh matematikawan [[India]] antara abad ke-1 dan ke-4 Masehi, yang kemudian diadopsi ke dalam matematika Arab pada abad ke-9. Sistem ini kemudian menjadi dikenal luas berkat tulisan-tulisan matematikawan Persia, [[Al-Khwarizmi|Al-Khwārizmī]], dengan bukunya yang bila diterjemahkan, berjudul ''Mengenai perhitungan dengan Angka Hindu,'' yang ditulis sekitar tahun 825. Dan [[al-Kindi]] pada bukunya, ''Tentang Penggunaan Angka Hindu'', sekitar tahun 830. Sistem itu kemudian menyebar ke Eropa pada [[Puncak Abad Pertengahan|puncak abad pertengahan]].
Sistem ini ditemukan oleh matematikawan [[India]] antara abad ke-1 dan ke-4 Masehi, yang kemudian diadopsi ke dalam matematika Arab pada abad ke-9. Sistem itu kemudian menyebar ke Eropa pada [[Puncak Abad Pertengahan|puncak abad pertengahan]].


Sistem ini didasarkan pada sepuluh (awalnya sembilan) simbol ([[glif]]), yang pada prinsipnya tidak terikat. Dalam penggunaanya, glif-glif tersebut merupakan turunan dari angka-angka [[Aksara Brahmi|Brahmi]] dan terpecah menjadi berbagai varian tipografi sejak Abad Pertengahan.
Sistem ini didasarkan pada sepuluh (awalnya sembilan) simbol ([[glif]]), yang pada prinsipnya tidak terikat. Dalam penggunaanya, glif-glif tersebut merupakan turunan dari angka-angka [[Aksara Brahmi|Brahmi]] dan terpecah menjadi berbagai varian tipografi sejak Abad Pertengahan.
Baris 10: Baris 10:


== Asal-usul ==
== Asal-usul ==
Angka Hindu-Arab atau Indo-Arab ditemukan oleh para matematikawan di [[India]].<ref>Felix Klein. [https://books.google.com/books?id=vfSutjEIZXkC&pg=PA6 Elementary Mathematics from an Advanced Standpoint: Arithmetic, Algebra, Analysis]. Cosimo, Inc. 2009. hlm. 25,80. ISBN 978-1605209319.</ref> Ahli matematika [[Persia]] dan [[Orang Arab|Arab]] menyebutnya "angka Hindu" (ارقام الهندية). Orang Eropa kemudian menyebutnya sebagai "angka Arab" karena mereka mengenal angka-angka ini dari para pedagang Arab.<ref>Russ Rowlett. [http://www.ibiblio.org/units/roman.html Roman and "Arabic" Numerals]. University of North Carolina at Chapel Hill. 2004-07-04.</ref> Menurut berbagai sumber, sistem angka ini berasal dari angka Shang Cina (1200 SM), yang juga merupakan sistem nilai posisional desimal basis 10.<ref>Douglas M. Campbell. [https://books.google.com/books?id=PFNsm_IaymYC&dq=shang+numerals+brahmi&pg=PA31 Mathematics: People, Problems, Results]. Taylor & Francis. 1984. ISBN 978-0-534-02879-4.</ref>
Angka Hindu-Arab atau Indo-Arab ditemukan oleh para matematikawan di [[India]].<ref>Felix Klein. [https://books.google.com/books?id=vfSutjEIZXkC&pg=PA6 Elementary Mathematics from an Advanced Standpoint: Arithmetic, Algebra, Analysis]. Cosimo, Inc. 2009. hlm. 25,80. Orang Eropa kemudian menyebutnya sebagai "angka Arab" karena mereka mengenal angka-angka ini dari para pedagang Arab.<ref>Russ Rowlett. [http://www.ibiblio.org/units/roman.html Roman and "Arabic" Numerals]. University of North Carolina at Chapel Hill. 2004-07-04.</ref> Menurut berbagai sumber, sistem angka ini berasal dari angka Shang Cina (1200 SM), yang juga merupakan sistem nilai posisional desimal basis 10.<ref>Douglas M. Campbell. [https://books.google.com/books?id=PFNsm_IaymYC&dq=shang+numerals+brahmi&pg=PA31 Mathematics: People, Problems, Results]. Taylor & Francis. 1984. ISBN 978-0-534-02879-4.</ref>


== Tata letak ==
== Tata letak ==
Sistem angka Hindu-Arab dibuat untuk tata letak kedudukan dalam sistem [[perpuluhan]]. Dalam bentuk yang lebih maju, tata tanda kedudukan juga menggunakan [[Sistem bilangan desimal]] dan juga satu simbol untuk '' [[:en:Ad infinitum|ad infinitium]]'' (untuk kegunaan modern, simbol [[Vinculum]] juga digunakan). Sistem angka ini dapat menjadi simbol untuk sembarang [[Bilangan rasional]] dengan menggunakan hanya 13 simbol (sepuluh digit, penanda perpuluhan, vinculum dan pilihan tanda minus pendek untuk menyatakan bilangan negatif).
Sistem angka Hindu-Arab dibuat untuk tata letak kedudukan dalam sistem [[perpuluhan]]. Dalam bentuk yang lebih maju, tata tanda kedudukan juga menggunakan [[Sistem bilangan desimal]] dan juga satu simbol untuk '' [[:en:Ad infinitum|ad infinitium]]'' (untuk kegunaan modern, simbol [[Vinculum]] juga digunakan). Sistem angka ini dapat menjadi simbol untuk sembarang [[Bilangan rasional]] dengan menggunakan hanya 13 simbol (sepuluh digit, penanda perpuluhan, vinculum dan pilihan tanda minus pendek untuk menyatakan bilangan negatif).


== Simbol ==
Sejak zaman pertengahan, jenis simbol dalam sistem ini telah berkembang menjadi berbagai variasi tipografi, dan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:
Terdapat berbagai jenis simbol yang digunakan untuk mewakili angka dalam bilangan Hindu-Arab, yang semuanya berevolusi dari angka Hindu. Sejak zaman pertengahan, jenis simbol dalam sistem ini telah berkembang menjadi berbagai variasi tipografi, dan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:


* ''[[Angka Arab|Angka Arab barat]]'' yang telah tersebar luas dan digunakan dengan [[abjad Latin]], [[abjad Cyril]] dan [[Alfabet Yunani]]. Ia berasal dari "angka Arab barat " yang digunakan di [[al-Andalus]] dan [[Maghreb|Arab Maghrib]].
* ''[[Angka Arab|Angka Arab barat]]'' yang telah tersebar luas dan digunakan dengan [[abjad Latin]], [[abjad Cyril]] dan [[Alfabet Yunani]]. Ia berasal dari "angka Arab barat " yang digunakan di [[al-Andalus]] dan [[Maghreb|Arab Maghrib]].
Baris 94: Baris 93:
[[Angka Brahmi]] adalah sistem yang digunakan di India yang menggantikan [[angka Kharosthi]], selepas penaklukan [[Alexander Agung]] pada abad ke-4 SM. Angka Brahmi dan Kharosthi digunakan bersama pada zaman kaisar [[empayar Maurya|Maurya]], di mana kedua-duanya muncul dalam titah perintah [[Asoka]] pada abad ke-4 SM.<ref>Flegg (2002), p. 6ff.</ref>
[[Angka Brahmi]] adalah sistem yang digunakan di India yang menggantikan [[angka Kharosthi]], selepas penaklukan [[Alexander Agung]] pada abad ke-4 SM. Angka Brahmi dan Kharosthi digunakan bersama pada zaman kaisar [[empayar Maurya|Maurya]], di mana kedua-duanya muncul dalam titah perintah [[Asoka]] pada abad ke-4 SM.<ref>Flegg (2002), p. 6ff.</ref>


Inskripsi [[Buddha]] sekitar 300 SM menggunakan simbol 1,4 dan 6. Seratus tahun kemudian, penggunaan simbol untuk 2, 4, 6 dan 9 telah dicatat. Angka Brahmi ini merupakan nenek moyang dari angka Hindu-Arab, bilangan 1 sehingga 9, tetapi tidak menggunakan sistem kedudukan dengan NOL, dan terdapat angka yang berasingan untuk setiap puluh (10, 20, 30, dll).
Seratus tahun kemudian, penggunaan simbol untuk 2, 4, 6 dan 9 telah dicatat. Angka Brahmi ini merupakan nenek moyang dari angka Hindu-Arab, bilangan 1 sehingga 9, tetapi tidak menggunakan sistem kedudukan dengan NOL, dan terdapat angka yang berasingan untuk setiap puluh (10, 20, 30, dll).


Sistem angka yang kita kenali hari ini adalah dengan tatatanda kedudukan dan penggunaan NOL, dan secara asasnya tidak bergantung kepada simbol yang digunakan, dan lebih muda usianya dari angka Brahmi.
Sistem angka yang kita kenali hari ini adalah dengan tatatanda kedudukan dan penggunaan NOL, dan secara asasnya tidak bergantung kepada simbol yang digunakan, dan lebih muda usianya dari angka Brahmi.
Baris 103: Baris 102:
Kitab ''[[Brahmasphutasiddhanta]] '' yang ditulis pada abad ke-7, mengandung pemahaman yang agak maju tentang peranan [[0 (angka)|nol]] dalam matematika.
Kitab ''[[Brahmasphutasiddhanta]] '' yang ditulis pada abad ke-7, mengandung pemahaman yang agak maju tentang peranan [[0 (angka)|nol]] dalam matematika.


Terjemahan Sanskrit untuk teks [[Jainisme|kosmologi Jain]] abad ke-5 yang hilang, ''[https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lokavibhaga Lokavibhaga]'' mungkin memelihara contoh terawal penggunaan kedudukan nol.<ref>Ifrah, G. The Universal History of Numbers: From prehistory to the invention of the computer. John Wiley and Sons Inc., 2000. Translated from the French by David Bellos, E.F. Harding, Sophie Wood and Ian Monk</ref>


Perkembangan di India ini telah diambil alih oleh matematika Islam pada kurun ke-8, seperti yang tercatat dalam ''kronologi cendekiawan'' (awal kurun ke-13) karya [[Al-Qifti]].<ref>Tulisan al-Qifti tidak menyatakan tentang sistem angka dengan spesifik, tetapi tentang penerimaan astronomi India [http://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/HistTopics/Arabic_numerals.html] : : ''... seseorang dari India telah menghadap khalifah Al-Mansur pada tahun 776, ia sangat mahir dalam kaedah pengiraan siddhanta berkaitan dengan pergerakan objek langit, dan memiliki pelbagai cara untuk mengira persamaan berasaskan separuh rentasan (sinus) yang dikira dalam separuh darjah....Al-Mansur mengarahkan buku ini diterjemah ke dalam bahasa Arab, dan satu kajian dibuat berdasarkan terjemahan itu bagi memberi orang Arab asas yang teguh untuk mengira pergerakan planet... '' Buku yang dipersembahkan oleh cendekiawan India tersebut berkemungkinan besar adalah ''Brahmasphutasiddhanta ''.</ref>
Perkembangan di India ini telah diambil alih oleh matematika Islam pada kurun ke-8, seperti yang tercatat dalam ''kronologi cendekiawan'' (awal kurun ke-13) karya [[Al-Qifti]].<ref>Tulisan al-Qifti tidak menyatakan tentang sistem angka dengan spesifik, tetapi tentang penerimaan astronomi India [http://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/HistTopics/Arabic_numerals.html] : : ''... seseorang dari India telah menghadap khalifah Al-Mansur pada tahun 776, ia sangat mahir dalam kaedah pengiraan siddhanta berkaitan dengan pergerakan objek langit, dan memiliki pelbagai cara untuk mengira persamaan berasaskan separuh rentasan (sinus) yang dikira dalam separuh darjah....Al-Mansur mengarahkan buku ini diterjemah ke dalam bahasa Arab, dan satu kajian dibuat berdasarkan terjemahan itu bagi memberi orang Arab asas yang teguh untuk mengira pergerakan planet... '' Buku yang dipersembahkan oleh cendekiawan India tersebut berkemungkinan besar adalah ''Brahmasphutasiddhanta ''.</ref>


Sistem angka ini kemudian dibincangkan oleh ahli matematika Persia, [[Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī|Al-Khawarizmi]] dalam bukunya, ''Tentang perhitungan dengan angka Hindu'' (825M) dan ahli matematika Arab [[Ibn Ishaq Al-Kindi|Al-Kindi]] dalam bukunya, ''Tentang penggunaan angka India'' ( [''kitab fi isti'mal al-'adad al-hindi''] (830M). Kedua karya ini memainkan peranan besar dalam menyebarkan sistem angka India ke seluruh [[dunia Islam]] dan akhirnya ke Eropa. [http://www-gap.dcs.st-and.ac.uk/%7Ehistory/HistTopics/Indian_numerals.html] .
Kedua karya ini memainkan peranan besar dalam menyebarkan sistem angka India ke seluruh [[dunia Islam]] dan akhirnya ke Eropa. [http://www-gap.dcs.st-and.ac.uk/%7Ehistory/HistTopics/Indian_numerals.html] .


Dalam [[matematik Islam|matematika Islam]] kurun ke-10, sistem ini telah dikembangkan dengan kemasukan subjek [[pecahan]], seperti yang tercatat dalam karya ahli matematika Arab [[Abu'l-Hasan al-Uqlidisi]] pada tahun 952 – 953.<ref>J. Lennart Berggren. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook]. Princeton University Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse/page/518 518]. ISBN 9780691114859.</ref>
Dalam [[matematik Islam|matematika Islam]] kurun ke-10, sistem ini telah dikembangkan dengan kemasukan subjek [[pecahan]], seperti yang tercatat dalam karya ahli matematika Arab [[Abu'l-Hasan al-Uqlidisi]] pada tahun 952 – 953.<ref>J. Lennart Berggren. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook]. Princeton University Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse/page/518 518]. ISBN 9780691114859.</ref>


=== Penggunaan di Eropa ===
Di era Eropa-kristen, angka Hindu-Arab pertama kali muncul (dari 1 hingga 9, tanpa 0) dalam [[Codex Vigilanus]], satu kompilasi manuskrip berwarna warni dokumen sejarah dari era [[Visigoth]] di [[Hispania|Sepanyol]], yang ditulis pada tahun 976M oleh tiga rahib dari biara [[San Martin de Abelda]] di [[La Rioja]].
Antara tahun 967 dan 969, [[Paus Slyvester II|Gerbert of Aurillac]] menemui dan mempelajari sains Arab di gereja-gereja Catalonia. Kemudian ia memperoleh dari tempat-tempat ini buku ''De multiplicatione et divisione'' (tentang pendaraban dan pembahagian). Setelah menjadi [[Paus (Katolik)|Paus]] pada tahun 999M, ia memperkenalkan [[sempoa]] model baru yang dipanggil [[sempoa Gerbert]], dengan mengadaptasi token-token yang mewakili angka Hindu-Arab, dari satu sampai sembilan.


Dalam bukunya ''Liber Abaci'' (Buku perhitungan), [[Fibonacci|Leonardo Fibonacci]] memperkenalkan angka Arab, penggunaan angka nol dan sistem kedudukan perpuluhan kepada dunia Latin. Sistem angka ini disebut "angka Arab" oleh orang Eropa. Ia mulai digunakan dalam matematika Eropa dari kurun ke-12, dan digunakan dengan meluas sejak kurun ke-15.
Dalam bukunya ''Liber Abaci'' (Buku perhitungan), [[Fibonacci|Leonardo Fibonacci]] memperkenalkan angka Arab, penggunaan angka nol dan sistem kedudukan perpuluhan kepada dunia Latin. Sistem angka ini disebut "angka Arab" oleh orang Eropa. Ia mulai digunakan dalam matematika Eropa dari kurun ke-12, dan digunakan dengan meluas sejak kurun ke-15.

Revisi terkini sejak 9 September 2026 09.09

Numeral Systems of the World

Collier's Encyclopedia, with bibliography and index. 1983.</ref> adalah sebuah sistem angka desimal posisional, dan merupakan sistem yang paling umum digunakan sebagai representasi simbolik angka di dunia.

Sistem ini ditemukan oleh matematikawan India antara abad ke-1 dan ke-4 Masehi, yang kemudian diadopsi ke dalam matematika Arab pada abad ke-9. Sistem itu kemudian menyebar ke Eropa pada puncak abad pertengahan.

Sistem ini didasarkan pada sepuluh (awalnya sembilan) simbol (glif), yang pada prinsipnya tidak terikat. Dalam penggunaanya, glif-glif tersebut merupakan turunan dari angka-angka Brahmi dan terpecah menjadi berbagai varian tipografi sejak Abad Pertengahan.

Kelompok simbol ini dapat dibagi menjadi tiga keluarga utama: Angka Arab Barat yang digunakan di Maghreb Raya dan di Eropa; Angka Arab Timur yang digunakan di Timur Tengah; dan angka India yang dalam berbagai skrip digunakan di anak benua India.

Asal-usul

Angka Hindu-Arab atau Indo-Arab ditemukan oleh para matematikawan di India.Kesalahan pengutipan: </ref> yang menutup hilang untuk tanda <ref> Menurut berbagai sumber, sistem angka ini berasal dari angka Shang Cina (1200 SM), yang juga merupakan sistem nilai posisional desimal basis 10.[1]

Tata letak

Sistem angka Hindu-Arab dibuat untuk tata letak kedudukan dalam sistem perpuluhan. Dalam bentuk yang lebih maju, tata tanda kedudukan juga menggunakan Sistem bilangan desimal dan juga satu simbol untuk ad infinitium (untuk kegunaan modern, simbol Vinculum juga digunakan). Sistem angka ini dapat menjadi simbol untuk sembarang Bilangan rasional dengan menggunakan hanya 13 simbol (sepuluh digit, penanda perpuluhan, vinculum dan pilihan tanda minus pendek untuk menyatakan bilangan negatif).

Sejak zaman pertengahan, jenis simbol dalam sistem ini telah berkembang menjadi berbagai variasi tipografi, dan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok:

  • Angka Arab barat yang telah tersebar luas dan digunakan dengan abjad Latin, abjad Cyril dan Alfabet Yunani. Ia berasal dari "angka Arab barat " yang digunakan di al-Andalus dan Arab Maghrib.
  • Angka Arab timur yang digunakan dengan abjad Arab, dipercayai mulaii berkembang dari kawasan yang sekarang disebut dengan Irak. Variasi angka Arab timur juga terdapat dalam angka Urdu dan Persia. Terdapat beberapa variasi dalam penggunaan glif untuk digit Arab timur terutamanya untuk digit empat, lima, enam, dan tujuh (lihat tabel di bawah).[2]
  • Angka India yang digunakan dengan angka dari keluarga Brahmi di India dan Asia Tenggara.
Arab Barat 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Hindu-Arab ٠ ١ ٢ ٣ ٤ ٥ ٦ ٧ ٨ ٩
Arab Timur
(Parsi dan Urdu)
۰ ۱ ۲ ۳ ۴ ۵ ۶ ۷ ۸ ۹
Devanagari
(Hindi)
Tamil  

Catatan: Beberapa simbol mungkin tidak dapat ditampilkan dengan baik jika browser anda tidak mendukung font Unicode .

Arab barat 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Arab timur ٠ ١ ٢ ٣ ٤ ٥ ٦ ٧ ٨ ٩
Parsi ۰ ۱ ۲ ۳ ۴ ۵ ۶ ۷ ۸ ۹
Devanagari
Gujarati
Gurmukhī Punjabi
Orang Assam & Bengali
Oriya
Telugu
Kannada
Malayalam
Tamil (Grantha)[3]
Tibet
Thai
Khmer
Lao

Sejarah

Asal-usul

Angka Brahmi adalah sistem yang digunakan di India yang menggantikan angka Kharosthi, selepas penaklukan Alexander Agung pada abad ke-4 SM. Angka Brahmi dan Kharosthi digunakan bersama pada zaman kaisar Maurya, di mana kedua-duanya muncul dalam titah perintah Asoka pada abad ke-4 SM.[4]

Seratus tahun kemudian, penggunaan simbol untuk 2, 4, 6 dan 9 telah dicatat. Angka Brahmi ini merupakan nenek moyang dari angka Hindu-Arab, bilangan 1 sehingga 9, tetapi tidak menggunakan sistem kedudukan dengan NOL, dan terdapat angka yang berasingan untuk setiap puluh (10, 20, 30, dll).

Sistem angka yang kita kenali hari ini adalah dengan tatatanda kedudukan dan penggunaan NOL, dan secara asasnya tidak bergantung kepada simbol yang digunakan, dan lebih muda usianya dari angka Brahmi.

Perkembangan

Perkembangan sistem perpuluhan berasal dari matematika India ketika era dinasti Gupta. Sekitar 500 M, ahli astronomi Aryabhata menggunakan sebutan kha ("kekosongan") untuk menulis angka "nol" dalam deretan nomor.

Kitab Brahmasphutasiddhanta yang ditulis pada abad ke-7, mengandung pemahaman yang agak maju tentang peranan nol dalam matematika.


Perkembangan di India ini telah diambil alih oleh matematika Islam pada kurun ke-8, seperti yang tercatat dalam kronologi cendekiawan (awal kurun ke-13) karya Al-Qifti.[5]

Kedua karya ini memainkan peranan besar dalam menyebarkan sistem angka India ke seluruh dunia Islam dan akhirnya ke Eropa. [2] .

Dalam matematika Islam kurun ke-10, sistem ini telah dikembangkan dengan kemasukan subjek pecahan, seperti yang tercatat dalam karya ahli matematika Arab Abu'l-Hasan al-Uqlidisi pada tahun 952 – 953.[6]


Dalam bukunya Liber Abaci (Buku perhitungan), Leonardo Fibonacci memperkenalkan angka Arab, penggunaan angka nol dan sistem kedudukan perpuluhan kepada dunia Latin. Sistem angka ini disebut "angka Arab" oleh orang Eropa. Ia mulai digunakan dalam matematika Eropa dari kurun ke-12, dan digunakan dengan meluas sejak kurun ke-15. Bentuk modern seperti yang kita gunakan dengan abjad Latin hari ini (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9) adalah hasil dari lewat kurun ke-15 hingga awal kurun ke-16, ketika ia mulai memasuki era penyusunan angka terawal.

Di dunia Arab sampai zaman modern, sistem angka Hindu-Arab digunakan hanya oleh para ahli matematika. Saintis muslim menggunakan sistem angka Babylon, dan para saudagar menggunakan angka Abjad, satu sistem yang sama seperti sistem angka Greek dan sistem angka Ibrani. Pengenalan sistem ini oleh Fibonacci di Eropa cuma terbatas dalam ruang lingkup kajian ilmiah.

Kredit harus diberikan kepada Adam Ries, seorang penulis Jerman zaman Pembaharuan yang bertanggungjawab atas pemahaman yang meluas dan penggunaan kedudukan perpuluhan di kalangan populasi umum, menurut bukunya Rechenung auff der linihen und federn yang disasarkan pada golongan yang merintis usaha dan para artis.

Penggunaan di Asia timur

Di China, Gautama Siddha telah memperkenalkan angka India dengan angka nol pada tahun 718, tapi ia dianggap tidak berguna bagi para ahli matematika China yang sudah mempunyai batang pembilang yang berkedudukan perpuluhan.[7][8]

Dalam angka China, satu bulatan (〇) telah digunakan untuk menulis nol dalam angka Suzhou. Ramai ahli sejarah berpendapat ia diimpor dari angka India oleh Gautama Siddha pada tahun 718, tetapi beberapa pendapat mengatakan ia dicipta dari pengisi ruang teks China "□".[9]

Orang China dan Jepang akhirnya menghentikan penggunaan batang pembilang, dan bertukar kepada angka Hindu-Arab pada kurun ke-19.

Penyebaran variasi Arab barat

Angka Arab barat yang biasa digunakan di Eropa sejak zaman Baroque telah tersebar ke seluruh dunia bersama dengan abjad Latin, bahkan lebih meluas dibandingkan penyebaran abjad Latin itu sendiri. Ia telah masuk ke dalam sistem penulisan yang secara tradisi menggunakan variasi angka Hindu-Arab yang lain, dan juga digunakan dalam tulisan Cina dan tulisan Jepang.

Lihat juga

Nota

Referensi

  1. Douglas M. Campbell. Mathematics: People, Problems, Results. Taylor & Francis. 1984. ISBN 978-0-534-02879-4.
  2. The Unicode Standard 5.0–Electronic edition, Chapter 8 Middle Eastern Scripts
  3. Sifar dalam Tamil ialah inovasi moden. Unicode 4.1 dan seterusnya memberi pengekodan kepadanya FAQ–Tamil Language and Script–Q: What can you tell me about Tamil Digit Zero? Unicode Technical Note #21: Tamil Numbers
  4. Flegg (2002), p. 6ff.
  5. Tulisan al-Qifti tidak menyatakan tentang sistem angka dengan spesifik, tetapi tentang penerimaan astronomi India [1] : : ... seseorang dari India telah menghadap khalifah Al-Mansur pada tahun 776, ia sangat mahir dalam kaedah pengiraan siddhanta berkaitan dengan pergerakan objek langit, dan memiliki pelbagai cara untuk mengira persamaan berasaskan separuh rentasan (sinus) yang dikira dalam separuh darjah....Al-Mansur mengarahkan buku ini diterjemah ke dalam bahasa Arab, dan satu kajian dibuat berdasarkan terjemahan itu bagi memberi orang Arab asas yang teguh untuk mengira pergerakan planet... Buku yang dipersembahkan oleh cendekiawan India tersebut berkemungkinan besar adalah Brahmasphutasiddhanta .
  6. J. Lennart Berggren. The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook. Princeton University Press. 2007. hlm. 518. ISBN 9780691114859.
  7. Baocong Qian. Zhongguo Shuxue Shi (The history of Chinese mathematics). Kexue Chubanshe. 1964.
  8. Qīngxiáng Wáng. Sangi o koeta otoko (The man who exceeded counting rods). Tōyō Shoten. 1999. ISBN 4-88595-226-3.
  9. Baocong Qian. Zhongguo Shuxue Shi (The history of Chinese mathematics). Kexue Chubanshe. 1964.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29075820 (2026-03-27T06:55:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.