Lompat ke isi

Generalisasi: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28650542; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Generalisasi''' atau '''perampatan''' adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya. Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif.
[[File:Generalization_process_using_trees.svg|thumb|right|280px|Generalization process using trees]]
 
'''Generalisasi''' atau '''perampatan'''<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Generalisasi&oldid=28650542 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya.<ref>[https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/generalisasi Generalisasi]. ''KBBI Daring''.</ref> Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif.<ref>Sendi Ramdhani. [http://dx.doi.org/10.15575/ja.v4i2.3926 KEMAMPUAN GENERALISASI MAHASISWA PADA PERKULIAHAN KAPITA SELEKTA MATEMATIKA SMA]. ''Jurnal Analisa''. 2018-12-30. Vol. 4 (2). hlm. 83–89. doi:10.15575/ja.v4i2.3926.</ref>


Contoh:
Contoh:
Baris 10: Baris 12:


== Pengertian ==
== Pengertian ==
Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif. Terdapat prinsip tersirat dalam penalaran induktif, yaitu asumsi tentang jalannya alam dan keteraturan [[alam semesta]]; apa yang terjadi sekali, akan terjadi lagi dalam kesamaan keadaan yang cukup, sesering keadaan yang sama berulang. Asumsi ini berlaku untuk setiap penalaran induktif. Dasar pola berpikir adalah observasi, pengetahuan yang didapat dari observasi ini yang kemudian menjadi pengetahuan-pengetahuan khusus. observasi mendahului adanya induksi.
Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif. Terdapat prinsip tersirat dalam penalaran induktif, yaitu asumsi tentang jalannya alam dan keteraturan [[alam semesta]]; apa yang terjadi sekali, akan terjadi lagi dalam kesamaan keadaan yang cukup, sesering keadaan yang sama berulang. Asumsi ini berlaku untuk setiap penalaran induktif.<ref>John Stuart Mill. [https://www.gutenberg.org/files/26495/26495-pdf.pdf A System of Logic, Ratiocinative and Inductive: Being a Connected View of the Principles of Evidence and the Methods of Scientific Investigation]. Project Gutenberg Ebook. 31 Agustus 2008. hlm. 317. ISBN 978-3-337-91102-7.</ref> Dasar pola berpikir adalah observasi, pengetahuan yang didapat dari observasi ini yang kemudian menjadi pengetahuan-pengetahuan khusus. observasi mendahului adanya induksi.<ref>Bagong Suyanto. [https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=skjMDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR1&dq=generalisasi+induktif&ots=2fmINI8vid&sig=0Q9yNen3I_bdSxAhtWvhNCzBsOU&redir_esc=y#v=onepage&q=generalisasi%20induktif&f=false Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan]. Prenada Media. 2015-01-01. hlm. 6. ISBN 978-623-218-182-3.</ref>


Generalisasi merupakan pernyataan yang mengandung karakter untuk seluruh atau kebanyakan objek yang diselidiki. Generalisasi termasuk penalaran induktif yang memiliki kebenaran probabilitas berdasarkan informasi dari beberapa objek. Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. Maka dari itu, hukum dari fenomena yang diselidiki berlaku juga untuk fenomena sejenis yang belum diselidiki. Hukum yang dihasilkan dari penalaran secara generalisasi maupun seluruh [[penalaran induktif]] tidak pernah mencapai kebenaran pasti, tetapi hanya sebatas kebenaran kemungkinan besar (probabilitas). Berbeda dengan penalaran deduktif yang kesimpulannya tersirat di premis-premis yang valid dan akan menghasilkan proposisi universal dengan kesimpulan yang pasti. Generalisasi juga diartikan sebagai suatu cara untuk memperluas cakupan referensi dan penerapan suatu hasil sehingga menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dengan menghilangkan batasan tertentu. Generalisasi berarti memahami di bawah nama umum beberapa objek yang memiliki beberapa kesamaan dari masing-masing objek dan nama umum tersebut berfungsi untuk menjadi indikasi.
Generalisasi merupakan pernyataan yang mengandung karakter untuk seluruh atau kebanyakan objek yang diselidiki. Generalisasi termasuk penalaran induktif yang memiliki kebenaran probabilitas berdasarkan informasi dari beberapa objek.<ref>Gregory Bassham. [https://dimparato.files.wordpress.com/2016/08/critical-thinking.pdf Critical Thinking: A Student's Introduction]. McGraw-Hill. 2010. hlm. 68. ISBN 978-0-07-340743-2.</ref> Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. Maka dari itu, hukum dari fenomena yang diselidiki berlaku juga untuk fenomena sejenis yang belum diselidiki. Hukum yang dihasilkan dari penalaran secara generalisasi maupun seluruh [[penalaran induktif]] tidak pernah mencapai kebenaran pasti, tetapi hanya sebatas kebenaran kemungkinan besar (probabilitas). Berbeda dengan penalaran deduktif yang kesimpulannya tersirat di premis-premis yang valid dan akan menghasilkan proposisi universal dengan kesimpulan yang pasti.<ref>Ita Khairani. [https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/bahas/article/view/2393 PENGARUH KEMAMPUAN PENALARAN VERBAL TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS WACANA NARASI SISWA KELAS VIII SMP SWASTA PAB 5 KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008]. ''BAHAS (e-Journal)''. 2013-06-01. doi:10.24114/bhs.v0i86.</ref> Generalisasi juga diartikan sebagai suatu cara untuk memperluas cakupan referensi dan penerapan suatu hasil sehingga menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dengan menghilangkan batasan tertentu.<ref>John Mason. [https://www.researchgate.net/publication/279402143_Expressing_Generality_and_Roots_of_Algebra Expressing Generality and Roots of Algebra]. Springer Netherlands. 1996. hlm. 65–86. ISBN 978-0-7923-4168-0.</ref> Generalisasi berarti memahami di bawah nama umum beberapa objek yang memiliki beberapa kesamaan dari masing-masing objek dan nama umum tersebut berfungsi untuk menjadi indikasi.<ref>Richard Whately. [http://archive.org/details/a613803100whatuoft Elements of Logic: Comprising the Substance of the Article in the Encyclopaedia Metropolitana with Additions]. B. Fellowes. 1836. hlm. 434.</ref>


Esensi dari arti generalisasi terdapat pada kata general itu sendiri yang diartikan sebagai identik atau serupa pada suatu kelompok objek. Proses generalisasi adalah menemukan sifat "general" yang terdapat pada objek dan membentuk kelas yang dibawanya. Pada generalisasi yang terjadi yaitu berdasarkan sifat atau ciri sama yang terdapat pada beberapa fenomena tertentu maka disimpulkan bahwa semua fenomena tertentu itu memiliki sifat atau ciri yang sama itu. Generalisasi yang sering terjadi yaitu induksi enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan generalisasi berupa proposisi universal. Untuk membuat generalisasi, logika [[Aristoteles]] menekankan pada prinsip relasi formal antar proposisi. Generalisasi dari sejumlah sampel yang diperiksa dan dianggap mewakili kelas yang diberikan biasanya dikenal dengan nama induksi enumerasi sederhana, hal ini adalah dasar dari generalisasi. Setiap orang membuat kesimpulan dengan enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan tidak valid secara logis karena dalam menyimpulkan dari premis "Beberapa S" ke kesimpulan "Seluruh S" ada distribusi S yang tidak sah. Misalnya, fakta bahwa gagak yang diamati semuanya berwarna hitam, maka disimpulkan bahwa semua gagak berwarna hitam.
Esensi dari arti generalisasi terdapat pada kata general itu sendiri yang diartikan sebagai identik atau serupa pada suatu kelompok objek. Proses generalisasi adalah menemukan sifat "general" yang terdapat pada objek dan membentuk kelas yang dibawanya.<ref>V. V. Davydov. [https://www.marxists.org/archive/davydov/generalization/generalization.pdf Soviet Studies in Mathematics Education Volume 2]. National Council of Teachers of Mathematics. 1990. hlm. 26.</ref> Pada generalisasi yang terjadi yaitu berdasarkan sifat atau ciri sama yang terdapat pada beberapa fenomena tertentu maka disimpulkan bahwa semua fenomena tertentu itu memiliki sifat atau ciri yang sama itu. Generalisasi yang sering terjadi yaitu induksi enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan generalisasi berupa proposisi universal.<ref>Urbanus Ura Weruin. [http://dx.doi.org/10.31078/jk1427 Logika, Penalaran, dan Argumentasi Hukum]. ''Jurnal Konstitusi''. 2017-11-02. Vol. 14 (2). hlm. 374. doi:10.31078/jk1427.</ref> Untuk membuat generalisasi, logika [[Aristoteles]] menekankan pada prinsip relasi formal antar proposisi.<ref>Trihono Kadri. [https://books.google.com/books?id=_-tmDwAAQBAJ&newbks=0&hl=en Rancangan Penelitian]. Deepublish. 2018. hlm. 23. ISBN 978-602-475-438-9.</ref> Generalisasi dari sejumlah sampel yang diperiksa dan dianggap mewakili kelas yang diberikan biasanya dikenal dengan nama induksi enumerasi sederhana, hal ini adalah dasar dari generalisasi. Setiap orang membuat kesimpulan dengan enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan tidak valid secara logis karena dalam menyimpulkan dari premis "Beberapa S" ke kesimpulan "Seluruh S" ada distribusi S yang tidak sah. Misalnya, fakta bahwa gagak yang diamati semuanya berwarna hitam, maka disimpulkan bahwa semua gagak berwarna hitam.<ref>L. S. Stebbing. [http://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.190795 A Modern Introduction to Logic]. Methuen & Co. 1942. hlm. 245.</ref>


Generalisasi harus memenuhi tiga syarat: pertama, generalisasi tidak boleh terbatas secara numerik, artinya proposisi harus benar secara universal dan berlaku untuk setiap subjek yang memenuhi; kedua, generalisasi tidak boleh terbatas secara spasio-temporal, artinya tidak boleh terbatas ruang dan waktu dan berlaku kapan dan dimana saja; ketiga, generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Selain itu, generalisasi memiliki empat tahap: persepsi generalisasi (''perception of generality),'' ekspresi generalisasi ''(expression of generality),'' ekspresi simbolis generalisasi ''(symbolic expression of generality),'' dan manipulasi generalisasi (''manipulation of generality)''.
Generalisasi harus memenuhi tiga syarat: pertama, generalisasi tidak boleh terbatas secara numerik, artinya proposisi harus benar secara universal dan berlaku untuk setiap subjek yang memenuhi; kedua, generalisasi tidak boleh terbatas secara spasio-temporal, artinya tidak boleh terbatas ruang dan waktu dan berlaku kapan dan dimana saja; ketiga, generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.<ref>Leroy Holman Siahaan. [https://ejournal.upi.edu/index.php/SosioReligi/article/view/5614 Hubungan Antara Kemampuan Berpikir Logis dan Pengetahuan Tentang Paragraf dengan Keterampilan Menulis Esai Bahasa Inggris]. ''Jurnal Sosioreligi''. Vol. 14 (2). hlm. 87-94.</ref> Selain itu, generalisasi memiliki empat tahap: persepsi generalisasi (''perception of generality),'' ekspresi generalisasi ''(expression of generality),'' ekspresi simbolis generalisasi ''(symbolic expression of generality),'' dan manipulasi generalisasi (''manipulation of generality)''.<ref>Tiara Putri. [http://dx.doi.org/10.2991/assehr.k.201230.179 Generalization in Exponential Problems as a Part of Developing Mathematical Abstraction]. ''Proceedings of the 4th Sriwijaya University Learning and Education International Conference (SULE-IC 2020)''. Atlantis Press. 2020. doi:10.2991/assehr.k.201230.179.</ref>


== Macam-macam generalisasi ==
== Macam-macam generalisasi ==
=== Generalisasi sempurna ===
=== Generalisasi sempurna ===
Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi sempurna dikenal juga dengan istilah induksi lengkap, diawali dengan hal partikular yang mencakup keseluruhan jumlah dari fenomena yang diselidiki. Generalisasi macam ini memiliki kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat diperdebatkan serta diragukan. Namun, tidak efektif dan efisien. Arti penalaran pada generalisasi ini sangat lemah, sebab pernyataan hanya mengenai apa yang diketahuinya dan tidak mengembangkan pengetahuannya, tetapi hanya sebatas menyimpulkan.
Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi sempurna dikenal juga dengan istilah induksi lengkap, diawali dengan hal partikular yang mencakup keseluruhan jumlah dari fenomena yang diselidiki. Generalisasi macam ini memiliki kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat diperdebatkan serta diragukan. Namun, tidak efektif dan efisien.<ref>Suladi Suladi. [https://bbsulut.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2019/08/Buku-Penyuluhan-Paragraf.pdf Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf]. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. hlm. 97.</ref> Arti penalaran pada generalisasi ini sangat lemah, sebab pernyataan hanya mengenai apa yang diketahuinya dan tidak mengembangkan pengetahuannya, tetapi hanya sebatas menyimpulkan.<ref>Abdul Munim. [http://islamica.uinsby.ac.id/index.php/islamica/article/view/56 Dialektika Induksi dan Deduksi dalam Pemikiran Hukum Islam]. ''Islamica: Jurnal Studi Keislaman''. 2009-09-02. Vol. 4 (1). hlm. 1–16. doi:10.15642/islamica.2009.4.1.1-16.</ref>


Contoh: Sensus penduduk.
Contoh: Sensus penduduk.


=== Generalisasi tidak sempurna ===
=== Generalisasi tidak sempurna ===
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi di mana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi tidak sempurna disebut juga dengan induksi tidak lengkap yang dilakukan dengan memperhatikan hanya sebagian hal partikular. Generalisasi macam ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi jauh lebih efektif dan efisien. Dalam penelitian ilmiah sering kali tidak dimungkinkan untuk menggunakan generalisasi sempurna dan lebih mungkin serta lebih lazim untuk menggunakan generalisasi tidak sempurna.
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi di mana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi tidak sempurna disebut juga dengan induksi tidak lengkap yang dilakukan dengan memperhatikan hanya sebagian hal partikular.<ref>Imron Mustofa. [http://ejournal.kopertais4.or.id/susi/index.php/elbanat/article/view/2875 Jendela Logika dalam Berfikir; Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah]. ''EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam''. 2016-12-29. Vol. 6 (2). hlm. 1–21. doi:10.54180/elbanat.2016.6.2.1-21.</ref> Generalisasi macam ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi jauh lebih efektif dan efisien. Dalam penelitian ilmiah sering kali tidak dimungkinkan untuk menggunakan generalisasi sempurna dan lebih mungkin serta lebih lazim untuk menggunakan generalisasi tidak sempurna.<ref>ST. Nur Fadilla. [https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/11048-Full_Text.pdf Kemampuan Inferensi dalam Pmebelajaran Fisika Bagi Peserta Didik SMA Negeri 22 Makassar]. ''Skripsi''. Universitas Muhammadiyah Makassar. 2020.</ref>


Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana satin. Sebagian bangsa Indonesia suka bergotong-royong, maka disimpulkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana satin. Sebagian bangsa Indonesia suka bergotong-royong, maka disimpulkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.


==== Generalisasi Empirik ====
==== Generalisasi Empirik ====
Generalisasi empirik merupakan generalisasi yang tidak disertai dengan penjelasan mengapa fenomena berlaku dan hanya mendasarkan penyimpulannya pada fenomena tertentu. Prinsip dari penalaran generalisasi ini dapat dirumuskan dengan: apa yang terjadi berulang dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi. Misalnya, dua kali dirasakan apel yang masam dalam kondisi keras dan hijau. Maka ketika melihat apel ketiga dengan kondisi keras dan hijau, dapat disimpullkan apel itu masam. Generalisasi yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari yaitu generalisasi empirik. Generalisasi empirik terjadi ketika memperhatikan beberapa objek dan menyimpulkan persamaan yang ada pada objek tersebut. Ketika telah ditarik kesamaan yang ada maka akan menghasilkan sifat umum yang perlu didukung oleh referensi lain agar menjadi generalisasi yang memiliki kebenaran yang kuat.
Generalisasi empirik merupakan generalisasi yang tidak disertai dengan penjelasan mengapa fenomena berlaku dan hanya mendasarkan penyimpulannya pada fenomena tertentu. Prinsip dari penalaran generalisasi ini dapat dirumuskan dengan: apa yang terjadi berulang dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi.<ref>Lerbin R. Aritonang. [http://repository.untar.ac.id/242/1/2382-5163-1-SM.pdf Ilmu dan Moralitas]. ''Akademika''. Desember 2006. Vol. 8 (2). hlm. 80-108.</ref> Misalnya, dua kali dirasakan apel yang masam dalam kondisi keras dan hijau. Maka ketika melihat apel ketiga dengan kondisi keras dan hijau, dapat disimpullkan apel itu masam. Generalisasi yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari yaitu generalisasi empirik. Generalisasi empirik terjadi ketika memperhatikan beberapa objek dan menyimpulkan persamaan yang ada pada objek tersebut. Ketika telah ditarik kesamaan yang ada maka akan menghasilkan sifat umum yang perlu didukung oleh referensi lain agar menjadi generalisasi yang memiliki kebenaran yang kuat.<ref>John Mason. [http://mehrmohammadi.ir/wp-content/uploads/2019/11/Thinking-Mathematically.pdf Thinking mathematically]. Pearson. 2010. hlm. 232. ISBN 978-0-273-72891-7.</ref>


==== Generalisasi dengan Penjelasan ====
==== Generalisasi dengan Penjelasan ====
Apabila generalisasi yang ada disertai dengan penjelasan maka disebut dengan generalisasi dengan penjelasan ''(explained generalization)'', kebenaran yang dihasilkan dari generalisasi ini lebih kuat dan memiliki kebenaran yang hampir setingkat dengan generalisasi sempurna. Hukum alam pada awalnya dirumuskan melalui generalisasi empirik, setelah diketahui hubungan kausalnya, maka lahir generalisasi dengan penjelasan yang menjadi dasar penjelasan ilmiah. Misal, manusia telah lama mengetahui benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah, tetapi hal tersebut baru dapat diterangkan setelah ditemukannya hukum gravitasi oleh [[Isaac Newton]].
Apabila generalisasi yang ada disertai dengan penjelasan maka disebut dengan generalisasi dengan penjelasan ''(explained generalization)'', kebenaran yang dihasilkan dari generalisasi ini lebih kuat dan memiliki kebenaran yang hampir setingkat dengan generalisasi sempurna. Hukum alam pada awalnya dirumuskan melalui generalisasi empirik, setelah diketahui hubungan kausalnya, maka lahir generalisasi dengan penjelasan yang menjadi dasar penjelasan ilmiah. Misal, manusia telah lama mengetahui benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah, tetapi hal tersebut baru dapat diterangkan setelah ditemukannya hukum gravitasi oleh [[Isaac Newton]].<ref>Muhammad Judrah. [http://journal.iaimsinjai.ac.id/index.php/al-qalam/article/view/186 GENERALISASI EMPIRIK; PROPOSISI, POSTULAT, AKSIOMA DAN TEORI]. ''Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan''. 2015. Vol. 7 (1). hlm. 117–122. doi:10.47435/al-qalam.v7i1.186.</ref>


==== Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna ====
==== Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna ====
Meskipun generalisasi tidak sempurna hanya merupakan kesimpulan yang ditarik dari beberapa fenomena, namun generalisasi tidak sempurna dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
Meskipun generalisasi tidak sempurna hanya merupakan kesimpulan yang ditarik dari beberapa fenomena, namun generalisasi tidak sempurna dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:<ref>Mundiri. ''Logika''. Rajawali Pers. 2017. hlm. 146. ISBN 978-979-769-938-3.</ref>
# Jumlah sampel yang diteliti terwakili. Tidak ada ukuran pasti berapa jumlah sampel yang diperlukan untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang terpercaya. Semakin banyak jumlah sampel yang digunakan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
# Jumlah sampel yang diteliti terwakili. Tidak ada ukuran pasti berapa jumlah sampel yang diperlukan untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang terpercaya. Semakin banyak jumlah sampel yang digunakan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
# Sampel harus bervariasi. Semakin banyak variasi sampel, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
# Sampel harus bervariasi. Semakin banyak variasi sampel, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
# Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/tidak umum. Hal yang menyimpang harus diperhatikan juga, tertutama jika penyimpangan terjadi cukup besar bahkan mungkin untuk tidak diadakannya generalisasi. Semakin cermat faktor penyimpang dipertimbangkan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
# Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/tidak umum. Hal yang menyimpang harus diperhatikan juga, tertutama jika penyimpangan terjadi cukup besar bahkan mungkin untuk tidak diadakannya generalisasi. Semakin cermat faktor penyimpang dipertimbangkan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
#Kesimpulan konsisten dengan sampel. Kesimpulan yang dihasilkan harus merupakan [[konsekuensi logis]] dari sampel yang dikumpulkan dan tidak boleh membeikan penafsiran menyimpang dai data yang ada.
#Kesimpulan konsisten dengan sampel. Kesimpulan yang dihasilkan harus merupakan [[konsekuensi logis]] dari sampel yang dikumpulkan dan tidak boleh membeikan penafsiran menyimpang dai data yang ada.
Beberapa faktor probabilitas yang dinyatakan oleh Soekandijo tentang generalisasi, yaitu: semakin besar fakta yang dijadikan dasar penalaran, semakin tinggi probabilitas konklusinya; semakin besar faktor kesamaan pada premis, semakin rendah probabilitas konklusinya; semakin besar jumlah faktor disanaloginya, semakin tinggi probabilitas konklusinya; dan semakin luas konklusinya maka semakin rendah probabilitasnya.
Beberapa faktor probabilitas yang dinyatakan oleh Soekandijo tentang generalisasi, yaitu: semakin besar fakta yang dijadikan dasar penalaran, semakin tinggi probabilitas konklusinya; semakin besar faktor kesamaan pada premis, semakin rendah probabilitas konklusinya; semakin besar jumlah faktor disanaloginya, semakin tinggi probabilitas konklusinya; dan semakin luas konklusinya maka semakin rendah probabilitasnya.<ref>Gelar Dwirahayu. [http://dx.doi.org/10.30870/jppm.v11i2.3757 PENGARUH HABITS OF MIND TERHADAP KEMAMPUAN GENERALISASI MATEMATIS]. ''Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika''. 2018-08-28. Vol. 11 (2). doi:10.30870/jppm.v11i2.3757.</ref>


== Generalisasi yang Salah ==
== Generalisasi yang Salah ==
Tingkat kepercayaan atau kebenaran generalisasi tergantung dengan terpenuhi atau tidaknya jawaban atas pengujian yang dilakukan sebelumnya. Terdapat kecenderungan umum untuk membuat generalisasi berdasarkan sampel yang sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk menjadi generalisasi. Hal ini disebut dengan generalisasi tergesa-gesa. Kekeliruan ini menggunakan sampel yang tidak mencukupi yang biasanya dapat diterima tetapi tidak cukup untuk menetapkan kesimpulan argumen. Sebab, buan hal yang lazim untuk menarik kesimpulan berdasarkan satu bukti pendukung atau dapat disebut sebagai kekeliruan dari fakta yang sepi ''(fallacy of lonely fact).'' Generalisasi yang tergesa-gesa ''(hasty generalization)'' digunakan untuk menyatakan stereotip yang salah dengan menganggap beberapa objek tertentu lebih mirip daripada kejadian yang sebenarnya. Misalnya, orang yang berpikir dengan kekeliruan generalisasi tergesa-gesa menganggap orang-orang [[Italia]] hanya memakan spageti, seluruh orang New York adalah orang yang tidak acuh, atau semua orang yang membaca [[Karl Marx]] ingin menggulingkan rezim pemerintahan. Generalisasi tergesa-gesa merupakan penarikan kesimpulan tentang seluruh objek dari suatu fenomena dengan pengetahuan terbatas hanya dari satu atau sedikit objek dari fenomena tersebut.
Tingkat kepercayaan atau kebenaran generalisasi tergantung dengan terpenuhi atau tidaknya jawaban atas pengujian yang dilakukan sebelumnya. Terdapat kecenderungan umum untuk membuat generalisasi berdasarkan sampel yang sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk menjadi generalisasi. Hal ini disebut dengan generalisasi tergesa-gesa.<ref>Muhammad Judrah. [http://journal.iaimsinjai.ac.id/index.php/al-qalam/article/view/186 GENERALISASI EMPIRIK; PROPOSISI, POSTULAT, AKSIOMA DAN TEORI]. ''Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan''. 2015. Vol. 7 (1). hlm. 117–122. doi:10.47435/al-qalam.v7i1.186.</ref> Kekeliruan ini menggunakan sampel yang tidak mencukupi yang biasanya dapat diterima tetapi tidak cukup untuk menetapkan kesimpulan argumen. Sebab, buan hal yang lazim untuk menarik kesimpulan berdasarkan satu bukti pendukung atau dapat disebut sebagai kekeliruan dari fakta yang sepi ''(fallacy of lonely fact).''<ref>T. Edward Damer. [https://pdfroom.com/books/attacking-faulty-reasoning-a-practical-guide-to-fallacy-free-arguments/Oor5WnrN2qD Attacking faulty reasoning : a practical guide to fallacy-free arguments]. Wadsworth/Cengage Laerning. 2009. hlm. 161. ISBN 978-0-495-09506-4.</ref> Generalisasi yang tergesa-gesa ''(hasty generalization)'' digunakan untuk menyatakan stereotip yang salah dengan menganggap beberapa objek tertentu lebih mirip daripada kejadian yang sebenarnya. Misalnya, orang yang berpikir dengan kekeliruan generalisasi tergesa-gesa menganggap orang-orang [[Italia]] hanya memakan spageti, seluruh orang New York adalah orang yang tidak acuh, atau semua orang yang membaca [[Karl Marx]] ingin menggulingkan rezim pemerintahan.<ref>Harry Gensler. [http://213.230.96.51:8090/files/ebooks/Matematika/Gensler%20H.%20Introduction%20to%20logic%20(2ed.,%20Routledge,%202010)(ISBN%200415996511)(O)(431s)%20MAml%20.pdf Introduction to Logic]. Taylor & Francis. 2010. hlm. 64. ISBN 978-0-203-85500-3.</ref> Generalisasi tergesa-gesa merupakan penarikan kesimpulan tentang seluruh objek dari suatu fenomena dengan pengetahuan terbatas hanya dari satu atau sedikit objek dari fenomena tersebut.  


Kekeliruan yang selanjutnya disebut dengan kekeliruan kebetulan ''(fallacy of accident),'' kesalahan ketika generalisasi secara keliru diterapkan pada kasus tertentu di mana generalisasi tidak berlaku. Kekeliruan ini disebut juga dengan ''secundum quid'', kekeliruan dengan mengabaikan kualifikasi dengan gagasan keliru bahwa apa yang benar dengan kualifikasi tertentu juga benar tanpa kualifikasi tersebut. Terdiri dari penggunaan prinsip tanpa memperhatikan keadaan yang mengubah penerapannya. Generalisasi mungkin saja tidak berlaku untuk beberapa kejadian tertentu yang disebabkan oleh keadaan khusus atau keadaan aksiden. Jika keadaan khusus ini diabaikan dan diasumsikan generalisasi berlaku secara universal, maka terjadi kekeliruan kecelakaan. Misalnya, apakah hutang harus dibayar? Secara general, iya, tetapi terdapat situasi luar biasa di mana kewajiban tersebut berakhir. Hukum mengatakan tidak boleh berkendara lebih dari 60 km/jam, sehingga meskipun ayah anda tidak bisa bernafas, tidak boleh berkendara diatas 60 km/jam. Karena menunggang kuda adalah olahraga yang menyehatkan, Harry Brown harus melakukan lebih sering karena baik untuk kesehatan jantungnya.
Kekeliruan yang selanjutnya disebut dengan kekeliruan kebetulan ''(fallacy of accident),'' kesalahan ketika generalisasi secara keliru diterapkan pada kasus tertentu di mana generalisasi tidak berlaku. Kekeliruan ini disebut juga dengan ''secundum quid'', kekeliruan dengan mengabaikan kualifikasi dengan gagasan keliru bahwa apa yang benar dengan kualifikasi tertentu juga benar tanpa kualifikasi tersebut. Terdiri dari penggunaan prinsip tanpa memperhatikan keadaan yang mengubah penerapannya.<ref>Nicholas Bunnin. [https://books.google.co.id/books?id=LdbxabeToQYC&pg=PA250&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false The Blackwell Dictionary of Western Philosophy]. John Wiley & Sons. 2008-04-15. hlm. 250. ISBN 978-0-470-99721-5.</ref> Generalisasi mungkin saja tidak berlaku untuk beberapa kejadian tertentu yang disebabkan oleh keadaan khusus atau keadaan aksiden. Jika keadaan khusus ini diabaikan dan diasumsikan generalisasi berlaku secara universal, maka terjadi kekeliruan kecelakaan.<ref>Irving M. Copi. [http://www.uop.edu.pk/ocontents/Book-Introductiontologic.pdf Introduction to logic]. Pearson. 2014. hlm. 138. ISBN 978-1-292-02482-0.</ref> Misalnya, apakah hutang harus dibayar? Secara general, iya, tetapi terdapat situasi luar biasa di mana kewajiban tersebut berakhir.<ref>Charles L. Hamblin. [https://archive.org/details/fallacies0000hamb Fallacies]. Methuen & Co. 1970. hlm. 28. ISBN 0-916475-24-7.</ref> Hukum mengatakan tidak boleh berkendara lebih dari 60 km/jam, sehingga meskipun ayah anda tidak bisa bernafas, tidak boleh berkendara diatas 60 km/jam. Karena menunggang kuda adalah olahraga yang menyehatkan, Harry Brown harus melakukan lebih sering karena baik untuk kesehatan jantungnya.<ref>Douglas N. Walton. [https://www.jstor.org/stable/44084290 IGNORING QUALIFICATIONS (SECUNDUM QUID) AS A SUBFALLACY OF HASTY GENERALIZATION]. ''Logique et Analyse''. 1990. Vol. 33 (129/130). hlm. 113–154.</ref>


Kekeliruan kebetulan terjadi ketika objek yang mengalami pengecualian (dalam kondisi khusus) kemudian disimpulkan sebagai substansinya. Kekeliruan kebalikan dari kekeliruan kebetulan atau disebut dengan ''(converse accident)'' yaitu pengecualian untuk generalisasi diterapkan untuk kasus di mana generalisasi harus diterapkan. Misalnya, disebabkan pasien yang sakit parah diizinkan untuk menggunakan heroin, maka harus mengizinkan semua orang untuk menggunakan heroin.
Kekeliruan kebetulan terjadi ketika objek yang mengalami pengecualian (dalam kondisi khusus) kemudian disimpulkan sebagai substansinya.<ref>Allan Bäck. [https://www.jstor.org/stable/40387980 Mistakes of Reason: Practical Reasoning and the Fallacy of Accident]. ''Phronesis''. 2009. Vol. 54 (2). hlm. 101–135.</ref> Kekeliruan kebalikan dari kekeliruan kebetulan atau disebut dengan ''(converse accident)'' yaitu pengecualian untuk generalisasi diterapkan untuk kasus di mana generalisasi harus diterapkan. Misalnya, disebabkan pasien yang sakit parah diizinkan untuk menggunakan heroin, maka harus mengizinkan semua orang untuk menggunakan heroin.<ref>Mochammad Tanzil Multazam. [https://figshare.com/articles/journal_contribution/Introduction_to_Logic_for_Beginner_Pengantar_Logika_untuk_Pemula/4001307 Introduction to Logic for Beginner / Pengantar Logika untuk Pemula]. 2016. hlm. 1417456 Bytes. doi:10.6084/M9.FIGSHARE.4001307.</ref>


== Generalisasi Ilmiah ==
== Generalisasi Ilmiah ==
Perbedaan utama dalam generalisasi ilmiah dengan generalisasi biasa yaitu terletak pada metode, kualitas data, serta ketepatan perumusannya. Hal-hal penting dari generalisasi ilmiah, yaitu:
Perbedaan utama dalam generalisasi ilmiah dengan generalisasi biasa yaitu terletak pada metode, kualitas data, serta ketepatan perumusannya. Hal-hal penting dari generalisasi ilmiah, yaitu:<ref>A. E. Mander. [https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.274946/page/n92/mode/1up Clearer Thinking: (Logic for Everyman)]. Watts & Co. 1936. hlm. 82-83.</ref>


# Pengamatan dilaukan dengan cermat dalam kondisi terbaik oleh orang yang ahli dalam observasi dan mengenal baik subjek yang diselidiki; hasil dari pengamatan dicatat dengan cepat, lengkap, akurat, dan dicek oleh observer lain.
# Pengamatan dilaukan dengan cermat dalam kondisi terbaik oleh orang yang ahli dalam observasi dan mengenal baik subjek yang diselidiki; hasil dari pengamatan dicatat dengan cepat, lengkap, akurat, dan dicek oleh observer lain.
Baris 58: Baris 60:
# Pemeriksaan yang cermat, perbandingan, dan klasifikasi fakta.
# Pemeriksaan yang cermat, perbandingan, dan klasifikasi fakta.
# Pernyataan generalisasi dalam istilah yang jelas, sederhana, dan tepat serta jika memungkinkan dalam rumus matematika.
# Pernyataan generalisasi dalam istilah yang jelas, sederhana, dan tepat serta jika memungkinkan dalam rumus matematika.
# Pencarian menyeluruh, dalam variasi waktu, tempat, dan kondisi seluas mungkin untuk fakta yang tidak akan konsisten dengan generalisasi. Tidak lupa juga publisitas, dunia ilmiah diundang untuk mengkaji ulang, mengkritisi, dan menguji serta bergabung dalam pencarian fakta yang tidak konsisten.
# Pencarian menyeluruh, dalam variasi waktu, tempat, dan kondisi seluas mungkin untuk fakta yang tidak akan konsisten dengan generalisasi. Tidak lupa juga publisitas, dunia ilmiah diundang untuk mengkaji ulang, mengkritisi, dan menguji serta bergabung dalam pencarian fakta yang tidak konsisten.  
== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Spesialisasi (logika)|Spesialisasi]] – kebalikan dari generalisasi
* [[Spesialisasi (logika)|Spesialisasi]] – kebalikan dari generalisasi


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Generalisasi&oldid=28650542 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28650542 (2025-12-02T00:47:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Generalisasi&oldid=28650542 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28650542 (2025-12-02T00:47:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.05

Generalization process using trees

Generalisasi atau perampatan[1] adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya.[2] Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif.[3]

Contoh:

  • Mawar adalah bunga, dan tercium wangi;
  • Melati adalah bunga, dan juga tercium wangi;
  • Generalisasi = Semua bunga itu tercium wangi.

Pernyataan "semua bunga itu tercium wangi" memiliki kemungkinan kebenaran karena belum diselidiki kebenarannya.

Contoh kesalahan: Rafflesia Arnoldii adalah bunga, tetapi tidak tercium wangi.

Pengertian

Generalisasi merupakan salah satu penalaran induktif. Terdapat prinsip tersirat dalam penalaran induktif, yaitu asumsi tentang jalannya alam dan keteraturan alam semesta; apa yang terjadi sekali, akan terjadi lagi dalam kesamaan keadaan yang cukup, sesering keadaan yang sama berulang. Asumsi ini berlaku untuk setiap penalaran induktif.[4] Dasar pola berpikir adalah observasi, pengetahuan yang didapat dari observasi ini yang kemudian menjadi pengetahuan-pengetahuan khusus. observasi mendahului adanya induksi.[5]

Generalisasi merupakan pernyataan yang mengandung karakter untuk seluruh atau kebanyakan objek yang diselidiki. Generalisasi termasuk penalaran induktif yang memiliki kebenaran probabilitas berdasarkan informasi dari beberapa objek.[6] Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. Maka dari itu, hukum dari fenomena yang diselidiki berlaku juga untuk fenomena sejenis yang belum diselidiki. Hukum yang dihasilkan dari penalaran secara generalisasi maupun seluruh penalaran induktif tidak pernah mencapai kebenaran pasti, tetapi hanya sebatas kebenaran kemungkinan besar (probabilitas). Berbeda dengan penalaran deduktif yang kesimpulannya tersirat di premis-premis yang valid dan akan menghasilkan proposisi universal dengan kesimpulan yang pasti.[7] Generalisasi juga diartikan sebagai suatu cara untuk memperluas cakupan referensi dan penerapan suatu hasil sehingga menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dengan menghilangkan batasan tertentu.[8] Generalisasi berarti memahami di bawah nama umum beberapa objek yang memiliki beberapa kesamaan dari masing-masing objek dan nama umum tersebut berfungsi untuk menjadi indikasi.[9]

Esensi dari arti generalisasi terdapat pada kata general itu sendiri yang diartikan sebagai identik atau serupa pada suatu kelompok objek. Proses generalisasi adalah menemukan sifat "general" yang terdapat pada objek dan membentuk kelas yang dibawanya.[10] Pada generalisasi yang terjadi yaitu berdasarkan sifat atau ciri sama yang terdapat pada beberapa fenomena tertentu maka disimpulkan bahwa semua fenomena tertentu itu memiliki sifat atau ciri yang sama itu. Generalisasi yang sering terjadi yaitu induksi enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan generalisasi berupa proposisi universal.[11] Untuk membuat generalisasi, logika Aristoteles menekankan pada prinsip relasi formal antar proposisi.[12] Generalisasi dari sejumlah sampel yang diperiksa dan dianggap mewakili kelas yang diberikan biasanya dikenal dengan nama induksi enumerasi sederhana, hal ini adalah dasar dari generalisasi. Setiap orang membuat kesimpulan dengan enumerasi sederhana. Kesimpulan yang dihasilkan tidak valid secara logis karena dalam menyimpulkan dari premis "Beberapa S" ke kesimpulan "Seluruh S" ada distribusi S yang tidak sah. Misalnya, fakta bahwa gagak yang diamati semuanya berwarna hitam, maka disimpulkan bahwa semua gagak berwarna hitam.[13]

Generalisasi harus memenuhi tiga syarat: pertama, generalisasi tidak boleh terbatas secara numerik, artinya proposisi harus benar secara universal dan berlaku untuk setiap subjek yang memenuhi; kedua, generalisasi tidak boleh terbatas secara spasio-temporal, artinya tidak boleh terbatas ruang dan waktu dan berlaku kapan dan dimana saja; ketiga, generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.[14] Selain itu, generalisasi memiliki empat tahap: persepsi generalisasi (perception of generality), ekspresi generalisasi (expression of generality), ekspresi simbolis generalisasi (symbolic expression of generality), dan manipulasi generalisasi (manipulation of generality).[15]

Macam-macam generalisasi

Generalisasi sempurna

Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi sempurna dikenal juga dengan istilah induksi lengkap, diawali dengan hal partikular yang mencakup keseluruhan jumlah dari fenomena yang diselidiki. Generalisasi macam ini memiliki kesimpulan yang sangat kuat dan tidak dapat diperdebatkan serta diragukan. Namun, tidak efektif dan efisien.[16] Arti penalaran pada generalisasi ini sangat lemah, sebab pernyataan hanya mengenai apa yang diketahuinya dan tidak mengembangkan pengetahuannya, tetapi hanya sebatas menyimpulkan.[17]

Contoh: Sensus penduduk.

Generalisasi tidak sempurna

Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi di mana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi tidak sempurna disebut juga dengan induksi tidak lengkap yang dilakukan dengan memperhatikan hanya sebagian hal partikular.[18] Generalisasi macam ini tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi jauh lebih efektif dan efisien. Dalam penelitian ilmiah sering kali tidak dimungkinkan untuk menggunakan generalisasi sempurna dan lebih mungkin serta lebih lazim untuk menggunakan generalisasi tidak sempurna.[19]

Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana satin. Sebagian bangsa Indonesia suka bergotong-royong, maka disimpulkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

Generalisasi Empirik

Generalisasi empirik merupakan generalisasi yang tidak disertai dengan penjelasan mengapa fenomena berlaku dan hanya mendasarkan penyimpulannya pada fenomena tertentu. Prinsip dari penalaran generalisasi ini dapat dirumuskan dengan: apa yang terjadi berulang dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi.[20] Misalnya, dua kali dirasakan apel yang masam dalam kondisi keras dan hijau. Maka ketika melihat apel ketiga dengan kondisi keras dan hijau, dapat disimpullkan apel itu masam. Generalisasi yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari yaitu generalisasi empirik. Generalisasi empirik terjadi ketika memperhatikan beberapa objek dan menyimpulkan persamaan yang ada pada objek tersebut. Ketika telah ditarik kesamaan yang ada maka akan menghasilkan sifat umum yang perlu didukung oleh referensi lain agar menjadi generalisasi yang memiliki kebenaran yang kuat.[21]

Generalisasi dengan Penjelasan

Apabila generalisasi yang ada disertai dengan penjelasan maka disebut dengan generalisasi dengan penjelasan (explained generalization), kebenaran yang dihasilkan dari generalisasi ini lebih kuat dan memiliki kebenaran yang hampir setingkat dengan generalisasi sempurna. Hukum alam pada awalnya dirumuskan melalui generalisasi empirik, setelah diketahui hubungan kausalnya, maka lahir generalisasi dengan penjelasan yang menjadi dasar penjelasan ilmiah. Misal, manusia telah lama mengetahui benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah, tetapi hal tersebut baru dapat diterangkan setelah ditemukannya hukum gravitasi oleh Isaac Newton.[22]

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna

Meskipun generalisasi tidak sempurna hanya merupakan kesimpulan yang ditarik dari beberapa fenomena, namun generalisasi tidak sempurna dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:[23]

  1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili. Tidak ada ukuran pasti berapa jumlah sampel yang diperlukan untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang terpercaya. Semakin banyak jumlah sampel yang digunakan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  2. Sampel harus bervariasi. Semakin banyak variasi sampel, semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/tidak umum. Hal yang menyimpang harus diperhatikan juga, tertutama jika penyimpangan terjadi cukup besar bahkan mungkin untuk tidak diadakannya generalisasi. Semakin cermat faktor penyimpang dipertimbangkan, maka semakin kuat kesimpulan yang dihasilkan.
  4. Kesimpulan konsisten dengan sampel. Kesimpulan yang dihasilkan harus merupakan konsekuensi logis dari sampel yang dikumpulkan dan tidak boleh membeikan penafsiran menyimpang dai data yang ada.

Beberapa faktor probabilitas yang dinyatakan oleh Soekandijo tentang generalisasi, yaitu: semakin besar fakta yang dijadikan dasar penalaran, semakin tinggi probabilitas konklusinya; semakin besar faktor kesamaan pada premis, semakin rendah probabilitas konklusinya; semakin besar jumlah faktor disanaloginya, semakin tinggi probabilitas konklusinya; dan semakin luas konklusinya maka semakin rendah probabilitasnya.[24]

Generalisasi yang Salah

Tingkat kepercayaan atau kebenaran generalisasi tergantung dengan terpenuhi atau tidaknya jawaban atas pengujian yang dilakukan sebelumnya. Terdapat kecenderungan umum untuk membuat generalisasi berdasarkan sampel yang sedikit sehingga tidak mencukupi syarat untuk menjadi generalisasi. Hal ini disebut dengan generalisasi tergesa-gesa.[25] Kekeliruan ini menggunakan sampel yang tidak mencukupi yang biasanya dapat diterima tetapi tidak cukup untuk menetapkan kesimpulan argumen. Sebab, buan hal yang lazim untuk menarik kesimpulan berdasarkan satu bukti pendukung atau dapat disebut sebagai kekeliruan dari fakta yang sepi (fallacy of lonely fact).[26] Generalisasi yang tergesa-gesa (hasty generalization) digunakan untuk menyatakan stereotip yang salah dengan menganggap beberapa objek tertentu lebih mirip daripada kejadian yang sebenarnya. Misalnya, orang yang berpikir dengan kekeliruan generalisasi tergesa-gesa menganggap orang-orang Italia hanya memakan spageti, seluruh orang New York adalah orang yang tidak acuh, atau semua orang yang membaca Karl Marx ingin menggulingkan rezim pemerintahan.[27] Generalisasi tergesa-gesa merupakan penarikan kesimpulan tentang seluruh objek dari suatu fenomena dengan pengetahuan terbatas hanya dari satu atau sedikit objek dari fenomena tersebut.

Kekeliruan yang selanjutnya disebut dengan kekeliruan kebetulan (fallacy of accident), kesalahan ketika generalisasi secara keliru diterapkan pada kasus tertentu di mana generalisasi tidak berlaku. Kekeliruan ini disebut juga dengan secundum quid, kekeliruan dengan mengabaikan kualifikasi dengan gagasan keliru bahwa apa yang benar dengan kualifikasi tertentu juga benar tanpa kualifikasi tersebut. Terdiri dari penggunaan prinsip tanpa memperhatikan keadaan yang mengubah penerapannya.[28] Generalisasi mungkin saja tidak berlaku untuk beberapa kejadian tertentu yang disebabkan oleh keadaan khusus atau keadaan aksiden. Jika keadaan khusus ini diabaikan dan diasumsikan generalisasi berlaku secara universal, maka terjadi kekeliruan kecelakaan.[29] Misalnya, apakah hutang harus dibayar? Secara general, iya, tetapi terdapat situasi luar biasa di mana kewajiban tersebut berakhir.[30] Hukum mengatakan tidak boleh berkendara lebih dari 60 km/jam, sehingga meskipun ayah anda tidak bisa bernafas, tidak boleh berkendara diatas 60 km/jam. Karena menunggang kuda adalah olahraga yang menyehatkan, Harry Brown harus melakukan lebih sering karena baik untuk kesehatan jantungnya.[31]

Kekeliruan kebetulan terjadi ketika objek yang mengalami pengecualian (dalam kondisi khusus) kemudian disimpulkan sebagai substansinya.[32] Kekeliruan kebalikan dari kekeliruan kebetulan atau disebut dengan (converse accident) yaitu pengecualian untuk generalisasi diterapkan untuk kasus di mana generalisasi harus diterapkan. Misalnya, disebabkan pasien yang sakit parah diizinkan untuk menggunakan heroin, maka harus mengizinkan semua orang untuk menggunakan heroin.[33]

Generalisasi Ilmiah

Perbedaan utama dalam generalisasi ilmiah dengan generalisasi biasa yaitu terletak pada metode, kualitas data, serta ketepatan perumusannya. Hal-hal penting dari generalisasi ilmiah, yaitu:[34]

  1. Pengamatan dilaukan dengan cermat dalam kondisi terbaik oleh orang yang ahli dalam observasi dan mengenal baik subjek yang diselidiki; hasil dari pengamatan dicatat dengan cepat, lengkap, akurat, dan dicek oleh observer lain.
  2. Pengamatan harus bersifat eksperimental: dalam kondisi bervariasi dan dapat diamati satu per satu.
  3. Penggunaan instrumen untuk mengukur dan mencatat sehingga meminimalisir kemungkinan kesalahan dan mendapatkan presisi yang lebih besar.
  4. Pemeriksaan yang cermat, perbandingan, dan klasifikasi fakta.
  5. Pernyataan generalisasi dalam istilah yang jelas, sederhana, dan tepat serta jika memungkinkan dalam rumus matematika.
  6. Pencarian menyeluruh, dalam variasi waktu, tempat, dan kondisi seluas mungkin untuk fakta yang tidak akan konsisten dengan generalisasi. Tidak lupa juga publisitas, dunia ilmiah diundang untuk mengkaji ulang, mengkritisi, dan menguji serta bergabung dalam pencarian fakta yang tidak konsisten.

Lihat pula

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. Generalisasi. KBBI Daring.
  3. Sendi Ramdhani. KEMAMPUAN GENERALISASI MAHASISWA PADA PERKULIAHAN KAPITA SELEKTA MATEMATIKA SMA. Jurnal Analisa. 2018-12-30. Vol. 4 (2). hlm. 83–89. doi:10.15575/ja.v4i2.3926.
  4. John Stuart Mill. A System of Logic, Ratiocinative and Inductive: Being a Connected View of the Principles of Evidence and the Methods of Scientific Investigation. Project Gutenberg Ebook. 31 Agustus 2008. hlm. 317. ISBN 978-3-337-91102-7.
  5. Bagong Suyanto. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Prenada Media. 2015-01-01. hlm. 6. ISBN 978-623-218-182-3.
  6. Gregory Bassham. Critical Thinking: A Student's Introduction. McGraw-Hill. 2010. hlm. 68. ISBN 978-0-07-340743-2.
  7. Ita Khairani. PENGARUH KEMAMPUAN PENALARAN VERBAL TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS WACANA NARASI SISWA KELAS VIII SMP SWASTA PAB 5 KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008. BAHAS (e-Journal). 2013-06-01. doi:10.24114/bhs.v0i86.
  8. John Mason. Expressing Generality and Roots of Algebra. Springer Netherlands. 1996. hlm. 65–86. ISBN 978-0-7923-4168-0.
  9. Richard Whately. Elements of Logic: Comprising the Substance of the Article in the Encyclopaedia Metropolitana with Additions. B. Fellowes. 1836. hlm. 434.
  10. V. V. Davydov. Soviet Studies in Mathematics Education Volume 2. National Council of Teachers of Mathematics. 1990. hlm. 26.
  11. Urbanus Ura Weruin. Logika, Penalaran, dan Argumentasi Hukum. Jurnal Konstitusi. 2017-11-02. Vol. 14 (2). hlm. 374. doi:10.31078/jk1427.
  12. Trihono Kadri. Rancangan Penelitian. Deepublish. 2018. hlm. 23. ISBN 978-602-475-438-9.
  13. L. S. Stebbing. A Modern Introduction to Logic. Methuen & Co. 1942. hlm. 245.
  14. Leroy Holman Siahaan. Hubungan Antara Kemampuan Berpikir Logis dan Pengetahuan Tentang Paragraf dengan Keterampilan Menulis Esai Bahasa Inggris. Jurnal Sosioreligi. Vol. 14 (2). hlm. 87-94.
  15. Tiara Putri. Generalization in Exponential Problems as a Part of Developing Mathematical Abstraction. Proceedings of the 4th Sriwijaya University Learning and Education International Conference (SULE-IC 2020). Atlantis Press. 2020. doi:10.2991/assehr.k.201230.179.
  16. Suladi Suladi. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. hlm. 97.
  17. Abdul Munim. Dialektika Induksi dan Deduksi dalam Pemikiran Hukum Islam. Islamica: Jurnal Studi Keislaman. 2009-09-02. Vol. 4 (1). hlm. 1–16. doi:10.15642/islamica.2009.4.1.1-16.
  18. Imron Mustofa. Jendela Logika dalam Berfikir; Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah. EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam. 2016-12-29. Vol. 6 (2). hlm. 1–21. doi:10.54180/elbanat.2016.6.2.1-21.
  19. ST. Nur Fadilla. Kemampuan Inferensi dalam Pmebelajaran Fisika Bagi Peserta Didik SMA Negeri 22 Makassar. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar. 2020.
  20. Lerbin R. Aritonang. Ilmu dan Moralitas. Akademika. Desember 2006. Vol. 8 (2). hlm. 80-108.
  21. John Mason. Thinking mathematically. Pearson. 2010. hlm. 232. ISBN 978-0-273-72891-7.
  22. Muhammad Judrah. GENERALISASI EMPIRIK; PROPOSISI, POSTULAT, AKSIOMA DAN TEORI. Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan. 2015. Vol. 7 (1). hlm. 117–122. doi:10.47435/al-qalam.v7i1.186.
  23. Mundiri. Logika. Rajawali Pers. 2017. hlm. 146. ISBN 978-979-769-938-3.
  24. Gelar Dwirahayu. PENGARUH HABITS OF MIND TERHADAP KEMAMPUAN GENERALISASI MATEMATIS. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika. 2018-08-28. Vol. 11 (2). doi:10.30870/jppm.v11i2.3757.
  25. Muhammad Judrah. GENERALISASI EMPIRIK; PROPOSISI, POSTULAT, AKSIOMA DAN TEORI. Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan. 2015. Vol. 7 (1). hlm. 117–122. doi:10.47435/al-qalam.v7i1.186.
  26. T. Edward Damer. Attacking faulty reasoning : a practical guide to fallacy-free arguments. Wadsworth/Cengage Laerning. 2009. hlm. 161. ISBN 978-0-495-09506-4.
  27. Harry Gensler. Introduction to Logic. Taylor & Francis. 2010. hlm. 64. ISBN 978-0-203-85500-3.
  28. Nicholas Bunnin. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. John Wiley & Sons. 2008-04-15. hlm. 250. ISBN 978-0-470-99721-5.
  29. Irving M. Copi. Introduction to logic. Pearson. 2014. hlm. 138. ISBN 978-1-292-02482-0.
  30. Charles L. Hamblin. Fallacies. Methuen & Co. 1970. hlm. 28. ISBN 0-916475-24-7.
  31. Douglas N. Walton. IGNORING QUALIFICATIONS (SECUNDUM QUID) AS A SUBFALLACY OF HASTY GENERALIZATION. Logique et Analyse. 1990. Vol. 33 (129/130). hlm. 113–154.
  32. Allan Bäck. Mistakes of Reason: Practical Reasoning and the Fallacy of Accident. Phronesis. 2009. Vol. 54 (2). hlm. 101–135.
  33. Mochammad Tanzil Multazam. Introduction to Logic for Beginner / Pengantar Logika untuk Pemula. 2016. hlm. 1417456 Bytes. doi:10.6084/M9.FIGSHARE.4001307.
  34. A. E. Mander. Clearer Thinking: (Logic for Everyman). Watts & Co. 1936. hlm. 82-83.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28650542 (2025-12-02T00:47:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.