Lompat ke isi

Kedaulatan data: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26764977; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kedaulatan data''' adalah konsep yang menyatakan bahwa data tunduk pada [[hukum]] dan [[regulasi]] [[negara]] atau [[wilayah]] tempat data tersebut dihasilkan. Konsep ini mencakup [[pengelolaan data|pengelolaan]], [[penyimpanan data|penyimpanan]], [[pemrosesan data|pemrosesan]], dan pemindahan [[data]] sesuai dengan hukum yang berlaku di wilayah tersebut. Dalam konteks yang lebih luas, kedaulatan data menjadi bagian inti dari strategi [[privasi]], [[keamanan]], dan tata kelola data, yang bertujuan untuk melindungi [[data sensitif]] dari [[ancaman siber]]. Selain itu, kedaulatan data juga terkait erat dengan konsep residensi dan [[pelokalan data]], yang masing-masing mengacu pada lokasi penyimpanan data dan pemenuhan persyaratan hukum yang berlaku dalam pengelolaan data di negara tertentu. Konsep kedaulatan data terkait erat dengan [[keamanan data]], [[komputasi awan]], [[kedaulatan jaringan]], dan [[kedaulatan digital]].
'''Kedaulatan data''' adalah konsep yang menyatakan bahwa data tunduk pada [[hukum]] dan [[regulasi]] [[negara]] atau [[wilayah]] tempat data tersebut dihasilkan. Konsep ini mencakup [[pengelolaan data|pengelolaan]], [[penyimpanan data|penyimpanan]], [[pemrosesan data|pemrosesan]], dan pemindahan [[data]] sesuai dengan hukum yang berlaku di wilayah tersebut.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Dalam konteks yang lebih luas, kedaulatan data menjadi bagian inti dari strategi [[privasi]], [[keamanan]], dan tata kelola data, yang bertujuan untuk melindungi [[data sensitif]] dari [[ancaman siber]]. Selain itu, kedaulatan data juga terkait erat dengan konsep residensi dan [[pelokalan data]], yang masing-masing mengacu pada lokasi penyimpanan data dan pemenuhan persyaratan hukum yang berlaku dalam pengelolaan data di negara tertentu.<ref>Mesh Flinders. [https://www.ibm.com/id-id/think/topics/data-sovereignty Apa itu kedaulatan data?]. ''IBM''. 3 Juni 2024.</ref> Konsep kedaulatan data terkait erat dengan [[keamanan data]], [[komputasi awan]], [[kedaulatan jaringan]], dan [[kedaulatan digital]].  


==Ruang lingkup==
==Ruang lingkup==
Kedaulatan data dan kedaulatan digital adalah dua konsep yang saling terkait tetapi mencakup ruang lingkup yang berbeda. Kedaulatan digital adalah konsep yang lebih luas yang mencakup kontrol negara atau wilayah atas seluruh ruang digital.  Hal itu termasuk pengelolaan [[infrastruktur digital]], [[teknologi]], [[aplikasi]], dan [[kebijakan]] yang mengatur penggunaan teknologi tersebut di wilayah tersebut.  Kedaulatan digital mencakup kedaulatan data, tetapi juga menekankan pengaruh negara atas kebijakan digital yang lebih luas, yang bisa meliputi [[keamanan siber]], [[regulasi internet]], dan pengendalian terhadap [[anjungan digital]] besar. Kedaulatan digital bertujuan untuk memastikan bahwa negara memiliki [[otonomi]] penuh dalam mengelola ruang digitalnya, baik dalam hal data maupun kebijakan terkait teknologi.
Kedaulatan data dan kedaulatan digital adalah dua konsep yang saling terkait tetapi mencakup ruang lingkup yang berbeda. Kedaulatan digital adalah konsep yang lebih luas yang mencakup kontrol negara atau wilayah atas seluruh ruang digital.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Hal itu termasuk pengelolaan [[infrastruktur digital]], [[teknologi]], [[aplikasi]], dan [[kebijakan]] yang mengatur penggunaan teknologi tersebut di wilayah tersebut.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Kedaulatan digital mencakup kedaulatan data, tetapi juga menekankan pengaruh negara atas kebijakan digital yang lebih luas, yang bisa meliputi [[keamanan siber]], [[regulasi internet]], dan pengendalian terhadap [[anjungan digital]] besar. Kedaulatan digital bertujuan untuk memastikan bahwa negara memiliki [[otonomi]] penuh dalam mengelola ruang digitalnya, baik dalam hal data maupun kebijakan terkait teknologi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Kedaulatan data secara khusus mengacu pada pengendalian dan [[regulasi data]] yang ada di suatu negara atau wilayah. Hal ini melibatkan pengaturan mengenai bagaimana data dikumpulkan, diproses, disimpan, dan dipindahkan sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut. Dengan munculnya teknologi [[komputasi awan]], pengelolaan kedaulatan data menjadi lebih rumit karena data dapat diakses secara [[global]] sehingga perusahaan pengelola server perlu mematuhi berbagai peraturan di berbagai negara.
Kedaulatan data secara khusus mengacu pada pengendalian dan [[regulasi data]] yang ada di suatu negara atau wilayah.<ref>Anupam Chander. ''Data Sovereignty: From the Digital Silk Road to the Return of the State''. Oxford Academic. 14 Desember 2023. doi:10.1093/oso/9780197582794.003.0001.</ref> Hal ini melibatkan pengaturan mengenai bagaimana data dikumpulkan, diproses, disimpan, dan dipindahkan sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut. Dengan munculnya teknologi [[komputasi awan]], pengelolaan kedaulatan data menjadi lebih rumit karena data dapat diakses secara [[global]] sehingga perusahaan pengelola server perlu mematuhi berbagai peraturan di berbagai negara.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Kedaulatan data, sebagai konsep bahwa data tunduk pada hukum dan struktur [[pemerintahan]] dalam satu negara, biasanya dibahas dalam dua konteks: pertama, terkait dengan kelompok [[masyarakat adat]] dan otonomi mereka dari negara-negara pascakolonial, dan kedua, terkait dengan aliran data lintas negara.  Dengan meningkatnya penggunaan komputasi awan, banyak negara yang mengesahkan berbagai undang-undang mengenai kontrol dan penyimpanan data, yang semuanya mencerminkan langkah-langkah kedaulatan data. Lebih dari 100 negara kini memiliki beberapa bentuk undang-undang kedaulatan data. Dalam [[Konteks Identitas Otonom]] (SSI), pemegang identitas individu dapat sepenuhnya membuat dan mengontrol [[kredensial]] mereka, meskipun sebuah negara masih dapat mengeluarkan identitas digital dalam paradigma tersebut.
Kedaulatan data, sebagai konsep bahwa data tunduk pada hukum dan struktur [[pemerintahan]] dalam satu negara, biasanya dibahas dalam dua konteks: pertama, terkait dengan kelompok [[masyarakat adat]] dan otonomi mereka dari negara-negara pascakolonial, dan kedua, terkait dengan aliran data lintas negara.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Dengan meningkatnya penggunaan komputasi awan, banyak negara yang mengesahkan berbagai undang-undang mengenai kontrol dan penyimpanan data, yang semuanya mencerminkan langkah-langkah kedaulatan data.<ref>Kristina Irion. ''Government Cloud Computing and National Data Sovereignty''. ''Policy & Internet''. 2012-12-01. Vol. 4 (3–4). hlm. 40–71. doi:10.1002/poi3.10.</ref> Lebih dari 100 negara kini memiliki beberapa bentuk undang-undang kedaulatan data.<ref>[https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-07-08/google-scrapped-cloud-initiative-in-china-sensitive-markets Gilmore, David, DataFleets, "Google Scrapped Cloud Initiative in China, Other Markets", Bloomberg News]. ''Bloomberg News''. July 8, 2020.</ref> Dalam [[Konteks Identitas Otonom]] (SSI), pemegang identitas individu dapat sepenuhnya membuat dan mengontrol [[kredensial]] mereka, meskipun sebuah negara masih dapat mengeluarkan identitas digital dalam paradigma tersebut.<ref>Kukutai, Tahu, and John Taylor. ''Indigenous Data Sovereignty: Toward an Agenda''. ANU Press, 2016.</ref>


==Sejarah==
==Sejarah==
Pengungkapan oleh [[Edward Snowden]] terkait program [[PRISM]] milik [[Badan Keamanan Nasional|Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat]] (NSA) menjadi pemicu utama diskusi global tentang kedaulatan data. Terungkap bahwa [[Amerika Serikat]] mengumpulkan data dalam jumlah besar, tidak hanya dari warga negara mereka, tetapi juga dari seluruh dunia. Program ini dirancang untuk "menerima" berbagai jenis data seperti [[surel]], [[video]], [[foto]], panggilan suara dan video, detail jejaring sosial, informasi [[log masuk]], dan data lainnya yang disimpan oleh perusahaan-perusahaan internet Amerika Serikat, seperti [[Facebook]], [[Apple Inc.|Apple]], [[Google]], dan [[X (media sosial)|Twitter]]. Setelah pengungkapan ini, negara-negara menjadi semakin khawatir tentang siapa yang bisa mengakses informasi nasional mereka dan potensi dampaknya. Kekhawatiran ini semakin diperburuk oleh [[Patriot Act|Undang-Undang Patriot AS]], yang memberi akses kepada pejabat Amerika Serikat terhadap informasi yang berada secara fisik di negara mereka, terlepas dari asal-usul informasi tersebut. Hal tersebut berarti bahwa data yang disimpan di server Amerika tidak dilindungi dari pemerintahan Amerika Serikat.
Pengungkapan oleh [[Edward Snowden]] terkait program [[PRISM]] milik [[Badan Keamanan Nasional|Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat]] (NSA) menjadi pemicu utama diskusi global tentang kedaulatan data. Terungkap bahwa [[Amerika Serikat]] mengumpulkan data dalam jumlah besar, tidak hanya dari warga negara mereka, tetapi juga dari seluruh dunia.<ref>Len Padilla. [https://www.theguardian.com/media-network/media-network-blog/2014/jun/09/edward-snowden-nsa-changing-business Four ways the NSA revelations are changing businesses]. ''The Guardian''. 2014-06-09.</ref> Program ini dirancang untuk "menerima" berbagai jenis data seperti [[surel]], [[video]], [[foto]], panggilan suara dan video, detail jejaring sosial, informasi [[log masuk]], dan data lainnya yang disimpan oleh perusahaan-perusahaan internet Amerika Serikat, seperti [[Facebook]], [[Apple Inc.|Apple]], [[Google]], dan [[X (media sosial)|Twitter]].<ref>Leo Kelion. [https://www.bbc.com/news/technology-23027764 Q&A: NSA's Prism internet surveillance scheme]. ''BBC News''. 2013-06-25.</ref> Setelah pengungkapan ini, negara-negara menjadi semakin khawatir tentang siapa yang bisa mengakses informasi nasional mereka dan potensi dampaknya. Kekhawatiran ini semakin diperburuk oleh [[Patriot Act|Undang-Undang Patriot AS]], yang memberi akses kepada pejabat Amerika Serikat terhadap informasi yang berada secara fisik di negara mereka, terlepas dari asal-usul informasi tersebut.<ref>Leo Kelion. [https://www.bbc.com/news/technology-23027764 Q&A: NSA's Prism internet surveillance scheme]. ''BBC News''. 2013-06-25.</ref> Hal tersebut berarti bahwa data yang disimpan di server Amerika tidak dilindungi dari pemerintahan Amerika Serikat.<ref>[http://www.tbs-sct.gc.ca/pubs_pol/gospubs/TBM_128/usapa/faq-eng.asp USA PATRIOT Act Comprehensive Assessment Results]. ''Treasury Board of Canada Secretariat''. 2006-03-28.</ref>
 
Peristiwa lain yang membawa isu kedaulatan data ke perhatian publik adalah kasus antara [[Microsoft]] dan pemerintah Amerika Serikat. Pada tahun 2013, [[Departemen Kehakiman|Departemen Kehakiman (DoJ)]]  Amerika Serikat menuntut agar Microsoft memberikan akses kepada mereka untuk surel yang terkait dengan kasus [[narkotika]] dari akun [[Hotmail]] yang disimpan di [[Irlandia]]. Microsoft menolak permintaan tersebut, dengan alasan bahwa [[transfer data]] tersebut akan melanggar peraturan lokalasi data dan undang-undang perlindungan di [[Uni Eropa]]. Keputusan awal mendukung pemerintah Amerika Serikat, dengan Magistrate James Francis menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika harus menyerahkan informasi pribadi ketika diminta dengan surat perintah pencarian yang sah dari lembaga penegak hukum Amerika Serikat. Microsoft mengajukan banding dan kembali ke pengadilan pada tahun 2016. John Frank, Wakil Presiden Urusan Pemerintahan Uni Eropa di Microsoft, menyatakan dalam sebuah publikasi pada [[blog]] di tahun 2016 bahwa pengadilan banding Amerika Serikat memutuskan mendukung Microsoft, menyatakan bahwa surat perintah pencarian Amerika Serikat tidak berlaku untuk data pelanggan mereka yang disimpan di luar negeri. Pada 23 Oktober 2017, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan gugatan tersebut setelah adanya perubahan kebijakan dari Departemen Kehakiman (DoJ).
 
==Referensi==


Peristiwa lain yang membawa isu kedaulatan data ke perhatian publik adalah kasus antara [[Microsoft]] dan pemerintah Amerika Serikat. Pada tahun 2013, [[Departemen Kehakiman|Departemen Kehakiman (DoJ)]]  Amerika Serikat menuntut agar Microsoft memberikan akses kepada mereka untuk surel yang terkait dengan kasus [[narkotika]] dari akun [[Hotmail]] yang disimpan di [[Irlandia]].<ref>Sam Thielman. [https://www.theguardian.com/us-news/2015/sep/02/microsoft-us-government-cloud-computing-ireland Nationality in the cloud: US clashes with Microsoft over seizing data from abroad]. ''The Guardian''. 2015-09-02.</ref><ref>Joseph Marks. [https://www.politico.eu/article/can-us-demand-emails-stored-in-ireland-cloud-congress-technology-courts-servers-internet-security/ Can the US demand emails stored in Ireland?]. ''Politico''. 2015-09-08.</ref> Microsoft menolak permintaan tersebut, dengan alasan bahwa [[transfer data]] tersebut akan melanggar peraturan lokalasi data dan undang-undang perlindungan di [[Uni Eropa]].<ref>Samuel Gibbs. [https://www.theguardian.com/technology/2014/apr/29/us-court-microsoft-personal-data-emails-irish-server US court forces Microsoft to hand over personal data from Irish server]. ''The Guardian''. 2014-04-29.</ref> Keputusan awal mendukung pemerintah Amerika Serikat, dengan Magistrate James Francis menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika harus menyerahkan informasi pribadi ketika diminta dengan surat perintah pencarian yang sah dari lembaga penegak hukum Amerika Serikat.<ref>Samuel Gibbs. [https://www.theguardian.com/technology/2014/apr/29/us-court-microsoft-personal-data-emails-irish-server US court forces Microsoft to hand over personal data from Irish server]. ''The Guardian''. 2014-04-29.</ref> Microsoft mengajukan banding dan kembali ke pengadilan pada tahun 2016. John Frank, Wakil Presiden Urusan Pemerintahan Uni Eropa di Microsoft, menyatakan dalam sebuah publikasi pada [[blog]] di tahun 2016 bahwa pengadilan banding Amerika Serikat memutuskan mendukung Microsoft, menyatakan bahwa surat perintah pencarian Amerika Serikat tidak berlaku untuk data pelanggan mereka yang disimpan di luar negeri.<ref>John Frank. [https://blogs.microsoft.com/eupolicy/2016/09/05/our-search-warrant-case-microsofts-commitment-to-protecting-your-privacy/ Our search warrant case: Microsoft's commitment to protecting your privacy]. ''EU Policy Blog''. Microsoft. 2016-09-05.</ref> Pada 23 Oktober 2017, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan gugatan tersebut setelah adanya perubahan kebijakan dari Departemen Kehakiman (DoJ).<ref>[https://venturebeat.com/2017/10/24/microsoft-drops-lawsuit-after-doj-revises-data-request-transparency-rules/ Microsoft drops lawsuit after U.S. government revises data request transparency rules]. ''venturebeat.com''. VentureBeat. 2017-10-24.</ref>


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26764977 (2025-01-07T13:24:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kedaulatan+data&oldid=26764977 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26764977 (2025-01-07T13:24:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 14.01

Kedaulatan data adalah konsep yang menyatakan bahwa data tunduk pada hukum dan regulasi negara atau wilayah tempat data tersebut dihasilkan. Konsep ini mencakup pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, dan pemindahan data sesuai dengan hukum yang berlaku di wilayah tersebut.[1] Dalam konteks yang lebih luas, kedaulatan data menjadi bagian inti dari strategi privasi, keamanan, dan tata kelola data, yang bertujuan untuk melindungi data sensitif dari ancaman siber. Selain itu, kedaulatan data juga terkait erat dengan konsep residensi dan pelokalan data, yang masing-masing mengacu pada lokasi penyimpanan data dan pemenuhan persyaratan hukum yang berlaku dalam pengelolaan data di negara tertentu.[2] Konsep kedaulatan data terkait erat dengan keamanan data, komputasi awan, kedaulatan jaringan, dan kedaulatan digital.

Ruang lingkup

Kedaulatan data dan kedaulatan digital adalah dua konsep yang saling terkait tetapi mencakup ruang lingkup yang berbeda. Kedaulatan digital adalah konsep yang lebih luas yang mencakup kontrol negara atau wilayah atas seluruh ruang digital.[3] Hal itu termasuk pengelolaan infrastruktur digital, teknologi, aplikasi, dan kebijakan yang mengatur penggunaan teknologi tersebut di wilayah tersebut.[4] Kedaulatan digital mencakup kedaulatan data, tetapi juga menekankan pengaruh negara atas kebijakan digital yang lebih luas, yang bisa meliputi keamanan siber, regulasi internet, dan pengendalian terhadap anjungan digital besar. Kedaulatan digital bertujuan untuk memastikan bahwa negara memiliki otonomi penuh dalam mengelola ruang digitalnya, baik dalam hal data maupun kebijakan terkait teknologi.[5]

Kedaulatan data secara khusus mengacu pada pengendalian dan regulasi data yang ada di suatu negara atau wilayah.[6] Hal ini melibatkan pengaturan mengenai bagaimana data dikumpulkan, diproses, disimpan, dan dipindahkan sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut. Dengan munculnya teknologi komputasi awan, pengelolaan kedaulatan data menjadi lebih rumit karena data dapat diakses secara global sehingga perusahaan pengelola server perlu mematuhi berbagai peraturan di berbagai negara.[7]

Kedaulatan data, sebagai konsep bahwa data tunduk pada hukum dan struktur pemerintahan dalam satu negara, biasanya dibahas dalam dua konteks: pertama, terkait dengan kelompok masyarakat adat dan otonomi mereka dari negara-negara pascakolonial, dan kedua, terkait dengan aliran data lintas negara.[8] Dengan meningkatnya penggunaan komputasi awan, banyak negara yang mengesahkan berbagai undang-undang mengenai kontrol dan penyimpanan data, yang semuanya mencerminkan langkah-langkah kedaulatan data.[9] Lebih dari 100 negara kini memiliki beberapa bentuk undang-undang kedaulatan data.[10] Dalam Konteks Identitas Otonom (SSI), pemegang identitas individu dapat sepenuhnya membuat dan mengontrol kredensial mereka, meskipun sebuah negara masih dapat mengeluarkan identitas digital dalam paradigma tersebut.[11]

Sejarah

Pengungkapan oleh Edward Snowden terkait program PRISM milik Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) menjadi pemicu utama diskusi global tentang kedaulatan data. Terungkap bahwa Amerika Serikat mengumpulkan data dalam jumlah besar, tidak hanya dari warga negara mereka, tetapi juga dari seluruh dunia.[12] Program ini dirancang untuk "menerima" berbagai jenis data seperti surel, video, foto, panggilan suara dan video, detail jejaring sosial, informasi log masuk, dan data lainnya yang disimpan oleh perusahaan-perusahaan internet Amerika Serikat, seperti Facebook, Apple, Google, dan Twitter.[13] Setelah pengungkapan ini, negara-negara menjadi semakin khawatir tentang siapa yang bisa mengakses informasi nasional mereka dan potensi dampaknya. Kekhawatiran ini semakin diperburuk oleh Undang-Undang Patriot AS, yang memberi akses kepada pejabat Amerika Serikat terhadap informasi yang berada secara fisik di negara mereka, terlepas dari asal-usul informasi tersebut.[14] Hal tersebut berarti bahwa data yang disimpan di server Amerika tidak dilindungi dari pemerintahan Amerika Serikat.[15]

Peristiwa lain yang membawa isu kedaulatan data ke perhatian publik adalah kasus antara Microsoft dan pemerintah Amerika Serikat. Pada tahun 2013, Departemen Kehakiman (DoJ) Amerika Serikat menuntut agar Microsoft memberikan akses kepada mereka untuk surel yang terkait dengan kasus narkotika dari akun Hotmail yang disimpan di Irlandia.[16][17] Microsoft menolak permintaan tersebut, dengan alasan bahwa transfer data tersebut akan melanggar peraturan lokalasi data dan undang-undang perlindungan di Uni Eropa.[18] Keputusan awal mendukung pemerintah Amerika Serikat, dengan Magistrate James Francis menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika harus menyerahkan informasi pribadi ketika diminta dengan surat perintah pencarian yang sah dari lembaga penegak hukum Amerika Serikat.[19] Microsoft mengajukan banding dan kembali ke pengadilan pada tahun 2016. John Frank, Wakil Presiden Urusan Pemerintahan Uni Eropa di Microsoft, menyatakan dalam sebuah publikasi pada blog di tahun 2016 bahwa pengadilan banding Amerika Serikat memutuskan mendukung Microsoft, menyatakan bahwa surat perintah pencarian Amerika Serikat tidak berlaku untuk data pelanggan mereka yang disimpan di luar negeri.[20] Pada 23 Oktober 2017, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan gugatan tersebut setelah adanya perubahan kebijakan dari Departemen Kehakiman (DoJ).[21]

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. Mesh Flinders. Apa itu kedaulatan data?. IBM. 3 Juni 2024.
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  5. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  6. Anupam Chander. Data Sovereignty: From the Digital Silk Road to the Return of the State. Oxford Academic. 14 Desember 2023. doi:10.1093/oso/9780197582794.003.0001.
  7. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  8. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  9. Kristina Irion. Government Cloud Computing and National Data Sovereignty. Policy & Internet. 2012-12-01. Vol. 4 (3–4). hlm. 40–71. doi:10.1002/poi3.10.
  10. Gilmore, David, DataFleets, "Google Scrapped Cloud Initiative in China, Other Markets", Bloomberg News. Bloomberg News. July 8, 2020.
  11. Kukutai, Tahu, and John Taylor. Indigenous Data Sovereignty: Toward an Agenda. ANU Press, 2016.
  12. Len Padilla. Four ways the NSA revelations are changing businesses. The Guardian. 2014-06-09.
  13. Leo Kelion. Q&A: NSA's Prism internet surveillance scheme. BBC News. 2013-06-25.
  14. Leo Kelion. Q&A: NSA's Prism internet surveillance scheme. BBC News. 2013-06-25.
  15. USA PATRIOT Act Comprehensive Assessment Results. Treasury Board of Canada Secretariat. 2006-03-28.
  16. Sam Thielman. Nationality in the cloud: US clashes with Microsoft over seizing data from abroad. The Guardian. 2015-09-02.
  17. Joseph Marks. Can the US demand emails stored in Ireland?. Politico. 2015-09-08.
  18. Samuel Gibbs. US court forces Microsoft to hand over personal data from Irish server. The Guardian. 2014-04-29.
  19. Samuel Gibbs. US court forces Microsoft to hand over personal data from Irish server. The Guardian. 2014-04-29.
  20. John Frank. Our search warrant case: Microsoft's commitment to protecting your privacy. EU Policy Blog. Microsoft. 2016-09-05.
  21. Microsoft drops lawsuit after U.S. government revises data request transparency rules. venturebeat.com. VentureBeat. 2017-10-24.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26764977 (2025-01-07T13:24:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.