Lompat ke isi

Aksioma: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28712534; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Aksioma''', '''postulat''' atau '''asumsi''' adalah pernyataan yang berfungsi sebagai [[premis]] atau titik awal untuk alasan dan argumen lebih lanjut. Aksioma diartikan juga sebagai suatu pernyataan yang memuat istilah dasar dan istilah terdefinisi dan tidak berdiri sendiri dan tidak diuji kebenarannya. Akan tetapi, aksioma dalam matematika '''bukan''' berarti proposisi yang terbukti dengan sendirinya. Melainkan, suatu titik awal dari [[Sistem Logika, Ratiosinatif dan Induktif|sistem logika]]. Misalnya, <math>1 + 1 = 2</math> Nama lain dari aksioma adalah '''[[postulat]]'''. Suatu aksioma adalah basis dari sistem [[logika]] formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan [[logika]]. Pada akhirnya aksioma merupakan sebuah pernyataan yang sudah pasti kebenarannya.
[[File:Euklid_fuenftes_Postulat.png|thumb|right|280px|Euklid fuenftes Postulat]]


Istilah aksioma paling umum digunakan sebagai istilah dalam matematika, sasaran atau objek penelahan matematika yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip memerlukan metode tertentu dalam menemukan kebenaran atau keabsahan dari konsep yang terkandung di dalamnya. Objek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol yang kosong dari arti, artinya bahwa setiap simbol yang digunakan dalam matematika merupakan simbol abstrak. Ciri ini yang memungkinkan matematika dapat memasuki wilayah bidang studi atau cabang ilmu lain. Pada hakikatnya berpikir matematika itu dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan yang disebut aksioma. Karena itu matematika merupakan sistem yang aksiomatik.
'''Aksioma''', '''postulat''' atau '''asumsi''' adalah pernyataan yang berfungsi sebagai [[premis]] atau titik awal untuk alasan dan argumen lebih lanjut. Aksioma diartikan juga sebagai suatu pernyataan yang memuat istilah dasar dan istilah terdefinisi dan tidak berdiri sendiri dan tidak diuji kebenarannya.<ref>Ihsani, Annisa,. [https://www.worldcat.org/oclc/1035214120 Teka-teki terakhir]. ISBN 9786020302980.</ref> Akan tetapi, aksioma dalam matematika '''bukan''' berarti proposisi yang terbukti dengan sendirinya. Melainkan, suatu titik awal dari [[Sistem Logika, Ratiosinatif dan Induktif|sistem logika]]. Misalnya, <math>1 + 1 = 2</math> Nama lain dari aksioma adalah '''[[postulat]]'''. Suatu aksioma adalah basis dari sistem [[logika]] formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan [[logika]]. Pada akhirnya aksioma merupakan sebuah pernyataan yang sudah pasti kebenarannya.<ref>Annisa Ihsani. [https://books.google.co.id/books?id=gkRFDwAAQBAJ&lpg=PA126&dq=aksioma%20adalah&hl=id&pg=PA126#v=onepage&q=aksioma%20adalah&f=false TeenLit: Teka-Teki terakhir]. Gramedia Pustaka Utama. 2017-10-30. ISBN 9786020302980.</ref>
 
Istilah aksioma paling umum digunakan sebagai istilah dalam matematika, sasaran atau objek penelahan matematika yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip memerlukan metode tertentu dalam menemukan kebenaran atau keabsahan dari konsep yang terkandung di dalamnya. Objek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol yang kosong dari arti, artinya bahwa setiap simbol yang digunakan dalam matematika merupakan simbol abstrak. Ciri ini yang memungkinkan matematika dapat memasuki wilayah bidang studi atau cabang ilmu lain. Pada hakikatnya berpikir matematika itu dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan yang disebut aksioma. Karena itu matematika merupakan sistem yang aksiomatik.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=Jq_kZ68TuFAC&lpg=PP1&dq=Jujun%20S.Suriasumantri,%20Ilmu%20dalam%20Perspektif&hl=id&pg=PP1#v=onepage&q=Jujun%20S.Suriasumantri,%20Ilmu%20dalam%20Perspektif&f=false Ilmu dalam perspektif]. Yayasan Obor Indonesia. 1999. ISBN 9789794612811.</ref>


Salah satu fenomena tentang aksioma yang ada adalah Selama 2000 tahun aksioma tentang [[bilangan]] dan [[geometri]] dianggap sebagai suatu kebenaran yang pasti karena teorema merupakan konsekuensi logis dari aksioma, maka [[teorema]] pun dianggap sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan lagi.
Salah satu fenomena tentang aksioma yang ada adalah Selama 2000 tahun aksioma tentang [[bilangan]] dan [[geometri]] dianggap sebagai suatu kebenaran yang pasti karena teorema merupakan konsekuensi logis dari aksioma, maka [[teorema]] pun dianggap sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan lagi.


== Defenisi ==
== Defenisi ==
Kata ''aksioma'' berasal dari [[bahasa Yunani]] kata  ''(Axioma),'' sebuah [[nomina verbal|verbal noun]] dari  kata kerja ''(Axioein),'' yang berarti "untuk menganggap layak", tetapi juga "membutuhkan", yang pada gilirannya berasal dari  ( ''áxios'' ), yang berarti "seimbang", dan karenanya "memiliki (sama) nilai (sebagai)", "layak", "pantas". Di antara para [[filsuf|filosof]] [[Yunani Kuno|Yunani kuno]], sebuah aksioma adalah klaim yang dapat dilihat sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya tanpa perlu pembuktian.
Kata ''aksioma'' berasal dari [[bahasa Yunani]] kata  ''(Axioma),'' sebuah [[nomina verbal|verbal noun]] dari  kata kerja ''(Axioein),'' yang berarti "untuk menganggap layak", tetapi juga "membutuhkan", yang pada gilirannya berasal dari  ( ''áxios'' ), yang berarti "seimbang", dan karenanya "memiliki (sama) nilai (sebagai)", "layak", "pantas". Di antara para [[filsuf|filosof]] [[Yunani Kuno|Yunani kuno]], sebuah aksioma adalah klaim yang dapat dilihat sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya tanpa perlu pembuktian.<ref>[http://www.ptta.pl/pef/haslaen/a/axiom.pdf Axiom — Powszechna Encyklopedia Filozofii]. ''Polskie Towarzystwo Tomasza z Akwinu''.</ref><ref>Andayani. [https://www.google.co.id/books/edition/Problema_dan_Aksioma/_fRECQAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=Problema+dan+Aksioma+dalam+Metodologi+Pembelajaran+Bahasa+Indonesia&printsec=frontcover Problema dan Aksioma dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia]. CV BUDI UTAMA. 2015. hlm. 63. ISBN 978-602-280-698-1.</ref>


Istilah aksioma juga dimengerti dalam [[matematika]].Kata aksioma dalam [[matematika]] juga disebut postulat. Arti dasar dari kata ''postulat'' adalah "menuntut"; misalnya, [[Euklides|Euclid]] menuntut agar seseorang setuju bahwa beberapa hal dapat dilakukan (misalnya, dua titik mana pun dapat digabungkan dengan garis lurus).
Istilah aksioma juga dimengerti dalam [[matematika]].Kata aksioma dalam [[matematika]] juga disebut postulat. Arti dasar dari kata ''postulat'' adalah "menuntut"; misalnya, [[Euklides|Euclid]] menuntut agar seseorang setuju bahwa beberapa hal dapat dilakukan (misalnya, dua titik mana pun dapat digabungkan dengan garis lurus).<ref>Wolff, P. ''[https://123dok.com/document/zx9pjnoz-breakthroughs-in-mathematics-p-wolff.html Breakthroughs in Mathematics]'', 1963, New York: New American Library, halaman 47–48.</ref>


Geometri kuno mempertahankan beberapa perbedaan antara aksioma dan postulat. Saat mengomentari buku-buku Euclid, [[Proclus]] menyatakan bahwa " [[Gemini|Geminus]] berpendapat bahwa Postulat [4] ini tidak boleh digolongkan sebagai postulat tetapi sebagai aksioma, karena tidak, seperti tiga Postulat pertama, menegaskan kemungkinan beberapa konstruksi tetapi mengungkapkan suatu properti penting." [[Boethius]] menerjemahkan 'postulat' sebagai ''petitio'' dan menyebut aksioma ''notiones communes'' tetapi dalam manuskrip-manuskrip selanjutnya penggunaan ini tidak selalu dijaga dengan ketat.
Geometri kuno mempertahankan beberapa perbedaan antara aksioma dan postulat. Saat mengomentari buku-buku Euclid, [[Proclus]] menyatakan bahwa " [[Gemini|Geminus]] berpendapat bahwa Postulat [4] ini tidak boleh digolongkan sebagai postulat tetapi sebagai aksioma, karena tidak, seperti tiga Postulat pertama, menegaskan kemungkinan beberapa konstruksi tetapi mengungkapkan suatu properti penting."<ref>Heath, T. 1956. ''[https://www.wilbourhall.org/pdfs/Heath_Euclid_II.pdf The Thirteen Books of Euclid's Elements]''. New York: Dover, halaman 200''.''</ref> [[Boethius]] menerjemahkan 'postulat' sebagai ''petitio'' dan menyebut aksioma ''notiones communes'' tetapi dalam manuskrip-manuskrip selanjutnya penggunaan ini tidak selalu dijaga dengan ketat.


== Sejarah ==
== Sejarah ==
=== Yunani awal ===
=== Yunani awal ===
Metode logika-deduktif dimana kesimpulan (pengetahuan baru) mengikuti dari premis (pengetahuan lama) melalui penerapan argumen suara ( [[silogisme]], [[kaidah penalaran|aturan inferensi]] ) dikembangkan oleh orang Yunani kuno, dan telah menjadi prinsip inti matematika modern. [[Tautologi (logika)|Tautologi]] dikecualikan, tidak ada yang dapat disimpulkan jika tidak ada yang diasumsikan. Aksioma dan postulat dengan demikian asumsi dasar yang mendasari tubuh tertentu pengetahuan deduktif. Mereka diterima tanpa demonstrasi. Semua pernyataan lain ( [[teorema]], dalam kasus matematika) harus dibuktikan dengan bantuan asumsi dasar ini. Namun, interpretasi pengetahuan matematika telah berubah dari zaman kuno ke modern, dan akibatnya istilah ''aksioma'' dan ''postulat'' memiliki arti yang sedikit berbeda untuk matematikawan masa kini, daripada yang mereka lakukan untuk [[Aristoteles]] dan [[Euklides|Euclid]].
Metode logika-deduktif dimana kesimpulan (pengetahuan baru) mengikuti dari premis (pengetahuan lama) melalui penerapan argumen suara ( [[silogisme]], [[kaidah penalaran|aturan inferensi]] ) dikembangkan oleh orang Yunani kuno, dan telah menjadi prinsip inti matematika modern. [[Tautologi (logika)|Tautologi]] dikecualikan, tidak ada yang dapat disimpulkan jika tidak ada yang diasumsikan. Aksioma dan postulat dengan demikian asumsi dasar yang mendasari tubuh tertentu pengetahuan deduktif. Mereka diterima tanpa demonstrasi. Semua pernyataan lain ( [[teorema]], dalam kasus matematika) harus dibuktikan dengan bantuan asumsi dasar ini. Namun, interpretasi pengetahuan matematika telah berubah dari zaman kuno ke modern, dan akibatnya istilah ''aksioma'' dan ''postulat'' memiliki arti yang sedikit berbeda untuk matematikawan masa kini, daripada yang mereka lakukan untuk [[Aristoteles]] dan [[Euklides|Euclid]].<ref>[http://www.ptta.pl/pef/haslaen/a/axiom.pdf Axiom — Powszechna Encyklopedia Filozofii]. ''Polskie Towarzystwo Tomasza z Akwinu''.</ref>


Orang Yunani kuno menganggap [[geometri]] hanya sebagai salah satu dari beberapa [[Ilmu|ilmu pengetahuan]], dan menganggap teorema geometri setara dengan fakta ilmiah. Dengan demikian, mereka mengembangkan dan menggunakan metode logika-deduktif sebagai sarana untuk menghindari kesalahan, dan untuk menyusun dan mengomunikasikan pengetahuan. [[Analytica Posteriora|Analisis posterior]] Aristoteles adalah eksposisi definitif dari pandangan klasik. Sebuah "aksioma", dalam terminologi klasik, mengacu pada asumsi yang terbukti dengan sendirinya umum untuk banyak cabang ilmu pengetahuan. Contoh yang baik adalah pernyataan bahwa "''Ketika jumlah yang sama diambil dari yang sama, hasil jumlah yang sama."''
Orang Yunani kuno menganggap [[geometri]] hanya sebagai salah satu dari beberapa [[Ilmu|ilmu pengetahuan]], dan menganggap teorema geometri setara dengan fakta ilmiah. Dengan demikian, mereka mengembangkan dan menggunakan metode logika-deduktif sebagai sarana untuk menghindari kesalahan, dan untuk menyusun dan mengomunikasikan pengetahuan. [[Analytica Posteriora|Analisis posterior]] Aristoteles adalah eksposisi definitif dari pandangan klasik. Sebuah "aksioma", dalam terminologi klasik, mengacu pada asumsi yang terbukti dengan sendirinya umum untuk banyak cabang ilmu pengetahuan. Contoh yang baik adalah pernyataan bahwa "''Ketika jumlah yang sama diambil dari yang sama, hasil jumlah yang sama."''


Di dasar berbagai ilmu terdapat [[hipotesis]] tambahan tertentu yang diterima tanpa bukti. Hipotesis semacam itu disebut ''postulat'' . Sementara aksioma yang umum untuk banyak ilmu pengetahuan, postulat masing-masing ilmu tertentu berbeda. Validitas mereka harus ditetapkan melalui pengalaman dunia nyata. Aristoteles memperingatkan bahwa isi suatu ilmu tidak dapat berhasil dikomunikasikan jika pelajar ragu-ragu tentang kebenaran postulat.
Di dasar berbagai ilmu terdapat [[hipotesis]] tambahan tertentu yang diterima tanpa bukti. Hipotesis semacam itu disebut ''postulat'' . Sementara aksioma yang umum untuk banyak ilmu pengetahuan, postulat masing-masing ilmu tertentu berbeda. Validitas mereka harus ditetapkan melalui pengalaman dunia nyata. Aristoteles memperingatkan bahwa isi suatu ilmu tidak dapat berhasil dikomunikasikan jika pelajar ragu-ragu tentang kebenaran postulat.<ref>Aristotle, ''[http://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus:abo:tlg,0086,025:4 Metaphysics Bk IV]'', Chapter 3, 1005b "Physics also is a kind of Wisdom, but it is not the first kind. – And the attempts of some of those who discuss the terms on which truth should be accepted, are due to want of training in logic; for they should know these things already when they come to a special study, and not be inquiring into them while they are listening to lectures on it." W.D. Ross translation, in The Basic Works of Aristotle, ed. Richard McKeon, (Random House, New York, 1941)</ref>


Pendekatan klasik diilustrasikan dengan baik oleh [[Elemen Euklides|Euclid's Elements]], di mana daftar postulat diberikan (fakta geometris yang masuk akal diambil dari pengalaman kami), diikuti oleh daftar "gagasan umum" (sangat mendasar, self -pernyataan yang jelas).
Pendekatan klasik diilustrasikan dengan baik oleh [[Elemen Euklides|Euclid's Elements]], di mana daftar postulat diberikan (fakta geometris yang masuk akal diambil dari pengalaman kami), diikuti oleh daftar "gagasan umum" (sangat mendasar, self -pernyataan yang jelas).


==== Postulat ====
==== Postulat ====
# Dimungkinkan untuk menggambar [[Garis (geometri)|garis lurus]] dari titik mana pun ke titik lainnya.
# Dimungkinkan untuk menggambar [[Garis (geometri)|garis lurus]] dari titik mana pun ke titik lainnya.
# Dimungkinkan untuk memperpanjang segmen garis secara terus menerus di kedua arah.
# Dimungkinkan untuk memperpanjang segmen garis secara terus menerus di kedua arah.
Baris 32: Baris 32:


==== Gagasan umum ====
==== Gagasan umum ====
# Hal-hal yang sama dengan hal yang sama juga sama satu sama lain.
# Hal-hal yang sama dengan hal yang sama juga sama satu sama lain.
# Jika sama ditambahkan ke sama, keutuhannya sama.
# Jika sama ditambahkan ke sama, keutuhannya sama.
Baris 40: Baris 39:


== Zaman modern ==
== Zaman modern ==
Pelajaran yang dipetik oleh matematika dalam 150 tahun terakhir adalah berguna untuk melepaskan makna dari pernyataan matematika (aksioma, postulat, [[Kalkulus proposisional|proposisi]], teorema) dan definisi. Seseorang harus mengakui perlunya [[gagasan primitif]], atau istilah atau konsep yang tidak ditentukan, dalam studi apa pun. Abstraksi atau formalisasi semacam itu membuat pengetahuan matematika lebih umum, mampu memiliki banyak arti yang berbeda, dan oleh karena itu berguna dalam berbagai konteks. [[Alessandro Padoa]], [[Mario Pieri]], dan [[Giuseppe Peano]] adalah pionir dalam gerakan ini.
Pelajaran yang dipetik oleh matematika dalam 150 tahun terakhir adalah berguna untuk melepaskan makna dari pernyataan matematika (aksioma, postulat, [[Kalkulus proposisional|proposisi]], teorema) dan definisi. Seseorang harus mengakui perlunya [[gagasan primitif]], atau istilah atau konsep yang tidak ditentukan, dalam studi apa pun. Abstraksi atau formalisasi semacam itu membuat pengetahuan matematika lebih umum, mampu memiliki banyak arti yang berbeda, dan oleh karena itu berguna dalam berbagai konteks. [[Alessandro Padoa]], [[Mario Pieri]], dan [[Giuseppe Peano]] adalah pionir dalam gerakan ini.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Matematika strukturalis melangkah lebih jauh, dan mengembangkan teori-teori dan aksioma (misalnya [[Medan (matematika)|teori medan]], [[Grup (matematika)|teori grup]], [[Ruang topologis|topologi]], [[ruang vektor]] ) ''tanpa'' aplikasi tertentu dalam pikiran. Perbedaan antara "aksioma" dan "postulat" menghilang. Postulat-postulat Euclid dimotivasi secara menguntungkan dengan mengatakan bahwa postulat-postulat itu mengarah pada kekayaan besar fakta-fakta geometris. Kebenaran dari fakta-fakta rumit ini bertumpu pada penerimaan hipotesis dasar. Namun, dengan membuang postulat kelima Euclid, seseorang bisa mendapatkan teori yang memiliki makna dalam konteks yang lebih luas (misalnya, [[geometri hiperbolik]] ). Dengan demikian, seseorang harus siap untuk menggunakan label seperti "garis" dan "paralel" dengan fleksibilitas yang lebih besar. Perkembangan geometri hiperbolik mengajarkan matematikawan bahwa berguna untuk menganggap postulat sebagai pernyataan formal murni, dan bukan sebagai fakta berdasarkan pengalaman.
Matematika strukturalis melangkah lebih jauh, dan mengembangkan teori-teori dan aksioma (misalnya [[Medan (matematika)|teori medan]], [[Grup (matematika)|teori grup]], [[Ruang topologis|topologi]], [[ruang vektor]] ) ''tanpa'' aplikasi tertentu dalam pikiran. Perbedaan antara "aksioma" dan "postulat" menghilang. Postulat-postulat Euclid dimotivasi secara menguntungkan dengan mengatakan bahwa postulat-postulat itu mengarah pada kekayaan besar fakta-fakta geometris. Kebenaran dari fakta-fakta rumit ini bertumpu pada penerimaan hipotesis dasar. Namun, dengan membuang postulat kelima Euclid, seseorang bisa mendapatkan teori yang memiliki makna dalam konteks yang lebih luas (misalnya, [[geometri hiperbolik]] ). Dengan demikian, seseorang harus siap untuk menggunakan label seperti "garis" dan "paralel" dengan fleksibilitas yang lebih besar. Perkembangan geometri hiperbolik mengajarkan matematikawan bahwa berguna untuk menganggap postulat sebagai pernyataan formal murni, dan bukan sebagai fakta berdasarkan pengalaman.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Ketika matematikawan menggunakan [[Medan (matematika)|aksioma lapangan]], niatnya bahkan lebih abstrak. Proposisi teori medan tidak menyangkut satu aplikasi tertentu; matematikawan sekarang bekerja dalam abstraksi lengkap. Ada banyak contoh bidang; teori medan memberikan pengetahuan yang benar tentang mereka semua.
Ketika matematikawan menggunakan [[Medan (matematika)|aksioma lapangan]], niatnya bahkan lebih abstrak. Proposisi teori medan tidak menyangkut satu aplikasi tertentu; matematikawan sekarang bekerja dalam abstraksi lengkap. Ada banyak contoh bidang; teori medan memberikan pengetahuan yang benar tentang mereka semua.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Tidak benar untuk mengatakan bahwa aksioma teori medan adalah "proposisi yang dianggap benar tanpa bukti". Sebaliknya, aksioma lapangan adalah satu set kendala. Jika ada sistem penjumlahan dan perkalian yang memenuhi batasan ini, maka seseorang berada dalam posisi untuk segera mengetahui banyak informasi tambahan tentang sistem ini.
Tidak benar untuk mengatakan bahwa aksioma teori medan adalah "proposisi yang dianggap benar tanpa bukti". Sebaliknya, aksioma lapangan adalah satu set kendala. Jika ada sistem penjumlahan dan perkalian yang memenuhi batasan ini, maka seseorang berada dalam posisi untuk segera mengetahui banyak informasi tambahan tentang sistem ini.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Matematika modern memformalkan fondasinya sedemikian rupa sehingga teori matematika dapat dianggap sebagai objek matematika, dan matematika itu sendiri dapat dianggap sebagai cabang [[logika]] . [[Gottlob Frege|Frege]], [[Bertrand Russell|Russell]], [[Henri Poincaré|Poincaré]], [[David Hilbert|Hilbert]], dan [[Kurt Gödel|Gödel]] adalah beberapa tokoh kunci dalam perkembangan ini.
Matematika modern memformalkan fondasinya sedemikian rupa sehingga teori matematika dapat dianggap sebagai objek matematika, dan matematika itu sendiri dapat dianggap sebagai cabang [[logika]] . [[Gottlob Frege|Frege]], [[Bertrand Russell|Russell]], [[Henri Poincaré|Poincaré]], [[David Hilbert|Hilbert]], dan [[Kurt Gödel|Gödel]] adalah beberapa tokoh kunci dalam perkembangan ini.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Pelajaran lain yang dipelajari dalam matematika modern adalah memeriksa bukti-bukti yang diakui secara hati-hati untuk asumsi-asumsi yang tersembunyi.
Pelajaran lain yang dipelajari dalam matematika modern adalah memeriksa bukti-bukti yang diakui secara hati-hati untuk asumsi-asumsi yang tersembunyi.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Dalam pemahaman modern, seperangkat aksioma adalah [[kelas|kumpulan]] pernyataan yang dinyatakan secara formal yang diikuti oleh pernyataan lain yang dinyatakan secara formal – dengan penerapan aturan tertentu yang terdefinisi dengan baik. Dalam pandangan ini, logika hanya menjadi sistem formal lainnya. Serangkaian aksioma harus [[Konsistensi (logika)|konsisten]] ; seharusnya tidak mungkin untuk menurunkan kontradiksi dari aksioma. Serangkaian aksioma juga harus tidak berlebihan; pernyataan yang dapat disimpulkan dari aksioma lain tidak perlu dianggap sebagai aksioma.
Dalam pemahaman modern, seperangkat aksioma adalah [[kelas|kumpulan]] pernyataan yang dinyatakan secara formal yang diikuti oleh pernyataan lain yang dinyatakan secara formal – dengan penerapan aturan tertentu yang terdefinisi dengan baik. Dalam pandangan ini, logika hanya menjadi sistem formal lainnya. Serangkaian aksioma harus [[Konsistensi (logika)|konsisten]] ; seharusnya tidak mungkin untuk menurunkan kontradiksi dari aksioma. Serangkaian aksioma juga harus tidak berlebihan; pernyataan yang dapat disimpulkan dari aksioma lain tidak perlu dianggap sebagai aksioma.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Itu adalah harapan awal ahli logika modern bahwa berbagai cabang matematika, mungkin semua matematika, dapat diturunkan dari kumpulan aksioma dasar yang konsisten. Keberhasilan awal dari program formalis adalah formalisasi Hilbert dari [[Geometri Euklides|geometri Euclidean]], dan demonstrasi terkait dari konsistensi aksioma tersebut.
Itu adalah harapan awal ahli logika modern bahwa berbagai cabang matematika, mungkin semua matematika, dapat diturunkan dari kumpulan aksioma dasar yang konsisten. Keberhasilan awal dari program formalis adalah formalisasi Hilbert dari [[Geometri Euklides|geometri Euclidean]], dan demonstrasi terkait dari konsistensi aksioma tersebut.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Dalam konteks yang lebih luas, ada upaya untuk mendasarkan semua matematika pada [[teori himpunan]] [[Georg Cantor|Cantor]] . Di sini, munculnya [[paradoks Russell]] dan antinomi serupa dari [[teori himpunan naif]] meningkatkan kemungkinan bahwa sistem semacam itu bisa berubah menjadi tidak konsisten.
Dalam konteks yang lebih luas, ada upaya untuk mendasarkan semua matematika pada [[teori himpunan]] [[Georg Cantor|Cantor]] . Di sini, munculnya [[paradoks Russell]] dan antinomi serupa dari [[teori himpunan naif]] meningkatkan kemungkinan bahwa sistem semacam itu bisa berubah menjadi tidak konsisten.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Proyek formalis mengalami kemunduran yang menentukan, ketika pada tahun 1931 Gödel menunjukkan bahwa adalah mungkin, untuk setiap set aksioma yang cukup besar ( aksioma [[Aksioma Peano|Peano]], misalnya) untuk membangun sebuah pernyataan yang kebenarannya tidak tergantung pada set aksioma tersebut. Sebagai [[akibat wajar]], Gödel membuktikan bahwa konsistensi teori seperti [[Aksioma Peano|aritmetika Peano]] adalah pernyataan yang tidak dapat dibuktikan dalam ruang lingkup teori itu.
Proyek formalis mengalami kemunduran yang menentukan, ketika pada tahun 1931 Gödel menunjukkan bahwa adalah mungkin, untuk setiap set aksioma yang cukup besar ( aksioma [[Aksioma Peano|Peano]], misalnya) untuk membangun sebuah pernyataan yang kebenarannya tidak tergantung pada set aksioma tersebut. Sebagai [[akibat wajar]], Gödel membuktikan bahwa konsistensi teori seperti [[Aksioma Peano|aritmetika Peano]] adalah pernyataan yang tidak dapat dibuktikan dalam ruang lingkup teori itu.<ref>Panu Raatikainen. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2018/entries/goedel-incompleteness/ Gödel's Incompleteness Theorems]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.</ref>


Masuk akal untuk percaya pada konsistensi aritmetika Peano karena dipenuhi oleh sistem [[bilangan asli]], [[Himpunan takhingga|sistem formal yang tak terbatas]] tetapi dapat diakses secara intuitif. Namun, saat ini, tidak ada cara yang diketahui untuk menunjukkan konsistensi [[aksioma Zermelo–Fraenkel]] modern untuk teori himpunan. Selanjutnya, dengan menggunakan teknik [[Memaksa (matematika)|pemaksaan]] ( [[Paul Cohen|Cohen]] ) seseorang dapat menunjukkan bahwa [[hipotesis kontinum]] (Cantor) tidak bergantung pada aksioma Zermelo–Fraenkel. Jadi, bahkan rangkaian aksioma yang sangat umum ini tidak dapat dianggap sebagai landasan definitif untuk matematika.
Masuk akal untuk percaya pada konsistensi aritmetika Peano karena dipenuhi oleh sistem [[bilangan asli]], [[Himpunan takhingga|sistem formal yang tak terbatas]] tetapi dapat diakses secara intuitif. Namun, saat ini, tidak ada cara yang diketahui untuk menunjukkan konsistensi [[aksioma Zermelo–Fraenkel]] modern untuk teori himpunan. Selanjutnya, dengan menggunakan teknik [[Memaksa (matematika)|pemaksaan]] ( [[Paul Cohen|Cohen]] ) seseorang dapat menunjukkan bahwa [[hipotesis kontinum]] (Cantor) tidak bergantung pada aksioma Zermelo–Fraenkel.<ref>Peter Koellner. [https://plato.stanford.edu/archives/spr2019/entries/continuum-hypothesis/ The Continuum Hypothesis]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2019.</ref> Jadi, bahkan rangkaian aksioma yang sangat umum ini tidak dapat dianggap sebagai landasan definitif untuk matematika.


== Logika matematika ==
== Logika matematika ==
Baris 76: Baris 75:


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Sistem aksiomatik]]
* [[Sistem aksiomatik]]
* [[Dogma]]
* [[Dogma]]
Baris 87: Baris 85:
* [[Hukum fisika]]
* [[Hukum fisika]]
* [[Prinsip]]
* [[Prinsip]]
== Referensi ==


== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
* Mendelson, Elliot (1987). ''Introduction to mathematical logic.'' Belmont, California: Wadsworth & Brooks.
* Mendelson, Elliot (1987). ''Introduction to mathematical logic.'' Belmont, California: Wadsworth & Brooks.  
*
*  


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
*  
 
*  
*
*
* [http://us.metamath.org/mpegif/mmset.html#axioms ''Metamath'' axioms page]
* [http://us.metamath.org/mpegif/mmset.html#axioms ''Metamath'' axioms page]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aksioma&oldid=28712534 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28712534 (2025-12-18T02:00:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aksioma&oldid=28712534 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28712534 (2025-12-18T02:00:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.07

Euklid fuenftes Postulat

Aksioma, postulat atau asumsi adalah pernyataan yang berfungsi sebagai premis atau titik awal untuk alasan dan argumen lebih lanjut. Aksioma diartikan juga sebagai suatu pernyataan yang memuat istilah dasar dan istilah terdefinisi dan tidak berdiri sendiri dan tidak diuji kebenarannya.[1] Akan tetapi, aksioma dalam matematika bukan berarti proposisi yang terbukti dengan sendirinya. Melainkan, suatu titik awal dari sistem logika. Misalnya, 1+1=2 Nama lain dari aksioma adalah postulat. Suatu aksioma adalah basis dari sistem logika formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan logika. Pada akhirnya aksioma merupakan sebuah pernyataan yang sudah pasti kebenarannya.[2]

Istilah aksioma paling umum digunakan sebagai istilah dalam matematika, sasaran atau objek penelahan matematika yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip memerlukan metode tertentu dalam menemukan kebenaran atau keabsahan dari konsep yang terkandung di dalamnya. Objek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol yang kosong dari arti, artinya bahwa setiap simbol yang digunakan dalam matematika merupakan simbol abstrak. Ciri ini yang memungkinkan matematika dapat memasuki wilayah bidang studi atau cabang ilmu lain. Pada hakikatnya berpikir matematika itu dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan yang disebut aksioma. Karena itu matematika merupakan sistem yang aksiomatik.[3]

Salah satu fenomena tentang aksioma yang ada adalah Selama 2000 tahun aksioma tentang bilangan dan geometri dianggap sebagai suatu kebenaran yang pasti karena teorema merupakan konsekuensi logis dari aksioma, maka teorema pun dianggap sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan lagi.

Defenisi

Kata aksioma berasal dari bahasa Yunani kata (Axioma), sebuah verbal noun dari kata kerja (Axioein), yang berarti "untuk menganggap layak", tetapi juga "membutuhkan", yang pada gilirannya berasal dari ( áxios ), yang berarti "seimbang", dan karenanya "memiliki (sama) nilai (sebagai)", "layak", "pantas". Di antara para filosof Yunani kuno, sebuah aksioma adalah klaim yang dapat dilihat sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya tanpa perlu pembuktian.[4][5]

Istilah aksioma juga dimengerti dalam matematika.Kata aksioma dalam matematika juga disebut postulat. Arti dasar dari kata postulat adalah "menuntut"; misalnya, Euclid menuntut agar seseorang setuju bahwa beberapa hal dapat dilakukan (misalnya, dua titik mana pun dapat digabungkan dengan garis lurus).[6]

Geometri kuno mempertahankan beberapa perbedaan antara aksioma dan postulat. Saat mengomentari buku-buku Euclid, Proclus menyatakan bahwa " Geminus berpendapat bahwa Postulat [4] ini tidak boleh digolongkan sebagai postulat tetapi sebagai aksioma, karena tidak, seperti tiga Postulat pertama, menegaskan kemungkinan beberapa konstruksi tetapi mengungkapkan suatu properti penting."[7] Boethius menerjemahkan 'postulat' sebagai petitio dan menyebut aksioma notiones communes tetapi dalam manuskrip-manuskrip selanjutnya penggunaan ini tidak selalu dijaga dengan ketat.

Sejarah

Yunani awal

Metode logika-deduktif dimana kesimpulan (pengetahuan baru) mengikuti dari premis (pengetahuan lama) melalui penerapan argumen suara ( silogisme, aturan inferensi ) dikembangkan oleh orang Yunani kuno, dan telah menjadi prinsip inti matematika modern. Tautologi dikecualikan, tidak ada yang dapat disimpulkan jika tidak ada yang diasumsikan. Aksioma dan postulat dengan demikian asumsi dasar yang mendasari tubuh tertentu pengetahuan deduktif. Mereka diterima tanpa demonstrasi. Semua pernyataan lain ( teorema, dalam kasus matematika) harus dibuktikan dengan bantuan asumsi dasar ini. Namun, interpretasi pengetahuan matematika telah berubah dari zaman kuno ke modern, dan akibatnya istilah aksioma dan postulat memiliki arti yang sedikit berbeda untuk matematikawan masa kini, daripada yang mereka lakukan untuk Aristoteles dan Euclid.[8]

Orang Yunani kuno menganggap geometri hanya sebagai salah satu dari beberapa ilmu pengetahuan, dan menganggap teorema geometri setara dengan fakta ilmiah. Dengan demikian, mereka mengembangkan dan menggunakan metode logika-deduktif sebagai sarana untuk menghindari kesalahan, dan untuk menyusun dan mengomunikasikan pengetahuan. Analisis posterior Aristoteles adalah eksposisi definitif dari pandangan klasik. Sebuah "aksioma", dalam terminologi klasik, mengacu pada asumsi yang terbukti dengan sendirinya umum untuk banyak cabang ilmu pengetahuan. Contoh yang baik adalah pernyataan bahwa "Ketika jumlah yang sama diambil dari yang sama, hasil jumlah yang sama."

Di dasar berbagai ilmu terdapat hipotesis tambahan tertentu yang diterima tanpa bukti. Hipotesis semacam itu disebut postulat . Sementara aksioma yang umum untuk banyak ilmu pengetahuan, postulat masing-masing ilmu tertentu berbeda. Validitas mereka harus ditetapkan melalui pengalaman dunia nyata. Aristoteles memperingatkan bahwa isi suatu ilmu tidak dapat berhasil dikomunikasikan jika pelajar ragu-ragu tentang kebenaran postulat.[9]

Pendekatan klasik diilustrasikan dengan baik oleh Euclid's Elements, di mana daftar postulat diberikan (fakta geometris yang masuk akal diambil dari pengalaman kami), diikuti oleh daftar "gagasan umum" (sangat mendasar, self -pernyataan yang jelas).

Postulat

  1. Dimungkinkan untuk menggambar garis lurus dari titik mana pun ke titik lainnya.
  2. Dimungkinkan untuk memperpanjang segmen garis secara terus menerus di kedua arah.
  3. Dimungkinkan untuk menggambarkan lingkaran dengan pusat dan jari-jari apa pun.
  4. Memang benar bahwa semua sudut siku -siku sama besar satu sama lain.
  5. (" Postulat Sejajar ") Memang benar bahwa, jika garis lurus yang jatuh pada dua garis lurus membuat sudut-sudut dalam pada sisi yang sama kurang dari dua sudut siku-siku, dua garis lurus, jika dibuat tanpa batas, berpotongan pada sisi yang sudut yang lebih kecil dari dua sudut siku-siku.

Gagasan umum

  1. Hal-hal yang sama dengan hal yang sama juga sama satu sama lain.
  2. Jika sama ditambahkan ke sama, keutuhannya sama.
  3. Jika yang sama dikurangkan dari yang sama, maka sisanya adalah sama.
  4. Hal-hal yang bertepatan satu sama lain adalah sama satu sama lain.
  5. Keseluruhan lebih besar daripada bagian.

Zaman modern

Pelajaran yang dipetik oleh matematika dalam 150 tahun terakhir adalah berguna untuk melepaskan makna dari pernyataan matematika (aksioma, postulat, proposisi, teorema) dan definisi. Seseorang harus mengakui perlunya gagasan primitif, atau istilah atau konsep yang tidak ditentukan, dalam studi apa pun. Abstraksi atau formalisasi semacam itu membuat pengetahuan matematika lebih umum, mampu memiliki banyak arti yang berbeda, dan oleh karena itu berguna dalam berbagai konteks. Alessandro Padoa, Mario Pieri, dan Giuseppe Peano adalah pionir dalam gerakan ini.[10]

Matematika strukturalis melangkah lebih jauh, dan mengembangkan teori-teori dan aksioma (misalnya teori medan, teori grup, topologi, ruang vektor ) tanpa aplikasi tertentu dalam pikiran. Perbedaan antara "aksioma" dan "postulat" menghilang. Postulat-postulat Euclid dimotivasi secara menguntungkan dengan mengatakan bahwa postulat-postulat itu mengarah pada kekayaan besar fakta-fakta geometris. Kebenaran dari fakta-fakta rumit ini bertumpu pada penerimaan hipotesis dasar. Namun, dengan membuang postulat kelima Euclid, seseorang bisa mendapatkan teori yang memiliki makna dalam konteks yang lebih luas (misalnya, geometri hiperbolik ). Dengan demikian, seseorang harus siap untuk menggunakan label seperti "garis" dan "paralel" dengan fleksibilitas yang lebih besar. Perkembangan geometri hiperbolik mengajarkan matematikawan bahwa berguna untuk menganggap postulat sebagai pernyataan formal murni, dan bukan sebagai fakta berdasarkan pengalaman.[11]

Ketika matematikawan menggunakan aksioma lapangan, niatnya bahkan lebih abstrak. Proposisi teori medan tidak menyangkut satu aplikasi tertentu; matematikawan sekarang bekerja dalam abstraksi lengkap. Ada banyak contoh bidang; teori medan memberikan pengetahuan yang benar tentang mereka semua.[12]

Tidak benar untuk mengatakan bahwa aksioma teori medan adalah "proposisi yang dianggap benar tanpa bukti". Sebaliknya, aksioma lapangan adalah satu set kendala. Jika ada sistem penjumlahan dan perkalian yang memenuhi batasan ini, maka seseorang berada dalam posisi untuk segera mengetahui banyak informasi tambahan tentang sistem ini.[13]

Matematika modern memformalkan fondasinya sedemikian rupa sehingga teori matematika dapat dianggap sebagai objek matematika, dan matematika itu sendiri dapat dianggap sebagai cabang logika . Frege, Russell, Poincaré, Hilbert, dan Gödel adalah beberapa tokoh kunci dalam perkembangan ini.[14]

Pelajaran lain yang dipelajari dalam matematika modern adalah memeriksa bukti-bukti yang diakui secara hati-hati untuk asumsi-asumsi yang tersembunyi.[15]

Dalam pemahaman modern, seperangkat aksioma adalah kumpulan pernyataan yang dinyatakan secara formal yang diikuti oleh pernyataan lain yang dinyatakan secara formal – dengan penerapan aturan tertentu yang terdefinisi dengan baik. Dalam pandangan ini, logika hanya menjadi sistem formal lainnya. Serangkaian aksioma harus konsisten ; seharusnya tidak mungkin untuk menurunkan kontradiksi dari aksioma. Serangkaian aksioma juga harus tidak berlebihan; pernyataan yang dapat disimpulkan dari aksioma lain tidak perlu dianggap sebagai aksioma.[16]

Itu adalah harapan awal ahli logika modern bahwa berbagai cabang matematika, mungkin semua matematika, dapat diturunkan dari kumpulan aksioma dasar yang konsisten. Keberhasilan awal dari program formalis adalah formalisasi Hilbert dari geometri Euclidean, dan demonstrasi terkait dari konsistensi aksioma tersebut.[17]

Dalam konteks yang lebih luas, ada upaya untuk mendasarkan semua matematika pada teori himpunan Cantor . Di sini, munculnya paradoks Russell dan antinomi serupa dari teori himpunan naif meningkatkan kemungkinan bahwa sistem semacam itu bisa berubah menjadi tidak konsisten.[18]

Proyek formalis mengalami kemunduran yang menentukan, ketika pada tahun 1931 Gödel menunjukkan bahwa adalah mungkin, untuk setiap set aksioma yang cukup besar ( aksioma Peano, misalnya) untuk membangun sebuah pernyataan yang kebenarannya tidak tergantung pada set aksioma tersebut. Sebagai akibat wajar, Gödel membuktikan bahwa konsistensi teori seperti aritmetika Peano adalah pernyataan yang tidak dapat dibuktikan dalam ruang lingkup teori itu.[19]

Masuk akal untuk percaya pada konsistensi aritmetika Peano karena dipenuhi oleh sistem bilangan asli, sistem formal yang tak terbatas tetapi dapat diakses secara intuitif. Namun, saat ini, tidak ada cara yang diketahui untuk menunjukkan konsistensi aksioma Zermelo–Fraenkel modern untuk teori himpunan. Selanjutnya, dengan menggunakan teknik pemaksaan ( Cohen ) seseorang dapat menunjukkan bahwa hipotesis kontinum (Cantor) tidak bergantung pada aksioma Zermelo–Fraenkel.[20] Jadi, bahkan rangkaian aksioma yang sangat umum ini tidak dapat dianggap sebagai landasan definitif untuk matematika.

Logika matematika

Di bidang logika matematika, perbedaan yang jelas dibuat antara dua pengertian aksioma: logis dan non-logis (agak mirip dengan perbedaan kuno antara "aksioma" dan "postulat" masing-masing).

Sistem aksioma

Ini adalah rumus -rumus tertentu dalam bahasa formal yang berlaku universal, yaitu rumus-rumus yang dipenuhi oleh setiap penetapan nilai. Biasanya seseorang mengambil sebagai aksioma logis setidaknya beberapa tautologi minimal yang cukup untuk membuktikan semua tautologi dalam bahasa; dalam kasus logika predikat aksioma lebih logis dari yang diperlukan, untuk membuktikan kebenaran logis yang tidak tautologi dalam arti yang ketat.

Contoh

Dalam logika proposisional adalah umum untuk mengambil sebagai aksioma logis semua rumus dari bentuk berikut, di mana: ϕ, χ, dan ψ dapat berupa formula bahasa apa pun dan di mana penghubung primitif yang disertakan hanya " ¬ " untuk negasi dari proposisi segera berikut dan " " untuk implikasi dari proposisi anteseden ke konsekuen

  1. ϕ(ψϕ)
  2. (ϕ(ψχ))((ϕψ)(ϕχ))
  3. (¬ϕ¬ψ)(ψϕ).

Masing-masing pola ini adalah skema aksioma, aturan untuk menghasilkan aksioma dalam jumlah tak terbatas. Misalnya, jika A, B, dan C adalah variabel proposisi, maka A(BA) dan (A¬B)(C(A¬B)) keduanya merupakan contoh dari skema aksioma 1, dan karenanya merupakan aksioma. Dapat ditunjukkan bahwa hanya dengan tiga skema aksioma dan modus ponens, seseorang dapat membuktikan semua tautologi kalkulus proposisional. Juga dapat ditunjukkan bahwa tidak ada pasangan skema ini yang cukup untuk membuktikan semua tautologi dengan modus ponens.

Lihat pula

Bacaan lebih lanjut

  • Mendelson, Elliot (1987). Introduction to mathematical logic. Belmont, California: Wadsworth & Brooks.

Pranala luar

Referensi

  1. Ihsani, Annisa,. Teka-teki terakhir. ISBN 9786020302980.
  2. Annisa Ihsani. TeenLit: Teka-Teki terakhir. Gramedia Pustaka Utama. 2017-10-30. ISBN 9786020302980.
  3. Ilmu dalam perspektif. Yayasan Obor Indonesia. 1999. ISBN 9789794612811.
  4. Axiom — Powszechna Encyklopedia Filozofii. Polskie Towarzystwo Tomasza z Akwinu.
  5. Andayani. Problema dan Aksioma dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia. CV BUDI UTAMA. 2015. hlm. 63. ISBN 978-602-280-698-1.
  6. Wolff, P. Breakthroughs in Mathematics, 1963, New York: New American Library, halaman 47–48.
  7. Heath, T. 1956. The Thirteen Books of Euclid's Elements. New York: Dover, halaman 200.
  8. Axiom — Powszechna Encyklopedia Filozofii. Polskie Towarzystwo Tomasza z Akwinu.
  9. Aristotle, Metaphysics Bk IV, Chapter 3, 1005b "Physics also is a kind of Wisdom, but it is not the first kind. – And the attempts of some of those who discuss the terms on which truth should be accepted, are due to want of training in logic; for they should know these things already when they come to a special study, and not be inquiring into them while they are listening to lectures on it." W.D. Ross translation, in The Basic Works of Aristotle, ed. Richard McKeon, (Random House, New York, 1941)
  10. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  11. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  12. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  13. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  14. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  15. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  16. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  17. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  18. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  19. Panu Raatikainen. Gödel's Incompleteness Theorems. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2018.
  20. Peter Koellner. The Continuum Hypothesis. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2019.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28712534 (2025-12-18T02:00:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.