Lompat ke isi

Penalaran abduktif: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29504024; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Penalaran abduktif''' (dikenal dengan sebutan penalaran abduksi atau dalam [[bahasa Latin]] "''abduction''") adalah proses mempelajari suatu peristiwa atau fenomena untuk menghasilkan [[hipotesis]] penjelasan yang mungkin. Abad ke-18 seorang pemikir pragmatis [[Charles Sander Pierce]] (1893) asal Amerika menemukan sebuah pemikiran penalaran baru yang diberi nama abduksi. Pemikiran yang konon sesungguhnya bagian dari pemikiran [[Aristoteles]] yang dikenal dengan sebutan "''apagoge''".  Berbeda dengan [[Metode deduksi|penalaran deduktif]], penalaran abduktf menghasilkan kesimpulan yang masuk akal tetapi tidak memverifikasinya secara positif. Kesimpulan abduktif dengan demikian memenuhi syarat sebagai memiliki sisa ketidakpastian atau keraguan, yang dinyatakan dalam istilah mundur seperti "terbaik tersedia" atau "paling mungkin". Seseorang dapat memahami penalaran abduktif sebagai kesimpulan untuk penjelasan terbaik meskipun tidak semua penggunaan istilah tersebut sama persis.
[[File:Charles_Sanders_Peirce_theb3558.jpg|thumb|right|280px|Charles Sanders]]
 
'''Penalaran abduktif''' (dikenal dengan sebutan penalaran abduksi atau dalam [[bahasa Latin]] "''abduction''") adalah proses mempelajari suatu peristiwa atau fenomena untuk menghasilkan [[hipotesis]] penjelasan yang mungkin.<ref>APA Dictionary of Psychology. [https://dictionary.apa.org/abduction Abduction]. ''dictionary.apa.org''.</ref> Abad ke-18 seorang pemikir pragmatis [[Charles Sander Pierce]] (1893) asal Amerika<ref>Stanford Encyclopedia of Philosophy. [https://plato.stanford.edu/entries/peirce/ Charles Sanders Peirce]. ''plato.stanford.edu''. 2001.</ref> menemukan sebuah pemikiran penalaran baru yang diberi nama abduksi. Pemikiran yang konon sesungguhnya bagian dari pemikiran [[Aristoteles]] yang dikenal dengan sebutan "''apagoge''".  Berbeda dengan [[Metode deduksi|penalaran deduktif]], penalaran abduktf menghasilkan kesimpulan yang masuk akal tetapi tidak memverifikasinya secara positif. Kesimpulan abduktif dengan demikian memenuhi syarat sebagai memiliki sisa ketidakpastian atau keraguan, yang dinyatakan dalam istilah mundur seperti "terbaik tersedia" atau "paling mungkin".<ref>Elliott Sober. [https://cloudflare-ipfs.com/ipfs/bafykbzacecpjrejihd5bwoevu6bvqcpycmevjysvcou4utffnopl6lrwyxjc6?filename=Elliott%20Sober%20-%20Core%20Questions%20in%20Philosophy-Prentice%20Hall%20%282004%29.pdf Core Questions in Philosophy]. Pearson College Div. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0131898691.</ref> Seseorang dapat memahami penalaran abduktif sebagai kesimpulan untuk penjelasan terbaik meskipun tidak semua penggunaan istilah tersebut sama persis.<ref>Elliott Sober. [https://cloudflare-ipfs.com/ipfs/bafykbzacecpjrejihd5bwoevu6bvqcpycmevjysvcou4utffnopl6lrwyxjc6?filename=Elliott%20Sober%20-%20Core%20Questions%20in%20Philosophy-Prentice%20Hall%20%282004%29.pdf Core Questions in Philosophy]. Pearson College Div. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0131898691.</ref>


== Definisi ==
== Definisi ==
Penalaran abduktif merupakan sudut pandang lain yang tidak kontroversial penalaran induksi dan deduksi karena bentuk penalaran yang berasal dari akar yang sama. Namun, penalaran abduktif mencakup proses penjelasan terbaik yang lebih luas. Penalaran abduktif  disebut juga penalaran abduksi adalah suatu konsep-konsep pengamatan atau serangkaian yang dimulai dengan pengamatan dan kemudian mencari kesimpulan yang paling sederhana dan paling mungkin dari pengamatan secara eksklusif. Penalaran ini memungkinkan menyimpulkan <math>a</math> sebagai penjelasan dari <math>b</math>. Sebagai hasil dari kesimpulan ini, penculikan memungkinkan prasyarat <math>a</math> untuk diculik dari konsekuensinya <math>b</math>. Misalnya, dalam permainan bilyar, setelah mengukur dan melihat ''bola delapan'' bergerak ke arah kita, kita dapat menduga bahwa bola ''cue'' (isyarat) mengenai bola delapan. Pukulan bola cue akan menjelaskan pergerakan bola delapan. Ini berfungsi sebagai hipotesis yang menjelaskan pengamatan kita. Mengingat banyak penjelasan yang mungkin untuk pergerakan bola delapan, penculikan kita tidak membuat kita yakin bahwa bola cue benar-benar mengenai bola delapan, tetapi dengan asumsi kita dapat mengarahkan yang ada disekitar kita. Meskipun banyak kemungkinan penjelasan untuk setiap proses fisik yang kita amati, kita cenderung memberikan satu penjelasan atau beberapa penjelasan untuk proses itu dengan harapan bahwa kita dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik di sekitar kita dan mengabaikan beberapa kemungkinan. Digunakan dengan benar, penalaran abduktif dapat menjadi sumber prioritas berguna dalam [[Statistika Bayes|statistik Bayesian]].
Penalaran abduktif merupakan sudut pandang lain yang tidak kontroversial penalaran induksi dan deduksi karena bentuk penalaran yang berasal dari akar yang sama. Namun, penalaran abduktif mencakup proses penjelasan terbaik yang lebih luas.<ref>Novi Kurnia. [https://www.google.co.id/books/edition/BIG_DATA_UNTUK_ILMU_SOSIAL/yHxJEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=0 Big Data Untuk Ilmu Sosial: Antara Metode Riset Dan Realitas Sosial]. UGM PRESS. 2021. hlm. 51. ISBN 978-602-386-951-0.</ref> Penalaran abduktif  disebut juga penalaran abduksi adalah suatu konsep-konsep pengamatan atau serangkaian yang dimulai dengan pengamatan dan kemudian mencari kesimpulan yang paling sederhana dan paling mungkin dari pengamatan secara eksklusif.<ref>Elliott Sober. [https://cloudflare-ipfs.com/ipfs/bafykbzacecpjrejihd5bwoevu6bvqcpycmevjysvcou4utffnopl6lrwyxjc6?filename=Elliott%20Sober%20-%20Core%20Questions%20in%20Philosophy-Prentice%20Hall%20%282004%29.pdf Core Questions in Philosophy]. Pearson College Div. 2004. hlm. 9. ISBN 978-0131898691.</ref> Penalaran ini memungkinkan menyimpulkan <math>a</math> sebagai penjelasan dari <math>b</math>. Sebagai hasil dari kesimpulan ini, penculikan memungkinkan prasyarat <math>a</math> untuk diculik dari konsekuensinya <math>b</math>. Misalnya, dalam permainan bilyar, setelah mengukur dan melihat ''bola delapan'' bergerak ke arah kita, kita dapat menduga bahwa bola ''cue'' (isyarat) mengenai bola delapan.<ref>Jean-Pierre Dussault. [https://hal.archives-ouvertes.fr/hal-01653443/document Computational pool: an OR-optimization point of view]. ''Encyclopedia of Operations Research and Management Science''. 2010. hlm. 3. doi:10.1002/9780470400531.eorms0108.</ref> Pukulan bola cue akan menjelaskan pergerakan bola delapan. Ini berfungsi sebagai hipotesis yang menjelaskan pengamatan kita. Mengingat banyak penjelasan yang mungkin untuk pergerakan bola delapan, penculikan kita tidak membuat kita yakin bahwa bola cue benar-benar mengenai bola delapan, tetapi dengan asumsi kita dapat mengarahkan yang ada disekitar kita. Meskipun banyak kemungkinan penjelasan untuk setiap proses fisik yang kita amati, kita cenderung memberikan satu penjelasan atau beberapa penjelasan untuk proses itu dengan harapan bahwa kita dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik di sekitar kita dan mengabaikan beberapa kemungkinan. Digunakan dengan benar, penalaran abduktif dapat menjadi sumber prioritas berguna dalam [[Statistika Bayes|statistik Bayesian]].


== Kondisi ==
== Kondisi ==
=== Abduktif berbasis logika ===
=== Abduktif berbasis logika ===
Abduktif berbasis logika diartikan secara [[logika]] dengan menyatakan bahwa penjelasan dicapai melalui penggunaan teori logis <math>T</math> mewakili [[Domain wacana|domain]] (pernyataan) dan satu set pengamatan <math>O</math>. abduksi yang dimaksudkan ialah proses menurunkan satu set penjelasan dari <math>O</math> berdasarkan <math>T</math> dan memilih salah satu dari penjelasan itu. Maka, untuk <math>E</math> menjadi penjelasan <math>O</math> berdasarkan <math>T</math>, itu harus memenuhi dua kondisi yakni
Abduktif berbasis logika <ref>Thomas Eiter. [https://www.dbai.tuwien.ac.at/staff/pichler/complexity/eiter1995.pdf The Complexity of Logic-Based Abduction]. ''Journal of the ACM''. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 1. doi:10.1145/200836.200838.</ref> diartikan secara [[logika]] dengan menyatakan bahwa penjelasan dicapai melalui penggunaan teori logis<ref>Elliott Sober. [https://cloudflare-ipfs.com/ipfs/bafykbzacecpjrejihd5bwoevu6bvqcpycmevjysvcou4utffnopl6lrwyxjc6?filename=Elliott%20Sober%20-%20Core%20Questions%20in%20Philosophy-Prentice%20Hall%20%282004%29.pdf Core Questions in Philosophy]. Pearson College Div. 2004. hlm. 10. ISBN 978-0131898691.</ref> <math>T</math> mewakili [[Domain wacana|domain]] (pernyataan) dan satu set pengamatan <math>O</math>. abduksi yang dimaksudkan ialah proses menurunkan satu set penjelasan dari <math>O</math> berdasarkan <math>T</math> dan memilih salah satu dari penjelasan itu. Maka, untuk <math>E</math> menjadi penjelasan <math>O</math> berdasarkan <math>T</math>, itu harus memenuhi dua kondisi yakni


: Kondisi pertama ialah <math>O</math> mengikuti dari <math>E</math> dan <math>T</math> dan
: Kondisi pertama ialah <math>O</math> mengikuti dari <math>E</math> dan <math>T</math> dan
: Kondisi kedua ialah <math>E</math> konsisten dengan <math>T</math>.
: Kondisi kedua ialah <math>E</math> konsisten dengan <math>T</math>.


Pada logika formal, <math>O</math> dan <math>E</math> diasumsikan sebagai set [[literal]] dengan dua syarat untuk <math>E</math> menjadi penjelasan dari <math>O</math> sesuai teori <math>T</math> yakni
Pada logika formal, <math>O</math> dan <math>E</math> diasumsikan sebagai set [[literal]]<ref>Thomas Eiter. [https://www.dbai.tuwien.ac.at/staff/pichler/complexity/eiter1995.pdf The Complexity of Logic-Based Abduction]. ''Journal of the ACM''. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 3. doi:10.1145/200836.200838.</ref> dengan dua syarat untuk <math>E</math> menjadi penjelasan dari <math>O</math> sesuai teori <math>T</math> yakni


: <math>T \cup E \models O;</math>
: <math>T \cup E \models O;</math>
: <math>T \cup E</math> konsisten.
: <math>T \cup E</math> konsisten.


Di antara penjelasan yang mungkin ialah <math>E</math> memenuhi dua kondisi ini, beberapa kondisi minimalitas lainnya biasanya dipakai untuk menghindari fakta yang tidak relevan (tidak berkontribusi pada entailmen dari <math>O</math>) yang disertakan dalam penjelasan. Abduksi kemudian diproses dengan memilih beberapa anggota <math>E</math> dengan kriteria dalam memilih anggota yang mewakili penjelasan "terbaik" mencakup [[kesederhanaan]], [[probabilitas]] sebelumnya, atau kekuatan penjelas dari suatu penjelasan.
Di antara penjelasan yang mungkin ialah <math>E</math> memenuhi dua kondisi ini, beberapa kondisi minimalitas lainnya biasanya dipakai untuk menghindari fakta yang tidak relevan (tidak berkontribusi pada entailmen dari <math>O</math>) yang disertakan dalam penjelasan.<ref>Thomas Eiter. [https://www.dbai.tuwien.ac.at/staff/pichler/complexity/eiter1995.pdf The Complexity of Logic-Based Abduction]. ''Journal of the ACM''. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 4. doi:10.1145/200836.200838.</ref> Abduksi kemudian diproses dengan memilih beberapa anggota <math>E</math> dengan kriteria dalam memilih anggota yang mewakili penjelasan "terbaik" mencakup [[kesederhanaan]], [[probabilitas]] sebelumnya, atau kekuatan penjelas dari suatu penjelasan.


Sebuah metode penalaran abduksi secara logika digunakan pada klasik orde pertama berdasarkan [[kalkulus]] berurutan dan berganda, berdasarkan kerangka tabel aux [[semantik]] (tabel analitik) untuk mewakili konteks wacana. Metodenya bagus dan lengkap dan bekerja untuk logika orde pertama penuh, tanpa memerlukan pengurangan awal formula ke dalam bentuk normal. Metode ini juga telah diperluas ke logika modal .
Sebuah metode penalaran abduksi secara logika digunakan pada klasik orde pertama berdasarkan [[kalkulus]] berurutan dan berganda, berdasarkan kerangka tabel aux [[semantik]] (tabel analitik) untuk mewakili konteks wacana.<ref>Atocha Aliseda-Llera. [https://uberty.org/wp-content/uploads/2015/12/Llera_A.A._Seeking_Explanations_Abduction.pdf Seeking Explanations: Abduction in Logic, Philosophy of Science and Artificial Intelligence (ILLC dissertation series)]. Institute for Logic, Language and Computation. 1997. hlm. 23. ISBN 9074795730.</ref> Metodenya bagus dan lengkap dan bekerja untuk logika orde pertama penuh, tanpa memerlukan pengurangan awal formula ke dalam bentuk normal. Metode ini juga telah diperluas ke logika modal .


== Sejarah ==
== Sejarah ==
=== Peirce ===
=== Peirce ===
[[Charles Sanders Peirce]] (1839–1914) adalah seorang filsuf Amerika yang memperkenalkan abduksi ke dalam logika modern berfungsi untuk menawarkan suatu hipotesis yang tentunya mampu memberikan penjelasan terhadap seluruh peristiwa secara akurat dan mendekati kebenaran. Selang waktu bertahun-tahun ia disebut seperti ''hipotesis'' inferensi, ''abdutif'', ''praduga'', dan ''retroduksi''. Ia menganggapnya bahwa topik dalam logika sebagai bidang normatif dalam filsafat, bukanlah suatu logika formal atau [[matematika murni]], dan akhirnya sebagai topik juga dalam ekonomi penelitian. Silogisme abduksi ini biasanya diwali oleh sebuah fakta atau peristiwa, kemudian disimpulkan dalam bentuk hipotesis unyuk menjelasakan peristiwa tersebut. Dalam hal ini charles memberikan 2 macam ciri dari metode abduksi ini. Ciri yang '''pertama''', abduksi menawarkan suatu hipotesis yang memberikan penjelasan atau eksplanasi yang ''probable''. ''Probable'' di sini maksudnya adalah untuk menjelaskan dan menegaskan bahwa hipotesis itu merumakan satu kemungkinan penjelasan. Sifat dari hipotesis itu adalah sebagai [[konjektur]], atau sering disebut sebagai dugaan. Ilmuwan yang menjelaskan suatu pengetahuan harus benar-benar tahu bahwa, jika pengetahuannya benar, maka fakta yang diobservasi akan dapat dijelaskan secara benar pula. Kebenaran yang terkandung di dalam hipotesis itu harus diuji melalui proses verifikasi. Ciri yang '''kedua''', abduksi pun dapat memberikan eksplanasi atau penjelasan bagi fakta yang mungkin belum dijelaskan atau bahkan tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat diobservasi secara langsung. Berdasarkan ciri yang kedua ini, sedikit ada pertentangan dari seorang tokoh [[Auguste Comte]] dengan positivisme-nya yang beranggapan bahwa semua hipotesis seharusnya dapat secara langsung menjelaskan fakta. Tapi bagi Pierce, jika hipotesis itu mampu menjelaskan fakta yang bisa diamati, sekaligus juga fakta-fakta yang tidak bisa diamati, itu sudah cukup untuk dianggap sebagai teori.
[[Charles Sanders Peirce]] (1839–1914) adalah seorang filsuf Amerika<ref>Stanford Encyclopedia of Philosophy. [https://plato.stanford.edu/entries/peirce/ Charles Sanders Peirce]. ''plato.stanford.edu''. 2001.</ref> yang memperkenalkan abduksi ke dalam logika modern berfungsi untuk menawarkan suatu hipotesis yang tentunya mampu memberikan penjelasan terhadap seluruh peristiwa secara akurat dan mendekati kebenaran. Selang waktu bertahun-tahun ia disebut seperti ''hipotesis'' inferensi, ''abdutif'', ''praduga'', dan ''retroduksi''. Ia menganggapnya bahwa topik dalam logika sebagai bidang normatif dalam filsafat, bukanlah suatu logika formal atau [[matematika murni]], dan akhirnya sebagai topik juga dalam ekonomi penelitian. Silogisme abduksi ini biasanya diwali oleh sebuah fakta atau peristiwa, kemudian disimpulkan dalam bentuk hipotesis unyuk menjelasakan peristiwa tersebut. Dalam hal ini charles memberikan 2 macam ciri dari metode abduksi ini. Ciri yang '''pertama''', abduksi menawarkan suatu hipotesis yang memberikan penjelasan atau eksplanasi yang ''probable''. ''Probable'' di sini maksudnya adalah untuk menjelaskan dan menegaskan bahwa hipotesis itu merumakan satu kemungkinan penjelasan. Sifat dari hipotesis itu adalah sebagai [[konjektur]], atau sering disebut sebagai dugaan. Ilmuwan yang menjelaskan suatu pengetahuan harus benar-benar tahu bahwa, jika pengetahuannya benar, maka fakta yang diobservasi akan dapat dijelaskan secara benar pula. Kebenaran yang terkandung di dalam hipotesis itu harus diuji melalui proses verifikasi. Ciri yang '''kedua''', abduksi pun dapat memberikan eksplanasi atau penjelasan bagi fakta yang mungkin belum dijelaskan atau bahkan tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat diobservasi secara langsung. Berdasarkan ciri yang kedua ini, sedikit ada pertentangan dari seorang tokoh [[Auguste Comte]] dengan positivisme-nya yang beranggapan bahwa semua hipotesis seharusnya dapat secara langsung menjelaskan fakta. Tapi bagi Pierce, jika hipotesis itu mampu menjelaskan fakta yang bisa diamati, sekaligus juga fakta-fakta yang tidak bisa diamati, itu sudah cukup untuk dianggap sebagai teori.


Karena dua tahap pengembangan dan perluasan dari hipotesis dalam [[Pertanyaan|penyelidikan]] ilmiah antara abdusi dan juga [[Pembuktian melalui induksi|induksi]] sering dipecah menjadi satu konsep menyeluruh dalam suatu hipotesis. Itulah sebabnya, dalam [[metode ilmiah]] yang dikenalan oleh [[Galileo Galilei|Galileo]] dan [[Francis Bacon|Bacon]] yakni tahap abduktif dari pembentukan hipotesis yang dikonsepkan secara sederhana sebagai induksi. Jadi, pada abad kedua puluh, penalaran ini diperkuat oleh penjelasan [[Karl Popper]] tentang model [[Model hipotetis-deduktif|hipotetis-deduktif]], di mana hipotesis dianggap hanya "dugaan" terhadap semangat Peirce. Namun, ketika pembentukan hipotesis dianggap sebagai hasil dari suatu proses, menjadi jelas bahwa "tebakan" ini telah dicoba dan dibuat lebih kuat dalam pemikiran sebagai tahap yang diperlukan untuk memperoleh status hipotesis. Memang, banyak abduksi yang ditolak atau diubah secara besar-besaran oleh abduksi berikutnya sebelum mencapai tahap ini.
Karena dua tahap pengembangan dan perluasan dari hipotesis dalam [[Pertanyaan|penyelidikan]] ilmiah antara abdusi dan juga [[Pembuktian melalui induksi|induksi]] sering dipecah menjadi satu konsep menyeluruh dalam suatu hipotesis. Itulah sebabnya, dalam [[metode ilmiah]] yang dikenalan oleh [[Galileo Galilei|Galileo]] dan [[Francis Bacon|Bacon]] yakni tahap abduktif dari pembentukan hipotesis yang dikonsepkan secara sederhana sebagai induksi. Jadi, pada abad kedua puluh, penalaran ini diperkuat oleh penjelasan [[Karl Popper]] tentang model [[Model hipotetis-deduktif|hipotetis-deduktif]], di mana hipotesis dianggap hanya "dugaan" terhadap semangat Peirce.<ref>Roberto Rossi. [https://core.ac.uk/download/pdf/82961835.pdf Confidence-based Representation in Decision Making]. ''Edinburgh Research Explorer''. 2017. hlm. 1.</ref> Namun, ketika pembentukan hipotesis dianggap sebagai hasil dari suatu proses, menjadi jelas bahwa "tebakan" ini telah dicoba dan dibuat lebih kuat dalam pemikiran sebagai tahap yang diperlukan untuk memperoleh status hipotesis. Memang, banyak abduksi yang ditolak atau diubah secara besar-besaran oleh abduksi berikutnya sebelum mencapai tahap ini.


Sebelum tahun 1900, Peirce memperlakukan abduksi sebagai penggunaan aturan yang diketahui untuk menjelaskan suatu pengamatan. Misalnya, sudah menjadi aturan umum bahwa, jika hujan, rumput menjadi basah. Jadi, untuk menjelaskan fakta bahwa rerumputan di halaman ini basah, orang ''mengatakan'' bahwa telah turun hujan. Abduksi dapat menyebabkan kesimpulan yang salah jika aturan lain yang mungkin menjelaskan pengamatan tidak diperhitungkan karena bisa saja rumput basah karena [[embun]]. Hal Ini tetap menjadi penggunaan umum istilah "abduksi" dalam [[ilmu sosial]] dan [[kecerdasan buatan]].
Sebelum tahun 1900, Peirce<ref>Roberto Rossi. [https://core.ac.uk/download/pdf/82961835.pdf Confidence-based Representation in Decision Making]. ''Edinburgh Research Explorer''. 2017. hlm. 1.</ref> memperlakukan abduksi sebagai penggunaan aturan yang diketahui untuk menjelaskan suatu pengamatan. Misalnya, sudah menjadi aturan umum bahwa, jika hujan, rumput menjadi basah. Jadi, untuk menjelaskan fakta bahwa rerumputan di halaman ini basah, orang ''mengatakan'' bahwa telah turun hujan. Abduksi dapat menyebabkan kesimpulan yang salah jika aturan lain yang mungkin menjelaskan pengamatan tidak diperhitungkan karena bisa saja rumput basah karena [[embun]]. Hal Ini tetap menjadi penggunaan umum istilah "abduksi" dalam [[ilmu sosial]] dan [[kecerdasan buatan]].


Peirce secara konsisten mencirikannya sebagai jenis inferensi yang memulai hipotesis dengan menyimpulkan dalam penjelasan, meskipun tidak pasti, untuk beberapa pengamatan (anomali) yang sangat aneh atau mengejutkan yang dinyatakan dalam sebuah premis. Pada awal tahun 1865 ia menulis bahwa semua konsepsi tentang sebab dan akibat dicapai melalui kesimpulan hipotetis. Pada tahun 1900-an ia menulis kembali bahwa semua isi penjelasan teori dicapai melalui abduksi. Dalam hal lain Peirce merevisi pandangannya tentang penculikan selama bertahun-tahun.
Peirce secara konsisten mencirikannya sebagai jenis inferensi yang memulai hipotesis dengan menyimpulkan dalam penjelasan, meskipun tidak pasti, untuk beberapa pengamatan (anomali) yang sangat aneh atau mengejutkan yang dinyatakan dalam sebuah premis. Pada awal tahun 1865<ref>Roberto Rossi. [https://core.ac.uk/download/pdf/82961835.pdf Confidence-based Representation in Decision Making]. ''Edinburgh Research Explorer''. 2017. hlm. 1.</ref> ia menulis bahwa semua konsepsi tentang sebab dan akibat dicapai melalui kesimpulan hipotetis. Pada tahun 1900-an ia menulis kembali bahwa semua isi penjelasan teori dicapai melalui abduksi. Dalam hal lain Peirce merevisi pandangannya tentang penculikan selama bertahun-tahun.


=== Gilbert Harman ===
=== Gilbert Harman ===
[[Gilbert Harman]] yang telah menjadi profesor filsafat di [[Universitas Princeton]], Princeton sejak tahun 1963. Catatan Harman tahun 1965 tentang peran "inferensi untuk penjelasan terbaik" menyimpulkan bahwa keberadaan apa yang kita butuhkan untuk penjelasan terbaik dari fenomena yang dapat diamati dan sangat berpengaruh. Hal inilah yang disebut dengan induktif.
[[Gilbert Harman]] yang telah menjadi profesor filsafat di [[Universitas Princeton]], Princeton sejak tahun 1963.<ref>Jennifer Greenstein Altmann. [https://www.princeton.edu/news/2006/10/26/father-daughter-family-ties-bind-philosophers Like father, like daughter: Family ties bind philosophers]. ''princeton.edu''. 2006.</ref> Catatan Harman tahun 1965 tentang peran "inferensi untuk penjelasan terbaik" menyimpulkan bahwa keberadaan apa yang kita butuhkan untuk penjelasan terbaik dari fenomena yang dapat diamati dan sangat berpengaruh. Hal inilah yang disebut dengan induktif.


=== Stephen Jay Gould ===
=== Stephen Jay Gould ===
[[Stephen Jay Gould]] dalam menjawab hipotesis Omphalos karya dalam The Flamingo’s Smile (1985) dan Adam’s Navel (1995) menyatakan bahwa induksi hanya hipotesis yang dapat dibuktikan salah yang berada dalam domain sains dan hanya hipotesis ini yang merupakan penjelasan yang baik dari fakta yang layak untuk disimpulkan. Berhubungan dengan entitas dari fenomena atau konsepsi hukum alam yang datang secara intuitif sebagai fakta yang terbukti dengan sendirinya tanpa upaya pemikiran yang terkonsentrasi. Kemudian dalam The Flamingo’s Smile - Darwin di sini tampaknya lebih berjasa dalam penemuan itu daripada yang saya miliki—bagi saya itu tidak tampak sebagai penemuan. Penyelesaiannya dengan alasan induktif yang perlahan-lahan dan hati-hati telah membuat jalannya secara sintetik dari fakta ke fakta dan seterusnya.
[[Stephen Jay Gould]] dalam menjawab hipotesis Omphalos karya dalam The Flamingo’s Smile (1985)<ref>Stephen Jay Gould. [https://www.docdroid.net/file/view/w1ebYlN/flamingos-smile-stephen-jay-gould-pdf.pdf The Flamingo’s Smile: Reflections in Natural History]. W. W. NORTON & COMPANY. 1985. hlm. 141. ISBN 978-0-393-30375-9.</ref> dan Adam’s Navel (1995) menyatakan bahwa induksi hanya hipotesis yang dapat dibuktikan salah yang berada dalam domain sains dan hanya hipotesis ini yang merupakan penjelasan yang baik dari fakta yang layak untuk disimpulkan. Berhubungan dengan entitas dari fenomena atau konsepsi hukum alam yang datang secara intuitif sebagai fakta yang terbukti dengan sendirinya tanpa upaya pemikiran yang terkonsentrasi. Kemudian dalam The Flamingo’s Smile - Darwin di sini tampaknya lebih berjasa dalam penemuan itu daripada yang saya miliki—bagi saya itu tidak tampak sebagai penemuan. Penyelesaiannya dengan alasan induktif yang perlahan-lahan dan hati-hati telah membuat jalannya secara sintetik dari fakta ke fakta dan seterusnya.<ref>Stephen Jay Gould. [https://www.docdroid.net/file/view/w1ebYlN/flamingos-smile-stephen-jay-gould-pdf.pdf The Flamingo’s Smile: Reflections in Natural History]. W. W. NORTON & COMPANY. 1985. hlm. 446. ISBN 978-0-393-30375-9.</ref>


== Pengaplikasian ==
== Pengaplikasian ==
=== Kecerdasan buatan ===
=== Kecerdasan buatan ===
Dalam kecerdasan buatan dikatakan ilmu desain AI mirip dengan sains tradisional dalam hal perhatian untuk membuat sistem yang menunjukkan kepada kita hal-hal baru tentang fenomena kecerdasan, seperti penalaran dan pemecahan masalah. Aplikasi dalam kecerdasan buatan termasuk diagnosis kesalahan, revisi keyakinan, dan perencanaan otomatis. Aplikasi abduktif dari data abstraksi yang paling langsung adalah pendeteksian kesalahan secara otomatis dalam sistem menggunakan teori yang berhubungan dengan kesalahan, dampak dan serangkaian efek yang diamati, abduktif dapat digunakan untuk menurunkan rangkaian kesalahan yang mungkin menjadi penyebab masalah.
Dalam kecerdasan buatan dikatakan ilmu desain AI mirip dengan sains tradisional dalam hal perhatian untuk membuat sistem yang menunjukkan kepada kita hal-hal baru tentang fenomena kecerdasan, seperti penalaran dan pemecahan masalah.<ref>John R. Josephson. [https://cloudflare-ipfs.com/ipfs/bafykbzacedhoqvt3gnyzkhlivuesg6zp3sttkfrrglcwmlbmm5al4t7av7vpu?filename=John%20R.%20Josephson%2C%20Susan%20G.%20Josephson%20-%20Abductive%20Inference_%20Computation%2C%20Philosophy%2C%20Technology%20%281994%29.pdf Abductive Inference: Computation, Philosophy, Technology]. Cambridge University Press. 1994. hlm. 35. ISBN 9780521575454.</ref> Aplikasi dalam kecerdasan buatan termasuk diagnosis kesalahan, revisi keyakinan, dan perencanaan otomatis. Aplikasi abduktif dari data abstraksi yang paling langsung adalah pendeteksian kesalahan secara otomatis dalam sistem menggunakan teori yang berhubungan dengan kesalahan, dampak dan serangkaian efek yang diamati, abduktif dapat digunakan untuk menurunkan rangkaian kesalahan yang mungkin menjadi penyebab masalah.<ref>John R. Josephson. [https://id1lib.org/ireader/894777 Abductive Inference: Computation, Philosophy, Technology]. Cambridge University Press. 1994. hlm. 1-2. ISBN 9780521575454.</ref>


=== Pengobatan ===
=== Pengobatan ===
Dalam kedokteran, abduktif dapat dilihat sebagai komponen evaluasi dan penilaian klinis.
Dalam kedokteran, abduktif dapat dilihat sebagai komponen evaluasi dan penilaian klinis.<ref>Claudio Rapezzi. [https://www.bmj.com/content/bmj/331/7531/1491.full.pdf White coats and fingerprints: diagnostic reasoning in medicine and investigative methods of fictional detectives]. ''British Medical Journal''. 2005. hlm. 1491. doi:10.1136/bmj.331.7531.1491.</ref><ref>Carlos Rejón Altable. [https://www.karger.com/Article/Pdf/337968 Logic structure of clinical judgment and its relation to medical and psychiatric semiology]. ''Psychopathology''. 2012. Vol. 45 (6). hlm. 344–51. doi:10.1159/000337968.</ref>


=== Perencanaan otomatis ===
=== Perencanaan otomatis ===
Dalam perencanaan otomatis dikatakan bahwa abduktif juga dapat digunakan untuk membuat model perencanaan otomatis. Mengingat teori logis yang menghubungkan kejadian tindakan dengan efeknya (misalnya, rumus kalkulus peristiwa), masalah menemukan rencana untuk mencapai keadaan dapat dimodelkan sebagai masalah penculikan satu set literal yang menyiratkan bahwa keadaan akhir adalah negara tujuan.
Dalam perencanaan otomatis dikatakan bahwa abduktif juga dapat digunakan untuk membuat model perencanaan otomatis.<ref>Murray Shanahan. [https://www.doc.ic.ac.uk/~mpsha/planningJLP.pdf An abductive event calculus planner]. ''The Journal of Logic Programming''. 2000. Vol. 44 (1-3). hlm. 230. doi:10.1016/S0743-1066(99)00077-1.</ref> Mengingat teori logis yang menghubungkan kejadian tindakan dengan efeknya (misalnya, rumus kalkulus peristiwa), masalah menemukan rencana untuk mencapai keadaan dapat dimodelkan sebagai masalah penculikan satu set literal yang menyiratkan bahwa keadaan akhir adalah negara tujuan.


=== Analisis intelijen ===
=== Analisis intelijen ===
Dalam analisis intelijen dikatakan bahwa analisis hipotesis yang bersaing dan jaringan Bayesian, penalaran abduktif probabilistik digunakan secara luas. Demikian pula dalam diagnosis medis dan penalaran hukum, metode yang sama digunakan abduktif dalam banyak contoh kesalahan, terutama yang disebabkan oleh kesalahan tarif dasar dan kesalahan jaksa.
Dalam analisis intelijen dikatakan bahwa analisis hipotesis yang bersaing dan jaringan Bayesian, penalaran abduktif probabilistik digunakan secara luas. Demikian pula dalam diagnosis medis dan penalaran hukum, metode yang sama digunakan abduktif dalam banyak contoh kesalahan, terutama yang disebabkan oleh kesalahan tarif dasar dan kesalahan jaksa.<ref>Christopher W. Karvetski. [https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s40070-013-0001-x.pdf Structuring and analyzing competing hypotheses with Bayesian networks for intelligence analysis]. ''EURO Journal on Decision Processes''. 2013. Vol. 1 (3-4). hlm. 205-231. doi:10.1007/s40070-013-0001-x.</ref>


=== Filsafat ilmu ===
=== Filsafat ilmu ===
Dalam [[filsafat ilmu]], abduktif telah menjadi metode inferensi kunci bagi filosofis untuk mendukung realisme ilmiah dan banyak perdebatan tentang realisme ilmiah difokuskan pada apakah abduktif adalah metode inferensi yang dapat diterima. Teori filosofis yang diartikulasikan dengan baik dapat terdiri dari beberapa prinsip, sebagai informatif, sederhana, dan  konsisten sehingga lebih kuat dan lebih mendasar untuk sains daripada logika lainnya teori, hal ini dikemukakan oleh Williamson (2017).
Dalam [[filsafat ilmu]], abduktif telah menjadi metode inferensi kunci bagi filosofis untuk mendukung realisme ilmiah dan banyak perdebatan tentang realisme ilmiah difokuskan pada apakah abduktif adalah metode inferensi yang dapat diterima. Teori filosofis yang diartikulasikan dengan baik dapat terdiri dari beberapa prinsip, sebagai informatif, sederhana, dan  konsisten sehingga lebih kuat dan lebih mendasar untuk sains daripada logika lainnya teori, hal ini dikemukakan oleh Williamson (2017).<ref>Diego Tajer. [https://www.redalyc.org/journal/3400/340067606005/340067606005.pdf Logic as a puzzle-solving activity]. ''Análisis Filosófico''. 2021. Vol. 41 (1). hlm. 122. doi:10.36446/af.2021.361.</ref>


=== Linguistik sejarah ===
=== Linguistik sejarah ===
Dalam sejarah linguistik dikatakan bahwa abduktif selama pemerolehan bahasa sering dianggap sebagai bagian penting dari proses [[perubahan bahasa]] seperti analisis ulang dan [[analogi]]. Pengaplikasian penalaran dalam linguistik sejarah yang didasarkan pada kesalahpahaman dengan bergantung pada model yang dibatalkan, yang kemudian ditolak oleh Peirce sendiri. Kemudian dengan hal itu, ia menggabungkan dua kerangka kerja yang tidak kompatibel.
Dalam sejarah linguistik dikatakan bahwa abduktif selama pemerolehan bahasa sering dianggap sebagai bagian penting dari proses [[perubahan bahasa]] seperti analisis ulang dan [[analogi]]. Pengaplikasian penalaran dalam linguistik sejarah yang didasarkan pada kesalahpahaman dengan bergantung pada model yang dibatalkan, yang kemudian ditolak oleh Peirce sendiri. Kemudian dengan hal itu, ia menggabungkan dua kerangka kerja yang tidak kompatibel.<ref>GUY DEUTSCHER. [https://swiki.hfbk-hamburg.de/algorithm/uploads/30/AbductionMisuseLinguistics.pdf On the misuse of the notion of 'abduction' in inguistics]. ''Journal of Linguistics''. 2002. Vol. 38 (3). hlm. 469. doi:10.1017/S002222670200169X.</ref>


=== Linguistik terapan ===
=== Linguistik terapan ===
Dalam penelitian [[linguistik terapan]], penalaran abduktif mulai digunakan sebagai penjelasan alternatif untuk penalaran induktif yang digunakan sebagai pengakuan atas hasil yang diantisipasi dari penyelidikan kualitatif yang berperan dalam membentuk arah analisis. Ini didefinisikan sebagai "penggunaan premis yang tidak jelas berdasarkan pengamatan, mengejar teori untuk mencoba menjelaskannya".
Dalam penelitian [[linguistik terapan]], penalaran abduktif mulai digunakan sebagai penjelasan alternatif untuk penalaran induktif yang digunakan sebagai pengakuan atas hasil<ref>GUY DEUTSCHER. [https://swiki.hfbk-hamburg.de/algorithm/uploads/30/AbductionMisuseLinguistics.pdf On the misuse of the notion of 'abduction' in inguistics]. ''Journal of Linguistics''. 2002. Vol. 38 (3). hlm. 469. doi:10.1017/S002222670200169X.</ref> yang diantisipasi dari penyelidikan kualitatif yang berperan dalam membentuk arah analisis. Ini didefinisikan sebagai "penggunaan premis yang tidak jelas berdasarkan pengamatan, mengejar teori untuk mencoba menjelaskannya".


=== Pemrograman komputer ===
=== Pemrograman komputer ===
Dalam metode formal, logika digunakan untuk menentukan dan membuktikan properti program komputer. Abduktif telah digunakan dalam alat [[penalaran mekanis]] untuk meningkatkan tingkat otomatisasi aktivitas pembuktian. Sebuah teknik yang dikenal sebagai bi-abduksi ialah dengan menggabungkan abduktif dan masalah topik yang digunakan untuk menskalakan teknik penalaran untuk properti memori hingga jutaan baris kode. Abduktif berbasis logika digunakan untuk menyimpulkan prakondisi untuk fungsi individu dalam program, membebaskan manusia dari kebutuhan untuk melakukannya. Seperti halnya perusahaan rintisan (''startup'') yang diakuisisi oleh Facebook terhadap penyebab ketahanan program dan alat analisis program Infer yang menyebabkan ribuan ''bug'' dicegah di basis kode industri. Selain inferensi prasyarat fungsi, abduktif telah digunakan untuk mengotomatisasi inferensi invarian untuk pengulangan program, inferensi spesifikasi kode yang tidak diketahui dan dalam sintesis program itu sendiri.
Dalam metode formal, logika digunakan untuk menentukan dan membuktikan properti program komputer. Abduktif telah digunakan dalam alat [[penalaran mekanis]] untuk meningkatkan tingkat otomatisasi aktivitas pembuktian. Sebuah teknik yang dikenal sebagai bi-abduksi ialah dengan menggabungkan abduktif dan masalah topik yang digunakan untuk menskalakan teknik penalaran untuk properti memori hingga jutaan baris kode.<ref>Cristiano Calcagno. [https://ora.ox.ac.uk/objects/uuid:bcfefe74-a79c-4155-8160-c51f92f05466/download_file?safe_filename=jacm11-biabduction-submitted.pdf Compositional Shape Analysis by Means of Bi-Abduction]. ''Journal of the ACM''. 2011. Vol. 58 (6). hlm. 1. doi:10.1145/2049697.2049700.</ref> Abduktif berbasis logika digunakan untuk menyimpulkan prakondisi untuk fungsi individu dalam program, membebaskan manusia dari kebutuhan untuk melakukannya. Seperti halnya perusahaan rintisan (''startup'') yang diakuisisi oleh Facebook terhadap penyebab ketahanan program dan alat analisis program Infer yang menyebabkan ribuan ''bug'' dicegah di basis kode industri. Selain inferensi prasyarat fungsi, abduktif telah digunakan untuk mengotomatisasi inferensi invarian untuk pengulangan program, inferensi spesifikasi kode yang tidak diketahui dan dalam sintesis program itu sendiri.


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penalaran+abduktif&oldid=29504024 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29504024 (2026-07-29T08:48:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penalaran+abduktif&oldid=29504024 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29504024 (2026-07-29T08:48:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 09.02

Charles Sanders

Penalaran abduktif (dikenal dengan sebutan penalaran abduksi atau dalam bahasa Latin "abduction") adalah proses mempelajari suatu peristiwa atau fenomena untuk menghasilkan hipotesis penjelasan yang mungkin.[1] Abad ke-18 seorang pemikir pragmatis Charles Sander Pierce (1893) asal Amerika[2] menemukan sebuah pemikiran penalaran baru yang diberi nama abduksi. Pemikiran yang konon sesungguhnya bagian dari pemikiran Aristoteles yang dikenal dengan sebutan "apagoge". Berbeda dengan penalaran deduktif, penalaran abduktf menghasilkan kesimpulan yang masuk akal tetapi tidak memverifikasinya secara positif. Kesimpulan abduktif dengan demikian memenuhi syarat sebagai memiliki sisa ketidakpastian atau keraguan, yang dinyatakan dalam istilah mundur seperti "terbaik tersedia" atau "paling mungkin".[3] Seseorang dapat memahami penalaran abduktif sebagai kesimpulan untuk penjelasan terbaik meskipun tidak semua penggunaan istilah tersebut sama persis.[4]

Definisi

Penalaran abduktif merupakan sudut pandang lain yang tidak kontroversial penalaran induksi dan deduksi karena bentuk penalaran yang berasal dari akar yang sama. Namun, penalaran abduktif mencakup proses penjelasan terbaik yang lebih luas.[5] Penalaran abduktif disebut juga penalaran abduksi adalah suatu konsep-konsep pengamatan atau serangkaian yang dimulai dengan pengamatan dan kemudian mencari kesimpulan yang paling sederhana dan paling mungkin dari pengamatan secara eksklusif.[6] Penalaran ini memungkinkan menyimpulkan a sebagai penjelasan dari b. Sebagai hasil dari kesimpulan ini, penculikan memungkinkan prasyarat a untuk diculik dari konsekuensinya b. Misalnya, dalam permainan bilyar, setelah mengukur dan melihat bola delapan bergerak ke arah kita, kita dapat menduga bahwa bola cue (isyarat) mengenai bola delapan.[7] Pukulan bola cue akan menjelaskan pergerakan bola delapan. Ini berfungsi sebagai hipotesis yang menjelaskan pengamatan kita. Mengingat banyak penjelasan yang mungkin untuk pergerakan bola delapan, penculikan kita tidak membuat kita yakin bahwa bola cue benar-benar mengenai bola delapan, tetapi dengan asumsi kita dapat mengarahkan yang ada disekitar kita. Meskipun banyak kemungkinan penjelasan untuk setiap proses fisik yang kita amati, kita cenderung memberikan satu penjelasan atau beberapa penjelasan untuk proses itu dengan harapan bahwa kita dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik di sekitar kita dan mengabaikan beberapa kemungkinan. Digunakan dengan benar, penalaran abduktif dapat menjadi sumber prioritas berguna dalam statistik Bayesian.

Kondisi

Abduktif berbasis logika

Abduktif berbasis logika [8] diartikan secara logika dengan menyatakan bahwa penjelasan dicapai melalui penggunaan teori logis[9] T mewakili domain (pernyataan) dan satu set pengamatan O. abduksi yang dimaksudkan ialah proses menurunkan satu set penjelasan dari O berdasarkan T dan memilih salah satu dari penjelasan itu. Maka, untuk E menjadi penjelasan O berdasarkan T, itu harus memenuhi dua kondisi yakni

Kondisi pertama ialah O mengikuti dari E dan T dan
Kondisi kedua ialah E konsisten dengan T.

Pada logika formal, O dan E diasumsikan sebagai set literal[10] dengan dua syarat untuk E menjadi penjelasan dari O sesuai teori T yakni

TEO;
TE konsisten.

Di antara penjelasan yang mungkin ialah E memenuhi dua kondisi ini, beberapa kondisi minimalitas lainnya biasanya dipakai untuk menghindari fakta yang tidak relevan (tidak berkontribusi pada entailmen dari O) yang disertakan dalam penjelasan.[11] Abduksi kemudian diproses dengan memilih beberapa anggota E dengan kriteria dalam memilih anggota yang mewakili penjelasan "terbaik" mencakup kesederhanaan, probabilitas sebelumnya, atau kekuatan penjelas dari suatu penjelasan.

Sebuah metode penalaran abduksi secara logika digunakan pada klasik orde pertama berdasarkan kalkulus berurutan dan berganda, berdasarkan kerangka tabel aux semantik (tabel analitik) untuk mewakili konteks wacana.[12] Metodenya bagus dan lengkap dan bekerja untuk logika orde pertama penuh, tanpa memerlukan pengurangan awal formula ke dalam bentuk normal. Metode ini juga telah diperluas ke logika modal .

Sejarah

Peirce

Charles Sanders Peirce (1839–1914) adalah seorang filsuf Amerika[13] yang memperkenalkan abduksi ke dalam logika modern berfungsi untuk menawarkan suatu hipotesis yang tentunya mampu memberikan penjelasan terhadap seluruh peristiwa secara akurat dan mendekati kebenaran. Selang waktu bertahun-tahun ia disebut seperti hipotesis inferensi, abdutif, praduga, dan retroduksi. Ia menganggapnya bahwa topik dalam logika sebagai bidang normatif dalam filsafat, bukanlah suatu logika formal atau matematika murni, dan akhirnya sebagai topik juga dalam ekonomi penelitian. Silogisme abduksi ini biasanya diwali oleh sebuah fakta atau peristiwa, kemudian disimpulkan dalam bentuk hipotesis unyuk menjelasakan peristiwa tersebut. Dalam hal ini charles memberikan 2 macam ciri dari metode abduksi ini. Ciri yang pertama, abduksi menawarkan suatu hipotesis yang memberikan penjelasan atau eksplanasi yang probable. Probable di sini maksudnya adalah untuk menjelaskan dan menegaskan bahwa hipotesis itu merumakan satu kemungkinan penjelasan. Sifat dari hipotesis itu adalah sebagai konjektur, atau sering disebut sebagai dugaan. Ilmuwan yang menjelaskan suatu pengetahuan harus benar-benar tahu bahwa, jika pengetahuannya benar, maka fakta yang diobservasi akan dapat dijelaskan secara benar pula. Kebenaran yang terkandung di dalam hipotesis itu harus diuji melalui proses verifikasi. Ciri yang kedua, abduksi pun dapat memberikan eksplanasi atau penjelasan bagi fakta yang mungkin belum dijelaskan atau bahkan tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat diobservasi secara langsung. Berdasarkan ciri yang kedua ini, sedikit ada pertentangan dari seorang tokoh Auguste Comte dengan positivisme-nya yang beranggapan bahwa semua hipotesis seharusnya dapat secara langsung menjelaskan fakta. Tapi bagi Pierce, jika hipotesis itu mampu menjelaskan fakta yang bisa diamati, sekaligus juga fakta-fakta yang tidak bisa diamati, itu sudah cukup untuk dianggap sebagai teori.

Karena dua tahap pengembangan dan perluasan dari hipotesis dalam penyelidikan ilmiah antara abdusi dan juga induksi sering dipecah menjadi satu konsep menyeluruh dalam suatu hipotesis. Itulah sebabnya, dalam metode ilmiah yang dikenalan oleh Galileo dan Bacon yakni tahap abduktif dari pembentukan hipotesis yang dikonsepkan secara sederhana sebagai induksi. Jadi, pada abad kedua puluh, penalaran ini diperkuat oleh penjelasan Karl Popper tentang model hipotetis-deduktif, di mana hipotesis dianggap hanya "dugaan" terhadap semangat Peirce.[14] Namun, ketika pembentukan hipotesis dianggap sebagai hasil dari suatu proses, menjadi jelas bahwa "tebakan" ini telah dicoba dan dibuat lebih kuat dalam pemikiran sebagai tahap yang diperlukan untuk memperoleh status hipotesis. Memang, banyak abduksi yang ditolak atau diubah secara besar-besaran oleh abduksi berikutnya sebelum mencapai tahap ini.

Sebelum tahun 1900, Peirce[15] memperlakukan abduksi sebagai penggunaan aturan yang diketahui untuk menjelaskan suatu pengamatan. Misalnya, sudah menjadi aturan umum bahwa, jika hujan, rumput menjadi basah. Jadi, untuk menjelaskan fakta bahwa rerumputan di halaman ini basah, orang mengatakan bahwa telah turun hujan. Abduksi dapat menyebabkan kesimpulan yang salah jika aturan lain yang mungkin menjelaskan pengamatan tidak diperhitungkan karena bisa saja rumput basah karena embun. Hal Ini tetap menjadi penggunaan umum istilah "abduksi" dalam ilmu sosial dan kecerdasan buatan.

Peirce secara konsisten mencirikannya sebagai jenis inferensi yang memulai hipotesis dengan menyimpulkan dalam penjelasan, meskipun tidak pasti, untuk beberapa pengamatan (anomali) yang sangat aneh atau mengejutkan yang dinyatakan dalam sebuah premis. Pada awal tahun 1865[16] ia menulis bahwa semua konsepsi tentang sebab dan akibat dicapai melalui kesimpulan hipotetis. Pada tahun 1900-an ia menulis kembali bahwa semua isi penjelasan teori dicapai melalui abduksi. Dalam hal lain Peirce merevisi pandangannya tentang penculikan selama bertahun-tahun.

Gilbert Harman

Gilbert Harman yang telah menjadi profesor filsafat di Universitas Princeton, Princeton sejak tahun 1963.[17] Catatan Harman tahun 1965 tentang peran "inferensi untuk penjelasan terbaik" menyimpulkan bahwa keberadaan apa yang kita butuhkan untuk penjelasan terbaik dari fenomena yang dapat diamati dan sangat berpengaruh. Hal inilah yang disebut dengan induktif.

Stephen Jay Gould

Stephen Jay Gould dalam menjawab hipotesis Omphalos karya dalam The Flamingo’s Smile (1985)[18] dan Adam’s Navel (1995) menyatakan bahwa induksi hanya hipotesis yang dapat dibuktikan salah yang berada dalam domain sains dan hanya hipotesis ini yang merupakan penjelasan yang baik dari fakta yang layak untuk disimpulkan. Berhubungan dengan entitas dari fenomena atau konsepsi hukum alam yang datang secara intuitif sebagai fakta yang terbukti dengan sendirinya tanpa upaya pemikiran yang terkonsentrasi. Kemudian dalam The Flamingo’s Smile - Darwin di sini tampaknya lebih berjasa dalam penemuan itu daripada yang saya miliki—bagi saya itu tidak tampak sebagai penemuan. Penyelesaiannya dengan alasan induktif yang perlahan-lahan dan hati-hati telah membuat jalannya secara sintetik dari fakta ke fakta dan seterusnya.[19]

Pengaplikasian

Kecerdasan buatan

Dalam kecerdasan buatan dikatakan ilmu desain AI mirip dengan sains tradisional dalam hal perhatian untuk membuat sistem yang menunjukkan kepada kita hal-hal baru tentang fenomena kecerdasan, seperti penalaran dan pemecahan masalah.[20] Aplikasi dalam kecerdasan buatan termasuk diagnosis kesalahan, revisi keyakinan, dan perencanaan otomatis. Aplikasi abduktif dari data abstraksi yang paling langsung adalah pendeteksian kesalahan secara otomatis dalam sistem menggunakan teori yang berhubungan dengan kesalahan, dampak dan serangkaian efek yang diamati, abduktif dapat digunakan untuk menurunkan rangkaian kesalahan yang mungkin menjadi penyebab masalah.[21]

Pengobatan

Dalam kedokteran, abduktif dapat dilihat sebagai komponen evaluasi dan penilaian klinis.[22][23]

Perencanaan otomatis

Dalam perencanaan otomatis dikatakan bahwa abduktif juga dapat digunakan untuk membuat model perencanaan otomatis.[24] Mengingat teori logis yang menghubungkan kejadian tindakan dengan efeknya (misalnya, rumus kalkulus peristiwa), masalah menemukan rencana untuk mencapai keadaan dapat dimodelkan sebagai masalah penculikan satu set literal yang menyiratkan bahwa keadaan akhir adalah negara tujuan.

Analisis intelijen

Dalam analisis intelijen dikatakan bahwa analisis hipotesis yang bersaing dan jaringan Bayesian, penalaran abduktif probabilistik digunakan secara luas. Demikian pula dalam diagnosis medis dan penalaran hukum, metode yang sama digunakan abduktif dalam banyak contoh kesalahan, terutama yang disebabkan oleh kesalahan tarif dasar dan kesalahan jaksa.[25]

Filsafat ilmu

Dalam filsafat ilmu, abduktif telah menjadi metode inferensi kunci bagi filosofis untuk mendukung realisme ilmiah dan banyak perdebatan tentang realisme ilmiah difokuskan pada apakah abduktif adalah metode inferensi yang dapat diterima. Teori filosofis yang diartikulasikan dengan baik dapat terdiri dari beberapa prinsip, sebagai informatif, sederhana, dan konsisten sehingga lebih kuat dan lebih mendasar untuk sains daripada logika lainnya teori, hal ini dikemukakan oleh Williamson (2017).[26]

Linguistik sejarah

Dalam sejarah linguistik dikatakan bahwa abduktif selama pemerolehan bahasa sering dianggap sebagai bagian penting dari proses perubahan bahasa seperti analisis ulang dan analogi. Pengaplikasian penalaran dalam linguistik sejarah yang didasarkan pada kesalahpahaman dengan bergantung pada model yang dibatalkan, yang kemudian ditolak oleh Peirce sendiri. Kemudian dengan hal itu, ia menggabungkan dua kerangka kerja yang tidak kompatibel.[27]

Linguistik terapan

Dalam penelitian linguistik terapan, penalaran abduktif mulai digunakan sebagai penjelasan alternatif untuk penalaran induktif yang digunakan sebagai pengakuan atas hasil[28] yang diantisipasi dari penyelidikan kualitatif yang berperan dalam membentuk arah analisis. Ini didefinisikan sebagai "penggunaan premis yang tidak jelas berdasarkan pengamatan, mengejar teori untuk mencoba menjelaskannya".

Pemrograman komputer

Dalam metode formal, logika digunakan untuk menentukan dan membuktikan properti program komputer. Abduktif telah digunakan dalam alat penalaran mekanis untuk meningkatkan tingkat otomatisasi aktivitas pembuktian. Sebuah teknik yang dikenal sebagai bi-abduksi ialah dengan menggabungkan abduktif dan masalah topik yang digunakan untuk menskalakan teknik penalaran untuk properti memori hingga jutaan baris kode.[29] Abduktif berbasis logika digunakan untuk menyimpulkan prakondisi untuk fungsi individu dalam program, membebaskan manusia dari kebutuhan untuk melakukannya. Seperti halnya perusahaan rintisan (startup) yang diakuisisi oleh Facebook terhadap penyebab ketahanan program dan alat analisis program Infer yang menyebabkan ribuan bug dicegah di basis kode industri. Selain inferensi prasyarat fungsi, abduktif telah digunakan untuk mengotomatisasi inferensi invarian untuk pengulangan program, inferensi spesifikasi kode yang tidak diketahui dan dalam sintesis program itu sendiri.

Referensi

  1. APA Dictionary of Psychology. Abduction. dictionary.apa.org.
  2. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Charles Sanders Peirce. plato.stanford.edu. 2001.
  3. Elliott Sober. Core Questions in Philosophy. Pearson College Div. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0131898691.
  4. Elliott Sober. Core Questions in Philosophy. Pearson College Div. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0131898691.
  5. Novi Kurnia. Big Data Untuk Ilmu Sosial: Antara Metode Riset Dan Realitas Sosial. UGM PRESS. 2021. hlm. 51. ISBN 978-602-386-951-0.
  6. Elliott Sober. Core Questions in Philosophy. Pearson College Div. 2004. hlm. 9. ISBN 978-0131898691.
  7. Jean-Pierre Dussault. Computational pool: an OR-optimization point of view. Encyclopedia of Operations Research and Management Science. 2010. hlm. 3. doi:10.1002/9780470400531.eorms0108.
  8. Thomas Eiter. The Complexity of Logic-Based Abduction. Journal of the ACM. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 1. doi:10.1145/200836.200838.
  9. Elliott Sober. Core Questions in Philosophy. Pearson College Div. 2004. hlm. 10. ISBN 978-0131898691.
  10. Thomas Eiter. The Complexity of Logic-Based Abduction. Journal of the ACM. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 3. doi:10.1145/200836.200838.
  11. Thomas Eiter. The Complexity of Logic-Based Abduction. Journal of the ACM. 1995. Vol. 42 (1). hlm. 4. doi:10.1145/200836.200838.
  12. Atocha Aliseda-Llera. Seeking Explanations: Abduction in Logic, Philosophy of Science and Artificial Intelligence (ILLC dissertation series). Institute for Logic, Language and Computation. 1997. hlm. 23. ISBN 9074795730.
  13. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Charles Sanders Peirce. plato.stanford.edu. 2001.
  14. Roberto Rossi. Confidence-based Representation in Decision Making. Edinburgh Research Explorer. 2017. hlm. 1.
  15. Roberto Rossi. Confidence-based Representation in Decision Making. Edinburgh Research Explorer. 2017. hlm. 1.
  16. Roberto Rossi. Confidence-based Representation in Decision Making. Edinburgh Research Explorer. 2017. hlm. 1.
  17. Jennifer Greenstein Altmann. Like father, like daughter: Family ties bind philosophers. princeton.edu. 2006.
  18. Stephen Jay Gould. The Flamingo’s Smile: Reflections in Natural History. W. W. NORTON & COMPANY. 1985. hlm. 141. ISBN 978-0-393-30375-9.
  19. Stephen Jay Gould. The Flamingo’s Smile: Reflections in Natural History. W. W. NORTON & COMPANY. 1985. hlm. 446. ISBN 978-0-393-30375-9.
  20. John R. Josephson. Abductive Inference: Computation, Philosophy, Technology. Cambridge University Press. 1994. hlm. 35. ISBN 9780521575454.
  21. John R. Josephson. Abductive Inference: Computation, Philosophy, Technology. Cambridge University Press. 1994. hlm. 1-2. ISBN 9780521575454.
  22. Claudio Rapezzi. White coats and fingerprints: diagnostic reasoning in medicine and investigative methods of fictional detectives. British Medical Journal. 2005. hlm. 1491. doi:10.1136/bmj.331.7531.1491.
  23. Carlos Rejón Altable. Logic structure of clinical judgment and its relation to medical and psychiatric semiology. Psychopathology. 2012. Vol. 45 (6). hlm. 344–51. doi:10.1159/000337968.
  24. Murray Shanahan. An abductive event calculus planner. The Journal of Logic Programming. 2000. Vol. 44 (1-3). hlm. 230. doi:10.1016/S0743-1066(99)00077-1.
  25. Christopher W. Karvetski. Structuring and analyzing competing hypotheses with Bayesian networks for intelligence analysis. EURO Journal on Decision Processes. 2013. Vol. 1 (3-4). hlm. 205-231. doi:10.1007/s40070-013-0001-x.
  26. Diego Tajer. Logic as a puzzle-solving activity. Análisis Filosófico. 2021. Vol. 41 (1). hlm. 122. doi:10.36446/af.2021.361.
  27. GUY DEUTSCHER. On the misuse of the notion of 'abduction' in inguistics. Journal of Linguistics. 2002. Vol. 38 (3). hlm. 469. doi:10.1017/S002222670200169X.
  28. GUY DEUTSCHER. On the misuse of the notion of 'abduction' in inguistics. Journal of Linguistics. 2002. Vol. 38 (3). hlm. 469. doi:10.1017/S002222670200169X.
  29. Cristiano Calcagno. Compositional Shape Analysis by Means of Bi-Abduction. Journal of the ACM. 2011. Vol. 58 (6). hlm. 1. doi:10.1145/2049697.2049700.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29504024 (2026-07-29T08:48:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.