Lompat ke isi

Virus dokumen: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28428675; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Pada umumya, virus dokumen adalah sebuah dokumen yang di sematkan perintah atau program berbahaya melalui teknik tertentu sehingga program dapat bersembunyi/menyamar dibalik ekstensi file. Teknik yang digunakan dapat melalui Metasploit Framework, Steganography, Cerber, SyncCrypt dan lain sebagainya. Dokumen yang berupa file seperti gambar, teks, video, audio, dan lain sebagainya dapat dimasukkan file atau kode tertentu yang dapat tereksekusi saat pengguna membuka dokumen tersebut, termasuk dalam hal ini merupakan file digital yang sering dibuka oleh pengguna berekstensi pdf, jpeg, png, mp4, melalui program tertentu. Oleh karena itu, dibutuhkan verifikasi untuk mengetahui keamanan akan suatu dokumen.
Pada umumya, virus dokumen adalah sebuah dokumen yang di sematkan perintah atau program berbahaya melalui teknik tertentu sehingga program dapat bersembunyi/menyamar dibalik ekstensi file. Teknik yang digunakan dapat melalui Metasploit Framework, Steganography, Cerber, SyncCrypt dan lain sebagainya.<ref>Lori Cameron. [https://www.computer.org/publications/tech-news/research/how-steganography-works With Cryptography Easier to Detect, Cybercriminals Now Hide Malware in Plain Sight. Call It Steganography. Here's How It Works]. ''THE IEEE COMPUTER SOCIETY''. 2019.</ref> Dokumen yang berupa file seperti gambar, teks, video, audio, dan lain sebagainya dapat dimasukkan file atau kode tertentu yang dapat tereksekusi saat pengguna membuka dokumen tersebut, termasuk dalam hal ini merupakan file digital yang sering dibuka oleh pengguna berekstensi pdf, jpeg, png, mp4, melalui program tertentu. Oleh karena itu, dibutuhkan verifikasi untuk mengetahui keamanan akan suatu dokumen.


Virus dokumen dapat bertindak sebagai malware, trojan, maupun spyware, sehingga program antivirus maupun [[Firewall (film)|firewall]] pada komputer dapat mengetahui hingga melewatkan ancaman yang ada. File berekstensi pdf sering digunakan oleh pengguna seperti membaca ebook, jurnal, dan artikel menjadi ekstensi yang sering diincar untuk menyematkan virus, mengingat isi pada pdf dapat berupa teks dan gambar. Pada tahun 2012 versi PDF 1.5 menyumbang kasus terparah infeksi malware di antara rentang tahun 2010-2015 melalui format file pdf. Hal ini dikarenakan dokumen tersebut dapat menyematkan kode ''javascript,'' serta dukungan fungsi pdf yang dapat mengeksekusi perintah yang rentan untuk memberikan ''feedback'' yang digunakan untuk mencuri, memata-matai, merusak, hingga mengenkripsi informasi dalam komputer. Pelaku menyematkan virus dalam konten berupa objek yang direpresentasikan sebagai ''stream'', dimana ''stream'' dapat mengeksekusi perintah ''encoding, decoding,'' hingga kompresi, dekompresi. Hal ini juga dapat terjadi pada ekstensi lainya yaitu pada file yang berformat gambar, maupun video.
Virus dokumen dapat bertindak sebagai malware, trojan, maupun spyware, sehingga program antivirus maupun [[Firewall (film)|firewall]] pada komputer dapat mengetahui hingga melewatkan ancaman yang ada. File berekstensi pdf sering digunakan oleh pengguna seperti membaca ebook, jurnal, dan artikel menjadi ekstensi yang sering diincar untuk menyematkan virus, mengingat isi pada pdf dapat berupa teks dan gambar. Pada tahun 2012 versi PDF 1.5 menyumbang kasus terparah infeksi malware di antara rentang tahun 2010-2015 melalui format file pdf.<ref>Mai Iwamoto. [https://ieeexplore.ieee.org/document/7791883 A Study of Malicious PDF Detection Technique]. ''2016 10th International Conference on Complex, Intelligent, and Software Intensive Systems (CISIS)''. 2016-07. hlm. 197–203. doi:10.1109/CISIS.2016.45.</ref> Hal ini dikarenakan dokumen tersebut dapat menyematkan kode ''javascript,'' serta dukungan fungsi pdf yang dapat mengeksekusi perintah yang rentan untuk memberikan ''feedback'' yang digunakan untuk mencuri, memata-matai, merusak, hingga mengenkripsi informasi dalam komputer.<ref>Mai Iwamoto. [https://ieeexplore.ieee.org/document/7791883 A Study of Malicious PDF Detection Technique]. ''2016 10th International Conference on Complex, Intelligent, and Software Intensive Systems (CISIS)''. 2016-07. hlm. 197–203. doi:10.1109/CISIS.2016.45.</ref> Pelaku menyematkan virus dalam konten berupa objek yang direpresentasikan sebagai ''stream'', dimana ''stream'' dapat mengeksekusi perintah ''encoding, decoding,'' hingga kompresi, dekompresi.<ref>Nicolas Fleury. [http://arxiv.org/abs/2107.12873 PDF-Malware: An Overview on Threats, Detection and Evasion Attacks]. ''arXiv:2107.12873 [cs]''. 2021-07-27.</ref> Hal ini juga dapat terjadi pada ekstensi lainya yaitu pada file yang berformat gambar, maupun video.


Hal ini memanfaatkan kerentanan suatu ''Software'' yang digunakan untuk membuka file dokumen melalui ''Arbitrary Code Execution'' di mana pelaku dapat memberikan berbagai perintah pada komputer yang telah disusupi virus dokumen tersebut. Versi 2021.001.20150 dan sebelumnya dari Adobe Reader dan [[Adobe Acrobat]] DC pada windows terdapat kerentanan bahwasanya peretas dapat meluncurkan berbagai perintah melalui ''Buffer Overflow, Heap-Based Buffer Overflow, Out-of-bounds Read,'' dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat menyebabkan sistem ''crash, lag,'' hingga meluncurkan kode yang dapat diakses jarak jauh untuk mengontrol akses secara penuh, hingga mencuri informasi yang terdapat pada sistem yang mengakibatkan inkonsistensi proses yang sedang berjalan sehingga memberikan hasil yang tidak seharusnya didapatkan. Tidak hanya dokumen berupa pdf, melalui ''Software'' VLC versi 3.0.12 dan sebelumnya, peretas juga dapat menyisipkan berbagai macam kode yang identik dengan kasus Adobe, di mana peretas dapat meremot dan mengeksekusi jarak jauh yang dimungkinkan melalui fitur ''updater.''
Hal ini memanfaatkan kerentanan suatu ''Software'' yang digunakan untuk membuka file dokumen melalui ''Arbitrary Code Execution'' di mana pelaku dapat memberikan berbagai perintah pada komputer yang telah disusupi virus dokumen tersebut. Versi 2021.001.20150 dan sebelumnya dari Adobe Reader dan [[Adobe Acrobat]] DC pada windows terdapat kerentanan bahwasanya peretas dapat meluncurkan berbagai perintah melalui ''Buffer Overflow, Heap-Based Buffer Overflow, Out-of-bounds Read,'' dan lain sebagainya.<ref>Adobe.com. (2021). ''Adobe Security Bulletin''. [online] Available at: https://helpx.adobe.com/security/products/acrobat/apsb21-29.html [Accessed 16 Nov. 2021].</ref> Hal tersebut dapat menyebabkan sistem ''crash, lag,'' hingga meluncurkan kode yang dapat diakses jarak jauh untuk mengontrol akses secara penuh,<ref>[https://owasp.org/www-community/vulnerabilities/Buffer_Overflow Buffer Overflow OWASP]. ''owasp.org''.</ref> hingga mencuri informasi yang terdapat pada sistem yang mengakibatkan inkonsistensi proses yang sedang berjalan sehingga memberikan hasil yang tidak seharusnya didapatkan.<ref>[https://cwe.mitre.org/data/definitions/125.html CWE - CWE-125: Out-of-bounds Read (4.6)]. ''cwe.mitre.org''.</ref> Tidak hanya dokumen berupa pdf, melalui ''Software'' VLC versi 3.0.12 dan sebelumnya, peretas juga dapat menyisipkan berbagai macam kode yang identik dengan kasus Adobe, di mana peretas dapat meremot dan mengeksekusi jarak jauh yang dimungkinkan melalui fitur ''updater.''


''Software'' yang berjalan secara normal dan proses latar belakang yang terinfeksi tidak terdeteksi oleh ''antivirus'' merupakan celah yang dapat digunakan oleh peretas untuk menyusupi dan menjelajahi file sistem serta berpotensi mengenkripsi file, hingga mengacak-acak isi file tergantung dari tujuan utama peretas. Secara umum, pengguna yang tidak menyadari kerentanan dan tetap menggunakan ''Software'' secara rutin dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan file yang terinfeksi oleh kode berbahaya akan dijalankan dilatar belakang. Sebaliknya, jika user pengguna tidak membuka file menggunakan ''Software'' yang rentan, maka tidak akan terjadi peretasan. Namun, responsivitas peretas saat file dieksekusi menjadikan satu hal ini terlambat jika pengguna tidak menyadari hal ini walaupun hanya dibuka satu kali. Tindak pencegahan paling dasar yang dapat dilakukan adalah selalu memuktahirkan ''antivirus'' dan [[sistem operasi]] pada komputer secara berkala
''Software'' yang berjalan secara normal dan proses latar belakang yang terinfeksi tidak terdeteksi oleh ''antivirus'' merupakan celah yang dapat digunakan oleh peretas untuk menyusupi dan menjelajahi file sistem serta berpotensi mengenkripsi file, hingga mengacak-acak isi file tergantung dari tujuan utama peretas. Secara umum, pengguna yang tidak menyadari kerentanan dan tetap menggunakan ''Software'' secara rutin dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan file yang terinfeksi oleh kode berbahaya akan dijalankan dilatar belakang. Sebaliknya, jika user pengguna tidak membuka file menggunakan ''Software'' yang rentan, maka tidak akan terjadi peretasan. Namun, responsivitas peretas saat file dieksekusi menjadikan satu hal ini terlambat jika pengguna tidak menyadari hal ini walaupun hanya dibuka satu kali. Tindak pencegahan paling dasar yang dapat dilakukan adalah selalu memuktahirkan ''antivirus'' dan [[sistem operasi]] pada komputer secara berkala  


== Daftar Pustaka ==
== Daftar Pustaka ==


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Virus+dokumen&oldid=28428675 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28428675 (2025-11-12T11:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Virus+dokumen&oldid=28428675 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28428675 (2025-11-12T11:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 14.09

Pada umumya, virus dokumen adalah sebuah dokumen yang di sematkan perintah atau program berbahaya melalui teknik tertentu sehingga program dapat bersembunyi/menyamar dibalik ekstensi file. Teknik yang digunakan dapat melalui Metasploit Framework, Steganography, Cerber, SyncCrypt dan lain sebagainya.[1] Dokumen yang berupa file seperti gambar, teks, video, audio, dan lain sebagainya dapat dimasukkan file atau kode tertentu yang dapat tereksekusi saat pengguna membuka dokumen tersebut, termasuk dalam hal ini merupakan file digital yang sering dibuka oleh pengguna berekstensi pdf, jpeg, png, mp4, melalui program tertentu. Oleh karena itu, dibutuhkan verifikasi untuk mengetahui keamanan akan suatu dokumen.

Virus dokumen dapat bertindak sebagai malware, trojan, maupun spyware, sehingga program antivirus maupun firewall pada komputer dapat mengetahui hingga melewatkan ancaman yang ada. File berekstensi pdf sering digunakan oleh pengguna seperti membaca ebook, jurnal, dan artikel menjadi ekstensi yang sering diincar untuk menyematkan virus, mengingat isi pada pdf dapat berupa teks dan gambar. Pada tahun 2012 versi PDF 1.5 menyumbang kasus terparah infeksi malware di antara rentang tahun 2010-2015 melalui format file pdf.[2] Hal ini dikarenakan dokumen tersebut dapat menyematkan kode javascript, serta dukungan fungsi pdf yang dapat mengeksekusi perintah yang rentan untuk memberikan feedback yang digunakan untuk mencuri, memata-matai, merusak, hingga mengenkripsi informasi dalam komputer.[3] Pelaku menyematkan virus dalam konten berupa objek yang direpresentasikan sebagai stream, dimana stream dapat mengeksekusi perintah encoding, decoding, hingga kompresi, dekompresi.[4] Hal ini juga dapat terjadi pada ekstensi lainya yaitu pada file yang berformat gambar, maupun video.

Hal ini memanfaatkan kerentanan suatu Software yang digunakan untuk membuka file dokumen melalui Arbitrary Code Execution di mana pelaku dapat memberikan berbagai perintah pada komputer yang telah disusupi virus dokumen tersebut. Versi 2021.001.20150 dan sebelumnya dari Adobe Reader dan Adobe Acrobat DC pada windows terdapat kerentanan bahwasanya peretas dapat meluncurkan berbagai perintah melalui Buffer Overflow, Heap-Based Buffer Overflow, Out-of-bounds Read, dan lain sebagainya.[5] Hal tersebut dapat menyebabkan sistem crash, lag, hingga meluncurkan kode yang dapat diakses jarak jauh untuk mengontrol akses secara penuh,[6] hingga mencuri informasi yang terdapat pada sistem yang mengakibatkan inkonsistensi proses yang sedang berjalan sehingga memberikan hasil yang tidak seharusnya didapatkan.[7] Tidak hanya dokumen berupa pdf, melalui Software VLC versi 3.0.12 dan sebelumnya, peretas juga dapat menyisipkan berbagai macam kode yang identik dengan kasus Adobe, di mana peretas dapat meremot dan mengeksekusi jarak jauh yang dimungkinkan melalui fitur updater.

Software yang berjalan secara normal dan proses latar belakang yang terinfeksi tidak terdeteksi oleh antivirus merupakan celah yang dapat digunakan oleh peretas untuk menyusupi dan menjelajahi file sistem serta berpotensi mengenkripsi file, hingga mengacak-acak isi file tergantung dari tujuan utama peretas. Secara umum, pengguna yang tidak menyadari kerentanan dan tetap menggunakan Software secara rutin dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan file yang terinfeksi oleh kode berbahaya akan dijalankan dilatar belakang. Sebaliknya, jika user pengguna tidak membuka file menggunakan Software yang rentan, maka tidak akan terjadi peretasan. Namun, responsivitas peretas saat file dieksekusi menjadikan satu hal ini terlambat jika pengguna tidak menyadari hal ini walaupun hanya dibuka satu kali. Tindak pencegahan paling dasar yang dapat dilakukan adalah selalu memuktahirkan antivirus dan sistem operasi pada komputer secara berkala

Daftar Pustaka

Referensi

  1. Lori Cameron. With Cryptography Easier to Detect, Cybercriminals Now Hide Malware in Plain Sight. Call It Steganography. Here's How It Works. THE IEEE COMPUTER SOCIETY. 2019.
  2. Mai Iwamoto. A Study of Malicious PDF Detection Technique. 2016 10th International Conference on Complex, Intelligent, and Software Intensive Systems (CISIS). 2016-07. hlm. 197–203. doi:10.1109/CISIS.2016.45.
  3. Mai Iwamoto. A Study of Malicious PDF Detection Technique. 2016 10th International Conference on Complex, Intelligent, and Software Intensive Systems (CISIS). 2016-07. hlm. 197–203. doi:10.1109/CISIS.2016.45.
  4. Nicolas Fleury. PDF-Malware: An Overview on Threats, Detection and Evasion Attacks. arXiv:2107.12873 [cs]. 2021-07-27.
  5. Adobe.com. (2021). Adobe Security Bulletin. [online] Available at: https://helpx.adobe.com/security/products/acrobat/apsb21-29.html [Accessed 16 Nov. 2021].
  6. Buffer Overflow OWASP. owasp.org.
  7. CWE - CWE-125: Out-of-bounds Read (4.6). cwe.mitre.org.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28428675 (2025-11-12T11:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.