Lompat ke isi

Apriori dan aposteriori: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29454370; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Apriori''' ('berprasangka sebelum mengetahui’) dan '''aposteriori''' ('setelah diketahui') adalah istilah yang digunakan dalam [[filsafat]] dan [[linguistik]] untuk membedakan jenis [[pengetahuan]], [[Pembenaran (epistemologi)|pembenaran]], atau [[argumen]] berdasarkan ketergantungannya pada pengalaman. Kata apriori dan aposteriori sendiri berasal dari ungkapan [[bahasa Latin]]. Secara garis besar, sebuah proposisi dikategorikan sebagai apriori jika proposisi tersebut diketahui atau dianggap sebagai kebenaran dengan bersifat independen tanpa perlu adanya pengalaman. Sebaliknya, proposisi dianggap sebagai aposteriori jika pengetahuan dan/atau pembenarannya bergantung pada [[bukti empiris]]. Sebagai contoh, proposisi ‘Hari ini cerah di London’ dapat dianggap sebagai aposteriori, sedangkan proposisi ‘Hari ini cerah atau tidak cerah di London’ dapat dianggap apriori.
'''Apriori''' ('berprasangka sebelum mengetahui’) dan '''aposteriori''' ('setelah diketahui') adalah istilah yang digunakan dalam [[filsafat]] dan [[linguistik]] untuk membedakan jenis [[pengetahuan]], [[Pembenaran (epistemologi)|pembenaran]], atau [[argumen]] berdasarkan ketergantungannya pada pengalaman. Kata apriori dan aposteriori sendiri berasal dari ungkapan [[bahasa Latin]]. Secara garis besar, sebuah proposisi dikategorikan sebagai apriori jika proposisi tersebut diketahui atau dianggap sebagai kebenaran dengan bersifat independen tanpa perlu adanya pengalaman.<ref>Galen Strawson menyatakan bahwa sebuah argumen adalah argumen di mana "Anda dapat melihat bahwa itu benar hanya dengan berbaring di sofa. Anda tidak perlu bangun dari sofa dan pergi keluar untuk memeriksa bagaimana keadaan dunia fisik. Anda tidak perlu melakukan sains." ()</ref> Sebaliknya, proposisi dianggap sebagai aposteriori jika pengetahuan dan/atau pembenarannya bergantung pada [[bukti empiris]]. Sebagai contoh, proposisi ‘Hari ini cerah di London’ dapat dianggap sebagai aposteriori, sedangkan proposisi ‘Hari ini cerah atau tidak cerah di London’ dapat dianggap apriori.


Bidang pengetahuan di mana pembenaran apriori lebih dominan antara lain [[mathematics|matematika]] dan [[logika formal]]; sebaliknya, sebagian besar [[Science|ilmu pengetahuan]] umumnya melibatkan pembenaran aposteriori.
Bidang pengetahuan di mana pembenaran apriori lebih dominan antara lain [[mathematics|matematika]]<ref>Namun beberapa filsuf asosiasionis berpendapat bahwa matematika berasal dari pengalaman dan bukan merupakan bentuk pengetahuan ''a priori'' ()</ref> dan [[logika formal]]; sebaliknya, sebagian besar [[Science|ilmu pengetahuan]] umumnya melibatkan pembenaran aposteriori.
 
Dalam sejarah filsafat, pembedaan apriori dan aposteriori pertama kali muncul dalam tulisan ahli logika abad ke-14 [[Albert dari Saxony|Albert dari Sachsen]], di mana ungkapan tersebut digunakan untuk membedakan antara argumen ‘dari sebab ke akibat’ (apriori) dan ‘dari akibat ke sebab’ (aposteriori). Sebagai pembedaan epistemologis, hal ini menjadi menonjol melalui karya [[Immanuel Kant]] ''[[Critique of Pure Reason]]'', di mana hubungannya dengan [[pembedaan analitik–sintetik]] dibahas.
 
==Referensi==


Dalam sejarah filsafat, pembedaan apriori dan aposteriori pertama kali muncul dalam tulisan ahli logika abad ke-14 [[Albert dari Saxony|Albert dari Sachsen]], di mana ungkapan tersebut digunakan untuk membedakan antara argumen ‘dari sebab ke akibat’ (apriori) dan ‘dari akibat ke sebab’ (aposteriori).<ref>[https://www.britannica.com/topic/a-priori-knowledge A priori knowledge]. ''Britannica''. 20 Juli 1998.</ref> Sebagai pembedaan epistemologis, hal ini menjadi menonjol melalui karya [[Immanuel Kant]] ''[[Critique of Pure Reason]]'',<ref>[https://www.britannica.com/topic/a-priori-knowledge A priori knowledge]. ''Britannica''. 20 Juli 1998.</ref><ref>Albert Cassullo. ''A Priori Justification''. Oxford University Press. 2003. hlm. 4. ISBN 9780195115055.</ref> di mana hubungannya dengan [[pembedaan analitik–sintetik]] dibahas.


==Bacaan lebih lanjut==
==Bacaan lebih lanjut==
 
*  
*
*  
*
* .
* .
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
 


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
*  
 
*  
*
*  
*
*  
*
*
* [http://www.philosophypages.com/dy/a5.htm#a-pr ''A priori'' / ''a posteriori''] – in the Philosophical Dictionary online.
* [http://www.philosophypages.com/dy/a5.htm#a-pr ''A priori'' / ''a posteriori''] – in the Philosophical Dictionary online.
* [http://plato.stanford.edu/entries/rationalism-empiricism/ "Rationalism vs. Empiricism"] – an article by [[Peter Markie]] in the ''Stanford Encyclopedia of Philosophy''.
* [http://plato.stanford.edu/entries/rationalism-empiricism/ "Rationalism vs. Empiricism"] – an article by [[Peter Markie]] in the ''Stanford Encyclopedia of Philosophy''.


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Apriori+dan+aposteriori&oldid=29454370 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29454370 (2026-07-13T19:30:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Apriori+dan+aposteriori&oldid=29454370 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29454370 (2026-07-13T19:30:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 14.10

Apriori ('berprasangka sebelum mengetahui’) dan aposteriori ('setelah diketahui') adalah istilah yang digunakan dalam filsafat dan linguistik untuk membedakan jenis pengetahuan, pembenaran, atau argumen berdasarkan ketergantungannya pada pengalaman. Kata apriori dan aposteriori sendiri berasal dari ungkapan bahasa Latin. Secara garis besar, sebuah proposisi dikategorikan sebagai apriori jika proposisi tersebut diketahui atau dianggap sebagai kebenaran dengan bersifat independen tanpa perlu adanya pengalaman.[1] Sebaliknya, proposisi dianggap sebagai aposteriori jika pengetahuan dan/atau pembenarannya bergantung pada bukti empiris. Sebagai contoh, proposisi ‘Hari ini cerah di London’ dapat dianggap sebagai aposteriori, sedangkan proposisi ‘Hari ini cerah atau tidak cerah di London’ dapat dianggap apriori.

Bidang pengetahuan di mana pembenaran apriori lebih dominan antara lain matematika[2] dan logika formal; sebaliknya, sebagian besar ilmu pengetahuan umumnya melibatkan pembenaran aposteriori.

Dalam sejarah filsafat, pembedaan apriori dan aposteriori pertama kali muncul dalam tulisan ahli logika abad ke-14 Albert dari Sachsen, di mana ungkapan tersebut digunakan untuk membedakan antara argumen ‘dari sebab ke akibat’ (apriori) dan ‘dari akibat ke sebab’ (aposteriori).[3] Sebagai pembedaan epistemologis, hal ini menjadi menonjol melalui karya Immanuel Kant Critique of Pure Reason,[4][5] di mana hubungannya dengan pembedaan analitik–sintetik dibahas.

Bacaan lebih lanjut

  • .

Pranala luar

Referensi

  1. Galen Strawson menyatakan bahwa sebuah argumen adalah argumen di mana "Anda dapat melihat bahwa itu benar hanya dengan berbaring di sofa. Anda tidak perlu bangun dari sofa dan pergi keluar untuk memeriksa bagaimana keadaan dunia fisik. Anda tidak perlu melakukan sains." ()
  2. Namun beberapa filsuf asosiasionis berpendapat bahwa matematika berasal dari pengalaman dan bukan merupakan bentuk pengetahuan a priori ()
  3. A priori knowledge. Britannica. 20 Juli 1998.
  4. A priori knowledge. Britannica. 20 Juli 1998.
  5. Albert Cassullo. A Priori Justification. Oxford University Press. 2003. hlm. 4. ISBN 9780195115055.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29454370 (2026-07-13T19:30:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.