Lompat ke isi

Kritik sastra Jawa: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27202957; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kritik Sastra Jawa''' adalah kegiatan [[kritik sastra]] yang berkembang di [[Jawa]]. [[Sastra Jawa]] adalah sastra daerah yang menjadi bagian dari sastra nusantara. Pembicaraan mengenai sastra Jawa modern dan perkembangannya mulai muncul pada tahun 1950-an sampai 1970-an. Pada tahun itu pula muncul perbincangan mengenai kritik sastra Jawa. Kritik sastra Jawa juga mencakup [[analisis]] mengenai unsur [[religius]] dalam sastra Jawa. Teks-teks sastra Jawa biasanya berbentuk surat-surat dalam bahasa Jawa.
[[File:Ranggawarsita,_Serat_Condrorini,_p14.jpg|thumb|right|280px|Ranggawarsita, Serat Condrorini, p14]]
 
'''Kritik Sastra Jawa''' adalah kegiatan [[kritik sastra]] yang berkembang di [[Jawa]].<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> [[Sastra Jawa]] adalah sastra daerah yang menjadi bagian dari sastra nusantara.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref><ref>[http://kbbi.web.id/sastra Kamus Besar Bahasa Indonesia].</ref> Pembicaraan mengenai sastra Jawa modern dan perkembangannya mulai muncul pada tahun 1950-an sampai 1970-an.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Pada tahun itu pula muncul perbincangan mengenai kritik sastra Jawa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Kritik sastra Jawa juga mencakup [[analisis]] mengenai unsur [[religius]] dalam sastra Jawa.<ref>Dojosantosa. ''Unsur Religius dalam Sastra Jawa''. Aneka Ilmu. 1986.</ref> Teks-teks sastra Jawa biasanya berbentuk surat-surat dalam bahasa Jawa.<ref>[http://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/45-pengetahuan-bahasa/223-basa-basuki-dwijawiyata-1937-294 Basa Basuki]. Program Digitalisasi Sastra Daerah.</ref>


== Perkembangan Kritik dan Budaya Jawa ==
== Perkembangan Kritik dan Budaya Jawa ==
Kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi sastra. Dalam budaya Jawa mengkritik atau menghakimi adalah sesuatu yang dianggap tidak sopan. Budaya Jawa menekankan konsep kehalusan rasa yang membuat orang tidak mudah menyakiti perasaan orang lain. Namun ada isitilah ''anyaruwe'' yang artinya adalah tanggapan -dalam kamus bahasa Jawa. Pada zaman kerajaan Islam misalnya [[Ranggawarsita]] yang menulis kritik dalam bukunya [[Serat Wicara Keras]]. Akan tetapi, kritik tidak disampaikan secara terang-terangan. Kritik terhadap pujangga pada zaman itu di tuangkan dalam [[tembang]] dengan pilihan kata yang tepat.
Kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi sastra.<ref>Andre Hardjana. ''Kritik Sastra, Sebuah Pengantar''. Gramedia. 1981. hlm. 1-6.</ref> Dalam budaya Jawa mengkritik atau menghakimi adalah sesuatu yang dianggap tidak sopan.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Budaya Jawa menekankan konsep kehalusan rasa yang membuat orang tidak mudah menyakiti perasaan orang lain.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Namun ada isitilah ''anyaruwe'' yang artinya adalah tanggapan -dalam kamus bahasa Jawa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Pada zaman kerajaan Islam misalnya [[Ranggawarsita]] yang menulis kritik dalam bukunya [[Serat Wicara Keras]].<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Akan tetapi, kritik tidak disampaikan secara terang-terangan. Kritik terhadap pujangga pada zaman itu di tuangkan dalam [[tembang]] dengan pilihan kata yang tepat.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref>


Pada tahun 1920-1930-an mulai muncul esai-esai kritis dalam majalah-majalah bahasa Jawa. Misalnya dalam majalah ‘’Kedjawen’’ terdapat rubrik ‘’Obrolanipun Petruk kaliyan Gareng’ yang muncul tahun 1938. Rubrik tersebut merupakan rubrik kritik terhadap budaya dan bahasa Jawa. Kritik yang lebih terbuka misalnya yang dilakukan lembaga swasta bernama ‘’Paheman Paniti Basa’’ di Surakarta. Lembaga ini mengkritisi bahasa Jawa yang mulai rusak dan menatanya kembali sesuai dengan standar bahasa Jawa.
Pada tahun 1920-1930-an mulai muncul esai-esai kritis dalam majalah-majalah bahasa Jawa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Misalnya dalam majalah ‘’Kedjawen’’ terdapat rubrik ‘’Obrolanipun Petruk kaliyan Gareng’ yang muncul tahun 1938.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Rubrik tersebut merupakan rubrik kritik terhadap budaya dan bahasa Jawa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Kritik yang lebih terbuka misalnya yang dilakukan lembaga swasta bernama ‘’Paheman Paniti Basa’’ di Surakarta.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Lembaga ini mengkritisi bahasa Jawa yang mulai rusak dan menatanya kembali sesuai dengan standar bahasa Jawa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref>


== Dinamika Kritik Sastra Jawa ==
== Dinamika Kritik Sastra Jawa ==
Pada tahun 1950-an ketika sastra indonesia mulai berkembang, para pengarang etnis Jawa mulai beralih menulisa sastra Indonesia walaupun tidak meninggalkan identitas Jawa dalam tulisan-tulisan mereka. Pengarang-pengarang tersebut di antaranya, [[Pramoedya Ananta Toer]], [[Nh. Dini]], [[Toto Sudarto Bachtiar]] dan [[Soeagio Satrowardojo|Soebagio Satrowardojo]]. Namun beberapa penulis masih mempertahankan karya mereka dalam bahasa Jawa seperti [[Ahmad Tohari]] yang menulis [[Ronggeng Dukuh Paruk]] dalam bahasa Jawa Banyumas. Tahun 1950 juga menjadi tanda munculnya kritik sastra Jawa secara lebih terbuka. Selain terbuka, penulisan kritik sastra Jawa pada masa itu juga lebih objektif terhadap suatu karya. Misalnya, Susan yang menjadi kritikus pertama menuliskan kritiknya dalam majalah [[Cerita Cekak]].
Pada tahun 1950-an ketika sastra indonesia mulai berkembang, para pengarang etnis Jawa mulai beralih menulisa sastra Indonesia walaupun tidak meninggalkan identitas Jawa dalam tulisan-tulisan mereka.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Pengarang-pengarang tersebut di antaranya, [[Pramoedya Ananta Toer]], [[Nh. Dini]], [[Toto Sudarto Bachtiar]] dan [[Soeagio Satrowardojo|Soebagio Satrowardojo]].<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Namun beberapa penulis masih mempertahankan karya mereka dalam bahasa Jawa seperti [[Ahmad Tohari]] yang menulis [[Ronggeng Dukuh Paruk]] dalam bahasa Jawa Banyumas.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Tahun 1950 juga menjadi tanda munculnya kritik sastra Jawa secara lebih terbuka.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Selain terbuka, penulisan kritik sastra Jawa pada masa itu juga lebih objektif terhadap suatu karya. Misalnya, Susan yang menjadi kritikus pertama menuliskan kritiknya dalam majalah [[Cerita Cekak]].<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref>
Perkembangan dan dinamika kritik sastra Jawa tidak hanya ditandai dengan perkembangan dari aspek isi namun juga bahasa yang digunakan. Pada tahun 1960 berdiri OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa). Diskusi dan kritik mengenai sastra Jawa mulai dilaksanakan dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1970 kritik sastra Jawa berbahasa Indonesia mulai muncul di media massa. Misalnya, [[Sukardo Hadisukarno]] menulis esai berjudul “Sastra Jawa Modern: Perlu Diperkenalkan Lebih Luas”. Artikel ini membahas mengenai kesenjangan yang terjadi antara sastra lama dengan sastra modern. Tahun 1990-an esai-esai kritik sastra Jawa semakin banyak ditemui di media massa, bahkan juga dalam bentuk buku. [[Suripan Sadi Utomo]] menulis buku Sosiologi Sastra Jawa pada tahun 1997.
Perkembangan dan dinamika kritik sastra Jawa tidak hanya ditandai dengan perkembangan dari aspek isi namun juga bahasa yang digunakan.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Pada tahun 1960 berdiri OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa).<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Diskusi dan kritik mengenai sastra Jawa mulai dilaksanakan dalam bahasa Indonesia.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Pada tahun 1970 kritik sastra Jawa berbahasa Indonesia mulai muncul di media massa.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Misalnya, [[Sukardo Hadisukarno]] menulis esai berjudul “Sastra Jawa Modern: Perlu Diperkenalkan Lebih Luas”.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Artikel ini membahas mengenai kesenjangan yang terjadi antara sastra lama dengan sastra modern.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref> Tahun 1990-an esai-esai kritik sastra Jawa semakin banyak ditemui di media massa, bahkan juga dalam bentuk buku. [[Suripan Sadi Utomo]] menulis buku Sosiologi Sastra Jawa pada tahun 1997.<ref>Tirto Suwondo,dkk. ''Kritik Sastra Jawa''. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.</ref>
 
== Rujukan ==


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kritik+sastra+Jawa&oldid=27202957 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27202957 (2025-04-28T09:10:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kritik+sastra+Jawa&oldid=27202957 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27202957 (2025-04-28T09:10:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 09.04

Ranggawarsita, Serat Condrorini, p14

Kritik Sastra Jawa adalah kegiatan kritik sastra yang berkembang di Jawa.[1] Sastra Jawa adalah sastra daerah yang menjadi bagian dari sastra nusantara.[2][3] Pembicaraan mengenai sastra Jawa modern dan perkembangannya mulai muncul pada tahun 1950-an sampai 1970-an.[4] Pada tahun itu pula muncul perbincangan mengenai kritik sastra Jawa.[5] Kritik sastra Jawa juga mencakup analisis mengenai unsur religius dalam sastra Jawa.[6] Teks-teks sastra Jawa biasanya berbentuk surat-surat dalam bahasa Jawa.[7]

Perkembangan Kritik dan Budaya Jawa

Kritik sastra merupakan kegiatan menghakimi sastra.[8] Dalam budaya Jawa mengkritik atau menghakimi adalah sesuatu yang dianggap tidak sopan.[9] Budaya Jawa menekankan konsep kehalusan rasa yang membuat orang tidak mudah menyakiti perasaan orang lain.[10] Namun ada isitilah anyaruwe yang artinya adalah tanggapan -dalam kamus bahasa Jawa.[11] Pada zaman kerajaan Islam misalnya Ranggawarsita yang menulis kritik dalam bukunya Serat Wicara Keras.[12] Akan tetapi, kritik tidak disampaikan secara terang-terangan. Kritik terhadap pujangga pada zaman itu di tuangkan dalam tembang dengan pilihan kata yang tepat.[13]

Pada tahun 1920-1930-an mulai muncul esai-esai kritis dalam majalah-majalah bahasa Jawa.[14] Misalnya dalam majalah ‘’Kedjawen’’ terdapat rubrik ‘’Obrolanipun Petruk kaliyan Gareng’ yang muncul tahun 1938.[15] Rubrik tersebut merupakan rubrik kritik terhadap budaya dan bahasa Jawa.[16] Kritik yang lebih terbuka misalnya yang dilakukan lembaga swasta bernama ‘’Paheman Paniti Basa’’ di Surakarta.[17] Lembaga ini mengkritisi bahasa Jawa yang mulai rusak dan menatanya kembali sesuai dengan standar bahasa Jawa.[18]

Dinamika Kritik Sastra Jawa

Pada tahun 1950-an ketika sastra indonesia mulai berkembang, para pengarang etnis Jawa mulai beralih menulisa sastra Indonesia walaupun tidak meninggalkan identitas Jawa dalam tulisan-tulisan mereka.[19] Pengarang-pengarang tersebut di antaranya, Pramoedya Ananta Toer, Nh. Dini, Toto Sudarto Bachtiar dan Soebagio Satrowardojo.[20] Namun beberapa penulis masih mempertahankan karya mereka dalam bahasa Jawa seperti Ahmad Tohari yang menulis Ronggeng Dukuh Paruk dalam bahasa Jawa Banyumas.[21] Tahun 1950 juga menjadi tanda munculnya kritik sastra Jawa secara lebih terbuka.[22] Selain terbuka, penulisan kritik sastra Jawa pada masa itu juga lebih objektif terhadap suatu karya. Misalnya, Susan yang menjadi kritikus pertama menuliskan kritiknya dalam majalah Cerita Cekak.[23] Perkembangan dan dinamika kritik sastra Jawa tidak hanya ditandai dengan perkembangan dari aspek isi namun juga bahasa yang digunakan.[24] Pada tahun 1960 berdiri OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa).[25] Diskusi dan kritik mengenai sastra Jawa mulai dilaksanakan dalam bahasa Indonesia.[26] Pada tahun 1970 kritik sastra Jawa berbahasa Indonesia mulai muncul di media massa.[27] Misalnya, Sukardo Hadisukarno menulis esai berjudul “Sastra Jawa Modern: Perlu Diperkenalkan Lebih Luas”.[28] Artikel ini membahas mengenai kesenjangan yang terjadi antara sastra lama dengan sastra modern.[29] Tahun 1990-an esai-esai kritik sastra Jawa semakin banyak ditemui di media massa, bahkan juga dalam bentuk buku. Suripan Sadi Utomo menulis buku Sosiologi Sastra Jawa pada tahun 1997.[30]

Referensi

  1. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  2. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  3. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  4. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  5. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  6. Dojosantosa. Unsur Religius dalam Sastra Jawa. Aneka Ilmu. 1986.
  7. Basa Basuki. Program Digitalisasi Sastra Daerah.
  8. Andre Hardjana. Kritik Sastra, Sebuah Pengantar. Gramedia. 1981. hlm. 1-6.
  9. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  10. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  11. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  12. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  13. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  14. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  15. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  16. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  17. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  18. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  19. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  20. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  21. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  22. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  23. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  24. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  25. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  26. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  27. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  28. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  29. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.
  30. Tirto Suwondo,dkk. Kritik Sastra Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. ISBN 979-685-382-5.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27202957 (2025-04-28T09:10:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.